Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

Reformasi Sistem Pendidikan Finlandia Menjadikan Mereka yang Terbaik di Dunia

Reformasi besar-besaran dalam dunia pendidikan di Finlandia telah dimulai…

Perlu Tidak Ulang Tahun Anak Dirayakan?

Anak mulai mengerti kebiasaan perayaan ulang tahun pada usia…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Efek Perceraian pada Anak

Perceraian merupakan mimpi buruk setiap pasangan menikah, namun kenyataan perceraian merupakan pilihan terbaik yang diambil oleh setiap pasangan bila harmonisasi perkawinan terganggu tanpa bisa diperbaiki kembali. Data statistik menunjukkan angka perceraian di Indonesia beberapa tahun terakhir ini terus meningkat tajam, pada tahun 2009 tercatat 216.286 kasus perceraian, tahun 2010 meningkat mencapai 285.184 kasus, tahun 2011 diperkirakan telah mencapai 320.000 kasus seperti yang disebutkan sebuah harian. Bila perceraian menjadi suatu pilihan yang diambil, bagaimana dampak terhadap anak setelah pasca perceraian tersebut?

sponsor1Penelitian menunjukkan perceraian memberikan dampak buruk berupa gangguan perilaku dan emosional yang tampak pada semua kelompok usia. Pengaruh reaksi anak terhadap perceraian sangat tergantung pada usia anak, biasanya anak pada usia 3 sampai 6 tahun tidak begitu berpengaruh ketika orangtua bercerai pada saat usia mereka berada 3-6 tahun, hal ini disebabkan karena anak belum begitu mengerti sepenuhnya arti perceraian itu sendiri. Anak seumur itu beranggapan bahwa faktor perceraian orangtua mereka disebabkan oleh dirinya.

Anak-anak pada usia tersebut beranggapan bahwa pertengkaran-pertengkaran orangtua mereka yang terjadi dan disaksikan oleh si anak merupakan sebab yang berasal dari dirinya. Oleh karenanya anak seusia tersebut berasumsi bertanggungjawab terhadap perceraian yang terjadi pada orangtuanya.

Beberapa dampak perceraian terhadap perilaku dan emosi pada anak  adalah;

1. Penurunan prestasi pada anak. Dampak ini sangat terlihat pada perceraian orangtuanya pada saat usia anak berada pada 7-12 tahun, baik disadari atau tidak, anak mulai mengalami stres yang mempengaruhi performance di sekolah. Anak sulit berkonsentrasi dan sering termenung di kelas.

2. Beberapa anak remaja akan bersikap sebagai ‘terapis’ untuk berusaha agar perceraian orangtua tidak terjadi, mereka berusaha dalam keadaan tegar dan berpura-pura dirinya dalam keadaan baik-baik saja, padahal mereka sebenarnya dalam keadaan terluka dan marah terhadap perilaku dan keputusan orangtuanya bercerai.

Remaja lainnya juga mengembangkan fantasi mereka bahwa orangtuanya suatu saat akan bersatu kembali, harapan-harapan tersebut selalu ditumbuhkan sehingga anak akan merasa dendam kepada orangtuanya ketika ada “orang baru” muncul dalam keluarganya sebagai pengganti salah satu orangtuanya kelak. Hal inilah yang memunculkan agitasi anak karena harapan dari fantasinya tidak menjadi kenyataan.

3. Trauma psikologis berkepanjangan biasanya terjadi pada kasus perceraian yang terjadi dengan tidak baik-baik. Pertengkaran dan tindakan kekerasan fisik yang terjadi pada rumahtangga kerap menjadi tontonan anak. Tingkat trauma akan berpengaruh kepada anak dikemudian hari, pelbagai penyimpangan perilaku bahkan gangguan kepribadian dapat mulai terbentuk dari awal pertengkaran.

4. Peningkatan perilaku agresi. Anak menyimpan rasa marah dan dendam terhadap situasi yang dialaminya akan melampiaskan dengan perilaku agresi fisik, mulai pada tindakan-tindakan kekerasan sampai pada tahap upaya bunuh diri.

Anak juga akan mencoba melawan terhadap aturan-aturan keluarga yang biasanya berlaku sebelum perceraian terjadi, misalnya anak mulai pulang larut malam, merokok, atau lebih memilih bergabung bersama teman atau kelompoknya dibandingkan menghabiskan waktunya di rumah.

5. Emosi tidak stabil. Anak yang mengalami perceraian akan mengalami banyak ketegangan dalam hidupnya dibandingkan anak normal lainnya. Dalam kesehariannya anak akan mudah merasa cemas dan mudah merasa sedih. Tingkat kecemasan yang tinggi bisa terjadi pada anak dimana orangtua akan melakukan perkawinan dalam waktu dekat. Anak membutuhkan proses adaptasi dengan anggota keluarga yang baru.

Disamping itu ketakutan akan pengalihan kasih sayang juga menjadi ketakutan pada anak, misalnya kelahiran adik tiri akan menimbulkan perasaan terancam akan berkurang perhatian dan kasih sayang terhadap dirinya. Anak akan memunculkan perasaan sedih dan permusuhan terhadap adik tirinya (sibling rivalry)

Diskusi

Meningkatnya angka perceraian di Indonesia apakah akan mempengaruhi kondisi bangsa dikemudian hari?

 

Sumber:
http://www.pikiran-rakyat.com/node/176349
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/01/24/lya2yg-angka-perceraian-pasangan-indonesia-naik-drastis-70-persen

Buku:
Chehrazi S, editor: Psychosocial Issues in Day Care. American Psychiatric Press, Washington, 1990
Kohnstam G A, Bates J E, Rothbart M K, editor: Temperament in Childhood, Wiley, New York, 1976

Penulis

Penulis :ayed

Sayed Muhammad adalah lulusan psikologi Universitas Islam Indonesia, ia adalah perintis dan penulis tetap di website ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Bila Anda Mendapat Tawaran Pemotretan Sensual?

08 Sep 2013 Sayed Muhammad

Gadis-gadis Indonesia bugil mulai bermunculan di internet sekitar tahun 1997. Gambar sensual tersebut bermunculan tidak…

Teknik Relaksasi: Mengurangi Stres

04 Sep 2013 pikirdong

Relaksasi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan sendiri oleh individu untuk mengurangi stres, kekalutan…

Katakan Saja Tidak!

29 Oct 2015 Sayed Muhammad

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar untuk mengatakan "tidak" yang memang kita…

Developmental Milestones: Usia 36 Bulan

14 Oct 2015 pikirdong

Perkembangan Mental Usia 36 Bulan PENGAMATAN PERILAKU Komunikasi Bahasa Menggunakan kalimat dengan sederhana Tingkah laku Berinteraksi dengan orang dewasa dan anak-anak Pekerjaan…

Commitment Phobia

06 Sep 2013 pikirdong

Commitment phobia merupakan bentuk suatu ketakutan (fear) untuk menjalin suatu hubungan yang lebih erat, rasa…

Salah Kaprah tentang HAM

05 Oct 2016 Bagus Riyono

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak dan menyentuh hampir semua aspek kehidupan…

Ketergantungan Komputer dan Internet: Tips dan Treatment

04 Sep 2013 pikirdong

Ketergantungan pada internet dan komputer memberikan dampak buruk dan perilaku baik secara langsung ataupun secara…

Haruskah Menyontek Jadi Budaya?

08 Sep 2013 Fira Friantini

Budaya menyontek sangat identik dengan dunia pendidikan saat ini. Terlebih ketika ujian sedang berlangsung. Tak…

Autism Disorder

05 Sep 2013 pikirdong

Autisme (autism disorder) merupakan gangguan pada sistem syaraf pusat yang berdampak pada gangguan interaksi sosial,…

Memberi Support pada Anak Gangguan Autis

04 Sep 2013 pikirdong

Saat ini diperkirakan sekitar 35 juta anak di dunia mengalami gangguan autisme, angka ini meningkat…

Edisi Ibukota : Tas Tas Integritas!!

15 Sep 2013 Candrawati Wijaya

Salam Tarzan Kota! Sudah sampai manakah Tarzan-Tarzan kota menjelajah?? Harapan saya, kita tetap akan bertemu di…

Kekerasan Terhadap Anak

08 Sep 2013 pikirdong

Kekerasan terhadap anak (child abusive) terjadi dalam pelbagai kultur, etnis atau kelompok masyarakat. Kekerasan dapat…

  • 1
  • 2
  • 3

Kategori Lainnya

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling kita yang kami adakan atas partisipasi teman-teman semua yang rela dan…

03 Sep 2013 Agenda Sosial pikirdong No comments

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak dan menyentuh hampir semua aspek kehidupan kita. Ada hak perempuan, hak…

05 Oct 2016 Artikel Psikologi GIB Psikologi Islami Psikologi Sosial Bagus Riyono Comments (1)

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014