DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic…

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa…

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Borderline Personality Disorder

Gangguan kepribadian borderline merupakan taksologi yang terdapat pada DSM IV sementara pada ICD disebut sebagai Emotionally Unstable Personality Disorder. Gangguan kepribadian borderline merupakan gangguan kepribadian dalam menjalin hubungan dengan orang lain, mengenal perasaan-perasaan sendiri, dan kegagalan dalam mengontrol emosi dan perilaku yang disebabkannya. Masalah yang paling menonjol pada penderita gangguan kepribadian ini adalah adanya dorongan impuls bunuh diri atau perilaku-perilaku untuk mencelakakan diri sendiri.

Borderline personality disorder (BPD), merupakan gangguan fungsi kepribadian dalam jangka waktu yang lama —di klasifikasi dalam tipe cluster B gangguan kepribadian dramatik, gangguan impuls kontrol, fungsi emosional bersama dengan bentuk gangguan kepribadian narsisistik, histrionik dan antisosial.

Bentuk gangguan kepribadian borderline seperti ketidakstabilan mood, cara berpikir “hitam-putih”, ketidakstabilan dalam mempertahankan hubungan interpersonal, gambaran diri, emosi dan perilaku merupakan gangguan nyata pada gangguan keperibadian ini. Dalam beberapa kasus terjadinya gangguan kehilangan identitas emosional diri, kehilangan fokus (dissociative/deformation) yang berdampak pada gangguan lainnya dalam aspek kehidupan psikososial.

KRITERIA GANGGUAN

Kriteria gangguan kepribadian borderline berdasarkan DSM IV, setidaknya harus ada 5 kriteria yang harus ada;

Permasalahan yang menyangkut tentang emosi:


Permasalahan terberat yang dialami oleh penderita BPD adalah kontrol terhadap emosinya. Mereka merasakan bahwa luapan emosi yang muncul sangat menganggunya, kadang mereka mencoba untuk merepresi emosi tersebut akan tetapi justru membuat emosi itu hilang, atau memunculkan perasaan bosan. Hampir separuh waktu penderita BPD mempunyai permasalahan dengan amarah, kekerasaan atau meningkatnya perilaku agresivitas ketika emosi-emosi itu dipendam atau direpresi. Permasalahan gangguan mood berupa depresi sering menyertai gangguan ini.

1) Terjadi perubahan mood tidak menentu
2) Sering marah, terus meningkat dan tidak dapat dikontrol

Permasalahan yang menyangkut perilaku

3) Perilaku untuk melukai diri sendiri dengan cara menyayat bagian tubuh sendiri, keinginan dan percobaan untuk bunuh diri, setidaknya pernah dilakukan oleh individu lebih dari sekali.
4) Adanya potensi untuk merusak dirinya sendiri seperti terlibat dalam penggunaan narkoba, alkohol, perjudian, gangguan makan, mengendarai kendaraan secara ugal-ugalan, terlibat perilaku seksual kompulsif (setidaknya ada 2 perilaku impulsif).

Permasalahan yang menyangkut identitas diri


Termasuk dalam pengalaman dan identifikasi diri, kesulitan untuk mengenal perasaan sendiri, pikiran-pikiran yang muncul. Penderita BPD tidak berpikir seperti apa yang ia pikirkan, apa yang mereka katakan atau sesuatu yang seharusnya mereka yakini, mereka terpengaruhi oleh pendapat-pendapat orang lain.

5) Gangguan nyata dalam identitas diri; self-image, orientasi seksual, pilihan karir, perencanaan masa depan, hubungan persahabatan.
6) Rasa kesepian dan rasa bosan sepanjang hidupnya

Permasalahan dalam berhubungan dengan orang lain.

Permasalahan dalam hubungan dengan orang lain termasuk; perasaan kuat terhadap cinta dan rasa benci, perasaan sensitif terhadap kritikan dan penolakan. Kadang beberapa penderita BPD kesulitan mengikat dirinya dalam sebuah hubungan yang positif, akan tetapi kadang ketergantungan pada orang lain sangat kuat sementara sebagian besarnya mereka sangat dependen atau menghindari keakraban. Perasaan-perasaan emosi yang ditekan membuat penderita gangguan kepribadian ini sulit mempercayai orang lain.

7) Tidak stabil dan permasalahan dalam menciptakan sebuah hubungan yang disebabkan oleh cara berpikir “hitam-putih”
8) Kebingungan dalam menjalin sebuah hubungan, ditinggal atau mempertahankan sebuah hubungan.
– Melihat orang lain hanya dengan cara; baik atau buruk
– kadang ia ingin dekat dengan seseorang akan tetapi ketika hubungan tersebut semakin dekat timbul keinginan untuk menjaga jarak (I Hate You, Don’t Leave Me)
– Kesulitan untuk mempercayai orang lain
– Adanya perasaan untuk butuh orang lain untuk mengusir rasa sepi
– Menumbuhkan perasaan-perasaan tertentu untuk menentramkan hati
9) Berada diluar dirinya, stres berhubungan dengan ide-ide paranoid dan gejala disasosiatif

FAKTOR PENYEBAB

Seperti bentuk gangguan kepribadian lainnya BPD mempunyai pelbagai faktor kompleks terbentuknya gangguan tersebut. Faktor terbesar gangguan disebabkan oleh pengalaman trauma yang dialami ketka masa kanak-kanak seperti kekerasan seksual, penolakan dari rangtua pada masa perkembangan. Sekitar 70% individu yang didiagnosa mengidap gangguan BPD mempunyai pengalaman trauma pelecehan dan kekerasan seksual di masa kecil.

1) Kekerasan pada masa kanak-kanak, penolakan dan terpisah dengan orangtua kandung
Banyak studi menunjukkan bahwa hubungan kekerasan pada anak, terutama pelecehan dan kekerasan seksual akan menumbuhkan perkembangan kepribadian anak di kemudian hari menjadi BPD. Penderita gangguan kepribadian borderline mengalami kekerasan verbal, emosi, fisik dan seksual pada masa perkembangan kanak-kanaknya. Pada anak-anak perempuan yang yang terpisah dari orangtua kandung dan dipungut oleh orangtua asuh mempunyai resiko mengalami kekerasan dan pelecehan seksual lebih besar dibandingkan anak laki, akan tetapi antara keduanya memiliki potensi kekerasan lainnya. Keduanya mempunyai hubungan keterdekatan kemunculan gangguan kepribadian pada fase perkembangan selanjutnya.

2) Faktor perkembangan lainnya
Faktor lain kemunculan gangguan kepribadian borderline tidak hanya disebabkan oleh gangguan spektrum dari trauma saja, penelitian Kernberg menyebutkan bahwa kemunculan BPD disebabkan oleh kegagalan tugas-tugas perkembangan pada masa kanak-kanak. Kegagalan tersebut berupa kegagalan anak dalam mengenal dan membedakan diri anak dengan orang lain yang selanjutnya berkembang bentuk-bentuk psikosis pada anak.

Pendidikan orangtua di rumah juga ikut mempengaruhi terbentuknya BPD, seperti interaksi negatif antara orangtua-anak, kurangnya empati, dan lebih besar kritikan yang ditujukkan pada anak diabndingkan penghargaan.

3) Faktor genetik
Beberapa literatur menyebutkan bahwa perlakuan-perlakuan yang berhubungan dengan BPD akan mempengaruhi pada gen yang nantinya akan mempengaruhi pada kepribadian anak, akan tetapi faktor genetik ini masih diteliti lebih lanjut. Pengaruh serotonin berhubungan dengan genetik diduga juga ikut berpengaruh

4) Fungsi neurotransmiter
Ketidakseimbangan neurotransmiter seperti serotonin, norepinephrine dan acetylcholine (berpengaruh pada jenis emosi dan mood); GABA, (stabilisator perubahan mood), fungsi amygdala; ikut mempengaruhi perilaku-perilaku penderita BPD dalam merespon stressor yang muncul. Perilaku impulsif dan agresivitas disebabkan oleh ketidakseimbangan serotonin dan bagian wilayah prefrontal kortek.

TREATMENT

Psikoterapi

Dialectical behavioral therapy
Pertama sekali diperkenalkan oleh Marsha Linehan pada tahun 1990an untuk intervensi pada pasien yang berkeinginan untuk bunuh diri, dialectical behavioral therapy (DBT) pada perawatan BPD merupakan terapi yang berlandaskan pada teori biososial yakni menekankan fungsi-fungsi pribadi dalam mengatur emosi yang sesuai dengan pengalaman lingkungan.

DBT berasal dari pelbagai bentuk terapi dari congnitive-behavioral akan tetapi pada DBT menekankan pada saling memberi dan negosiasi antara terapis dan klien; antara rasional dan emosional, penerimaan dan berubah. Target yang ingin dicapai adalah penyesuaian antara pelbagai permasalahan yang sedang dihadapi klien dengan pengambilan keputusan secara tepat. Hal-hal lain yang didapatkan klien dalam terapi ini adalah; pemusatan konsentrasi, hubungan interpersonal (seperti keinginan asertif dan ketrampilan sosial), menghadapi dan adaptasi terhadap distress, identifikasi dan mengatur reaksi emosi secara tepat

Schema therapy
Schema therapy merupakan pendekatan didasarkan pada perilaku-kognitif dan gestalt. Fokus terapi ini pada aspek emosi, kepribadian dan bagaimana individu bereaksi dengan lingkungan. Dalam treatment ini menitikberatkan pada hubungan antara terapis dan klien (pendampingan; reparenting), kehidupan sehari-hari klien diluar terapi, dan pengalaman trauma masa kecil.

Cognitive behavioral therapy
Cognitive behavioral therapy (CBT) adalah jenis terapi yang sangat luas penggunaannya untuk treatment gangguan mental, namun dalam penyembuhan gangguan BPD terapi ini dianggap kurang efektif. Kesulitan ditemui ketika pengembangan hubungan interpersonal bersamaan dengan treatment yang diberikan, oleh karenanya CBT juga mengadopsi schema therapy.

Family therapy
Terapi keluarga sangat membantu untuk mengurangi konflik dan stres yang dapat memperburuk kondisi mental individu dengan BPD. Terapi keluarga melatih anggota keluarga menghargai individu BPD, meningkatkan komunikasi dan penyelesaian masalah secara bersama-sama dan saling mendukung antar pasangannya.

Transference-focused psychotherapy
Transference-focused psychotherapy (TFP) merupakan bentuk dari terapi psikoanalisa yang dikembangkan oleh Otto Kernberg. Tidak seperti psikoanalisa yang dianggap sudah ketinggalan jaman, terapis dalam TFP berperan aktif secara bersama-sama denga klien dalam setiap sesi treatment. Terapis berusaha menggali dan mengklarifikasi aspek-aspek dalam persahabatan yang sesuai dengan kebutuhan klien.

Mentalization based treatment
Terapi Mentalization based treatment (MBT) merupakan bentuk regulasi kembali mental yang dianggap telah terganggu setelah mengalami pelbagai permasalahan di masa kanak-kanak. Fokus dalam terapi ini adalah mengembangkan diri pasien secara mandiri untuk mengatur cara berpikir berdasarkan teori-teori psikodinamika. Dalam terapi ini diusahakan pasien tidak menghabiskan waktunya begitu lama di rumah sakit, pengurangan pemakaian obat medis, dan menghilangkan hasrat-hasrat negatif seperti keinginan untuk bunuh diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Enaknya Duduk di Barisan Depan Kelas!

08 Sep 2013 pikirdong

Duduk di barisan paling depan kelas memang rada seram, perasaan was-was selalu kebayang karena selalu…

Insomnia

08 Sep 2013 pikirdong

Insomnia adalah gangguan tidur dimana individu tidak puas dengan jumlah atau kualitas tidur atau sering…

Mengejar Kebahagiaan

09 Sep 2013 Ardiman Adami

Bilamana Anda merasa bahagia? Apakah ketika Anda meraih kesuksesan, kekayaan, atau kesenangan? Tentu saja Anda…

Dampak Penyalahgunaan Narkoba

12 Sep 2013 pikirdong

Beberapa dampak penyalahgunaan narkoba; Dampak biofisiologis 1. Penyebaran HIV, Hepatitis dan beberapa penyakit menular Lainnya  Penyalahgunaan narkoba…

Gangguan Delusi

04 Sep 2013 pikirdong

Gangguan delusi merupakan suatu kondisi dimana pikiran terdiri dari satu atau lebih delusi. ―Delusi diartikan…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

26 Jul 2016 pikirdong

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus untuk pejalan kaki (pedestrian), jalur ini…

Penyakit Hati: Tanda, Sebab, Upaya Penyembuhan

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Dalam Islam, suci dan kotornya hati memiliki arti yang sangat penting. Hati yang suci dan…

Emosi

08 Sep 2013 pikirdong

Emosi adalah gejolak yang ada pada organisme yang disertai oleh respon terhadap suatu rangsang, di…

Paranoid Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian paranoid (paranoid personality disorder; PPD) adalah suatu kondisi karakteristik dimana individu tidak dapat…

Tips Menghadapi Gempa Bumi

08 Sep 2013 Sayed Muhammad

Indonesia yang terletak di jalur gempa (ring of fire) semestinya pendidikan mengenai antisipasi dan menghadapi…

Memaafkan

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Ragam dan kedalaman pengalaman buruk antara manusia satu dengan yang lain berbeda-beda. Pada sebagian orang,…

Kitab Suci Sebagai Sumber Pengembangan Psikologi Islami

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Selalu ditemukan dalam komunitas apapun orang-orang yang menganjurkan kebenaran yang berasal dari Tuhan. Mereka berupaya…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders yang ke V terjadi perubahan…

30 Aug 2017 Artikel Psikologi Psikologi Klinis pikirdong No comments

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa tubuh membutuhkan dokter dan bila diperlukan juga, diambil langkah untuk rawat…

24 Aug 2017 Kolom Sayed Muhammad Sayed Muhammad No comments

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014