Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

Reformasi Sistem Pendidikan Finlandia Menjadikan Mereka yang Terbaik di Dunia

Reformasi besar-besaran dalam dunia pendidikan di Finlandia telah dimulai…

Perlu Tidak Ulang Tahun Anak Dirayakan?

Anak mulai mengerti kebiasaan perayaan ulang tahun pada usia…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Berbagi Berbuah Nikmat

Pernah mendengar kisah ‘Sepotong Roti’ dari Ustadz Yusuf Mansur? Jika belum, ceritanya begini: Alkisah, ada seorang imam yang diberitahu oleh pembantunya bahwa mereka hanya memiliki sepotong roti. Tentu saja roti tersebut tidak cukup untuk dibagi berdua. “Jadi, roti ini enaknya diapakan, Tuan?” tanya si pembantu. Saking laparnya, pembantu itu berharap tuannya mau merelakan roti itu untuk dimakannya sendiri.

Ternyata tidak. Sang imam malah menyuruh si pembantu untuk memberikan roti tersebut kepada tetangga mereka. Pikir imam, ada orang yang lebih membutuhkan. Wajah si pembantu tampak kecewa. Imam itu lalu menghiburnya, “Sudah tenang saja. Allah punya janji yang lain. Kalau kita berkenan membantu orang lain, Allah pun akan membantu kita.” Kata imam lagi, “Kalau roti ini kita bagi berdua, maka kita hanya kebagian sebelah-sebelah. Tidak kenyang. Kalau dimakan salah seorang dari kita, maka salah satu dari kita pasti ada yang tidak makan.”

Akhirnya, si pembantu pun keluar mencari tetangga yang kelaparan. Di saat imam sendirian di rumah, datanglah enam orang bertamu. Imam tahu bahwa dia tidak memiliki apa pun untuk disuguhkan pada enam tamunya tersebut. Tapi, ia tahu bahwa dirinya sudah bersedekah. Dan Allah akan membukakan pintu rezeki bagi siapa saja yang mau bersedekah. Begitu yang imam yakini.  Tidak berapa lama kemudian, setelah si pembantu kembali ke rumah, datang pula seorang tamu lagi. Ia tidak masuk ke dalam rumah. Ia hanya berdiri di depan pintu. “Imam, saya membawa hadiah roti buat Anda dan pembantu Anda,” katanya.  Imam lalu melihat hadiah roti itu. Cuma dua potong. Sang imam tersenyum. Mungkin tamu tersebut cuma tahu bahwa penghuni rumah itu hanya dua orang. “Maaf,” kata imam, “saya tidak bisa menerimanya. Roti ini salah alamat.”  “Tidak imam, tidak salah alamat. Memang roti ini untuk Anda dan pembantu Anda,” ujar si pembawa roti.  “Maaf, saya tidak bisa menerima. Sudah ya, saya ada tamu,” kata imam itu.  Si pembawa roti ini tentu saja bingung. Kenapa imam menolak? Rupanya, ia sempat melihat ke dalam rumah imam. Benar memang, di dalam ruangan sedang banyak tamu. “Oh, mungkin imam menolak sebab tamunya memang banyak. Kalau roti ini dia terima, tidak cukup untuk dibagikan dengan tamunya,” pikirnya.  Lalu orang itu kembali pulang. Ia menambahkan jumlah hadiah roti itu hingga genap sepuluh potong.

Di depan rumah imam, orang itu berkata, “Maaf, imam. Kali ini, pasti tidak salah alamat.”  Sang imam kembali memperhatikan isi baki tersebut. Ia melihat ada sepuluh potong roti. “Ya, sekarang tidak salah alamat,” ujarnya.  Imam pun menyuguhkan roti itu buat keenam tamunya. Ia juga memanggil pembantunya untuk ikut bersama-sama menikmati roti tersebut. Tidak lupa ia juga makan satu potong. “Lihatlah,” kata imam kepada pembantunya, “Sekarang engkau saksikan, kita malah punya sisa dua roti. Enam tamu kita kenyang, kamu kenyang, dan saya pun kenyang.”

Begitulah cara Allah untuk mengganti sepotong roti yang telah disedekahkan sang imam pada orang lain. Tidak tanggung-tanggung, satu potong roti berbalas sepuluh. Itu merupakan pengganti dari Allah bagi orang yang mau berbagi. Karena berbagi merupakan salah satu ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah kita peroleh. Tampaknya, demi melihat kekurangan dan kesulitan kita, langkah berbagi atau bersedekah menjadi layak untuk lebih diperhatikan.

Memahami Hakikat Berbagi

“Don’t ask what your country can do for you, ask what you can do for your country.” Kata-kata sakti John F. Kennedy ini tentu tidak asing. Tetapi dalam konteks ini, saya tidak sedang bicara politik. Saya cuma ingin menganalogikan ungkapan tersebut untuk memahami hakikat berbagi. Kata-kata itu bisa dibaca begini: “Jangan tanyakan apa yang bisa diberikan orang lain kepadamu, tapi tanyakanlah apa yang akan kau berikan kepada orang lain.”  Dalam hitungan manusia, satu dikurang satu sama dengan nol atau habis. Sayangnya, hitung-hitungan ini terbawa saat kita berbagi atau bersedekah. Bahwa kalau kita punya satu, kemudian yang satu itu kita sedekahkan pada orang lain, maka kita tidak akan memiliki apa-apa lagi. Logis memang.

Namun, tidak demikian dengan matematika sedekah. Allah punya hitungan lain. Dia yang Maha Pemurah akan membalas sepuluh kali lipat harta yang disedekahkan seseorang, sebagaimana Dia membalas kebaikan apa pun sepuluh kali lipat kebaikan dari-Nya. Tentunya harus didasari keimanan. Maha benar Allah dalam firman-Nya:  “Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dirugikan.” (QS. Al-An’aam [6]: 160)

Selain balasan tersebut, berbagi juga dapat membentuk kepribadian yang penuh empati terhadap penderitaan orang lain, sehingga menumbuhkan kepekaan sosial (social sensitivity). Seperti pada tayangan reality show ‘Toloong!!’ pada salah satu stasiun televisi swasta yang mampu membuat saya terharu. Namun, tidak semua pemberian itu berbuah nikmat. Hanya orang-orang yang memberi dengan hati yang ikhlas, tanpa mengharapkan nama harum, apalagi sanjungan yang dapat memetik kenikmatan dari perbuatannya. Rasulullah Saw bersabda: “Allah mengkhususkan pemberian kenikmatan-Nya kepada kaum-kaum tertentu untuk kemaslahatan umat manusia. Apabila mereka membelanjakannya (menggunakannya) untuk kepentingan manusia maka Allah akan melestarikannya. Namun bila tidak, maka Allah akan mencabut kenikmatan itu dan  menyerahkannya   kepada orang lain.” (HR. Athabrani dan Abu Dawud)

Berbagi Tak Harap Kembali

Berbagi memang perbuatan mulia. Agama manapun memberi tempat terhormat pada orang yang mau berbagi atau berderma. Begitu agung perilaku berderma sehingga Islam banyak memberi tuntunan dalam soal ini. “Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah,” begitu sabda Nabi Saw. Nafkahkanlah sebagian hartamu dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Dermawan itu dekat kepada Allah dan dekat dari surga, dan sebagainya. Perilaku dermawan dijadikan buah bibir. Namun, mengapa semangat berbagi pada umumnya belum terwujud dalam perilaku kita sehari-hari? Pertanyaan ini muncul dari kenyataan bahwa egoisme dan individualisme masih bahkan makin berkembang di tengah masyarakat.  Selalu berbuat baik tanpa pamrih memerlukan sikap mental yang bertolak belakang dengan kebiasaan orang zaman sekarang. Mungkin banyak di antara kita tergerak berbuat kebajikan karena alasan-alasan tertentu yang tujuannya untuk kepentingan diri juga. Kita mau memberikan sesuatu, asal kita juga mendapatkan sesuatu sebagai imbalan, entah itu dalam bentuk materi atau lainnya. Padahal, nilai tertinggi suatu amal ada pada keikhlasan. Sedikit saja ada niat meninggikan nama pribadi atau pamrih, maka pada saat itu sudah terjadi riya. Dan, semua orang mengerti, amal yang disertai riya menjadi berkurang bobotnya.

Secara psikologis, berbagi itu amalan yang menggembirakan. Bukan hanya menggembirakan yang diberi, melainkan juga yang memberi. Berbagi dapat memberi kepuasan pada diri sendiri. Ada perasaan bangga karena dapat berbuat baik pada orang lain. Perasaan seperti itu tentu saja sangat manusiawi, meskipun konsep ikhlas mengajarkan yang sebaliknya. Maka, kita mesti introspeksi dan mawas diri: apakah kita sungguh-sungguh ikhlas ketika berbagi?  Rentetan musibah yang susul-menyusul menimpa saudara-saudara kita di berbagai daerah di tanah air, seperti petaka Situ Gintung di Cirendeu, Tangerang Selatan, beberapa hari lalu, sepantasnya dapat menggugah kesadaran kita untuk mau berbagi dengan para korban hingga mereka mendapatkan kembali kehidupan yang normal. Mereka mengharapkan uluran bantuan yang tidak sedikit. Tidak ada ruginya menyisihkan sebagian harta kita untuk membantu mereka. Berbahagialah, karena memberi bantuan kepada orang yang membutuhkan, ibarat meminjamkannya kepada Sang Khaliq. Suatu saat, Allah pasti mengembalikannya plus ‘bunga pinjaman’. Alangkah indahnya firman Allah berikut ini:

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-Baqarah [2]: 265)

Nah, saatnya meluruskan niat semata-mata mengharap ridha-Nya. Seorang bijak pernah berkata, “Bila kita rela berbagi dengan orang lain tanpa mengharap apa-apa, maka segala kekurangan itu pasti akan menjadi berkah bagi kita.” Mudah-mudahan Allah memberi kemudahan bagi setiap kesulitan kita, dan menganugerahkan kecukupan bagi beragam kekurangan yang kita rasakan. Amiin.

Penulis :

adamiArdiman Adami adalah lulusan  Psikologi Universitas Islam Indonesia, Mantan Ketua Umum Imamupsi Komisariat Universitas Islam Indonesia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Orientasi Nilai Budaya dan Pemaafan pada Mahasiswa

05 Sep 2015 Fuad Nashori

Abstract The aim of this research is to find out relationship between Javanese cultural value orientation…

Kenakalan Remaja

10 Sep 2013 pikirdong

Bila kita menemukan kata “kenakalan remaja” maka terlintas dalam benak kita, apakah ada yang disebut…

Developmental Milestones: Usia 9 Bulan

14 Oct 2015 pikirdong

Perkembangan Mental Usia 9 Bulan PENGAMATAN PERILAKU Komunikasi Bahasa Menggunakan bunyi tertentu untuk tanda berlainan Tingkah laku Mulai mengerti dengan merespon…

Menopause

09 Sep 2013 pikirdong

Menopause merupakan proses biologis yang alami terjadi pada wanita pada usia 40-60 tahun (pada umumnya…

Schizoid Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian skizoid (schizoid personality disorder) merupakan suatu karakter yang sifatnya menetap dalam diri individu…

Puasa Bicara

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Berbagai hadis Nabi Muhammad memberikan pelajaran pada kita tentang makna puasa. Puasa adalah media bagi…

Haruskah Menyontek Jadi Budaya?

08 Sep 2013 Fira Friantini

Budaya menyontek sangat identik dengan dunia pendidikan saat ini. Terlebih ketika ujian sedang berlangsung. Tak…

Sinopsis: Internet Addiction Disorder

04 Sep 2013 pikirdong

Revolusi komputer dan internet pada saat ini memungkinkan setiap orang untuk melakukan beberapa aktivitas di…

Agenda Sosial Pikirdong

03 Sep 2013 pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling kita yang kami adakan atas partisipasi…

Efek Perceraian pada Anak

12 Sep 2013 Sayed Muhammad

Perceraian merupakan mimpi buruk setiap pasangan menikah, namun kenyataan perceraian merupakan pilihan terbaik yang diambil…

Beberapa Jalan Menetaskan Ide-ide Kreatif Perspektif Psikologi Islami

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Tulisan ini akan menunjukkan proses-proses terjadinya kreativitas dalam perspektif Psikologi Islami. Perspektif psikologi Islami mempercayai…

Hukuman Mati untuk Koruptor

10 Sep 2011 Fuad Nashori

Di tengah maraknya kasus markus yang terjadi di negeri ini, rasanya patut bagi kita untuk…

  • 1
  • 2
  • 3

Kategori Lainnya

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling kita yang kami adakan atas partisipasi teman-teman semua yang rela dan…

03 Sep 2013 Agenda Sosial pikirdong No comments

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak dan menyentuh hampir semua aspek kehidupan kita. Ada hak perempuan, hak…

05 Oct 2016 Artikel Psikologi GIB Psikologi Islami Psikologi Sosial Bagus Riyono Comments (1)

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014