Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

Reformasi Sistem Pendidikan Finlandia Menjadikan Mereka yang Terbaik di Dunia

Reformasi besar-besaran dalam dunia pendidikan di Finlandia telah dimulai…

Perlu Tidak Ulang Tahun Anak Dirayakan?

Anak mulai mengerti kebiasaan perayaan ulang tahun pada usia…

Dispareunia

Pada pria, dispareunia hampir pasti disebabkan oleh penyakit atau…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Euthanasia

Eutanasia (euthanasia) merupakan suatu cara atau tindakan mengakhiri hidup yang dilakukan pada orang sakit atau cidera dengan cara-cara tertentu, dimana individu tersebut dianggap tidak mempunyai kesempatan untuk hidup lagi, dengan alasan belas kasihan (mercy killing).

Eutanasia juga dilakukan pada hewan, biasanya dilakukan dengan alasan untuk mengurangi atau mengakhiri penderitaan yang dideritanya . Eutanasia biasanya dilakukan dengan cara penyuntikan.

Eutanasia berasal dari bahasa Yunani yaitu “eu” (baik) and “thanatos” (mati) yang apabila digabungkan berarti “kematian yang baik”. Kata eutanasia pertama sekali disebutkan oleh Hippocrates, disamping seorang filsuf ia juga dikenal sebagai tabib. Beberapa pasiennya yang meminta untuk dibuatkan ramuan mematikan dengan tujuan mempercepat proses kematian pada pasien yang sekarat. Hal ini membuat Hippocrates bersumpah tidak akan membuat ramuan tersebut sampai kapanpun. Namun demikian praktek eutanasia sebenarnya telah dimulai pada tahun yang sama (kira-kira abad 4 SM), beberapa tempat seperti Yunani dan Roma, eutanasia merupakan tindakan yang dibolehkan secara hukum.

Sampai saat ini eutanasia merupakan polemik, etik dan perdebatan panjang yang tidak pernah terselesaikan, pro-kontra mengenai eutanasia sepertinya tidak akan pernah usai, kecuali beberapa negara yang menyetujui praktek ini, Belanda misalnya.

Di Amerika Serikat dikenal adanya beberapa organisasi yang menentang eutanasia yang dibantu oleh dokter; American Medical Association dan The New York State Committee on Bioethical Issues telah menentang praktek eutanasia secara bertahun-tahun, bagi mereka praktek bunuh diri atas permintaan pasien maupun keluarga tidak boleh dilakukan, tindakan ini sama halnya dengan melakukan pembunuhan. Organisasi ini menekankan penting dilakukan pengobatan secara terus-menerus untuk mempertahankan hidup pasien (life-sustaining treatment).

Bagi beberapa orang yang mendukung eutanasia beranggapan bahwa cara eutanasia lebih manusiawi dibandingkan melihat pasien kesakitan (sekarat) dalam waktu yang panjang, eutanasia dianggap sebagai satu-satunya cara “mempermudah” dan mempersingkat rasa sakit tersebut. Mereka beranggapan bahwa rasa sakit yang diderita secara berkepanjangan yang telah diidap pasien, maka eutanasia dilakukan untuk mengakhiri atau mengurangi penderitaan itu dengan cara mengakhiri hidup pasien yang lebih baik dibanding melihat pasien kesakitan (sekarat)

Pada jaman modern, isu awal perdebatan mengenai eutanasia sendiri secara terbuka mencuat di Journal of the American Medical Association pada tahun 1988, dimana jurnal tersebut membahas kematian pasien yang bernama Debbie yang sekarat mengidap kanker ovarium, dalam kasus tersebut seorang dokter yang tidak disebut identitasnya telah menyuntik morfin dalam dosis yang mematikan. Alasannya karena merasa iba melihat Debbie sekarat karena penyakitnya.

Kasus tersebut memicu New England Journal of Medicine setahun kemudian untuk mempublikasikan pernyataan beberapa dokter bahwa tindakan eutanasia bukanlah tindakan tidak bermoral bila dokter melakukan cara-cara yang perlu untuk mengakhiri hidup pasien yang sakit (sekarat) dan tidak mempunyai harapan untuk hidup lagi.

Tahun-tahun berikutnya beberapa laporan lain mulai membuka diri, seperti terprovokasi, eutanasia menjadi pembicaraan mendalam pada masyarakat dunia, media massa berperan serta dalam menyebarkan isu-isu eutanasia secara meluas.

Perdebatan Panjang

Kasus Debbie menjadi bahan pembicaraan hangat dalam praktisi kesehatan, media massa telah ikut menyebarkan opini publik dalam mengangkat kasus eutanasia yang tidak pernah terdengar lagi sejak perang dunia kedua selesai. Meski disinyalir pratek tersebut tetap dilakukan secara diam-diam atau hanya diketahui kalangan tertentu saja.

Perdebatan perlu tidaknya eutanasia dilakukan telah menjadi bahan pembicaraan dalam segala strata sosial, mulai praktisi hukum, kesehatan, politikus hingga menjalar pada aspek-aspek kultur lainnya. Beberapa agama seperti Islam, Kristen, dan Yahudi menentang praktek euthanasia atau tindakan bunuh diri.

Aktivis yang menolak eutanasia menyebutkan bagaimanapun alasan yang digunakan untuk melegalkan cara-cara seperti itu merupakan tindakan pembunuhan. Hal ini merupakan dilematis bagi dokter, dalam beberapa kasus misalnya pasien kadang meminta untuk disuntik mati karena rasa sakit dan penderitaan yang dialami pasien.

Salah satu contohnya, pada tahun 2002, Vincent Humbert misalnya telah meminta berkali-kali pada dokter untuk menyuntik mati dirinya, setelah ia bangun dari komanya selama 9 bulan lebih, beberapa anggota dan organ tubuhnya tidak berfungsi kembali normal yang bermula dari kecelakaan yang dialaminya tahun 2000. Dokter menolak permintaan Humbert bahkan Presiden Perancis Jacques Chirac juga tidak dapat memenuhi permintaan Humbert. Setahun kemudian eutanasia dilakukan oleh ibunya sendiri dengan menyuntik obat penenang dalam dosis yang tinggi.

Sebuah kasus yang menghebohkan lainnya dialami oleh Rom Houben yang didiagnosa mengalami “kematian otak” atau dikenalkan istilah permanent vegetative state (PVS), Pria Belgia ini mengalami koma 23 tahun lamanya. Banyak orang berpendapat bahwa koma yang dialami oleh Houben tidak dapat membuatnya sadar kembali, mereka berpendapat bahwa sebenarnya Houben telah lama mati di dalam komanya. Namun dugaan tersebut meleset Houben terbangun dari komanya.

Kasus PVS lainnya diduga dialami oleh Terri Schiavo (Amerika Serikat) yang akhirnya meninggal (2005) setelah mengalami koma 19 tahun lamanya. Suaminya telah berkali-kali meminta agar eutanasia dilakukan pada istrinya melalui pengadilan, ia mengatakan bahwa istrinya tidak menginginkan hidup dalam kondisi koma tersebut.

Banyak kasus PVS dilaporkan tidak terdiagnosa dengan tepat seperti disebutkan oleh Professor Keith Andrews di Inggris, dia memperkirakan sekitar 43% pasien koma salah didiagnosa dari beberapa kasus yang mirip. Kasus Terri Schiavo sendiri sarat dengan malpraktek, menurut kabarnya rumah sakit harus menanggung secara keseluruhan pengobatan dalam jumlah yang sangat besar selama 19 tahun itu.

Banyak kasus-kasus yang mencuat kepermukaan yang menyangkut eutanasia telah menimbulkan perdebatan di Eropa, beberapa negara seperti di Italia membentuk sebuah lembaga yang merupakan bagian dari kedokteran yang khusus menangani pasien koma. Lembaga tersebut bertujuan untuk mengkaji penyebab terjadi koma, penanganan yang tepat, sampai pada isu-isu pendanaan perawatan. Selain itu juga lembaga didirikan mencegah terjadi eutanasia sebagai salah satu-satu jalan yang dipilih terhadap pasien.

Jenis dan Pelaksanaan Eutanasia

1) Voluntary euthanasia
Voluntary euthanasia (eutanasia sukarela) merupakan pelaksanaan eutanasia pada pasien atas keinginan dirinya sendiri dan tanpa adanya pemaksaan dari orang lain. Biasanya juga dikenal dengan istilah Autoeutanasia, pasien sebelum menjalani eutanasia harus menulis pernyataan yang ditulis dengan tangan (codicil)

2) Non-voluntary
Merupakan eutanasia yang dilakukan pada pasien dimana ia tidak meminta dilakukan eutanasia karena ketidakmampuan dan tidak kesadarannya, misalnya karena disebabkan koma yang panjang. Pada pasien PVS misalnya dihentikannya feeding tube (selang saluran makan)

3) Involuntary euthanasia
Hampir mirip dengan non-voluntary, yang membedakan adalah kondisi pasien yang sekarat dan sadar bahwa ia sudah tidak mempunyai harapan untuk hidup, pasien menolak untuk dilakukan perawatan. Pasien masih sadar dan dapat memberikan persetujuan atau penolakan ketika ditanya

4) Assisted suicide
Assisted suicide (bantuan bunuh diri) merupakan jenis eutanasia dimana seseorang menfasilitasi baik memberikan informasi, wacana, atau bimbingan tertentu untuk mengakhiri hidup seseorang. Jika melibatkan bantuan dokter disebut dengan “bunuh diri atas pertolongan dokter”

5) Euthanasia By Action
Suatu tindakan yang dilakukan dengan tujuan untuk menimbulkan kematian, misalnya dengan pemberian injeksi atau racun sianida. Euthanasia By Action Merupakan jenis eutanasia aktif.

6) Euthanasia By Omission
Merupakan eutanasia pasif dimana dilakukan penghentian tindakan medis kepada pasien, misalnya penghentian pemberian nutrisi, air, dan ventilator

 

Alasan-Alasan Dilakukannya Euthanasia

 

1. Sakit berkepanjangan
Argumentasi kuat perlunya eutanasia adalah rasa sakit yang berkepanjangan. Eutanasia dianggap salah satu cara mempersingkat rasa sakit tersebut dengan cara tertentu untuk mengakhiri hidup dengan segera. Pendukung proeuthanasia menganggap alasan ini sebagai satu alasan perlu dilakukannya eutanasia. Sakit berkepanjangan ini dapat dilihat pada pasien pengidap kanker, pneumonia

Ditemukannya jenis obat-obatan yang dapat mengurangi rasa sakit sehingga rasa sakit tersebut dapat dikontrol membuat alasan-alasan tersebut tidak dapat digunakan lagi, hampir semua pengajuan eutanasia dengan alasan seperti itu ditolak di pengadilan. Bila pasien tidak mendapat pengobatan untuk mengontrol rasa sakit tersebut hingga dilakukan eutanasia maka tindakan ini dapat digolongkan pada kejahatan pembunuhan

2. Adanya keinginan dari pasien secara berulang
Dilakukan eutanasia dikarenakan adanya keinginan pasien yang secara terus menerus dan berulang kali, baik secara lisan ataupun ekspresi lainnya yang mengisyaratkan bahwa pasien ingin segera mengakhiri hidupnya. Beda halnya dengan non-voluntary euthanasia maka bisa digolongkan pembunuhan.

Pendukung proeuthanasia beranggapan hal ini adalah legal bila eutanasia dilakukan, disebabkan pasien telah memintanya secara berulang. Dalam hal ini yang menjadi permasalahan utama adalah bukanlah pasien yang meninggal akan tetapi siapa yang akan melakukannya? Dapat dibenarkankah tindakan membunuh tersebut? Bunuh diri yang dilakukan sendiri merupakan hal lumrah dan terjadi dimana pun, akan tetapi berbeda halnya dengan eutanasia yang harus melibatkan orang lain (assisted suicide).

Pendukung penolakan eutanasia beranggapan bahwa bila eutanasia ini legal secara hukum dengan alasan-alasan permintaan pasien, akan berdampak buruk terhadap kehidupan sosial, seperti penolakan perawatan pada pasien yang perlu dirawat, eksploitasi dan hilangnya moralitas serta rasa peduli kepada orang lain

3) Apakah sebuah keharusan seseorang berjuang untuk hidup?
Seorang pasien kanker stadium akhir dimana secara medis dianggap sudah tidak mempunyai harapan hidup lebih lama lagi memilih menyisakan hidupnya untuk dirawat dirumah dan menolak perawatan rumah sakit hingga akhir hayat hidupnya.

Mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan, di dalam pengobatan tidak boleh disebutkan bahwa “segala sesuatunya telah dilakukan..” meskipun sudah tidak ada cara lain yang dapat ditempuh, namun demikian pasien haruslah mendapatkan kenyamanan selama sisa hidupnya itu. Intervensi medis secara langsung haruslah tetap dilakukan sebaik mungkin disamping dukungan emosional dan spiritual yang sesuai dengan pribadi pasien.

 

Singkat tentang Euthanasia

Dr. Jack Kevorkian yang dijuluki Doctor Death. Pada tahun 1990, diperkirakan 19 korban yang merupakan pasien Kevorkian dibantu untuk menjemput ajalnya dengan infus kalium klorida (KCL). Izin praktek Dr. Jack dicabut dan kemungkinan dapat dituntut pembunuhan di Michigan

Pemerintahan NAZI melakukan program eutanasia pada anak-anak usia dibawah 3 tahun yang mengidap cacat mental, cacat tubuh dan sebagainya karena dianggap tidak berguna ketika dewasa nanti.

Tracy, seorang anak disability berumur 10 tahun dibunuh oleh ayahnya, Robert Latimer dengan cara penghentian suplai nutrisi. Berita ini menghebohkan Kanada, beberapa aktivitis menyebutkan bahwa; anak disability bukanlah seekor anjing…

Hampir semua negara bagian Amerika Serikat menolak legalitas eutanasia, kecuali Oregon yang mengizinkan praktek tersebut. Latar belakang dibolehkan eutanasia karena banyaknya penduduk Oregon yang miskin yang tidak mampu membayar perawatan sakit

Negara bagian Australia, Northern Territory, menjadi tempat pertama di dunia dengan UU yang mengizinkan euthanasia dan assisted suicide (1995), UU tersebut dikenal dengan “Right of the terminally ill bill”. Dua tahun kemudian, sekitar Maret 1997 UU tersebut ditarik kembali oleh senat.

Pendukung eutanasia di Amerika dikenal dengan Hemlock Society yang didirikan oleh Derek Humphrey secara aktif mempromosikan praktik eutanasia, salah satu bukunya Final Exit merupakan buku best seller, berisikan teknik-teknik bunuh diri. Oplah buku yang terjual tinggi menunjukkan minat dan kontroversi terhadap masalah tersebut dalam masyarakat.

Kasus pengajuan eutanasia di Indonesia yang menghebohkan terjadi pada tahun 2004 dimana Panca Satrya Hasan Kusuma mengajukan eutanasia kepada istrinya Agian Isna Nauli yang koma setelah melahirkan, pengadilan menolak ajuan tersebut. Agian Isna berangsur-angsur membaik beberapa bulan kemudian.

 

Euthanasia dalam Pandangan Islam

Apakah ada kematian (sekarat) itu tidak menyakitkan?
“Ya Allah permudahkanlah aku menghadapi sakratul mautku..”

[Doa Nabi SAW ketika menjelang wafat beliau]

 

Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat pencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka [QS. Muhammad (47):27]

Surat diatas menggambarkan bagaimana malaikat “memukul” ketika hendak mencabut manusia. Sulit dibayangkan bagaimana sakitnya ajal ketika menjemput. Ketika ruh mulai ditarik tubuh dan berpisah dengan badan, saat itu kita berada dalam dua dunia, suatu dimensi yang tidak kita ketahui. [lihat: QS. Waaqi’ah (56): 83-87]

Maka bila kita memahami ayat diatas, bagaimana pun proses kematian seseorang, baik karena sakit kanker, tenggelam, kecelakaan dan sebagainya sama saja sakitnya (sekarat). Jadi, orang muslim dapat memahami bahwa bagaimanapun eutanasia yang dilakukan untuk megurangi rasa sakit tetap akan mengalami sakit yang luar biasa.

Ketika kita berada dalam dimensi itu (sakratul maut), kita sudah tidak terikat ruang dan waktu lagi, secara kasat mata manusia mungkin akan melihat proses itu hanya sebentar, tapi ketika malaikat memukul hingga ruh terpisah dari tubuh hingga melayang-layang dengan rasa sakit luar biasa, hingga tubuh mengeluarkan seluruh kotoran tubuh. Mungkin disinilah kita dapat memahami kenapa seorang muslim perlu dimandikan dan disholatkan. Wallahu a’lam bishshawab

 

Hukum Eutanasia

Dalam kutipan kitab Ahsan Al-Kalam fi Fatawa wa Al-Ahkam, Dr. Muhammad Manshur dalam bukunya Fikih Orang Sakit hal 208-209, praktik eutanasia dalam bentuk apapun dan dengan dalih apapun diharamkan, hal ini merupakan pemahaman dari;

Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah Jahanam, kekal ia didalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya [QS. An Nisa :93]

Berdasarkan hadis Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam;

Ada diantara umat sebelum kalian seorang laki-laki yang terluka parah, sehingga dia tak tahan menahan sakit, maka dia mengambil pisau dan memutuskan urat nadinya, maka tumpahlah darahnya sampai dia mati. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku telah mendahului (keputusan) Ku, maka Aku haramkan surga baginya” [265]

Pelayanan Rumah Sakit Mengurangi Eutanasia
Ketika eutanasia menjadi pembicaraan publik, mempertimbangkan kode etik, kemanusiaan dan profesi kedokteran, isu eutanasia telah menggugah dokter dan pihak rumahsakit untuk mencegah alternatif eutanasia dilakukan pada pasien, meskipun dilaporkan sekitar 20% dokter di Amerika setuju adanya eutanasia. Namun demikian, eutanasia bukanlah satu-satunya jalan keputus-asaan dalam medikasi.

Penelitian yang berkelanjutan pada pasien koma, treatmen yang tepat dan penanganan yang profesional terus dilakukan, disamping mempertimbangkan nilai-nilai moralitas, pasien merupakan manusia yang bermartabat yang perlu ditangani secara manusiawi. Eutanasia sendiri menjadikan tantangan bagi pihak kedokteran agar dapat menangani pasien sebaik mungkin, dokter akan melakukan langkah-langkah yang perlu, seperti mengurangi rasa sakit pada pasien agar tidak “menyerah”, rumahsakit juga ikut bertanggungjawab disamping pemerintah menangung biaya pengobatan yang besar pada penderita koma yang berkepanjangan, serta pelayanan manusiawi secara emosional dan spiritual pada pasien bila secara medis diputuskan pasien bersangkutan tidak dapat bertahan hidup dari penyakit yang di idapnya.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Penulis :ayed

Sayed Muhammad adalah lulusan psikologi Universitas Islam Indonesia, ia adalah perintis dan penulis tetap di website ini.

Acuan yang perlu ditinjau:

Website

www.euthanasia.org

http://id.wikipedia.org/wiki/Eutanasia

www.bbc.co.uk/ethics/euthanasia/

www.lifesitenews.com

Buku

Adams, R., et. al. (1992). Physician Assisted Suicide and the Right to Die with Assistance. Harvard Law Review

Anonymous. (1988). Its Over Debbie. Jurnal. American Medical Association 259:272.

Beauchamp, T. & Childress, J. (1989). Principles of biomedical ethics, 3rd ed. New York: Oxford University Press.

Book Review. (1990). Euthanasia: The moral issues. Columbia Law Review 90:1445-1448.

Council on Ethical and Judicial Affairs. (1992). Jurnal. American Medical Association 265:2229-2233.

Kaplan, H., dkk. (2008). Sinopsis Psikiatri, Jilid I. Binarupa Aksara. Hal 135

Lifton, R. (1986). The Nazi Doctors: Medical Killing and the Psychology of Genocide. New York: Basic Books, Inc.

Maslow, A. (1954). Motivation and Personality. New York: Harper & Brothers.

Pugliese, J. (1993). Don’t ask – Don’t tell: The Secret Practice of Physician Assisted Suicide. Jurnal. Hastings Law 44:1291-1330.

Rosen, B. (1990). Ethics companion. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Tersenyumlah!

09 Sep 2013 Sayed Muhammad

Tertawa dan belajarlah, sebab kita semua membuat kesalahan (Weston Dunlap ) Abe adalah seorang anak dalam…

Menanamkan Disiplin pada Anak

04 Sep 2013 Sayed Muhammad

Menerapkan disiplin pada anak merupakan keinginan dari semua orangtua, namun beberapa aturan keluarga dan punishment…

Studi Tentang Profil Pengasuhan Orangtua Anak-anak Berprestasi di…

06 Sep 2013 Fuad Nashori

ABSTRACT Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pengasuhan orangtua dari anak-anak yang berprestasi. Hal-hal yang ingin…

Lupakan Mantan Pacar!

10 Sep 2013 Sayed Muhammad

Putus cinta? Seebbeell!! Malam minggu jadi sepi, gak ada yang ngapelin lagi, gak ada yang…

Interaksi Guru Dalam Proses Belajar Siswa

10 Sep 2013 Sayed Muhammad

Saat Anda berdiri dalam kelas dan memulai bercerita kepada murid-murid Anda tentang mata pelajaran, tentunya…

Memaafkan dan Meminta Maaf

13 Sep 2015 Fuad Nashori

Salah satu kekurangan manusia adalah suka berbuat salah dan dosa. Manusia membutuhkan cara untuk menutupi…

10 Cara Mengetahui Calon Suami Pembenci Wanita

09 Sep 2013 Sayed Muhammad

Berbagai tindakan kekerasan terhadap wanita terutama dalam rumah tangga ditemukan setelah pasangan melakukan pernikahan. Selama…

Menghindar Burnout di Tempat Kerja

08 Sep 2013 pikirdong

Istilah burnout secara psikologis pada awalnya digunakan oleh Freudenberger meminjam istilah yang pada awalnya…

Gangguan Kecemasan (Anxiety Disorder)

08 Sep 2013 pikirdong

Kecemasan merupakan hal yang normal terjadi pada setiap individu, reaksi umum terhadap stress kadang dengan…

Kitab Suci Sebagai Sumber Pengembangan Psikologi Islami

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Selalu ditemukan dalam komunitas apapun orang-orang yang menganjurkan kebenaran yang berasal dari Tuhan. Mereka berupaya…

Restrukturisasi Kognitif melalui Al-Fatihah

04 Sep 2013 pikirdong

Semula, judul tesis saya adalah “Terapi Al-Fatihah”. Namun di kemudian hari, istilah yang lebih tepat…

Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT)

09 Sep 2013 pikirdong

Perkawinan bukanlah suatu pengikat yang memberikan kebebasan untuk saling menyakiti pasangan hidupnya. Hidup merupakan kebebasan…

  • 1
  • 2
  • 3

Kategori Lainnya

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling kita yang kami adakan atas partisipasi teman-teman semua yang rela dan…

03 Sep 2013 Agenda Sosial pikirdong No comments

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak dan menyentuh hampir semua aspek kehidupan kita. Ada hak perempuan, hak…

05 Oct 2016 Artikel Psikologi GIB Psikologi Islami Psikologi Sosial Bagus Riyono Comments (1)

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus untuk pejalan kaki (pedestrian), jalur ini merupakan jalur yang seharusnya dibangun…

26 Jul 2016 GIB pikirdong No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014