TwitterFacebookGoogle+

Agresivitas dalam Pendidikan: Masalah dan Solusinya

Dalam konteks ke-Indonesiaan saat ini, apa yang dilihat oleh warga negara Indonesia melalui media massa atau melalui kehidupan nyata tentang kekerasan yang dilakukan orang kecil seperti Ryan hingga para pemimpin politik dan mantan presiden, akan menjadi ’pelajaran’ bagi mereka, yang menginspirasi mereka untuk bertindak kekerasan. Tentu saja lingkungan kecil seperti sekolah juga menjadi lingkungan yang membuat seseorang berbuat kekerasan atau tidak.

Pengantar

Agresivitas di dalam dunia pendidikan yang paling fenomenal mungkin adalah agresivitas yang dilakukan senior kepada junior di IPDN Bandung. Cliff Muntu meninggal dunia akibat tendangan bebas ke dada dan pukulan bertubi-tubi ke ulu hati dari senior-seniornya (www.atmajaya.ac.id). Namun, agresivitas di dunia pendidikan yang menghebohkan bukan itu saja. Di kalangan pelajar, agresivitas antar pelajar telah lama menjadi persoalan, salah satu di antaranya adalah peristiwa tawuran antar pelajar. Sebagai contoh, puluhan siswa SMK Bhakti sedang nongkrong di kampus Universitas Kritsen Indonesia (UKI) Jakarta. Tiba-tiba puluhan siswa SMK Penerbangan menyerang mereka dengan senjata tajam. Akibatnya, seorang siswa menderita luka bacok di kepala dan pahanya dalam tawuran tersebut (Tempointeraktif, 18 Februari 2007).

Salah satu gejala umum tawuran antar pelajaran yang dapat ditemui dalam masyarakat adalah agresivitas yang melibatkan siswa SMA dan siswa SMK. Di Kendari, Sulawesi Tenggara, pelajar antara dua SMA dan SMK saling kejar-kejaran di jalanan, Jumat (7/9/2007). Pelajar yang terlibat tawuran adalah siswa SMA Negeri 4 dan siswa SMK (STM) Negeri 2 Kendari. Akibat tawuran itu, seorang siswa perempuan terluka di bagian kepala, karena terkena lemparan batu, sehingga ia terpaksa dilarikan ke rumah sakit (MetroTVNews, 7 September 2007).

Yogyakarta juga digegerkan oleh tawuran antar pelajar setelah sekian lama jarang ada kejadian tawuran. Tawuran di DI Yogyakarta, seperti yang terjadi antar pelajar SMA di Jalan Jenderal Sudirman, Yogyakarta, depan SMA Bopkri II, membuat wali kota Yogya, Herry Zudianto, terusik. Herry mengaku mengundang seluruh kepala SMA dan SMK, negeri dan swasta, di Kota Yogyakarta. Dalam pertemuan tersebut, ia meminta para kepala sekolah untuk bertanggung jawab jika ada anak didik mereka yang terlibat tawuran (Kompas, 5 September 2007)

Fenomena lainnya adalah agresivitas yang dilakukan guru kepada murid. Beberapa agresivitas dalam dunia pendidikan dapat dibaca dalam beberapa berita ini. Di salah satu SDN Pati, seorang ibu guru kelas IV menghukum murid-murid yang tidak mengerjakan PR dengan menusukkan paku yang dipanaskan ke tangan siswa. Di Surabaya, seorang guru olah raga menghukum lari seorang siswa yang terlambat datang beberapa kali putaran. Tapi karena fisiknya lemah, pelajar tersebut tewas. Dalam periode yang tidak berselang lama, seorang guru SD Lubuk Gaung, Bengkalis, Riau, menghukum muridnya dengan lari keliling lapangan dalam kondisi telanjang bulat. (www.ditpertais.net/istiqro/ist02-03.asp – 71k).

Pengertian dan Jenis-jenis Agresivitas

Agresivitas dapat diartikan sebagai perilaku atau kecenderungan perilaku yang diniati untuk menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun psikologis (Buss & Perry, 1992; Baron & Byrne, 2004). Mereka yang frustrasi (merasa gagal mencapai tujuannya) adalah orang yang paling mudah melakukan tindakan agresi. Ahli psikologi sosial, yaitu Dollard dan Miller, menerangkan hal di atas dengan frustration-aggression hypothesis (Brigham, 1991; Baron & Byrne, 2004; Nashori, 2008). Orang-orang yang frustrasi marah terhadap orang-orang yang dianggap sebagai penyebab atau perantara terjadinya rasa sakit. Disakiti atau dilukai perasaannya atau kepentingannya, itulah yang dijadikan alasan oleh sementara orang untuk bertindak agresif. Mereka frustrasi dengan apa yang terjadi, dan jadilah mereka menjarah, membunuh, menembak, melempar batu, memukul, membacok, dan seterusnya.

Pengelompokan jenis agresi menurut berbagai ahli tetu saja cukup beragam, salah satunya adalah pendapat Buss. Indikator atau ciri-ciri agresivitas menurut Buss (Nashori, 2008) meliputi: perilaku agresif secara fisik dan verbal, secara aktif dan pasif, dan secara langsung dan tidak langsung. Tiga klasifikasi tersebut masing – masing akan saling berinteraksi, sehingga akan menghasilkan delapan bentuk perilaku agresif, yaitu :

1. Perilaku agresif fisik aktif yang dilakukan secara langsung, misalnya menusuk, menembak, memukul orang lain.
2. Perilaku agresif fisik aktif yang dilakukan secara tidak langsung, misalnya membuat jebakan untuk mencelakakan orang lain.
3. Perilaku agresif fisik pasif yang dilakukan secara langsung, misalnya tidak memberikan jalan kepada oarang lain.
4. Perilaku agresif fisik pasif yang dilakukan secara tidak langsung, misalnya menolak untuk melakukan sesuatu, menolak mengerjakan perintah oarang lain.
5. Perilaku agresif verbal aktif yang dilakukan secara langsung, misalnya memaki – maki orang.
6. Perilaku agresif verbal aktif yang dilakukan secara tidak langsung, misalnya menyebar gosip tentang orang lain.
7. Perilaku agresif verbal pasif yang dilakukan secara tidak langsung, misalnya menolak untuk berbicara dengan orang lain, menolak untuk menjawab pertanyaan orang lain atau menolak untuk memberikan perhatian pada suatu pembicaraan.

Perilaku agresif verbal pasif yang dilakukan secara langsung, misalnya tidak setuju dengan pendapat orang lain, tetapi tidak mau mengatakan (memboikot), tidak mau menjawab pertanyaan orang lain.

Akar Agresivitas: Budaya Kekerasan

Agresi dalam pendidikan terjadi karena pelaku belajar dari lingkungan, termasuk di dalamnya dari media massa. Kekerasan yang berlangsung pada diri Cliff Muntu berkaitan dengan budaya kekerasan yang dihidupkan dan dipelihara di IPDN. Para senior adalah agen yang mentransfer budaya kekerasan itu kepada para juniornya. Kejadian ini berlangsung dari generasi ke generasi sehingga menjadi budaya kekerasan bagi mahasiswa IPDN.

Berkenaan dengan pentingnya faktor lingkungan atau kebudayaan dalam meningkatkan kekerasan dalam dunia pendidikan, ada sejumlah pernyataan dan penelitian serta teori yang diajukan oleh ahli psikologi yang menyatakan bahwa kekerasan manusia (semata-mata) adalah hasil belajar dari lingkungan sosialnya (Wrightsman & Deaux, 1981). Menurut Wrightsman & Deaux, prinsip dasar teori belajar adalah apabila suatu tingkah laku termasuk tingkah laku agresif diberi reinforcement (penguatan) atau reward (hadiah), maka tingkah laku tersebut akan cenderung diulang pada saat yang lain. Teori belajar observasional atau modeling yang dikembangkan oleh Albert Bandura berasumsi bahwa tingkah laku agresif diperoleh dari hasil belajar melalui pengamatan (observasi) terhadap tingkah laku yang ditampilkan oleh individu lain yang menjadi model (Koeswara,1988). Bandura sendiri pernah melakukan eksperimen yang menunjukkan bahwa kekerasan yang dilakukan model akan ditiru anak-anak (Monks dkk, 2004).

Pandangan ahli-ahli psikologi sosial di atas memperoleh dukungan empiris dari ahli antropologi. Ruth Benedict (Goble, 1994) dan Brown (Setiadi, 2001) berpandangan bahwa lingkungan sosiallah yang membentuk perilaku agresif atau kekerasan. Ruth Benedict (Goble, 1994) menunjukkan bahwa manusia yang hidup dalam lingkungan masyarakat yang saling membantu akan menumbuhkan individu individu yang menyenangkan dan penuh kasih sayang. Sebaliknya, masyarakat yang tidak ramah dan jahat akan menghasilkan individu-individu yang berkarakter keras dan agresif. Hal ini dapat kita lihat dari penelitian Ruth Benedict pada masyarakat masyarakat Indian. Benedict meneliti empat kebudayaan yang tidak ramah dan jahat (Chuckchee, Ojibwa, Dobwo, Kwakiutl) dan empat kebudayaan lainnya yang menghasilkan orang orang yang menyenangkan (Zuni, Arapesh, Dakota, dan Eskimo). Ruth Benedict berpendapat bahwa masyarakat yang tidak dikuasai oleh agresi atau kekerasan memiliki tata tertib sosial yang mengatur bahwa setiap individu, lewat perbuatannya yang sama, melakukan sesuatu yang menguntungkan dirinya sendiri sekaligus menguntungkan kelompok. Salah satu kuncinya adalah bahwa non-agresi (atau saling membantu dan kasih sayang) terjadi karena tatanan sosial telah membuat keduanya itu keuntungan diri dan keuntungan kelompok identik (Goble, 1994). Lingkungan, bagaimanapun sangat menonjol peranannya dalam hal membentuk watak, manusia: apakah menjadi agresif atau penuh kasih sayang.

Senada dengan hasil penelitian di atas, Brown (Setiadi, 2001) mengungkapkan bahwa ada hubungan antara budaya dan kekerasan. Brown menemukan bahwa orang Simbu di New Guinea (baca: Papua Nugini) menunjukkan perilaku agresif yang tinggi dibandingkan dengan apa yang ditemukan Robarchek pada budaya Semai. Budaya Simbu memiliki sikap sangat favorable terhadap perilaku agresif. Dalam budaya ini, orang yang dikagumi adalah orang yang agresif. Status sosial yang tinggi diasosiasikan dengan pria, kekerasan dan sikap kompetitif. Sebaliknya, budaya Semai memiliki sikap sangat negatif terhadap perilaku agresif. Orang-orang Semai justru berpendapat bahwa hanya orang-orang jahat yang bisa bertindak dengan kekerasan.

Penelitian empiris yang ditemukan penulis (Nashori & Diana, 2007) di SMA dan SMK Yogyakarta ini searah dengan hasil penelitian Benedict (Goble, 1994) dan Brown (Setiadi, 2001). Lingkungan sehari-hari siswa SMA dan siswa SMK adalah lingkungan sekolah yang sesungguhnya tidak menoleransi adanya kekerasan. Kalaupun ada kekerasan, maka kekerasan atau agresi itu terbentuk di luar lingkungan sekolah, yaitu lingkungan tempat tinggal (rumah, kos-kosan atau kontrakan). Pengaruh lingkungan dalam sekolah lebih besar dibandingkan dengan lingkungan luar sekolah.

Dalam konteks ke-Indonesiaan saat ini, apa yang dilihat oleh warga negara Indonesia melalui media massa atau melalui kehidupan nyata tentang kekerasan yang dilakukan orang kecil seperti Ryan hingga para pemimpin politik dan mantan presiden, akan menjadi ’pelajaran’ bagi mereka, yang menginspirasi mereka untuk bertindak kekerasan. Tentu saja lingkungan kecil seperti sekolah juga menjadi lingkungan yang membuat seseorang berbuat kekerasan atau tidak. Kasus kekerasan di IPDN, perploncoan, menunjukkan adanya faktor lingkungan yang membudayakan kekerasan.

Akar Agresivitas Lain: Biologis, Amarah, Frustrasi, Lingkungan Fisik, dll

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku agresivitas di antaranya adalah biologis (Buss & Perry, 1992), kognitif (Dodge & Coi, 1987; Dodge & Crick, 1990; Dodge & Newman, 1981), etnis (Ekawati & Nashori, 2001), dzikir (Buchori, 2005), perlakuan orang signifikan (Hidayat, 2004), amarah, frustrasi (Dollard and Miller, 998), cara bersikap terhadap sumber agresi (Nashori, 2004).

1. Biologis.

Diungkapkan oleh Buss dan Perry (1992), Sigmund Freud meyakini bahwa manusia lahir dengan dua sifat dasar, sesuatu yang bersifat biologis atau ada sejak manusia dilahirkan, yaitu eros (dorongan hidup) dan thanatos (dorongan mati). Agresi dan kekerasan adalah salah satu wujud kehendak untuk mati. Apabila agresi dan kekerasan muncul di mana mana dengan frekuensi, kuantitas, dan kualitas yang beragam dan cenderung meningkat, maka pada saat itulah manusia mewujudkan sifat dasarnya. Pernyataan bahwa manusia pada dasarnya agresif memperoleh dukungan dari sejumlah ahli agama. Mereka berpandangan bahwa semua manusia adalah anak-cucu Qabil, padahal Qabil –putra Nabi Adam—adalah seseorang yang tega membunuh saudaranya sendiri (baca boks 1: Kekerasan pertama manusia). Diskusi tentang kebenaran kelamiahan kekerasan dalam diri manusia bisa panjang, karena pendapat yang sebaliknya juga banyak. Nashori (2003) menjelaskan bahwa pada dasarnya manusia lahir dengan sifat asal positif saja. Ini sesuai dengan jumhur ulama Islam tentang apakah manusia memiliki hanya sifat dasar positif atau positif dan negatif saat dilahirkan. Dengan pandangan demikian, pandangan bahwa manusia secara alamiah agresif belum dapat diterima.

Agresivitas Pertama Manusia
Agresi pertama antar manusia terjadi pada putra-putra Nabi Adam dan Hawa. Dari sejarah diketahui bahwa ketika anak-anaknya sudah menjelang dewasa, Nabi Adam bermaksud menikahkan mereka. Kembar pertama putra-putri Adam dan Hawa adalah Qabil dan Iqlima serta kembar kedua adalah Habil dan Labuda.

Berdasarkan petunjuk Allah Tuhan Yang Maha Esa, Adam berencana untuk menikahkan mereka secara bersilang, yaitu Habil menikah dengan Iqlima dan Qabil menikah dengan Labuda. Atas dasar ketaatan kepada Allah, Habil menerima gagasan ayahnya. Namun, tidak demikian halnya dengan Qabil. Ia tidak menerima rencana tersebut, karena dengan begitu ia akan gagal menyunting Iqlima yang lebih cantik dan lebih ia sayangi daripada Labuda.

Rasa frustrasi yang muncul akibat dari kegagalan mendapatkan dambaan hati menjadikan Qabil kalap. Akhirnya ia melakukan serangan atau kekerasan terhadap Habil yang menyebabkan Habil meninggal dunia. Oleh sebagian ahli, kekerasan yang dilakukan Qabil dianggap sebagai cikal bakal sifat agresif yang ada dalam diri manusia, karena semua manusia adalah keturunan Qabil. Benarkah? 

2. Kognisi.

Dekat dengan peniruan adalah aspek kognisi. Agresivitas melibatkan proses perhatian yaitu proses ketertarikan individu untuk mengamati tingkah laku model. Proses ini dipengaruhi oleh frekuensi kehadiran model dan karakteristik-karakteristik yang dimilikinya. Model yang sering tampil, tampak menonjol dan menimbulkan perasaan positif pada pengamatnya akan lebih midah mengundang perhatian daripada model yang jarang tampil dan tidak menonjol.

3. Amarah.

Amarah akibat dari serangan atau gangguan orang lain juga mempengaruhi kekerasan. Suatu saat tiba tiba ada orang lain yang mengejek individu sebagai orang yang tolol dan tidak sopan. Maka, sangat mungkin ada reaksi marah. Apa yang terjadi di IPDN adalah orang-orang terluka yang di masa lalu selalu dihina, dilecehkan, dipukuli. Tindak kekerasan yang mereka lakukan tidak lain adalah sebagai balas dendam atas pengalaman masa lalu. Perilaku kekerasan akan melahirkan kekerasan lain. Lingkaran balas dendam inilah yang terjadi dalam kasus kekerasan di IPDN (Doni Koesoema, Kompas, 11 April 2007)

4. Frustrasi.

Frustrasi, adalah gangguan atau kegagalan dalam mencapai tujuan. Bila seseorang hendak pergi ke suatu tempat, melakukan sesuatu, atau menginginkan sesuatu, dan kemudian merasa dihalangi, dikatakan bahwa orang tersebut mengalami frustrasi. Salah satu prinsip dalam psikologi adalah frustrasi cenderung membangkitkan perasaan agresif. Pengaruh frustrasi terhadap perilaku diperlihatkan dalam penelitian klasik yang dilakukan Barker, Dembo dan, Lewin. Kepada sekelompok anak, ditunjukkan ruangan yang penuh berisi mainan yang menarik, tetapi mereka tidak diijinkan untuk memasukinya. Mereka berdiri di luar, memperhatikan mainan mainam itu: ingin memainkannya tetapi tidak dapat meraihnya: Sesudah menunggu beberapa saat, mereka diperbolehkan untuk bermain dengan mainan tersebut: Kelompok anak yang lain diberi mainan tanpa dihalangi terlebih dahulu. Anak-anak yang sudah mengalami frustrasi membanting mainan ke lantai, melemparkannya ke dinding dan pada umumnya menampilkan perilaku merusak, anak anak yang tidak mengalami frustrasi jauh lebih tenang dan tidak menimbulkan perilaku merusak.

Kekerasan material yang dilakukan oleh guru dan dosen kemungkinan disebabkan oleh rasa frustrasi. Sudah kita ketahui bahwa sebagian besar bangsa Indonesia, termasuk guru, memperoleh penhasilan yang sangat terbatas. Keterbatan materi yang mencekik menjadikan dosen dan guru menggunakan kekerasan material.

5. Cara bersikap terhadap sumber agresi.

Diungkapkan oleh Nashori (2004), apakah seseorang akan bertindak menyerang terhadap orang lain yang menyakitinya atau tidak sangat dipengaruhi oleh cara bersikap orang tersebut. Seseorang yang memandang rasa sakit yang diarahkan kepada dirinya adalah sesuatu yang diizinkan Tuhan, maka ia akan lebih siap menerima rasa sakit. Kelapangdadaan adalah potensi psikologis yang memungkinkan seseorang mampu memaafkan kesalahan orang lain.

Mengatasi Agresivitas dalam Pendidikan

1. Membentuk lingkungan yang shaleh dan menghargai martabat manusia: Di sekolahan/kampus dihidupkan aktivitas keberagamaan, seperti pengajian rutin (untuk guru/murid), shalat berjamaah, pembacaan dzikir dan al-Qur’an secara bersama-sama, dsb. Di sini juga ada aturan yang jelas yang melarang perbuatan jahat yang menyakiti/mengganggu orang lain, memberi penghargaan yang tepat untuk setiap prestasi yang diraih. Pesantren adalah contoh komunitas yang menggunakan pendekatan ini.
2. Memberi hukuman yang setimpal: Orang yang melakukan kesalahan (menyakiti orang lain) dibalas dengan hukuman yang setimpal oleh pihak berwenang. Tujuannya adalah membuat pelaku jera. Ini cocok kekeraan fisik. Tepat untuk orang yang rasional (selalu mempertimbangkan untung rugi atas perilakunya). Misalnya: skors atau drop out.
3. Menjamin adanya akses untuk memperoleh kemudahan hidup dan kesamaan hak untuk mendapatkan keperluan hidup sehingga dapat mengurangi sumber frustrasi: memperoleh penghasilan dan tunjangan yang memadai.
4. Mengembangkan sikap positif: Mengembangkan sikap positif terhadap keadaan apapun yang terjadi (sehingga membuat seseorang tidak terpancing untuk bertindak penuh kekerasan) seperti berprasangka baik (khusnudhdhon), lapangdada, dsb
5. Menggunakan paradigma dan teknik belajar yang dapat dinikmati subjek didik dan tidak menimbulkan amarah, frustrasi, dll. Contoh: Problem based learning, student centered leraning, quantum learning.
6. Pengalihan: mencari sasasaran pengganti. Mis: boneka. Semakin banyak kesamaan sumber dan atau sasaran semakin kuat fungsi pengalihan.
7. Katarsis: Pembersihan “pengganggu” dari sistem diri secara lisan. Cara: berbicara sendiri atau kepada orang lain yang dipercaya. Mis: relaksasi berteriak dengan menyebut nama pengganggu.
8. Belajar mengelola diri (emosi): melalui training seperti self training, social skill training, forgiveness training.
9. Intervensi Kognitif: meminta dan memaafkan [Fuad Nashori & R. Rachmy Diana]

Daftar Pustaka

Bailey, H. 1988. Kekerasan dan Agresi. Jakarta: PT Tira Pustaka Life.

Baron, R.A. & Byrne, D. 2004. Social Psychology: Understanding Human Interaction. Boston: Allyn and Bacon.

Brigham, J.C. 1991. Social Psychology. New York: Harper Collin Publisher Inc.

Buchori, B. 2005. Intensitas Dzikir dan Agresivitas pada Santri. Jurnal Psikologi Islami, 1, (2), 141-152.

Buss, A.H. & Perry, M. 1992. The Aggression Questionnaire. Journal of Personality and Social Psychology. 63, (33), 452-459.

Dodge, K.A. & Newman, J.P. 1981. Biased Decision-Making Process in Aggressive Boys. Journal of Abnormal Psychology, 90, (4), 375-379.

Dodge, K.A. & Coi, J.D. 1987. Social Information Processing Factor in Reactive and Proactive Aggressiion in Children Peer Groups, Journal of Personality and Social Psychology, 53, 1146-1158.

Dodge, K.A. & Crick, N.R. 1990. Social Information Processing Based of Aggressive Behavior in Children, Personality and Social Psychology Bulletin, 16, 18-22.

Ekawati, D.S. 2001. Agresivitas Mahasiswa Berdasarkan Etnis. Laporan Penelitian. Yogyakarta. Fakultas Psikologi UII.

Goble, Frank. 1994. Abraham Maslow: Mazhab Ketiga. Yogyakarta: Kanisius.

Hidayat, S. 2004. Hubungan Perilaku Kekerasan Ibu pada Anaknya terhadap Munculnya Perilaku Agresif pada Anak SMP, Jurnal Provitae, 1, 83-92.

Hidayat, B. 2006. Pluralisme dan Aktualisasi Diri. Jurnal Psikologi Sosial, Vol. 12, No. 2, 141-152.

Kedaulatan Rakyat. 2002. Pelajar Tewas Oleh Pelajar. Harian Kedaulatan Rakyat, 2 Februari 2002.

Liputan 6 SCTV. Polisi Mengamankan Seoramh Pelajar yang Terlibat Tawuran. Liputan 6 SCTV, 17 Agustus 2007.

Nashori, H.F. 2004. Bila Disakiti, Haruskah Membalasnya? Majalah Forum Keadilan, 28 Februari 2004.

Nashori, H.F. 2005. Hubungan antara Kualitas dan Intensitas Dzikir dengan Kelapangdadaan Mahasiswa. Jurnal Millah, 5, (1), 121-135.

Nashori, H.F. 2005. Kelapangdadaan Mahasiswa-Santri dan Mahasiswa-Reguler. Jurnal Psikologi Islami, I, (2), 78-81.

Nashori, H.F. 2006. Kelapangdadaan Survivor Bencana Tsunami Aceh. Hasil Penelitian. Jakarta: Depdiknas.

Nashori, H.F. 2006. Kelapangdadaan Survivor Bencana Gempa Yogya. Jurnal Religiusitas.

Nashori, H.F. & Diana, R.R. 2007. Hubungan antara Kelapangdadaan dan Agresivitas Siswa SMA dan SMK. Laporan Penelitian Fundamental. Jakarta: Ditjen Dikti Departemen Pendidikan Nasional.

Radar Bogor. 1999. Tawuran MAN 2 vs SMUN 3 Bogor. 25 Juli 1999, hal. 12.

Tempointeraktif. 2007. Satu orang Dibacok dalam Tawuran Pelajar. www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2007/02/18.

Tuasikal, R.F. 2001. Hubungan antara Komunikasi Interpersonal Anak dan Orangtua dengan Agresivitas Siswa SMU. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UII.

Wrightsman & Deaux. 1981. Social Psychology in the 80’s. Monterey, California: Brools.

Penulis:

fuad
Fuad Nashori  adalah salah seorang pelopor dan ahli di bidang Psikologi Islami, sehari-hari beliau menjabat sebagai Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, (UII) Yogyakarta. Fuad Nashori adalah penulis tetap untuk rubrik Psikologi Islami di website ini

Penulis:

rahmiR. Rachmy Diana, Prodi Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Suka Yogyakarta

 

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar

Artikel Lainnya

Menarche

09 Sep 2013 pikirdong

Menarche merupakan tanda permulaan pemasakan seksual pada wanita yang terjadi kisaran usia 13 tahun atau…

Mendidik Anak dengan Sepenuh Hati

23 May 2018 Irwan Nuryana Kurniawan

Mendidik atau mengasuh anak dengan sepenuh hati itu artinya mendidik anak dengan pendidikan Islam. Hanya…

Tips Menghadapi Gempa Bumi

08 Sep 2013 Sayed Muhammad

Indonesia yang terletak di jalur gempa (ring of fire) semestinya pendidikan mengenai antisipasi dan menghadapi…

Parafilia Yang Tidak Terdefinisi

06 Sep 2013 pikirdong

Ada banyak jenis paraphilia yang disebut-sebut dalam pelbagai referensi, namun APA (American Psychiatric Association)  tidak…

Edisi Ibukota : Integritas & Solusi Cara

15 Sep 2013 Candrawati Wijaya

Kita sudah mengetahui fenomena , pandangan dan pengertian dari integritas pada notes sebelumnya. Sekarang mari…

Garis Besar Haluan Organisasi Asosiasi Psikologi Islami

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Dalam Kongres II Asosiasi Psikologi Islami yang berlangsung di Unissula pada 4-5 Agustus 2007, berhasil…

ADHD Pada Orang Dewasa

05 Sep 2013 pikirdong

ADHD tidak saja mengidap pada anak-anak, sebagian besar gangguan tersebut tetap dibawa sampai dewasa. Secara…

Muslim yang Ketakutan

30 May 2018 Ruby Kay

Ada rasa takut, khawatir saat mau nge-share tulisan ulama yang dicap radikal. Takut dianggap pro…

Mengejar Kebahagiaan

09 Sep 2013 Ardiman Adami

Bilamana Anda merasa bahagia? Apakah ketika Anda meraih kesuksesan, kekayaan, atau kesenangan? Tentu saja Anda…

Katakan Saja Tidak!

29 Oct 2015 Sayed Muhammad

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar untuk mengatakan "tidak" yang memang kita…

Eksibisionisme – Paraphilia

06 Sep 2013 pikirdong

Eksibisionisme (exhibitionism atau sering disebut dengan istilah flashing) merupakan dorongan fantasi seksual secara terus-menerus…

Dunia Pendidikan : Menjalin Rasa Simpati dan Pengertian

12 Sep 2013 Sayed Muhammad

Anak-anak yang merasa, atau dibuat tidak merasa, tidak diterima dan tidak kompeten akan lambat memulihkan…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

Muslim yang Ketakutan

Ada rasa takut, khawatir saat mau nge-share tulisan ulama yang dicap radikal. Takut dianggap pro HTI, pro FPI, ekstrim, radikal,…

30 May 2018 Khairrubi Kolom Ruby Kay No comments

Mendidik Anak dengan Sepenuh Hati

Mendidik atau mengasuh anak dengan sepenuh hati itu artinya mendidik anak dengan pendidikan Islam. Hanya dengan pendidikan Islam saja orangtua…

23 May 2018 Artikel Keluarga Psikologi Islami Irwan Nuryana Kurniawan Comments (1)

Biar Anak Rajin Ke Masjid

Saya dan istri saya ingin semua anak rajin ke masjid. Yang kami tahu adalah nanti yang mendapat naungan dari terik…

29 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Ketika Si Anak Memilih Jalannya Sendiri

Orangtua berupaya agar anaknya memilih jalan yang terbaik yang menjamin masa depannya. Tugas orangtua yang pertama tentu adalah mengarahkan. Dulu…

28 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Mendidik Anak Mandiri

Salah satu tugas orangtua adalah melatih anaknya menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang mandiri adalah pribadi yang memiliki inisiatif untuk…

27 Apr 2018 Artikel Keluarga Fuad Nashori No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014