TwitterFacebookGoogle+

Bahagiakah Orang-Orang yang Melajang?

Pada saat ini banyak laki-laki dan perempuan yang memilih hidup melajang. Bagaimana pandangan agama Islam mengenai masalah ini? Apa mereka bahagia?

Menikah

200x200Menikah termasuk urusan yang penting dalam agama. Islam banyak memberikan dorongan dan dukungan kepada seseorang untuk menikah bila saatnya tiba. Bahkan Tuhan berfirman: bila mereka miskin, Allah akan memberi kekayaan kepada mereka dengan karunia-Nya (QS 24:32). Agama juga mendorong pemuda untuk menikah demi menjaga kebersihan dan kehormatan mereka sebagai manusia: Hai golongan pemuda, bila di antaramu ada yang mampu menikah, maka hendaklah ia menikah, karena nantinya matanya akan lebih terjaga dan kemaluannya akan lebih terpelihara . (HR Ahmad, Bukhari, dan Muslim).

Karena anjuran menikah ini begitu kuatnya, sehingga orang-orang yang setia dalam agama Tuhan ini tidak akan melewatkan kehidupan tanpa naungan pernikahan. Seorang ulama dalam Islam, Imam Malik, berpesan: “Sekiranya saya akan mati beberapa saat lagi, sedangkan istri saya telah meninggal dunia, maka saya akan segera menikah.” Seorang sahabat Nabi bernama Abdullah Ibnu Mas’ud berkata: “Kalau tinggal sepuluh hari lagi ajalku, tentu aku lupa suka menikah daripada menemui Allah dalam keadaan melajang.”

andysurya-photo

Wedding – Photo contributed by Andy Surya © 2013

Itulah ajaran agama Islam. Ia meletakkan pernikahan itu dalam posisi yang begitu penting. Dalam kenyataannya, ada juga sejumlah orang yang memilih untuk tidak pernah menikah atau tidak mau menikah lagi setelah pernikahannya berakhir karena perceraian atau karena ditinggal mati oleh suami/istri. Bolehkah ini? Ketidakmampuan ekonomi adalah alasan hukum yang dapat dipakai untuk melajang. Seorang ulama bernama al-Qurthuby pernah berpendapat: “Bila seorang laki-laki sadar tidak mampu membelanjai istrinya, maka tidak boleh kawin sebelum berterus terang menjelaskan keadaannya, atau sampai ia dapat memenuhi hak-hak istrinya.” Alasan yang lain adalah ketidakmampuan seksual. Seseorang yang tak dapat melakukan aktivitas seksual secara normal dan khawatir merugikan pasangannya adalah contoh orang yang memiliki alasan untuk tidak menikah.

Orang-orang yang memutuskan menikah dijanjikan kebahagiaan. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Tuhan: agar jiwamu TENTRAM hidup bersamanya dan dijadikan-Nya rasa kasih dan sayang di antara kalian (QS 30:21). Dalam psikologi, terdapat penelitian yang mengungkap tentang kebahagiaan orang yang menikah, menikah tapi tinggal di tempat terpisah, dan hidup melajang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang paling bahagia adalah orang yang menikah, diikuti orang yang menikah tapi tinggal di tempat terpisah. Kebahagiaan orang-orang yang melajang berada di bawah kebahagiaan orang-orang yang menikah (Djamaludin Ancok, 2007). Dari penelitian tampak jelas bahwa salah satu hal yang diperoleh oleh orang yang menikah adalah kebahagiaan.

Hidup Melajang

Dalam kehidupan sehari-hari kita menyaksikan orang-orang yang hidup melajang. Seorang kawan akrab saya yang seusia dengan saya dan tinggal di Pontianak selalu menyampaikan alasan untuk ingin menikah, tapi tidak ketemu jodoh. Saya tidak yakin ia belum ketemu jodoh. Ia hanya tak bersemangat bahkan tak punya niat untuk menikah. Sebagian yang lain memang memutuskan untuk tidak menikah karena keasyikannya menikmati kebebasan.

Seorang wanita Indonesia yang tinggal di Jepang, Rani (bukan nama yang sebenarnya), memilih untuk  melajang dengan alasan akan memperoleh kesempatan untuk belajar dan berkarya secara optimal, meraih cita-cita setinggi mungkin dan bebas melakukan apa saja yang disuka tanpa memperoleh komentar dari orang lain, dan dapat pergi ke mana saja (Kompas Cyber Media, 2005).

Orang-orang yang memilih melajang seperti wanita Indonesia yang tinggal di Jepang di atas mengembangkan kebiasaan untuk mandiri. Ia melakukan berbagai tugas sendiri, memutuskan sendiri, dan bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri pula. Kemampuannya melakukan berbagai hal sendiri menjadikannya sangat percaya diri, bahkan over confidence (kepercayaan diri yang berlebihan). Karena kepercayaan dirinya yang tinggi ia bertahan dengan keyakinan-keyakinan yang dimilikiya. Kebiasaannya untuk mandiri dan tidak menjadikan pertimbangan orang lain dalam pengambilan keputusan, menjadikannya kadang besar kepala.

Saya menemukan sejumlah kasus di mana seorang wanita dan pria melajang yang begitu mandiri akhirnya keras kepala. Suatu saat saya dan teman saya memberi masukan kepada seseorang yang berusia 50-an tahun dan hidup melajang berkaitan dengan pekerjaannya. Ia dengan enteng berkata: “Saya tahu apa yang terbaik untuk saya. Anda tidak perlu mendikte saya.”

Saya percaya bila seseorang memilih untuk menikah, maka ia akan belajar lebih intens tentang kerjasama, toleransi, berbagi kesedihan dan kebahagiaan. Suatu lembaga yang dapat memberikan penerimaan orang lain secara total, kerjasama secara total, berbagi secara total, memberikan toleransi yang memotivasi, dan sejenisnya adalah pernikahan. Tidak ada lembaga lain yang mampu menandingi totalitas pernikahan dalam membentuk kelembutan hati seseorang. Semua hal di atas akan berujung pada kebahagiaan.

Itu baru kebahagiaan di dunia. Agama menjanjikan kebahagiaan di akhirat untuk orang-orang yang menikah dan tidak melajang. Sebuah hadis Nabi Muhammad berujar: “ Jika perempuan mengerjakan shalatnya yang lima, puasa ramadhan, memelihara kehormatan, dan taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai’.” (HR Ahmad dan Thabrany).

Bagaimana pendapat Anda?

Penulis:

rahmi
Rachmy Diana
adalah dosen psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogya.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar

Artikel Lainnya

Peran Keluarga terhadap Keselamatan Anak Saat Terjadi Bencana

08 Sep 2013 Fuad Nashori

Anak-anak adalah bagian dari masyarakat yang paling rentan terhadap bencana (tsunami, gempa, banjir, longsor, penculikan,…

Alkohol dan Pengaruhnya

10 Sep 2013 pikirdong

Kebanyakan orang mengkonsumsi alkohol sebagai akibat tekanan sosial disekelilingnya, misalnya pada anak laki-laki dianggap sebagai…

Terapi Psiko-Spiritual: Mengantisipasi Stres Pasca-Gempa

05 Sep 2013 Ardiman Adami

Dialah Cesi Nurbandini. Umur tujuh tahun. Ibunya pengarit rumput, ayahnya kuli bangunan. Mereka tinggal di…

Ciri-ciri Keluarga Bahagia

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Keluarga yang diidealkan setiap manusia adalah keluarga yang memiliki ciri-ciri mental sehat demikian: sakinah (perasaan…

Mencapai Pribadi Yang Sukses

18 Oct 2013 pikirdong

Siapa kita ? Kita adalah makhluk ciptaan Allah (baca:manusia) yang terlahir ke dunia ini dalam keadaan…

Edisi Ibukota : Tas Tas Integritas!!

15 Sep 2013 Candrawati Wijaya

Salam Tarzan Kota! Sudah sampai manakah Tarzan-Tarzan kota menjelajah?? Harapan saya, kita tetap akan bertemu di…

Proses Pembentukan Keluarga

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Manusia ditakdirkan berpasang-pasangan sebagaimana segala sesuatu yang lain. Sang Pencipta pernah berfirman: Maha Suci Tuhan…

Tersenyumlah!

09 Sep 2013 Sayed Muhammad

Tertawa dan belajarlah, sebab kita semua membuat kesalahan (Weston Dunlap ) Abe adalah seorang anak dalam…

Tips Menghadapi Gempa Bumi

08 Sep 2013 Sayed Muhammad

Indonesia yang terletak di jalur gempa (ring of fire) semestinya pendidikan mengenai antisipasi dan menghadapi…

Fetishisme – Paraphilia

06 Sep 2013 pikirdong

Fetishisme menggambarkan bentuk penyimpangan seksual dimana individu dalam melakukan aktivitas seksual melibatkan barang-barang tertentu. Bila…

Menopause

09 Sep 2013 pikirdong

Menopause merupakan proses biologis yang alami terjadi pada wanita pada usia 40-60 tahun (pada umumnya…

Pemaafan: Penyembuhan Problem Psikologis Individu dan Bangsa

09 Sep 2013 Fuad Nashori

INTISARI Ada dua istilah yang mirip pengertiannya, yaitu pemaafan dan rekonsiliasi. Pemaaafan (forgiveness) adalah menghapus luka-luka…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

Muslim yang Ketakutan

Ada rasa takut, khawatir saat mau nge-share tulisan ulama yang dicap radikal. Takut dianggap pro HTI, pro FPI, ekstrim, radikal,…

30 May 2018 Khairrubi Kolom Ruby Kay No comments

Mendidik Anak dengan Sepenuh Hati

Mendidik atau mengasuh anak dengan sepenuh hati itu artinya mendidik anak dengan pendidikan Islam. Hanya dengan pendidikan Islam saja orangtua…

23 May 2018 Artikel Keluarga Psikologi Islami Irwan Nuryana Kurniawan Comments (1)

Biar Anak Rajin Ke Masjid

Saya dan istri saya ingin semua anak rajin ke masjid. Yang kami tahu adalah nanti yang mendapat naungan dari terik…

29 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Ketika Si Anak Memilih Jalannya Sendiri

Orangtua berupaya agar anaknya memilih jalan yang terbaik yang menjamin masa depannya. Tugas orangtua yang pertama tentu adalah mengarahkan. Dulu…

28 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Mendidik Anak Mandiri

Salah satu tugas orangtua adalah melatih anaknya menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang mandiri adalah pribadi yang memiliki inisiatif untuk…

27 Apr 2018 Artikel Keluarga Fuad Nashori No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014