TwitterFacebookGoogle+

Melejitkan Moral-Spiritual Anak

Ada sejumlah langkah untuk melejitkan moral-spiritual anak, yaitu dengan meningkatkan stimulasi pendengaran, penglihatan dan perabaan serta permainan.

Stimulasi Pendengaran

sponsor1Stimulasi pendengaran dicontohkan oleh Ibunda Imam Syafii. Kita tahu Imam Syafii adalah orang besar dalam khazanah pemikiran Islam, khususnya pemikiran fikih. Sudah pasti kapasitas otaknya luar biasa. Ia memiliki kemampuan mengingat informasi hadits yang teramat banyak. Lebih dari itu, kemampuannya yang sangat menonjol adalah menganalisis dan mensintesis serta mengaplikasikan ajaran Islam sehingga akhirnya banyak ijtihad fiqihnya yang bertahan lebih dari seribu tahun. Sedemikian kuatnya argumentasi yang dibangunnya, sehingga sebagaian besar umat Islam mendasarkan ibadah dan muammalahnya berdasarkan kitab fikih yang disusun Imam Syafii.

Syafii yang hebat ini –di masa kecilnya– ternyata distimulasi pendengaran secara optimum oleh ibundanya. Stimulasi yang bersifat terus menerus adalah mendengar bacaan ayat suci Al Qur’an dari ibundanya yang hafidhah . Kita tahu seorang hafidhah yang aktif biasanya menghabiskan 3-4 hari untuk mengkhatamkan Al Qur’an. Rata-rata Ibunda Imam Syafii membacakan untuk Syafii 8-10 juz sehari. Kita bisa bayangkan banyaknya stimulasi kognitif oleh ibundanya: 5-8 jam sehari memperoleh stimulasi yang bersifat aktif. Dalam situasi demikian, neuron-neuron dalam otak Syafii kecil bekerja secara aktif. Terjadi sambung menyambung antara neuron satu dengan yang lain sehingga menghasilkan wadah kognitif dan spiritualitas yang luar biasa.

Memang demikianlah keadaannya. Beberapa tahun setelah banyak duduk di pangkuan ibundanya, Imam Syafii mulai belajar membaca dan menghafal Al Qur’an. Hari demi hari ia pelajari satu per satu ayat-ayat suci Al Qur’an. Orang melihat betapa cerdas Imam Syafii. Karena wadah kognitifnya yang demikian besar, ia mampu memasukkan asupan informasi secara optimum. Pada usia 7 tahun, ia telah menghafal seluruh isi Al Qur’an. Sekali lagi: Luar Biasa!  Dalam konteks kehidupan kita saat ini, kita juga semestinya memperkaya stimulasi pada anak dengan berbagai aktivitas. Memberinya nama yang baik, mengajaknya bicara, menyanyikan lagu indah dan optimistik, memperdengarkan cerita-cerita yang baik, ceramah-ceramah dan murottal , mengajak dan mendorongnya ikut acara keagamaan, dan sebagainya adalah upaya untuk mengaktifkan otak dan hati anak. Kita dipersilakan untuk mencari sendiri secara kreatif apa yang bisa diberikan pada anak, baik dalam bentuk mengarahkan, memberi feedback , melarang, dan sebagainya. Catatan yang terpenting adalah informasi yang diberikan bersifat positif dan tidak menjadikan anak takut untuk berkembang, seperti cerita yang mengerikan, cerita dengan tokoh jahat, dan sebagainya.

Stimulasi Penglihatan

Dalam konteks kehidupan saat ini, anak-anak kita pun layak untuk mendapatkan stimulasi ini secara optimum. Kita dipersilakan melakukan cara kreatif untuk memberikan stimualasi penglihatan ini pada anak. Kita tahu bahwa anak yang sehat selalu menginginkan ini. Mereka ingin melihat dunia ini dengan bermilyar warna-warninya. Kalau kita penuhi kebutuhan mereka, kita berarti memberinya kesempatan untuk memperbesar wadah kognitifnya.

Ada cerita menarik dari seorang kenalan saya yang kebetulan seorang hakim. Suatu ketika ia mendapati anaknya mengambil uang di lemari tanpa bilang ke orangtuanya. Ini diulanginya berkali-kali. Wah, ini perilaku tidak baik dan tak boleh berlanjut, kata sang ibu dalam hati. Maka, ia ajak naik sang anak ke mobil dan berhenti di pintu masuk sebuah penjara. Ia berkata kepada anaknya: apa kau ingin masuk ke sana? Kalau kau suka mengambil uang tanpa diizinkan pemiliknya, kau bisa dipenjara seperti mereka. Apa yang dilihat anak ini berkesan sepanjang kehidupannya. Berdasar cerita kenalan saya tadi, si anak tidak lagi mengambil uang tanpa izin.

Cerita berikutnya adalah seorang ayah yang mendapati anaknya yang suka membantah. Setiap kali orangtua bicara ada saja alasan untuk menolak perintah sang ayah. Si ayah ingin memberi pelajaran kepada sang anak bahwa orangtua itu penting. Nasihat orangtua adalah sesuatu yang patut menjadi perhatian. Maka, sang orangtua mengajak anak naik motor dan berhentilah mereka di depan pemakaman. Si ayah berkata: Nak, kamu tahu tempat apa ini? Si anak menjawab: makam. Si ayah meneruskan: Apa yang akan kamu rasakan kalau ayah tiba-tiba meninggal dunia dan dikubur di sini? Si anak tidak segera menjawab. Ia diam. Tetapi sejak saat itu, si anak tidak lagi membantah kepada nasihat dan perintah orangtuanya.

Tentang pentingnya stimulasi penglihatan ini, para pendidik dan ahli pendidikan sangat menyadari pentingnya masalah ini. Sebagaimana diungkapkan oleh Zakiah Daradjat, perilaku yang mereka tunjukkan akan dijadikan anak sebagai rujukan. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa perilaku anak dipengaruhi oleh penglihatan mereka (83 persen), pendengaran (11 persen), dan penciuman-pencicipan-perabaan (6 persen). Apa yang dilakukan orangtua membekas ”seribu kali” lebih besar dibandingkan dengan kata-kata yang bertentangan dengan perilaku orangtua. Maka, dapat dikatakan di sini, keteladanan orangtua sangat penting.

Masalah moralitas dan spiritualitas ini sangat penting didekati dengan stimulasi penglihatan atau keteladanan. Si anak akan mudah menjadi hamba yang suka beramal bila si orangtua mudah memberikan sebagian rezeki kepada pengemis jalanan, tetangga yang membutuhkan, masjid yang sedang dibangun, dan seterusnya. Si anak juga akan mudah melakukan perilaku bermoral bila orangtua juga: tidak sembarangan meletakkan kaki di meja, membuang sampah dengan cara melempar, membicarakan orang lain, dan seterusnya. Kata orang, kalau anak melihat yang baik belum tentu ia meniruanya. Tapi kalau jelek, ia jauh lebih mudah menirunya.

Stimulasi Perabaan   

Yang tak kalah pentingnya ketika berkomunikasi dengan anak adalah menyentuh mereka. Saya sendiri sering menyentuh dan bahkan memeluk anak saya yang menangis meraung-raung. Kalau sudah dipeluk, biasanya ia mulai tenang.  Nabi Muhammad SAW., sebagaimana diungkapkan oleh seorang sahabat yang waktu kecil disentuh Nabi, juga suka menyentuh anak-anak. ”Pada suatu hari aku tengah shalat dhuhur bersama Nabi SAW. Seusasi shalat beliau keluar menuju rumah keluarganya, aku pun mengikuti Nabi SAW ke rumahnya. Aku melihat anak-anak menyambut beliau, maka beliau pun mengusap kedua pipi mereka satu per satu. Ketika mengetahui bahwa aku mengikutinya, Nabi SAW. pun mengusap pipiku, dan aku merasakan tangannya yang dingin dan tersebar harumnya tangan Nabi SAW. seolah-olah tangan beliau baru saja dikeluarkan dari tempat minyak wangi.”

Stimulasi Bermain

Dalam kehidupan sehari-hari, penting bagi orangtua untuk bermain dan bercanda dengan anak-anak. Hal-hal sejenis ini sangat berguna untuk membentuk lingkungan yang menyenangkan bagi anak. Nabi Muhammad SAW. adalah contoh orang dewasa yang suka bermain-main dengan anak-anak, terutama dengan kedua cucunya yang bernama Hasan dan Husain. Nabi merendahkan tangan dan badannya serta berlari ke sana kemari seolah-olah bertingkah seperti kuda. Ini menjadikan anak-anak tertawa gembira. Nabi pun pernah memanjangkan sujud dalam shalatnya karena Husain naik ke punggung beliau.

Umar bin Khattab ra. pernah berkata: ”Diupayakan agar setiap orang berlaku seperti anak ketika bercanda dengan anak-anaknya. Hal ini akan membaut mereka senang dan bergembira dalam bermain bersamanya.”  Dalam buku Doktor Cilik Hafal dan Paham al-Qur’an , diceritakan bagaimana orangtua sang hafidh Muhammad Husein Tabataba’i mendidik dirinya. Sayid Muhammad Mahdi Tabataba’i adalah guru dari anak-anaknya dan sejumlah anak lain yang belajar menghafal al-Qur’an darinya. Ketika mengajarkan hafalan al-Qur’an, Mahdi banyak menggunakan metode permainan. Salah satunya adalah mengulang-ulang ayat bergantian dengan berlomba mencari kursi. Siapa yang tidak dapat kursi giliran mengulang bacaan.  Demikian.

Bagaimana menurut Anda?

Penulis:

fuad
Fuad Nashori  adalah salah seorang pelopor dan ahli di bidang Psikologi Islami, sehari-hari beliau menjabat sebagai Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, (UII) Yogyakarta. Fuad Nashori adalah penulis tetap untuk rubrik Psikologi Islami di website ini

 

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar

Artikel Lainnya

Schizoid Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian skizoid (schizoid personality disorder) merupakan suatu karakter yang sifatnya menetap dalam diri individu…

Kleptomania

06 Sep 2013 pikirdong

Kleptomania merupakan gangguan kebiasaan dan impuls (impulse control disorder) yang mengakibatkan dampak-dampak negatif bagi perkembangan…

Simtom dan Dampak dari Internet Adiktif

04 Sep 2013 pikirdong

Bagaimana yang disebut sebagai adiktif internet dan komputer? Bagaimana pula yang disebut dengan menggunakan komputer…

Kado Terindah

09 Sep 2013 pikirdong

Kado dalam bentuk apapun pasti akan mendatangkan kebahagiaan baik bagi si penerima maupun pemberinya. Kado…

Kekerasan Terhadap Anak

08 Sep 2013 Sayed Muhammad

Kekerasan terhadap anak (child abusive) terjadi dalam pelbagai kultur, etnis atau kelompok masyarakat. Kekerasan dapat…

Obsessive Compulsive Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif (Obsessive Compulsive Personality Disorder; OCPD) adalah suatu kondisi karakter dengan gangguan kronis…

Beberapa Jalan Menetaskan Ide-ide Kreatif Perspektif Psikologi Islami

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Tulisan ini akan menunjukkan proses-proses terjadinya kreativitas dalam perspektif Psikologi Islami. Perspektif psikologi Islami mempercayai…

Gangguan Makan

04 Sep 2013 pikirdong

Gangguan makan (Eating Disorder) terjadi dari beberapa perilaku makan berupa perilaku mengurangi makan hingga pada…

Memaafkan dan Meminta Maaf

13 Sep 2015 Fuad Nashori

Salah satu kekurangan manusia adalah suka berbuat salah dan dosa. Manusia membutuhkan cara untuk menutupi…

Dispareunia

14 Oct 2015 pikirdong

Pada pria, dispareunia hampir pasti disebabkan oleh penyakit atau gangguan fisik berupa peradangan atau infeksi…

General Anxiety Disorder (GAD)

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kecemasan umum (general anxiety disorder; GAD) merupakan bentuk gangguan kecemasan dimana individu secara terus-menerus…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

19 Dec 2016 pikirdong

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

Muslim yang Ketakutan

Ada rasa takut, khawatir saat mau nge-share tulisan ulama yang dicap radikal. Takut dianggap pro HTI, pro FPI, ekstrim, radikal,…

30 May 2018 Khairrubi Kolom Ruby Kay No comments

Mendidik Anak dengan Sepenuh Hati

Mendidik atau mengasuh anak dengan sepenuh hati itu artinya mendidik anak dengan pendidikan Islam. Hanya dengan pendidikan Islam saja orangtua…

23 May 2018 Artikel Keluarga Psikologi Islami Irwan Nuryana Kurniawan Comments (1)

Biar Anak Rajin Ke Masjid

Saya dan istri saya ingin semua anak rajin ke masjid. Yang kami tahu adalah nanti yang mendapat naungan dari terik…

29 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Ketika Si Anak Memilih Jalannya Sendiri

Orangtua berupaya agar anaknya memilih jalan yang terbaik yang menjamin masa depannya. Tugas orangtua yang pertama tentu adalah mengarahkan. Dulu…

28 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Mendidik Anak Mandiri

Salah satu tugas orangtua adalah melatih anaknya menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang mandiri adalah pribadi yang memiliki inisiatif untuk…

27 Apr 2018 Artikel Keluarga Fuad Nashori No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014