TwitterFacebookGoogle+

Kekerasan Terhadap Anak

Kekerasan terhadap anak (child abusive) terjadi dalam pelbagai kultur, etnis atau kelompok masyarakat. Kekerasan dapat berupa secara fisik, verbal dan seksual, termasuk didalamnya sikap penolakan dalam merawat anak dari orangtua. Kekerasan tersebut dapat mengakibatkan trauma pada anak, cedera dan bahkan kematian.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kekerasan terhadap anak lebih banyak dialami oleh anak perempuan dibandingkan anak laki-laki, sebagai perbandingan diperkirakan satu dari empat perempuan pernah mengalami kekerasan seksual dibandingkan anak laki-laki satu perdelapannya sebelum mencapai usia 18 tahun. Penelitian lain juga menyebutkan bahwa satu dari 20 anak pernah mengalami kekerasan secara fisik dalam setiap tahunnya. Tindakan-tindakan kekerasan berupa mencengkram anak, membakar (termasuk didalamnya menyundut dengan rokok), menggigit anak, atau bahkan pukulan-pukulan yang mengakibatkan keretakan atau patah tulang.

Pelbagai bentuk kekerasan seksual lainnya seperti pembicaraan hal-hal berkenan dengan pornografi yang semestinya tidak didengarkan oleh anak juga termasuk didalamnya (kekerasan dan pelecehan seksual). Orang dewasa yang mengunakan kata-kata porno dengan sengaja mengungkapkan kalimat-kalimat tersebut di depan atau langsung terhadap anak seringkali dialami anak dan menjadi tertekan olehnya. Sementara, tindakan kekerasan dan pelecehan yang dialami oleh anak yang sering diungkapkan adalah berupa tindakan-tindakan seperti menyentuh payudara atau alat kelamin anak, mengekspos alat kelamin anak (melihat dengan paksa atau disengaja), melakukan hubungan seksual, tindakan seksual seperti oral seks, ataupun berupa perilaku-perilaku dari eksibisionisme, voyeurisme dan pornografi anak.

Bentuk kekerasan terhadap anak yang berhubungan erat adalah penolakan dan pengabaian dalam merawat anak (child neglect). Child neglect sering diartikan sebagai bentuk kelalain (baik disengaja ataupun tidak) pada orangtua dalam memberikan perhatian dan kasih sayang terhadap anak, termasuk didalamnya pemenuhan kebutuhan-kebutuhan anak secara fisik dan emosional (seperti kenyamanan dan kasih sayang). Tindakan ini berupa menahan waktu anak untuk memberikan makan, pakaian, ataupun kebutuhan-kebutuhan lainnya (seperti merawat anak ketika sakit).

Faktor Penyebab

Banyak faktor pemicu kekerasan terhadap anak, kombinasi antara karakter, hubungan antar individu, masyarakat dan keseharian perilaku ―termasuk di dalamnya norma, kebiasaan budaya dan hukum.

Banyak kasus kekerasan terhadap anak terjadi dimana anak sebenarnya bukan sebagai pemicu langsung yang berhubungan dengan konflik pada orang dewasa. Anak sering menjadi korban dan pelampiasan dari konflik tersebut. Beberapa penelitian terbaru menunjukkan adanya hubungan karakteristik yang berperan terhadap meningkatnya kekerasan yang dialami anak, dengan kata lain, resiko kekerasan terhadap anak berhubungan langsung dengan karakter yang dimiliki oleh orang dewasa. Namun demikian dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa karakteristik bukanlah satu-satunya faktor (faktor utama) terjadinya kekerasan terhadap anak.

Beberapa faktor resiko terjadinya kekerasan pada anak lainnya;
– Ketidakmampuan atau retardasi mental pada anak
– Isolasi sosial dari keluarga
– Orangtua kurang mengetahui akan kebutuhan dan perkembangan anak
– Orangtua yang memiliki riwayat kekerasan domestik (rumahtangga)
– Kemiskinan dan strata sosioekonomi yang rendah
– Orangtua pengangguran
– Rumahtangga yang mengalami perpecahan, kekerasan, perceraian, isolasi dan intimidasi
– Hubungan keluarga yang tidak akrab
– Orangtua atau orangtua asuh yang masih terlalu muda
– Hubungan antara orangtua dan anak yang buruk
– Orangtua yang memiliki permasalahan atau gangguan emosi dan berpikir
– Orangtua yang sedang mengalami stres dan distress, termasuk di dalamnya depresi atau gangguan mental lainnya
Community violence, termasuk didalamnya kekacauan massa dan perang

Tanda-tanda

Tidaklah mudah untuk mengetahui secara langsung adanya kekerasan yang dialami oleh anak. Pada umumnya, anak-anak yang mengalami kekerasan merasa takut untuk menceritakan kekerasan yang dialaminya, disamping trauma, anak juga merasa takut untuk disalahkan atau orang lain tidak akan percaya dengan apa yang diceritakan sang anak. Penyebab lainnya anak tidak mau bercerita bahwa pelakunya adalah salah satu orang yang ia kenal atau disayangi olehnya.

Anak yang mengalami kekerasan akan mengalami stres berkepanjangan, dan trauma tersebut akan dibawa sepanjang hidupnya dengan perubahan-perubahan perilaku atau maladjustment. Oleh karenanya orangtua mestilah melakukan pemulihan (recovery) secepatnya bila menemukan adanya tanda-tanda kekerasan tersebut.

Beberapa tanda anak mengalami kekerasan;

a) kekerasan fisik
Beberapa luka yang membekas dan tidak bisa dijelaskan, seperti luka terbakar, lebam, luka memar, luka pada kepala dan sebagainya.

b) Kekerasan seksual;
Perubahan perilaku secara mencolok termasuk didalamnya sering mimpi buruk dan mengompol, depresi, ketakutan pada hal-hal yang sebenarnya idak perlu, takut pada orang asing, keinginan untuk berlari karena rasa takut. Tanda-tanda fisik lainnya yang dapat dilihat; rasa sakit dan luka pada alat kelamin disertai pendarahan atau infeksi pada alat kelamin, munculnya penyakit kelamin akibat ditulari oleh pelaku, rasa sakit saat buang air kecil, sakit bagian perut, dan sebagainya.

c) Kekerasan emosional;
Perubahan rasa percaya diri secara mendadak, sering sakit kepala dan perut tanpa disebabkan oleh faktor medis, ketakutan yang tidak biasa (abnormal), meningkatnya mimpi buruk atau kecenderungan untuk bersembunyi

d) Pengabaian perawatan
Terjadi penurunan berat badan (terutama pada bayi), anak suka menyendiri dan sering melamun, hasrat makan banyak (lahap) seperti kelaparan dan sering mencuri makanan yang disimpan.

Kekerasan seksual

Pelaku kekerasan dan pelecehan seksual biasanya sudah cukup dikenal sang anak. Pelakunya adalah orang dekat, kerabat keluarga atau orang-orang terdekatnya, bahkan pelakunya dapat orangtua kandung atau masih mempunyai hubungan kekerabatan (incest). Pelaku kebanyakan memiliki gangguan orientasi seksual yang dikenal dengan sebutan pedophilia.

Bila orangtua mencurigai adanya kekerasan seksual yang dialami oleh anaknya, sebaiknya melakukan beberapa hal pendekatan dengan anak dibawah ini

  • Tunjukanlah bahwa Anda serius dan paham dengan kondisi anak, jangan panik, tunjukkanlah respon yang tidak membuat anak merasa takut untuk mengungkapkan masalahnya. Bila respon tepat diberikan maka akan memudahkan penyembuhan trauma dikemudian hari nantinya.
  • Berikan dukungan dan membenarkan tindakan yang dilakukan anak karena mau menceritakan kejadian yang dialaminya. Anak yang dekat dengan pelaku akan merasa bersalah pada dirinya sendiri bila menceritakan rahasia tersebut. Ancaman dari pelaku juga membuat anak merasa takut untuk membuka rahasianya. Janganlah menyalahkan atau menghakiminya.
  • Katakan pada anak agar tidak menyalahkan dirinya. Kebanyakan anak yang mengalami kekerasan seksual merasa sensitif dan mengingat-ingat kembali dengan apa yang sudah ia alami sehingga tak jarang diantara mereka untuk menghukum dirinya sendiri baik dalam imajinasi mereka atau tingkah laku kesehariannya.
  • Berikan perhatian dan perlindungan yang lebih pada anak. Berikan keyakinan kepada anak bahwa kejadian tersebut tidak akan terulang kembali. Tindakan ini dilakukan untuk memberikan kepercayaan dan keyakinan dalam dirinya yang dapat mendukung terapi penyembuhan nantinya

Bila kasus ini dilanjutkan secara hukum, dokter tidak boleh mengabaikan bila ditemukannya tanda-tanda adanya kekerasan seksual pada anak dengan pelbagai pertimbangan lainnya. Tanda-tanda fisik tersebut sifatnya temporari, dan akan menghilang dengan sendirinya, idealnya dalam 72 jam segera dilakukan langkah-langkah pemeriksaan (visum) secepatnya.

Penulis

ayed
Sayed Muhammad adalah lulusan psikologi Universitas Islam Indonesia, ia adalah perintis dan penulis tetap di website ini. Beberapa pengalamannya pernah mengajar di STAIN Malikussaleh untuk bidang studi psikologi pendidikan,

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar

Artikel Lainnya

ADHD Pada Anak-anak

05 Sep 2013 pikirdong

Tanda-tanda adanya gangguan ADHD sebenarnya sudah dapat dideteksi sejak anak masa pra sekolah. Kurangnya atensi,…

Agenda Sosial Pikirdong

03 Sep 2013 pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling kita yang kami adakan atas partisipasi…

Heroin

12 Sep 2013 pikirdong

Heroin, yang secara farmakologis mirip dengan morfin dan kekuatannya dua kali lebih kuat dibandingkan morfin…

Memberi Nama yang Baik Untuk Anak Kita

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Salah satu hak anak adalah mempunyai nama yang baik. Hak ini merupakan tanggung jawab orangtua…

Dyslexia

03 Sep 2013 pikirdong

Membaca dengan lancar bagi seseorang mungkin sangat mudah setelah melalui proses belajar dari sejak kecil,…

Narcissistic Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau gangguan kepribadian narsisistik merupakan gangguan mental dimana individu merasa dirinya…

Garis Besar Haluan Organisasi Asosiasi Psikologi Islami

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Dalam Kongres II Asosiasi Psikologi Islami yang berlangsung di Unissula pada 4-5 Agustus 2007, berhasil…

Post Traumatic Stress Disorder

08 Sep 2013 pikirdong

Situasi stres pada umumnya menghasilkan reaksi emosional seperti; kecemasan, kemarahan, kekecewaan dan depresi. Kegembiraan juga…

Haruskah Menyontek Jadi Budaya?

08 Sep 2013 Fira Friantini

Budaya menyontek sangat identik dengan dunia pendidikan saat ini. Terlebih ketika ujian sedang berlangsung. Tak…

Dunia Pendidikan : Menjalin Rasa Simpati dan Pengertian

12 Sep 2013 Sayed Muhammad

Anak-anak yang merasa, atau dibuat tidak merasa, tidak diterima dan tidak kompeten akan lambat memulihkan…

Menghindar Burnout di Tempat Kerja

08 Sep 2013 pikirdong

Istilah burnout secara psikologis pada awalnya digunakan oleh Freudenberger meminjam istilah yang pada awalnya…

Obsessive Compulsive Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif (Obsessive Compulsive Personality Disorder; OCPD) adalah suatu kondisi karakter dengan gangguan kronis…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

Muslim yang Ketakutan

Ada rasa takut, khawatir saat mau nge-share tulisan ulama yang dicap radikal. Takut dianggap pro HTI, pro FPI, ekstrim, radikal,…

30 May 2018 Khairrubi Kolom Ruby Kay No comments

Mendidik Anak dengan Sepenuh Hati

Mendidik atau mengasuh anak dengan sepenuh hati itu artinya mendidik anak dengan pendidikan Islam. Hanya dengan pendidikan Islam saja orangtua…

23 May 2018 Artikel Keluarga Psikologi Islami Irwan Nuryana Kurniawan Comments (1)

Biar Anak Rajin Ke Masjid

Saya dan istri saya ingin semua anak rajin ke masjid. Yang kami tahu adalah nanti yang mendapat naungan dari terik…

29 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Ketika Si Anak Memilih Jalannya Sendiri

Orangtua berupaya agar anaknya memilih jalan yang terbaik yang menjamin masa depannya. Tugas orangtua yang pertama tentu adalah mengarahkan. Dulu…

28 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Mendidik Anak Mandiri

Salah satu tugas orangtua adalah melatih anaknya menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang mandiri adalah pribadi yang memiliki inisiatif untuk…

27 Apr 2018 Artikel Keluarga Fuad Nashori No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014