TwitterFacebookGoogle+

Humor dan Tertawa Sebagai Terapi

Sudahkah berapa kalikah anda tertawa hari ini? Seorang anak di bawah usia enam tahun bisa tertawa 300-400 kali dalam sehari. Anak saya yang sekarang berusia 6 tahun, Fatih Muhammad Hakim namanya, saat saya hitung tertawa lebih dari 350 kali dalam sehari. Orang dewasa dapat tertawa rata-rata 15 kali dalam sehari. Sebagai orang yang sehat, sudahkah anda dapat tertawa dalam jumlah demikian di hari ini? Harapan saya, melalui tulisan ini anda akan mengembalikan diri anda sebagai spesies manusia, yang memiliki ciri khas dapat tertawa lepas dan berhumor. Kalau anda kesulitan tertawa, saya sarankan anda untuk ikut bergabung dalam klub senam tertawa. Ha ha ha. Ini serius lho.

HUMOR DAN TERTAWA SEBAGAI TERAPI
Sebuah Catatan atas Terbitnya Buku Datuk Hitam karya Bahril Hidayat

Perhatian Tokoh terhadap Humor

Minat dan perhatian para ilmuwan terhadap fenomena humor telah berlangsung sejak lama. Pemikir-pemikir seperti Plato, Aristoteles, Rene Descartes, Immanuel Kant, Thomas Hobbes dan Henry Bergson tercatat pernah membahas masalah humor dan fenomena-fenomena yang berkait dengan hal itu.

Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad juga dikenal humoris. Dalam berbagai kesempatan, Nabi melontarkan humor-humor segar. Salah satu humor yang terkenal adalah ungkapan Nabi kepada seorang nenek bahwa di surga tidak ada wanita tua. Setelah sang nenek tampak sedih, Nabi mengungkapkan bahwa semua penghuni surga akan di-muda-kan, termasuk si nenek. Perilaku sejumlah ulama sufi pun terkenal sangat humoristis, seperti Nasruddin Khoja dan Abu Nawwas. Seorang sufi yang amat cerdas seperti Abu Nawwas ternyata difasilitasi oleh sang khalifah Harun Al-Rasyid dalam mengekspresikan humornya.

Dalam tradisi Indonesia, humor menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan budaya bangsa. Tokoh-tokoh pewayangan yang ada di Indonesia selalu didampingi oleh para punakawan yang adalah pelaku humor. Mereka, beberapa di antaranya adalah Semar, Petruk, Gareng, Bagong, Cepot, selalu menghadirkan perspektif humoristik dalam lakon-lakon pewayangan khas Indonesia.

Perhatian para ilmuwan sosial, terutama psikologi terhadap fenomena ini ternyata besar juga. Ini terlihat dari adanya teori dan penelitian tentang humor dan kaitannya dengan kehidupan manusia. Besarnya perhatian mereka terhadap humor ini sebenarnya tidak mengherankan, karena humor adalah salah satu kualitas khas manusia. Artinya, di antara makhluk-makhluk lain, hanya manusialah yang memiliki sifat humor dan memandang sesuatu secara humoristis. Hanya manusia pulalah yang bisa tertawa, yakni menertawakan hal-hal yang ada di luar dirinya dan juga menertawakan dirinya sendiri. Saat hendak menulis kata pengantar buku ini, penulis tiba-tiba tertawa geli di dalam hati saat melihat seorang laki-laki yang sangat tua (mungkin berusia 80 tahun) yang melangkah tertatih-tatih. Setiap langkahnya mungkin hanya menghasilkan gerakan 3-5 cm, tapi ia tidak berhenti mengasapi dirinya dengan rokok yang dihisapnya kuat-kuat. Saya juga kadang tertawa kepada diri sendiri. Mengapa orang-orang mempercayai saya untuk memimpin berbagai organisasi padahal orang lain jelas-jelas lebih mampu dan lebih pantas daripada saya. Jangan-jangan karena simbol ”kemakmuran” yang ada pada saya (baca: kegendutan) mereka harapkan menular ke mereka.

Salah seorang pakar psikologi humanistik, yakni David Cohen dalam buku Humor, Irony and Self Detachment, berpendapat bahwa kemampuan manusia untuk memandang diri sendiri secara ironis dapat dipandang sebagai kualitas manusiawi yang sangat baik. Bahkan kemampuan menertawakan diri sendiri merupakan karakteristik khas manusia, karena di dalamnya tersirat kemampuan pemisahan terhadap diri sendiri (self detachment), yaitu kemampuan untuk membedakan diri sebagai subjek (yang menertawakan) dan sebagai objek (yang ditertawakan) sekaligus! Dalam cerita-cerita sufi yang sangat terkenal seperti Nasruddin Khoja dan Abu Nawwas, tokoh-tokoh tersebut membiarkan dirinya diposisikan sebagai objek yang kekonyolannya dapat ditertawakan oleh orang lain. Dalam buku Datuk Hitam yang ditulis Bahril Hidayat, sebagaimana kisah Abu Nawwas,  sang tokoh –Datuk Hitam—juga membiarkan dirinya menjadi objek yang kita dapat menertawakannya sepuas hati kita. Sebagaimana dia menertawakan diri sendiri.

Selain itu, ahli psikologi humanistik lainnya, yaitu Gordon W Allport yang terkenal dengan teorinya tentang kepribadian manusia mengungkapkan bahwa kepribadian yang matang ditandai oleh usaha untuk memperluas diri, hubungan yang ramah dengan orang lain, menerima keadaan diri, berusaha realistis, menyakini dan menghayati suatu falsafah hidup yang integratif, dan bersikap objektif terhadap diri sendiri. Dalam ciri yang terakhir, yaitu bersikap objektif terhadap diri sendiri, terdapat pemahaman terhadap diri sendiri dan rasa humor, termasuk bersikap humoristis terhadap diri sendiri. Dengan demikian, dapat diungkapkan bahwa salah satu tanda kematangan kepribadian seseorang adalah kesanggupannya untuk menertawakan diri sendiri. Dalam konteks ini, saya ingin mengatakan bahwa Bahril Hidayat yang menulis Datuk Hitam adalah seseorang yang memiliki ciri yang kuat dalam hal bersikap objektif terhadap dirinya sendiri. Ketika saya tanyakan kepadanya apakah betul bahwa cerita ini adalah cerita fiktif dengan kepribadian Bahril, yang bersangkutan mengiyakannya. Bahril juga bersikap sangat objektif terhadap dirinya sendiri ketika ia menulis trilogi memoar yang berjudul: Aku Sadar Aku Gila, Aku Tahu Aku Gila dan Aku Bersyukur Aku Gila.

Terapi Humor

Humor sebagai terapi, itulah salah satu gagasan yang dipikirkan oleh para ahli. Sehubungan dengan penerapan humor sebagai terapi ini, sejauh penulis ketahui ahli logoterapi Viktor S Frankl adalah seseorang yang secara integratif memasukkan unsur humor dalam terapinya, yaitu dalam teknik intensi paradoksal (paradoxical intention). Dalam teknik ini, humor menjadi komponen utama dalam terapi. Penerapannya dilakukan dengan cara mengajak klien memandang persoalannya dari sudut pandang humoristis, sehingga dirasakan tidak terlalu berat membebani pikir. Hal ini membuka jalan untuk membuka sikap baru dalam mengatasi masalahnya.

Fank S. Caprio, penulis buku How to Enjoy Yourself, juga percaya bahwa rasa humor penting untuk hidup. Humor yang identik dengan senyum dapat membuat orang lebih merasa enak. Ia bisa melepaskan orang dari rasa tertekan, membuat otot-otot wajah terasa rileks, dan membuat jiwa seseorang menjadi lebih hidup. Humor memang komoditi yang menggairahkan.

Senada dengan Caprio, Djamaludin Ancok –ahli psikologi sosial yang humoristis- mengungkapkan bahwa ada studi yang mempelajari bahwa humor dapat menimbulkan gairah baru. Di sisi lain, humor juga berfungsi untuk menghilangkan kecemasan sekaligus alat kontrol sosial. Joke politik di satu sisi merupakan ungkapan dari ‘kecemasan’ terhadap masalah politik, di sisi lain dapat dikatakan sebagai bentuk lain dari kontrol sosial. Salah satu joke terkenal yang diharapkan sebagai kritik sosial terhadap bangsa Indonesia adalah cerita tentang harga otak manusia Indonesia. Cerita lengkapnya adalah sebagai berikut: ”KONON otak orang Indonesia sangat digemari dan jadi rebutan di antara calon penerima donor otak manusia. Di bursa pasar gelap, harga otak manusia Indonesia dikabarkan paling tinggi. Setiap ada persediaan hampir bisa dipastikan langsung laku terjual. Orang-orang pun heran. Mengapa bukan otak orang Yahudi yang terkenal cerdas-cerdas itu yang diburu? Mengapa bukan otak orang Inggris yang banyak menjadi pelopor ilmu pengetahuan seperti Isaac Newton dan Stephen Hawking yang ahli fisika, Charles Darwin yang ahli biologi, Adam Smith yang ahli ekonomi? Mengapa bukan otak orang-orang Jepang, yang tersohor memiliki kemampuan tinggi dalam bidang teknologi, yang diperebutkan? Atau, mengapa tidak otak orang Cina yang sudah dikenal luas lihai berbisnis? Mengapa justru otak orang Indonesia? Setelah dilakukan semacam penelitian, ternyata persepsi para penerima donor otak dalam menentukan pilihan bukan pada standar umum seperti asumsi di atas. Jawab mereka: “Habis, otak orang Indonesia rata-rata masih mulus. Soalnya jarang dipakai!”

Masih tentang orang Indonesia dan otak, ada humor yang berisi kritik sosial. ”Sudah menjadi pemahaman umum bahwa ada hubungan antara omongan dengan penggunaan otak. Banyaknya dan isi pembicaraan menyimbolkan banyaknya penggunaan otak oleh seseorang. Tapi, ada dokter ahli bedah yang bertanya: jangan-jangan pendapat umum itu tidak benar. Maka, ia meneliti dengan ilmu bedah yang dimilikinya dengan cara membedah otak orang Indonesia dan otak orang Jepang. Saat ia mengambil separuh otak orang Jepang, ternyata orang Jepang ini masih bisa bicara tapi terbata-bata. Saat ia mengambil separuh otak orang Indonesia, ternyata isi pembicaraannya masih persis seperti sebelum dibedah. Si dokter bedah pun jadi penasaran. Selanjutnya, ia mengeluarkan seluruh otak orang Jepang. Ternyata ia tidak dapat bicara. Dan, ia pun mengeluarkan seluruh otak orang Indonesia. Ternyata orang Indonesia ini tetap bisa berbicara selancar sebelum dibedah! Luar biasa orang Indonesia ini: Bisa bicara berjam-jam tanpa pakai otak!

Seorang ahli psikiatri penganut logoterapi yang diperkenalkan Viktor Frankl, Dr Gerz, pernah melaporkan bahwa ia berhasil menyembuhkan seorang yang menderita obsesi berat yang selalu merasa takut mati mendadak. Cara yang ditempuhnya adalah membuat resep yang membuat pasien tertawa terpingkal-pingkal dan kemudian memandang keluhannya sendiri secara enteng dan humoristis. Kertas resep itu bertuliskan: Mati 3 x sehari.

Dalam sejarah umat manusia, bangsa Rusia adalah bangsa yang humoristis justru saat mereka tertekan. Pada pertengahan dan akhir abad XX, mereka bahkan ramai-ramai membuat buku Mati Ketawa Cara Rusia. Semua itu dimaksudkan untuk melepaskan diri dari rasa tertekan di bawah pemerintahan Komunis Soviet. Salah satu contohnya adalah berikut ini. Tanya: Bagaimana anda berhubungan dengan pemerintah? Jawab: Seperti dengan istri, sebagian karena kegemaran, sebagian karena takut, disertai doa semoga segera dapat yang lain!

Djamaludin Ancok, seorang pakar psikologi sosial, pernah membuat ungkapan joke yang membantu kita lepas dari tekanan karena rendahnya hukuman bagi koruptor. Bangsa kita ditempatkan oleh berbagai lembaga penilai transparansi internasional sebagai salah satu bangsa yang paling korup. Kita sebenarnya sangat tidak nyaman dengan cap ini. Hal ini karena sikap yang terlalu toleran terhadap koruptor. Cerita Profesor Ancok ini bisa membantu kita untuk menghayati masalah tersebut secara humoristis. Ini cerita tentang Budiadji. Pelaku korupsi uang negara sebanyak dua belas milyar hanya memperoleh hukuman 12 tahun. Ini berarti mendekam di penjara satu tahun mendapat satu milyar rupiah. Alangkah besarnya penghasilan mendekam di penjara!

Bahril Hidayat, seorang sarjana psikologi yang menulis beberapa buku, membuat sindiran terhadap perilaku sebagian masyarakat Indonesia. Kisah tentang ”paru-paru kanan” menggambarkan kebiasaan berperilaku salah kaprah. Suatu hari, Datuk Hitam jatuh sakit. Ia harus dirawat di rumah sakit karena kebiasaan buruknya, yaitu merokok. Akibat kebiasaan itu, paru-paru sebelah kirinya mengalami malfungsi yang cukup memprihatinkan.

            “Apa hasil pemeriksaan dari Dokter?” tanya Baginda ingin tahu keadaan sahabatnya ini.

            “Gangguan fungsi paru-paru, Baginda,” jawab Datuk Hitam sambil menghirup rokoknya dalam-dalam.

            “Hahh? Lalu kenapa Datuk masih juga merokok?”

            “Hasil Rontgen menunjukkan paru-paru hamba yang sebelah kiri yang mengalami gangguan, Baginda.”

            “Lalu hubungannya? Kan tetap tak boleh merokok? Itu namanya mendzalimi diri sendiri,” nasihat Baginda.

            “Saya merokok dengan paru-paru yang sebelah kanan, Baginda,” jawab Datuk Hitam seenaknya.

Tertawa Sebagai Terapi

Pada umumnya tertawa (laughing) dianggap sebagai pengejawantahan dari humor, karena tertawa dan humor sama-sama menciptakan situasi riang, lucu dan jenaka. Sebenarnya kedua fenomena khas manusiawi ini tidak selalu sejalan. Rasa humor tidak selalu terungkap dalam bentuk tertawa. Buktinya, ada tertawa sinis yang tidak mencerminkan adanya suasana humoristis. Walaupun demikian, seperti halnya humor tertawa merupakan salah satu salah satu kualitas khas manusiawi, artinya setiap manusia dapat tertawa. Betatapun seriusnya seseorang yang tidak dapat bersuara, yang dikarenakan adanya kerusakan karena organ-organ tertentu, pasti secara ekspresif akan tertawa terkekeh-kekeh bila ia merasa geli, sekalipun tertawanya tanpa suara.

Mengapa tertawa dan humor merupakan fenomena manusiawi? Karena tertawa senantiasa mengandung intensionalitas, yakni tertawa kepada (laughing at) dan tertawa bersama (laughing with). Selain itu, tertawa selalu menciptakan suatu perspektif mengambil jarak dan sekaligus menciptakan relasi dengan corak penghayatan tertentu antara pihak yang menertawakan dengan pihak yang ditertawakan, termasuk dalam hal menertawakan diri sendiri. Dengan demikian, dalam fenomena tertawa tercipta perspektif pengambilan jarak (self distance) dan pemisahan terhadap diri sendiri (self detachment). Intensionalitas, self distance, dan self detachment adalah kualitas-kualitas khas manusia.

Karena pentingnya tertawa ini bagi kehidupan, banyak ahli yang merekomendasikan tertawa sebagai jalan untuk terapi. Bahkan ada yang menyebutnya Senam Tertawa. Dengan tertawa seseorang terbantu untuk (a) menanggulangi stres, (b) membantu otot wajah menjadi rileks dan awet muda, (c) meningkatkan sistem kekebalan tubuh, (d) menurunkan tekanan darah tinggi serta mencegah dan mengendalikan penyakit jantung, dan (e) merangsang pengeluaran endorphin, serotonin, dan melantonin yang membuat perasaan menjadi tenang, tentram, nyaman dan bahagia.

Secara individual, anda bisa membuat diri anda tertawa dengan melihat berbagai acara lucu di televisi. Bisa pula dengan membaca buku humor yang banyak dijual di toko buku atau buku humor sufi seperti Abu Nawwas dan Datuk Hitam ini. Bisa pula dilakukan dengan saling bercerita tentang sesuatu yang lucu dengan orang lain. Dan bisa pula dilakukan secara berjamaah melalui Senam Tertawa. Ini dia resep Senam Tertawa. Caranya: (a) berkumpullah dengan sejumlah orang yang mau melakukan senam tertawa, (b) semua orang berdiri melingkar, (c) diberi aba-aba oleh ketua klub senam: Ketawa yuk, (d) dijawab sambil menghentakkan kepalan tangan kiri yang diangkat dari atas ke bawah sambil teriak Yes! Diulang sekali lagi: Ketawa Yuk! Dijawab: Yes! (e) diberi aba-aba: Tertawa, dijawab sambil menghentakkan kepalan tangan kiri yang diangkat dari atas ke bawah: Bisa! Diulang: Tertawa! Jawab: Bisa! Lalu bersama-sama mengucapkan: Ha ha ha, hi hi hi, ho ho ho dengan suara berteriak. (f) Lalu semua serentak tertawa lepas: Ha ha ha ha … terus menerus lebih kurang satu menit. (g) Peserta aktif bergerak ke teman yang ada di kiri dan kanan, saling menatap, tertawa murnipun terjadi, hingga ada yang mengeluarkan air mata. (h) Pimpinan memberikan aba-aba sambil bertepuk tangan ha ha ha ho ho ho. Diulang beberap akali sampai semua berhenti tertawa. (i) Semua rangkaian di atas –mulai dari b hingga h diulang, sampai semua ikut tertawa serentak. Itulah kutipan Senan Tetawa yang direkomendasikan Departemen Kesehatan RI dan Federasi Olahraga Masyarakat Indonesia.

Penutup

Saat menulis ulang artikel ini untuk dikirim ke Pikirong.org, saya banyak bergaul dengan orang Sunda, di Bandung. Yang bisa saya rasakan adalah umumnya mereka humoris. Sebagian bahkan menyebut diri deBodor. Yang pasti, nama lain suku ini adalah Priangan. Priangan artinya ya kira-kira periang lah. Pastinya saya senang bergaul dengan orang-orang yang periang. Beruntung saya mengambil studi lanjut di Bandung.

Akhir kata, semoga dengan humor dan tertawa kita termotivasi untuk menggapai kehidupan jasmani, nafsani dan ruhani yang lebih baik.

 

Penulis:

fuad
Fuad Nashori  adalah salah seorang pelopor dan ahli di bidang Psikologi Islami, sehari-hari beliau menjabat sebagai Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, (UII) Yogyakarta. Fuad Nashori adalah penulis tetap untuk rubrik Psikologi Islami di website ini

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar

Artikel Lainnya

Frotteurism – Paraphilia

06 Sep 2013 pikirdong

Frotteurism merupakan salah satu jenis paraphilia, istilah ini digunakan untuk menggambarkan dorongan seksual yang kuat…

Melejitkan Moral-Spiritual Anak

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Ada sejumlah langkah untuk melejitkan moral-spiritual anak, yaitu dengan meningkatkan stimulasi pendengaran, penglihatan dan perabaan…

Post Partum Blues

07 Sep 2013 pikirdong

Post Partum Blues merupakan problem psikis sesudah melahirkan seperti kemunculan kecemasan, labilitas perasaan dan depresi…

Tanpa Pacar Bikin Bete?

09 Sep 2013 pikirdong

Banyak orang merasa tidak nyaman dengan kondisi hidup sendiri tanpa pacar disamping. Mereka menciptakan momok…

Enaknya Duduk di Barisan Depan Kelas!

08 Sep 2013 pikirdong

Duduk di barisan paling depan kelas memang rada seram, perasaan was-was selalu kebayang karena selalu…

Dampak Penyalahgunaan Narkoba

12 Sep 2013 pikirdong

Beberapa dampak penyalahgunaan narkoba; Dampak biofisiologis 1. Penyebaran HIV, Hepatitis dan beberapa penyakit menular Lainnya  Penyalahgunaan narkoba…

Penyakit Hati: Tanda, Sebab, Upaya Penyembuhan

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Dalam Islam, suci dan kotornya hati memiliki arti yang sangat penting. Hati yang suci dan…

ADHD Pada Anak-anak

05 Sep 2013 pikirdong

Tanda-tanda adanya gangguan ADHD sebenarnya sudah dapat dideteksi sejak anak masa pra sekolah. Kurangnya atensi,…

Developmental Milestones: Latihan

14 Oct 2015 pikirdong

Perkembangan Mental Usia 6 Bulan PENGAMATAN PERILAKU Komunikasi Bahasa Sesering mungkin mengajaknya berbicara Menyanyikan lagu untuknya Membuat kata-kata ujaran sederhana Tingkah laku…

Beberapa Jalan Menetaskan Ide-ide Kreatif Perspektif Psikologi Islami

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Tulisan ini akan menunjukkan proses-proses terjadinya kreativitas dalam perspektif Psikologi Islami. Perspektif psikologi Islami mempercayai…

Biar Anak Rajin Ke Masjid

29 Apr 2018 Fuad Nashori

Saya dan istri saya ingin semua anak rajin ke masjid. Yang kami tahu adalah nanti…

10 Cara Mengetahui Calon Suami Pembenci Wanita

09 Sep 2013 Sayed Muhammad

Berbagai tindakan kekerasan terhadap wanita terutama dalam rumah tangga ditemukan setelah pasangan melakukan pernikahan. Selama…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

Muslim yang Ketakutan

Ada rasa takut, khawatir saat mau nge-share tulisan ulama yang dicap radikal. Takut dianggap pro HTI, pro FPI, ekstrim, radikal,…

30 May 2018 Khairrubi Kolom Ruby Kay No comments

Mendidik Anak dengan Sepenuh Hati

Mendidik atau mengasuh anak dengan sepenuh hati itu artinya mendidik anak dengan pendidikan Islam. Hanya dengan pendidikan Islam saja orangtua…

23 May 2018 Artikel Keluarga Psikologi Islami Irwan Nuryana Kurniawan Comments (1)

Biar Anak Rajin Ke Masjid

Saya dan istri saya ingin semua anak rajin ke masjid. Yang kami tahu adalah nanti yang mendapat naungan dari terik…

29 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Ketika Si Anak Memilih Jalannya Sendiri

Orangtua berupaya agar anaknya memilih jalan yang terbaik yang menjamin masa depannya. Tugas orangtua yang pertama tentu adalah mengarahkan. Dulu…

28 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Mendidik Anak Mandiri

Salah satu tugas orangtua adalah melatih anaknya menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang mandiri adalah pribadi yang memiliki inisiatif untuk…

27 Apr 2018 Artikel Keluarga Fuad Nashori No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014