TwitterFacebookGoogle+

Biar Anak Rajin Ke Masjid

Saya dan istri saya ingin semua anak rajin ke masjid. Yang kami tahu adalah nanti yang mendapat naungan dari terik matahari di padang mahsar menjelang hisab di hari akhir nanti adalah pemuda yang mencintai masjid. Oleh karenanya, sejak sangat kecil, yaitu sejak umur setahun atau sekitar itu anak-anak sudah kami ajak ke masjid, tentu dengan menggendongnya. Mereka harus berjalan sendiri kalau sudah bisa jalan. Dan, semakin besar mereka harus semakin rajin datang ke masjid sehari lima kali, sekurang-kurangnya maghrib-isya-subuh. Saya dan istri pakai teori pembiasaan, yaitu setiap orang akan menyenangi apa yang biasa dilakukannya. Pasti ditemukan kesenangan atas apa yang biasa kita lakukan, termasuk saat biasa ke masjid.

Namun, membuat anak tergerak sendiri datang ke masjid, lebih-lebih untuk setiap 5 shalat waktu, pasti tidak mudah. Bagi anak-anak, kadang handphone, televisi, dan teman bisa lebih menyenangkan. Oleh karenanya, ketika anak semakin besar saya dan istri pakai teori mulut dan tangan (kekuasaan). Metode ini mengikuti anjuran Rasulullah dan cara yang dilakukan ibu saya. Ibu saya memerintahkan saya ke masjid 4-5 kali sehari.

Setiap kali mendengar azan, ibu saya selalu bilang: “Ad, ayo ke masjid!” Jawab saya: “Inggih, bu!” Seperti umumnya anak umumnya, permintaan lisan hanya dibalas jawaban lisan. Tidak ada tindakan. Ibu saya mengulangi lagi. Dijawab: “Sudah siap. Niki sampun sarungan (Ini sudah bersarung)!” Akan tetapi, belum beranjak juga.

Ibu saya menyuruh juga sambil melakukan hal yang lain, kadang masih menyiapkan makanan, kadang melayani orang yang beli kayu atau kelapa, kadang sudah siap-siap shalat di rumah. Yang pasti ibu saya adalah pekerja keras. Tidak suka berleha-leha.

Intinya, ibu saya menyuruh saya ke masjid terus sampai saya benar-benar berangkat. Bila sudah iqamah namun saya belum berangkat juga, saya didatangi langsung dan saya dibuat sedemikian rupa sehingga saya meninggalkan aktivitas saya yang mungkin sedang membaca, menulis buku harian, tidur-tiduran, atau membuat mainan.

Intinya ibu saya menerapkan teori lisan dan tangan, yaitu menggunakan lisannya dan “tangan” sebagai ibu. Tangan yang dimaksud di sini bukan pukulan, karena sepanjang hidup saya saya tak pernah “ditangani secara fisik” oleh orangtua saya, melainkan kekuasaan. Ibu saya sadar betul bahwa ia adalah ibu saya dan bisa memaksa saya untuk ke masjid. Ibu saya sendiri, sekalipun orang yang tak pintar bicara, tapi bisa membuat saya melakukan apa yang beliau mau, saya suka atau tidak suka.

Saya tidak sepercaya diri ibu saya dalam “memaksa” anak ke masjid. Namun, saya menggunakan cara yang jarang digunakan ibu saya, yaitu memberi contoh ke masjid. Ibu saya berasalan dengan merujuk pada hadis Nabi “sebaik-baik shalat bagi lelaki adalah di masjid dan sebaik-baik tempat shalat bagi perempuan adalah rumahnya”.Contoh memudahkan anak-anak saya mau datang ke masjid. Contoh berperilaku datang ke masjid diberikan oleh ayah saya. Note: ayahku jarang menyuruhku ke masjid. Mungkin karena ibu saya sudah banyak menyuruh.

Cara yang dilakukan ibu dan ayah saya membuat saya senang ke masjid. Saya sampai saat ini percaya bahwa beraktivitas di masjid membuat orang senang. Sekalipun ada berbagai perasaan saat dibiasakan oleh orangtua ketika hendak ke masjid. Namun, bila sudah biasa ke masjid, akan terasa kenikmatan ke masjid.

Penulis:

fuadFuad Nashori  adalah salah seorang pelopor dan ahli di bidang Psikologi Islami, sehari-hari beliau menjabat sebagai Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, (UII) Yogyakarta. Fuad Nashori adalah penulis tetap untuk rubrik Psikologi Islami di website ini

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar

Artikel Lainnya

Developmental Milestones: Usia 36 Bulan

14 Oct 2015 pikirdong

Perkembangan Mental Usia 36 Bulan PENGAMATAN PERILAKU Komunikasi Bahasa Menggunakan kalimat dengan sederhana Tingkah laku Berinteraksi dengan orang dewasa dan anak-anak Pekerjaan…

Mengakhiri Kehampaan dengan Dzikir

09 Sep 2013 Fuad Nashori

Masalah kebermaknaan hidup senantiasa menjadi problem penting dalam kehidupan manusia, baik dulu, kini dan di…

Menjadi Manusia Kreatif Sudut Pandang Psikologi Islami

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Psikologi Islami ( Islamic psychology ) dapat diartikan suatu studi tentang jiwa dan perilaku manusia…

Restrukturisasi Kognitif melalui Al-Fatihah

04 Sep 2013 pikirdong

Semula, judul tesis saya adalah “Terapi Al-Fatihah”. Namun di kemudian hari, istilah yang lebih tepat…

Alkohol dan Pengaruhnya

10 Sep 2013 pikirdong

Kebanyakan orang mengkonsumsi alkohol sebagai akibat tekanan sosial disekelilingnya, misalnya pada anak laki-laki dianggap sebagai…

Menopause

09 Sep 2013 pikirdong

Menopause merupakan proses biologis yang alami terjadi pada wanita pada usia 40-60 tahun (pada umumnya…

Kado Terindah

09 Sep 2013 pikirdong

Kado dalam bentuk apapun pasti akan mendatangkan kebahagiaan baik bagi si penerima maupun pemberinya. Kado…

Fetishisme Transvestik – Paraphilia

06 Sep 2013 pikirdong

Transvestitism, atau fetishisme transvestik adalah penyimpangan seksual yang dialami oleh individu heteroseksual (pada pria) untuk…

Menarche

09 Sep 2013 pikirdong

Menarche merupakan tanda permulaan pemasakan seksual pada wanita yang terjadi kisaran usia 13 tahun atau…

Memaafkan

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Ragam dan kedalaman pengalaman buruk antara manusia satu dengan yang lain berbeda-beda. Pada sebagian orang,…

Terapi Gratis

24 Aug 2017 Sayed Muhammad

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa tubuh membutuhkan dokter dan bila diperlukan…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

19 Dec 2016 pikirdong

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

Muslim yang Ketakutan

Ada rasa takut, khawatir saat mau nge-share tulisan ulama yang dicap radikal. Takut dianggap pro HTI, pro FPI, ekstrim, radikal,…

30 May 2018 Khairrubi Kolom Ruby Kay No comments

Mendidik Anak dengan Sepenuh Hati

Mendidik atau mengasuh anak dengan sepenuh hati itu artinya mendidik anak dengan pendidikan Islam. Hanya dengan pendidikan Islam saja orangtua…

23 May 2018 Artikel Keluarga Psikologi Islami Irwan Nuryana Kurniawan No comments

Biar Anak Rajin Ke Masjid

Saya dan istri saya ingin semua anak rajin ke masjid. Yang kami tahu adalah nanti yang mendapat naungan dari terik…

29 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Ketika Si Anak Memilih Jalannya Sendiri

Orangtua berupaya agar anaknya memilih jalan yang terbaik yang menjamin masa depannya. Tugas orangtua yang pertama tentu adalah mengarahkan. Dulu…

28 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Mendidik Anak Mandiri

Salah satu tugas orangtua adalah melatih anaknya menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang mandiri adalah pribadi yang memiliki inisiatif untuk…

27 Apr 2018 Artikel Keluarga Fuad Nashori No comments

Teman Berselingkuh

Suatu hari ketika Anda sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, Anda melihat teman sekantor Anda sedang berjalan mesra dengan seseorang yang…

27 Feb 2018 Obrolan pikirdong Comments (3)

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014