DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic…

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa…

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Kompetensi Interpersonal Mahasiswa Ditinjau dari Jenis Kelamin

ABSTRACT

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kompetensi interpersonal antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada perbedaan kompetensi interpersonal antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswa wanita. Mahasiswa laki-laki memiliki kompetensi interpersonal yang lebih tinggi dibanding mahasiswa wanita.

Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kompetensi interpersonal. Subjek penelitian adalah mahasiswa Fakultas/Program Studi Psikologi di Yogyakarta, laki-laki dan perempuan, yang jumlahnya 302 orang.
Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis varians. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kompetensi interpersonal antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswa wanita.

Kata Kunci: Kompetensi interpersonal, jenis kelamin, mahasiswa

Latar Belakang Permasalahan

Berbagai pandangan dan pengalaman hidup yang disampaikan sejumlah tokoh menunjukkan bahwa keberhasilan hidup manusia banyak ditentukan kemampuan mengelola diri dan kemampuan mengelola hubungan dengan orang lain. Salah satu kualitas hidup seseorang yang banyak menentukan keberha-silan menjalin hubungan dengan orang lain adalah kompetensi interpersonal. Kompetensi interpersonal sendiri, menurut Spitzberg dan Cupach (De Vito, 1996), dapat diartikan sebagai suatu kemampuan melakukan hubungan interpersonal secara efektif. Kemampuan ini ditandai oleh adanya karakteristik-karakteristik psikologis tertentu yang sangat mendukung dalam menciptakan dan membina hubungan antar pribadi yang baik dan memuaskan. Oleh Buhrmester, Furman, Wittenberg, dan Reis (1988) dikatakan bahwa kompetensi interpersonal meliputi kemampuan berinisiatif membina hubungan interpersonal, kemampuan membuka diri, kemampuan bersikap asertif, kemampuan untuk memberikan dukungan emosional dan kemampuan untuk mengelola dan mengatasi konflik-konflik yang timbul dalam hubungan interpersonal.

Bila digambarkan dalam diri mahasiswa yang bernama Fahmi (nama rekaan), kompetensi interpersonal ini tampak dari inisiatifnya untuk memperkenalkan diri pada setiap orang yang ditemuinya, baik dalam perjalanan, pertemuan, perkuliahan, dan berbagai momen lainnya. Pada sahabatnya, ia tampak terbuka, baik dalam menceritakan siapa dirinya maupun dalam memberikan kesempatan pada sahabat untuk lebih mengenalnya. Pemuda Fahmi ini juga pintar mendengarkan keluhan orang lain dan memberikan dukungan kepada orang lain. Ia pun memiliki kemampuan bersikap dan bertindak asertif, yang ditunjukkan oleh keberaniannya untuk berkata tidak. Tidak kalah pentingnya, bila terlibat konflik ia tidak mau membiarkannya berlarut-larut. Tidak peduli dirinya atau kawannya yang bersalah atau yang lebih banyak bersalah, ia akan datang dan merampungkan konflik-konflik yang terjadi.

Mencermati keadaan di atas muncul pertanyaan, apa yang menjadikan kompetensi interpersonal ada, bertumbuh dan berkembang dalam diri seseorang pada umumnya dan mahasiswa pada khususnya? Mengapa kadang ia tidak tampak dalam perilaku keseharian individu?

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kompetensi interpersonal mahasiswa, subjek penelitian ini, dipengaruhi oleh lingkungan keluarga maupun proses hidup yang dijalani seseorang dengan masyarakatnya. Kebiasaan untuk hidup bersama dan mengembangkan pergaulan yang intens menjadikan kompetensi interpersonal seseorang tumbuh dan berkembang. Diungkapkan dalam penelitian Danardono (1997) bahwa mahasiswa yang aktif dalam kegiatan kepecintaalaman memiliki perbedaan yang signifikan dengan mahasiswa yang tidak aktif dalam kepecintaalaman, khususnya dalam hal kompetensi interpersonal. Mahasiswa yang aktif dalam kegiatan kepecintaalaman memiliki kompetensi interpersonal yang lebih tinggi dibanding mahasiswa bukan pecinta alam. Penelitian yang lain yang membandingkan antara mahasiswa yang aktif dan mahasiswa yang tidak aktif dalam organisasi, yang dilakukan Widiastuti dan Anggraini (1998) menunjukkan hasil yang berbeda dengan hasil penelitian Danardono (1997). Penelitian yang terakhir ini menunjukan bahwa tidak ada perbedaan kompetensi interpersonal antara mahasiswa yang aktif dalam organisasi dan tidak aktif dalam organisasi.

Ada pula peneliti yang menduga bahwa latar belakang program studi juga mempengaruhi kompetensi interpersonal mahasiswa. Hasil penelitian yang dilakukan Widuri (1995) ternyata menunjukkan bahwa mahasiswa ilmu-ilmu sosial dan mahasiswa ilmu-ilmu eksakta ternyata memiliki kemampuan yang seimbang dalam hal berkomunikasi interpersonal. Hal ini menunjukkan bahwa adanya interaksi yang cukup intens menjadikan kemampuan berkomunikasi secara interpersonal dapat tumbuh dan berkembang.

Faktor-faktor lainnya yang dinilai memiliki peranan terhadap kompetensi interpersonal adalah faktor-faktor internal individu, di antaranya adalah konsep diri (Nashori, 2000) dan kematangan beragama (Nashori & Sugiyanto). Sejauh mana tingkat kompetensi interpersonal seseorang juga bergantung sejauh mana persepsi seseorang terhadap dirinya. Kalau persepsi terhadap diri positif, maka seseorang akan cenderung melakukan komunikasi interpersonal dengan orang lain secara baik. Konsep diri yang ada dalam diri seseorang diduga memiliki sumbangan terhadap kompetensi interpersonal seseorang. Hasil penelitian Nashori (2000) menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara konsep diri dan kompetensi interpersonal mahasiswa. Semakin tinggi konsep diri semakin tinggi kompetensi interpersonalnya.

Tidak kurang dari itu, kematangan beragama yang ada dalam diri seseorang juga mempengaruhi kompetensi interpersonalnya. Bila individu dapat mengetahui dan menghayati ajaran agama secara mendalam, serta memiliki konsistensi moral terhadapnya, maka mereka memiliki sebagian dari ciri-ciri orang yang matang dalam beragama. Orang yang memiliki kematangan beragama dinilai memiliki modal untuk memiliki kompetensi interpersonal. Hasil penelitian yang dilakukan Nashori & Sugiyanto (2000) menunjukkan bahwa semakin tinggi kematangan beragama semakin tinggi kompetensi interpersonalnya.

Di samping itu, diduga jenis kelamin berkaitan dengan kompetensi inter-personal. Hasil kajian dan penelitian menunjukkan hasil yang berbeda. Danar-dono (1997) menemukan mahasiswa laki-laki memiliki kompetensi interpersonal yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa wanita. Sementara penelitian Silawati (1991) menunjukkan bahwa wanita lebih banyak bersama orang lain, terutama dengan sesama wanita. Dari hasil penelitian yang tidak konsisten tersebut, dapat diajukan permasalahan sebagai berikut: Adakah perbedaan kompetensi interpersonal antara mahasiswa laki-laki dan wanita?

Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada perbedaan kompetensi interpersonal antara mahasiswa laki-laki dibanding mahasiswa wanita. Mahasiswa laki-laki memiliki kompetensi interpersonal yang lebih tinggi dibanding mahasiswa wanita.

Subjek Penelitian

Subjek adalah mahasiswa Fakultas Psikologi di Yogyakarta, baik mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS), berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, serta mahasiswa junior dan senior. Pengambilan subjek dilakukan dengan metode purposive sampling.

Langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan pendataan Fakultas Psikologi di Yogyakarta yang ternyata terdiri atas Fakultas Psikologi UGM (PTN), UII, UNWAMA, UP ’45, USD, UAD, dan Sarjanawiyata Taman Siswa (PTS).

Langkah kedua dilakukan dengan menentukan perguruan tinggi negeri dan swasta yang terdiri atas PTS umum dan PTS agama. PTN diwakili UGM sementara PTS diwakili UII dan UNWAMA. UII mewakili swasta agama dan UNWAMA mewakili swasta umum. Yang akhirnya menjadi subjek adalah mahasiswa-mahasiswa Fakultas Psikologi UGM, UII, dan UNWAMA Yogyakarta.

Langkah ketiga adalah memilih subjek dengan melibatkan dua jenis kelamin sekaligus. Dari segi jenis kelamin, mereka terbagi atas dua kelompok, yaitu jenis kelamin laki-laki maupun perempuan. Subjek di atas memperoleh kesempatan yang sama untuk menjadi sampel. Jumlah mahasiswa yang menjadi subjek adalah 302 orang.

Tabel I
Deskripsi Subjek Berdasarkan
Perguruan Tinggi dan Jenis Kelamin

No Perguruan Tinggi Lelaki Wanita
1 Psikologi UII (N=100) 38 62
2 Psikologi UGM (N=101) 30 71
3 Psikologi UNWAMA (N=101) 31 70
Total (N=302) 99 203

Alat Ukur untuk Pengambilan Data

Skala kompetensi interpersonal dimaksudkan sebagai alat untuk mengungkap tingkat kompetensi interpersonal subjek penelitian. Aspek-aspek yang akan diukur dalam skala kompetensi interpersonal ini adalah: (a) Inisiatif, (b) Keterbukaan, (c) Asertif, (d) Dukungan emosional, dan (e) Pengatasan konflik. Aspek-aspek Skala Kompetensi Interpersonal ini dijabarkan dalam aitem-aitem yang terdiri dari aitem-aitem favorable dan aitem-aitem unfavorable.

Skala yang digunakan dalam penelitian ini disusun peneliti. Skala ini memiliki lima alternatif jawaban, yaitu sangat sesuai, sesuai, netral, tidak sesuai, dan sangat tidak sesuai. Nilai aitem skala kompetensi interpersonal berkisar antara 1 sampai 5. Kriteria pemberian nilai meliputi: untuk aitem-aitem yang favorable, jawaban “sangat sesuai” (SS) mendapat nilai 5, jawaban “sesuai” (S) mendapat nilai 4, jawaban “netral” (N) mendapat nilai 3, jawaban “tidak sesuai” (TS) mendapat nilai 2, dan jawaban “sangat tidak sesuai” (STS) mendapat nilai 1. Kriteria pemberian nilai untuk aitem-aitem unfavorable adalah jawaban “sangat sesuai” (SS) mendapat nilai 1, jawaban “sesuai” (S) mendapat nilai 2, jawaban “netral” (N) mendapat nilai 3, jawaban “tidak sesuai” (TS) mendapat nilai 4, dan jawaban “sangat tidak sesuai” (STS) mendapat nilai 5. Makin tinggi skor yang yang diperoleh subjek, makin tinggi tingkat kompetensi interpersonalnya. Sebaliknya makin rendah skor yang diperoleh subjek, makin rendah pula tingkat kompetensi interpersonalnya.

Setelah diuji coba dengan membagi-bagikan skala kepada subjek, dari 50 skala yang disebar, terdapat 41 skala yang kembali. Uji skala kompetensi interpersonal ini menggunakan program analisis kesahihan butir dari Modul analisis butir Seri Program Statistik (SPS) yang disunting oleh Soetrisno Hadi dan Yuni Pamardiningsih (1998).

Uji kesahihan (validitas) skala kompetensi interpersonal menghasilkan koefisien yang bergerak antara -0,004 sampai 0,568. Sementara koefisien alpha menunjukkan 0,928. Dengan pengujian pada taraf signifikansi 1% sebanyak 25 butir aitem gugur dari 60 aitem yang diujicobakan. Koefisien butir aitem yang sahih bergerak antara 0,258 sampai 0,568. Di antara 35 butir yang sahih, hanya terdapat 30 butir yang digunakan dalam penelitian ini. Cara penentuannya adalah membuang butir aitem pada aspek-aspek kompetensi interpersonal yang jumlahnya terlalu banyak. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan untuk men-dapatkan keseimbangan komposisi aitem dalam cetak biru alat ukur.

Hasil Penelitian

Kategori kompetensi interpersonal. Pengelompokan subjek dilakukan dalam tiga kategori kompetensi interpersonal, yaitu kelompok tinggi, sedang, dan rendah. Dengan menggunakan perhitungan yang dikemukakan Azwar (1993), dapat diketahui bahwa subjek penelitian ini berada pada tingkat kompetensi interpersonal sedang (81,5 %) dan tinggi (18,5 %). Perhitungan ini dilakukan dengan melibatkan rerata teoritik dan deviasi standar teoritik dari skala kompetensi interpersonal. Rerata teoritik untuk data ini adalah 180 dengan deviasi standar sebesar 20.

Dengan demikian, pengelompokan tersebut secara lengkap adalah sebagai berikut:

Tabel II
Kategori Kompetensi Interpersonal (N = 302)

Kategori Rentang Skor Jumlah
Tinggi 121-150 56 18,5%
Sedang 61-120 246 81,5%
Rendah 1-60 0 0 %

Uji Asumsi. Hasil analisis data mengenai perbedaan kompetensi interpersonal antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan menunjukkan koefisien korelasi F= 2,457 dengan p sebesar 0,118. Nilai rerata laki-laki 111,76 dan wanita 113,77. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kompetensi interpersonal antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan. Dari analisis di atas dapat disimpulkan tidak ada perbedaan kompetensi interpersonal mahasiswa berdasarkan jenis kelamin

Diskusi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kompetensi interpersonal antara mahasiswa laki-laki dan perempuan. Hasil penelitian ini tidak sejalan pandangan ahli dan hasil penelitian sebelumnya. Hadiyono dan Kahn (1987) melaporkan bahwa mahasiswa laki-laki memiliki ciri lebih dalam stabilitas emosi, memiliki keberanian dan kepuasan diri, sedangkan mahasiswa perempuan lebih tinggi tingkat kecemasannya dan lebih sering menarik diri. Sementara penelitian yang dilakukan Danardono (1997) menunjukkan bahwa mahasiswa laki-laki memiliki kompetensi interpersonal yang lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa wanita. Perbedaan hasil ini diduga disebabkan oleh komposisi dan karakteristik subjek penelitian. Penelitian ini menggunakan komposisi subjek satu banding dua untuk laki-laki dan perempuan sedangkan penelitian Danardono menggunakan subjek yang jumlahnya relatif sama antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan yang kedua adalah karakteristik subjek. Pada penelitian Danardono subjeknya adalah pecinta alam yang lebih banyak mengandalkan laki-laki sebagai pengambil inisiatif, pemegang kepemimpinan, dan ujung tombak tim. Tuntutan demikian memungkinkan tumbuh kembangnya kompetensi interpersonal di kalangan mahasiswa laki-laki. Sementara penelitian ini menggambarkan keadaan mahasiswa psikologi pada umumnya di mana laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan inisiatif, keterbukaan diri, asertivitas, dukungan emosional, dan penyelesaian konflik.

Penelitian ini juga berbeda dengan beberapa penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa perempuan memiliki kompetensi interpersonal yang lebih tinggi dibanding laki-laki. Latane dan Bidwell (Silawati, 1991) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa kaum wanita lebih banyak bersama orang lain, sekurang-kurangnya di tempat-tempat umum. Berdasarkan hal di atas, Latane dan Bidwell menyimpulkan bahwa kaum wanita memiliki motif berafiliasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini sejalan dengan pendapat Barry dkk (dalam Wrightsman & Deaux, 1981) bahwa wanita lebih nurturant, lebih afiliatif, dan menunjukkan minat yang lebih besar terhadap orang lain bila dibandingkan dengan kaum laki-laki. Pendapat di atas diperkuat oleh Bosman (Hadi, 1994) yang menandaskan bahwa wanita lebih kohesif, lebih terbuka, dan tanpa malu-malu berhubungan dengan sesama anggota dibanding laki-laki. Hal ini sejalan dengan pendapat Barry dkk (dalam Wrightsman & Deaux, 1981) bahwa wanita lebih nurturant, lebih afiliatif, dan menunjukkan minat yang lebih besar terhadap orang lain bila dibandingkan dengan kaum laki-laki. Kecenderungannya untuk bersama orang lain mendorong wanita untuk memupuk kemampuan berhubungan secara interpersonal yang disebut kompetensi interpersonal.

Adanya fakta bahwa mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan memiliki kompetensi interpersonal yang setara menunjukkan bahwa proses pendidikan dan pengasuhan yang diberikan lembaga pendidikan dan orangtua kepada laki-laki dan perempuan relatif sama. Pendidikan dan pengasuhan yang tidak mendiskriminasi laki-laki dan perempuan ini menghasilkan buah berupa keseimbangan mereka dalam berbagai hal, salah satunya adalah kompetensi interpersonal.

KESIMPULAN

Dari penelitian ini dapat diambil simpulan bahwa tidak ada perbedaan kompetensi interpersonal antara mahasiswa laki-laki dan perempuan. Hal ini dikarenakan mereka sama-sama memiliki kesempatan untuk mengembangkan inisiatif, keterbukaan diri, asertivitas, dukungan emosional, dan penyelesaian konflik. [FN]

Daftar Pustaka

Abdullah, M. A. (1996). Studi Agama: Normativitas Atau Historisitas? Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Alcock, J. (1992). Religion and Rationality. In Schumaker, J. F. (Ed.). Religion and Mental Health. Oxford & New York: Oxford University Press.

Allport, G. W. (1953). The Individual and His Religion: a Psychological Interpretation. New York: The Macmillan Co.

Azwar, S. (1993). Kelompok Ini Memiliki Harga Diri yang Rendah, “Kok Tahu?” Buletin Psikologi, I (2), 13-17.

Azwar, S. (1997). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Azwar, S. (1999). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Baron, R. A. & Byrne, D. (1991). Social Psychology: Understanding Human Interactions. 6th. Boston: Allyn & Bacon.

Beit-Hallahami, B. & Argyle, M. (1997). The Psychology of Religion: Behavior, Belief, and Experience. London: Routledge.

Berzonsky, M. D. (1981). Adolescent Development. New York: MacMillan Publishing Co., Inc.

Bierman, I. K., Miller, L. C., & Stabb, D. S. (1987). Improving the Social Behavior and Peer Acceptance of Rejected Boys: Effect of Social Skills Training with Instructions and Prohibitions. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 55, 2, 194-200.

Brigham, J.C. (1991). Social Psychology. Second Edition. New York: Harper Collins Publishers.

Buhrmester, D., Furman, W., Wittenberg, M. T., & Reis. D. (1988). “Five Domains of Interpersonal Competence in Peer Relationships.” Journal of Personality and Social Psychology, 55 (6), 991-1008.

Calhoun, J. F. & Acocella, J. R. (1990). Psychology of Adjustment and Human Relationships, 3 rd edition. New York: McGraw-Hill Publishing Company.

Crapps, R. W. (1995). Dialog Psikologi dan Agama. Terjemahan: A.M. Hardjana. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Crapps, R.W. (2000). Gaya Hidup Beragama: Autoritas yang Sedang Menjadi Mistik. Cetakan ketujuh. Penyadur: A. M. Hardjana. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Danardono, W. (1997). Kompetensi Interpersonal Mahasiswa Ditinjau dari Keikutsertaan pada Kegiatan Pecinta Alam. Laporan Penelitian (tidak Diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.

De Vito, J. A. (1996). The Interpersonal Communication Book. 7th edition. New York: Harper Collins College Publishers.

Fuhrmann, B. S. (1990). Adolescende, Adolescent. 2nd edition. Springfield, Illinois: Scott/Little, Brown Higher Education and Sons.

Goldberg, A. A. & Larson, C. A. (1985). Komunikasi Kelompok: Proses-proses Diskusi dan Penerapannya. Terjemahan: A. Parsudi. Jakarta: UI Press.

Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence. New York: Bantam.

Goleman, D. (1997). Emotional Intelligence: Kecerdasan Emosional. Cetakan Keenam. Diterjemahkan T. Hermaya. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Grasha, A.F. (1987). Practical Application in Psychology. Springfield, Illinois: The Dorsey Press Homewood.

Hadi, C. 1994. Suatu Penelitian Eksperimental Mengenai Efek Pola Komunikasi, Bentuk Pemecahan Masalah, dan Jenis Kelamin terhadap Efisiensi Pemecahan Masalah. Tesis (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Program Pasca sarajana UGM.

Hadiyono, J. E. P. & Kahn, M. W. 1987. Perbedaan Kepribadian dan Persamaan Jenis Kelamin pada Mahasiswa Indonesia dan Mahasiswa Amerika. Jurnal Psikologi, XV, 1, 20-24.

Hall, S. & Lindzey, G. (1991). Teori Kepribadian: Teori-teori Humanistik. Terjemahan: Yustinus. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Hurlock, E. B. (1975). Adolescent Development. New York: McGraw Hill.

Hurlock, E. B. (1979). Personality Development. New Delhi: McGraw-Hill.

Hurlock, E. B. (1999). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Cetakan Ketujuh. Terjemahan: Istiwidiyanti & Soedjarwo. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Jersild, A. T. (1985). The Psychology of Adolescent. New York: Mac Millan Publishing Co., Inc.

Kartono, K. & Gulo, D. (1987). Kamus Psikologi. Bandung: Pionir Jaya.

Kerlinger, F. N. (1996). Asas-asas Penelitian Behavioral. Cetakan Keenam. Terjemahan: Tim GMU Press. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Kramer, L. & Gottman, J.M. (1992). Becoming a Sibling: With a Little Help from Friends. Journal of Developmental Psychology, 28, 685-699.

Kelley, J. A. (1982). Social Skill Training: A Practical Guide for Intervention. New York: Springer Publishing Co.

Maarif, A. S. (1991. Pendidikan Islam Sebagai Paradigma Pembelajaran. Dalam M. Usa (ed.), Pendidikan Islam di Indonesia: Antara Cita dan Fakta. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Nashori, F. (1998). Orientasi Keagamaan Mahasiswi Muslim Berjilbab dan Mahasiswi Muslim Tidak Berjilbab. Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi PSIKOLOGIKA, 5, III, 27-37.

Nurahmati. (1995). Gaya Kelekatan dengan Teman Sebaya dan Kompetensi Interpersonal pada Remaja. Skripsi (tidak dipublikasikan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.

Paloutzian, R. F. (1996). Invitation to the Psychology of Religion. 2nd edition. Boston: Allyn and Bacon.

Partosuwido, S. R. (1993). Penyesuaian Diri Mahasiswa dalam Kaitannya dengan Konsep Diri, Pusat Kendali dan Status Perguruan Tinggi. Jurnal Psikologi, XX, 1, 32-47.

Perlman, D. & Cosby, P. C. (1983). Social Psychology. New York: Holt, Rinehart, & Winston.

Purnamaningsih, E. H., Pudjono, M. & Prakosa, H. (1996). Efektivitas Pelatihan Komunikasi Efektif pada Kelompok Remaja. Jurnal Psikologi, 2, 31-39.

Rakhmat, J. (2000). Psikologi Komunikasi. Cetakan Ketiga belas. Bandung: Penerbit PT Remaja Rosdakarya.

Ramdhani, N. (1996). Perubahan Perilaku dan Konsep Diri Remaja yang Sulit Bergaul Setelah Menjalani Pelatihan Ketrampilan Sosial. Jurnal Psikologi, XXIII, I, 1-12.

Robinson, J. P. & Shaver, P. R. (1973). Measures of Social Psychological Attitude. Lansing, Michigan: Institute for Social Research.

Santoso, S. (2000). SPSS: Mengolah Data Statistik Secara Profesional. Cetakan Kedua. Jakarta: PT Elex Media Computindo.

Schultz, D. (1998). Psikologi Pertumbuhan: Model-model Kepribadian Sehat. Cetakan Keenam. Terjemahan: Yustinus. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Sears, D. O., Freedman, J. L., & Peplau, L. A. (1991). Psikologi Sosial. Terjemahan: Michael Adryanto & Savitri Soekresno. Jakarta: Airlangga.

Silawati, R.D.E. (1991). Perbedaan Motivasi Berolahraga antara Pria dan Wanita pada Anggota Fitness Centre di Kotamadya Yogyakarta. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.

Smith, H. (1991). Agama-agama Manusia. Cetakan Kedua. Terjemahan: Saafruddin Bahar. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Song, I. S. & Hattie, J. (1982). Home Environment, Self Concept, and Academic Achievement: A Causal Modeling Approach. Journal of Educational Psychology, 76, 1269-1281.

Subandi. (1995). Perkembangan Kehidupan Beragama. Buletin Psikologi, I, 44-49.

Suganuma, M. (1997). Self Disclosure and Self Esteem in Old Age. Japanese Journal of Educational Psychology. 45, (4), 12-21.

Supratiknya, A. (2000). Komunikasi Antarpribadi: Tinjauan Psikologis. Cetakan Kelima. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Syarani, D. (1995). Perilaku Asertif dan Kecemasan Komunikasi Interpersonal. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.

Widiastuti, A. & Anggraini, Z. (1998). Perbedaan Kompetensi Interpersonal antara Mahasiswa Aktivis dan Mahasiswa Bukan Aktivis. Laporan Penelitian (tidak dipublikasikan). Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia.

Widuri, N. F. (1995). Komunikasi Interpersonal pada Mahasiswa Fakultas Teknik dan Mahasiswa Fisipol. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.

Wrigtsman, L. S. & Deaux, K. (1981). Social Psychology in 80’s. 3rd edition. Monterey: Brooks/Cole Publisihing Company.

Wulff, D.M. (1991). Psychology of Religion: Classic and Contemporary Views. New York: John Wiley and Sons.

Penulis:

fuad
Fuad Nashori  adalah salah seorang pelopor dan ahli di bidang Psikologi Islami, sehari-hari beliau menjabat sebagai Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, (UII) Yogyakarta. Fuad Nashori adalah penulis tetap untuk rubrik Psikologi Islami di website ini

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Enaknya Duduk di Barisan Depan Kelas!

08 Sep 2013 pikirdong

Duduk di barisan paling depan kelas memang rada seram, perasaan was-was selalu kebayang karena selalu…

Insomnia

08 Sep 2013 pikirdong

Insomnia adalah gangguan tidur dimana individu tidak puas dengan jumlah atau kualitas tidur atau sering…

Mengejar Kebahagiaan

09 Sep 2013 Ardiman Adami

Bilamana Anda merasa bahagia? Apakah ketika Anda meraih kesuksesan, kekayaan, atau kesenangan? Tentu saja Anda…

Dampak Penyalahgunaan Narkoba

12 Sep 2013 pikirdong

Beberapa dampak penyalahgunaan narkoba; Dampak biofisiologis 1. Penyebaran HIV, Hepatitis dan beberapa penyakit menular Lainnya  Penyalahgunaan narkoba…

Gangguan Delusi

04 Sep 2013 pikirdong

Gangguan delusi merupakan suatu kondisi dimana pikiran terdiri dari satu atau lebih delusi. ―Delusi diartikan…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

26 Jul 2016 pikirdong

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus untuk pejalan kaki (pedestrian), jalur ini…

Penyakit Hati: Tanda, Sebab, Upaya Penyembuhan

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Dalam Islam, suci dan kotornya hati memiliki arti yang sangat penting. Hati yang suci dan…

Emosi

08 Sep 2013 pikirdong

Emosi adalah gejolak yang ada pada organisme yang disertai oleh respon terhadap suatu rangsang, di…

Paranoid Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian paranoid (paranoid personality disorder; PPD) adalah suatu kondisi karakteristik dimana individu tidak dapat…

Tips Menghadapi Gempa Bumi

08 Sep 2013 Sayed Muhammad

Indonesia yang terletak di jalur gempa (ring of fire) semestinya pendidikan mengenai antisipasi dan menghadapi…

Memaafkan

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Ragam dan kedalaman pengalaman buruk antara manusia satu dengan yang lain berbeda-beda. Pada sebagian orang,…

Kitab Suci Sebagai Sumber Pengembangan Psikologi Islami

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Selalu ditemukan dalam komunitas apapun orang-orang yang menganjurkan kebenaran yang berasal dari Tuhan. Mereka berupaya…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders yang ke V terjadi perubahan…

30 Aug 2017 Artikel Psikologi Psikologi Klinis pikirdong No comments

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa tubuh membutuhkan dokter dan bila diperlukan juga, diambil langkah untuk rawat…

24 Aug 2017 Kolom Sayed Muhammad Sayed Muhammad No comments

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014