DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic…

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa…

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Beberapa Jalan Menetaskan Ide-ide Kreatif Perspektif Psikologi Islami

Tulisan ini akan menunjukkan proses-proses terjadinya kreativitas dalam perspektif Psikologi Islami. Perspektif psikologi Islami mempercayai bahwa yang berperanan dalam menerima ilham atau ide-ide baru bukan hanya akal pikir manusia, tapi juga qalbu atau hati nurani manusia. Optimasi penggunaan akal pikir akan membuahkan dilahirkannya atau ditetaskannya ide-ide kreatif. Hal ini sebagaimana banyak diungkapkan oleh pemikiran dan hasil-hasil penelitian psikologi moderen selama ini. Psikologi moderen belum banyak menyoroti berfungsinya kalbu atau hati nurani yang dapat membuahkan kreativitas. Sebagaimana diungkapkan Imam Ghazali (Nashori, 2002), pada dasarnya manusia dapat memperoleh nur atau cahaya (yang berisi pengetahuan, kebenaran, bimbingan, petunjuk, dsb.) dari Allah SWT, baik diminta maupun tidak diminta. Allah dapat begitu saja memasukkan pengetahuan, ide atau ilham ke qalbu manusia.

 

Sekalipun demikian, pilihan yang paling direkomendasikan adalah menggunakan akal pikir dan membeningkan hati nurani secara optimal.

Berpikir Kreatif

sponsor1Kelahiran kreativitas dalam perspektif psikologi Barat selalu dikaitkan dengan penggunaan otak manusia. Bila seseorang menggunakan otak kanannya, maka ia akan banyak menghasilkan pemikiran dan karya-karya kreatif. Psikologi Islami juga mempercayai bahwa salah satu cara untuk memperoleh ide kreatif adalah dengan memberikan stimulus-stimulus yang menjadikan akal manusia berfungsi penuh. Penggunaan akal pikir secara optimal akan mengantarkan orang kepada tahap inkubasi atau tahap pengeraman. Dalam situasi seperti ini orang seakan berada dalam situasi di mana tidak ada jalan lain. Di hadapannya hanya ada jalan buntu. Bila seseorang beristirahat berpikir, maka pikirannya akan bekerja, yang pada intinya adalah mencari keterkaitan antar berbagai informasi hingga akhirnya muncullah ide-ide kreatif.

Cara memperoleh ide kreatif adalah melakukan usaha kongkrit berpikir kreatif Usaha menetaskan ide-ide kreatif dapat dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik yang diperkenalkan Albert Einstein, Leonardo da Vinci, atau juga cara berpikir Edward de Bono. Tulisan ini akan mengungkap salah satu teknik berpikir kreatif sebagaimana dijelaskan Munandar (1997) berdasar teori Guilford. Munandar menyebutkan empat unsur berpikir kreatif, yang meliputi unsur-unsur kelancaran, fleksibilitas atau kelenturan, orisinalitas dan elaborasi.

Pertama, kelancaran . Kegiatan yang berupaya mengembangkan kelancaran berpikir kreatif mendorong seseorang untuk memikirkan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu persoalan atau masalah. Misalnya, ada problem bagaimana mencari uang dengan barang bekas. Kata kuncinya, menurut Utami Munandar (1997) adalah banyak. Kemungkinan jawaban adalah menjadikan kaleng penyemprot nyamuk sebagai mainan anak, menjadikan kayu bekas rumah sebagai mobil-mobilan, menjadikan jam dinding bekas sebagai mainan yang bisa diputar-putar, mengecat kembali barang jam dinding yang penuh goresan menjadi seperti semula, menjual barang bekas seperti sepeda, menukar ban sepeda dengan jam tangan, dans seterusnya.

Proses kelancaran ini dapat juga dilakukan dalam suatu kelompok. Dalam suatu pertemuan, bisa dilakukan kegiatan sumbang saran ( brainstorming ). Dalam kenyataan sehari-hari, agar memperoleh jawaban yang paling meyakinkan, seseorang dapat minta pendapat atau saran dari berbagai orang secara sendiri-sendiri.

Kedua, fleksibilitas (kelenturan atau keluwesan). Pada tahap ini ada usaha untuk menggolong-golongkan gagasan yang muncul ke dalam kategori-kategori tertentu. Sebagai contoh, jawaban-jawaban tentang cara memanfaatkan barang bekas dapat digolongkan sebagai berikut: (a) barang bekas dijual, yaitu barang bekas yang kini dimiliki dijual, membeli barang bekas untuk dijual lagi, (a) barang bekas didaur ulang, yaitu mengecat kembali barang bekas atau menjadikannya sebagai mainan anak, dan seterusnya.

Ketiga, orisinalitas atau keaslian . Cara yang dapat dilakukan untuk memperoleh hasil berpikir yang orisinal adalah dengan menemukan ide-ide yang tidak biasa, ide yang tidak lazim diberikan. Berdasarkan pengalaman, ide-ide yang orisinl biasanya bukanlah ide yang pertama-tama diberikan. Biasanya ide-ide yang mula-mula muncul adalah ide yang lazim, yang diberikan oleh kebanyakan orang. Oleh karena itu penting untuk memberikan waktu yang cukup untuk memikirkan gagasan-gagasan. Sebagai contoh, setelah ditemukan berbagai macam cara memanfaatkan barang bekas, akhirnya ditemukan cara yang tidak lazim atau cukup orisinal, misalnya membuka konsultasi penggunaan barang bekas.

Keempat, elaborasi . Elaborasi adalah mengembangkan suatu ide, merinci, melengkapi dan menambahkan detail-detail terhadap ide sehingga dapat dilaksanakan dan dikerjakan. Sebagai contoh, seseorang memutuskan untuk menggabungkan beberapa botol penyemprot nyamuk menjadi jembatan, maka ia perlu membuat uraian tentang bahan-bahan yang dibutuhkan dan cara membuatnya.

Keempat aspek atau langkah dari berpikir kreatif menumbuhkan kesadaran akan strategi menghadapi masalah . Dengan meningkatnya kemampuan seseorang dalam keempat proses tersebut, masalah-masalah dapat dihadapi dan diselesaikan secara lebih kreatif. Langkah di atas akan dapat berlangsung lebih optimal, bila kondisi pribadi dan lingkungan menopang aspek-aspek berpikir kreatif di atas.

Berusaha Mendapat Ilham Dari Allah

Sumber pengetahuan adalah Allah Azza wa jalla . Dengan demikian, sumber kreativitas adalah Allah. Kalau seseorang mengharapkan kreativitas itu menyatu dalam dirinya dan dalam langkah hidupnya, maka salah satu yang diharapkan adalah ilham dari Allah. Ilham dari Allah akan menjadikan seseorang kaya dengan berbagai macam pengetahuan, yang pengetahuan itu diperoleh-Nya langsung dari Allah Azza wa jalla . Satu hal yang selalu perlu diingat adalah bahwa hadirnya ide-ide atau ilham ke dalam diri seseorang merupakan karunia Allah. Ia merupakan kewenangan sepenuhnya dari Allah apakah menggunakannya atau tidak menggunakannya.

Ilham sendiri dapat diartikan sebagai sejenis pengetahuan yang dikaruniakan oleh Allah kepada seseorang dan dipaterikan pada hati atau kalbunya, sehingga tersingkap olehnya sebagian rahasia dan tampak jelas olehnya sebagian realitas (Najati, 2001). Dalam tradisi Islam seseorang yang banyak mendapat ilham disebut memiliki ilmu laduni, yaitu ilmu yang diperoleh melalui ilham.

Lahirnya ilham ditunjang oleh beningnya hati. Orang yang bening kalbunya adalah orang yang tidak memiliki tabir atau penghalang terhadap Allah. Saat Allah berkenan melimpahkan pengetahuan-Nya, ia siap menyambutnya. Dalam keadaan hati bening seperti ini ia banyak menerima ilham dari Allah. Sebaliknya, kalau hati seseorang kotor, penuh dengan bintik hitam atau penuh dengan kerak kotoran, maka ia adalah orang yang memasang tabir atau penghalang antara dirinya dengan Allah. Saat Allah berkenan menyampaikan pengetahuan-Nya melalui ilham kepada yang bersangkutan, ia melakukan penolakan. Ia akan menjadi miskin ilham.

Orang-orang yang dekat dengan Allah, memiliki kebeningan kalbu dan akhirnya mendapat ilham dari Allah berasal dari berbagai kalangan. Mereka bisa berasal dari kalangan khusus seperti Nabi dan Rasul dan dapat dari kalangan manusia umumnya. Salah seorang dari kalangan utusan Allah yang sering menerima ilham adalah Nabi Sulaiman. Suatu saat Sulaiman dan ayahnya, Dawud, mengadili perkara dua orang laki-laki. Orang pertama adalah pemilik ladang. Orang kedua pemilik ternak. Pemilik ladang melaporkan bahwa orang kedua telah menggembalakan ternaknya dalam ladangnya sehingga membuat ladang itu rusak. Dawud dan Sulaiman tidak memiliki pengetahuan atau gagasan untuk memecahkan persoalan tersebut. Melalui ilham-Nya, Allah memberikan pengetahuan atau gagasan kepada Sulaiman, suatu ide yang sebelumnya tidak dimiliki Sulaiman. Ilham Allah kepada Sulaiman adalah suatu cara yang menenangkan pemilik ladang. Si pemilik ladang diberi hak untuk memanfaatkan susu, anak, dan bulu ternak itu sampai ladang itu menjadi baik kembali. Hal di atas juga tidak merugikan orang yang kedua. Ternak akan dikembalikan kepada pemilik ternak setelah ladang itu baik dan tumbuh kembali tanaman-tanamannya. Melalui ilham, sebagaimana diceritakan dalam Al-Qur’an Surat Al-Anbiya’ (21) ayat 78-79, akhirnya Dawud dan Sulaiman dapat memecahkan persoalan secara kreatif.  Dari kalangan manusia biasa, salah seorang yang selalu mendapatkan ilham adalah Umar bin Khattab. Ilham datang ke sanubari Umar dikarenakan ia adalah seseorang yang bening hatinya. Sebelum masuk Islam, Umar dikenal tegas, keras, dan jujur. Sifat-sifat di atas menjadikan Umar cukup responsif terhadap kehadiran Islam. Allah Azza wa jalla berkenan memberinya ilham lewat hatinya yang bening.

Salah satu peristiwa yang menunjukkan kebeningan hati Umar dan menghadirkan kreativitas adalah saat Umar berkhotbah Jum’at. Umumnya khotib menyampaikan pesan-pesan yang bersifat spiritual kepada jamaah Jum’at. Di tengah khotbahnya, tiba-tiba Umar mengucapkan suatu ungkapan komando: “Mundur dan naik ke bukit.” Suatu ungkapan yang seakan ditujukan kepada sebuah pasukan perang. Para jamaah Jum’at di Masjid Nabawi terhenyak. Di belakang hari diketahui bahwa Umar memang tengah memberi komando kepada pasukan Muslim yang tengah berperang menghadapi tentara Romawi di Negeri Syam. Suara Umar menggema di medan peperangan itu. Pasukan Muslim tahu bahwa itu adalah suara khalifah Umar dan mereka menaatinya. Sebagaimana tercatat dalam sejarah, pasukan Muslim berhasil memukul mundur dan mengalahkan pasukan Romawi.

Seseorang akhirnya memiliki tabir atau penghalang kepada Allah karena ia menentang hukum-hukum Allah ( sunnatullah ). Dikatakan oleh ahli tafsir Ibnu Katsir, orang yang banyak berdosa akan menjadi orang yang hatinya dipenuhi bintik-bintik hitam. Setiap kali perbuatan dosa dilakukan, satu bintik hitam menempel pada hati sanubari seseorang. Bila dosa itu berlipat-lipat, maka hatinya akan dipenuhi oleh bintik hitam. Bila bintik hitam itu tidak mengalami proses pembersihan, maka bintik hitam akan mengeras dan menjadi kerak. Hati nurani yang bening memang tidak mati, tapi ia telah ditutupi kerak-kerak yang mungkin sangat keras.

Seseorang juga dapat disebut tidak menaati hukum Allah ( sunnatullah ) bila ia tidak menggunakan karunia Allah padahal Allah mewajibkan untuk mempergunakannya. Allah memberikan kepada setiap manusia potensi atau kemampuan berpikir. Allah mewajibkan manusia berpikir. Kalau manusia mau menaati Allah dengan mempergunakan potensi berpikirnya, maka Allah akan menjadikan yang bersangkutan sebagai orang yang berpengetahuan. Ia akhirnya dapat menjadi pribadi yang kreatif. Sebaliknya, bila seseorang mengabaikan potensi berpikirnya, maka kemampuan berpikirnya tidak terasah, dan akhirnya menjadi tumpul. Orang demikian suka dengan taqlid, yaitu mengikuti sesuatu tanpa pengertian. Mereka akan menjadi pribadi yang tidak kreatif.

Hati menjadi bening dapat dicapai dengan upaya-upaya khusus. Penulis menyebutnya sebagai upaya yang bersifat vertikal dan upaya yang bersifat horisontal. Upaya yang bersifat vertikal dilakukan dengan perbuatan baik kepada Allah, baik yang berisi penghapusan yang buruk dan penambahan yang baik. Penghapusan sesuatu yang buruk dilakukan dengan istighfar dan pertaubatan. Penambahan yang baik dilakukan dengan memperbanyak doa, dzikir, shalat sunnat di samping shalat wajib, membaca kitab suci, dan seterusnya.

Upaya yang bersifat horisontal dapat dilakukan dengan perbuatan baik terhadap sesama makhluk, terutama manusia. Upaya ini juga dilakukan dengan dua arah perbuatan, yaitu menghapus yang buruk dan menambahkan yang baik. Menghapus yang buruk dilakukan dengan permohonan maaf atau permohonan ampunan. Penambahan kebaikan dilakukan dengan bertindak sebaik-baiknya, sebenar-benarnya, seadil-adilnya terhadap sesama.

Apabila upaya-upaya di atas telah dilakukan, maka hati akan menjadi bening. Bila hati bening, maka seakan-akan tidak ada pembatas antara Allah dengan manusia. Dalam sebuah hadis Qudsi Allah Azza wa Jalla bertutur: “Aku-lah yang menjadi … akal yang dengannya ia berpikir. ” Bila seseorang sudah berusaha memperoleh ilham atau ide, maka hal yang patut diingat bahwa boleh jadi Allah tidak berkenan memberikan ilham kepadanya pada saat itu di situ. Allah insya Allah akan tetap memenuhinya di akhirat nanti. Oleh karena salah satu sikap yang patut kita kembangkan di samping berusaha dengan usaha spiritual (berdoa, berdzikir) adalah bertawakkal kepada Allah (berserah diri kepada Allah).

Agar hati yang bening dapat dicapai, maka disarankan untuk memperbanyak doa. Berbagai riset mutakhir menunjukkan bahwa doa-doa menghadirkan pengaruh bagi kehidupan manusia, baik doa yang dialamatkan pada diri sendiri maupun doa yang diarahkan kepada orang lain (Subandi & Hasanat, 2000). Doa agar orang lain dapat menjadi pribadi yang berkembang kemampuan berpikirnya pernah disampaikan Muhammad SAW kepada Abdullah ibnu Abbas.

Doa juga bisa diarahkan kepada diri sendiri. Lebih dari pengaruh auto-sugesti, doa juga memiliki peranan untuk menjolok turun karunia yang disediakan Allah pada manusia. Bila doa itu dilakukan lebih intensif, maka itu berarti usaha menjolok turun karunia tersebut juga semakin keras. Karenanya kerasnya doa insya Allah akan berbuah turunnya karunia. Salah satu bentuk karunia adalah kuatnya cahaya kefahaman dalam diri manusia. Manusia yang memiliki cahaya kefahaman cepat memperoleh pengetahuan dan pemahaman atas segala sesuatu. Salah satu contoh doa untuk diri sendiri adalah doa sebagai berikut:

Ya, Allah, keluarkanlah diriku dari pemahaman yang gelap; dan muliakanlah diriku dengan cahaya kefahaman; dan bukalah atas diriku tentang cara mengetahui ilmu; dan indahkanlah tingkah laku diriku dengan kesopanan; dan mudahkanlah bagi diriku menuju pintu-pintu keutamaan-Mu; dan hamparkanlah untukku perbendaharaan-perbendaharaan rahmat-Mu, wahai Dzat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang dari para pemberi kasih sayang.  Ya, Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kecepatan pemahaman para Nabi, kefasihan hafalan para Rasul, kecepatan ilham para malaikat al-Muqarrabin, dan muliakanlah aku dengan rahmat-Mu. Wahai Dzat yang memberi kasih sayang dari para pemberi kasih sayang. Dan puji-pujian milik Allah Tuhan Penguasa Seluruh Alam.

Berpikir Sambil Berusaha Mendapat Ilham Dari Allah

Ketika seseorang memikirkan problem dalam masa lama dan tidak mendapatkan jalan pemecahannya, biasanya ia meninggalkan problem tersebut untuk beberapa lama. Ini untuk mengistirahatkan benaknya. Nantinya ia akan kembali lagi menggeluti problem tersebut. Pada fase ini, yang oleh para ahli psikologi disebut sebagai fase inkubasi, terjadi berbagai perubahan penting dalam proses berpikir.

Pertama , pikiran terlepas dari sebagian penghambat yang menghalanginya. Kedua , benak terbebaskan dari kegagalan yang menimpanya dan yang menghadangnya, sehingga tidak bisa melanjutkan pemikirannya. Apabila ia kembali lagi setelah beristirahat untuk menggeluti problem tersebut, pikirannya menjadi lebih jernih dan segar. Ketiga , terjadi semacam pengorganisasian informasi yang membuat jelasnya hubungan-hubungan yang sebelumnya tidak tampak, dan timbulnya pikiran-pikiran baru yang mengantarkan pada jalan pemecahan problem. Menurut ahli psikologi, ketika itu terjadi semacam pemikiran tidak sadar akan problem tersebut dan tampaknya sebagian kegiatan intelektual tetap berlangsung ke suatu arah tertentu (Najati, 2001).

Dalam perspektif Islam, Allahlah yang mengendalikan sesuatu yang ada di alam semesta dan merencanakan segala urusannya. Termasuk yang ada dalam pikiran manusia. Dengan kehendak-Nya kadang Dia mengarahkan proses berpikir ke arah yang membuat mereka bisa menemukan sebagian realitas yang hendak Allah ilhamkan kepada mereka. Realitas-realitas itu tampak jelas bagi mereka, seakan-akan tiba-tiba dalam akal budi mereka terjadi ilumninasi atau pencerahan.

Salah satu contoh adalah apa yang terjadi pada Ibnu Sina. Ibnu Sina dikenal sangat kreatif. Beliau banyak memberikan saham terhadap dunia ilmu pengetahuan melalui penemuan-penemuan barunya yang kreatif, baik di bidang filsafat, geologi, kimia, kosmologi, sastra, politik, dan bahkan dalam bidang psikologi pernah menulis kitab an-Najat tentang kebahagiaan jiwa. Keahliannya dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang jarang tertandingi ini ternyata tidak membuatnya lalai sebagai seorang Muslim yang religius. Tentang hal ini, ia sendiri pernah mengungkapkan: “Setiap aku menyangsikan suatu persoalan dan tidak mendapatkan batas pengertian yang benar aku senantiasa ke masjid melakukan shalat, memohon kepada Tuhan hingga terbuka bagiku pemecahannya dengan mudah. Aku pulang ke rumah dan meletakkan lampu di hadapanku lalu terus membaca dan mengarang. Bila rasa kantuk mendesak atau badanku merasa sangat letih aku lalu minum secangkir minuman hingga timbul kembali kesegaranku, dan aku teruskan membaca lagi. Tetapi jika kantuk tidak tertahankan aku lalu tidur. Biasanya aku bermimpi tentang soal-soal yang belum selesai dalam pikiranku. Di dalam mimpi itu kebanyakan persoalan-persoalan menjadi terang masalahnya.” (Arsyad, 1992).

Ilmuwan lain yang penulis kenal yang suka mendapatkan ide-idenya lewat pemikiran dan kemudian beribadah kepada Allah adalah salah seorang pakar psikologi Islami Hanna Djumhana Bastaman. Kepada kami, penulis buku Integrasi Psikologi dengan Islam dan buku Meraih Hidup Bermakna ini mengungkapkan bahwa bila ia telah memikirkan suatu gagasan dan tidak terbuka jalan untuk menyelesaikannya, ia akan berdzikir. Di rumahnya, Bastaman (1995) memiliki sebuah tempat khusus untuk berdzikir. Di sanalah ia menemukan sebuah istilah untuk suatu pemikirannya yang khas, yang sejauh ini dikenal sebagai antropo-religiosus-sentris .  Berpikir dan selanjutnya berusaha mendapatkan ilham atau ide dari Allah. Itulah jalan yang paling dianjurkan dikarenakan paling cocok dengan sunnatullah. Sebagaimana diketahui, dua hal (yakni berpikir dan berusaha) adalah dua hal yang diperintahkan Allah.

Berusaha Mendapat Ilham Lewat Mimpi

Allah juga mengirimkan ilhamnya kepada manusia lewat mimpi. Tidak semua mimpi dapat menjadi ilham. Hanya mimpi yang berkualitas yang berisi ilham.

Pada dasarnya ketika seseorang tidur, jiwa seseorang berada dalam genggaman Allah. Dalam sebuah kisah diceritakan dialog Umar bin Khattab radhiyallahu anhu dan Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhahu . Umar berkata: “Ada orang bermimpi aneh sekali. Ia mimpi melihat sesuatu yang tidak terbayangkan olehnya dan mimpinya begitu jelas. Kemudian ia mimpi lagi namun ia tidak melihat apa-apa.” Ujar Ali: “Bisakah ini kuuraikan, wahai Amirul Mukminin? Allah berfirman: ‘Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai batas waktu yang ditentukan.’ Jadi, Allahlah yang mematikan jiwa seluruhnya. Dan apa yang terlihat dalam mimpi, sementara jiwa berada di sisi Allah di langit, ia adalah mimpi yang benar. Sedangkan apa yang terlihat dalam mimpi, sementara jiwa telah dikembalikan ke tubuh, ia adalah mimpi yang tidak benar.”

Bila jiwa seseorang bersih dan Allah berkenan memberikan pengetahuan dan sebagian rahasia ini kepadanya, maka ia akan mendapatkan ilham melalui mimpinya itu. Sebaliknya, bila jiwa seseorang kotor, sementara Allah sesungguhnya berkenan menyampaikan pengetahuannya kepadanya, maka jiwa orang tersebut melakukan penolakan atas pengetahuan atau rahasia dari Allah. Orang ini tidak bisa mendapatkan mimpi yang benar yang di dalamnya berisi ilham. Kalaupun ia bermimpi, lebih banyak mimpinya itu dipengaruhi oleh kondisi tubuh dan jiwanya yang diselimuti oleh kegelisahan. Diungkapkan oleh Ibnu Sina, mimpi yang benar terjadi karena adanya kontak antara jiwa manusia dengan dunia malakut atau malaikat di waktu seseorang tidur. Dari mimpi tersebut diterima wahyu atau ilham. Sedangkan mimpi yang buruk timbul dari pengaruh perasaan-perasaan fisik.

Orang yang hatinya bening memiliki kemampuan untuk memahami pesan-pesan dari mimpi yang benar. Melalui mimpi seorang raja, Nabi Yusuf mengetahui apa yang bakal terjadi di negerinya dengan cara menafsirkan mimpi sang raja. Dalam Al-Qur’an Surat Yusuf (12) ayat 46-49 diungkapkan:

“Yusuf, hai orang yang dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh (bulir) gandum yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar kami kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.” Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh ahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur.”

Mimpi yang benar dan bermutu dapat diperoleh dengan membersihkan hati dan melakukan persiapan mimpi yang bermutu. Persiapan mimpi yang bermutu antara lain dilakukan dengan cara menyadari sepenuhnya bahwa ketika tidur, jiwanya digenggam Allah. Ia berdoa sebelum tidur untuk menyerahkan hidup dan matinya kepada Allah. Menjelang tidurnya, ia perlu membasahi tidurnya dengan kalimat-kalimat Allah. Insya Allah mimpi yang baik akan menjadi milik kita. Dari sana kita boleh berharap akan mendapatkan mimpi-mimpi yang bermuatan ilham.

Kiranya demikian. Bagaimana pendapat Anda?

Daftar Pustaka

Al-Buthy, M.S.R. 1991. Sirah Nabawiyah: Analisis Ilmiah Manhajiah terhadap Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah SAW . Terjemahan Aunur Rafiq Saleh. Jakarta: Robbani Press.

Al-Buthy, M.S.R. 1995. Sirah Nabawiyah & Sejarah Singkat Khilafah Rasyidah . Terjemahan Aunur Rafiq Saleh. Jakarta: Robbani Press.

Adz-Dzaky, M.H.B. 2001. Psikoterapi dan Konseling Islam . Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.

Ancok, D. & Suroso, F.N. 1994. Psikologi Islami: Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi . Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Arsyad, M.N. 1992. Ilmuwan Muslim Sepanjang Sejarah: Dari Jabir hingga Abdus Salam . Bandung: Penerbit Mizan.

Bakar, O. 1995. Tauhid dan Sains . Terjemahan Yuliani Liputo. Bandung: Pustaka Hidayah.

Departeman Agama. 1989. Al-Qur’an dan Terjemahannya . Surabaya: CV Jaya Sakti.

DePorter, B. & Hernacki, M. 1999. Quantum Business: Membiasakan Berbisnis Secara Etis dan Sehat . Bandung: Penerbit Kaifa.

Diana, R. 1999. Hubungan Religiusitas dan Kreativitas Siswa SMU. Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi PSIKOLOGIKA, No. 6, Tahun IV, 1999.

Eisner, E.W. 1976. Research in Creativity. Dalam Trow et al (eds.), Psychological Foundationss of Educational Technology . New Jersey: Englewood Cliffs.

Fromm, E. 1988. Psikoanalisis dan Agama . Terjemahan H.M. Asy’ari & Syarifuddin Syukur. Jakarta: CV. Atisa.

Guilford, J.P. 1982. Traits of Creativity . Dalam P, Vernon (ed.), Creativity. England: Penguin Education.

Harrington, D.M., Block, J., Block, J.H. 1983. Predicting Creativity in Pra-adolescence from Divergent Thinking in Earley Childhood. Journal of Personality and Social Psychology , 45, 609-623.

Hayes, J.R. 1978. Cognitive Psychology: Thinking and Creating . Homewood, Illinois: Dorsey Press.

Herati, T. 1985. Usaha Penelusuran Proses Kreatif . Dalam Pamusuk Eneste (Ed.). Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang. Jakarta: PT Gunung Agung.

Land, G. 1992. Break-Point and Beyond . New York: Business Book.

Mangunhardjana, A.M. 1990. Mengembangkan Kreativitas . Disadur dari David Campbell, Creativity and Get off Your Dead End. Yogyakarta: Kanisius.

Mujib, A. & Mudzakir, J. 2001. Nuansa-nuansa Psikologi Islam . Jakarta: Rajawali Press.

Munandar, S.C.U. 1977. Creativity and Education: A Study of the Relationships Between Measures of Creative Thinking and a Number of Educational Variables in Indonesian Primary and Junior Secondary Schools. Dissertation . Jakarta: Indonesian University.

——. 1985. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah . Jakarta: PT Gramedia.

——. 1997. Mengembangkan Inisiatif dan Kreativitas Anak. Dalam Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi PSIKOLOGIKA , No. 2, Vol. II, hal. 31-41.

——. 1999. Kreativitas dan Keberbakatan: Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif dan Bakat . Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Najati, M.U. 2001. Al-Qur’an dan Psikologi . Jakarta: Penerbit Aras Pustaka

Nashori, F. 1994. “Begitu Masuk SD, Kreativitas Anak Turun,” dalam Harian  Surabaya Post , 10 Juli 1994, Surabaya.

——. 1998. Mengatasi Kemandegan Kreativitas. Dalam Majalah Warta Kampus , Juni 1998.

——. 1999. Optimasi Kreativitas Melalui Religiusitas. Majalah Trend Perilaku Islami LOGIS , Nomor 1, Tahun I, hal. 40-46.

——-. 2002. Beberapa Jalan Menetaskan Ide-ide Kreatif. Makalah . Dipresentasikan dalam kegiatan Seminar Nasional Psikologi Islami, Program Studi psikologi UNDIP, Semarang, Maret 2002.

Partadiredja, A. 1997. Al-Qur’an, Mu’jizat, Karomat, Maunat dan Hukum Evolusi Spiritual . Yogyakarta: PT Dana Bhakti Prima Yasa.

Rais, M.A. 1998. Tauhid Sosial: Formula Menggempur Kesenjangan . Bandung: Mizan.

Roberts, C.R. 1982. Toward a Theory of Creativity. Dalam P.E. Vernon (Ed.),  Creativity . England: Penguin Education.

——. 1975. Toward a Theory of Creativity. Dalam Roberts, T.B. (Ed.), Four Psychologies Applied to Education: Freudian, Behavioral, Humanistic, Transpersonal . New York: Wiley and Sons.

Semiawan, C. 1982. Beberapa Dimensi Kurikulum Anak Berbakat. Dalam Utami Munandar (ed). Bunga Rampai Anak Berbakat: Pembinaan dan Pengembangan . Jakarta: Rajawali Press.

Semiawan, C., Munandar, A.S., Munandar, S.C.U. 1984. Memupuk Bakat dan Kreativitas Siswa Sekolah Menengah . Jakarta: PT Gramedia

Soemardjan, S. 1983. Kreativitas dalam Sejarah. Dalam S.T. Alisyahbana (Ed.),  Kreativitas . Jakarta: Dian Rakyat.

Sprinthall, R.C. & Sprinthall, N.A. 1974. Educational Psychology: Developmental Approach . Manila: Addison-Wiley Publishing Co.

Subandi. 1997. Tema-tema Pengalaman Beragama Pengamal Dzikir. Dalam Jurnal  Pemikiran dan Penelitian Psikologi PSIKOLOGIKA, Nomor 3 Volume II, 7-18.

Subandi & Hasanah, N.U. 2000. Pengembangan Model Pelayanan Ruhani bagi Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Umum. Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi PSIKOLOGIKA , Nomor 10, Tahun V, hal. 5-16.

Usman, M. Ali, Dahlan, H.A.A., & Dahlan, M.D. 1984. Hadis Qudsi . Bandung: CV Diponegoro.

Wallach, M.A. & Kogan, N. 1970. A New Look at The Creativity – Intelligence Distinction . Victoria: Pinguin Book Ltd.

Zohar, D. & Marshall, I. 2001. SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan . Bandung: Penerbit Mizan

Penulis

Penulis:

fuad
Fuad Nashori  adalah salah seorang pelopor dan ahli di bidang Psikologi Islami, sehari-hari beliau menjabat sebagai Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, (UII) Yogyakarta. Fuad Nashori adalah penulis tetap untuk rubrik Psikologi Islami di website ini

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Episode Depresi

06 Sep 2013 pikirdong

Episode depresi digolongkan pada rentang waktu kemunculan depresi yang relatif singkat, pada umumnya penderita episode…

General Anxiety Disorder (GAD)

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kecemasan umum (general anxiety disorder; GAD) merupakan bentuk gangguan kecemasan dimana individu secara terus-menerus…

Wanita Lebih Mudah Stres?

10 Sep 2013 Sayed Muhammad

Menurut Georgia Witkin dalam bukunya The Female Stress Syndrome (1991), wanita memiliki penyebab stres yang…

Menjadi Survivor yang Baik

09 Dec 2008 Fuad Nashori

Survivor adalah orang yang terluput dari bencana, orang yang selamat. Dalam tulisan ini, digunakan istilah…

Dependent Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian dependen (Dependent Personality Disorder; DPD) adalah suatu kondisi karakteristik dimana individu sangat tergantung…

Mencapai Puncak Prestasi dengan Meningkatkan Kualitas Tidur dan…

09 Sep 2013 Fuad Nashori

Dalam sejarah peradaban Islam dan peradaban Barat ada orang yang sangat brilian. Mereka adalah Ibnu…

Post Partum Blues

07 Sep 2013 pikirdong

Post Partum Blues merupakan problem psikis sesudah melahirkan seperti kemunculan kecemasan, labilitas perasaan dan depresi…

Obsessive Compulsive Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif (Obsessive Compulsive Personality Disorder; OCPD) adalah suatu kondisi karakter dengan gangguan kronis…

Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT)

09 Sep 2013 pikirdong

Perkawinan bukanlah suatu pengikat yang memberikan kebebasan untuk saling menyakiti pasangan hidupnya. Hidup merupakan kebebasan…

Putus atau Mempertahankan Cintanya?

09 Sep 2013 pikirdong

Punya pacar berarti kamu harus siap-siap untuk memikirkan hal-hal kedepan menyangkut hubungan kalian berdua. Banyak…

Parafilia Yang Tidak Terdefinisi

06 Sep 2013 pikirdong

Ada banyak jenis paraphilia yang disebut-sebut dalam pelbagai referensi, namun APA (American Psychiatric Association)  tidak…

Bila Anda Mendapat Tawaran Pemotretan Sensual?

08 Sep 2013 Sayed Muhammad

Gadis-gadis Indonesia bugil mulai bermunculan di internet sekitar tahun 1997. Gambar sensual tersebut bermunculan tidak…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders yang ke V terjadi perubahan…

30 Aug 2017 Artikel Psikologi Psikologi Klinis pikirdong No comments

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa tubuh membutuhkan dokter dan bila diperlukan juga, diambil langkah untuk rawat…

24 Aug 2017 Kolom Sayed Muhammad Sayed Muhammad No comments

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014