TwitterFacebookGoogle+

Edisi Ibukota : AQ dan Jakarta Harapanku

Salam Tarzan Kota!

Berkelana sampai ke Tanjung Priok selama 2 minggu ini memberi kesan tersendiri bagi saya. Perjalanan setiap hari kerja selama 2,5 jam bahkan 3,5 jam bila di hari Jum’at ini,  sungguh melatih fisik, mental, perasaan hingga perilaku saya untuk menyesuaikan dengan segala yang saya temui di luar sana. Salah satunya yang saya angkat sebagai judul catatan ini.

”Jakarta Harapanku” adalah  tema HUT kota Jakarta ke-485 yang sedang bersibuk mempersiapkan pemilihan pemimpin baru di kota yang dulu diberi nama Jayakarta yang berarti ”Kemenangan Yang Besar”. Saya terkesan dengan tema ini, menurut faisal basri tema ini diambil mengingat dari dulu sampai sekarang, Jakarta selalu menjadi harapan banyak masyarakat dan selalu menjadi tolok ukur berbagai kemajuan bagi daerah lain di seluruh Indonesia. Memangnya apa itu harapan? Bagaimanakah cara mewujudkan harapan? Apa hubungannya dengan AQ? Saya semakin tergugah manakala rekan saya memutarkan lagu Slank di tengah kepusingannya bergulat menyusun Rencana Program Pembelajaran,”Jakarta pagi ini…” yang lalu saya sahuti dengan lagu,”Siapa suruh datang Jakarta….”, hehehe….

Harapan adalah keseluruhan dari kemampuan yang dimiliki individu untuk menghasilkan jalur mencapai tujuan yang diinginkan, bersamaan dengan motivasi yang dimiliki untuk menggunakan jalur-jalur tersebut. Snyder, Irving, & Anderson (dalam Snyder, 2002) menyatakan harapan adalah keadaan termotivasi yang positif didasarkan pada hubungan interaktif antara agency (energi yang mengarah pada tujuan) dan pathway (rencana untuk mencapai tujuan), harapan merupakan keseluruhan dari kedua komponen tersebut. Berdasarkan konsep ini, harapan akan menjadi lebih kuat jika harapan ini disertai dengan adanya tujuan yang bernilai yang memiliki kemungkinan untuk dapat dicapai, bukan sesuatu yang mustahil dicapai.

Teori harapan juga menekankan peran dari hambatan, stressor, dan emosi. Ketika menjumpai hambatan yang menghalangi pencapaian tujuan, individu menilai kondisi tersebut sebagai sumber stres. Berdasarkan postulat teori harapan, emosi positif dihasilkan dari persepsi mengenai keberhasilan pencapaian tujuan. Sebaliknya emosi negatif mencerminkan kegagalan pencapaian tujuan, baik yang mengalami hambatan ataupun tidak mengalami hambatan. Oleh karena itu, persepsi mengenai keberhasilan pencapaian tujuan akan mendorong munculnya emosi positif dan negatif kemudian emosi ini bertindak sebagai reinforcing feedback.

Harapan (H) merupakan unsur terpenting sebuah motivasi. Ketika H bernilai 0 maka motivasi pun juga bernilai 0. Sementara risiko dan ketidakpastian akan saling berinteraksi yang menimbulkan beberapa kondisi, antara lain: ketidakpastian yang memuncak akan menjelma menjadi risiko dan berubah menjadi penghambat motivasi. Selain itu, bila tak ada risiko secara otomatis akan berakibat pada tidak adanya ketidakpastian (Riyono).

Bagi banyak orang, sukses berarti bahagia dan puas, semuanya ini tercapai jika harapan sesuai dengan kenyataan. Setiap orang tentu memiliki harapan yang berbeda-beda dalam hidupnya, juga standar sukses mereka masing-masing. Namun apapun derajat kesuksesan yang dicita-citakan, orang sukses cenderung menetapkan tujuan. Tujuan itu yang memberikan tantangan berarti namun realistis dari apa yang kita inginkan atau butuhkan, dan tujuan itu membawa kita dari tempat kita sekarang ke tempat yang kita inginkan dalam masa depan jangka panjang atau bahkan jangka pendek. Namun, tujuan yang ditetapkan hanya bisa efektif jika kita tahu apa yang kita inginkan dari kehidupan dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk meraihnya.

Kadangkala perlu fleksibilitas yang cukup untuk mengubah apa yang kita lakukan sekarang untuk meraih tujuan yang ditetapkan. Untuk itu kita perlu berada dalam keseimbangan, kapan harus teguh memegang prinsip dan kapan harus fleksibel menghadapi kondisi. Penting untuk melihat kemunduran secara positif dan belajar darinya untuk segera mengubah keadaan yang merugikan menjadi keadaan yang menguntungkan dan kembali memegang kendali. Setiap tantangan yang kita hadapi seharusnya membuat kita lebih kuat secara mental dan setiap kemunduran membuat kita lebih bertekad untuk sukses. Kata kunci jalan menuju sukses adalah ketekunan. Banyak orang sukses telah mengalahkan beberapa rintangan sebelum mencapai cita-cita mereka.

Paul Stoltz memperkenalkan bentuk kecerdasan yang disebut Adversity Quotient (AQ). Menurutnya, AQ adalah bentuk kecerdasan selain IQ, SQ, dan EQ yang ditujukan untuk mengatasi kesulitan. AQ dapat digunakan untuk menilai sejauh mana seseorang ketika menghadapi masalah rumit. Dengan kata lain, AQ dapat digunakan sebagai indikator bagaimana seseorang dapat keluar dari kondisi yang penuh tantangan. Ada tiga kemungkinan yang terjadi yakni ada yang menjadi pemenang, mundur di tengah jalan, dan ada yang tidak mau menerima tantangan dalam menghadapi masalah rumit tersebut. Katakanlah dengan AQ dapat dianalisis seberapa jauh kita mampu mengubah tantangan menjadi peluang.

Ada tiga golongan orang ketika dihadapkan pada suatu tantangan pendakian gunung. Yang pertama yang mudah menyerah (quiter) yakni dianalogikan sebagai  orang yang sekedarnya bekerja dan hidup. Mereka tidak tahan pada serba yang berisi tantangan. Mudah putus asa dan menarik diri di tengah jalan. Golongan yang kedua (camper) bersifat banyak perhitungan. Walaupun punya keberanian menghadapi tantangan namun dengan selalu mempertimbangkan resiko yang akan dihadapi. Golongan ini tidak ngotot untuk menyelesaikan pekerjaan karena berpendapat sesuatu yang secara terukur akan mengalami resiko. Sementara golongan ketiga (climber) adalah mereka yang ulet dengan segala resiko yang bakal dihadapinya dan mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Mottonya, ”Pantang turun sebelum tercapai puncak idaman!”.

Bila kelak dalam harapan, cita-cita dan tujuan hidup kita menemui masalah, pandanglah masalah tersebut sebagai tantangan yang harus diatasi, kesempatan yang harus direbut. Dengan mempersiapkan diri menghadapi masalah kita akan lebih siap menghadapi masalah yang sebenarnya ketika masalah tersebut benar-benar muncul. Untuk mewujudkan tantangan berdasarkan dari apa yang kita kaji berkaitan dengan sikap berpikir, berdoa, berbuat dan berusaha. Disinilah perlunya kita memiliki keterampilan mengelola apa yang ada di luar dengan akalnya (IQ, sistematik-rasional), mengendalikan apa yang ada di dalam perasaannya (EQ, kontrol diri-hati-hati-disiplin) dan memaknai semuanya itu dengan spiritualitasnya (SQ, sabar-syukur) lalu menumbuhkan ketangguhan dalam menghadapi kesulitan (AQ, tekun-pantang menyerah) untuk mencapai kesempurnaan. Bukankah manusia tidak akan dicoba melebihi kekuatan yang telah diberikan Tuhan kepadanya?

Ayo, Raihlah Kemenangan Dirimu!

 

Ini buku-buku yang menginspirasi catatan ini :

Yazdi, M.T Mishbah. 2006.Jagad Diri. AlHuda.

Carter, Philip. 2010. Soft Competencies:Self Test. PPM Manajemen.

Sutanto, Jusuf. 2010. T’AI CHI: The Great Harmony. PT Kompas Media Nusantara.

Tinambunan, Djapiter. 2008. Manajemen Jati Diri. Elex Media Komputindo.

Covey, Sean. 2001. The 7 Habits of Highly Effective Teens. Binarupa Aksara.

Harefa, Andrias. 2005. Agenda Refleksi dan Tindakan. PT Gramedia Pustaka Utama.

Shorey, H.S., Snyder, C.R., Rand, K.L., Hockemeyer, J.R., & Feldman, D.B. (2002). Somewhere Over the Rainbow: Hope Theory Weathers Its First Decade. Psychological Inquiry, 13 (4), 322-331.

kolom-candra

candrawatiCandrawati Wijaya adalah alumni FPSB Psikologi UII angkatan 2006. Lahir pada tanggal 31 Mei 1989 di Bogor. Sekarang bekerja di Indomobil Learning and Development Centre sebagai HRD dan Trainer “Manajemen Jati Diri”

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar

Artikel Lainnya

Edisi Ibukota : Tas Tas Integritas!!

15 Sep 2013 Candrawati Wijaya

Salam Tarzan Kota! Sudah sampai manakah Tarzan-Tarzan kota menjelajah?? Harapan saya, kita tetap akan bertemu di…

Narcissistic Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau gangguan kepribadian narsisistik merupakan gangguan mental dimana individu merasa dirinya…

Obsessive Compulsive Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif (Obsessive Compulsive Personality Disorder; OCPD) adalah suatu kondisi karakter dengan gangguan kronis…

Fetishisme – Paraphilia

06 Sep 2013 pikirdong

Fetishisme menggambarkan bentuk penyimpangan seksual dimana individu dalam melakukan aktivitas seksual melibatkan barang-barang tertentu. Bila…

Menghindar Burnout di Tempat Kerja

08 Sep 2013 pikirdong

Istilah burnout secara psikologis pada awalnya digunakan oleh Freudenberger meminjam istilah yang pada awalnya…

Menopause

09 Sep 2013 pikirdong

Menopause merupakan proses biologis yang alami terjadi pada wanita pada usia 40-60 tahun (pada umumnya…

Katakan Saja Tidak!

29 Oct 2015 Sayed Muhammad

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar untuk mengatakan "tidak" yang memang kita…

Agresivitas dalam Pendidikan: Masalah dan Solusinya

09 Sep 2013 Fuad Nashori

Dalam konteks ke-Indonesiaan saat ini, apa yang dilihat oleh warga negara Indonesia melalui media massa…

Memberi Nama yang Baik Untuk Anak Kita

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Salah satu hak anak adalah mempunyai nama yang baik. Hak ini merupakan tanggung jawab orangtua…

Edisi Ibukota : Sikap "Inilah Waktunya!"

04 Sep 2013 Candrawati Wijaya

Salam Tarzan Kota!  Seberapa sering hal ini terjadi pada diri kita : Anda duduk dalam pertemuan staf…

Kompetensi Interpersonal Mahasiswa Ditinjau dari Jenis Kelamin

06 Sep 2013 Fuad Nashori

ABSTRACT Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kompetensi interpersonal antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan. Hipotesis…

Pedofillia – Paraphilia

06 Sep 2013 pikirdong

Hal yang paling meresahkan dunia saat ini adalah meningkatnya kasus pedofillia secara merata di seluruh…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

Muslim yang Ketakutan

Ada rasa takut, khawatir saat mau nge-share tulisan ulama yang dicap radikal. Takut dianggap pro HTI, pro FPI, ekstrim, radikal,…

30 May 2018 Khairrubi Kolom Ruby Kay No comments

Mendidik Anak dengan Sepenuh Hati

Mendidik atau mengasuh anak dengan sepenuh hati itu artinya mendidik anak dengan pendidikan Islam. Hanya dengan pendidikan Islam saja orangtua…

23 May 2018 Artikel Keluarga Psikologi Islami Irwan Nuryana Kurniawan No comments

Biar Anak Rajin Ke Masjid

Saya dan istri saya ingin semua anak rajin ke masjid. Yang kami tahu adalah nanti yang mendapat naungan dari terik…

29 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Ketika Si Anak Memilih Jalannya Sendiri

Orangtua berupaya agar anaknya memilih jalan yang terbaik yang menjamin masa depannya. Tugas orangtua yang pertama tentu adalah mengarahkan. Dulu…

28 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Mendidik Anak Mandiri

Salah satu tugas orangtua adalah melatih anaknya menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang mandiri adalah pribadi yang memiliki inisiatif untuk…

27 Apr 2018 Artikel Keluarga Fuad Nashori No comments

Teman Berselingkuh

Suatu hari ketika Anda sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, Anda melihat teman sekantor Anda sedang berjalan mesra dengan seseorang yang…

27 Feb 2018 Obrolan pikirdong Comments (3)

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014