TwitterFacebookGoogle+

Dyslexia

Membaca dengan lancar bagi seseorang mungkin sangat mudah setelah melalui proses belajar dari sejak kecil, namun bagi beberapa orang tertentu menemui kesulitan dalam membaca dan memahami sesuatu yang sedang dibacanya. Kedua permasalahan tersebut mudah diketemui pada anak-anak masa sekolah, tidak sedikit juga permasalahan tersebut tidak terdiagnosa selama waktu dikemudian hari.

Permasalahan dalam membaca (disebut dengan istilah dyslexia; alexia) tidak hanya dialami oleh anak-anak saja. Beberapa orang dewasa juga diketemukan permasalahan ini.

Dyslexia (disleksia) sering diketemukan pada anak sekolah dasar, permasalahan tersebut kadang berlanjut pada usia remaja bahkan pada orangtua. Permasalahan-permasalahan yang menyangkut disleksia berupa; membaca secara menyeluruh, mengeja, dan kesulitan dalam mempelajari bahasa asing.

Disleksia yang tidak terdeteksi secara dini mengakibatkan kesulitan dalam membaca yang terus berlanjut dan anak (remaja) memiliki rasa percaya diri yang rendah diantara teman-teman sebayanya. Jadi sangat perlu dilakukan deteksi disleksia secara dini dengan mempelajari simtom-simtom pada anak awal sekolah agar dapat dilakukan penanganan secara tepat.

Hambatan anak dalam mengenal huruf alphabet dan angka merupakan tanda-tanda awal adanya disleksia, biasanya disleksia diketemukan pada anak usia 7 sampai 8 tahun. Diperlukan serangkaian test agar disleksia dan beberapa gangguan permasalahan belajar lainnya dapat ditentukan secara tepat.

Anak dengan permasalahan disleksia juga menunjukkan kesulitan dalam mencontoh tulisan di papan tulis atau dalam menyalin tulisan dari dalam buku, beberapa diantaranya juga sulit dalam mengambil peran dalam olahraga atau bermain. Mereka kesulitan dalam menentukan perannya —sesuatu hal yang mesti dilakukan dalam bermain. Anak dengan disleksia juga kesulitan dalam mengikuti irama musik.

Beberapa anak dengan permasalahan disleksia ini kadang mengalami permasalahan dengan pendengarannya. Diperlukan test untuk mendiagnosa adanya gangguan pendengaran seperti Test of Auditory Perception (TAPS).  Gangguan pada pendengaran akan membuat anak kesulitan dalam mengingat atau memahami apa yang didengarnya. Kadang anak juga “tertinggal” mendengar sesuatunya sehingga kedengaran baginya sangat aneh atau lucu. Akibatnya anak meniru kata-kata itu dengan lafal yang berbeda pula.

 

SIMTOM

Disleksia merupakan gangguan yang sulit untuk diagnosa secara kasat mata, para ahli melakukan pelbagai cara untuk mendiagnosa permasalahan ini. Mulai dilakukan test kemampuan membaca dengan tingkat level berbeda sampai pada test IQ. Test membaca diharapkan gangguan disleksia dapat terungkap dengan beberapa aspek yang diuji. Test juga dimaksudkan untuk mengukur kemampuan anak mendengar atau menangkap informasi (berupa test pendengaran), menelaah informasi (secara visual) dan dalam mengerjakan perintah-perintah (kinestetika). Kesemua aspek tersebut akan dilihat dari output sang anak dalam merespon test-test yang diberikan; pengucapan (oral), melakukan sesuatu dengan tangannya dan bagaimana fungsi sistem sensorik bekerja yang saling mempengaruhi (modalitas).

Beberapa alat test yang sering digunakan dalam mendiagnosa disleksia, misalnya dengan menggunakan alat test khusus seperti; Beery Developmental Test of Visual-Motor Integration, Wechsler Intelligence Scale for Children-Third Edition (WISC-III), Kaufman Assessment Battery for Children (KABC), Stanford-Binet Intelligence Scale, Woodcock-Johnson Psycho-Educational Battery, Peabody Individual  Achievement Tests-Revised (PIAT), Wechsler Individual Achievement Tests (WIAT) dan sebagainya.

 Beberapa simtom yang menunjukkan adanya tanda-tanda disleksia secara umum;

  • Membaca agak lambat dan cenderung terhenti karena kesulitan membaca atau mengeja atau melafalkan suatu kata
  • Kesulitan dalam membedakan huruf-huruf tertentu
  • Kesulitan dalam mendengar percakapan atau mendengar bacaan
  • Masalah dalam mengeja
  • Kemungkinan adanya kesulitan menulis juga
  • Kesulitan dalam mengulang kata-kata baru atau sukar
  • Kesulitan dalam mengarang
  • Kesulitan dalam mengerti akan perintah-perintah
  • Kemungkinan adanya kesulitan dalam memahami persoalan matematika
  • Kesulitan dalam memahami fungsi kata bantu seperti yang, akan dan sebagainya
  • Kesulitan dalam membedakan antara kiri dan kanan

Disleksia kadang tidak terdeteksi pada masa anak menjelang usia prasekolah, beberapa diantaranya mulai terindikasi adanya permasalahan disleksi ketika memasuki sekolah ketika anak mulai mempelajari cara mengeja, membaca, atau berhitung.

Meskipun tanda-tanda adanya disleksia ditemukan pada siswa, guru kelas tidak boleh melakukan diagnosa dan mengambil langkah-langkah sendiri dalam melakukan treatment, adanya gangguan disleksia hanya boleh didiagnosa (assessment) oleh tenaga psikologi atau tenaga kesehatan profesional.

 

Faktor Penyebab

Disleksia erat kaitannya dengan trauma kepala atau luka yang disebabkan pada bagian area otak yang mengontrol kemampuan belajar terutama membaca atau menulis. Namun demikian, trauma kepala ini sangat jarang ditemukan sebagai penyebab utama pada anak disleksia.

Penyebab lainnya adalah kerusakan otak bagian kiri (cerebral cortex) yang mengakibatkan anak kesulitan membaca dengan lancar seperti orang dewasa. Disleksia juga dapat diturunkan melalui gen (hereditas) sebagai salah satu faktor penyebab kemunculan disleksia bawaan. Faktor hereditas ini lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki dibanding anak perempuan.

Disleksia juga ditemukan pada anak yang mengalami kelahiran primatur. Kelainan hormonal pada masa perkembangan fetal (bayi) pada masa kandungan awal (tiga bulan pertama) juga dapat mengakibatkan kemungkinan adanya gangguan disleksia dikemudian hari.

Beberapa anak disleksis ditemukan kerusakan pada bagian otak tertentu yang berhubungan dengan fungsi penglihatan dan pendengaran, gangguan ini kadang juga berkaitan dengan gangguan disgrafia, yakni gangguan dalam menulis seperti kesulitan dalam menggenggam pensil atau menggambar sesuatu diatas kertas.

 

TREATMENT

Penanganan anak-anak dileksis memerlukan treatment khusus, idealnya dalam sebuah sekolah memiliki tenaga psikologi atau tenaga kesehatan professional, sehingga anak-anak dileksis dapat ditangani secara khusus. Orangtua perlu dilibatkan dalam setiap penanganan yang dilakukan.

Test-test yang diberikan perlu persetujuan orangtua dengan demikian orangtua di rumah juga ikut berperan selama proses penyembuhan. Test yang diberikan pada anak kadang dapat membuat anak menjadi stress oleh karena itu diperlukan suasana yang dapat menciptakan anak merasa senang dengan test-test yang diajukan. Tenaga ahli akan memperhatikan suasana mood anak dengan evaluasi ketat agar anak tidak menjadi tertekan karena test-test yang melelahkan.

Langkah yang diambil oleh pihak sekolah adalah membuat kelas khusus untuk anak dileksis, strategi ini diluar kelas regular merupakan langkah terbaik dibandingkan mereka harus belajar normal bersama siswa yang lain. Biasanya anak-anak dileksis ditangani selama 1 tahun secara efektif.

Anak dileksis membutuhkan dukungan dari lingkungan sekitarnya, termasuk anggota keluarga. Dukungan ini sangat berarti bagi anak untuk melawan disleksia. Peran orangtua dengan menyediakan buku bacaan dirumah akan membantu anak dalam membangun rasa percaya dirinya. Dukungan (supportive) juga dapat membantu anak berhasil dalam bidang lainnya seperti olahraga, hobi, dan kesenian.

Sebelum memulai treatment diperlukan evaluasi secara mendalam untuk mengetahui permasalah spesifik pada anak. Meskipun banyak teori yang menjelaskan mengenai disleksi, namun tidak dapat digunakan satu cara saja untuk treatmen. Tenaga kesehatan dan psikolog juga harus melibatkan pihak sekolah dan orangtua selama proses penanganan. Para ahli akan menyusun rancangan treatment untuk dengan melibatkan beberapa aspek membaca dengan melibatkan pendengaran, penglihatan, berbicara dan melakukan sesuatu (multisensory). Beberapa project penanganan untuk anak-anak disleksia; Metode Slingerland, metode Orton-Gillingham, atau Project READ

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar

Artikel Lainnya

Fetishisme Transvestik – Paraphilia

06 Sep 2013 pikirdong

Transvestitism, atau fetishisme transvestik adalah penyimpangan seksual yang dialami oleh individu heteroseksual (pada pria) untuk…

Memberi Support pada Anak Gangguan Autis

04 Sep 2013 pikirdong

Saat ini diperkirakan sekitar 35 juta anak di dunia mengalami gangguan autisme, angka ini meningkat…

Distimia

06 Sep 2013 pikirdong

Distimia (dysthymia disorder) juga dikenal dengan sebutan neorosis depresi, distimik depresi atau depresi kronis. Distimia…

Masalah lagi… Masalah lagi…

08 Sep 2013 Laily Hidayati

Aduh…! Pusing banget nich. Lagi banyak masalah”, atau “Kenapa sich masalah selalu dateng hampirin aku!”,…

Post Partum Blues

07 Sep 2013 pikirdong

Post Partum Blues merupakan problem psikis sesudah melahirkan seperti kemunculan kecemasan, labilitas perasaan dan depresi…

Panic Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Panic disorder (gangguan panik) merupakan panik yang terjadi secara tiba-tiba tanpa ada tanda-tanda kemunculannya seperti…

Mencintai Pria Beristri?

10 Sep 2013 Sayed Muhammad

Banyak remaja atau gadis yang belum menikah jatuh cinta dengan pria yang telah beristri. Bagi…

Antisocial Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian antisosial (Antisocial Personal Disorder) secara klinis merupakan gangguan karakter kronis seperti sifat menipu,…

Interaksi Guru Dalam Proses Belajar Siswa

10 Sep 2013 Sayed Muhammad

Saat Anda berdiri dalam kelas dan memulai bercerita kepada murid-murid Anda tentang mata pelajaran, tentunya…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

19 Dec 2016 pikirdong

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam…

Ketika Si Anak Memilih Jalannya Sendiri

28 Apr 2018 Fuad Nashori

Orangtua berupaya agar anaknya memilih jalan yang terbaik yang menjamin masa depannya. Tugas orangtua yang…

Mencapai Puncak Prestasi dengan Meningkatkan Kualitas Tidur dan…

09 Sep 2013 Fuad Nashori

Dalam sejarah peradaban Islam dan peradaban Barat ada orang yang sangat brilian. Mereka adalah Ibnu…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

Muslim yang Ketakutan

Ada rasa takut, khawatir saat mau nge-share tulisan ulama yang dicap radikal. Takut dianggap pro HTI, pro FPI, ekstrim, radikal,…

30 May 2018 Khairrubi Kolom Ruby Kay No comments

Mendidik Anak dengan Sepenuh Hati

Mendidik atau mengasuh anak dengan sepenuh hati itu artinya mendidik anak dengan pendidikan Islam. Hanya dengan pendidikan Islam saja orangtua…

23 May 2018 Artikel Keluarga Psikologi Islami Irwan Nuryana Kurniawan Comments (1)

Biar Anak Rajin Ke Masjid

Saya dan istri saya ingin semua anak rajin ke masjid. Yang kami tahu adalah nanti yang mendapat naungan dari terik…

29 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Ketika Si Anak Memilih Jalannya Sendiri

Orangtua berupaya agar anaknya memilih jalan yang terbaik yang menjamin masa depannya. Tugas orangtua yang pertama tentu adalah mengarahkan. Dulu…

28 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Mendidik Anak Mandiri

Salah satu tugas orangtua adalah melatih anaknya menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang mandiri adalah pribadi yang memiliki inisiatif untuk…

27 Apr 2018 Artikel Keluarga Fuad Nashori No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014