Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

Reformasi Sistem Pendidikan Finlandia Menjadikan Mereka yang Terbaik di Dunia

Reformasi besar-besaran dalam dunia pendidikan di Finlandia telah dimulai…

Perlu Tidak Ulang Tahun Anak Dirayakan?

Anak mulai mengerti kebiasaan perayaan ulang tahun pada usia…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Kelapangdadaan Survivor Bencana Tsunami dan Gempa Aceh

ABSTRACT

Penelitian bertujuan untuk mengungkap kelapangdadaan survivor bencana gempa dan tsunami Aceh. Untuk itu dilakukan wawancara mendalam dan observasi terhadap enam responden yang tinggal di Banda Aceh (5 orang) dan Yogyakarta (1 orang). Wawancara dan observasi berlangsung antara 15 Juli hingga 30 September 2006.
Hasil penelitian menunjukkan responden memiliki tema-tema: (a) Kesadaran Spiritual: (1) sadar bahwa Tuhan maha berkehendak, (2) memahami bahwa melalui tsunami Tuhan menunjukkan kebesaran-Nya, (3) meningkat kesadaran bisa sewaktu-waktu dipanggil oleh Tuhan, (4) memandang tsunami adalah peringatan dari Tuhan, (5) kesadaran bahwa Tuhan bermaksud baik dengan cobaan tsunami yang diberikan-Nya; (b) Kesiapan psikologis: (6) memiliki pengetahuan tentang gejala-gejala tsunami, namun ada yang berpikir bahwa tidak mungkin air laut naik ke darat, (7) tahu dari kitab suci bahwa bencana alam yang sangat dahsyat dapat kapan saja mengenai manusia, (8) kemampuan manusia mempersiapkan diri tidak optimal. (C) Keyakinan akan kesanggupan diri menanggung beban: (9) keyakinan akan kesanggupan diri menghadapi keadaan yang tak menyenangkan walau merasa sedih; (10) merasa tidak lemah sekalipun kehilangan keluarga, (11) perasaan sudah tak berdaya lagi, kemudian pasrah, (12) perasaan pasrah terhadap orang-orang yang dicintai, (13) merasa ditolong dan diberi selamat oleh Tuhan; (D) Penyesalan dan Pertaubatan: (14) insaf atas kesalahan mengganggu orang lain, (15) sadar akan kesalahan diri kepada orangtua, (16) sadar bahwa dulu suka mengganggu guru tapi sekarang tidak lagi, (17) merasa menyesal kurang optimum berbuat baik untuk orang-orang dekat yang dipanggil-Nya, (18) memohon ampun atas kesahan yang diperbuat; (19) tidak mudah marah kepada orang lain sekalipun orang lain marah, (20) mengkompensasi kesalahan dengan perbuatan positif; (E) Pencarian hikmah (seeking meaning): (21) mudah mengingat Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, (22) kesadaran bahwa Tuhan memberi kesempatan untuk beramal lebih banyak, (23) menjadi pribadi yang lebih sabar, tawakkal, tabah; (F) Berpikir positif tentang masa depan (positive thinking): (24) ke depan harus bisa berbakti kepada orangtua; (25) Keinginan memperbaiki moral masyarakat Aceh. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kelapangdadaan adalah (a) Faktor keimanan, (b) Faktor ibadah, (c) Faktor pengalaman, dan (d) Faktor dukungan keluarga dan yang lain.

Kata kunci: Kelapangdadaan, Aceh, gempa dan tsunami

Pengantar

Dalam upaya mempertahankan eksistensinya, umat manusia melakukan relasi dengan Tuhan, sesamanya, dan juga dengan alam. Khusus yang berkaitan dengan sesama manusia dan alam, relasi yang dijalani manusia itu bisa bersifat positif dan bisa pula bersifat negatif (Nashori, 2003). Relasi positif dengan sesama diwujudkan dalam aktivitas perhatian, kepedulian, persahabatan, pemberian pertolongan, dan sejenisnya. Relasi yang positif dengan alam dilakukan dengan mengelola dan melestarikan alam semesta. Sementara relasi yang bersifat negatif dengan sesama manusia ditandai oleh adanya penipuan, pertengkaran, peperangan, agresivitas, diskriminasi, dan sebagainya. Relasi yang negatif dengan alam ditandai oleh eksploitasi alam oleh manusia dan oleh bencana alam seperti tsunami, gempa, letusan gunung, longsor, dan banjir.

Ketika berhadapan dengan realitas bahwa relasi yang dijalaninya bersama alam dan sesama manusia itu bersifat negatif, banyak penderitaan yang dialami manusia. Ketika berhadapan dengan kenyataan bahwa tanah dan keluarga yang dicintainya digempur atau diterjang oleh tsunami dan gempa, seorang warga Aceh merasakan penderitaan batin. Boleh dikatakan bahwa ketika berbagai situasi itu bersifat tidak menyenangkan, orang merasakan rasa sedih dan hilangnya kegembiraan.

Sebuah pertanyaan muncul, apakah seseorang yang berhadapan dengan situasi objektif yang tidak menyenangkan pasti merasakan penderitaan? Hidayat (2005) yang melakukan asesmen psikologis terhadap survivor bencana Aceh menandaskan bahwa ternyata orang-orang yang merasakan dampak bencana tsunami dan gempa yang paling berat (yang disebut berada di ring I, yaitu mereka yang terkena gempuran tsunami) menunjukkan penerimaan atas situasi kondisi yang dialaminya. Keselamatan yang dimilikinya dipandangnya sebagai mukjizat dari Tuhan dan kalau akhirnya keluarganya serta harta bendanya hilang atau musnah, ia memandangnya sebagai realitas yang tidak bisa tidak kecuali harus diterimanya. Keadaan seperti mengharuskan semua yang dicintai dan disayanginya tiada, hilang atau meninggal dunia. Dalam dirinya tumbuh kemampuan untuk menerima hal yang secara objektif tidak menyenangkan. Dia memiliki apa yang disebut sebagai kelapangdadaan (Nashori, 2004; 2005; 2008).

Kelapangdadaan adalah suatu kondisi psiko-spiritual yang ditandai oleh kemampuan menerima berbagai kenyataan yang tidak menyenangkan dengan tenang dan terkendali (Nashori, 2004; 2008). Orang yang lapang dada memiliki kekuatan dalam jiwanya untuk bertahan dan tidak berputus asa manakala menghadapi berbagai situasi yang secara objektif tidak menyenangkan, baik secara psikis dan menyakitkan secara fisik. Semakin tinggi kelapangdadaan seseorang semakin mampu ia menerima realitas yang beragam, termasuk yang tidak menyenangkan (Nashori, 2004).

Situasi yang tidak menyenangkan dapat saja terjadi karena faktor alam dan bisa pula karena faktor sosial. Contoh faktor alam adalah bencana banjir, longsor, tsunami dan gempa bumi. Menjadi korban bencana tsunami dan gempa sebagaimana yang dialami warga Nanggroe Aceh Darussalam secara objektif tidak disukai. Dalam kenyataannya, sebagian besar korban bencana tsunami dan gempa Aceh merasakan penderitaan fisik dan psikologis. Namun, sebagian dari mereka tetap menunjukkan sikap tenang dan terkendali. Karena ketenangannya, mereka menghayati peristiwa yang terjadi secara holistik, yaitu suatu kejadian dipersepsi memiliki keterkaitan dengan kejadian lain, misalkan bahwa bencana terjadi pastilah memiliki hikmah. Mereka juga menunjukkan sikap dan perilaku terkendali, di mana sikap dan perilaku yang mereka tunjukkan dapat mereka kontrol secara baik sehingga tidak menimbulkan kerugian bagi diri sendiri maupun orang lain dan lingkungannya.

Berkenaan dengan adanya realitas bencana yang maha dahsyat pada masyarakat Aceh pada 26 Desember 2004, banyak fenomena kelapangdadaan yang ditunjukkan oleh para survivor (orang-orang yang survive setelah terkena bencana). Sebagaimana diberitakan oleh Jawa Pos (6 Januari 2005), tsunami melontarkan tubuh Rizal Sahputra ke hamparan Samudra Hindia. Pemuda tersebut terkatung-katung di laut yang seakan tak bertepi itu selama delapan hari. Tekadnya untuk selamat hanya ditautkan pada sebatang pohon bercabang tiga yang berhasil diraihnya. Rizal menyebut cabang pohon itu pertolongan dari Tuhan. Dia sangat bersyukur ketika lambaian dengan ranting pohon itu disambut awak kapal Malaysia. Akhirnya dia tertolong.

Pertanyaan lanjutan yang dapat ditampilkan adalah adakah kelapangdadaan ini dimiliki para survivor bencana Aceh? Kalau ya, tema-tema kelapangdadaan apa saja yang muncul dalam diri mereka? Selanjutnya, faktor apa yang mempengaruhinya?

Pertanyaan Penelitian

Pertanyaan-pertanyaan penelitian yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
1. Tema kelapangdadaan yang menonjol pada survivor bencana tsunami aceh?
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kelapangdadaan survivor bencana tsunami Aceh?

Metode Penelitian

Subjek Penelitian. Subjek penelitian ini adalah enam orang Aceh yang menjadi survivor peristiwa gempa bumi dan tsunami Aceh yang berlangsung pada 26 Desember 2004. Sebagai survivor, mereka adalah orang-orang yang berada dalam situasi gempa dan tsunami dan berhasil selamat dari kemungkinan sebagai korban bencana tersebut. Subjek penelitian tinggal di Banda Aceh dan Yogyakarta.

Fokus Penelitian. Fokus penelitian ini adalah tema-tema kelapangdadaan dan faktor-faktor yang mempengaruhi kelapangdadaan survivor bencana tsunami dan gempa di Aceh.

Metode Pengambilan Data. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Dalam penelitian ini data yang berisi kelapangdadaan survivor Aceh diungkap dengan menggunakan wawancara secara mendalam (in depth interview). Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan ini dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara dan yang diwawancarai (interviewer and interviewee). Dalam penelitian ini akan digunakan jenis wawancara baku terbuka (Moleong, 1994). Maksudnya, wawancara dilakukan dengan menggunakan seperangkat pertanyaan baku. Urutan pertanyaan, kata-katanya, dan cara penyajiannya pun sama untuk setiap responden.

Diungkapkan oleh Guba dan Lincoln (Moleong, 1994) bahwa wawancara jenis di atas mestinya dilakukan secara terstruktur. Dalam hal ini pewawancara menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan. Untuk itu pertanyaan-pertanyaan disusun ketat. Sampel atau responden ditanyai dengan pertanyaan yang sama dan hal ini penting sekali. Semua subjek mempunyai kesempatan yang sama untuk menjawab pertanyaan yang diajukan.

Objektivitas dan keabsahan data penelitian dilakukan dengan melihat reliabilitas dan validitas data yang diacu. Dikatakan oleh Moleong (1994), validitas ditentukan oleh kredibilitas temuan dan interpretasinya dengan mengupayakan temuan dan penafsiran yang dilakukan sesuai dengan kondisi yang senyatanya dan disetujui oleh subjek penelitian.

Untuk keperluan di atas, dalam penelitian ini dilakukan pendalaman data dengan cara mengambil data secara intens. Bila diperlukan akan dilakukan wawancara secara berulang, terutama untuk mengungkap hal-hal yang konsisten dalam upaya memenuhi kriteria reliabilitas data.

Teknik Analisis Data. Adapun teknik-teknik analisis data dilakukan sebagai berikut. Pertama, setelah dilakukan wawancara, dilakukan analisis domain untuk mengetahui domain yang tercakup dalam kelapangdadaan survivor tsunami dan gempa Aceh. Kedua, wawancara terstruktur (tertulis) dari domain tertentu. Di sini peneliti akan memfokuskan diri pada domain yang telah ditentukan berkaitan dengan kelapangdadaan survivor. Ketiga, bila dipandang perlu akan dilakukan wawancara lanjutan untuk mengungkap berbagai persoalan yang perlu dikaji lebih lanjut. Keempat, mengontraskan antar elemen dalam domain yang diperoleh dari wawancara kontras. Hal yang keempat ini dilakukan bila terdapat pernyataan yang saling bertentangan.

Hasil Penelitian

Untuk mengungkap kelapangdadaan survivor bencana gempa dan tsunami Aceh, kami melakukan wawancara terhadap enam responden. Agar wawancara dapat berlangsung baik, maka kami membangun rapport terlebih dahulu. Sebelum wawancara dilakukan pewawancara meminta izin terlebih dahulu kepada responden. Selain wawancara, dilakukan pula observasi. Wawancara dan observasi berlangsung antara 15 Juli hingga 30 September 2006. Nama-nama responden adalah TA, LS, DA, PL, DM, dan AD. Semua subjek berstatus mahasiswa dengan usia bergerak antara 20-23 tahun.

Berikut ini akan diungkapkan tema-tema kelapangdadaan dan faktor-faktor yang mempengaruhi kelapangdadaan responden penelitian berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap enam responden.

1. Tema-tema Kelapangdadaan

a. Kesadaran Spiritual (spiritual awareness)

Kesadaran spiritual (spiritual awareness), yaitu kesadaran bahwa keadaan yang tidak menyenangkan merupakan ujian dari Allah ‘Azza wa jalla. Para survivor Aceh (1) sadar bahwa Tuhan maha berkehendak, (2) memahami bahwa melalui tsunami Tuhan menunjukkan kebesaran-Nya, (3) meningkat kesadaran dalam dirinya bahwa diri mereka dapat sewaktu-waktu dipanggil oleh Tuhan, (4) memandang tsunami adalah peringatan dari Tuhan, (5) menguat kesadaran bahwa Tuhan bermaksud baik dengan cobaan tsunami yang diberikan-Nya;

i. Tema pertama adalah sadar bahwa Tuhan maha berkehendak. Para survivor Aceh menyadari bahwa Tuhan memiliki sifat qadha dan qadar, punya kehendak dan ketetapan.

”Orang-orang membangun rumah dan kota selama berpuluh-puluh tahun, tapi hanya dalam tempo lima menit semua hilang. Bagi saya, kalau Tuhan menghendaki, maka dalam hitungan menit bahkan mungkin detik semua yang merasa kita miliki dapat diambil-Nya. Ya, kapan saja kita bisa dipanggil-Nya.” (TA)

“Sesuatu yang terjadi tu lebih mungkin orang tua Putra memberi pemahaman kuasa Allah memang harus begitu dah gak bisa bilang apa-apa karna yang membuat/menciptakan tu bisa berhak siapa-siapa yang mau mati bisa, memang hak dia (Allah)…kalo berkeluh kesah kenapa gini-gitu gak boleh tu, kita pasrah saja, semua yang terjadi pasti ada baiknya. Semua dah ditetapkan…. Kita jalani aja….” (LS)

“Seperti yang adek alami sekarang ini mungkin ini udah ketentuan Allah” (AD)

ii. Tema kedua adalah memahami bahwa melalui tsunami Tuhan menunjukkan kebesaran-Nya. Para survivor mempercayai bahwa bencana tsunami yang menimpa diri mereka menunjukkan besarnya kekuasaan Allah.

“gimana ya kak…Adek gak berfikir ke arah situ…gak berfikir kekuasaan Allah tu gimana, jujur aja adek gak terfikir ke situ, tapi kalau sekarang kejadian tsunamilah yang menunjukkan kekuasaan Allah yang paling besar” (AD)

iii. Tema ketiga adalah meningkat kesadaran bahwa bisa saja sewaktu-waktu manusia dipanggil oleh Tuhan.

”Dulu sebelum tsunami saya paling-paling hanya rajin shalat maghrib. Shalat yang lain masih sering bolong-bolong. Sejak peristiwa tsunami itu saya semakin menyadari bahwa kapan saja kita dapat dipanggil-Nya. Kini saya shalat lima waktu penuh.”(TA)

iv. Tema keempat adalah memandang tsunami adalah peringatan dari Tuhan. Para survivor percaya bahwa melalui tsunami Allah memperingatkan masyarakat Aceh untuk berakhlak yang lebih mulia.

”Tsunami itu peringatan. Sebelum tsunami itu masyarakat Aceh itu agak gimana gitu. Maksudnya? Banyak yang menyimpang akhlaknya.” (TA)

v. Tema kelima adalah kesadaran bahwa Tuhan bermaksud baik dengan cobaan yang diberikan-Nya melalui tsunami. Para survivor menyadari bahwa Tuhan hendak memberi cobaan kepada manusia melalui bencana gempa dan tsunami.

“Allah itu baik, mungkin yang tahun lalu itu cobaan untuk kita supaya kita menyadari perilaku yang kita lakukan pada masa lalu, sekarang kita harus memperbaikinya Allah memberi cobaan ini agar kita tetap sabar” (PL)

Dari keterangan di atas dapat diketahui bahwa para survivor bencana Aceh memiliki kesadaran sipiritual yang tingggi. Mereka sadar bahwa Tuhan maha berkehendak, sadar bisa sewaktu-waktu dipanggil oleh Tuhan, memahami bahwa melalui tsunami Tuhan menunjukkan kebesaran-Nya, memandang tsunami adalah peringatan dariTuhan, dan sadar Tuhan bermaksud baik dengan cobaan tsunami yang diberikan-Nya

b. Kesiapan psikologis (psychological preparatory)

Kesiapan psikologis (psychological preparatory), yaitu kesiapan untuk menerima stimulasi yang tidak menyenangkan. Ciri utama orang yang siap adalah tahu secara alamiah tentang gejala-gejala tsunami, namun ada yang berpikir bahwa tidak mungkin air laut naik ke darat. Mereka tahu bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan bisa saja terjadi dalam kehidupan mereka. Dengan pengetahuan itu mereka lebih siap untuk menghadapinya. Bahkan karena kesiapannya ini, merasa tidak lemah sekalipun kehilangan keluarga. Berikut ini akan diungkapkan kesiapan psikologis para survivor bencana Aceh.

i. Tema keenam adalah memiliki pengetahuan tentang gejala-gejala tsunami, namun ada yang berpikir bahwa tidak mungkin air laut naik ke darat. Para survivor mengetahui tentang gejala tsunami lengkap dengan ciri-cirinya. Sekalipun demikian, peristiwa tsunami Aceh 26 Desember 2004 sungguh sangat mengesankan bagi mereka. Berikut ini ungkapan mereka.

”Saya pernah mendengar informasi kalau ada gempa yang berayun tandanya ada tsunami. Saya ketahui itu dari orang-orang sebelumnya. Lalu saya menghadap ke arah selatan, ke arah laut. Mulai panik gitu.” (TA)

“Dari sisi airnya, datangnya air bergemuruh yang gak pernah kita lihat sama sekali, mana mungkin air laut naek ke darat, ni yang pertama kali dan itu yang paling berkesan, hitam lagi airnya kental..” (PL)

ii. Tema ketujuh adalah tahu tentang fenomena alam, termasuk tsunami, melalui kitab suci. Para survivor mengetahui bahwa kitab suci al-Qur’an berisi berbagai hal, di antaranya adalah gempa dan tsunami dapat saja setiap saat mengenai manusia.

“Setelah tsunami tu banyak lah hikmah yang didapat…mungkin kayak bintang yang mengelilingi bumi ini…kita kayak ditengah-tengah seperti diawasi dan dilindungi” (LS)

“Isi al-Quran itu banyak kak ya…salah satunya terjadinya bencana alam, kan ada juga dalam al-Quran” (PL)

iii. Tema kedelapan adalah kemampuan manusia mempersiapkan diri tidak optimal. Para survivor menyadari bahwa sekalipun mereka tahu bahwa berbagai bencana dapat saja mengenai manusia, termasuk diri mereka, namun mereka ternyata tidak memiliki kesiapan diri yang optimal untuk menghadapi bencana itu.

“Kita ini hidup mati gak tau kapan…apapun yang disuruh dipersiapkan mungkin belum siap sama kita, kapanpun bisa dipanggil…hal tsunami itulah…hal yang gak diduga-duga, barusan kita ketawa, barusan beberapa menit lalu kita ketawa ma dia beberapa menit kemudian kita liat mayat dia..” (LS)

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa sebagian responden menyadari bahwa peristiwa yang luar biasa seperti tsunami suatu saat bisa saja terjadi. Mereka merasa tetap kuat sekalipun perasaan mereka berat menghadapi semua itu. Menurut Atkinson dkk (2004), pengetahuan tentang kemungkinan hal-hal yang buruk tentang sesuatu dapat mengurangi stres yang terjadi. Responden yang tahu bahwa tsunami adalah kejadian yang mungkin berlangsung dalam kehidupan mereka akan lebih siap secara psikologis.

c. Keyakinan akan kesanggupan diri menanggung beban

Keyakinan akan kesanggupan diri menanggung beban, yaitu keyakinan bahwa kesulitan yang ditanggung tak akan melebihi kesanggupan dirinya untuk menerima beban itu. Para survivor mempercayai dirinya sanggup menghadapi berbagai keadaan yang menyedihkan. Kesanggupan itu ternyata terbukti, di antaranya mereka mereasa tetap kuat dan tidak lemah sekalipun kehilangan orang-orang dekat yang disayanginya.

i. Tema kesembilan adalah keyakinan akan kesanggupan diri menghadapi keadaan yang tak menyenangkan walau merasa sedih.

“ya..merasakan kasih sayang Nya dengan diberikan kita cobaan ya..karna Allah masih sayang sama kami maka diksih cobaan, apakah kita sanggup menjalaninya..alhamdulillah sampe sekarang masih sanggup walaupun masih ada sisa-sisa kesedihan karna kejadian kemaren..” (DM)

ii. Tema kesepuluh adalah merasa tidak lemah sekalipun sangat kehilangan keluarga.

“yang pasti kalo untuk mengubah sesuatu berat kak, misalnya pada waktu tsunami Dikki meronta-ronta mana adik Dikki, mana bapak Dikki gitu kan, Dikki gak mungkin di depan mamak, kalo Dikki lemah pasti ya hancur semua kami, pada waktu tu gimana membuat perasaan ini, menyembunyikannya walaupun menipu di depan mamak, Dikki harus membohongi diri Dikki sendiri, terkadang….kadang-kadang mamak tanya di mana bapak Dikki. Kenapa ibu masih tanya? karena mayatnya gak ketemu, kenapa gak cari, mungkin kalo dapat pun bisa stress atau apa…ada hikmahnya juga gak ketemu tapi dalam batin Dikki berontak juga harus ketemu…tapi kalo Dikki pikir kalo seandainya ketemu Dikki liat juga psikologis mamak pasti dia gak nerima….” (DA)

iii. Tema kesebelas adalah perasaan sudah tak berdaya lagi, kemudian pasrah

”Rasanya tenaga saya sudah habis. Saya merasa tidak kuat lagi. Saya berpikir mungkin saya tidak selamat.” (TA)

”Sore hari ternyata terjadi tsunami susulan, tapi tidak sebesar yang pagi hari. Kami tinggal di masjid. Orangtua saya bilang untuk tetap bertahan di masjid saja. Kalau akhirnya terjadi apa-apa kami pasrah.” (TA)

iv. Tema kedua belas adalah perasaan pasrah terhadap keadaan orang-orang yang dicintai

”Padahal saya ingin lagi turun untuk mengetahui keadaan orangtua dan adik saya. Saya sangat stres memikirkan orangtua dan adik saya yang masih smp. Saya ingin menemui mereka tapi tidak diperkenankan oleh orang-orang. Akhirnya saya pasrah.” (TA)

v. Tema ketiga belas adalah merasa ditolong atau diberi selamat oleh Tuhan

”Cuma kejadian tsunami tu aja karna masih diberi kesempatan selamat” (LS)

”Tapi tiba-tiba ada mobil sampah yang mengajak saya untuk naik. Tuhan menolong saya dengan mobil itu. Di atas sampah itu saya lihat sejumlah orangtua yang terluka. Sambil naik mobil itu saya, orang-orang yang terbawa arus air tsunami.” (TA).

Para survivor merasakan bahwa apapun ujian yang bakal atau dijalaninya, pasti telah tersedia kemampuan psiko-spiritual dan atau kemampuan fisik dalam diri seseorang untuk mampu menerima beban itu. Allah berfirman: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (QS al-Baqarah, 2:286). Para survivor menghayati bahwa Tuhan turun tangan secara langsung memberikan keselamatan kepada mereka.

d. Penyesalan dan Pertaubatan

Penyesalan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah perasaan menyesal akibat perbuatan-perbuatan yang dilakukan responden yang secara normatif dan psikologis tidak menyenangkan terhadap orang lain. Pertaubatan, yaitu melakukan pertaubatan atas dosanya kepada Tuhan. Para survivor menyadari bahwa di masa lalu mereka memiliki berbagai kesalahan kepada orang lain, terutama kesalahan kepada orangtua.

i. Tema keempat belas adalah insaf atas kesalahan mengganggu orang lain. Survivor merasa sadar bahwa di masa lalu yang bersangkutan sering menyebabkan orang terganggu oleh kehadirannya.

“Kejadian tsunami ini betul-betul emang kak, pokoknya insaflah kak, kalo mungkin sering ganggu orang gak ada manfaatnya lagi gitu kan” (DA)

ii. Tema kelima belas adalah sadar akan kesalahan diri kepada orangtua. Survivor merasa bahwa kesalahan yang paling parah adalah kesalahan terhadap orangtua.

“sama juga, malah lebih parah dulu daripada sekarang, sama ayah juga, sekarang sadar karna gak ada lagi….(ayah meninggal)” (PL)

“kurang baik mungkin ya..karna adek pun ada masalah sedikit dengan keluarga bukan masalah orang tua karna pun keluarga bisa dikatakan keluarga yang kurang utuh, ada mungkin, ada sifat atau akhlak adek yang gak baik dengan orang tua” (AD)

iii. Tema keenam belas adalah sadar bahwa dulu suka mengganggu guru, tapi sekarang tidak lagi. Survivor juga mengaku bahwa guru adalah kelompok orang yang sering mereka jadikan sebagai sasaran gangguan. Mereka berhadap hal itu tidak terjadi lagi di masa-masa yang akan datang.

“Dulu badung sih, waktu SMA namanya juga SMA kawan rame, sering cabut, rame di belakang, biasanya sering ganggu guru-guru BP, tapi begitu dah kuliah gak lagi sih bahkan dikki pendiam kak jarang ikut-ikut kegiatan di kampus, kalo dulu waktu masih SMP kalo hari sabtu dan minggu pasti gak da di rumah, pasti ada kegiatan, contohnya apa aja…tapi sekarang lebih banyak waktu di rumah” (DA)

iv. Tema ketujuh belas adalah merasa menyesal kurang optimum berbuat baik untuk orang-orang dekat yang dipanggil-Nya. Survivor merasa bahwa mereka belum berbuat secara optimum terhadap orang-orang yang signifikan dalam kehidupan mereka.

”Ya saya sangat menyesal dulu saya kurang optimal berbuat baik untuk paman-paman dan bibi saya. Mereka telah dipanggil-Nya. Nyesel saya mengapa dulu gak kunjungi mereka. Saya menyesal juga orang sebaik mereka diambil-Nya juga. Padahal mereka orang-orang baik.” (TA)

v. Tema ke delapan belas adalah memohon ampun atas kesalahan yang diperbuat. Survivor mengambil posisi memohon ampun atas kesalahan yang dilakukan terhadap iapapun.

“ya dengan memohon ampun atas kesalahan yang diperbuat” (AD)

vi. Tema ke sembilan belas adalah tidak mudah marah kepada orang lain sekalipun orang lain marah.

“alhamdulillah baik, gak pernah kami marah-marahan” (DM)

“abis tu nyesal juga ngapain marahin mamak dah sakit gitu kan….sedih juga, akhirnya mamak yang gak enak sendiri…diam aja dikki, abis tu mamak yang ajak bicara” (DA)

vii. Tema kedua puluh adalah mengkompensasi kesalahan dengan perbuatan positif. Mereka percaya bahwa perbuatan buruk dapat dihapus dengan perbuatan baik.

“ya…salah satu wujudnya salah satunya putra gak mau mencemarkan nama baik orang tua, oke lah prilaku kita emang buruk tapi gak mau orang mengkait-kaitkan sama orang tua, kalo orang tua gak ada lagi ya dengan doa kita kasih kan…bantu sebisa kita ajalah…baik itu kerjaan disuruh apa…sebisa kita mampu aja…” (LS)

Para survivor sadar bahwa salah satu yang menjadikan kesulitan adalah dosa-dosa yang dilakukan manusia. Kadang kesulitan, yang sesungguhnya merupakan ujian itu, akibat dari kesalahan manusia. Bila seseorang sadar hal itu merupakan kesalahannya, maka mereka mengkompensasikan dengan perbuatan baik. Ini sesuai dengan dalil agama: Hapuslah perbuatan buruk dengan perbuatan baik (al-Hadits).

e. Pencarian hikmah (seeking meaning)

Pencarian hikmah (seeking meaning), yaitu keyakinan akan adanya hikmah atau pelajaran di balik peristiwa. Para survivor memperoleh berbagai hikmah, di antaranya adalah mudah mengingat Allah, sadar bahwa Allah memberi kesempatan untuk beramal lebih banyak, menjadi pribadi yang lebih sabar, tawakkal, tabah,

i. Tema kedua puluh satu adalah mudah mengingat Allah dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalo dalam kehidupan sehari-hari, misalnya kalo berbuat sesuatu yang kurang baik ato kesalahan langsung teringat pada Allah” (AD).

ii. Tema kedua puluh dua adalah kesadaran bahwa Allah memberi kesempatan untuk beramal lebih banyak

“Dulu badung sih, waktu SMA namanya juga SMA kawan rame, sering cabut, rame di belakang, biasanya sering ganggu guru-guru BP, tapi begitu dah kuliah gak lagi sih bahkan Dikki pendiam kak jarang ikut-ikut kegiatan di kampus, kalo dulu waktu masih SMP kalo hari sabtu dan minggu pasti gak da di rumah, pasti ada kegiatan, contohnya apa aja…tapi sekarang lebih banyak waktu di rumah” (DA)

“Allah masih memberikan kesempatan hidup untuk adek untuk perbanyak amal” (AD)

“Dengan hilangnya keluarga kita ya, kita percaya kalo umur tu gak lama jadi selama sisa-sisa hidup kita banyakin amal lah ya, mendekatkan diri sama Allah” (DM)

iii. Tema kedua puluh tiga adalah menjadi pribadi yang lebih sabar, tawakkal, tabah.

“putri lebih apa ya….(bingung), lebih…lebih…bertawakkal pada Allah, lebih berdikir pada Allah” (PL)

“adek hadapi dengan sabar ya kak” (AD)

“putri berusaha untuk sabar, tabah, pokoknya menghadapi itu, putri kembaliin pada Allah aja lah….” (PL)

Para survivor tsunami dan gempa Aceh dapat mengambil pelajaran bahwa di balik kesulitan ada pelajaran atau hikmah yang dapat diambil. Allah berfirman: Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak juga bertaubat dan tidak pula mengambil pelajaran (QS at-Taubat, 9:126).

f. Berpikir positif tentang masa depan (positive thinking)

Berpikir positif tentang masa depan (positive thinking), yaitu keyakinan akan adanya perbaikan keadaan setelah berlangsungnya keadaan yang tidak menyenangkan. Para survivor tetap memiliki visi ke depan tentang kehidupan pribadinya dan masyaratnya. Mereka ingin memperbaiki kondisi masyarakat di mana mereka tinggal.

i. Tema kedua puluh empat adalah ke depan harus bisa berbakti kepada orangtua. Survivor berpandangan bahwa sudah saatnya mereka untuk berbuat terbaik dengan sedikit bantuan dari orangtua.

”Saya kini kuliah D3 di FE-UST Yogya. Saya ingin lakukan yang terbaik. Cepat lulus juga. Hingga tak jadi beban orangtua. Saya juga sadar orangtua hidupnya berat. Saya tidak mau minta yang macam-macam. Walau saya ingin punya motor, tapi sudahlah gak apa gak ada motor. Saya tidak ingin membebani orangtua.” (TA)

“Kadang kalo makan ingat, sakit hati juga, kenapa sih terpecah belah keluarga hilang semua, emang kesannya palak, sepi itu kan… kenapa bisa terjadi ehm… kalo menurut dikki gak juga, orang tua dikki yang satu ni lah yang harus kek mana dikki harus bisa berbakti sama dia kan, itu yang paling penting, mungkin itu harta yang paling penting” (DA)

ii. Tema kedua puluh lima adalah keinginan memperbaiki moral masyarakat Aceh

”Saya ingin mengubah perilaku moral orang Aceh. Saya belum tahu apa yang dapat saya perbuat, tapi saya ingin mengubah mereka. Apa yang semestinya diubah? Saya lihat banyak peristiwa kriminal, banyak judi, juga pencurian . Saya ingin kasih pengarahan-pengarahan agar mereka juga mendekatkan diri kepada Allah.” (TA)

Keadaan yang tidak menyenangkan pasti akan berlalu dan akan datang keadaan yang menyenangkan, tentu saja melalui usaha. Allah berfirman: Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (QS al-Insyirah, 94:5-6).

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kelapangdadaan Survivor Bencana Aceh

Berikut ini akan diungkapkan faktor-faktor yang mempengaruhi kelapangdadaan survivor bencana gempa dan tsunami Aceh.

a. Faktor keimanan
Keyakinan kepada takdir Allah akan membantu survivor untuk memiliki kelapangdadaan saat menghadapi bencana. Survivor mengungkapkan bahwa mengingat Allah membantunya untuk memiliki kelapangdadaan.

“… mengingat Allah, butuh dukungan, motivasi supaya lebih tenang, lebih baik, ataupun bantuan-bantuan fisik” (AD)

b. Faktor amal dan ibadah
Amal dan ibadah seseorang dipercayai survivor memiliki pengaruh terhadap kelapangdadaan survivor.

“Mungkin terutama amal kita, ketika ajal menjemput yang harus dipersiapkan amal kita, abistu amal dan ibadah kita, minta maaf pada keluarga, orang terdekat, orang di sekitar, apabila berbuat salah dan semoga mereka mau memaafkan agar lebih tenang kesana” (AD)

c. Faktor pengalaman
Salah satu pengalaman yang penting mempersiapkan masyarakat Aceh menghadapi bencana tsunami adalah perang GAM. Walaupun skalanya berbeda, bencana perang saudara yang berlangsung lama mempengaruhi para responden.

”Pengalaman stres menghadapi pertikaian GAM dan Tentara Nasional membuat orang kuat menghadapi situasi yang tidak menentu.” (TA)

d. Faktor dukungan keluarga dan yang lain
Dukungan yang diberikan keluarga dan orang lain akan memperkokoh kelapangdadaan responden.

“ya…keluarga karna masih ada keluarga yang utuh, masih ada ayah, adik-adik rame, biarpun ada kesedihan, kesenangan, itu hal biasa dalam keluarga, tapi tu sangat berkesan punya keluarga yang sangat kita sayangi, kita butuhkan.” (AD)

Pembahasan

Kelapangdadaan pernah digambarkan sebagai danau yang luas (Nashori, 2004). Kalau seseorang memiliki ”danau” atau wadah psiko-spiritual yang luas dalam jiwanya, maka mereka memiliki kesiapan untuk menghadapi berbagai situasi kehidupan yang sebagian di antaranya tidak menyenangkan. Mereka menganggap tidak berarti adanya kotoran atau stresor yang masuk ke “danau” tersebut. Maksudnya, bila seseorang memiliki wadah psiko-spiritual yang luas atau memiliki kelapangdadaan, maka ia tidak akan serta merta menjadi marah besar, putus asa, atau stres, manakala menghadapi musibah atau peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan.

Gambaran yang kongkrit adalah sebagaimana kelapangdadaan Nabi Muhammad saat menerima penghinaan dari orang-orang kafir. Muhammad begitu tenang dan terkendali menghadapi mereka. Semua ini menggambarkan luasnya wadah psiko-spiritual seseorang. Namun, kalau wadah psiko-spiritual seseorang sempit, misalnya yang diandaikan Gymnastiar (Nashori, 2004) sesempit gelas, maka kotoran atau polusi yang mengenai mereka akan mereka terkena pengaruh buruk atas kehadiran benda-benda tersebut.

Dari penelitian ini terungkap secara jelas bahwa responden memiliki kelapangdadaan yang menonjol. Mereka memiliki kesadaran spiritual yang tinggi, kesiapan psikologis menghadapi bencana, sanggup menanggung beban derita, tetap mengambil hikmah atas kejadian yang sudah berlangsung, dan lebih dari itu mereka tetap berorientasi ke masa depan. Kelapangdadaan di dalam diri mereka menjadi lebih kuat karena adanya penyesalan dan pertaubatan. Dalam agama Islam disampaikan bahwa kalau seseorang menyesali secara sungguh-sungguh kesalahannya di masa lalu, maka dosanya akan dikurangi. Secara psikologis, dosa yang berkurang berarti berkurangnya beban psikologis yang ada dalam diri seseorang. Keadaan ini memampukan seseorang g menghadapi tekanan atau stresor yang datang dari lingkungannya.

Adanya danau yang luas atau kelapangdadaan ternyata dipengaruhi oleh keimanan, aktivitas ibadah dan perilaku sehari-hari seseorang. Hal ini didukung hasil penelitian bahwa keimanan dan ibadah merupakan faktor yang mempengaruhi kelapangdadaan. Ini mendukung hasil penelitian Nashori (2005) di mana seseorang yang banyak berdzikir akan terkena imbasnya yang bersifat positif, yaitu kelapangdadaan.

Orang-orang yang dalam jiwanya terdapat keimanan dan ibadah yang kuat akan memiliki kepribadian yang lapang. Setiap ada penderitaan, tak penting lagi untuk berkeluh kesah kepada orang lain. Dalam diri individu menancap kesadaran bahwa segala hal, termasuk keadaan yang buruk adalah ciptaan Allah ‘Azza wa jalla. Kalau Allah tidak berkenan, keburukan tidak terjadi pada kita. Kalau ia akhirnya hadir dalam kehidupannya, maka itu adalah cara Allah untuk mengetahui sejauh mana seseorang akan mengalami peningkatan kualitas pribadi kita.

Sekalipun demikian, pengalaman menderita di waktu-waktu sebelumnya dan hubungan dengan sesama manusia juga membantu survivor untuk menguat kelapangdadaannya. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh seorang responden ysng mengungkapkan bahwa salah satu pengalaman penting yang mempersiapkan masyarakat Aceh menghadapi bencana tsunami adalah perang GAM.

”Pengalaman stres menghadapi pertikaian GAM dan Tentara Nasional membuat orang kuat menghadapi situasi yang tidak menentu.” (TA)

Demikianlah hasil penelitian. Adanya keimanan yang kuat, ibadah dan amal yang baik, pengalaman menderita, serta dukungan dari orang sekitar yang saling berjalin berkelindan menghasilkan kekuatan dalam diri seseorang yang disebut sebagai kelapangdadaan.
Demikian. Bagaimana menurut Anda? [FN]

Daftar Pustaka

Al-Mundziri, Zaki Al-Din ‘Abd Al-Azhim (peny.). (2002). Ringkasan Shahih Muslim. Terjemahan: S. Djamaluddin & Mochtar Zoerni. Bandung: Penerbit Mizan.

Atkinson, Richard L., Atkinson, R.S.., & Bem, D. 2004. Pengantar Psikologi. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Az-Zabidi, Imam Zainuddin Ahmad bin Abdul-Lathif (ed.). (2002). Ringkasan Shahih Al-Bukhari. Terjemahan: Cecep Syamsul Hari & Tholib Anis. Bandung: Penerbit Mizan.

Bastaman, Hanna Djumhana. (2005). Integrasi Psikologi dengan Islam: Menuju Psikologi Islami. Yogyakarta: Yayasan Insan Kamil dan Pustaka Pelajar.

Hamid, Abdul Fattah Rashid. (1996). Pengenalan Diri dan Dambaan Spiritual. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Hidayat, Rahmat. (2005). Peta Problem Psikologis Para Survivor Bencana Gempa dan Tsunami Aceh. Makalah. Dipresentasikan dalam Diskusi Memahami Lebih Mendalam Bencana Aceh. Hasil Kerjasama PP Asosiasi Psikologi Islami dan Panitia Psikologi UII Peduli Aceh, Yogyakarta, 18 Januari 2004.

Ilham, Muhammad Arifin & Debby Nasution. (2004). Hikmah Dzikir Berjamaah. Jakarta: Penerbit Republika.

Nashori, H. Fuad. (2003). Potensi-potensi Manusia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Nashori, H. Fuad. (2003). Kitab Suci Sebagai Sumber Pengembangan Psikologi Islami. Makalah ini disampaikan dalam Kegiatan Ilmiah, Kongres Asosiasi Psikologi Islami (API) I, Surakarta, 10-12 Oktober 2003.

Nashori, H. Fuad. (2004). Menjadi Pribadi yang Lapang Dada. Buletin Al-Islamiyyah, Nomor 18, Th. XII, Februari 2004.

Nashori, H. Fuad. (2005). Kelapangdadaan Mahasiswa Ditinjau dari Kualitas dan Intensitas Dzikir. Yogyakarta: Lembaga Penelitian UII

Nashori, H. Fuad. (2006). Kelapangdadaan Mahasiswa Reguler dan Mahasiswa Santri. Jurnal Psikologi Islami. Yogyakarta: PP Asosiasi Psikologi Islami.

Nashori, H. Fuad. (2008). Psikologi Sosial Islami. Bandung: Penerbit Refika.

Pennebaker, James W. (2002). Ketika Diam Bukan Emas. Bandung: Mizan.

Poerwadarminto, W.J.S. (1989). Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Subandi. (1997). Tema-tema Pengalaman Spiritual Pengamal Dzikir. Jurnal Psikologika, II, (3), 7-18.

Penulis:

fuad
Fuad Nashori  adalah salah seorang pelopor dan ahli di bidang Psikologi Islami, sehari-hari beliau menjabat sebagai Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, (UII) Yogyakarta. Fuad Nashori adalah penulis tetap untuk rubrik Psikologi Islami di website ini

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Bila Anda Mendapat Tawaran Pemotretan Sensual?

08 Sep 2013 Sayed Muhammad

Gadis-gadis Indonesia bugil mulai bermunculan di internet sekitar tahun 1997. Gambar sensual tersebut bermunculan tidak…

Teknik Relaksasi: Mengurangi Stres

04 Sep 2013 pikirdong

Relaksasi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan sendiri oleh individu untuk mengurangi stres, kekalutan…

Katakan Saja Tidak!

29 Oct 2015 Sayed Muhammad

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar untuk mengatakan "tidak" yang memang kita…

Developmental Milestones: Usia 36 Bulan

14 Oct 2015 pikirdong

Perkembangan Mental Usia 36 Bulan PENGAMATAN PERILAKU Komunikasi Bahasa Menggunakan kalimat dengan sederhana Tingkah laku Berinteraksi dengan orang dewasa dan anak-anak Pekerjaan…

Commitment Phobia

06 Sep 2013 pikirdong

Commitment phobia merupakan bentuk suatu ketakutan (fear) untuk menjalin suatu hubungan yang lebih erat, rasa…

Salah Kaprah tentang HAM

05 Oct 2016 Bagus Riyono

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak dan menyentuh hampir semua aspek kehidupan…

Ketergantungan Komputer dan Internet: Tips dan Treatment

04 Sep 2013 pikirdong

Ketergantungan pada internet dan komputer memberikan dampak buruk dan perilaku baik secara langsung ataupun secara…

Haruskah Menyontek Jadi Budaya?

08 Sep 2013 Fira Friantini

Budaya menyontek sangat identik dengan dunia pendidikan saat ini. Terlebih ketika ujian sedang berlangsung. Tak…

Autism Disorder

05 Sep 2013 pikirdong

Autisme (autism disorder) merupakan gangguan pada sistem syaraf pusat yang berdampak pada gangguan interaksi sosial,…

Memberi Support pada Anak Gangguan Autis

04 Sep 2013 pikirdong

Saat ini diperkirakan sekitar 35 juta anak di dunia mengalami gangguan autisme, angka ini meningkat…

Edisi Ibukota : Tas Tas Integritas!!

15 Sep 2013 Candrawati Wijaya

Salam Tarzan Kota! Sudah sampai manakah Tarzan-Tarzan kota menjelajah?? Harapan saya, kita tetap akan bertemu di…

Kekerasan Terhadap Anak

08 Sep 2013 pikirdong

Kekerasan terhadap anak (child abusive) terjadi dalam pelbagai kultur, etnis atau kelompok masyarakat. Kekerasan dapat…

  • 1
  • 2
  • 3

Kategori Lainnya

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling kita yang kami adakan atas partisipasi teman-teman semua yang rela dan…

03 Sep 2013 Agenda Sosial pikirdong No comments

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak dan menyentuh hampir semua aspek kehidupan kita. Ada hak perempuan, hak…

05 Oct 2016 Artikel Psikologi GIB Psikologi Islami Psikologi Sosial Bagus Riyono Comments (1)

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014