DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic…

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa…

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Edisi Ibukota : Sikap “Inilah Waktunya!”

Salam Tarzan Kota! 

Seberapa sering hal ini terjadi pada diri kita :

Anda duduk dalam pertemuan staf atau ruang kuliah, memandang ke luar jendela – ke langit-langit- atau bahkan menerobos whiteboard.. dan bisikan-bisikan di kepala anda mengatakan sesuatu seperti, ”Bukan seperti ini. Aku lebih baik mengerjakan yang lain daripada duduk di tempat ini, sekarang.”

 

Kita semua mempunyai bisikan semacam ini. Dan kitalah ahlinya dalam menginginkan untuk berbuat sesuatu yang lain atau berada di tempat lain daripada tempat kita berada saat ini. Kitalah ahlinya dalam mengatakan ”hal-hal” bukan ini, bukan sekarang, coba ini, coba sekarang…..

Ketika kita di SD, apakah pernah berpikir ”Coba aku udah SMP, coba aku udah gede”. Lalu di SMP, apakah anda berpikir ”Pengen cepet-cepet pake seragam putih abu-abu”. Banyak orang mengenang bahwa mereka mengalami hal ini. Ketika akhirnya mereka masuk SMA, mereka merasa bahwa menjadi anak baru di SMA itu jelas-jelas bukan ”inilah waktunya”. Kemudian, mereka memutuskan bahwa menjadi senior akan berarti ”inilah waktunya”. Sebagai senior, mereka menemukan bahwa yang benar-benar ”waktunya” adalah ketika masuk universitas. Lalu di universitas, mereka berpikir, setelah terjun ke dunia nyata, barulah ”inilah waktunya”. Ketika akhirnya mereka terjun ke dunia nyata, mereka senang mengenang hari-hari mereka saat sekolah dulu dan berpikir, ”saat itulah waktunya”.

Jika kita seperti orang-orang ini, segera kita akan mengisi hidup kita dengan mengatakan ”bukan ini”. Apakah akibatnya jika kita berpikir seperti ini? Yah, ini berakibat pada kualitas hidup kita. Pikirlah berapa banyak waktu yang terbuang karena pikiran kita tidak berpusat pada tugas yang sedang kita kerjakan, baik kita sedang berada dalam suatu pertemuan dan berharap berada di rumah untuk sesutu yang lain atau sedang bersantai di rumah sambil merasa bersalah karena tumpukan pekerjaan di meja kantor. Bisikan di kepala kita yang menjauhkan kita dari kehidupan sekarang adalah bisikan ego, bagian dari diri kita yang cenderung pada kesenangan dan kenyamanan. Tetapi, pasti ada nilai dalam ketidaksenangan dan ketidaknyamanan. Untuk satu hal, ini akan membuat pikiran kita bergerak menjadi lebih aktif. Dan untuk hal lainnya, ini melebarkan zona kenyamanan kita untuk mengikutsertakan serangkaian pengalaman yang lebih luas lagi.

Ketika kita sedang berada dalam suatu pertemuan yang membosankan, pikirkanlah betapa sangat bernilainya bila kita dapat memanfaatkannya, bila pikiran kita terpusat, menjadi tertarik, dan ikut serta dalam diskusi, kita sendiri akan heran dengan hasilnya! Demikian juga, ketika kita sedang bersantai, melakukan hobi kita, bayangkan betapa kita akan lebih menikmatinya jika kita benar-benar santai, daripada memikirkan tumpukan tugas di meja.

Saya baru lulus dari jurusan Psikologi di salah satu Universitas di Jogja ketika diterima bergabung di salah satu perusahaan otomotif besar di negara ini. Saya menyadari betul tantangannya, saya tidak pernah suka kota besar dengan hiruk pikuknya, saya tidak suka kerja kaku dan monoton di kantoran, saya sudah nyaman bekerja dengan hati senang riang gembira bersama masyarakat dan anak-anak di desa, bebas berekspresi dan berkreasi, ditambah penghasilan yang bisa saya gunakan untuk menabung dan beramal. Namun, dengan penuh semangat saya menerima tawaran itu karena saya berpikir bahwa saya akan segera mendapat kesempatan untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama kuliah ditambah orang tua yang ikut memberikan dukungan dan bekal wejangannya, maka Bismihi ta’ala berangkatlah saya..

Namun, setelah beberapa minggu bekerja, dengan cepat saya menyadari bahwa pekerjaan yang diberikan kepada saya berurusan dengan administratif bahkan sangat  procurement daripada sebagai HR. Okelah dengan sedikit usaha, saya diberi kesempatan untuk ikut dalam perekrutan, penempatan, membuat peraturan dan konsep bidang  psikologi dari proyek besar pembuatan training & development centre perusahaan besar ini. Kemudian saya juga diberi kepercayaan untuk memberikan coaching and counseling selama proses pendidikan serta membuat materi dan mengajar satu mata kuliah. Saya merasa over lapping, dan aduh.. saya bahkan tidak suka apalagi ahli dalam bidang procurement, bagaimana ini? Dengan perasaan agak tertipu dan kecewa, saya terus meminta penjelasan dan mengejar orang yang seharusnya bertanggung jawab terhadap hal ini. Bukan hanya sekali saya berpikir untuk berhenti dan mencari pekerjaan lain yang ”sesuai”, tapi saya teringat orang tua saya. Tidak ada yang bisa memberikan tanggung jawabnya kepada masalah yang saya hadapi, selain dukungan dari teman-teman yang merasa senasib di tengah manajemen yang tidak kami mengerti. Kami mencoba survive dan saling support untuk menjaga amanah di tengah berbagai masalah yang muncul. Sampai weekend kemarin saya mencoba bermunajat padaNya, berdiam diri di kamar untuk merenung. Dalam mimpi, saya mendapat jawaban yang mengejutkan…

”Dengar, saya mengetahui bahwa anda belajar untuk menjadi seorang psikolog,” kata sosok itu. ”dan anda berpikir ini tak seharusnya, ini bukan ranah anda. Tetapi dengan tugas administratif dan procurement yang juga anda kerjakan sekarang, anda akan mengetahui bagaimana sebuah training & development centre dapat berdiri, dan apa yang bisa anda harapkan dari bidang-bidang lain untuk mendukung terlaksananya sebuah training. Ini akan membuat anda menjadi psikolog pendidikan yang bernilai nantinya”.

Orang-orang itu masih belum bisa bertanggung jawab, tapi saya yang akan mempertanggung jawabkan keputusan saya juga kualitas kehidupan saya ke depan. Maka saya pun memilih mengambil kesempatan untuk, ”Inilah waktunya!”, toh saya punya team yang walaupun sama-sama berada dalam keadaan yang tak menentu tapi masih bisa tertawa dan saling menguatkan.  Dan, Hey!! saya punya cita-cita untuk memiliki sekolah saya sendiri, dan inilah lahan belajar saya. Allah pasti menuntun kami semua…

Lain kali, jika kita merasa, ”ini bukan waktunya”, mari kita mencoba ini: Katakan pada diri kita: ”Inilah waktunya!”. Ucapkan keras-keras, dengan penuh keyakinan! Lakukanlah kegiatan-kegiatan, seperti mencuci piring, bersih-bersih, jalan-jalan, atau membaca. Hidupkanlah benar-benar saat itu, dan temukan manfaat dalam apapun yang sedang kita lakukan. Cobalah untuk efisien dan sempurna dengan mencurahkan segala sesuatu yang kita ketahui untuk mengerjakan pekerjaan ini lebih baik daripada yang kita lakukan sebelumnya.  

Jika kita dapat mempelajari bagaimana menciptakan suasana yang paling mendukung, berarti kita telah mengetahui cara membawa diri kita ke dalam kerangka pikiran yang ideal, tanggap terhadap detail, merasa positif, dan mempunyai keteguhan untuk melakukan yang terbaik. Sikap positif yang kita bangun dengan upaya sederhana ini akan mulai merasuki setiap bidang kehidupan kita, dari pertemuan-pertemuan singkat yang sederhana hingga proyek besar rumit yang tadinya tak ingin kita lakukan. Dan sebagai manfaat tambahan, kita juga akan lebih menikmati waktu luang kita.

Kini sambil meneruskan ibadah puasa kita di bulan berkah, Ramadhan. Katakanlah, ”Inilah Waktunya!!” Kita akan mendapatkan segala yang dapat kita peroleh dari kehidupan sebagai proses dari gerak menyempurna menuju tujuan kita yang abadi, Sang Wujud, semoga

kolom-candra

 

candrawatiCandrawati Wijaya adalah alumni FPSB Psikologi UII angkatan 2006. Lahir pada tanggal 31 Mei 1989 di Bogor. Sekarang bekerja di Indomobil Learning and Development Centre sebagai HRD dan Trainer “Manajemen Jati Diri”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Emosi

08 Sep 2013 pikirdong

Emosi adalah gejolak yang ada pada organisme yang disertai oleh respon terhadap suatu rangsang, di…

5 Kalimat yang Dapat Merusak Cinta Anda

07 Sep 2013 pikirdong

Di dalam menjalin hubungan interpersonal yang mendalam, kadang beberapa orang menggunakan kalimat-kalimat yang dapat membangkitkan…

Pacaran, Adakah Pengaruh Buruknya?

08 Sep 2013 Fira Friantini

Pacaran adalah kata yang tidak asing lagi di pendengaran kita. Apalagi di kalangan remaja. Istilah…

Alkohol dan Pengaruhnya

10 Sep 2013 pikirdong

Kebanyakan orang mengkonsumsi alkohol sebagai akibat tekanan sosial disekelilingnya, misalnya pada anak laki-laki dianggap sebagai…

Salah Kaprah tentang HAM

05 Oct 2016 Bagus Riyono

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak dan menyentuh hampir semua aspek kehidupan…

Commitment Phobia

06 Sep 2013 pikirdong

Commitment phobia merupakan bentuk suatu ketakutan (fear) untuk menjalin suatu hubungan yang lebih erat, rasa…

Agresivitas dalam Pendidikan: Masalah dan Solusinya

09 Sep 2013 Fuad Nashori

Dalam konteks ke-Indonesiaan saat ini, apa yang dilihat oleh warga negara Indonesia melalui media massa…

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice…

13 Jul 2017 Sayed Muhammad

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting…

Edisi Ibukota: Gairah Bercita

04 Sep 2013 Candrawati Wijaya

Dalam sebuah sesi wawancara kerja, seorang pimpinan bertanya pada saya. " Apa sih sebenernya passion kamu?…

Gangguan Delusi

04 Sep 2013 pikirdong

Gangguan delusi merupakan suatu kondisi dimana pikiran terdiri dari satu atau lebih delusi. ―Delusi diartikan…

Terjebak Penyalahgunaan Narkoba

09 Sep 2013 pikirdong

Beberapa faktor kondisional yang mempengaruhi individu untuk menggunakan narkoba dan terjebak di dalam lingkaran setan…

Kekerasan Terhadap Anak

08 Sep 2013 Sayed Muhammad

Kekerasan terhadap anak (child abusive) terjadi dalam pelbagai kultur, etnis atau kelompok masyarakat. Kekerasan dapat…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders yang ke V terjadi perubahan…

30 Aug 2017 Artikel Psikologi Psikologi Klinis pikirdong No comments

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa tubuh membutuhkan dokter dan bila diperlukan juga, diambil langkah untuk rawat…

24 Aug 2017 Kolom Sayed Muhammad Sayed Muhammad No comments

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014