TwitterFacebookGoogle+

Intermittent Explosive Disorder

Intermittent explosive disorder (IED; gangguan eksplosif intermiten) merupakan gangguan dalam mengontrol impuls seperti adiktif alkohol, gangguan makan, berjudi, parafilia, kebiasaan menarik rambut, mencuri dan gangguan eksplosif intermiten.

Gangguan eksplosif intermiten merupakan salah satu dari klasifikasi gangguan kontrol impuls lainnya (Impulse Control Disorders) bersama dalam kelompok itu adalah Kleptomania, Piromania, Berjudi patologis, Trikotilomania, dan Gangguan pengendalian impuls yang tidak terdefinisi.

Individu dengan gangguan kontrol impuls tidak dapat menahan dorongan-dorongan dalam dirinya untuk melakukan sesuatu sebagai pemenuhan keinginannya. Gangguan eksplosif intermiten adalah bentuk dari episode amarah atau agresifitas untuk melakukan penghancurkan terhadap barang-barang atau bahkan pembunuhan. IED ini sangat dekat dengan beberapa istilah kekerasan domestik (kekerasan dalam rumah tangga) atau kekerasan di tempat bekerja.

Ketika individu dengan gangguan IED terprovokasi, ia akan eksplosif dan bereaksi secara berlebihan dalam beberapa menit bahkan dalam hitungan jam. Setelah terjadi ledakan amarah selesai, biasanya individu akan merasa bersalah, malu, meminta maaf atau menyesal.

Tenaga kesehatan profesional dalam mendiagnosa dasar gangguan eksplosif intermiten akan memperhatikan pola dan kebiasaan individu apakah dipengaruhi oleh kondisi dibawah kesadaran atau pengaruh dari alkohol, kokain atau ganja. Kondisi tersebut sering sekali sebagai penyebab timbulnya kekerasan.

Individu yang didiagnosa gangguan eksplosif intermiten juga memiliki kaitan dengan beberapa gangguan lainnya seperti; gangguan depresi, gangguan bipolar, gangguan kecemasan dan gangguan obsessive-compulsive. Akan tetapi diagnosa dikatakan mengalami gangguan IED, bila kekerasan yang muncul bukan disebabkan oleh gangguan mental lainnya atau kondisi mental lainnya. Berdasarkan DSM IV untuk definisi EID pada poin ketiga ini masih dalam perdebatan dan dianggap kontroversi bagi beberapa ahli dalam memahami kriteria tersebut.

KRITERIA DSM


Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) kriteria gangguan EID adalah;
1) Kegagalan dalam menahan dorongan agresi yang mengakibatkan aksi kekerasan serius atau penghancuran benda-benda
2) Ekspresi agresifitas selama episode berlangsung adalah disebabkan oleh adanya sebab-sebab pemicu stres psikososial
3) Episode agresifitas bukan disebabkan oleh ganguan mental lainnya (seperti gangguan kepribadian antisosial, gangguan kepribadian borderline, gangguan psikotik, episode mania, conduct disorder, atau ADHD) dan bukan disebabkan langsung oleh efek dari kondisi psikologis ( seperti penyalahgunaan obat, medikasi) atau disebabkan oleh kondisi medis secara umum ( seperti trauma kepala, penyakit Alzheimer)

SIMTOM

Simtom utama EID adalah terjadinya erupsi kemarahan dan agresifitas yang berlangsung selama 10-20 menit yang mengakibatkan luka atau cidera atau penghancuran benda-benda. Episode ini diperikirakan sudah muncul sebelumnya selama 1 minggu atau bulan tanpa adanya tanda-tanda gejala kekerasan.

Ketika episode agresi berlangsung individu;
– badan bergetar
– palpitasi
– ribut
– kepala seperti tertekan
– telinga memanas dan seperti mendengar bayangan suara
– dada terasa sesak

PENYEBAB

Penyebab utama kemunculan EID secara pasti tidak diketahui dengan pasti, para ahli berpendapat banyak faktor yang dapat memunculkan EID salah satunya adalah gangguan emosi dan fisik pada masa perkembangan anak.

1) Faktor biologi
Teori biologis menduga kemunculan IED disebabkan ketidakseimbangan neurotransmitter atau kimiawi otak, seperti hormon serotonin (testeron) yang berhubungan dengan sistem limbik (emosi dan memori ). Faktor lainnya adalah adanya gangguan lobus frontal yang berfungsi untuk mengontrol impuls.

Gangguan fisik atau biologi pada masa perkembangan juga diduga sebagai penyebab IED yang mempengaruhi gangguan ringan neurologik tidak normal. Penggunaan alkohol pada masa remaja, trauma kepala, kelainan bentuk otak, infeksi kepala juga sebagai pemicu kemunculan EID.

2) Faktor psikologis
Beberapa studi menunjukkan gangguan impuls berhubungan erat dengan riwayat keluarga yang memiliki adiktif dan gangguan mood.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa individu dengan EID berkembang dari keluarga yang berhubungan erat dengan frustrasi, kekerasan fisik dan emosi, orangtua yang menggunakan alkohol, perlakuan (pendidikan) sehari-hari. Individu EID tidak pernah diajarkan untuk mengontrol impuls dan emosinya secara benar.

Individu dengan EID memiliki self esteem yang rendah, mereka memiliki cara tersendiri kompensasi terhadap emosinya, sehingga mereka mudah sekali eksplosif dalam menghadapi situasi stress atau frustrasi baik disadari atau tidak disadari.

FAKTOR RESIKO

Beberapa resiko gangguan EID;
– Terlibat kekerasan
– Gangguan kecemasan

– Pembunuhan
– Gangguan mood
– Gangguan makan
– Gangguan kepribadian seperti antisosial, paranoid atau narsisistik
– Pada anak dapat terlibat perilaku kriminal seperti mencuri atau membakar (piromania)
– Bunuh diri
– Perceraian
– Kehilangan pekerjaan
– Dikeluarkan dari sekolah

TEST DAN DIAGNOSIS

Beberapa kondisi simtom yang harus dipisahkan (klinis banding) untuk diagnosa gangguan eksplosif intermiten ini adalah delirium, demensia, oppositional defiant disorder (ODD), gangguan kepribadian antisosial, skizofrenia, serangan panik atau pengasingan diri dan keracunan (intoksikasi). Electroencephalograms (EEGs) dapat digunakan untuk mencheck tanda-tanda neurologis dan keseimbangan serotonin dan testeron

Identifikasi sendiri

• Apakah Anda mempunyai permasalahan dalam mengendalikan temperamen?
• Apakah Anda pernah berlaku kasar atau menyerang orang lain?
• Apakah ttindakan Anda berlebihan ketika marah atau terprovokasi oleh situasi atau orang lain?
• Apakah Anda pernah memukul atau memecahkan barang-barang ketika marah?
• Apakah Anda menggunakan alkohol atau obat-obatan?
• Apakah Anda memiliki riwayat keluarga yang sama, misalnya ayah seorang pemarah?
• Apakah Anda pernah memiliki riwayat kecelakaan seperti luka kepala?
• Apakah Anda pernah mengidap epilepsy?
• Apakah anggota keluarga Anda memiliki riwayat depresi atau gangguan kecemasan?

Jika jawaban Anda YA untuk pertanyaan nomor 1 dan 2, setidaknya 5 kali pernah terjadi, maka dianjurkan Anda untuk melakukan konseling kepada tenaga ahli.

TREATMENT

Medikasi
Obat-obatan yang digunakan dalam treatmen EID:

• Anticonvulsants, seperti carbamazepine (Tegretol), phenytoin (Dilantin), gabapentin (Neurontin) dan lamotrigine (Lamictal)
• Anti cemas, golongan benzodiazepine, seperti diazepam (Valium), lorazepam (Ativan) dan alprazolam (Xanax)
• Pengatur mood, seperti lithium dan propranolol (Inderal)
• Antidepressants, seperti fluoxetine (Prozac) dan paroxetine (Paxil)

Psikoterapi
Terapi dalam treatment EID digunakan adalah terapi psikodinamika, terapi ini dianggap lebih baik dalam mengontrol perilaku dan pikiran-pikiran yang muncul dalam diri individu. Terapi ini juga melatih individu dalam mengenal perasaan-perasaannya, motivasi, termasuk dalam pikiran sadar dan bawah sadar.

Cognitive-behavioral therapy (CBT) bertujuan untuk membantu indivdu lebih fokus dalam pikiran kesadaran dan pola-pola perilaku yang lebih positif dalam mengendalikan dorongan-dorongan impuls untuk menghindari terjadinya ledakan amarah.

Grup terapi dan terapi keluarga dan support group (seperti Alcoholics Anonymous ) kadang juga dibutuhkan untuk menolong individu agar tidak terjebak dalam penyalahgunaan alkohol.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar

Artikel Lainnya

Ketika Si Anak Memilih Jalannya Sendiri

28 Apr 2018 Fuad Nashori

Orangtua berupaya agar anaknya memilih jalan yang terbaik yang menjamin masa depannya. Tugas orangtua yang…

Mengenal Dyslexia Pada Anak

13 Oct 2015 pikirdong

Dyslexia (disleksia) merupakan ketidakmampuan belajar (learning disability) yang dialami oleh seseorang dimana individu tidak mampu…

Efek Perceraian pada Anak

12 Sep 2013 Sayed Muhammad

Perceraian merupakan mimpi buruk setiap pasangan menikah, namun kenyataan perceraian merupakan pilihan terbaik yang diambil…

Salah Kaprah tentang HAM

05 Oct 2016 Bagus Riyono

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak dan menyentuh hampir semua aspek kehidupan…

Fetishisme Transvestik – Paraphilia

06 Sep 2013 pikirdong

Transvestitism, atau fetishisme transvestik adalah penyimpangan seksual yang dialami oleh individu heteroseksual (pada pria) untuk…

Edisi Ibukota : "Kala Burnout Melanda...."

15 Sep 2013 Candrawati Wijaya

Salam Tarzan Kota! Apa Kabar Kawan?!! Luar biasa, akhirnya saya bisa melanjutkan seri ini. Seri terakhir…

ADHD Pada Orang Dewasa

05 Sep 2013 pikirdong

ADHD tidak saja mengidap pada anak-anak, sebagian besar gangguan tersebut tetap dibawa sampai dewasa. Secara…

Developmental Milestones: Usia 24 Bulan

14 Oct 2015 pikirdong

Perkembangan Mental Usia 24 Bulan PENGAMATAN PERILAKU Komunikasi Bahasa Mulai merangkai kata-kata Tingkah laku Senang dipuji bila selesai menyelesaikan tugasnya Pekerjaan menyangkut…

Gangguan Kecemasan (Anxiety Disorder)

08 Sep 2013 pikirdong

Kecemasan merupakan hal yang normal terjadi pada setiap individu, reaksi umum terhadap stress kadang dengan…

Mengakhiri Kehampaan dengan Dzikir

09 Sep 2013 Fuad Nashori

Masalah kebermaknaan hidup senantiasa menjadi problem penting dalam kehidupan manusia, baik dulu, kini dan di…

Antisocial Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian antisosial (Antisocial Personal Disorder) secara klinis merupakan gangguan karakter kronis seperti sifat menipu,…

Post Traumatic Stress Disorder

08 Sep 2013 pikirdong

Situasi stres pada umumnya menghasilkan reaksi emosional seperti; kecemasan, kemarahan, kekecewaan dan depresi. Kegembiraan juga…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

Muslim yang Ketakutan

Ada rasa takut, khawatir saat mau nge-share tulisan ulama yang dicap radikal. Takut dianggap pro HTI, pro FPI, ekstrim, radikal,…

30 May 2018 Khairrubi Kolom Ruby Kay No comments

Mendidik Anak dengan Sepenuh Hati

Mendidik atau mengasuh anak dengan sepenuh hati itu artinya mendidik anak dengan pendidikan Islam. Hanya dengan pendidikan Islam saja orangtua…

23 May 2018 Artikel Keluarga Psikologi Islami Irwan Nuryana Kurniawan Comments (1)

Biar Anak Rajin Ke Masjid

Saya dan istri saya ingin semua anak rajin ke masjid. Yang kami tahu adalah nanti yang mendapat naungan dari terik…

29 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Ketika Si Anak Memilih Jalannya Sendiri

Orangtua berupaya agar anaknya memilih jalan yang terbaik yang menjamin masa depannya. Tugas orangtua yang pertama tentu adalah mengarahkan. Dulu…

28 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Mendidik Anak Mandiri

Salah satu tugas orangtua adalah melatih anaknya menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang mandiri adalah pribadi yang memiliki inisiatif untuk…

27 Apr 2018 Artikel Keluarga Fuad Nashori No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014