DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic…

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa…

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang Diperbaharui

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders yang ke V terjadi perubahan dalam diagnostik Paraphillia. Perubahan ini juga berdampak pada kategori atau klasifikasi gangguan tersebut. Misalnya saja adanya istilah “baru” yang membingungkan antara pedophilic disorder dan pedophilia. Perubahan diagnostik dan definisi juga ikut mempengaruh pengertian kedua kata tersebut secara umum. Beberapa orang yang tidak memiliki akses untuk membaca definisi berdasarkan APA tentunya akan kesulitan dalam membedakan kedua kata tersebut.

Pedophillia merupakan bagian dari paraphillia, bersama eksibisionisme, fetishisme, frotteurism, masokisme seksual, sadisme seksualisme, fetishisme transvestik, veyourisme dan yang terakhir digolongkan paraphilia yang tidak digolongkan, atau tidak terdefinisi. Perubahan itu kini, paraphillia tidak lagi disebut sebagai bentuk gangguan mental, termasuk golongan-golongan didalamnya yang mengikuti perubahan dalam DSM V yang sempat menjadi perbincangan dan perdebatan pada tahun 2013 lalu.

Penggunaan kata “phillia” (Bahasa Yunani; philia berarti “teman”, atau “bersenang-senang”.) pada DSM IV sebelumnya dirasakan tidaklah tepat untuk menggambarkan sebuah penyimpangan atau gangguan mental, oleh karena itu APA mengubah dan menambahkan dengan kata “disorder” dibelakang dari golongan yang termasuk dalam kategori paraphilia, serta menyebut paraphilic disorder sebagai kategori gangguan mental sebagai pengganti kata paraphilia pada DSM sebelumnya.

Perubahan itu tertera dalam buku pegangan DSM 5 Handbook of Deferential Diagnosis berikut ini. Klasifikasi Paraphilia dengan penambahan disorder, sementara kategori simtom atau diagnosa juga tidak banyak berubah dari kriteria DSM IV sebelumnya.

302 .4 Exhibitionistic Disorder
302 .81 Fetishistic Disorder
302 .89 Frotteuristic Disorder
302 .2 Pedophilic Disorder
302 .83 Sexual Masochism Disorder
302 .84 Sexual Sadism Disorder
302 .3 Transvestic Disorder
302 .82 Veyouristic Disorder
302 .89 Paraphilic Disorder Khusus
302 .9 Paraphilic Disorder yang tidak diketahui atau ditergolongkan

Penekanan penting dalam DSM V ini adalah seorang pengidap paraphilic disorder merupakan seorang paraphilia yang mengalami distres, gangguan atau memiliki resiko membahayakan orang lain. Berdasarkan pernyataan tersebut maka paraphilia tertentu merupakan tahap tingkatan atau kondisi yang dianggap tidak berbahaya dan tidak memerlukan suatu tindakan klinis, sehingga seorang paraphilia belum tentu memiliki gangguan mental menyimpang sebagaimana paraphilic disorder.

Perubahan terminologi paraphilia dalam DSM V ini adalah untuk membedakan secara jelas antara paraphilia yang dianggap berbahaya dengan yang tidak. Konsep sebelumnya dalam DSM IV sangat sulit mencari perbedaan tersebut, karena semua paraphilia dianggap sebagai suatu penyimpangan atau gangguan. Kini, pentingnya perbedaan tersebut untuk membedakan diagnosa perlu atau tidaknya seseorang memerlukan tindakan klinis, membedakan antara pelaku kriminal dan klaim ansuransi kesehatan.

Antara Pedophilia dan Pedophilic Disorder

Pada awalnya kata pedophilia digunakan sebagai bentuk penyimpangan dan menganggap perilaku seksual tersebut didasarkan pada orientasi seksual, artinya pengidap pedophilia melakukan hubungan seksual karena hasrat seksual hanya dengan anak dibawah umur. kini tidak lagi, pengertian tersebut diperuntukan kepada pedopilic disorder. Sementara pedophilia lebih mengarah pada ketertarikan seksual semata.

Pedophilia kini tidak dimasukan dalam daftar gangguan mental dalam DSM V, APA memperkenalkan pedophilic disorder sebagai gantinya. Kriteria yang digunakan pun masih menggunakan dasar dari DSM IV.

A. Sedikitnya selama 6 bulan memiliki khayalan, sering berfantasi seksual, dan hasrat seksual atau berperilaku yang melibatkan aktivitas seksual dengan anak atau usia dini (umumnya berusia 13 tahun atau lebih muda)

B. Individu yang melakukannya berdasarkan kebutuhan seksual, atau dorongan seksual, atau fantasi yang disebabkan oleh distress atau kesulitan interpersonal

C. Individu setidaknya telah berusia 16 tahun dan setidaknya 5 tahun lebih tua dari anak atau anak-anak yang disebutkan dalam kriteria A.

Untuk memahami perbedaan pedophilia dan pedophilic disoder berdasarkan kriteria diatas maka, kriteria A menunjukkan seseorang mengidap pedophilia sementara kriteria B mengacu pada pedophilic disorder. Untuk memahami lebih lanjut, perhatikan kasus berikut ini;

Seorang istri secara terus-menerus menolak ajakan suaminya untuk berhubungan seksual selama berbulan-bulan mengakibatkan suami mengambil cara lain untuk memenuhi kebutuhan seksuil itu dengan cara melakukan hubungan seks dengan anaknya. Apakah suaminya itu seorang pedophilia atau pedophilic disorder?

Dalam kasus tersebut, sang suami dapat didiagnosa mengidap pedophilia bila; adanya perasaan bersalah yang dirasakan pelaku, munculnya perasaan malu, adanya kecemasaan dalam mengatasi dorongan impuls paraphilic (diketahui melalui wawancara atau assessment secara objektif), melakukan hubungan seksual berdasarkan tindakan impuls atau bukan karena orientasi seksualnya yang terbatas pada anak-anak semata. Sementara, bila sebaliknya maka dipastikan suami bersangkutan mengidap pedophilic disorder.

APA berpendapat, perbedaan terpenting antara pedophilia dan pedophilic disorder terletak pada orientasi seksual, namun kritikan yang dituju terhadap penggunaan kalimat tersebut tidaklah tepat dengan mengesampingkan aspek secara seksologi sehingga selanjutnya APA menggantikan kata tersebut dengan “sexual interest” dalam cetakan selanjutnya. (Hal 698).

Penggantian pedophilia dengan pedophilic disorder bukanlah berarti bahwa APA memberikan “perlindungan hukum” terhadap pedophilia, melainkan memisahkan pelaku kriminal yang melakukan pelecehan terhadap anak atau eksploitasi anak secara tepat di masa mendatang. APA tetap mendukung anak-anak yang menjadi korban dari pelaku pedophilia dan terus berusaha untuk mengembangkan assasment secara tepat untuk pemulihan pengidap paraphilic disorder.

Daftarkan biro konsultasi, yayasan atau klinik Anda disini yang menerima anak-anak yang menjadi korban pelecehan, kekerasan seksual, Gratis!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Deteksi Secara Dini Gangguan Autis

05 Sep 2013 pikirdong

Beberapa anak dengan gangguan autis telah menunjukkan beberapa tanda-tanda adanya gangguan tersebut sejak awal masa…

Wanita Lebih Mudah Stres?

10 Sep 2013 Sayed Muhammad

Menurut Georgia Witkin dalam bukunya The Female Stress Syndrome (1991), wanita memiliki penyebab stres yang…

Hospice: Tempat Perawatan Orang yang Hampir Meninggal

03 Sep 2013 Sayed Muhammad

Beberapa tahun lalu, tetangga saya mengidap kanker payudara, setelah melakukan operasi di tanah air sebelumnya,…

Kenakalan Remaja

10 Sep 2013 pikirdong

Bila kita menemukan kata “kenakalan remaja” maka terlintas dalam benak kita, apakah ada yang disebut…

Ketergantungan Komputer dan Internet: Tips dan Treatment

04 Sep 2013 pikirdong

Ketergantungan pada internet dan komputer memberikan dampak buruk dan perilaku baik secara langsung ataupun secara…

Tanpa Pacar Bikin Bete?

09 Sep 2013 pikirdong

Banyak orang merasa tidak nyaman dengan kondisi hidup sendiri tanpa pacar disamping. Mereka menciptakan momok…

Orientasi Nilai Budaya dan Pemaafan pada Mahasiswa

05 Sep 2015 Fuad Nashori

Abstract The aim of this research is to find out relationship between Javanese cultural value orientation…

Kleptomania

06 Sep 2013 pikirdong

Kleptomania merupakan gangguan kebiasaan dan impuls (impulse control disorder) yang mengakibatkan dampak-dampak negatif bagi perkembangan…

Berbagi Berbuah Nikmat

10 Sep 2013 Ardiman Adami

Pernah mendengar kisah ‘Sepotong Roti’ dari Ustadz Yusuf Mansur? Jika belum, ceritanya begini: Alkisah, ada…

Episode Depresi

06 Sep 2013 pikirdong

Episode depresi digolongkan pada rentang waktu kemunculan depresi yang relatif singkat, pada umumnya penderita episode…

Narcissistic Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau gangguan kepribadian narsisistik merupakan gangguan mental dimana individu merasa dirinya…

Menghentikan Ketergantungan pada Alkohol

12 Sep 2013 pikirdong

Beberapa kiat yang dapat dilakukan untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada alkohol:    Hanya diri Anda…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders yang ke V terjadi perubahan…

30 Aug 2017 Artikel Psikologi Psikologi Klinis pikirdong No comments

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa tubuh membutuhkan dokter dan bila diperlukan juga, diambil langkah untuk rawat…

24 Aug 2017 Kolom Sayed Muhammad Sayed Muhammad No comments

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014