DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic…

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa…

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Haruskah Menyontek Jadi Budaya?

Budaya menyontek sangat identik dengan dunia pendidikan saat ini. Terlebih ketika ujian sedang berlangsung. Tak peduli lelaki atau perempuan, tua dan muda, menyontek seolah menjadi tradisi sebagian dari mereka dalam menyelesaikan soal-soal dalam ujian. Tujuannnya tak lain adalah untuk mendapatkan nilai sebaik mungkin.

Pelbagai macam cara kemudian dilakukan, misalnya dengan bertanya ke teman kiri-kanan, muka-belakang. Cara ini sudah sangat lazim dilakukan. Tapi tentunya akan menjadi tidak efektif bagi mereka yang pendengarannya yang rada-rada minus. Kalau mau ngasih tau dengan suara keras, sudah pasti kena tegur sama pengawas ujian. Apalagi yang punya mata rabun, kalau mau melihat tulisan teman pasti sulit banget. Bisa-bisa malah disuruh keluar oleh pengawas. Kacau khan untuk yang mau memberi contekan, sudah belajar semalaman, taunya malah enggak kelar menjawab soal gara-gara kasihan sama teman.

Ada lagi trik mencontek yaitu dengan membuat krepekan lalu diumpetin di berbagai tempat seperti di lipatan rok, dalam saku, dan dibalik baju, dan sebagainya supaya enggak ketahuan. Lalu saat pengawas lengah, dengan sigap mereka segera mengeluarkan “kertas-kertas fortuna” dan sret sret sret jawaban yang diperlukan langsung berpindah ke lembar jawaban mereka. Nah, ada yang lebih gawat lagi yaitu saling barter lembar jawaban. Alhasil, rata-rata jawaban jadi mirip semua (yah, namanya saja nyontek). Yang paling canggih lagi, ada lagi yang pakai sms untuk nyontek lho!

Banyak faktor yang mendorong seseorang menyontek. Salah satunya karena kondisi otak yang sulit diajak kompromi untuk mengingat rumus-rumus, macam-macam teori dan sebagainya. Awalnya mereka sudah berusaha belajar, tapi karena dikebut malah jadi lupa semua. Gimana enggak, dalam semalam harus belajar untuk dua sampai tiga pelajaran yang catatannya banyak banget. Ketimbang enggak bisa menjawab, mereka membuat catatan-catatan mini yang kemudian dipergunakan saat kondisi mendesak sebagai antisipasi mengatasi kelupaan.

Pernah seorang mahasiswa ditanya tentang hal menyontek tersebut. “Saya nyontek cuma kalau ada poin-poin yang enggak ingat. Jadi dengan catatan kecil tersebut akan mudah terlacak. Enggak semua dilihat kok” begitu pengakuannya. Benarkah demikian? Ladang emas sudah depan mata, masa sih tega dilepaskan. Biasanya nih kalau sudah melihat sedikit pasti jadi kepingin lagi. Akhirnya jiplak abis deh.

Ada juga menyontek karena sudah jadi kebiasaan. Pertama atas dasar coba-coba. Setelah dijalani, eh ternyata asyik juga tuh. Sebenarnya mereka itu bisa menyelesaikan soal-soal ujian tanpa bantuan lain. Namun karena sudah biasa ya jadi enggak enak aja kalau enggak ngintipin si ‘savior’ alias gopekan. Kaya ada something missing gitu. Mereka jadi merasa enggak pe-de sama kemampuan sendiri. Kalau soal ujiannya dibuat dalam bentuk penalaran, apa enggak blingsatan tuh. Sudah capek bikin resep, lembar jawaban masih juga kosong.

Padahal, kalau kita mau menyadari sebenarnya kita sudah merugikan diri sendiri dengan aksi nyontek tersebut. Tuhan memerintahkan kita membaca dan terus menggali ilmu pengetahuan, tapi kita enggak mau melakukannya. Alasannya karena otak tak seencer Rita atau Yudi, sehingga pada akhirnya di ambillah jalan pintas yaitu dengan menyontek.

Disamping itu, kita juga sudah menzalimi orang lain. Lho, kok bisa? Ya iyalah, dengan menyontek kita sudah menghilangkan kesempatan orang-orang yang tidak menyontek untuk mendapatkan nilai yang sesuai dengan kerja kerasnya selama ini. Biasanya kita cuma mampu mendapatkan nilai C, tapi lantaran menyontek bisa mendongkrak nilai menjadi B atau malah mendapat A. Hal itu tentu berdampak buruk bagi teman-teman yang tidak menyontek. Kita mendapatkan nilai bagus dengan nilai yang curang.

Kita juga sudah membohongi guru. Mereka sudah tahu batas kemampuan yang kita miliki, dan agak kaget juga melihat jawaban kita yang cukup perfect. Karena mereka tidak mempunyai bukti konkrit kalau kita menyontek maka mereka terpaksa memberikan nilai yang tinggi untuk jawaban tersebut.

Nah, biar enggak disebut generasi penyontek mulai sekarang hindarilah wabah berbahaya itu. Ayo, kita perangi budaya nyontek dan mari tumbuhkan minat untuk belajar lebih giat lagi. Say No To Nyontek!

Penulis

firaFira Friantini . Lahir di Bireuen pada tanggal 10 Februari 1981, Fira Friantini yang hobby membaca, menulis dan jalan-jalan ini sedang menyelesaikan kuliah di Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) di STAIN Lhokseumawe. Ia pernah menjadi pegawai bakti pada SMUN 1 Bireuen (1999-2003). Saat ini ia juga bekerja sebagai pegawai honorer pada SKB Bireuen sejak tahun 2004.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Mengenal Dyslexia Pada Anak

13 Oct 2015 pikirdong

Dyslexia (disleksia) merupakan ketidakmampuan belajar (learning disability) yang dialami oleh seseorang dimana individu tidak mampu…

Paraphilia

06 Sep 2013 pikirdong

Paraphilia adalah istilah klinis yang digunakan untuk menggambarkan penyimpang seksual. Paraphilia merupakan permasalahan menyangkut kontrol…

Perlu Tidak Ulang Tahun Anak Dirayakan?

15 Oct 2015 Sayed Muhammad

Anak mulai mengerti kebiasaan perayaan ulang tahun pada usia 3 tahun, anak mulai mengerti bahwa…

Narcissistic Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau gangguan kepribadian narsisistik merupakan gangguan mental dimana individu merasa dirinya…

Kompetensi Interpersonal Mahasiswa Ditinjau dari Jenis Kelamin

06 Sep 2013 Fuad Nashori

ABSTRACT Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kompetensi interpersonal antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan. Hipotesis…

Menjadi Survivor yang Baik

09 Dec 2008 Fuad Nashori

Survivor adalah orang yang terluput dari bencana, orang yang selamat. Dalam tulisan ini, digunakan istilah…

Masalah lagi… Masalah lagi…

08 Sep 2013 pikirdong

Aduh…! Pusing banget nich. Lagi banyak masalah”, atau “Kenapa sich masalah selalu dateng hampirin aku!”,…

Defense Mechanism

06 Sep 2013 pikirdong

Ketika timbul suatu dorongan atau kebutuhan, manusia yang normal akan cenderung untuk menghilangkan atau mengurangi…

Halusinasi

07 Sep 2013 pikirdong

Halusinasi merupakan persepsi yang abnormal pada individu dimana ia sadar dan terjaga akan tetapi tanpa…

Dependent Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian dependen (Dependent Personality Disorder; DPD) adalah suatu kondisi karakteristik dimana individu sangat tergantung…

Ciri-ciri Keluarga Bahagia

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Keluarga yang diidealkan setiap manusia adalah keluarga yang memiliki ciri-ciri mental sehat demikian: sakinah (perasaan…

Simtom dan Dampak dari Internet Adiktif

04 Sep 2013 pikirdong

Bagaimana yang disebut sebagai adiktif internet dan komputer? Bagaimana pula yang disebut dengan menggunakan komputer…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders yang ke V terjadi perubahan…

30 Aug 2017 Artikel Psikologi Psikologi Klinis pikirdong No comments

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa tubuh membutuhkan dokter dan bila diperlukan juga, diambil langkah untuk rawat…

24 Aug 2017 Kolom Sayed Muhammad Sayed Muhammad No comments

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014