DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic…

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa…

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Memaafkan

Ragam dan kedalaman pengalaman buruk antara manusia satu dengan yang lain berbeda-beda. Pada sebagian orang, terdapat pengalaman yang sedemikian buruk sehingga sangat membekas dalam hati. Pengalaman dilecehkan secara seksual waktu kecil, orangtua bercerai, siksaan fisik dari orang yang lebih dewasa, dan berbagai pengalaman memalukan di waktu remaja dan dewasa, adalah beberapa contoh pengalaman yang orang merasa harus menyimpannya rapat-rapat dalam hati. Sebanyak 22 persen perempuan dan 10 persen laki-laki dari responden yang diteliti Psychology Today (berjumlah 24.000 orang), pernah mengalami trauma seksual sebelum mereka berusia 17 tahun.

Sakit Hati dan Kesehatan   

Kalau dalam diri seseorang terdapat pengekangan diri –atau penyumbatan atas rasa sakit hati–, maka ia akan menghadapi resiko berupa terganggunya kesehatan jangka panjang dan rendahnya performansi diri dalam berbagai aspek kehidupan. Diungkapkan oleh James W. Pennebaker dalam buku Ketika Diam Bukan Emas , orang-orang yang masalah kesehatannya paling parah telah mengalami paling sedikit satu trauma masa kecil yang tidak pernah mereka kisahkan kepada siapapun. Dari dua ratus responden yang pernah diwawancarai oleh Pennebaker, 65 orang memiliki trauma masa kecil yang mereka rahasiakan. Mereka mendapatkan diagnosis hampir semua masalah kesehatan besar dan kecil: kanker, tekanan darah, tukak lambung, flu, sakit kepala bahkan sakit telinga.

Dari penjelasan di atas dapat diungkapkan bahwa apabila ada sesuatu yang tidak menyenangkan masuk ke dalam sistem diri kita, maka langkah yang semestinya kita tempuh adalah melakukan pengungkapan diri. Bila hal ini tidak dilakukan (atau kita melakukan pengekangan diri), maka resiko yang bakal kita hadapi adalah masalah kesehatan jangka panjang dan rendahnya performansi diri kita. Dengan demikian, manusia memerlukan sarana untuk selalu bisa melakukan pengungkapan diri. Secara sosial, pengungkapan diri kadang tidak mudah. Pengalaman-pengalaman yang memalukan sangat tidak nyaman untuk diceritakan. Pennebaker menggambarkan bahwa orang-orang yang kehilangan keluarganya tidak menderita stres terlalu lama karena menceritakan kesedihan akibat kehilangan orang yang dicintai biasanya dianggap sebagai hal yang tidak memalukan. Orang merasa bebas saja ketika ingin mengungkapkannya kepada orang lain. Tetapi menceritakan bahwa “saya pernah diperkosa untuk teman bapak” atau “saya pernah disodomi oleh tetangga saya” kepada orang lain adalah hal yang sangat memalukan. Oleh karena itu, diperlukan upaya lain yang memungkinkan seseorang mengungkapkan berbagai macam pengalamannya dalam bentuk ungkapan lisan maupun ungkapan tertulis.

Bila seseorang merasa orang lain sangat mendominasinya, maka ia sering tidak berani mengungkapkannya. Bila kita tidak suka dengan teman kita, maka kita tidak bisa begitu saja mengungkapkannya. Ada beberapa resiko yang kita hadapi. Pertama, kita dipandang tidak memiliki kesabaran. Kedua, orang akan membenci kita karena kita dianggap sengaja menyerang salah satu bagian dari dirinya atau bahkan menyerang diri orang tersebut secara keseluruhan. Dalam situasi semacam ini, orang lebih senang untuk melakukan pengekangan. Budaya Jawa misalkan mengajarkan untuk melakukan pengekangan. Istilah ngono yo ngono neng ajo ngono (secara harfiah: begitu ya begitu namun jangan begitu) menunjukkan agar kita tidak mengungkapkan pikiran-perasaan kita apa adanya kepada orang lain, tetapi harus dikemas dengan bahasa yang pas. Kalaupun dilakukan pengungkapan diri, biasanya dilakukan melalui aktivitas rerasan atau ghibah . Namun, aktivitas rerasan ini pun secara moral-agama dianggap sebagai “tega memakan bangkai saudara sendiri”. Oleh karena itu, kalau mau menjadi seorang yang menerapkan norma agama, maka orang akan memilih untuk tidak melakukan perilaku membicarakan hal-hal pribadi (biasanya yang negatif) atas diri orang lain. Oleh karena itu, kita memerlukan yang namanya forgiveness (pemaafan).

Memaafkan dan Kebahagiaan   

Pemaafan atau memaafkan ( forgiveness ) berarti menghapus luka atau bekas-bekas luka dalam hati. Boleh jadi ingatan akan kejadian yang memilukan hati di masa lalu masih ada, akan tetapi persepsi bahwa kejadian itu sesuatu yang menyakitkan hati telah terhapuskan.. Keterbukaan diri untuk memberi maaf kepada orang lain yang menyakiti hati kita adalah tanda utama yang dapat segera ditangkap orang lain. Memberi maaf adalah salah satu perintah agama: Balasan terhadap kejahatan adalah pembalasan yang setimpal, tetapi barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik, ganjarannya ditanggung oleh Allah (QS as Syuura: 40).

Nabi Muhammad adalah contoh pribadi pemaaf. Setiap kali menerima stimulasi yang tidak menyenangkan, Nabi Muhammad selalu memiliki kesiapan untuk memberikan maaf atau pengampunan terhadap seseorang yang menyakitinya. Salah satu peristiwa yang menggambarkan pemaafan Nabi Muhammad adalah saat beliau mencoba berdakwah terhadap masyarakat Thaif. Orang-orang Thaif ternyata tidak menerima dakwah yang disampaikan Nabi, bahkan lebih dari itu mereka mengusir dan melempari Nabi. Akibatnya, Nabi Muhammad pulang dengan tubuh dalam keadaan berdarah. Melihat keadaan yang tidak manusiawi tersebut, seorang malaikat menawarkan diri untuk melakukan pembalasan atas perilaku yang diterima Nabi. Tetapi Nabi Muhammad ternyata sangat pemaaf. “Aku memaafkan mereka. Semoga anak cucu mereka akan menjadi orang-orang yang taat.”

Ketika seseorang telah memiliki kepribadian pemaaf seperti Nabi Muhammad, maka tidak ada bekas luka yang terpelihara dalam hatinya. Bahkan hidup orang-orang yang suka memberi maaf juga lebih bahagia. Frederic Luskin, pelopor Stanford Forgiveness Project , mengungkapkan ada tiga hal yang menjadikan kehidupan orang yang suka memberi maaf menjadi lebih sehat. Menurutnya, orang yang memberi maaf tidak mudah tersinggung saat diperlakukan tidak menyenangkan oleh orang lain. Selain itu, mereka tidak mudah menyalahkan orang lain ketika hubungannya dengan orang tersebut tidak berjalan seperti yang diharapkan. Hal di atas dapat dicapai karena mereka memiliki penjelasan nalar terhadap sikap orang lain yang telah menyakiti mereka.

Frederic Luskin sendiri pernah melakukan penelitian lanjutan terhadap 55 mahasiswa Universitas Stanford Amerika. Hasilnya adalah mahasiswa yang dilatih meningkatkan ketiga komponen tersebut di atas (mudah tersinggung, tidak mudah menyalahkan, memiliki penjelasan nalar) ternyata jauh lebih tenang kehidupan sosialnya. Mereka menjadi tidak mudah marah, tidak mudah tersinggung dan dapat membina hubungan lebih baik dengan sesama. Di samping itu, mereka pun semakin jarang mengalami konflik dengan orang lain.

Perlu Proses   

Pemberian maaf yang ada dalam diri seseorang terjadi melalui serangkaian proses. Robert Enright dan Gayle Reed mengungkapkan adanya empat fase untuk pemberian maaf. Pertama, fase pengungkapan ( uncovering phase ), yaitu ketika seseorang merasa sakit hati dan dendam. Kedua, fase keputusan ( decision phase ), yaitu orang tersebut mulai berpikir rasional dan memikirkan kemungkinan untuk memaafkan. Pada fase ini orang belum dapat memberikan maaf sepenuhnya. Ketiga, fase tindakan ( work phase ), yaitu adanya tingkat pemikiran baru untuk secara aktif memberikan maaf kepada orang yang telah melukai hati. Kempat, fase pendalaman ( outcome/ deepening phase ), yaitu internalisasi kebermaknaan dari proses memaafkan. Di sini orang memahami bahwa dengan memaafkan, ia akan memberi manfaat bagi dirinya sendiri, lingkungan dan juga semua orang.

Menurut saya, ada dua fase lagi agar pemaafan dapat berlangsung secara optimal, yaitu fase memberi ( giving phase ), yaitu memberi sesuatu yang berharga bagi orang lain, seperti memohonkan ampunan dan doa keselamatan bagi orang yang pernah menyakiti kita. Tahap keenam adalah bekerja sama kembali dengan yang bersangkutan. Tahap kelima dan tahap keenam diisyaratkan oleh al-Qur’an. Dengan langkah kelima dan keenam di atas, ada sebuah resep dari al-Qur’an agar pemaafan terhadap orang lain menjadi tuntas, yaitu dengan memohonkan ampunan untuk orang yang menyakiti kita dan tetap bermusyawarah dengannya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam QS Ali Imran ayat 159: Maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu . Kadang memaafkan tidak berhasil, namun begitu seseorang memohonkan amunan secara tulus kepada Tuhan, maka ada proses munculnya sikap-sikap yang positif.

Bagaimana pendapat Anda?

Penulis:

fuad
Fuad Nashori  adalah salah seorang pelopor dan ahli di bidang Psikologi Islami, sehari-hari beliau menjabat sebagai Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, (UII) Yogyakarta. Fuad Nashori adalah penulis tetap untuk rubrik Psikologi Islami di website ini

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Menyikapi Hasil UN

19 Jul 2010 Fuad Nashori

Hari-hari menjelang pengumuman hasil ujian nasional (UN) menjadi hari-hari yang penuh tekanan dan kecemasan bagi…

Developmental Milestones: Usia 3 Bulan

14 Oct 2015 pikirdong

Perkembangan Mental Usia 3 Bulan PENGAMATAN PERILAKU Komunikasi Bahasa Menangis ketika mengompol Mendekut bila merasa nyaman Tingkah laku Tersenyum bila ada orang…

Fatal-Flaws

09 Sep 2013 pikirdong

Selama masa pacaran atau pendekatan dilakukan, banyak pasangan sebenarnya telah menangkap tanda-tanda “ketidakberesan” perilaku pada…

Euthanasia

04 Sep 2015 Sayed Muhammad

Eutanasia (euthanasia) merupakan suatu cara atau tindakan mengakhiri hidup yang dilakukan pada orang sakit atau…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

26 Jul 2016 pikirdong

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus untuk pejalan kaki (pedestrian), jalur ini…

Peran Keluarga terhadap Keselamatan Anak Saat Terjadi Bencana

08 Sep 2013 Fuad Nashori

Anak-anak adalah bagian dari masyarakat yang paling rentan terhadap bencana (tsunami, gempa, banjir, longsor, penculikan,…

Edisi Ibukota : Tas Tas Integritas!!

15 Sep 2013 Candrawati Wijaya

Salam Tarzan Kota! Sudah sampai manakah Tarzan-Tarzan kota menjelajah?? Harapan saya, kita tetap akan bertemu di…

Dyslexia

03 Sep 2013 pikirdong

Membaca dengan lancar bagi seseorang mungkin sangat mudah setelah melalui proses belajar dari sejak kecil,…

Mencapai Pribadi Yang Sukses

18 Oct 2013 pikirdong

Siapa kita ? Kita adalah makhluk ciptaan Allah (baca:manusia) yang terlahir ke dunia ini dalam keadaan…

Pedofillia – Paraphilia

06 Sep 2013 pikirdong

Hal yang paling meresahkan dunia saat ini adalah meningkatnya kasus pedofillia secara merata di seluruh…

Social Phobia

08 Sep 2013 pikirdong

Sosial fobia (social phobia) atau dikenal juga dengan istilah social anxiety disorder (SAD) merupakan gangguan…

Masalah lagi… Masalah lagi…

08 Sep 2013 pikirdong

Aduh…! Pusing banget nich. Lagi banyak masalah”, atau “Kenapa sich masalah selalu dateng hampirin aku!”,…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders yang ke V terjadi perubahan…

30 Aug 2017 Artikel Psikologi Psikologi Klinis pikirdong No comments

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa tubuh membutuhkan dokter dan bila diperlukan juga, diambil langkah untuk rawat…

24 Aug 2017 Kolom Sayed Muhammad Sayed Muhammad No comments

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014