TwitterFacebookGoogle+

Masturbasi dan Pengaruh Psikologisnya

Masturbasi adalah rangsangan disengaja yang dilakukan pada organ genital untuk memperoleh kenikmatan dan kepuasan seksual pelakunya dapat pria ataupun wanita. Masturbasi berasal dari bahasa latin; mastubare dari kata manus (tangan) dan  stuprare (penyalahgunaan).

Freud menjelaskan, pada anak usia kira-kira 3 tahun (fase falis), anak mulai menemukan alat kelaminnya sebagai erogen terpenting dari tubuhnya, pada masa tersebut anak mulai menemukan kenikmatan dengan bermain-main alat kelaminnya. Pada masa ini tidak tidak dapat disebut sebagai aktivitas seksual, karena organ-organ seksual belum berfungsi secara maksimal (sampai fase genital). Pada fase tersebut anak akan sering memegang-megang alat kelaminnya, selain rasa ingin tahu akan organ-organ tubuhnya kadang juga disebabkan sensasi yang ia rasakan aneh baginya, misalnya pada anak laki-laki yang mengalami ereksi (tanpa sebab yang ia ketahui) ketika bangun di pagi hari.

Berbeda bila perilaku merangsang organ genital secara sengaja untuk mencari kenikmatan pada usia remaja, perilaku ini dapat disebutkan sebagai aktivitas seksual; masturbasi, merancap atau sering juga disebut dengan onani. Pada usia remaja, pertumbuhan dan perkembangan organ seksual semakin matang dan mulai berfungsi dengan baik. Organ-organ seksual mulai mengenal sensasi-sensasi birahi.

Remaja pada awalnya melakukan masturbasi akibat rangsangan fantasi seksual yang secara terus menerus. Mereka melakukannya dapat dengan bantal guling  Masyarakat pada umumnya menolak masturbasi sebagai kebiasaan yang dapat diterima atau dianggap lumrah walaupun beberapa ahli dibidangnya berkesimpulan masturbasi tidak berbahaya secara medis ataupun mental. Oleh sebabnya, beberapa masyarakat tetap menolaknya disebabkan ajaran agama melarang perbuatan tersebut kecuali bagi mereka yang sudah menikah. Banyak pasangan menikah pun masih melakukan masturbasi sebagai salah satu menu yang berbeda.

Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan kehidupan yang semakin pesat, di dalam masyarakat mulai terjadi pergeseran-pergeseran moral, ide-ide baru bermunculan untuk membenarkan tindakan masturbasi pada individu-individu yang belum menikah. Opini publik ini semakin menguat dengan alasan yang beragam, misalnya saja orang membolehkan remaja atau bahkan individu dewasa melakukan masturbasi dibandingkan terlibat freesex atau bahkan dengan penekanan; boleh melakukan masturbasi asal jangan terlalu sering dan berbagai ragam alasan lainnya.

Seiring semakin majunya peradaban teknologi, berbagai alat untuk membantu mencapai orgasme (kepuasan seksual) pun telah diciptakan, sebut saja vibrator , dildo , vaginator dan sebagainya. Alat-alat ini dijual ditempat-tempat tertentu untuk membantu mereka yang mengalami permasalahan aktivitas seksual. Seiring waktu penggunaan alat bantu tersebut semakin  meluas di dalam masyarakat di beberapa negara.

Dampak dari masturbasi

Terlepas dari beberapa polemik, walaupun beberapa ahli mengatakan bahwa masturbasi tidak berdampak apapun, namun ada beberapa hal perlu Anda ketahui tentang itu:

1) Masturbasi dapat menimbulkan perasaan bersalah, berdosa bagi pelakunya, akibatnya individu dihantui perasaan bersalah, kotor atau berdosa dalam memandang dirinya. Beberapa agama (Islam) melarang perbuatan tersebut karena dapat mempengaruhi mental dan akhlaknya di kemudian hari

2) Self Control . Masturbasi biasanya dilakukan karena adanya rangsangan-rangsangan dari luar terlebih dahulu (stimuli) bukan bersifat instinktif. Artinya semakin bagus kontrol terhadap diri dan perilakunya maka individu yang mempunyai self control yang baik akan menjauhi perbuatan tersebut. Individu mampu melakukan represi terhadap stimuli tersebut tanpa harus melakukan masturbasi ketika dorongan-dorongan seksualnya semakin tinggi

3) Biasanya pelaku masturbasi, terutama pada pria akan mengalami krisis kepercayaan diri (self confidence). Masturbasi biasanya dilakukan “terpaksa”. Dimana pria akan berusaha memacu orgasmenya untuk mencapai kepuasan, akibatnya akan muncul perasaan akan takut gagal berhubungan intim yang diakibatkan terlalu cepat keluar, perasaan takut tidak dapat memuaskan istrinya.

4) Beberapa pasangan yang sudah menikah, masturbasi hanya menjadi selingan yang tidak bisa dipaksakan pada pasangan cintanya. Beberapa orang mengatakan bahwa masturbasi mempunyai sensasi yang lebih dibandingkan berhubungan seks ini dapat mengakibatkan masturbasi kompulsif. Masturbasi juga tidak boleh dijadikan sebagai acara menu tetap pengganti bersenggama pada pasangan yang sudah menikah

5) Masturbasi yang terlalu sering dapat menjadi suatu obsesi dalam diri individu. Rangsangan seksual yang secara terus menurus dan membutuhkan pelampiasan dengan masturbasi, akibatnya menjadi kebiasaan yang buruk. Biasanya pada remaja sifat kreativitas menurun secara drastis.

6) Penggunaan alat bantu seks (sex toys) dapat mempengaruhi sikap dan perilakunya terhadap seks. Alat seks adalah mesin ―yang berbeda dengan manusia, alat-alat tersebut dapat menimbulkan adiktif berlebihan karena sensasi yang diberikan berbeda dengan kemampuan pada manusia.

7) Beberapa alat bantu seks tersebut belum tentu cocok untuk ukuran bangsa tertentu, penggunaan secara berlebihan dan tidak tepat dapat menimbulkan luka atau infeksi pada alat kelamin.

8) Masturbasi secara tidak tepat dan tidak terkontrol dapat merusak selaput dara (keperawanan), pada pria dapat merusak atau memutuskan jaringan darah di phallus yang dapat mempengaruhi kekuatan ereksi dan semakin melemah.

9) Dalam beberapa kasus, penggunaan sex toys secara berlebihan dan intens juga dapat mengakibatkan pelebaran dinding vagina atau kapalan pada labium minora akibat luka yang secara terus menerus terjadi pada saat pemakaian. Di beberapa rumah sakit khusus bedah plastik, pelebaran labium minora dapat dilakukan pembedahan (operasi) dengan tujuan mempercantik bentuk vagina.

Penulis

ayed
Sayed Muhammad
adalah lulusan psikologi Universitas Islam Indonesia, ia adalah perintis dan penulis tetap di website ini. Beberapa pengalamannya pernah mengajar di STAIN Malikussaleh untuk bidang studi psikologi pendidikan.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar

Artikel Lainnya

Teknik Relaksasi: Mengurangi Stres

04 Sep 2013 pikirdong

Relaksasi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan sendiri oleh individu untuk mengurangi stres, kekalutan…

Asperger Syndrome

05 Sep 2013 pikirdong

Gangguan Asperger atau dikenal dengan istilah Asperger syndrome (AS), juga disebut sebagai Asperger disorder merupakan…

Hospice: Tempat Perawatan Orang yang Hampir Meninggal

03 Sep 2013 Sayed Muhammad

Beberapa tahun lalu, tetangga saya mengidap kanker payudara, setelah melakukan operasi di tanah air sebelumnya,…

Orientasi Nilai Budaya dan Pemaafan pada Mahasiswa

05 Sep 2015 Fuad Nashori

Abstract The aim of this research is to find out relationship between Javanese cultural value orientation…

Mencapai Pribadi Yang Sukses

18 Oct 2013 pikirdong

Siapa kita ? Kita adalah makhluk ciptaan Allah (baca:manusia) yang terlahir ke dunia ini dalam keadaan…

Tersenyumlah!

09 Sep 2013 Sayed Muhammad

Tertawa dan belajarlah, sebab kita semua membuat kesalahan (Weston Dunlap ) Abe adalah seorang anak dalam…

Histrionic Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian histrionik (histrionic personality disorder) adalah gangguan kepribadian dengan karakter emosi yang meluap-luap…

Identitas Universitas Islam

09 Sep 2013 Fuad Nashori

Dalam kesempatan ini saya ingin membuka kembali wacana tentang Universitas Islam. Persoalan ini penting untuk…

Commitment Phobia

06 Sep 2013 pikirdong

Commitment phobia merupakan bentuk suatu ketakutan (fear) untuk menjalin suatu hubungan yang lebih erat, rasa…

Edisi Ibukota : Sikap "Inilah Waktunya!"

04 Sep 2013 Candrawati Wijaya

Salam Tarzan Kota!  Seberapa sering hal ini terjadi pada diri kita : Anda duduk dalam pertemuan staf…

Hukuman Mati untuk Koruptor

10 Sep 2011 Fuad Nashori

Di tengah maraknya kasus markus yang terjadi di negeri ini, rasanya patut bagi kita untuk…

Kompetensi Interpersonal Mahasiswa Ditinjau dari Jenis Kelamin

06 Sep 2013 Fuad Nashori

ABSTRACT Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kompetensi interpersonal antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan. Hipotesis…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

Muslim yang Ketakutan

Ada rasa takut, khawatir saat mau nge-share tulisan ulama yang dicap radikal. Takut dianggap pro HTI, pro FPI, ekstrim, radikal,…

30 May 2018 Khairrubi Kolom Ruby Kay No comments

Mendidik Anak dengan Sepenuh Hati

Mendidik atau mengasuh anak dengan sepenuh hati itu artinya mendidik anak dengan pendidikan Islam. Hanya dengan pendidikan Islam saja orangtua…

23 May 2018 Artikel Keluarga Psikologi Islami Irwan Nuryana Kurniawan No comments

Biar Anak Rajin Ke Masjid

Saya dan istri saya ingin semua anak rajin ke masjid. Yang kami tahu adalah nanti yang mendapat naungan dari terik…

29 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Ketika Si Anak Memilih Jalannya Sendiri

Orangtua berupaya agar anaknya memilih jalan yang terbaik yang menjamin masa depannya. Tugas orangtua yang pertama tentu adalah mengarahkan. Dulu…

28 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Mendidik Anak Mandiri

Salah satu tugas orangtua adalah melatih anaknya menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang mandiri adalah pribadi yang memiliki inisiatif untuk…

27 Apr 2018 Artikel Keluarga Fuad Nashori No comments

Teman Berselingkuh

Suatu hari ketika Anda sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, Anda melihat teman sekantor Anda sedang berjalan mesra dengan seseorang yang…

27 Feb 2018 Obrolan pikirdong Comments (3)

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014