DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic…

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa…

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Agresivitas dalam Pendidikan: Masalah dan Solusinya

Dalam konteks ke-Indonesiaan saat ini, apa yang dilihat oleh warga negara Indonesia melalui media massa atau melalui kehidupan nyata tentang kekerasan yang dilakukan orang kecil seperti Ryan hingga para pemimpin politik dan mantan presiden, akan menjadi ’pelajaran’ bagi mereka, yang menginspirasi mereka untuk bertindak kekerasan. Tentu saja lingkungan kecil seperti sekolah juga menjadi lingkungan yang membuat seseorang berbuat kekerasan atau tidak.

Pengantar

Agresivitas di dalam dunia pendidikan yang paling fenomenal mungkin adalah agresivitas yang dilakukan senior kepada junior di IPDN Bandung. Cliff Muntu meninggal dunia akibat tendangan bebas ke dada dan pukulan bertubi-tubi ke ulu hati dari senior-seniornya (www.atmajaya.ac.id). Namun, agresivitas di dunia pendidikan yang menghebohkan bukan itu saja. Di kalangan pelajar, agresivitas antar pelajar telah lama menjadi persoalan, salah satu di antaranya adalah peristiwa tawuran antar pelajar. Sebagai contoh, puluhan siswa SMK Bhakti sedang nongkrong di kampus Universitas Kritsen Indonesia (UKI) Jakarta. Tiba-tiba puluhan siswa SMK Penerbangan menyerang mereka dengan senjata tajam. Akibatnya, seorang siswa menderita luka bacok di kepala dan pahanya dalam tawuran tersebut (Tempointeraktif, 18 Februari 2007).

Salah satu gejala umum tawuran antar pelajaran yang dapat ditemui dalam masyarakat adalah agresivitas yang melibatkan siswa SMA dan siswa SMK. Di Kendari, Sulawesi Tenggara, pelajar antara dua SMA dan SMK saling kejar-kejaran di jalanan, Jumat (7/9/2007). Pelajar yang terlibat tawuran adalah siswa SMA Negeri 4 dan siswa SMK (STM) Negeri 2 Kendari. Akibat tawuran itu, seorang siswa perempuan terluka di bagian kepala, karena terkena lemparan batu, sehingga ia terpaksa dilarikan ke rumah sakit (MetroTVNews, 7 September 2007).

Yogyakarta juga digegerkan oleh tawuran antar pelajar setelah sekian lama jarang ada kejadian tawuran. Tawuran di DI Yogyakarta, seperti yang terjadi antar pelajar SMA di Jalan Jenderal Sudirman, Yogyakarta, depan SMA Bopkri II, membuat wali kota Yogya, Herry Zudianto, terusik. Herry mengaku mengundang seluruh kepala SMA dan SMK, negeri dan swasta, di Kota Yogyakarta. Dalam pertemuan tersebut, ia meminta para kepala sekolah untuk bertanggung jawab jika ada anak didik mereka yang terlibat tawuran (Kompas, 5 September 2007)

Fenomena lainnya adalah agresivitas yang dilakukan guru kepada murid. Beberapa agresivitas dalam dunia pendidikan dapat dibaca dalam beberapa berita ini. Di salah satu SDN Pati, seorang ibu guru kelas IV menghukum murid-murid yang tidak mengerjakan PR dengan menusukkan paku yang dipanaskan ke tangan siswa. Di Surabaya, seorang guru olah raga menghukum lari seorang siswa yang terlambat datang beberapa kali putaran. Tapi karena fisiknya lemah, pelajar tersebut tewas. Dalam periode yang tidak berselang lama, seorang guru SD Lubuk Gaung, Bengkalis, Riau, menghukum muridnya dengan lari keliling lapangan dalam kondisi telanjang bulat. (www.ditpertais.net/istiqro/ist02-03.asp – 71k).

Pengertian dan Jenis-jenis Agresivitas

Agresivitas dapat diartikan sebagai perilaku atau kecenderungan perilaku yang diniati untuk menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun psikologis (Buss & Perry, 1992; Baron & Byrne, 2004). Mereka yang frustrasi (merasa gagal mencapai tujuannya) adalah orang yang paling mudah melakukan tindakan agresi. Ahli psikologi sosial, yaitu Dollard dan Miller, menerangkan hal di atas dengan frustration-aggression hypothesis (Brigham, 1991; Baron & Byrne, 2004; Nashori, 2008). Orang-orang yang frustrasi marah terhadap orang-orang yang dianggap sebagai penyebab atau perantara terjadinya rasa sakit. Disakiti atau dilukai perasaannya atau kepentingannya, itulah yang dijadikan alasan oleh sementara orang untuk bertindak agresif. Mereka frustrasi dengan apa yang terjadi, dan jadilah mereka menjarah, membunuh, menembak, melempar batu, memukul, membacok, dan seterusnya.

Pengelompokan jenis agresi menurut berbagai ahli tetu saja cukup beragam, salah satunya adalah pendapat Buss. Indikator atau ciri-ciri agresivitas menurut Buss (Nashori, 2008) meliputi: perilaku agresif secara fisik dan verbal, secara aktif dan pasif, dan secara langsung dan tidak langsung. Tiga klasifikasi tersebut masing – masing akan saling berinteraksi, sehingga akan menghasilkan delapan bentuk perilaku agresif, yaitu :

1. Perilaku agresif fisik aktif yang dilakukan secara langsung, misalnya menusuk, menembak, memukul orang lain.
2. Perilaku agresif fisik aktif yang dilakukan secara tidak langsung, misalnya membuat jebakan untuk mencelakakan orang lain.
3. Perilaku agresif fisik pasif yang dilakukan secara langsung, misalnya tidak memberikan jalan kepada oarang lain.
4. Perilaku agresif fisik pasif yang dilakukan secara tidak langsung, misalnya menolak untuk melakukan sesuatu, menolak mengerjakan perintah oarang lain.
5. Perilaku agresif verbal aktif yang dilakukan secara langsung, misalnya memaki – maki orang.
6. Perilaku agresif verbal aktif yang dilakukan secara tidak langsung, misalnya menyebar gosip tentang orang lain.
7. Perilaku agresif verbal pasif yang dilakukan secara tidak langsung, misalnya menolak untuk berbicara dengan orang lain, menolak untuk menjawab pertanyaan orang lain atau menolak untuk memberikan perhatian pada suatu pembicaraan.

Perilaku agresif verbal pasif yang dilakukan secara langsung, misalnya tidak setuju dengan pendapat orang lain, tetapi tidak mau mengatakan (memboikot), tidak mau menjawab pertanyaan orang lain.

Akar Agresivitas: Budaya Kekerasan

Agresi dalam pendidikan terjadi karena pelaku belajar dari lingkungan, termasuk di dalamnya dari media massa. Kekerasan yang berlangsung pada diri Cliff Muntu berkaitan dengan budaya kekerasan yang dihidupkan dan dipelihara di IPDN. Para senior adalah agen yang mentransfer budaya kekerasan itu kepada para juniornya. Kejadian ini berlangsung dari generasi ke generasi sehingga menjadi budaya kekerasan bagi mahasiswa IPDN.

Berkenaan dengan pentingnya faktor lingkungan atau kebudayaan dalam meningkatkan kekerasan dalam dunia pendidikan, ada sejumlah pernyataan dan penelitian serta teori yang diajukan oleh ahli psikologi yang menyatakan bahwa kekerasan manusia (semata-mata) adalah hasil belajar dari lingkungan sosialnya (Wrightsman & Deaux, 1981). Menurut Wrightsman & Deaux, prinsip dasar teori belajar adalah apabila suatu tingkah laku termasuk tingkah laku agresif diberi reinforcement (penguatan) atau reward (hadiah), maka tingkah laku tersebut akan cenderung diulang pada saat yang lain. Teori belajar observasional atau modeling yang dikembangkan oleh Albert Bandura berasumsi bahwa tingkah laku agresif diperoleh dari hasil belajar melalui pengamatan (observasi) terhadap tingkah laku yang ditampilkan oleh individu lain yang menjadi model (Koeswara,1988). Bandura sendiri pernah melakukan eksperimen yang menunjukkan bahwa kekerasan yang dilakukan model akan ditiru anak-anak (Monks dkk, 2004).

Pandangan ahli-ahli psikologi sosial di atas memperoleh dukungan empiris dari ahli antropologi. Ruth Benedict (Goble, 1994) dan Brown (Setiadi, 2001) berpandangan bahwa lingkungan sosiallah yang membentuk perilaku agresif atau kekerasan. Ruth Benedict (Goble, 1994) menunjukkan bahwa manusia yang hidup dalam lingkungan masyarakat yang saling membantu akan menumbuhkan individu individu yang menyenangkan dan penuh kasih sayang. Sebaliknya, masyarakat yang tidak ramah dan jahat akan menghasilkan individu-individu yang berkarakter keras dan agresif. Hal ini dapat kita lihat dari penelitian Ruth Benedict pada masyarakat masyarakat Indian. Benedict meneliti empat kebudayaan yang tidak ramah dan jahat (Chuckchee, Ojibwa, Dobwo, Kwakiutl) dan empat kebudayaan lainnya yang menghasilkan orang orang yang menyenangkan (Zuni, Arapesh, Dakota, dan Eskimo). Ruth Benedict berpendapat bahwa masyarakat yang tidak dikuasai oleh agresi atau kekerasan memiliki tata tertib sosial yang mengatur bahwa setiap individu, lewat perbuatannya yang sama, melakukan sesuatu yang menguntungkan dirinya sendiri sekaligus menguntungkan kelompok. Salah satu kuncinya adalah bahwa non-agresi (atau saling membantu dan kasih sayang) terjadi karena tatanan sosial telah membuat keduanya itu keuntungan diri dan keuntungan kelompok identik (Goble, 1994). Lingkungan, bagaimanapun sangat menonjol peranannya dalam hal membentuk watak, manusia: apakah menjadi agresif atau penuh kasih sayang.

Senada dengan hasil penelitian di atas, Brown (Setiadi, 2001) mengungkapkan bahwa ada hubungan antara budaya dan kekerasan. Brown menemukan bahwa orang Simbu di New Guinea (baca: Papua Nugini) menunjukkan perilaku agresif yang tinggi dibandingkan dengan apa yang ditemukan Robarchek pada budaya Semai. Budaya Simbu memiliki sikap sangat favorable terhadap perilaku agresif. Dalam budaya ini, orang yang dikagumi adalah orang yang agresif. Status sosial yang tinggi diasosiasikan dengan pria, kekerasan dan sikap kompetitif. Sebaliknya, budaya Semai memiliki sikap sangat negatif terhadap perilaku agresif. Orang-orang Semai justru berpendapat bahwa hanya orang-orang jahat yang bisa bertindak dengan kekerasan.

Penelitian empiris yang ditemukan penulis (Nashori & Diana, 2007) di SMA dan SMK Yogyakarta ini searah dengan hasil penelitian Benedict (Goble, 1994) dan Brown (Setiadi, 2001). Lingkungan sehari-hari siswa SMA dan siswa SMK adalah lingkungan sekolah yang sesungguhnya tidak menoleransi adanya kekerasan. Kalaupun ada kekerasan, maka kekerasan atau agresi itu terbentuk di luar lingkungan sekolah, yaitu lingkungan tempat tinggal (rumah, kos-kosan atau kontrakan). Pengaruh lingkungan dalam sekolah lebih besar dibandingkan dengan lingkungan luar sekolah.

Dalam konteks ke-Indonesiaan saat ini, apa yang dilihat oleh warga negara Indonesia melalui media massa atau melalui kehidupan nyata tentang kekerasan yang dilakukan orang kecil seperti Ryan hingga para pemimpin politik dan mantan presiden, akan menjadi ’pelajaran’ bagi mereka, yang menginspirasi mereka untuk bertindak kekerasan. Tentu saja lingkungan kecil seperti sekolah juga menjadi lingkungan yang membuat seseorang berbuat kekerasan atau tidak. Kasus kekerasan di IPDN, perploncoan, menunjukkan adanya faktor lingkungan yang membudayakan kekerasan.

Akar Agresivitas Lain: Biologis, Amarah, Frustrasi, Lingkungan Fisik, dll

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku agresivitas di antaranya adalah biologis (Buss & Perry, 1992), kognitif (Dodge & Coi, 1987; Dodge & Crick, 1990; Dodge & Newman, 1981), etnis (Ekawati & Nashori, 2001), dzikir (Buchori, 2005), perlakuan orang signifikan (Hidayat, 2004), amarah, frustrasi (Dollard and Miller, 998), cara bersikap terhadap sumber agresi (Nashori, 2004).

1. Biologis.

Diungkapkan oleh Buss dan Perry (1992), Sigmund Freud meyakini bahwa manusia lahir dengan dua sifat dasar, sesuatu yang bersifat biologis atau ada sejak manusia dilahirkan, yaitu eros (dorongan hidup) dan thanatos (dorongan mati). Agresi dan kekerasan adalah salah satu wujud kehendak untuk mati. Apabila agresi dan kekerasan muncul di mana mana dengan frekuensi, kuantitas, dan kualitas yang beragam dan cenderung meningkat, maka pada saat itulah manusia mewujudkan sifat dasarnya. Pernyataan bahwa manusia pada dasarnya agresif memperoleh dukungan dari sejumlah ahli agama. Mereka berpandangan bahwa semua manusia adalah anak-cucu Qabil, padahal Qabil –putra Nabi Adam—adalah seseorang yang tega membunuh saudaranya sendiri (baca boks 1: Kekerasan pertama manusia). Diskusi tentang kebenaran kelamiahan kekerasan dalam diri manusia bisa panjang, karena pendapat yang sebaliknya juga banyak. Nashori (2003) menjelaskan bahwa pada dasarnya manusia lahir dengan sifat asal positif saja. Ini sesuai dengan jumhur ulama Islam tentang apakah manusia memiliki hanya sifat dasar positif atau positif dan negatif saat dilahirkan. Dengan pandangan demikian, pandangan bahwa manusia secara alamiah agresif belum dapat diterima.

Agresivitas Pertama Manusia
Agresi pertama antar manusia terjadi pada putra-putra Nabi Adam dan Hawa. Dari sejarah diketahui bahwa ketika anak-anaknya sudah menjelang dewasa, Nabi Adam bermaksud menikahkan mereka. Kembar pertama putra-putri Adam dan Hawa adalah Qabil dan Iqlima serta kembar kedua adalah Habil dan Labuda.

Berdasarkan petunjuk Allah Tuhan Yang Maha Esa, Adam berencana untuk menikahkan mereka secara bersilang, yaitu Habil menikah dengan Iqlima dan Qabil menikah dengan Labuda. Atas dasar ketaatan kepada Allah, Habil menerima gagasan ayahnya. Namun, tidak demikian halnya dengan Qabil. Ia tidak menerima rencana tersebut, karena dengan begitu ia akan gagal menyunting Iqlima yang lebih cantik dan lebih ia sayangi daripada Labuda.

Rasa frustrasi yang muncul akibat dari kegagalan mendapatkan dambaan hati menjadikan Qabil kalap. Akhirnya ia melakukan serangan atau kekerasan terhadap Habil yang menyebabkan Habil meninggal dunia. Oleh sebagian ahli, kekerasan yang dilakukan Qabil dianggap sebagai cikal bakal sifat agresif yang ada dalam diri manusia, karena semua manusia adalah keturunan Qabil. Benarkah? 

2. Kognisi.

Dekat dengan peniruan adalah aspek kognisi. Agresivitas melibatkan proses perhatian yaitu proses ketertarikan individu untuk mengamati tingkah laku model. Proses ini dipengaruhi oleh frekuensi kehadiran model dan karakteristik-karakteristik yang dimilikinya. Model yang sering tampil, tampak menonjol dan menimbulkan perasaan positif pada pengamatnya akan lebih midah mengundang perhatian daripada model yang jarang tampil dan tidak menonjol.

3. Amarah.

Amarah akibat dari serangan atau gangguan orang lain juga mempengaruhi kekerasan. Suatu saat tiba tiba ada orang lain yang mengejek individu sebagai orang yang tolol dan tidak sopan. Maka, sangat mungkin ada reaksi marah. Apa yang terjadi di IPDN adalah orang-orang terluka yang di masa lalu selalu dihina, dilecehkan, dipukuli. Tindak kekerasan yang mereka lakukan tidak lain adalah sebagai balas dendam atas pengalaman masa lalu. Perilaku kekerasan akan melahirkan kekerasan lain. Lingkaran balas dendam inilah yang terjadi dalam kasus kekerasan di IPDN (Doni Koesoema, Kompas, 11 April 2007)

4. Frustrasi.

Frustrasi, adalah gangguan atau kegagalan dalam mencapai tujuan. Bila seseorang hendak pergi ke suatu tempat, melakukan sesuatu, atau menginginkan sesuatu, dan kemudian merasa dihalangi, dikatakan bahwa orang tersebut mengalami frustrasi. Salah satu prinsip dalam psikologi adalah frustrasi cenderung membangkitkan perasaan agresif. Pengaruh frustrasi terhadap perilaku diperlihatkan dalam penelitian klasik yang dilakukan Barker, Dembo dan, Lewin. Kepada sekelompok anak, ditunjukkan ruangan yang penuh berisi mainan yang menarik, tetapi mereka tidak diijinkan untuk memasukinya. Mereka berdiri di luar, memperhatikan mainan mainam itu: ingin memainkannya tetapi tidak dapat meraihnya: Sesudah menunggu beberapa saat, mereka diperbolehkan untuk bermain dengan mainan tersebut: Kelompok anak yang lain diberi mainan tanpa dihalangi terlebih dahulu. Anak-anak yang sudah mengalami frustrasi membanting mainan ke lantai, melemparkannya ke dinding dan pada umumnya menampilkan perilaku merusak, anak anak yang tidak mengalami frustrasi jauh lebih tenang dan tidak menimbulkan perilaku merusak.

Kekerasan material yang dilakukan oleh guru dan dosen kemungkinan disebabkan oleh rasa frustrasi. Sudah kita ketahui bahwa sebagian besar bangsa Indonesia, termasuk guru, memperoleh penhasilan yang sangat terbatas. Keterbatan materi yang mencekik menjadikan dosen dan guru menggunakan kekerasan material.

5. Cara bersikap terhadap sumber agresi.

Diungkapkan oleh Nashori (2004), apakah seseorang akan bertindak menyerang terhadap orang lain yang menyakitinya atau tidak sangat dipengaruhi oleh cara bersikap orang tersebut. Seseorang yang memandang rasa sakit yang diarahkan kepada dirinya adalah sesuatu yang diizinkan Tuhan, maka ia akan lebih siap menerima rasa sakit. Kelapangdadaan adalah potensi psikologis yang memungkinkan seseorang mampu memaafkan kesalahan orang lain.

Mengatasi Agresivitas dalam Pendidikan

1. Membentuk lingkungan yang shaleh dan menghargai martabat manusia: Di sekolahan/kampus dihidupkan aktivitas keberagamaan, seperti pengajian rutin (untuk guru/murid), shalat berjamaah, pembacaan dzikir dan al-Qur’an secara bersama-sama, dsb. Di sini juga ada aturan yang jelas yang melarang perbuatan jahat yang menyakiti/mengganggu orang lain, memberi penghargaan yang tepat untuk setiap prestasi yang diraih. Pesantren adalah contoh komunitas yang menggunakan pendekatan ini.
2. Memberi hukuman yang setimpal: Orang yang melakukan kesalahan (menyakiti orang lain) dibalas dengan hukuman yang setimpal oleh pihak berwenang. Tujuannya adalah membuat pelaku jera. Ini cocok kekeraan fisik. Tepat untuk orang yang rasional (selalu mempertimbangkan untung rugi atas perilakunya). Misalnya: skors atau drop out.
3. Menjamin adanya akses untuk memperoleh kemudahan hidup dan kesamaan hak untuk mendapatkan keperluan hidup sehingga dapat mengurangi sumber frustrasi: memperoleh penghasilan dan tunjangan yang memadai.
4. Mengembangkan sikap positif: Mengembangkan sikap positif terhadap keadaan apapun yang terjadi (sehingga membuat seseorang tidak terpancing untuk bertindak penuh kekerasan) seperti berprasangka baik (khusnudhdhon), lapangdada, dsb
5. Menggunakan paradigma dan teknik belajar yang dapat dinikmati subjek didik dan tidak menimbulkan amarah, frustrasi, dll. Contoh: Problem based learning, student centered leraning, quantum learning.
6. Pengalihan: mencari sasasaran pengganti. Mis: boneka. Semakin banyak kesamaan sumber dan atau sasaran semakin kuat fungsi pengalihan.
7. Katarsis: Pembersihan “pengganggu” dari sistem diri secara lisan. Cara: berbicara sendiri atau kepada orang lain yang dipercaya. Mis: relaksasi berteriak dengan menyebut nama pengganggu.
8. Belajar mengelola diri (emosi): melalui training seperti self training, social skill training, forgiveness training.
9. Intervensi Kognitif: meminta dan memaafkan [Fuad Nashori & R. Rachmy Diana]

Daftar Pustaka

Bailey, H. 1988. Kekerasan dan Agresi. Jakarta: PT Tira Pustaka Life.

Baron, R.A. & Byrne, D. 2004. Social Psychology: Understanding Human Interaction. Boston: Allyn and Bacon.

Brigham, J.C. 1991. Social Psychology. New York: Harper Collin Publisher Inc.

Buchori, B. 2005. Intensitas Dzikir dan Agresivitas pada Santri. Jurnal Psikologi Islami, 1, (2), 141-152.

Buss, A.H. & Perry, M. 1992. The Aggression Questionnaire. Journal of Personality and Social Psychology. 63, (33), 452-459.

Dodge, K.A. & Newman, J.P. 1981. Biased Decision-Making Process in Aggressive Boys. Journal of Abnormal Psychology, 90, (4), 375-379.

Dodge, K.A. & Coi, J.D. 1987. Social Information Processing Factor in Reactive and Proactive Aggressiion in Children Peer Groups, Journal of Personality and Social Psychology, 53, 1146-1158.

Dodge, K.A. & Crick, N.R. 1990. Social Information Processing Based of Aggressive Behavior in Children, Personality and Social Psychology Bulletin, 16, 18-22.

Ekawati, D.S. 2001. Agresivitas Mahasiswa Berdasarkan Etnis. Laporan Penelitian. Yogyakarta. Fakultas Psikologi UII.

Goble, Frank. 1994. Abraham Maslow: Mazhab Ketiga. Yogyakarta: Kanisius.

Hidayat, S. 2004. Hubungan Perilaku Kekerasan Ibu pada Anaknya terhadap Munculnya Perilaku Agresif pada Anak SMP, Jurnal Provitae, 1, 83-92.

Hidayat, B. 2006. Pluralisme dan Aktualisasi Diri. Jurnal Psikologi Sosial, Vol. 12, No. 2, 141-152.

Kedaulatan Rakyat. 2002. Pelajar Tewas Oleh Pelajar. Harian Kedaulatan Rakyat, 2 Februari 2002.

Liputan 6 SCTV. Polisi Mengamankan Seoramh Pelajar yang Terlibat Tawuran. Liputan 6 SCTV, 17 Agustus 2007.

Nashori, H.F. 2004. Bila Disakiti, Haruskah Membalasnya? Majalah Forum Keadilan, 28 Februari 2004.

Nashori, H.F. 2005. Hubungan antara Kualitas dan Intensitas Dzikir dengan Kelapangdadaan Mahasiswa. Jurnal Millah, 5, (1), 121-135.

Nashori, H.F. 2005. Kelapangdadaan Mahasiswa-Santri dan Mahasiswa-Reguler. Jurnal Psikologi Islami, I, (2), 78-81.

Nashori, H.F. 2006. Kelapangdadaan Survivor Bencana Tsunami Aceh. Hasil Penelitian. Jakarta: Depdiknas.

Nashori, H.F. 2006. Kelapangdadaan Survivor Bencana Gempa Yogya. Jurnal Religiusitas.

Nashori, H.F. & Diana, R.R. 2007. Hubungan antara Kelapangdadaan dan Agresivitas Siswa SMA dan SMK. Laporan Penelitian Fundamental. Jakarta: Ditjen Dikti Departemen Pendidikan Nasional.

Radar Bogor. 1999. Tawuran MAN 2 vs SMUN 3 Bogor. 25 Juli 1999, hal. 12.

Tempointeraktif. 2007. Satu orang Dibacok dalam Tawuran Pelajar. www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2007/02/18.

Tuasikal, R.F. 2001. Hubungan antara Komunikasi Interpersonal Anak dan Orangtua dengan Agresivitas Siswa SMU. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UII.

Wrightsman & Deaux. 1981. Social Psychology in the 80’s. Monterey, California: Brools.

Penulis:

fuad
Fuad Nashori  adalah salah seorang pelopor dan ahli di bidang Psikologi Islami, sehari-hari beliau menjabat sebagai Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, (UII) Yogyakarta. Fuad Nashori adalah penulis tetap untuk rubrik Psikologi Islami di website ini

Penulis:

rahmiR. Rachmy Diana, Prodi Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Suka Yogyakarta

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Putus atau Mempertahankan Cintanya?

09 Sep 2013 pikirdong

Punya pacar berarti kamu harus siap-siap untuk memikirkan hal-hal kedepan menyangkut hubungan kalian berdua. Banyak…

Halusinasi

07 Sep 2013 pikirdong

Halusinasi merupakan persepsi yang abnormal pada individu dimana ia sadar dan terjaga akan tetapi tanpa…

Meredakan Amarah

10 Sep 2013 Ardiman Adami

Alkisah, dalam sebuah peperangan, Ali bin Abi Thalib berhasil mengalahkan lawannya. Ali berhasil memukul pedang…

Tanpa Pacar Bikin Bete?

09 Sep 2013 pikirdong

Banyak orang merasa tidak nyaman dengan kondisi hidup sendiri tanpa pacar disamping. Mereka menciptakan momok…

Mengkritik dengan Tepat

05 Oct 2013 Sayed Muhammad

Kritik dapat dilakukan oleh siapapun, namun tidak semua kritikan yang dilontarkan dapat diterima dengan sikap…

10 Cara Mengetahui Calon Suami Pembenci Wanita

09 Sep 2013 Sayed Muhammad

Berbagai tindakan kekerasan terhadap wanita terutama dalam rumah tangga ditemukan setelah pasangan melakukan pernikahan. Selama…

Reformasi Sistem Pendidikan Finlandia Menjadikan Mereka yang Terbaik…

16 Oct 2015 Sayed Muhammad

Reformasi besar-besaran dalam dunia pendidikan di Finlandia telah dimulai 40 tahun lalu, kini, sekolah-sekolah di…

Paraphilia

06 Sep 2013 pikirdong

Paraphilia adalah istilah klinis yang digunakan untuk menggambarkan penyimpang seksual. Paraphilia merupakan permasalahan menyangkut kontrol…

Katakan Saja Tidak!

29 Oct 2015 Sayed Muhammad

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar untuk mengatakan "tidak" yang memang kita…

Masturbasi dan Pengaruh Psikologisnya

09 Sep 2013 pikirdong

Masturbasi adalah rangsangan disengaja yang dilakukan pada organ genital untuk memperoleh kenikmatan dan kepuasan seksual…

Masalah lagi… Masalah lagi…

08 Sep 2013 pikirdong

Aduh…! Pusing banget nich. Lagi banyak masalah”, atau “Kenapa sich masalah selalu dateng hampirin aku!”,…

Lupakan Mantan Pacar!

10 Sep 2013 Sayed Muhammad

Putus cinta? Seebbeell!! Malam minggu jadi sepi, gak ada yang ngapelin lagi, gak ada yang…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders yang ke V terjadi perubahan…

30 Aug 2017 Artikel Psikologi Psikologi Klinis pikirdong No comments

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa tubuh membutuhkan dokter dan bila diperlukan juga, diambil langkah untuk rawat…

24 Aug 2017 Kolom Sayed Muhammad Sayed Muhammad No comments

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014