Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

Reformasi Sistem Pendidikan Finlandia Menjadikan Mereka yang Terbaik di Dunia

Reformasi besar-besaran dalam dunia pendidikan di Finlandia telah dimulai…

Perlu Tidak Ulang Tahun Anak Dirayakan?

Anak mulai mengerti kebiasaan perayaan ulang tahun pada usia…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Ciri-ciri Keluarga Bahagia

Keluarga yang diidealkan setiap manusia adalah keluarga yang memiliki ciri-ciri mental sehat demikian: sakinah (perasaan tenang), mawaddah (cinta), dan rahmah (kasih sayang). Antar anggota keluarga saling mencintai, menyayangi, dan merindukan. Sang ayah mencintai, menyayangi dan merindukan anak dan ibu dari anak-anaknya. Sang ibu menyayangi, mencintai dan merindukan anak dan ayah dari anak-anaknya. Sang anak pun demikian: menyayangi, mencintai, dan merindukan ayah dan ibunya. Dengan demikian di antara mereka terdapat kesatuan ( unity ) satu terhadap yang lain. Ciri-ciri pola hubungan yang melekat pada keluarga yang bahagia adalah (1) kesatuan dengan Sang Pencipta, (2) kesatuan dengan alam semesta, (3) komitmen, (4) tausiyah dan feedback , (5) keluwesan, (6) kesatuan fisik dan hubungan seks yang sehat, (7) kerjasama, (8) saling percaya, dan lain-lain.

1. Kesatuan dengan Sang Pencipta

Setiap manusia dan unit kesatuan manusia semestinya memelihara keterikatan dengan Allah Sang Pencipta. Keterikatan ini sesungguhnya bersifat alamiah. Antara manusia dan Tuhan telah terjadi perjanjian primordial, yaitu Allah adalah adalah Tuhan manusia. Para ahli psikologi menyederhanakannya dengan istilah  religious instinct . Bila keterikatan alamiah ini dipelihara, maka manusia berada dalam posisi mempertahankan dan memelihara fondasi kepribadiannya. Dalam kehidupannya, ia memperoleh ketenangan, rasa cinta, dan kasih sayang.

Kesatuan dengan Sang Pencipta dalam masalah pernikahan ini disederhanakan dengan ungkapan pernikahan merupakan ibadah. Artinya, ketika dilangsungkan dan dijalankan roda kehidupan pernikahan (baca: dibentuk keluarga), maka yang dilakukan mereka berdasarkan kerangka kesatuan dengan Tuhan. Allah menghendaki pernikahan karena Allah dan orang-orang yang menjadi utusan-Nya menghendaki dilakukannya pernikahan itu.

Dalam perjalanan hidup keluarga yang dijalaninya, mereka selalu berusaha untuk mendapatkan kebaikan dan kesejahteraan dari Tuhannya. Bila ada problem yang menimpa, mereka mengembalikannya kepada Sang Pencipta. Mereka sadar sepenuhnya bahwa Sang Pencipta memuliakan pernikahan dan sangat membenci perceraian.

Kesatuan dengan Tuhan yang berkonteks keluarga paling kentara dicontohkan oleh Nabi Ibrahim. Segenap langkah hidupnya dinaungi semangat menyatukan diri dengan Tuhan. Bahkan, karena kesatuannya dengan Tuhan, Ibrahim rela untuk melakukan apapun yang diperintahkan oleh Tuhan. Karena kerelaannya menjalankan perintah Tuhan, Ibrahim bersedia untuk ‘meninggalkan’ anak bayi dan istrinya di padang tandus dan juga patuh ketika diperintahkan untuk menyembelih anak yang amat dicintainya. Kerelaan atas perintah Tuhan ini mengantarkan Sang Pencipta menghadiahi Ibrahim, yaitu tetap utuhnya keluarga: sang anak tetap hidup (tergantikannya si anak dengan domba). Kisah ini memberi petunjuk bahwa kesatuan dengan Tuhan akan diakhiri dengan kebahagiaan yang sejati, sebagaimana dirasakan oleh Ibrahim.

Secara empiris, sebagaimana diungkapkan Hanna Djumhana Bastaman (2001) setelah menanyai berbagai pasangan yang menikah minimal 25 tahun, keluarga yang kuat selalu menyadari pentingnya agama (baca: kesatuan dengan Allah) sebagai sesuatu yang penting dalam menunjang kebahagiaan keluarga. Bagi keluarga yang bahagia, menjalani hidup dalam kesatuan dengan Sang Pencipta adalah ciri yang melekat pada mereka. Semakin tinggi kesatuan dengan Sang Pencipta semakin tinggi tingkat kebahagiaan hidup keluarga.

2. Kesatuan dengan alam semesta (terutama manusia)

chid-playing

Playing in the beach – Photo contribute by : Benny Herlena © 2013

Setiap manusia dan unit kesatuan manusia semestinya memiliki keterikatan dengan sesama manusia dan alam semesta. Kesatuan dengan alam semesta ini sesungguhnya merupakan perwujudan dari amanat yang diterima setiap manusia untuk menjadi pengganti Tuhan di bumi ( khalifah fi-al-‘ardh ). Panggung aksi dari amanat atau tanggung jawab itu menurut Ismail al-Faruqi adalah seluruh manusia dan apa yang ada di antara langit dan bumi. Keluarga yang memiliki keselarasan dengan lingkungannya akan memperoleh ketenangan, kecintaan, dan kasih sayang dari lingkungannya. Semua itu akan memberikan sumbangan yang besar bagi ketenangan, cinta, dan kasih sayang dalam dada mereka. Tanpa kesatuan dengan sesama manusia dan lingkungan alam, keluarga sering berada dalam ancaman keresahan dan kekhawatiran.

Kesatuan dengan lingkungan diwujudkan dalam bentuk upaya menyelaraskan diri dengan lingkungan dan memberi sumbangan bagi lingkungan . Penyelarasan terhadap lingkungan terutama menyangkut adanya kenyataan bahwa lingkungan memiliki kekuatannya sendiri dan karenanya yang dapat kita lakukan adalah menyesuaikan diri dengannya. Berdasarkan pengamatan penulis, kesatuan dengan lingkungan yang terwujud dalam penyesuaian diri dengan lingkungan sering menjadi prasayarat bagi ketenangan hidup dalam keluarga. Sebuah riset menunjukkan bahwa orang-orang (termasuk keluarga) yang baru tinggal di negeri asing akan terhindar dari keterkejutan budaya bila memiliki seorang atau beberapa kawan yang berasal dari orang atau keluarga negeri tuan rumah (John W. Berry dkk, 1999). Keterputusan dengan alam semesta (baca: lingkungan sosial) akan menghadirkan ketidaktenangan, cinta, dan kasih sayang. Sebagai misal, bila kita sakit dan tak satupun tetangga atau sahabat yang mengunjungi kita, maka kita akan sakit keloro-loro (sakit yang sangat pedih).

Lebih dari sekadar menyesuaikan diri, manusia memiliki tugas menyumbang:  memperbaiki dan mengubah lingkungannya . Lingkungan yang tidak kondusif bagi kehidupan makhluk Tuhan, keadaan sosial yang mencelakakan, lingkungan fisik yang penuh dengan persoalan, adalah medan bagi setiap manusia untuk berkiprah memperbaiki dan mengubahnya menjadi lebih baik. Bila tugas ini dilakukan dengan baik, maka manusia menunjukkan kesatuannya dengan lingkungannya. Tugas ini secara mengesankan telah ditunjukkan Nabi, Rasul, juru dakwah, pejuang, pahlawan, pejuang lingkungan, dsb. Manusia-manusia yang hidup di masa kini dan mendatang memiliki tantangan untuk menyumbang lingkungan dalam bentuk perilaku memperbaiki dan mengubah. Bila sumbangan itu dapat kita berikan, maka ketenangan akan kita peroleh. Bila kita acuh tak acuh, maka akan terasa tidak enaknya tidak menyatu dengan lingkungan.

3. Komitmen Berkeluarga

Individu-individu yang pertama kali membentuk keluarga memiliki niat dan itikad untuk membentuk, mempertahankan dan memelihara pernikahan. Komitmen utama adalah bagaimana keluarga bertahan. Di sini suami dan istri memiliki niatan untuk mempertahankan keluarga dalam situasi apapun dan juga berupaya mengoptimalkan fungsi keluarga untuk memenuhi tanggung jawab vertikal maupun horisontal.  Biar gelombang menerjang dan gunung berguguran, komitmen mempertahankan pernikahan tetap dipegang teguh. Sebagaimana diungkapkan Florence Isaacs (Hanna D. Bastaman, 2001), pernikahan yang awet ditandai oleh niat dan itikad untuk mempertahankan pernikahan.

Komitmen yang lain adalah bagaimana keluarga mencapai posisi sebagai keluarga yang barakah, sakinah, mawaddah, dan  rahmah . Di sini ada keinginan, niat, dan itikad untuk meningkatkan mutu berkeluarga. Dengan komitmen itu mereka berusaha menghilangkan kebosanan satu terhadap yang lain, selalu meningkatkan rasa fresh satu bagi yang lain, dan seterusnya.

Bila komitmen itu tidak dimiliki oleh orang-orang utama dalam keluarga, suami dan istri serta juga anak-anak, maka keluarga itu dapat ambruk atau memasuki medan penghancuran. Berbagai penelitian empiris menunjukkan bahwa keluarga yang pecah ( broken home ), yang ditandai oleh percekcokan dan perceraian orangtua, akan menghasilkan anak-anak yang pencemas, rendah diri, apatisme, dan sejenisnya (Yeti Fauzia, 2001).

 4. Umpan Balik ( Feedback ) dan Tausiyah

Setiap manusia dapat tergelincir ke hal-hal yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain, dan sebaliknya dapat pula berkembang secara optimal. Salah satu fungsi keluarga adalah melakukan sosialisasi primer. Melalui sosialisasi primer ini anggota keluarga dapat memahami apa yang patut dan tidak patut, baik dan tidak baik. Sosialisasi primer dilakukan dengan kebiasaan memberi umpan balik ( feedback ) dan saling menasehati ( tausiyah ). Nasihat dimaksudkan untuk menjaga orang-orang yang ada dalam keluarga dari kemungkinan mengambil pilihan yang merugikan dan menyesatkan diri maupun orang lain. Anjuran Sang Pencipta agar manusia menjaga diri dan keluarganya ( qu anfusakum wa ahlikum naara ) mengisyaratkan pentingnya saling menasehati.

Tausiyah biasanya diawali oleh feedback (umpan balik). Umpan balik dan saling menasehati dalam keluarga ini berlangsung di antara seluruh anggota keluarga, yaitu bapak, ibu, anak, dan anggota keluarga yang lain. Berbagai bukti menunjukkan bahwa adanya saling menasehati atau memberikan umpan balik akan menjadikan keluarga kokoh. Salah satu adalah sebagaimana yang diungkapkan Hanna Djumhana Bastaman (2001) bahwa pernikahan (baca: keluarga) yang awet ditandai oleh adanya saling asah-asih-asuh, saling menunjang hasrat dan cita-cita pasangannya.

Yang patut diperhatikan adalah fungsi saling menasehati ini banyak yang tidak berlangsung. Salah satu kritik yang pernah dialamatkan pakar psikologi perkembangan Indonesia Kusdwiratri Setiono terhadap orang tua (baca: pengendali keluarga) adalah mereka sangat minim dalam menasehati anaknya dan terlalu percaya bahwa sekolahlah yang akan menjadikan anak mereka pintar dan santun. Anak-anak dari orang berhasil ternyata tidak memiliki kehidupan yang sukses, diduga keras karena tidak berjalannya proses komunikasi yang berisi umpan balik. Karenanya umpan balik dan saling menasehati tampaknya menjadi hal yang penting untuk menjaga keluarga agar tetap memiliki jalur yang benar.

Salah satu persoalan berkaitan dengan masalah ini adalah adab (tata krama) menasehati. Mungkinkah anak menasehati sang ayah? Mungkin salah satu kenyataan budaya kita menunjukkan bahwa ayah begitu perkasa dan berwibawa untuk diposisikan sebagai orang yang dinasehati. Dalam Islam, siapapun dapat berada dalam posisi yang benar dan sebaliknya bisa dalam posisi salah. Orang yang yakin dengan kebenaran berada dalam posisi amar ma’ruf nahi munkar, tidak peduli ayah, ibu, atau presiden sekalipun.

5. Keluwesan

ada awal pembentukan keluarga umumnya orang memiliki harapan-harapan yang ideal. Ke manapun pergi selalu bersamamu , begitu mimpi setiap pasangan baru. Dalam kenyataannya harapan itu dan berbagai harapan lainnya, tidak mewujud. Dalam situasi seperti ini, orang merasakan keadaan yang diidealkan tidak tercapai.

Bertindaklah realistis , kata orang. Artinya, orang tetap luwes dengan idealita yang dipatoknya : menyesuaikan diri dengan kenyataan tanpa kehilangan harapan untuk mencapainya di suatu hari kelak.  Keluwesan yang lain adalah keluwesan terhadap pasangan. Setiap individu yang berkeluarga mengharapkan pasangannya bertindak dan bersikap baik seperti yang ada dalam kerangka pikirnya. Dalam kenyataannya, banyak sikap dan perilaku yang tidak menyenangkan dan menyesakkan dada. Dalam situasi seperti ini, toleransi terhadap hal-hal yang berbeda dari pasangan menjadi amat penting. Yang patut dicatat, dalam toleransi ada komitmen untuk menjadikan yang ada berubah menjadi lebih baik, tentu secara bertahap.

6. Kesatuan Fisik dan Hubungan Seks yang Sehat

Berbagai literatur mengungkapkan bahwa keluarga yang sehat mental ditandai oleh adanya hubungan seks yang sehat antara suami dan istri. Seks merupakan bentuk hubungan yang melibatkan kesatuan fisik dan psikologis dari suami istri. Adanya keberlangsungan hubungan seks yang semestinya akan menjaga kesatuan dalam keluarga, menjadikan anggota keluarga bahagia, dan puas. Berbagai temuan mutakhir menunjukkan bahwa terjaganya hubungan seks suami istri (seminggu 2-3 kali) menjadikan suami istri puas dalam pernikahan yang secara jangka panjang dapat memanjangkan umur. Sebaliknya, sebagaimana dapat dilihat dalam kenyataan sosial, kegagalan hubungan seks, terlalu jarangnya kontak seksual, dan juga terlalu berlebihannya hubungan seksual akan memiliki dampak kekisruhan dalam keluarga (semisal perselingkuhan, dan seterusnya) dan ketidakstabilan emosi. Sebuah kasus di Rumah Sakit Jiwa Magelang menunjukkan bahwa seks yang berlebihan menyebabkan seorang istri jadi pasien rumah sakit jiwa.

Tidak kurang dari itu, kesatuan fisik antara anggota keluarga sangat berguna untuk memupuk adanya keluarga yang kokoh. Kehadiran secara fisik orang yang kita cintai akan menjadikan cinta terpelihara. Pernyataan ini bukan berarti anggota keluarga harus terus menerus bersama. Maksudnya, adanya perpisahan yang bersifat sementara (misalnya karena kerja, studi, atau bepergian beberapa hari) segera disusul oleh perjumpaan. Di zaman Nabi Muhammad, laki-laki yang berperang selama I.k. dua bulan diberi kesempatan pulang untuk berjumpa istri dan anaknya. Pada keluarga Muslim saat ini, adanya keterpisahan antar anggota keluarga (terutama suami istri) sangat dihindarkan.

Berbagai kasus menunjukkan jarak yang jauh menyebabkan terjadinya berbagai macam perselingkuhan dan perceraian.

7. Kerjasama

Agar keluarga dapat berjalan secara optimal, semestinya mereka saling bekerjasama. Suami membantu istri dan anak. Istri membantu suami dan anak. Anak membantu bapak dan ibunya. Masalah kerjasama atau kekompakan ini akan berkembang bila mereka mengupayakan untuk melakukan berbagai kegiatan secara bersama-sama. Salah satu medan kerjasama atau kekompakan adalah dalam hal mendidik anak. Kultur masyarakat masa lalu dan juga masa kini sering menempatkan wanita sebagai pihak yang bertanggung jawab mendidik anak. Kesalahkaprahan ini sangat sering terjadi. Laki-laki pun banyak yang merasa tidak bersalah saat mereka bulat-bulat menyerahkan tanggung jawab mendidik anak kepada istri, atau malah kepada baby sitter , pembantu rumah tangga, atau kepada televisi. Bahkan, pembantu pun menyerahkan ke peminta-minta di jalanan (sebagaimana terjadi di Bandung beberapa waktu lalu).

Keadaan di atas tentu sangat tidak ideal. Yang semestinya diupayakan oleh setiap keluarga adalah bagaimana terdapat kerjasama dalam mendidik anak, lebih khusus bagaimaana laki-laki terlibat dalam pendidikan anak. Isyarat pentingnya peran ayah sangat tampak dalam diri Lukman Hakim, seseorang yang diidentifikasi oleh ulama sebagai Nabi Allah. Ia secara aktif mendidik anaknya agar selalu lurus dalam keberimanan, mensyukuri apa yang diberikan Sang Pencipta, berbuat baik kepada kedua orang tua (QS Luqman, 31 : 12-19). Beberapa ungkapannya yang terkenal adalah : “Bersyukurlah kepada Allah. Barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri ….. Hai, anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, karena mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar …” Dengan begitu, kedua orang tua semestinya bekerjasama dalam mendidik anak-anaknya.

Satu hal amat penting untuk diperhatikan dalam masalah kerjasama adalah peran ganda pria (baca: suami). Kultur yang berkembang dalam masyarakat umumnya menempatkan laki-laki bekerja dalam sektor publik dan sangat minim bekerja dalam sektor domestik, terutama mendidik anak. Kerjasama dapat dioptimalkan bila laki-laki menyediakan diri untuk mengerjakan wilayah domestik. Apabila ini dilakukan, maka babak kerjasama suami dan istri mulai menguat.

8. Saling Percaya

Pembentukan keluarga (baca: pernikahan) diawali oleh kesalingpercayaan. Masing-masing pihak –suami dan istri– percaya bahwa satu sama lain akan melakukan usaha agar jalinan kesatuan di antara mereka dapat mengantarkan mereka menjadi bahagia dan sejahtera. Bila kepercayaan ini dijaga, maka kehidupan berkeluarga dapat dipertahankan. Bila kepercayaan tidak dijaga, maka keluarga dapat pecah ( broken home ).

Salah satu ajaran agama yang dalam kehidupan kongkrit bersifat kontroversial adalah menikah lebih dengan seorang istri. Al-Qur’an secara tegas mempersilakan laki-laki untuk menikahi lebih dari satu orang: dua, tiga, atau empat, dengan catatan dapat bertindak adil. Persoalannya adalah rasa keadilan itu amat sulit dipenuhi. Dalam keluarga yang demikian, satu istri bisa sangat cemburu dan bahkan sangat curiga manakala sang suami tampak lebih akrab dan lebih cinta terhadap istri yang lainnya. Kalau kecemburuan dan kecurigaan merajalela, maka yang bakal terjadi adalah rusaknya bangunan keluarga. Artinya, sebagaimana ditemukan dalam banyak kasus, poligami ternyata rentan terhadap upaya mempertahankan kesalingpercayaan suami istri.

Bagaimana pendapat Anda?

Penulis:

fuad
Fuad Nashori  adalah salah seorang pelopor dan ahli di bidang Psikologi Islami, sehari-hari beliau menjabat sebagai Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, (UII) Yogyakarta. Fuad Nashori adalah penulis tetap untuk rubrik Psikologi Islami di website ini

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Bila Anda Mendapat Tawaran Pemotretan Sensual?

08 Sep 2013 Sayed Muhammad

Gadis-gadis Indonesia bugil mulai bermunculan di internet sekitar tahun 1997. Gambar sensual tersebut bermunculan tidak…

Teknik Relaksasi: Mengurangi Stres

04 Sep 2013 pikirdong

Relaksasi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan sendiri oleh individu untuk mengurangi stres, kekalutan…

Katakan Saja Tidak!

29 Oct 2015 Sayed Muhammad

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar untuk mengatakan "tidak" yang memang kita…

Developmental Milestones: Usia 36 Bulan

14 Oct 2015 pikirdong

Perkembangan Mental Usia 36 Bulan PENGAMATAN PERILAKU Komunikasi Bahasa Menggunakan kalimat dengan sederhana Tingkah laku Berinteraksi dengan orang dewasa dan anak-anak Pekerjaan…

Commitment Phobia

06 Sep 2013 pikirdong

Commitment phobia merupakan bentuk suatu ketakutan (fear) untuk menjalin suatu hubungan yang lebih erat, rasa…

Salah Kaprah tentang HAM

05 Oct 2016 Bagus Riyono

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak dan menyentuh hampir semua aspek kehidupan…

Ketergantungan Komputer dan Internet: Tips dan Treatment

04 Sep 2013 pikirdong

Ketergantungan pada internet dan komputer memberikan dampak buruk dan perilaku baik secara langsung ataupun secara…

Haruskah Menyontek Jadi Budaya?

08 Sep 2013 Fira Friantini

Budaya menyontek sangat identik dengan dunia pendidikan saat ini. Terlebih ketika ujian sedang berlangsung. Tak…

Autism Disorder

05 Sep 2013 pikirdong

Autisme (autism disorder) merupakan gangguan pada sistem syaraf pusat yang berdampak pada gangguan interaksi sosial,…

Memberi Support pada Anak Gangguan Autis

04 Sep 2013 pikirdong

Saat ini diperkirakan sekitar 35 juta anak di dunia mengalami gangguan autisme, angka ini meningkat…

Edisi Ibukota : Tas Tas Integritas!!

15 Sep 2013 Candrawati Wijaya

Salam Tarzan Kota! Sudah sampai manakah Tarzan-Tarzan kota menjelajah?? Harapan saya, kita tetap akan bertemu di…

Kekerasan Terhadap Anak

08 Sep 2013 pikirdong

Kekerasan terhadap anak (child abusive) terjadi dalam pelbagai kultur, etnis atau kelompok masyarakat. Kekerasan dapat…

  • 1
  • 2
  • 3

Kategori Lainnya

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling kita yang kami adakan atas partisipasi teman-teman semua yang rela dan…

03 Sep 2013 Agenda Sosial pikirdong No comments

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak dan menyentuh hampir semua aspek kehidupan kita. Ada hak perempuan, hak…

05 Oct 2016 Artikel Psikologi GIB Psikologi Islami Psikologi Sosial Bagus Riyono Comments (1)

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014