TwitterFacebookGoogle+

Garis Besar Haluan Organisasi Asosiasi Psikologi Islami

Dalam Kongres II Asosiasi Psikologi Islami yang berlangsung di Unissula pada 4-5 Agustus 2007, berhasil dirumuskan arah haluan organisasi Asosiasi Psikologi Islami (API) 2007-2010. Di dalamnya ada 10 proritas Asosiasi Psikologi Islami.

sponsor1Prioritas utama adalah memantapkan eksistensi organisasi. Eksistensi organisasi terlihat dari adanya kepengurusan dan berlangsungnya Kongres III serta adanya temu ilmiah nasional. Untuk Kongres III 2010 sudah berhasil disepakati Fakultas Psikologi UIN Sunan Syarif Kasim Pekanbaru Riau. Bukan hanya dekan Fakultas Psikologi UIN yang sudah menyatakan oke. Rektornya pun seudah menyatakan kesediaan saat dikontak oleh seorang dewan pakar Asosiasi Psikologi Islami Prof Dr Achmad Mubarok di arena Kongres II.

Selain penyelenggaraan kongres dan pra kongres, adanya koordinasi antar pengurus di pusat dan di wilayah, adanya koordinasi yang aktif antara pusat dan wilayah dan terselenggaranya koordinasi Asosiasi Psikologi Islami dengan Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) juga termasuk prioritas pertama.

Prioritas kedua adalah mendirikan wilayah atau cabang API. Setelah lima tahun berhasil menghimpun lebih dari 100 ahli dan peminat psikologi Islami, Asosiasi Psikologi Islami akan mendirikan wilayah API berdasar propinsi atau kelompok kabupaten/kota. Berbagai kelompok kota siap untuk membuka wilayah API, yaitu Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Malang, Bandung, Jakarta, Makassar, dan Pekanbaru. Selain itu, akan diupayakan juga pembukaan wilayah di Palembang, Padang, Aceh, dan Medan. Kita juga akan berusaha mendirikan API wilayah Kuala Lumpur.

Prioritas ketiga adalah memapankan Pengembangan Ilmu. Asosiasi Psikologi Islami memiliki peran vital dalam pengembangan keilmuan psikologi Islami. Asosiasi bertugas untuk memfasilitasi adanya pertemuan ilmiah dan penerbitan ilmiah yang bersifat rutin. Apa yang sudah pernah dilakukan, yaitu Temu Ilmiah Nasional Psikologi Islami I di Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII, semestinya dalam dilakukan setiap tahun sekali. Apa yang sudah dilakukan dengan penerbitan jurnal sebanyak dua kali dalam satu tahun, juga sangat patut dilestarikan. Penerbitan ilmiah dalam bentuk prosiding juga patut diprioritaskan sebagai sarana untuk memapankan pengembangan keilmuan psikologi Islami.

Prioritas keempat adalah Penguatan Keuangan Lembaga. Sejauh ini keuangan Asosiasi Psikologi Islami boleh dibilang kembang kempis. Ke depan, perlu dilakukan upaya yang keras dan sungguh-sungguh agar Asosiasi Psikologi Islami memiliki basis keuangan yang memadai. Untuk itu, Asosiasi Psikologi Islami perlu merancang program yang dapat dijual sehingga menjadikan Asosiasi Psikologi Islami memiliki kemampuan swadaya. Sebagai gambaran, API perlu memiliki kegiatan yang dapat dijual kepada sarjana dan mahasiswa psikologi dan ilmu-ilmu agama Islam, sebagaimana HIMPSI memiliki pelatihan psikodiagnostik atau pelatihan tes tertentu. Dari sana ada dana tetap untuk API. Di samping itu, Asosiasi Psikologi Islami perlu memiliki jaringan yang luas dengan para donatur yang memiliki simpati terhadap pengembangan psikologi Islami. Donasi itu dapat berupa hibah dan dapat pula berupa infaq.

Dengan keuangan yang kuat, berbagai program yang direncanakan akan dapat diwujudkan secara baik dan lancar. Tanpa keuangan yang memadai, Asosiasi Psikologi Islami harus mengandalkan satu dua orang untuk menopang kegiatannya dan tentu hal ini kurang sehat bagi eksistensi organisasi.

Prioritas kelima adalah Merintis Jalan Profesi Psikologi Islami. Asosiasi Psikologi Islami, di samping bergerak dalam keilmuan, juga semestinya melakukan tugas aplikasi ilmu. Aplikasi ilmu psikologi Islami perlu dilakukan dalam kerangka profesi. Oleh karena itu, ke depan, Asosiasi Psikologi Islami perlu untuk merintis jalan baru, yaitu menjadikan psikologi Islami sebagai profesi dalam psikologi. Hal ini adalah sesuatu yang dimungkinkan secara kelembagaan, karena semua asosiasi/ikatan yang ada dalam naungan Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) dapat melakukan aktivitas keilmuan dan profesi sekaligus.

Prioritas keenam adalah Memperluas Jaringan Kerja dengan Organisasi Lain. Sejauh ini mitra utama psikologi Islami adalah asosiasi/ikatan psikologi yang ada di lingkungan Himpunan Psikologi Indonesia dan sejumlah perguruan tinggi Islam. Ke depan, Asosiasi Psikologi Islami harus melestarikan dan mengembangkan kemitraan yang sudah terjalin.

Tidak kurang dari itu, Asosiasi Psikologi Islami juga perlu membangun kemitraan dengan berbagai lembaga keagamaan, sosial dan pendidikan yang sudah ada, baik di dalam maupun di luar negeri. Manfaat yang diharapkan adalah meningkatkatnya kebermanfaatan psikologi Islami, menguatkan eksistensi psikologi Islami, dan memperkuat keuangan Asosiasi Psikologi Islami.

Prioritas ketujuh adalah Mengaktifkan Jaringan Perguruan Tinggi Islam. Fakultas/Program Studi Psikologi yang berada dalam naungan perguruan tinggi Islam adalah tempat persemaian utama psikologi Islami. Di tempat inilah dilakukan proses pengembangan, pendidikan dan pengajaran psikologi Islami yang memungkinkan banyak orang dapat mempelajari psikologi secara intensif. Kekuatan, pengalaman, dan berbagai hal yang dimiliki oleh suatu perguruan tinggi Islam dapat disinergikan dengan perguruan tinggi yang lain atas dasar amal shaleh dan saling menguntungkan. Jaringan ini perlu difasilitasi agar dapat diselenggarakan secara rutin dan mengambil peran penting dalam sosialisasi dan pengembangan psikologi Islami.

Prioritas kedelapan adalah Memberikan Penghargaan terhadap Insan yang Berjasa. Asosiasi Psikologi Islami memberikan penghargaan terhadap terhadap ilmuwan dan profesional yang bergerak dalam pengembangan psikologi Islami maupun bagi mereka yang berjasa dalam membesarkan kelembagaan Asosiasi Psikologi Islami. Pemberian penghargaan ini tidak harus diwujudkan dalam bentuk materi. Yang prinsip adalah pengakuan akan kualifiksi keilmuan, profesi, dan jasa mereka terhadap keberadaan psikologi Islami umumnya dan Asosiasi Psikologi Islami khususnya.

Prioritas kesembilan Melakukan Pengembangan SDM dan Pengkaderan. Anggota dan pengurus Asosiasi Psikologi Islami perlu memperoleh kesempatan untuk mengembangkan diri dengan cara memperoleh kesempatan mengikuti berbagai aktivitas pengembangan SDM yang diselenggarakan Asosiasi Psikologi Islami maupun yang diselenggarakan oleh lembaga lain. Pengembangan SDM dapat dilakukan dengan memanfaatkan kelembagaan Asosiasi Psikologi Islami dengan cara membangun networking dengan lembaga lain.  Asosiasi Psikologi Islami khususnya dan Psikologi Islami pada umumnya akan memiliki kekuatan untuk eksis bila didukung oleh kader-kader yang disiapakan secara baik. Kader-kader diharapkan memiliki visi keilmuan dan dakwah yang menjadikannya memiliki semangat untuk mengembangkan wacana psikologi Islami dan mengaktifkan Asosiasi Psikologi Islami. Pengkaderan dapat memanfaatkan aktivitas belajar mengajar di perguruan tinggi yang menawarkan matakuliah Psikologi Islami, (b) bekerjasama dengan Ikatan mahasiswa Muslim Indonesia (Imamupsi), dan melakukan berbagai aktivitas education and training yang berkesinambungan. Rekrutmen anggota muda juga dapat dilakukan sebagai bagian dari rencana pengkaderan.

Prioritas kesepuluh adalah Melakukan Pengabdian kepada Masyarakat Luas. Sesuai dengan prinsip agama, sesuatu yang baik adalah yang menghadirkan manfaat bagi masyarakatnya. Oleh karena itu, kehadiran psikologi Islami harus bisa segera dirasakan masyarakat. Aktivitas penulisan ilmiah populer di media massa, siaran radio dalam bentuk konsultasi atau yang lain, edutainment show , diskusi masalah-masalah populer, adalah sejumlah contoh aktivitas yang diharapkan dapat mempromosikan psikologi Islami dan Asosiasi Psikologi Islami. Kegiatan-kegiatan ini diharapkan juga memiliki keterkaitan dengan keuangan organisasi.

Demikian. Bagaimana menurut Anda?

Penulis:

fuad
Fuad Nashori  adalah salah seorang pelopor dan ahli di bidang Psikologi Islami, sehari-hari beliau menjabat sebagai Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, (UII) Yogyakarta. Fuad Nashori adalah penulis tetap untuk rubrik Psikologi Islami di website ini

 

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar

Artikel Lainnya

Post Traumatic Stress Disorder

08 Sep 2013 pikirdong

Situasi stres pada umumnya menghasilkan reaksi emosional seperti; kecemasan, kemarahan, kekecewaan dan depresi. Kegembiraan juga…

Ciri Iklan Bombastis

03 Sep 2013 pikirdong

Banyak sekali iklan di sekeliling kita, iklan-iklan tersebut dapat kita temukan di pinggir jalan, toko,…

Berbagi Berbuah Nikmat

10 Sep 2013 Ardiman Adami

Pernah mendengar kisah ‘Sepotong Roti’ dari Ustadz Yusuf Mansur? Jika belum, ceritanya begini: Alkisah, ada…

Asperger Syndrome

05 Sep 2013 pikirdong

Gangguan Asperger atau dikenal dengan istilah Asperger syndrome (AS), juga disebut sebagai Asperger disorder merupakan…

Mengakhiri Kehampaan dengan Dzikir

09 Sep 2013 Fuad Nashori

Masalah kebermaknaan hidup senantiasa menjadi problem penting dalam kehidupan manusia, baik dulu, kini dan di…

Edisi Ibukota: Gairah Bercita

04 Sep 2013 Candrawati Wijaya

Dalam sebuah sesi wawancara kerja, seorang pimpinan bertanya pada saya. " Apa sih sebenernya passion kamu?…

Mendidik Anak Mandiri

27 Apr 2018 Fuad Nashori

Salah satu tugas orangtua adalah melatih anaknya menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang mandiri adalah…

Puasa Bicara

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Berbagai hadis Nabi Muhammad memberikan pelajaran pada kita tentang makna puasa. Puasa adalah media bagi…

Humor dan Tertawa Sebagai Terapi

05 Sep 2015 Fuad Nashori

Sudahkah berapa kalikah anda tertawa hari ini? Seorang anak di bawah usia enam tahun bisa…

Tersenyumlah!

09 Sep 2013 Sayed Muhammad

Tertawa dan belajarlah, sebab kita semua membuat kesalahan (Weston Dunlap ) Abe adalah seorang anak dalam…

Phobia

06 Sep 2013 pikirdong

Phobia merupakan gangguan kecemasan terhadap stimulus atau situasi tertentu yang pada dasarnya tidak membahayakan bagi…

Paraphilia

06 Sep 2013 pikirdong

Paraphilia adalah istilah klinis yang digunakan untuk menggambarkan penyimpang seksual. Paraphilia merupakan permasalahan menyangkut kontrol…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

Muslim yang Ketakutan

Ada rasa takut, khawatir saat mau nge-share tulisan ulama yang dicap radikal. Takut dianggap pro HTI, pro FPI, ekstrim, radikal,…

30 May 2018 Khairrubi Kolom Ruby Kay No comments

Mendidik Anak dengan Sepenuh Hati

Mendidik atau mengasuh anak dengan sepenuh hati itu artinya mendidik anak dengan pendidikan Islam. Hanya dengan pendidikan Islam saja orangtua…

23 May 2018 Artikel Keluarga Psikologi Islami Irwan Nuryana Kurniawan Comments (1)

Biar Anak Rajin Ke Masjid

Saya dan istri saya ingin semua anak rajin ke masjid. Yang kami tahu adalah nanti yang mendapat naungan dari terik…

29 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Ketika Si Anak Memilih Jalannya Sendiri

Orangtua berupaya agar anaknya memilih jalan yang terbaik yang menjamin masa depannya. Tugas orangtua yang pertama tentu adalah mengarahkan. Dulu…

28 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Mendidik Anak Mandiri

Salah satu tugas orangtua adalah melatih anaknya menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang mandiri adalah pribadi yang memiliki inisiatif untuk…

27 Apr 2018 Artikel Keluarga Fuad Nashori No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014