Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

Reformasi Sistem Pendidikan Finlandia Menjadikan Mereka yang Terbaik di Dunia

Reformasi besar-besaran dalam dunia pendidikan di Finlandia telah dimulai…

Perlu Tidak Ulang Tahun Anak Dirayakan?

Anak mulai mengerti kebiasaan perayaan ulang tahun pada usia…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Bahagiakah Orang-Orang yang Melajang?

Pada saat ini banyak laki-laki dan perempuan yang memilih hidup melajang. Bagaimana pandangan agama Islam mengenai masalah ini? Apa mereka bahagia?

Menikah

200x200Menikah termasuk urusan yang penting dalam agama. Islam banyak memberikan dorongan dan dukungan kepada seseorang untuk menikah bila saatnya tiba. Bahkan Tuhan berfirman: bila mereka miskin, Allah akan memberi kekayaan kepada mereka dengan karunia-Nya (QS 24:32). Agama juga mendorong pemuda untuk menikah demi menjaga kebersihan dan kehormatan mereka sebagai manusia: Hai golongan pemuda, bila di antaramu ada yang mampu menikah, maka hendaklah ia menikah, karena nantinya matanya akan lebih terjaga dan kemaluannya akan lebih terpelihara . (HR Ahmad, Bukhari, dan Muslim).

Karena anjuran menikah ini begitu kuatnya, sehingga orang-orang yang setia dalam agama Tuhan ini tidak akan melewatkan kehidupan tanpa naungan pernikahan. Seorang ulama dalam Islam, Imam Malik, berpesan: “Sekiranya saya akan mati beberapa saat lagi, sedangkan istri saya telah meninggal dunia, maka saya akan segera menikah.” Seorang sahabat Nabi bernama Abdullah Ibnu Mas’ud berkata: “Kalau tinggal sepuluh hari lagi ajalku, tentu aku lupa suka menikah daripada menemui Allah dalam keadaan melajang.”

andysurya-photo

Wedding – Photo contributed by Andy Surya © 2013

Itulah ajaran agama Islam. Ia meletakkan pernikahan itu dalam posisi yang begitu penting. Dalam kenyataannya, ada juga sejumlah orang yang memilih untuk tidak pernah menikah atau tidak mau menikah lagi setelah pernikahannya berakhir karena perceraian atau karena ditinggal mati oleh suami/istri. Bolehkah ini? Ketidakmampuan ekonomi adalah alasan hukum yang dapat dipakai untuk melajang. Seorang ulama bernama al-Qurthuby pernah berpendapat: “Bila seorang laki-laki sadar tidak mampu membelanjai istrinya, maka tidak boleh kawin sebelum berterus terang menjelaskan keadaannya, atau sampai ia dapat memenuhi hak-hak istrinya.” Alasan yang lain adalah ketidakmampuan seksual. Seseorang yang tak dapat melakukan aktivitas seksual secara normal dan khawatir merugikan pasangannya adalah contoh orang yang memiliki alasan untuk tidak menikah.

Orang-orang yang memutuskan menikah dijanjikan kebahagiaan. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Tuhan: agar jiwamu TENTRAM hidup bersamanya dan dijadikan-Nya rasa kasih dan sayang di antara kalian (QS 30:21). Dalam psikologi, terdapat penelitian yang mengungkap tentang kebahagiaan orang yang menikah, menikah tapi tinggal di tempat terpisah, dan hidup melajang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang paling bahagia adalah orang yang menikah, diikuti orang yang menikah tapi tinggal di tempat terpisah. Kebahagiaan orang-orang yang melajang berada di bawah kebahagiaan orang-orang yang menikah (Djamaludin Ancok, 2007). Dari penelitian tampak jelas bahwa salah satu hal yang diperoleh oleh orang yang menikah adalah kebahagiaan.

Hidup Melajang

Dalam kehidupan sehari-hari kita menyaksikan orang-orang yang hidup melajang. Seorang kawan akrab saya yang seusia dengan saya dan tinggal di Pontianak selalu menyampaikan alasan untuk ingin menikah, tapi tidak ketemu jodoh. Saya tidak yakin ia belum ketemu jodoh. Ia hanya tak bersemangat bahkan tak punya niat untuk menikah. Sebagian yang lain memang memutuskan untuk tidak menikah karena keasyikannya menikmati kebebasan.

Seorang wanita Indonesia yang tinggal di Jepang, Rani (bukan nama yang sebenarnya), memilih untuk  melajang dengan alasan akan memperoleh kesempatan untuk belajar dan berkarya secara optimal, meraih cita-cita setinggi mungkin dan bebas melakukan apa saja yang disuka tanpa memperoleh komentar dari orang lain, dan dapat pergi ke mana saja (Kompas Cyber Media, 2005).

Orang-orang yang memilih melajang seperti wanita Indonesia yang tinggal di Jepang di atas mengembangkan kebiasaan untuk mandiri. Ia melakukan berbagai tugas sendiri, memutuskan sendiri, dan bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri pula. Kemampuannya melakukan berbagai hal sendiri menjadikannya sangat percaya diri, bahkan over confidence (kepercayaan diri yang berlebihan). Karena kepercayaan dirinya yang tinggi ia bertahan dengan keyakinan-keyakinan yang dimilikiya. Kebiasaannya untuk mandiri dan tidak menjadikan pertimbangan orang lain dalam pengambilan keputusan, menjadikannya kadang besar kepala.

Saya menemukan sejumlah kasus di mana seorang wanita dan pria melajang yang begitu mandiri akhirnya keras kepala. Suatu saat saya dan teman saya memberi masukan kepada seseorang yang berusia 50-an tahun dan hidup melajang berkaitan dengan pekerjaannya. Ia dengan enteng berkata: “Saya tahu apa yang terbaik untuk saya. Anda tidak perlu mendikte saya.”

Saya percaya bila seseorang memilih untuk menikah, maka ia akan belajar lebih intens tentang kerjasama, toleransi, berbagi kesedihan dan kebahagiaan. Suatu lembaga yang dapat memberikan penerimaan orang lain secara total, kerjasama secara total, berbagi secara total, memberikan toleransi yang memotivasi, dan sejenisnya adalah pernikahan. Tidak ada lembaga lain yang mampu menandingi totalitas pernikahan dalam membentuk kelembutan hati seseorang. Semua hal di atas akan berujung pada kebahagiaan.

Itu baru kebahagiaan di dunia. Agama menjanjikan kebahagiaan di akhirat untuk orang-orang yang menikah dan tidak melajang. Sebuah hadis Nabi Muhammad berujar: “ Jika perempuan mengerjakan shalatnya yang lima, puasa ramadhan, memelihara kehormatan, dan taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai’.” (HR Ahmad dan Thabrany).

Bagaimana pendapat Anda?

Penulis:

rahmi
Rachmy Diana
adalah dosen psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Orientasi Nilai Budaya dan Pemaafan pada Mahasiswa

05 Sep 2015 Fuad Nashori

Abstract The aim of this research is to find out relationship between Javanese cultural value orientation…

Kenakalan Remaja

10 Sep 2013 pikirdong

Bila kita menemukan kata “kenakalan remaja” maka terlintas dalam benak kita, apakah ada yang disebut…

Developmental Milestones: Usia 9 Bulan

14 Oct 2015 pikirdong

Perkembangan Mental Usia 9 Bulan PENGAMATAN PERILAKU Komunikasi Bahasa Menggunakan bunyi tertentu untuk tanda berlainan Tingkah laku Mulai mengerti dengan merespon…

Menopause

09 Sep 2013 pikirdong

Menopause merupakan proses biologis yang alami terjadi pada wanita pada usia 40-60 tahun (pada umumnya…

Schizoid Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian skizoid (schizoid personality disorder) merupakan suatu karakter yang sifatnya menetap dalam diri individu…

Puasa Bicara

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Berbagai hadis Nabi Muhammad memberikan pelajaran pada kita tentang makna puasa. Puasa adalah media bagi…

Haruskah Menyontek Jadi Budaya?

08 Sep 2013 Fira Friantini

Budaya menyontek sangat identik dengan dunia pendidikan saat ini. Terlebih ketika ujian sedang berlangsung. Tak…

Sinopsis: Internet Addiction Disorder

04 Sep 2013 pikirdong

Revolusi komputer dan internet pada saat ini memungkinkan setiap orang untuk melakukan beberapa aktivitas di…

Agenda Sosial Pikirdong

03 Sep 2013 pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling kita yang kami adakan atas partisipasi…

Efek Perceraian pada Anak

12 Sep 2013 Sayed Muhammad

Perceraian merupakan mimpi buruk setiap pasangan menikah, namun kenyataan perceraian merupakan pilihan terbaik yang diambil…

Beberapa Jalan Menetaskan Ide-ide Kreatif Perspektif Psikologi Islami

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Tulisan ini akan menunjukkan proses-proses terjadinya kreativitas dalam perspektif Psikologi Islami. Perspektif psikologi Islami mempercayai…

Hukuman Mati untuk Koruptor

10 Sep 2011 Fuad Nashori

Di tengah maraknya kasus markus yang terjadi di negeri ini, rasanya patut bagi kita untuk…

  • 1
  • 2
  • 3

Kategori Lainnya

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling kita yang kami adakan atas partisipasi teman-teman semua yang rela dan…

03 Sep 2013 Agenda Sosial pikirdong No comments

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak dan menyentuh hampir semua aspek kehidupan kita. Ada hak perempuan, hak…

05 Oct 2016 Artikel Psikologi GIB Psikologi Islami Psikologi Sosial Bagus Riyono Comments (1)

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014