TwitterFacebookGoogle+

Hukuman Mati untuk Koruptor

Di tengah maraknya kasus markus yang terjadi di negeri ini, rasanya patut bagi kita untuk memberi catatan atas pernyataan Mentri Hukum dan HAM, Patrialis Akbar. Beliau mengingatkan bahwa peraturan yang berlaku di Indonesia, khususnya UU No. 31 Tahun 1999 yang kemudian diamandemen menjadi UU No. 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, memungkinkan pelaku korupsi untuk dihukum mati. Polisi, jaksa, KPK, dan hakim dapat bertindak tegas tanpa ragu untuk mengantarkan pelaku korupsi ke liang kubur.

Pernyataan reformatif Patrialis Akbar ini akan penulis coba analisis dengan pendekatan psikologi.

Penjahat Menggunakan Akalnya

Mengapa harus dihukum mati? Itu pertanyaan saya. Seorang teman berpandangan bahwa koruptor itu selalu mengalkulasi perilakunya. Mereka tahu begitu banyak keuntungan yang bakal mereka peroleh. Dengan korupsi mereka memperoleh harta kekayaan yang melimpah. Bisa dipakai untuk tujuh turunan. Dengan modal hasil korupsi itu, anak atau cucunya dapat memilih salah seorang wanita tercantik di Indonesia sebagai istrinya. Atas korupsinya yang melibatkan dana milyaran atau triliunan rupiah, pelaku korupsi cukup mencicipi penjara beberapa tahun saja. Mereka cerdik dan kita yang anti korupsi jangan kalah cerdik.

Jawaban yang dilontarkan teman saya mengingatkan saya pada sebuah teori yang berkembang dalam dunia psikologi. Ahli psikologi sosial, John S. Carroll dan J.S. Payne, mengungkapkan bahwa kejahatan apapun dilakukan oleh si pelaku melalui pertimbangan yang masuk akal. Penjahat, terutama penjahat kelas kakap, yang umumnya memiliki inteligensi yang tinggi, selalu menggunakan akalnya.

Pelaku kejahatan melakukan kejahatan setelah menimbang (subjective utility) empat hal. Empat hal yang dijadikan pertimbangan pelaku kejahatan adalah kemungkinan sukses (probability of success), besar kecilnya keuntungan yang bakal diperoleh (gain), kemungkinan gagal (probability of failure), dan besar kecilnya kerugian yang bakan diperoleh (loss).

Pelaku kejahatan disebut sukses bila ia berhasil melaksanakan kejahatan yang direncanakan maupun kejahatan yang semula tidak direncanakannya. Pelaku kejahatan disebut memperoleh keuntungan bila ia dapat memperoleh apa yang diinginkannya, seperti barang-barang, uang (keuntungan material), perasaan lega, terjaminnya masa depan (keuntungan psikologis). Pelaku kejahatan disebut gagal bila kejahatannya yang dilakukannya tidak menghasilkan apapun. Kegagalan bisa dalam pengertian gagal memperoleh kuntungan material maupun psikologis. Terakhir, pelaku kejahatan disebut kehilangan bila ia ia dijatuhi hukuman, harus mendekam di penjara, nama baiknya hancur, berpisah dari orang-orang yang disayangi, dan seterusnya.

Kalau teori tadi diterapkan pada kasus korupsi di Indonesia, maka seorang koruptor akan melakukan kejahatan korupsi bila ia melihat kemungkinan sukses dan memperoleh barang atau uang korupsi yang diinginkannya. Bila kemungkinan gagal, dikarenakan adanya sistem pengawasan yang ketat, maka kecil kemungkinan akan melakukannya. Selanjutnya, bila harta atau uang korupsi yang diperoleh besar, dan hukuman yang bakal diperolehnya kecil (misalkan hanya beberapa tahun dipenjara), maka ia akan melakukannya.

Saya sendiri tidak tahu pasti berapa hukuman atas setiap korupsi yang dilakukan seorang warga negara Indonesia. Namun, sejauh ini belum ada yang dihukum mati karena korupsi, sekalipun undang-undang jelas-jelas membuka peluang untuk itu.

Hukuman yang Berat

Dengan penjelasan tadi, kita dapati satu hal bahwa yang menjadi kunci bisa tidaknya korupsi dihentikan adalah besar tidaknya kerugian (loss) yang bakal diperoleh bila korupsi dilakukan. Kalau seorang pelaku korupsi tahu bahwa ia akan memperoleh hukuman yang berat, maka ia akan takut untuk melakukannya. Sekurang-kurangnya ia tak akan melakukan korupsi terhadap semua peluang korupsi. Misalkan, pelaku korupsi akan dipenjara 1 tahun bila korupsi 10 juta, 2 tahun bila 20 juta, dan seterusnya. Bila lebih dari 1 milyar, maka ia akan ditembak mati atau disetrum listrik. Dengan adanya aturan hukum yang jelas ini, maka orang akan takut untuk melakukan perbuatan korupsi.

Itu pun mensyaratkan adanya law enforcement (kepastian hukum). Sekalipun hukum diundangkan, namun bila aparat tidak menerapkannya, maka hukum bagaikan macan ompong. Hakim, yang menjadi pengetuk palu keputusan, diharapkan keberanian dan hati nuraninya untuk menindak tegas pelaku korupsi. Sayangnya adalah sejumlah hakim kurang tegas terhadap tindak pidana korupsi. Indonesia Corruption Watch (ICW) beberapa waktu merilis informasi yang penting untuk kita. Disebutkan oleh ICW bahwa dalam rentang Januari – Desember 2009 terdapat 199 perkara korupsi dengan melibatkan 378 terdakwa. Yang menarik, sebanyak 59,6% terdakwa divonis bebas di pengadilan umum. Bahkan, ada seorang hakim yang membebaskan 35 terdakwa korupsi (Jawa Pos, 24 Januari 2010).

Kepolisian, KPK, Kejaksaan, adalah pihak-pihak lain yang memilik peran penting yang diharapkan tegas. Polisi diharapkan tegas dalam menindak pelanggar. Kalau kita berada di jalan, kita dapat menyaksikan berbagai pelanggaran yang biasa dilakukan. Bila terbukti tidak menggunakan sabuk pengaman akan dikenai denda sekian juta, begitulah aturannya. Kenyataannya, kalau tidak pakai sabuk ternyata orang memiliki pengalaman yang rentangnya sangat panjang, mulai dipaksa membayar 25 ribu hingga didenda 1 juta rupiah. Dikarenakan hukum tidak diterapkan, di mana-mana orang melakukan pelanggaran.

Kembali ke hukuman hukuman tadi, maka bila ada satu orang yang ditembak mati/diracun/diestrum listrik karena korupsi, itu akan menjadi peringatan bagi orang-orang yang melakukan korupsi. Orang-orang yang telah melakukannya akan sangat ketakutan. Orang-orang yang berkehendak atau merencanakan melakukannya menjadi takut. Dalam situasi seperti ini, hukuman atas perbuatan korupsi akan benar-benar berfungsi menjadikan seseorang loss (kehilangan), baik nama baik, hidup yang layak, karir di masa depan, dan seterusnya.

Demikian. Bagaimana menurut Anda?

Penulis:

fuad
Fuad Nashori  adalah salah seorang pelopor dan ahli di bidang Psikologi Islami, sehari-hari beliau menjabat sebagai Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, (UII) Yogyakarta. Fuad Nashori adalah penulis tetap untuk rubrik Psikologi Islami di website ini

 

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar

Artikel Lainnya

Berpikir Positif

07 Jun 2010 Sayed Muhammad

Jam hampir menunjukkan pukul 19.00, Santi menatap jam dinding di ruang tamunya. Beberapa saat kemudian…

Mencapai Pribadi Yang Sukses

18 Oct 2013 pikirdong

Siapa kita ? Kita adalah makhluk ciptaan Allah (baca:manusia) yang terlahir ke dunia ini dalam keadaan…

Rett Disorder

03 Sep 2013 pikirdong

Gangguan Rett (rett disorder) atau dikenal dengan Rett syndrome (RS) merupakan gangguan genetika yang mengakibatkan…

Ungkapkan Cinta Anda Sekarang!

10 Sep 2013 pikirdong

Dukungan berupa perhatian kepada pasangan akan menciptakan kenyamanan dan rileks pada dirinya sehingga keberadaan diri…

Agenda Sosial Pikirdong

03 Sep 2013 pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling kita yang kami adakan atas partisipasi…

General Anxiety Disorder (GAD)

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kecemasan umum (general anxiety disorder; GAD) merupakan bentuk gangguan kecemasan dimana individu secara terus-menerus…

Asperger Syndrome

05 Sep 2013 pikirdong

Gangguan Asperger atau dikenal dengan istilah Asperger syndrome (AS), juga disebut sebagai Asperger disorder merupakan…

Schizotypal Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian skizotipal (schizotypal personality disorder) adalah suatu kondisi gangguan serius dimana individu hampir tidak…

Tanpa Pacar Bikin Bete?

09 Sep 2013 pikirdong

Banyak orang merasa tidak nyaman dengan kondisi hidup sendiri tanpa pacar disamping. Mereka menciptakan momok…

Commitment Phobia

06 Sep 2013 pikirdong

Commitment phobia merupakan bentuk suatu ketakutan (fear) untuk menjalin suatu hubungan yang lebih erat, rasa…

Kitab Suci Sebagai Sumber Pengembangan Psikologi Islami

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Selalu ditemukan dalam komunitas apapun orang-orang yang menganjurkan kebenaran yang berasal dari Tuhan. Mereka berupaya…

Kado Terindah

09 Sep 2013 pikirdong

Kado dalam bentuk apapun pasti akan mendatangkan kebahagiaan baik bagi si penerima maupun pemberinya. Kado…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

Muslim yang Ketakutan

Ada rasa takut, khawatir saat mau nge-share tulisan ulama yang dicap radikal. Takut dianggap pro HTI, pro FPI, ekstrim, radikal,…

30 May 2018 Khairrubi Kolom Ruby Kay No comments

Mendidik Anak dengan Sepenuh Hati

Mendidik atau mengasuh anak dengan sepenuh hati itu artinya mendidik anak dengan pendidikan Islam. Hanya dengan pendidikan Islam saja orangtua…

23 May 2018 Artikel Keluarga Psikologi Islami Irwan Nuryana Kurniawan Comments (1)

Biar Anak Rajin Ke Masjid

Saya dan istri saya ingin semua anak rajin ke masjid. Yang kami tahu adalah nanti yang mendapat naungan dari terik…

29 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Ketika Si Anak Memilih Jalannya Sendiri

Orangtua berupaya agar anaknya memilih jalan yang terbaik yang menjamin masa depannya. Tugas orangtua yang pertama tentu adalah mengarahkan. Dulu…

28 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Mendidik Anak Mandiri

Salah satu tugas orangtua adalah melatih anaknya menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang mandiri adalah pribadi yang memiliki inisiatif untuk…

27 Apr 2018 Artikel Keluarga Fuad Nashori No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014