TwitterFacebookGoogle+

DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang Diperbaharui

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders yang ke V terjadi perubahan dalam diagnostik Paraphillia. Perubahan ini juga berdampak pada kategori atau klasifikasi gangguan tersebut. Misalnya saja adanya istilah “baru” yang membingungkan antara pedophilic disorder dan pedophilia. Perubahan diagnostik dan definisi juga ikut mempengaruh pengertian kedua kata tersebut secara umum. Beberapa orang yang tidak memiliki akses untuk membaca definisi berdasarkan APA tentunya akan kesulitan dalam membedakan kedua kata tersebut.

Pedophillia merupakan bagian dari paraphillia, bersama eksibisionisme, fetishisme, frotteurism, masokisme seksual, sadisme seksualisme, fetishisme transvestik, veyourisme dan yang terakhir digolongkan paraphilia yang tidak digolongkan, atau tidak terdefinisi. Perubahan itu kini, paraphillia tidak lagi disebut sebagai bentuk gangguan mental, termasuk golongan-golongan didalamnya yang mengikuti perubahan dalam DSM V yang sempat menjadi perbincangan dan perdebatan pada tahun 2013 lalu.

Penggunaan kata “phillia” (Bahasa Yunani; philia berarti “teman”, atau “bersenang-senang”.) pada DSM IV sebelumnya dirasakan tidaklah tepat untuk menggambarkan sebuah penyimpangan atau gangguan mental, oleh karena itu APA mengubah dan menambahkan dengan kata “disorder” dibelakang dari golongan yang termasuk dalam kategori paraphilia, serta menyebut paraphilic disorder sebagai kategori gangguan mental sebagai pengganti kata paraphilia pada DSM sebelumnya.

Perubahan itu tertera dalam buku pegangan DSM 5 Handbook of Deferential Diagnosis berikut ini. Klasifikasi Paraphilia dengan penambahan disorder, sementara kategori simtom atau diagnosa juga tidak banyak berubah dari kriteria DSM IV sebelumnya.

302 .4 Exhibitionistic Disorder
302 .81 Fetishistic Disorder
302 .89 Frotteuristic Disorder
302 .2 Pedophilic Disorder
302 .83 Sexual Masochism Disorder
302 .84 Sexual Sadism Disorder
302 .3 Transvestic Disorder
302 .82 Veyouristic Disorder
302 .89 Paraphilic Disorder Khusus
302 .9 Paraphilic Disorder yang tidak diketahui atau ditergolongkan

Penekanan penting dalam DSM V ini adalah seorang pengidap paraphilic disorder merupakan seorang paraphilia yang mengalami distres, gangguan atau memiliki resiko membahayakan orang lain. Berdasarkan pernyataan tersebut maka paraphilia tertentu merupakan tahap tingkatan atau kondisi yang dianggap tidak berbahaya dan tidak memerlukan suatu tindakan klinis, sehingga seorang paraphilia belum tentu memiliki gangguan mental menyimpang sebagaimana paraphilic disorder.

Perubahan terminologi paraphilia dalam DSM V ini adalah untuk membedakan secara jelas antara paraphilia yang dianggap berbahaya dengan yang tidak. Konsep sebelumnya dalam DSM IV sangat sulit mencari perbedaan tersebut, karena semua paraphilia dianggap sebagai suatu penyimpangan atau gangguan. Kini, pentingnya perbedaan tersebut untuk membedakan diagnosa perlu atau tidaknya seseorang memerlukan tindakan klinis, membedakan antara pelaku kriminal dan klaim ansuransi kesehatan.

Antara Pedophilia dan Pedophilic Disorder

Pada awalnya kata pedophilia digunakan sebagai bentuk penyimpangan dan menganggap perilaku seksual tersebut didasarkan pada orientasi seksual, artinya pengidap pedophilia melakukan hubungan seksual karena hasrat seksual hanya dengan anak dibawah umur. kini tidak lagi, pengertian tersebut diperuntukan kepada pedopilic disorder. Sementara pedophilia lebih mengarah pada ketertarikan seksual semata.

Pedophilia kini tidak dimasukan dalam daftar gangguan mental dalam DSM V, APA memperkenalkan pedophilic disorder sebagai gantinya. Kriteria yang digunakan pun masih menggunakan dasar dari DSM IV.

A. Sedikitnya selama 6 bulan memiliki khayalan, sering berfantasi seksual, dan hasrat seksual atau berperilaku yang melibatkan aktivitas seksual dengan anak atau usia dini (umumnya berusia 13 tahun atau lebih muda)

B. Individu yang melakukannya berdasarkan kebutuhan seksual, atau dorongan seksual, atau fantasi yang disebabkan oleh distress atau kesulitan interpersonal

C. Individu setidaknya telah berusia 16 tahun dan setidaknya 5 tahun lebih tua dari anak atau anak-anak yang disebutkan dalam kriteria A.

Untuk memahami perbedaan pedophilia dan pedophilic disoder berdasarkan kriteria diatas maka, kriteria A menunjukkan seseorang mengidap pedophilia sementara kriteria B mengacu pada pedophilic disorder. Untuk memahami lebih lanjut, perhatikan kasus berikut ini;

Seorang istri secara terus-menerus menolak ajakan suaminya untuk berhubungan seksual selama berbulan-bulan mengakibatkan suami mengambil cara lain untuk memenuhi kebutuhan seksuil itu dengan cara melakukan hubungan seks dengan anaknya. Apakah suaminya itu seorang pedophilia atau pedophilic disorder?

Dalam kasus tersebut, sang suami dapat didiagnosa mengidap pedophilia bila; adanya perasaan bersalah yang dirasakan pelaku, munculnya perasaan malu, adanya kecemasaan dalam mengatasi dorongan impuls paraphilic (diketahui melalui wawancara atau assessment secara objektif), melakukan hubungan seksual berdasarkan tindakan impuls atau bukan karena orientasi seksualnya yang terbatas pada anak-anak semata. Sementara, bila sebaliknya maka dipastikan suami bersangkutan mengidap pedophilic disorder.

APA berpendapat, perbedaan terpenting antara pedophilia dan pedophilic disorder terletak pada orientasi seksual, namun kritikan yang dituju terhadap penggunaan kalimat tersebut tidaklah tepat dengan mengesampingkan aspek secara seksologi sehingga selanjutnya APA menggantikan kata tersebut dengan “sexual interest” dalam cetakan selanjutnya. (Hal 698).

Penggantian pedophilia dengan pedophilic disorder bukanlah berarti bahwa APA memberikan “perlindungan hukum” terhadap pedophilia, melainkan memisahkan pelaku kriminal yang melakukan pelecehan terhadap anak atau eksploitasi anak secara tepat di masa mendatang. APA tetap mendukung anak-anak yang menjadi korban dari pelaku pedophilia dan terus berusaha untuk mengembangkan assasment secara tepat untuk pemulihan pengidap paraphilic disorder.

Daftarkan biro konsultasi, yayasan atau klinik Anda disini yang menerima anak-anak yang menjadi korban pelecehan, kekerasan seksual, Gratis!

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar

Artikel Lainnya

Ketergantungan Komputer dan Internet: Tips dan Treatment

04 Sep 2013 pikirdong

Ketergantungan pada internet dan komputer memberikan dampak buruk dan perilaku baik secara langsung ataupun secara…

The Creative Process of Indonesian Muslim Writers: An…

10 Sep 2013 Fuad Nashori

ABSTRACT   The purpose of this study is to examine the creative process of Indonesian Muslim writers.…

Asperger Syndrome

05 Sep 2013 pikirdong

Gangguan Asperger atau dikenal dengan istilah Asperger syndrome (AS), juga disebut sebagai Asperger disorder merupakan…

Penyakit Hati: Tanda, Sebab, Upaya Penyembuhan

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Dalam Islam, suci dan kotornya hati memiliki arti yang sangat penting. Hati yang suci dan…

Mengejar Kebahagiaan

09 Sep 2013 Ardiman Adami

Bilamana Anda merasa bahagia? Apakah ketika Anda meraih kesuksesan, kekayaan, atau kesenangan? Tentu saja Anda…

Post Partum Blues

07 Sep 2013 pikirdong

Post Partum Blues merupakan problem psikis sesudah melahirkan seperti kemunculan kecemasan, labilitas perasaan dan depresi…

Sadisme Seksual – Paraphilia

06 Sep 2013 pikirdong

Individu dengan gangguan ini secara konsisten memiliki gangguan fantasi seksual dengan cara menyakiti pasangannya dengan…

Katakan Saja Tidak!

29 Oct 2015 Sayed Muhammad

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar untuk mengatakan "tidak" yang memang kita…

Veyourisme – Paraphilia

06 Sep 2013 pikirdong

Voyeurisms atau veyourisme merupakan perilaku penyimpangan seksual dengan cara mengintip orang lain yang sedang mengganti…

Episode Depresi

06 Sep 2013 pikirdong

Episode depresi digolongkan pada rentang waktu kemunculan depresi yang relatif singkat, pada umumnya penderita episode…

Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT)

09 Sep 2013 Sayed Muhammad

Perkawinan bukanlah suatu pengikat yang memberikan kebebasan untuk saling menyakiti pasangan hidupnya. Dengan adanya perkawinan…

Menyikapi Budaya Beragama yang Beragam

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Agama adalah seperangkat keyakinan, aturan, praktik berperilaku yang berasal dari Tuhan. Ia dihadirkan Tuhan di…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

Muslim yang Ketakutan

Ada rasa takut, khawatir saat mau nge-share tulisan ulama yang dicap radikal. Takut dianggap pro HTI, pro FPI, ekstrim, radikal,…

30 May 2018 Khairrubi Kolom Ruby Kay No comments

Mendidik Anak dengan Sepenuh Hati

Mendidik atau mengasuh anak dengan sepenuh hati itu artinya mendidik anak dengan pendidikan Islam. Hanya dengan pendidikan Islam saja orangtua…

23 May 2018 Artikel Keluarga Psikologi Islami Irwan Nuryana Kurniawan Comments (1)

Biar Anak Rajin Ke Masjid

Saya dan istri saya ingin semua anak rajin ke masjid. Yang kami tahu adalah nanti yang mendapat naungan dari terik…

29 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Ketika Si Anak Memilih Jalannya Sendiri

Orangtua berupaya agar anaknya memilih jalan yang terbaik yang menjamin masa depannya. Tugas orangtua yang pertama tentu adalah mengarahkan. Dulu…

28 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Mendidik Anak Mandiri

Salah satu tugas orangtua adalah melatih anaknya menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang mandiri adalah pribadi yang memiliki inisiatif untuk…

27 Apr 2018 Artikel Keluarga Fuad Nashori No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014