DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic…

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa…

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Kitab Suci Sebagai Sumber Pengembangan Psikologi Islami

Selalu ditemukan dalam komunitas apapun orang-orang yang menganjurkan kebenaran yang berasal dari Tuhan. Mereka berupaya menyadarkan orang banyak bahwa ada kebenaran yang lebih tinggi dari sekadar kebenaran yang bersifat indrawi atau material. Dalam konteks Islam, ada yang selalu berupaya untuk meletakkan kebenaran yang berasal dari Tuhan sebagai dasar berpikir dan bertindak dalam segala sisi kehidupan individu dan masyarakat. Namun, seperti kita saksikan dalam drama kehidupan, sang protagonis (pejuang, pahlawan, syahid, hero) akan selalu memiliki “pasangannya”, sang antagonis (pecundang). Saat sejumlah aktivis ilmuwan atau mahasiswa berupaya meletakkan kebenaran kitab suci sebagai dasar pembentukan ilmu, bermunculanlah sang tokoh antagonis. Kekuatan tokoh antagonis, yang kadang melemahkan perjuangan si protagonis, adalah otoritas dan keyakinan yang dimilikinya. Khusus dalam upaya meletakkan kitab suci sebagai dasar pengembangan psikologi Islami, banyak cerita tentang protagonis dan antagonisme, di antaranya adalah cerita-cerita berikut ini.

sponsor1Saya pernah menemukan suatu fakta yang mengejutkan. Di suatu fakultas psikologi di salah satu perguruan tinggi negeri, beberapa mahasiswa yang mencoba menjadikan al-Qur’an dan al-Hadits sebagai rujukan diminta oleh pembimbingnya untuk “memperbaiki” skripsinya. Saran dosennya adalah hapus semua kutipan al-Qur’an dan al-Hadits. Artinya, suatu skripsi hanya baik bila bebas dari pengaruh kitab suci . Dosen yang lain berkomentar bahwa karya tulis ilmiah tidak dapat dibangun berdasarkan sesuatu yang tidak ilmiah (seperti mitos, di mana ia mengutip Sigmund Freud yang memasukkan kitab suci sebagai salah satu jenis mitos). “Al-Qur’an kan bukan buku ilmiah! Tak bisa dong dijadikan rujukan teoritis.”

Di samping itu, penulis sering didatangi mahasiswa (S1 maupun S2). Mereka bilang karya tulisnya sulit diterima oleh dosen pembimbingnya dan harus ditulis dengan “bahasa psikologi”. Dosen umumnya berkomentar bahwa dalam isi skripsi atau tesis yang mereka buat bobot agamanya (karena bersumber dari al-Qur’an, al-Hadis, dan khazanah pemikiran Islam) terlalu berat dibanding bobot psikologinya (sangat minim teori psikologi Freud, Skinner, Maslow, dkk). Karenanya, harus dirombak.

Cerita lain, ada sebuah skripsi yang sangat baik, dan berkomentarlah seorang penguji atas skripsi tersebut: “Skripsi Anda (yang penuh dengan ayat suci ini) sungguh bagus, tapi itu hanya cocok kalau Anda adalah mahasiswa fakultas agama di IAIN.” Kecenderungan semacam ini biasa disebut sebagai Islamophobia. Seperti diketahui Islamophobia adalah suasana psikologis yang berisi ketakutan yang berlebih-lebihan terhadap Islam atau terhadap simbol-simbol Islam yang seringkali tidak beralasan dan tidak berdasar pada kenyataan.  Mencermati fenomena di atas, para pengkaji psikologi Islami menjadi prihatin. Hanna Djumhana Bastaman (1995) sendiri terjadi karena adanya kecenderungan untuk melihat ayat-ayat Tuhan dari kitab suci secara mendua.

Ketika seseorang hendak beribadah kepada Allah mereka jadikan ayat suci sebagai rujukan. Namun, dalam kerja-kerja ilmiah mereka enggan menggunakan ayat suci sebagai dasar atau rujukan. Malik B. Badri (1986) pernah mengeritik kecenderungan semacam ini sebagai kepribadian terpecah ( split personality ). Dalam diri orang yang memiliki kepribadian terpecah, kecenderungan satu dengan kecenderungan lain tidak terorganisasi dalam suatu sistem, tapi berjalan sendiri-sendiri. Saat beribadah, shalat misalnya, ia adalah Muslim yang khusyu’ yang menghadapkan dirinya kepada Tuhan. Namun, setelah bekerja sebagai ilmuwan, cara kerja dan pola pikirnya sama sekali tidak berkaitan dengan shalat. Ia biasa saja menerangkan segala sesuatu dengan “hukum-hukum alam” dan melupakan bahwa segala sesuatu adalah ciptaan Allah dan bahwa tidak ada sesuatu yang bergerak kecuali dengan perkenan Allah.

Fenomena kepribadian terpecah dan Islamophobia menggambarkan bahwa ada kendala psikologis di kalangan umat Islam juga ilmuwan (Muslim) sendiri terhadap ajaran Islam umumnya dan terhadap kitab suci khususnya. Terhadap kenyataan ini, kita sangat mengharapkan agar orang-orang semakin terbuka terhadap informasi kitab suci yang sampai kepada mereka atau yang akan hadir kepada mereka. Sangat tidak elok bila menolak isi kitab suci sebelum memperoleh kesempatan untuk menelaahnya secara memadai. Hanna Djumhana Bastaman (1995) menandaskan bahwa salah satu tantangan berat yang kita hadapi adalah menjadikan orang –terutama ilmuwan yang beragama Islam– memiliki keberanian menjadikan kitab suci –al-Qur’an dan al-Hadits– sebagai rujukan dalam memahami manusia.

Di samping itu, sebagaimana diungkapkan oleh Paul Feyerabend, selayaknya terdapat penerimaan kitab suci sebagai dasar pembentukan kitab suci. Di samping itu, sesungguhnya berbagai ilmuwan psikologi moderen tidak lagi malu-malu menjadikan kitab suci sebagai rujukan. Danah Zohar dan Ian Marshall (2000) dalam Spiritual Quotient , tidak ragu mengutip Injil, Veda, dan sebagainya. Bahkan, orang seperti Sigmund Freud (2001, 2002) dalam The Interpretation of Dream dan  Introductory to Psychoanalysis juga tak ragu mengutip berbagai ayat dalam kitab suci untuk menguatkan argumentasinya.

Komitmen: Memposisikan Kitab Suci Sebagai Rujukan

Memahami manusia dengan mencermati apa yang terjadi pada manusia adalah suatu cara objektif dan akhir-akhir ini dipandang sebagai tipikal cara berpikir Barat. Akan tetapi, memahami manusia dengan mendasarkan diri pada kitab suci bukanlah cara populer dalam kebiasaan berpikir Barat. Memahami manusia dengan menyimak isi-isi kitab suci adalah sesuatu yang secara ilmiah (Barat) kontroversial. Bahkan, mungkin dipandang sebagai penyimpangan berpikir.

Hal ini berkaitan dengan cara berpikir Barat yang mementingkan skeptisisme, yaitu cara berpikir yang menekankan pentingnya keraguan akan segala sesuatu. Keraguan, oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam Islam dan The Philosophy of Science , adalah pergerakan antara dua hal yang saling bertentangan tanpa ada kecenderungan pada salah satunya. Cara berpikir ini menempatkan segala objek sebagai sesuatu yang layak diragukan kebenarannya. Dalam keadaan demikian, objek dibiarkan bergerak tanpa kepastian. Kepastian yang bersifat sementara dapat dicapai setelah diuji secara rasional dan empiris. Selanjutnya, kepastian sementara itu diragukan lagi.  Celakanya, begitu banyak keterangan dari kitab suci yang bagi cara berpikir Barat tidak dapat diterima rasio dan tidak dapat dibuktikan secara empiris, seperti ada tidaknya kehidupan akhirat yang berisi sorga dan neraka yang akan dialami manusia, adanya malaikat yang mengirim ilham yang diberikan Tuhan kepada manusia, setan dan iblis yang selalu berupaya menggoda manusia, tentang ruh Tuhan ( the Spirit of God) yang dihembuskan ke dalam diri manusia ketika manusia dalam kandungan ibu, dan seterusnya. Maka, kitab suci, yang sebagian keterangannya di luar jangkauan cara berpikir Barat, tidak dapat diterima sebagai sumber untuk mendapatkan pengetahuan yang benar.

Sebaliknya, Islam justru mementingkan kepastian. Salah satu yang diyakini adalah kitab suci, dalam hal ini al-Qur’an, sebagaimana sesuatu yang pasti kebenarannya. Dalam ilmu pengetahuan Islam dikenal apa yang disebut sebagai metode keyakinan ( method of tenacity ). Dalam metode keyakinan, seseorang meyakini kebenaran sesuatu tanpa keraguan apapun di dalamnya. Dalam metode ini, yang absah dijadikan sebagai sumber yang diyakini kebenarannya adalah wahyu Ilahi, khususnya al-Qur’an dan al-Hadits. Penempatan kitab suci atau wahyu Ilahi sebagai sumber kebenaran dan sumber pengetahuan berangkat dari keyakinan bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta ( The Creator ) kehidupan ini. Sebagai pencipta, Dia tentu mengetahui dan memahami seluk beluk diri dan makhluk ciptaan-Nya itu. Dia ungkapkan pengetahuan-Nya itu melalui kitab suci.

Psikologi Islami sepenuhnya mempercayai al-Qur’an dan al-Hadits sebagai sumber kebenaran tentang manusia. Di samping menempuh jalan rasional dan empiris dalam memahami manusia, psikologi Islami juga menggunakan jalan tekstual dari kitab suci dalam memahami makhluk yang berpotensi paling mulia ini. Sebagai sumber ilmu pengetahuan, maka kitab suci dapat dijadikan sebagai bahan untuk memahami manusia. Selain kitab suci, interpretasi dari para ulama atau ilmuwan Muslim yang dapat memahami al-Qur’an sebagai jernih juga dapat dipakai untuk merumuskan dasar-dasar psikologi Islami tentang manusia.

Pengertian Psikologi Islami   Dengan mempertimbangkan pandangan di atas, psikologi Islami ( Islamic psychology ) dapat didefiniskan sebagai suatu studi tentang jiwa dan perilaku manusia yang didasarkan pada pandangan dunia Islam . Sebagai suatu studi, ia adalah suatu kajian melalui cara-cara yang dapat dipertanggungjawabkan. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa ia dikaji melalui berbagai metode, baik metode ilmiah maupun metode semi ilmiah. Di samping menggunakan metode ilmiah, psikologi Islami juga menggunakan metode-metode keyakinan, intuisi, otoritas, dan berbagai metode lainnya. Penggunaan metode yang lebih variatif ini dikarenakan objek yang dikaji psikologi lebih luas dan beragam dibanding objek yang dikaji oleh teori-teori psikologi Barat pada saat ini. Sebagai contoh, selama ini kajian psikologi Barat memahami mimpi dalam konteks fisk-biologis. Psikologi Islami memahami mimpi sebagai suatu proses jiwa dan perilaku manusia yang tidak hanya dipengaruhi kondisi fisik dan psikologis seseorang, tapi juga berkaitan dengan kualitas spiritual seseorang dan kekuatan spiritual di luar diri manusia (Allah Azza wa jalla dan setan yang terkutuk).  Berkaitan dengan objek kajiannya, Psikologi Islami agak berbeda dengan trend psikologi Barat yang akhir-akhir ini semakin banyak mengabaikan kajian tentang jiwa. Psikologi Barat sering diartikan ahlinya sebagai studi tentang perilaku (behavior) manusia .

Psikologi Islami menjadikannya sebagai objek kajian karena ia merupakan bagian dalam diri manusia yang melahirkan adanya perilaku. Tentang perilaku, dapat dikatakan bahwa ia dapat saja berupa perilaku yang tampak ( overt behavior ) maupun perilaku yang tidak tampak ( covert behavior ).

Tentang pandangan dunia Islam ( Islamic world view ), maka dapat dikatakan bahwa pandangan dunia Islam merupakan cara pandang yang dimiliki Islam dapat memahami realitas. Realitas menurut Islam terdiri atas realitas yang dapat diindra ( observable area ), realitas yang dapat dirasakan-dipikirkan (conceivable area), dan realitas ayang tidak dapat dipikirkan dan dirasakan ( unconceivable area ). Mencermati realitas kehidupan manusia yang luas seperti itu, maka psikologi Islami dituntut untuk memahami realitas dengan beragam cara/metode.

Kompetensi: Objektivikasi dan Rekonstruksi Teori   Berkaitan dengan posisi kitab suci sebagai sumber ilmu pengetahuan, maka sekurang-kurangnya terdapat dua langkah yang dapat dilakukan oleh pengkaji/perumus psikologi Islami, yaitu objektivikasi dan rekonstruksi teori.

1. Objektivikasi   

Objektivikasi adalah proses mentransformasikan pandangan-pandangan yang normatif menjadi pandangan yang objektif atau menjadi teori yang dapat diukur. Oleh banyak kalangan, apa yang ada di dalam al-Qur’an dan al-Hadits dipandang sebagai sesuatu yang normatif. Isi al-Qur’an, kalau hendak dijadikan teori, harus mengalami transformasi. Dalam hal ini, langkah yang perlu dilakukan adalah meneorikan apa yang dianggap benar, apa yang harus dilakukan manusia.   Adapun teori yang baik, sebagaimana selama ini kita pahami, semestinya memiliki ciri-ciri:

(a) konsisten secara logis,

(a) bisa diuji dan

(c) konsisten dengan data. Teori selalu menyangkut sekurang-kurangnya keterkaitan dua hal. Bila hubungan antara hal satu dan yang lain itu logis, maka ia memenuhi ciri  konsisten secara logis .

Untuk teori-teori yang bersifat umum ( grand theory ), seperti proses penciptaan manusia, sifat asal manusia, kemungkinan manusia, perkembangan manusia, ciri konsiten secara logis ini amat penting. Bahkan, upaya objektifikasi untuk teori yang umum ini cukuplah hanya dengan ciri ini.  Sementara itu untuk teori-teori yang bersifat khusus, ciri bisa diuji dan konsisten dengan data adalah ciri yang harus ada. Bisa diuji berarti bahwa teori tersebut dapat diukur dengan menggunakan metode-metode tertentu.

Di kalangan ilmuwan Islam, metode penelitian ini bukan hanya metode yang selama ini dipandang ilmiah ( scientific ) seperti eksperimentasi, observasi, wawancara, korelasi, komparasi, tapi juga yang lain seperti metode intuisi, metode otoritas, serta metode-metode yang lain. Agar dapat diukur, biasanya diawali oleh elaborasi atau uraian tentang hal yang diteorikan. Biasanya ada rumusan tentang pengertiannya, ciri-ciri, dan keterkaitannya dengan hal lain. Penjelasan pokok yang akhirnya dapat diukur biasanya disebut ciri-ciri, aspek-aspek, komponen-komponen. Konsisten dengan data artinya setelah dicek di kancah kehidupan nyata, teori ternyata didukung oleh kenyataan yang ada dalam kehidupan.  Sebagai contoh, berangkat dari ayat “fashbiru” atau “innallaha ma’ash-shabirin” , maka kita membuat teori teori tentang kesabaran atau kelapangdadaan. Dalam berbagai ayat suci, Allah memerintahkan manusia untuk berlapang dada.

Maka, kita dapat berteori bahwa pada dasarnya tingkat kelapangdadaan dalam diri manusia sangat beragam. Kelapangdadaan ditandai oleh beberapa indikator utama berupa kesadaran bahwa segala kejadian menyenangkan maupun tidak menyenangkan diciptakan Allah, kesiapan untuk menerima stimulasi yang tidak menyenangkan, dalam dadanya selalu terdapat pemberian ampunan/maaf bagi orang lain, keyakinan akan adanya hikmah di balik peristiwa, dan keyakinan akan adanya perbaikan keadaan setelah berlangsungnya keadaan yang tidak menyenangkan.

Bila manusia memiliki keikhlasan atau ketulusan dalam berbuat sesuatu, maka mereka akan memiliki kelapangdadaan. Sebaliknya, bila dalam diri seseorang penuh dengan pamrih dalam melakukan sesuatu, maka dadanya akan menjadi sempit. Maka, bila si lapang dada –sebagaimana Nabi Muhammad—dilempari batu, diludahi, atau ditumpakkan ke punggungnya kotoran hewan, ia tidak merespons secara reaktif. Dalam dadanya ada kesadaran bahwa setiap kejadian yang tidak menyenangkan pasti menghadirkan peringatan dan manfaat bagi yang menerima kejadian itu. Maka, setelah diberi perlakuan yang demikian, dadanya tetap terbuka: ia pun beri ampunan, ucapkan doa untuk kebaikan anak cucu dari si pengeroyok, dan mengunjungi dia yang suka meludahi dengan penuh pemberian ampunan/maaf.

2. Rekonstruksi teori  

Bila kita melakukan rekonstruksi pemikiran atas pemikiran ilmuwan di atas, maka kita melakukannya dengan berdasarkan cara pandang Islam. Dengan menggunakan pandangan dunia Islam, kita menggunakan pandangan murni al-Qur’an dan al-Hadits, khazanah pemikiran Islam masa lalu-masa kini, khazanah ilmu pengetahuan Barat dulu dan kini.

Dalam rekonstruksi teori, isi pemikiran seseorang hanya dipandang dan diperlakukan sebagai satu atau beberapa bahan dan tidak terelakkan bagi kita untuk menggunakan bahan-bahan lain sepanjang diambil dengan metode yang benar dan terdapat kepercayaan akan pandangan-pandangan dari orang lain. Kalau diandaikan sebagai bangunan, maka rekonstruksi teori dilakukan dengan memanfaatkan “bahan bangunan dari rumah-rumah” yang dirobohkan maupun dari bahan-bahan lain yang menjadikan “bangunan” aman, nyaman, dan estetis.

Rekonstruksi teori dilakukan dengan pertimbangan: (a) untuk menghasilkan pemikiran yang komprehensif, (b) kita berorientasi kepada upaya menghasilkan konstruk yang lebih baik, lebih sempurna, dan sejauh mungkin ada originalitasnya, dibandingkan dengan pemikiran-pemikiran yang lebih dulu. Yang patut dihindari dalam melakukan upaya rekonstruksi adalah mengulang begitu saja pemikiran seseorang atau beberapa orang tanpa sikap kritis.

Salah satu contoh rekonstruksi adalah upaya memahami mimpi manusia sebagaimana yang penulis jelaskan lebih lengkap dalam buku Mimpi Nubuwat (Pustaka Pelajar, Jogja, 2002). Sigmund Freud mengungkapkan bahwa tidak ada penjelasan tentang mimpi kecuali tentang harapan (mimpi berisi harapan-harapan). Jung berpendapat bahwa di samping mimpi harapan, manusia juga mengalami mimpi prospektif (penulis menyebutnya mimpi prediktif). Al-Qur’an dan Sunnah al-Hadits menyebut mimpi yang berisi petunjuk, berisi peringatan, dan mengenai masa lalu (penulis menyebutnya mimpi retrospektif). Pemikir Islam Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyebut adanya mimpi yang penulis sebut mimpi yang kuat. Masih ada mimpi yang lain: mimpi yang berisi gema masa lalu, mimpi yang terjadi karena keluhan fisik, mimpi yang terjadi karena kemasakan (mimpi basah). Setelah mencermati semua jenis mimpi, maka dapat dilakukan rekonstruksi teori (disimpulkan) mimpi terdiri atas mimpi jasmani/fisik (mimpi karena kelelahan/sakit, mimpi karena kemasakan, dan mimpi karena kondisi lingkungan yang amat kuat menstimulasi seperti panas), mimpi nafsani/psikologis (gema ingatan masa lalu, kondisi perasaan-pikiran menjelang tidur, harapan), dan mimpi ruhani/spiritual (mimpi retrospektif, prediktif, petunjuk, peringatan, dan kuat).

Kompetensi Lain: Studi Kritis dan Similarisasi

3. Studi Kritis Islam atas Psikologi Moderen.  

Yang dilakukan ahli psikologi dalam hal ini adalah melakukan upaya kritik-objektif atas berbagai asumsi yang dibangun para ilmuwan psikologi moderen. Setelah objek kritik ditetapkan, maka yang mereka lakukan adalah menunjukkan apa yang menjadi kekuatan sekaligus kekurangan atau kelemahan psikologi Barat. Sebuah contoh yang dapat disampaikan di sini adalah telaah kritik terhadap teori superego.

Menurut Freud, superego yang ada dalam diri manusia terbentuk karena adanya pendidikan moral dari lingkungan sosial manusia. Lingkungan sosial manusia selalu mengajarkan agar seseorang berbuat baik dan tidak berbuat hal yang sebaliknya. Terhadap teori di atas, para pengkaji psikologi Islami menandaskan bahwa hati nurani dalam diri manusia bukanlah semata-mata faktor eksternal, tapi secara inheren ia telah berada dalam diri manusia semenjak awal penciptaannya. Faktor luar hanya berperan untuk menguatkan atau melemahkan potensi-potensi tersebut.

Argumen yang sering diberikan adalah manusia diciptakan dalam keadaan fitrah (suci, bersih, borpotensi positif secara fisik, psikologis maupun spiritual). Argumen tambahan yang dapat diungkapkan adalah sekalipun seseorang dikerangka oleh lingkungan sosialnya untuk memiliki perilaku yang buruk dan jahat, namun hati nuraninya tetap dapat berbicara: ia tetap mampu mentransformasikan dirinya, potensi-potensinya, menjadi pribadi yang baru (sebagaimana kasus Umar bin Khattab radhiyallahu anhu ).

4. Similarisasi atau AYATISASI.   

Yang dilakukan oleh pengkaji psikologi Islami adalah melakukan kajian atas kesamaan antara konsepsi Islam dengan konsepsi psikologi Barat tentang suatu objek tertentu. Yang sering dilakukan adalah membahas objek kajian psikologi dan melihat kesamaannya dalam al-Qur’an dan al-Hadits.

Cara yang paling mudah untuk ditempuh adalah dengan melakukan ayatisasi. Ayatisasi yang dimaksud di sini adalah menghadirkan ayat-ayat tertentu dari al-Qur’an untuk membenarkan apa yang dibahas dalam suatu topik. Sebagai contoh, dalam teori Freud dikenali adanya struktur kepribadian yang terdiri atas id,ego, dan superego. Orang yang melakukan similarisasi akan menyamakan teori ini dengan tiga macam al-nafs sebagaimana yang disebutkan al-Qur’an. Maka, hasil similariasinya adalah id = al-nafs al-ammarah, ego = al-nafs al-lawwamah, dan superego = al-nafs al-muthmainnah.  Kompetensi ketiga dan keempat ini adalah quasi-competence dalam psikologi Islami. Dua cara ini dapat ditempuh sebagai latihan, karena untuk melakukan cara per-tama dan kedua dibutuhkan kemampuan logis, analitis, dan pemahaman al-Qur’an yang cukup. Untuk para pemula dianjurkan untuk menempuh cara ketiga dan keempat ini.

Penutup

Berdzikir  Di samping melakukan empat cara di atas, salah satu aktivitas yang dapat membangun kualitas diri kita sebagai SDM yang dapat mengembangkan psikologi Islami adalah selalu mendekatkan diri kepada Allah. Yang paling pokok adalah mengingat Allah Azza wa jalla, bahkan kalau bisa –seperti istilah Aa Gym—merasa Allah selalu menatap diri kita. Dzikir ini di samping menghasulkan efek pembentukan diri kita sebagai pribadi yang lebih stabil/matang, yang tak kalah penting adalah dapat memudahkan kita memperoleh ide-ide yang memercik (Jawa:  mlethik ). Kegiatan dzikir ini (yang dilakukan melalui bacaan dzikir atau dengan perbuatan lain yang diperintahkan Allah) akan menjadikan kita berpikir dengan qalbu Allah. Kalau seseorang berpikir dengan qalbu Allah, maka ia dapat memahami pengetahuan dan memperoleh pengetahuan dengan cepat dan tepat.

Hambaku yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan hal-hal yang sunnah, maka ia Kusenangi dan Kucintai. Karenanya, Akulah yang menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, menjadi penglihatannya yang dengannya ia melihat, menjadi lidahnya yang dengannya ia bertutur kata, dan menjadi qalbu yang dengannya ia berpikir. Apabila ia berdoa kepada-Ku Aku perkenankan doanya. Apabila ia minta sesuatu pada-Ku, niscaya Aku mengaruniakannya, dan apabila ia meminta pertolongan kepada-Ku niscaya Aku akan menolongnya. Ibadah yang Aku senangi adalah menunaikan kewajibannya dengan sebaik-baiknya untuk-Ku (HR Thabrani).

Saatnya Melakukan Riset  Penelitian dimaksudkan untuk mengecek apakah pengetahuan yang bersifat kognitif (pernyataan) yang diperoleh dari rumusan teoritis itu benar secara empiris. Benarkah pernyataan sesuai dengan kenyataan ? Itulah hal yang dilakukan dalam penelitian! Mengetahui kenyataan itu sangat penting, karena dengan mengetahui kenyataan (yang bersifat empiris ini) kita menjadi lebih yakin dengan kebenaran sesuatu. Sebagai contoh, ada pernyataan (teori) bahwa kelapangdadaan ( al-samhah ) berhubungan secara negatif dengan agresivitas. Semakin tinggi kelapangdadaan semakin rendah agresivitas. Untuk mengetahui apakah benar pernyataan di atas, orang melakukan penelitian (tentang hubungan negatif antara kelapangdadaan dan agresivitas).

Khusus dalam rangka pengembangan psikologi Islami, penelitian menempati posisi yang sangat penting. Dalam buku Agenda Psikologi Islami (2002), penulis membagi fase-fase perkembangan psikologi Islami: “Terpesona”-Kritis (level persiapan) serta perumusan-penelitian-penerapan (level aksi). Selama ini para pengkaji psikologi Islami telah mencoba melahirkan teori-teori psikologi Islami dan sebagian mahasiswa memandang keadaan tersebut dengan komentar sinis: “teori melulu”. Padahal, kata mereka, kan harus aplikatif!

Maka, sejumlah mahasiswa langsung menjadikan suatu teori sebagai rujukan dalam berbagai pelatihan yang mereka tangani. (Bahkan kadang-kadang teori Barat dicomot begitu saja tanpa melalui verifikasi Islam atas teori tersebut). Dari penjelasan di atas, ada loncatan dari teori langsung ke penerapan. Semestinya di antara keduanya ada yang namanya penelitian. Penelitian, bila hasilnya linear (alias searah) dengan teorinya, maka akan membuat suatu teori kokoh, dan karenanya, layak untuk dijadikan dasar sebagai rujukan suatu penerapan ilmu. Bila tidak linear (tak searah), maka tugas peneliti sebagaimana dianjurkan oleh Noeng Muhadjir adalah melakukan gerak mondar-mandir antara menyusun teori-mengambil data penelitian-hasilnya tidak linear-melakukan perbaikan teori-mengambil data penelitian dst.

Kalau anda dan saya mau meneliti teori-teori psikologi berperspektif Islam, maka apa yang kita lakukan akan memberi sumbangan terhadap pengembangan psikologi Islami. Dengan menyumbang satu penelitian, maka itu seperti menyumbang satu batu bata untuk membangun rumah (yang namanya psikologi islami). Maka, yuk, meneliti psikologi Islami, yuk!  Apa Saja yang Bisa Diteliti? Sejauh ini ada pandangan bahwa yang bisa diteliti oleh mahasiswa dan ilmuwan adalah suatu pernyataan yang sudah diteorikan oleh ahlinya. Hingga, akhirnya yang diteliti hanya apa yang diteorikan ilmuwan psikologi Barat. Suatu teori yang tak ada dalam buku teks psikologi Barat seakan tidak bisa diteliti (Malik Badri menyindir Muslim yang demikian sebagai tak sadar masuk liang biawak). Sebagai contoh, saat penulis hendak meneliti kualitas mimpi, segera beberapa reaksi bermunculan: apa mimpi bisa diteliti? Apa kualitas mimpi bukan sesuatu yang begitu tersembunyi? Apa ada teorinya tentang kualitas mimpi?

Cara pandang semacam itu –yaitu penelitian harus menggunakan teori psikologi Barat yang sudah baku– tidaklah benar dan menunjukkan inferioritas kita. Yang benar adalah bahwa kita bisa meneliti apa saja (tentang jiwa dan perilaku manusia) yang menarik perhatian kita sepanjang kita dapat menunjukkan landasan teoritis penelitian kita, entah dengan mencari dasar teorinya dari teks psikologi Islami atau menyusun sendiri dasar teori itu. Sebagai misal, ketika menyusun pengertian, aspek-aspek, dan faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas mimpi, penulis melakukan rekonstruksi teori. Maksudnya, berbagai pandangan atau teori yang ada (dalam psikologi, al-Qur’an, al-Hadits, khazanah pemikiran Islam) penulis sistematisasi sendiri.

Sekalipun demikian, harus penulis katakan bahwa sebagian kita umumnya konservatif. Saat Anda menulis skripsi yang ada hubungannya dengan keagamaan atau topik psikologi Islami pada umumnya boleh jadi sementara dosen akan segera menolaknya, lebih-lebih kalau hal yang diteliti tak ada dasar teorinya. Saat Anda hendak mengikuti lomba penelitian, pembimbing Anda akan segera mengingatkan bahwa judul yang menyangkut keagamaan atau psikologi Islami biasanya segera diragukan sehingga tak mungkin menang dalam lomba. Menghadapi situasi ini, yang bisa diperjuangkan adalah (a) pada dasarnya masalah sikap-perilaku keagamaan dan psikologi Islami lainnya jelas dapat diteliti dan (b) rekonstruksi teori jelas dapat dilakukan sepanjang rujukannya jelas.  Mengapa Perlu Metode? Metode adalah cara kerja untuk memperoleh pengetahuan secara empiris. Dalam dunia ilmu metode penelitian sangat penting, sehingga setiap ilmuwan harus secara jujur menunjukkan cara untuk memperoleh pengetahuan empiris.

Bila suatu pengetahuan empiris diperoleh melalui cara yang benar, maka pengetahuan yang diperoleh adalah pengetahuan empiris yang terpercaya. Sebaliknya, bila pengetahuan empiris diperoleh melalui cara yang diragukan atau melalui cara yang salah, maka pengetahuan empiris yang diperoleh tidak akan dipercaya.

Sebagai contoh, benarkah mahasiswi Yogya tidak perawan? Bila cara memperoleh data meragukan atau salah, maka hasil penelitian yang mengatakan bahwa 97% mahasiswi tidak perawan tak akan kita percaya. Sebaliknya, bila caranya telah benar, maka kita akan percaya bahwa memang 97% mahasiswi tidak perawan.

Dengan demikian, metode apa yang akan digunakan untuk mengetahui kebenaran/pengetahuan empiris sangat penting untuk diperhatikan.  Apa Saja Metode Penelitian? Dalam Islam, metode penelitian sangat beragam. Ini dengan sangat lugas disampaikan oleh ilmuwan Muslim Osman Bakar dalam buku Tauhid dan Sains. Dikarenakan realitas yang diakui oleh sains Islam lebih luas, maka metodenya pun lebih bervariasi. Ilmu pengetahuan moderen selama ini mengungkapkan bahwa metode penelitian yang disebut sebagai metode ilmiah (the scientific method) terdiri atas eksperimentasi (yang biasa disebut the true scientific method ), pengamatan (wawancara, observasi, angket, tes), dan komparasi.  Dalam buku Agenda Psikologi Islami (2002), saya ungkapkan bahwa di samping metode ilmiah, mestinya diakui pula metode yang untuk sementara waktu ini disebut metode semi ilmiah, seperti metode otoritas, metode intuisi, metode pemahaman ( verstehen ), metode riset aksi, grounded research , dan sebagainya.  Untuk pemula, saya sarankan untuk sementara ini gunakan saja metode-metode penelitian yang umum yang dianggap sebagai metode ilmiah seperti metode korelasional (menggunakan angket) atau metode wawancara (menggunakan daftar pertanyaan).

Metode yang semi ilmiah, disimpan saja dan diyakini, dan suatu saat nanti dicobagunakan untuk mengetahui sesuatu yang empiris. Dalam ilmu pengetahuan Islami dipercayai bahwa semakin beragam metode yang digunakan untuk memahami sesuatu, maka hasilnya akan lebih meyakinkan dan karenanya semakin dipercaya. Mengapa demikian? Tidak lain karena sudut pandang yang digunakan berbeda-beda dan satu metode dengan metode yang saling bisa saling mengecek. Sebagai contoh, peneliti menggunakan metode wawancara dan metode eksperimen untuk mengecek kebenaran pernyataan “hubungan seks tanpa perlindungan Allah memiliki hubungan dengan sikap oragtua terhadap anak”.

Metode eksperimen dilakukan dengan “memberi perlakuan terhadap sejumlah pasangan berupa baca doa dan tidak banyak doa ketika hendak berhubungan seks” dan mengukur “sikap terhadap anak”. Metode wawancara dilakukan terhadap orangtua yang telah memiliki anak, kita tanya dulu melakukannya pakai doa atau tidak dan setelah itu kita tanya sikapnya terhadap anak.  Contoh lain yang benar-benar pernah penulis lakukan adalah penggunaan metode wawancara untuk meneliti mimpi psiko-spiritual (baca: mimpi nubuwat) para kyai dan ustadz. Penulis menyampaikan berbagai pertanyaan berkaitan dengan mimpi-mimpi mereka dengan mendasarkan pada rekonstruksi teori yang sudah penulis susun sebelumnya. Mimpi psiko-spiritual berdasar teori terdiri atas mimpi yang berasal dari setan dan berasal dari Allah. Mimpi spiritual yang berasal dari Allah terdiri atas mimpi prediktif, mimpi retrospektif, mimpi petunjuk, mimpi peringatan, mimpi kuat.

Contoh yang berkaitan dengan penggunaan metode korelasional dengan angket adalah saat meneliti peranan kualitas mimpi dan kualitas tidur terhadap prestasi belajar. Penulis merumuskan sendiri teori tentang kualitas tidur dan kualitas mimpi, yang penulis dasarkan pada pandangan Islam tentang masalah ini.   Untuk sementara itu yang dapat saya sampaikan. Wallahu A’lam bi ash-shawab 

Daftar Pustaka

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. (1989). Islam and the Philosphy of Science . Kuala Lumpur, Malaysia: ISTAC.

Ancok, Djamaludin & Fuad N. Suroso. (1994). Psikologi Islami: Solusi Islam atas Problem Psikologi . Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Badri, Malik B. (1986). Dilema Psikolog Muslim . Jakarta: Penerbit Al-Kautsar.

Badri, Malik B. (2001). The Islamization of Psychology: Its Why, Its What, Its How, and Its Who. Makalah . Simposium Nasional Psikologi Islami V. Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung. 20 Juli 2001.

Bastaman, Hanna D. (1995). Integrasi Psikologi dengan Islam . Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Freud, Sigmund. (2001). Tafsir Mimpi . Yogyakarta: Penerbit Jendela.

Freud, Sigmund. (2002). Psikoanalisis . Yogyakarta: Ikon Teralitera.

Kuntowijoyo. (1991). Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi . Bandung: Mizan.

Mubarok, Achmad. (2000). Jiwa dalam Al-Qur’an . Jakarta: Penerbit Paramadina.

Mujib, Abdul. & Mudzakir, Jusuf. (2000). Nuansa-nuansa Psikologi Islam . Jakarta: Rajawali Pers.

Nashori, H.Fuad. (2002). Agenda Psikologi Islami . Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Nashori, H.Fuad. (2002). Mimpi Nubuwat . Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Nashori, H.Fuad. (2003). Potensi-potensi Manusia . Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Praja, Juhaya S. (2000). Konsep Manusia Menurut Islam Melalui Pendekatan Metodologi Ushul Fiqh. Dalam Rendra Krestyawan (ed.), Metodologi Psikologi Islami , Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Yunus, Mahmud. (1983). Kamus Arab Indonesia . Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsiran Al-Qur’an.

Zohar, Danah. & Marshall, Ian. (2000). SQ . Bandung: Mizan

Penulis:

fuad
Fuad Nashori  adalah salah seorang pelopor dan ahli di bidang Psikologi Islami, sehari-hari beliau menjabat sebagai Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, (UII) Yogyakarta. Fuad Nashori adalah penulis tetap untuk rubrik Psikologi Islami di website ini

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Menyikapi Hasil UN

19 Jul 2010 Fuad Nashori

Hari-hari menjelang pengumuman hasil ujian nasional (UN) menjadi hari-hari yang penuh tekanan dan kecemasan bagi…

Developmental Milestones: Usia 3 Bulan

14 Oct 2015 pikirdong

Perkembangan Mental Usia 3 Bulan PENGAMATAN PERILAKU Komunikasi Bahasa Menangis ketika mengompol Mendekut bila merasa nyaman Tingkah laku Tersenyum bila ada orang…

Fatal-Flaws

09 Sep 2013 pikirdong

Selama masa pacaran atau pendekatan dilakukan, banyak pasangan sebenarnya telah menangkap tanda-tanda “ketidakberesan” perilaku pada…

Euthanasia

04 Sep 2015 Sayed Muhammad

Eutanasia (euthanasia) merupakan suatu cara atau tindakan mengakhiri hidup yang dilakukan pada orang sakit atau…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

26 Jul 2016 pikirdong

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus untuk pejalan kaki (pedestrian), jalur ini…

Peran Keluarga terhadap Keselamatan Anak Saat Terjadi Bencana

08 Sep 2013 Fuad Nashori

Anak-anak adalah bagian dari masyarakat yang paling rentan terhadap bencana (tsunami, gempa, banjir, longsor, penculikan,…

Edisi Ibukota : Tas Tas Integritas!!

15 Sep 2013 Candrawati Wijaya

Salam Tarzan Kota! Sudah sampai manakah Tarzan-Tarzan kota menjelajah?? Harapan saya, kita tetap akan bertemu di…

Dyslexia

03 Sep 2013 pikirdong

Membaca dengan lancar bagi seseorang mungkin sangat mudah setelah melalui proses belajar dari sejak kecil,…

Mencapai Pribadi Yang Sukses

18 Oct 2013 pikirdong

Siapa kita ? Kita adalah makhluk ciptaan Allah (baca:manusia) yang terlahir ke dunia ini dalam keadaan…

Pedofillia – Paraphilia

06 Sep 2013 pikirdong

Hal yang paling meresahkan dunia saat ini adalah meningkatnya kasus pedofillia secara merata di seluruh…

Social Phobia

08 Sep 2013 pikirdong

Sosial fobia (social phobia) atau dikenal juga dengan istilah social anxiety disorder (SAD) merupakan gangguan…

Masalah lagi… Masalah lagi…

08 Sep 2013 pikirdong

Aduh…! Pusing banget nich. Lagi banyak masalah”, atau “Kenapa sich masalah selalu dateng hampirin aku!”,…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders yang ke V terjadi perubahan…

30 Aug 2017 Artikel Psikologi Psikologi Klinis pikirdong No comments

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa tubuh membutuhkan dokter dan bila diperlukan juga, diambil langkah untuk rawat…

24 Aug 2017 Kolom Sayed Muhammad Sayed Muhammad No comments

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014