Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

Reformasi Sistem Pendidikan Finlandia Menjadikan Mereka yang Terbaik di Dunia

Reformasi besar-besaran dalam dunia pendidikan di Finlandia telah dimulai…

Perlu Tidak Ulang Tahun Anak Dirayakan?

Anak mulai mengerti kebiasaan perayaan ulang tahun pada usia…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Intermittent Explosive Disorder

Intermittent explosive disorder (IED; gangguan eksplosif intermiten) merupakan gangguan dalam mengontrol impuls seperti adiktif alkohol, gangguan makan, berjudi, parafilia, kebiasaan menarik rambut, mencuri dan gangguan eksplosif intermiten.

Gangguan eksplosif intermiten merupakan salah satu dari klasifikasi gangguan kontrol impuls lainnya (Impulse Control Disorders) bersama dalam kelompok itu adalah Kleptomania, Piromania, Berjudi patologis, Trikotilomania, dan Gangguan pengendalian impuls yang tidak terdefinisi.

Individu dengan gangguan kontrol impuls tidak dapat menahan dorongan-dorongan dalam dirinya untuk melakukan sesuatu sebagai pemenuhan keinginannya. Gangguan eksplosif intermiten adalah bentuk dari episode amarah atau agresifitas untuk melakukan penghancurkan terhadap barang-barang atau bahkan pembunuhan. IED ini sangat dekat dengan beberapa istilah kekerasan domestik (kekerasan dalam rumah tangga) atau kekerasan di tempat bekerja.

Ketika individu dengan gangguan IED terprovokasi, ia akan eksplosif dan bereaksi secara berlebihan dalam beberapa menit bahkan dalam hitungan jam. Setelah terjadi ledakan amarah selesai, biasanya individu akan merasa bersalah, malu, meminta maaf atau menyesal.

Tenaga kesehatan profesional dalam mendiagnosa dasar gangguan eksplosif intermiten akan memperhatikan pola dan kebiasaan individu apakah dipengaruhi oleh kondisi dibawah kesadaran atau pengaruh dari alkohol, kokain atau ganja. Kondisi tersebut sering sekali sebagai penyebab timbulnya kekerasan.

Individu yang didiagnosa gangguan eksplosif intermiten juga memiliki kaitan dengan beberapa gangguan lainnya seperti; gangguan depresi, gangguan bipolar, gangguan kecemasan dan gangguan obsessive-compulsive. Akan tetapi diagnosa dikatakan mengalami gangguan IED, bila kekerasan yang muncul bukan disebabkan oleh gangguan mental lainnya atau kondisi mental lainnya. Berdasarkan DSM IV untuk definisi EID pada poin ketiga ini masih dalam perdebatan dan dianggap kontroversi bagi beberapa ahli dalam memahami kriteria tersebut.

KRITERIA DSM


Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) kriteria gangguan EID adalah;
1) Kegagalan dalam menahan dorongan agresi yang mengakibatkan aksi kekerasan serius atau penghancuran benda-benda
2) Ekspresi agresifitas selama episode berlangsung adalah disebabkan oleh adanya sebab-sebab pemicu stres psikososial
3) Episode agresifitas bukan disebabkan oleh ganguan mental lainnya (seperti gangguan kepribadian antisosial, gangguan kepribadian borderline, gangguan psikotik, episode mania, conduct disorder, atau ADHD) dan bukan disebabkan langsung oleh efek dari kondisi psikologis ( seperti penyalahgunaan obat, medikasi) atau disebabkan oleh kondisi medis secara umum ( seperti trauma kepala, penyakit Alzheimer)

SIMTOM

Simtom utama EID adalah terjadinya erupsi kemarahan dan agresifitas yang berlangsung selama 10-20 menit yang mengakibatkan luka atau cidera atau penghancuran benda-benda. Episode ini diperikirakan sudah muncul sebelumnya selama 1 minggu atau bulan tanpa adanya tanda-tanda gejala kekerasan.

Ketika episode agresi berlangsung individu;
– badan bergetar
– palpitasi
– ribut
– kepala seperti tertekan
– telinga memanas dan seperti mendengar bayangan suara
– dada terasa sesak

PENYEBAB

Penyebab utama kemunculan EID secara pasti tidak diketahui dengan pasti, para ahli berpendapat banyak faktor yang dapat memunculkan EID salah satunya adalah gangguan emosi dan fisik pada masa perkembangan anak.

1) Faktor biologi
Teori biologis menduga kemunculan IED disebabkan ketidakseimbangan neurotransmitter atau kimiawi otak, seperti hormon serotonin (testeron) yang berhubungan dengan sistem limbik (emosi dan memori ). Faktor lainnya adalah adanya gangguan lobus frontal yang berfungsi untuk mengontrol impuls.

Gangguan fisik atau biologi pada masa perkembangan juga diduga sebagai penyebab IED yang mempengaruhi gangguan ringan neurologik tidak normal. Penggunaan alkohol pada masa remaja, trauma kepala, kelainan bentuk otak, infeksi kepala juga sebagai pemicu kemunculan EID.

2) Faktor psikologis
Beberapa studi menunjukkan gangguan impuls berhubungan erat dengan riwayat keluarga yang memiliki adiktif dan gangguan mood.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa individu dengan EID berkembang dari keluarga yang berhubungan erat dengan frustrasi, kekerasan fisik dan emosi, orangtua yang menggunakan alkohol, perlakuan (pendidikan) sehari-hari. Individu EID tidak pernah diajarkan untuk mengontrol impuls dan emosinya secara benar.

Individu dengan EID memiliki self esteem yang rendah, mereka memiliki cara tersendiri kompensasi terhadap emosinya, sehingga mereka mudah sekali eksplosif dalam menghadapi situasi stress atau frustrasi baik disadari atau tidak disadari.

FAKTOR RESIKO

Beberapa resiko gangguan EID;
– Terlibat kekerasan
– Gangguan kecemasan

– Pembunuhan
– Gangguan mood
– Gangguan makan
– Gangguan kepribadian seperti antisosial, paranoid atau narsisistik
– Pada anak dapat terlibat perilaku kriminal seperti mencuri atau membakar (piromania)
– Bunuh diri
– Perceraian
– Kehilangan pekerjaan
– Dikeluarkan dari sekolah

TEST DAN DIAGNOSIS

Beberapa kondisi simtom yang harus dipisahkan (klinis banding) untuk diagnosa gangguan eksplosif intermiten ini adalah delirium, demensia, oppositional defiant disorder (ODD), gangguan kepribadian antisosial, skizofrenia, serangan panik atau pengasingan diri dan keracunan (intoksikasi). Electroencephalograms (EEGs) dapat digunakan untuk mencheck tanda-tanda neurologis dan keseimbangan serotonin dan testeron

Identifikasi sendiri

• Apakah Anda mempunyai permasalahan dalam mengendalikan temperamen?
• Apakah Anda pernah berlaku kasar atau menyerang orang lain?
• Apakah ttindakan Anda berlebihan ketika marah atau terprovokasi oleh situasi atau orang lain?
• Apakah Anda pernah memukul atau memecahkan barang-barang ketika marah?
• Apakah Anda menggunakan alkohol atau obat-obatan?
• Apakah Anda memiliki riwayat keluarga yang sama, misalnya ayah seorang pemarah?
• Apakah Anda pernah memiliki riwayat kecelakaan seperti luka kepala?
• Apakah Anda pernah mengidap epilepsy?
• Apakah anggota keluarga Anda memiliki riwayat depresi atau gangguan kecemasan?

Jika jawaban Anda YA untuk pertanyaan nomor 1 dan 2, setidaknya 5 kali pernah terjadi, maka dianjurkan Anda untuk melakukan konseling kepada tenaga ahli.

TREATMENT

Medikasi
Obat-obatan yang digunakan dalam treatmen EID:

• Anticonvulsants, seperti carbamazepine (Tegretol), phenytoin (Dilantin), gabapentin (Neurontin) dan lamotrigine (Lamictal)
• Anti cemas, golongan benzodiazepine, seperti diazepam (Valium), lorazepam (Ativan) dan alprazolam (Xanax)
• Pengatur mood, seperti lithium dan propranolol (Inderal)
• Antidepressants, seperti fluoxetine (Prozac) dan paroxetine (Paxil)

Psikoterapi
Terapi dalam treatment EID digunakan adalah terapi psikodinamika, terapi ini dianggap lebih baik dalam mengontrol perilaku dan pikiran-pikiran yang muncul dalam diri individu. Terapi ini juga melatih individu dalam mengenal perasaan-perasaannya, motivasi, termasuk dalam pikiran sadar dan bawah sadar.

Cognitive-behavioral therapy (CBT) bertujuan untuk membantu indivdu lebih fokus dalam pikiran kesadaran dan pola-pola perilaku yang lebih positif dalam mengendalikan dorongan-dorongan impuls untuk menghindari terjadinya ledakan amarah.

Grup terapi dan terapi keluarga dan support group (seperti Alcoholics Anonymous ) kadang juga dibutuhkan untuk menolong individu agar tidak terjebak dalam penyalahgunaan alkohol.

[ew_style_box stype=”yellow”]Picture credits: http://www.free-desktop-backgrounds.net/free-desktop-wallpapers-backgrounds/[/ew_style_box]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Bila Anda Mendapat Tawaran Pemotretan Sensual?

08 Sep 2013 Sayed Muhammad

Gadis-gadis Indonesia bugil mulai bermunculan di internet sekitar tahun 1997. Gambar sensual tersebut bermunculan tidak…

Teknik Relaksasi: Mengurangi Stres

04 Sep 2013 pikirdong

Relaksasi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan sendiri oleh individu untuk mengurangi stres, kekalutan…

Katakan Saja Tidak!

29 Oct 2015 Sayed Muhammad

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar untuk mengatakan "tidak" yang memang kita…

Developmental Milestones: Usia 36 Bulan

14 Oct 2015 pikirdong

Perkembangan Mental Usia 36 Bulan PENGAMATAN PERILAKU Komunikasi Bahasa Menggunakan kalimat dengan sederhana Tingkah laku Berinteraksi dengan orang dewasa dan anak-anak Pekerjaan…

Commitment Phobia

06 Sep 2013 pikirdong

Commitment phobia merupakan bentuk suatu ketakutan (fear) untuk menjalin suatu hubungan yang lebih erat, rasa…

Salah Kaprah tentang HAM

05 Oct 2016 Bagus Riyono

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak dan menyentuh hampir semua aspek kehidupan…

Ketergantungan Komputer dan Internet: Tips dan Treatment

04 Sep 2013 pikirdong

Ketergantungan pada internet dan komputer memberikan dampak buruk dan perilaku baik secara langsung ataupun secara…

Haruskah Menyontek Jadi Budaya?

08 Sep 2013 Fira Friantini

Budaya menyontek sangat identik dengan dunia pendidikan saat ini. Terlebih ketika ujian sedang berlangsung. Tak…

Autism Disorder

05 Sep 2013 pikirdong

Autisme (autism disorder) merupakan gangguan pada sistem syaraf pusat yang berdampak pada gangguan interaksi sosial,…

Memberi Support pada Anak Gangguan Autis

04 Sep 2013 pikirdong

Saat ini diperkirakan sekitar 35 juta anak di dunia mengalami gangguan autisme, angka ini meningkat…

Edisi Ibukota : Tas Tas Integritas!!

15 Sep 2013 Candrawati Wijaya

Salam Tarzan Kota! Sudah sampai manakah Tarzan-Tarzan kota menjelajah?? Harapan saya, kita tetap akan bertemu di…

Kekerasan Terhadap Anak

08 Sep 2013 pikirdong

Kekerasan terhadap anak (child abusive) terjadi dalam pelbagai kultur, etnis atau kelompok masyarakat. Kekerasan dapat…

  • 1
  • 2
  • 3

Kategori Lainnya

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling kita yang kami adakan atas partisipasi teman-teman semua yang rela dan…

03 Sep 2013 Agenda Sosial pikirdong No comments

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak dan menyentuh hampir semua aspek kehidupan kita. Ada hak perempuan, hak…

05 Oct 2016 Artikel Psikologi GIB Psikologi Islami Psikologi Sosial Bagus Riyono Comments (1)

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014