TwitterFacebookGoogle+

Haruskah Menyontek Jadi Budaya?

Budaya menyontek sangat identik dengan dunia pendidikan saat ini. Terlebih ketika ujian sedang berlangsung. Tak peduli lelaki atau perempuan, tua dan muda, menyontek seolah menjadi tradisi sebagian dari mereka dalam menyelesaikan soal-soal dalam ujian. Tujuannnya tak lain adalah untuk mendapatkan nilai sebaik mungkin.

Pelbagai macam cara kemudian dilakukan, misalnya dengan bertanya ke teman kiri-kanan, muka-belakang. Cara ini sudah sangat lazim dilakukan. Tapi tentunya akan menjadi tidak efektif bagi mereka yang pendengarannya yang rada-rada minus. Kalau mau ngasih tau dengan suara keras, sudah pasti kena tegur sama pengawas ujian. Apalagi yang punya mata rabun, kalau mau melihat tulisan teman pasti sulit banget. Bisa-bisa malah disuruh keluar oleh pengawas. Kacau khan untuk yang mau memberi contekan, sudah belajar semalaman, taunya malah enggak kelar menjawab soal gara-gara kasihan sama teman.

Ada lagi trik mencontek yaitu dengan membuat krepekan lalu diumpetin di berbagai tempat seperti di lipatan rok, dalam saku, dan dibalik baju, dan sebagainya supaya enggak ketahuan. Lalu saat pengawas lengah, dengan sigap mereka segera mengeluarkan “kertas-kertas fortuna” dan sret sret sret jawaban yang diperlukan langsung berpindah ke lembar jawaban mereka. Nah, ada yang lebih gawat lagi yaitu saling barter lembar jawaban. Alhasil, rata-rata jawaban jadi mirip semua (yah, namanya saja nyontek). Yang paling canggih lagi, ada lagi yang pakai sms untuk nyontek lho!

Banyak faktor yang mendorong seseorang menyontek. Salah satunya karena kondisi otak yang sulit diajak kompromi untuk mengingat rumus-rumus, macam-macam teori dan sebagainya. Awalnya mereka sudah berusaha belajar, tapi karena dikebut malah jadi lupa semua. Gimana enggak, dalam semalam harus belajar untuk dua sampai tiga pelajaran yang catatannya banyak banget. Ketimbang enggak bisa menjawab, mereka membuat catatan-catatan mini yang kemudian dipergunakan saat kondisi mendesak sebagai antisipasi mengatasi kelupaan.

Pernah seorang mahasiswa ditanya tentang hal menyontek tersebut. “Saya nyontek cuma kalau ada poin-poin yang enggak ingat. Jadi dengan catatan kecil tersebut akan mudah terlacak. Enggak semua dilihat kok” begitu pengakuannya. Benarkah demikian? Ladang emas sudah depan mata, masa sih tega dilepaskan. Biasanya nih kalau sudah melihat sedikit pasti jadi kepingin lagi. Akhirnya jiplak abis deh.

Ada juga menyontek karena sudah jadi kebiasaan. Pertama atas dasar coba-coba. Setelah dijalani, eh ternyata asyik juga tuh. Sebenarnya mereka itu bisa menyelesaikan soal-soal ujian tanpa bantuan lain. Namun karena sudah biasa ya jadi enggak enak aja kalau enggak ngintipin si ‘savior’ alias gopekan. Kaya ada something missing gitu. Mereka jadi merasa enggak pe-de sama kemampuan sendiri. Kalau soal ujiannya dibuat dalam bentuk penalaran, apa enggak blingsatan tuh. Sudah capek bikin resep, lembar jawaban masih juga kosong.

Padahal, kalau kita mau menyadari sebenarnya kita sudah merugikan diri sendiri dengan aksi nyontek tersebut. Tuhan memerintahkan kita membaca dan terus menggali ilmu pengetahuan, tapi kita enggak mau melakukannya. Alasannya karena otak tak seencer Rita atau Yudi, sehingga pada akhirnya di ambillah jalan pintas yaitu dengan menyontek.

Disamping itu, kita juga sudah menzalimi orang lain. Lho, kok bisa? Ya iyalah, dengan menyontek kita sudah menghilangkan kesempatan orang-orang yang tidak menyontek untuk mendapatkan nilai yang sesuai dengan kerja kerasnya selama ini. Biasanya kita cuma mampu mendapatkan nilai C, tapi lantaran menyontek bisa mendongkrak nilai menjadi B atau malah mendapat A. Hal itu tentu berdampak buruk bagi teman-teman yang tidak menyontek. Kita mendapatkan nilai bagus dengan nilai yang curang.

Kita juga sudah membohongi guru. Mereka sudah tahu batas kemampuan yang kita miliki, dan agak kaget juga melihat jawaban kita yang cukup perfect. Karena mereka tidak mempunyai bukti konkrit kalau kita menyontek maka mereka terpaksa memberikan nilai yang tinggi untuk jawaban tersebut.

Nah, biar enggak disebut generasi penyontek mulai sekarang hindarilah wabah berbahaya itu. Ayo, kita perangi budaya nyontek dan mari tumbuhkan minat untuk belajar lebih giat lagi. Say No To Nyontek!

Penulis

firaFira Friantini . Lahir di Bireuen pada tanggal 10 Februari 1981, Fira Friantini yang hobby membaca, menulis dan jalan-jalan ini sedang menyelesaikan kuliah di Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) di STAIN Lhokseumawe. Ia pernah menjadi pegawai bakti pada SMUN 1 Bireuen (1999-2003). Saat ini ia juga bekerja sebagai pegawai honorer pada SKB Bireuen sejak tahun 2004.

 

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar

Artikel Lainnya

Veyourisme – Paraphilia

06 Sep 2013 pikirdong

Voyeurisms atau veyourisme merupakan perilaku penyimpangan seksual dengan cara mengintip orang lain yang sedang mengganti…

Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT)

09 Sep 2013 Sayed Muhammad

Perkawinan bukanlah suatu pengikat yang memberikan kebebasan untuk saling menyakiti pasangan hidupnya. Dengan adanya perkawinan…

Menghindar Burnout di Tempat Kerja

08 Sep 2013 pikirdong

Istilah burnout secara psikologis pada awalnya digunakan oleh Freudenberger meminjam istilah yang pada awalnya…

Edisi Ibukota : Integritas & Solusi Cara

15 Sep 2013 Candrawati Wijaya

Kita sudah mengetahui fenomena , pandangan dan pengertian dari integritas pada notes sebelumnya. Sekarang mari…

Phobia

06 Sep 2013 pikirdong

Phobia merupakan gangguan kecemasan terhadap stimulus atau situasi tertentu yang pada dasarnya tidak membahayakan bagi…

Memaafkan

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Ragam dan kedalaman pengalaman buruk antara manusia satu dengan yang lain berbeda-beda. Pada sebagian orang,…

Edisi Ibukota : Sikap "Inilah Waktunya!"

04 Sep 2013 Candrawati Wijaya

Salam Tarzan Kota!  Seberapa sering hal ini terjadi pada diri kita : Anda duduk dalam pertemuan staf…

Developmental Milestones: Usia 3 Bulan

14 Oct 2015 pikirdong

Perkembangan Mental Usia 3 Bulan PENGAMATAN PERILAKU Komunikasi Bahasa Menangis ketika mengompol Mendekut bila merasa nyaman Tingkah laku Tersenyum bila ada orang…

Ungkap Sayang kepada Anak

09 Sep 2013 Sayed Muhammad

Anak merupakan dambaan setiap pasangan yang telah menikah. Kebanyakan orangtua sangat menyayangi anak-anaknya. Anak tumbuh…

5 Fakta Fantasi Seks Pria

09 Sep 2013 pikirdong

Apa yang dipikirkan pria bila membaca kata “seks”? Apa yang dibayangkan oleh pria bila menemukan…

Kitab Suci Sebagai Sumber Pengembangan Psikologi Islami

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Selalu ditemukan dalam komunitas apapun orang-orang yang menganjurkan kebenaran yang berasal dari Tuhan. Mereka berupaya…

Hospice: Tempat Perawatan Orang yang Hampir Meninggal

03 Sep 2013 Sayed Muhammad

Beberapa tahun lalu, tetangga saya mengidap kanker payudara, setelah melakukan operasi di tanah air sebelumnya,…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

Muslim yang Ketakutan

Ada rasa takut, khawatir saat mau nge-share tulisan ulama yang dicap radikal. Takut dianggap pro HTI, pro FPI, ekstrim, radikal,…

30 May 2018 Khairrubi Kolom Ruby Kay No comments

Mendidik Anak dengan Sepenuh Hati

Mendidik atau mengasuh anak dengan sepenuh hati itu artinya mendidik anak dengan pendidikan Islam. Hanya dengan pendidikan Islam saja orangtua…

23 May 2018 Artikel Keluarga Psikologi Islami Irwan Nuryana Kurniawan Comments (1)

Biar Anak Rajin Ke Masjid

Saya dan istri saya ingin semua anak rajin ke masjid. Yang kami tahu adalah nanti yang mendapat naungan dari terik…

29 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Ketika Si Anak Memilih Jalannya Sendiri

Orangtua berupaya agar anaknya memilih jalan yang terbaik yang menjamin masa depannya. Tugas orangtua yang pertama tentu adalah mengarahkan. Dulu…

28 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Mendidik Anak Mandiri

Salah satu tugas orangtua adalah melatih anaknya menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang mandiri adalah pribadi yang memiliki inisiatif untuk…

27 Apr 2018 Artikel Keluarga Fuad Nashori No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014