Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

Reformasi Sistem Pendidikan Finlandia Menjadikan Mereka yang Terbaik di Dunia

Reformasi besar-besaran dalam dunia pendidikan di Finlandia telah dimulai…

Perlu Tidak Ulang Tahun Anak Dirayakan?

Anak mulai mengerti kebiasaan perayaan ulang tahun pada usia…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Hospice: Tempat Perawatan Orang yang Hampir Meninggal

Beberapa tahun lalu, tetangga saya mengidap kanker payudara, setelah melakukan operasi di tanah air sebelumnya, namun penyakit kanker terlanjur menyebar ke bagian punggung. Selanjutnya Beliau memutuskan berobat ke negara jiran, terkendala biaya ―sementara penyakit kankernya itu telah memasuki stadium akhir, akhirnya pihak keluarga memutuskan untuk menghentikan pengobatan. Sampai akhir hayatnya beliau meninggal di tempat tidur 2 bulan kemudian.

Kejadian diatas merupakan sebagian kecil cerita, dimana banyak orang yang menghadapi kematian setelah pasien mengidap penyakit terminal diputuskan untuk dirawat di rumah sampai ajal menjemput. Meskipun bidang kedokteran mempunyai kemungkinan untuk memperpanjang kehidupan pasien (life-prolonging medical treatment) keputusan pasien dan anggota keluarga dengan pertimbangan ekonomi kerab menjadi pilihan bersama-sama dengan membiarkan pasien yang sakit terminal untuk meninggal.

Di Indonesia segera perlu didirikan sebuah tempat tinggal dimana diberikan perawatan kepada pasien-pasien yang hampir meninggal. Tempat perawatan orang yang hampir meninggal disebut dengan istilah hospice. Jumlah penduduk Indonesia yang tinggi maka sekiranya perlu didirikan hospice sebagai bentuk pelayanan kesehatan medis kepada masyarakat oleh Pemerintah (negara) kepada rakyatnya yang dilindungin Undang-undang. Sebagai perwujudan kemakmuran dan nilai-nilai kemanusiaan, sekira pemerintah perlu membangun fasilitas tersebut untuk warganya.

Perlunya tempat perawatan tersebut didasarkan pada pertimbangan kemanusiaan semata, menyerupai rumah sakit, dan adanya tenaga medis yang bertugas melayani secara professional  dengan konsep inti untuk perawatan orang-orang yang hampir meninggal dengan pertimbangan kemanusiaan dan menolong keluarganya melakukan pilihan terakhir secara lebih bermartabat dan terkendali.

Berbeda dengan Rumah Sakit

Hospice berbeda dengan rumah sakit pada umumnya, meskipun memiliki perlengkapan medis, hospice lebih menekankan pada pelayanan dalam menghibur pasien menjelang akhir hidupnya. Hal ini bukanlah berarti tindakan bantuan harapan untuk hidup tidak diberikan lagi. Paramedis tetap memberikan pelayanan bantuan medis lainnya yang dibutuhkan.

Tenaga medis bekerja berdasarkan ketentuan-ketentuan khusus yang didasarkan pada penggunaan prosedur untuk mempertahankan hidup (life-sustaining procedures) pada pasien. Namun demikian, keputusan dan diskusi dengan anggota keluarga atau wali yang resmi merupakan hal yang utama dalam menentukan tindakan medis selanjutnya  pada pasien yang hendak meninggal.

Tenaga medis dari multi disiplin ilmu, dokter, dokter psikiatrik, psikolog, pekerja sosial dan sukarelawan yang terlatih bekerja secara bersama-sama dalam memberikan pelayanan dan bantuan kepada pasien, perawatan ini berupa pendekatan-pendekatan psikologis kepada pasien secara teratur, mempertahankan kontak mata, menyentuh dengan tepat, mendengarkan perkataan pasien, dan menjawab semua pertanyaan pasien dengan menghargai dan bijaksana.

Karena hospice berbeda fungsinya dengan rumah sakit, maka haruslah didesain dengan ramah, memberikan kenyamanan dan sifatnya kekeluargaan. Ruangan lebih mirip dengan rumah, tersedia ruangan atau tempat kunjung keluarga. Tujuannya adalah menghibur pasien dan anggota keluarga. Hal yang paling penting adalah biaya harus lebih murah dibandingkan rumah sakit umum untuk perawatan yang sama.

Tenaga medis hospice dapat juga bekerja di rumah pasien atau juga bagian dari perawatan dirumah atau  merupakan terpisah dari hospice sendiri yang diakui oleh pemerintah (home health care agencies) seperti yang ada di negara Amerika Serikat, tenaga medis ini menerima pelayanan perawatan di rumah pasien yang diminta oleh pihak keluarga. Biaya perawatan diklaim selanjutnya kepada pemerintah berdasarkan ketentuan dan syarat yang berlaku.

Pasien Khusus

Pasien yang diterima di hospice merupakan pasien khusus yang telah ditentukan oleh tenaga medis professional. Meskipun terjadi perbedaan atau ketidakmampuan manusia dalam menentukan panjang usia pasien yang mengidap penyakit terminal, tenaga medis tidak serta merta  berpegang pada penentuan  usia harapan hidup. Misalnya pasien yang menderita kanker stadium IV, secara medis harapan usia hidup sangat pendek, namun beberapa pasien dapat hidup lebih lama dari dugaan sebelumnya.

Ketika pertama sekali hospice dibangun sekitar tahun 1960an, Dame Cicely Saunders memperuntukkan hospice kepada pasien kanker stadium IV, saat ini diperkirakan ada 1.800 unit perawatan orang-orang yang hampir meninggal di Amerika Serikat. Sebagian besar pasien yang adalah orang-orang yang hampir meninggal termasuk orangtua yang telah lanjut usia yang mengalami sakit (timely death)

Pasien dengan kondisi tertentu yang secara medis dapat ditetapkan berdasarkan pengertian kematian secara medis. Misalnya pasien yang mengalami kematian otak (brain-dead) dimana pasien mengalami disfungsi keseluruhan otak yang ireversibel, atau pasien yang bertahan hidup dari alat-alat restitusi.

Pasien AIDS merupakan salah satu contoh perlunya hospice untuk pasien yang hampir meninggal. Meningkatnya epidemik AIDS merupakan sebuah tantangan  bagi sistem perawatan medis dan kesehatan mental bagi tenaga medis, pekerja sosial , dan juga bagi pasien serta keluarganya.

Tantangan Berat bagi Tenaga Medis

Menghadapi pasien-pasien yang hampir meninggal memberikan beban mental yang berat tenaga medis yang bekerja di hospice. Pasien-pasien di hospice membutuhkan perhatian konstan dan pelayanan bantuan termasuk didalamnya kemampuan dalam menghibur secara menyeluruh ketika pasien memasuki  tahap-tahap sindrom kematian (burned-out syndrome).

Tenaga medis haruslah menguasai aspek-aspek psikologis yang baik dan terlatih dalam menghadapi situasi kematian pasien, termasuk didalamnya kemampuan dalam memberikan dukungan kepada keluarga pasien.

Tuntutan kerja yang tinggi, konsentrasi, empati, jam kerja yang padat, pengendalian diri, kemampuanbersosialisasi yang baik merupakan tuntutan aspek kerja di hospice yang tentunya akan memberikan dampak buruk kepada pekerja sosial dan tenaga medis dikemudian hari. Manajemen hospice haruslah memperhatikan aspek-aspek ini agar pekerja sosial dan tenaga medis tidak mengalami burn-out atau kelelahan mental karena pekerjaan ini.

Diskusi

Menurut Anda perlukah hospice dibangun secara merata di Indonesia?

Penulis :ayed

Sayed Muhammad adalah lulusan psikologi Universitas Islam Indonesia, ia adalah perintis dan penulis tetap di website ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Bila Anda Mendapat Tawaran Pemotretan Sensual?

08 Sep 2013 Sayed Muhammad

Gadis-gadis Indonesia bugil mulai bermunculan di internet sekitar tahun 1997. Gambar sensual tersebut bermunculan tidak…

Teknik Relaksasi: Mengurangi Stres

04 Sep 2013 pikirdong

Relaksasi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan sendiri oleh individu untuk mengurangi stres, kekalutan…

Katakan Saja Tidak!

29 Oct 2015 Sayed Muhammad

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar untuk mengatakan "tidak" yang memang kita…

Developmental Milestones: Usia 36 Bulan

14 Oct 2015 pikirdong

Perkembangan Mental Usia 36 Bulan PENGAMATAN PERILAKU Komunikasi Bahasa Menggunakan kalimat dengan sederhana Tingkah laku Berinteraksi dengan orang dewasa dan anak-anak Pekerjaan…

Commitment Phobia

06 Sep 2013 pikirdong

Commitment phobia merupakan bentuk suatu ketakutan (fear) untuk menjalin suatu hubungan yang lebih erat, rasa…

Salah Kaprah tentang HAM

05 Oct 2016 Bagus Riyono

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak dan menyentuh hampir semua aspek kehidupan…

Ketergantungan Komputer dan Internet: Tips dan Treatment

04 Sep 2013 pikirdong

Ketergantungan pada internet dan komputer memberikan dampak buruk dan perilaku baik secara langsung ataupun secara…

Haruskah Menyontek Jadi Budaya?

08 Sep 2013 Fira Friantini

Budaya menyontek sangat identik dengan dunia pendidikan saat ini. Terlebih ketika ujian sedang berlangsung. Tak…

Autism Disorder

05 Sep 2013 pikirdong

Autisme (autism disorder) merupakan gangguan pada sistem syaraf pusat yang berdampak pada gangguan interaksi sosial,…

Memberi Support pada Anak Gangguan Autis

04 Sep 2013 pikirdong

Saat ini diperkirakan sekitar 35 juta anak di dunia mengalami gangguan autisme, angka ini meningkat…

Edisi Ibukota : Tas Tas Integritas!!

15 Sep 2013 Candrawati Wijaya

Salam Tarzan Kota! Sudah sampai manakah Tarzan-Tarzan kota menjelajah?? Harapan saya, kita tetap akan bertemu di…

Kekerasan Terhadap Anak

08 Sep 2013 pikirdong

Kekerasan terhadap anak (child abusive) terjadi dalam pelbagai kultur, etnis atau kelompok masyarakat. Kekerasan dapat…

  • 1
  • 2
  • 3

Kategori Lainnya

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling kita yang kami adakan atas partisipasi teman-teman semua yang rela dan…

03 Sep 2013 Agenda Sosial pikirdong No comments

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak dan menyentuh hampir semua aspek kehidupan kita. Ada hak perempuan, hak…

05 Oct 2016 Artikel Psikologi GIB Psikologi Islami Psikologi Sosial Bagus Riyono Comments (1)

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014