TwitterFacebookGoogle+

Memberi Support pada Anak Gangguan Autis

Saat ini diperkirakan sekitar 35 juta anak di dunia mengalami gangguan autisme, angka ini meningkat dari tahun-tahun sebelumnya tanpa diketahui penyebab dengan jelas. Masalah ini menjadi hal serius untuk diperhatikan, pelbagai riset dilakukan untuk mengetahui penyebab kemunculan autisme ini ―seiring itu juga terus dilakukan perbaikan dan perawatan anak autism dengan cara-cara yang lebih baik.

Mempunyai anak autisme sangat menyulitkan bagi orangtua, akan tetapi orangtua dengan anak autis tetap memberikan kasih sayang, merawat dan menjaga anaknya itu seperti layaknya orangtua yang mempunyai anak yang normal lainnya.

Anak autis memiliki permasalahan dalam kemampuan belajar, berbicara dan kerancuan dalam berbahasa. Permasalahan yang kompleks ini membuat sebagian orangtua kewalahan dalam menghadapi anak autis. Disamping itu, perawatan anak autis juga membutuhkan biaya yang besar, sehingga banyak anak autis tidak mendapatkan pendidikan ataupun pelatihan-pelatihan untuk mengembangkan skill sosialnya.

Informasi Autisme di Indonesia

Perkumpulan Orangtua Pembina Anak Autistik (POPAA)
Jl. Erlangga Tengah III/34, Semarang
Telp. (024) 313083

Yayasan Autisma Indonesia
Jl. Buncit Raya No. 55, Jakarta Pusat
Telp. (021) 7971945 – 7991355

Di beberapa negara yang konsen terhadap anak autis, pemerintah memberikan pelayanan dan pendidikan gratis sampai usia tertentu, Amerika Serikat misalnya yang menanggung biaya pendidikan sampai usia 21 tahun. Anak autis mulai mendapatkan perlakukan khusus sejak usia 3 tahun bila ia terdeteksi autisme sejak awalnya. Lembaga seperti Individuals with Disabilities Education Act (IDEA) akan menyusun proram-program yang diperlukan untuk anak-anak autis seperti IFSP (Individualized Family Service Plan) untuk anak dibawah 3 tahun, dan IEP (Individualized Education Program).

Program tersebut berupa menyediakan guru khusus untuk pendidikan, menyediakan konsultan dan guru dengan keahlian khusus dibidang terapi bahasa atau berbicara, terapi fisik atau perilaku, dan konsultasi gratis.

Sewajarnya orangtua dan pasangan yang baru menikah mendapatkan informasi mengenai autisme sejak awal, autisme dapat muncul pada siapa saja tidak memandang sosioekonomi, budaya, ras atau bangsa. Bila pasangan (orangtua) yang mendapatkan informasi yang secukupnya mengenai autisme diharapkan adanya kesiapan orangtua secara mental dalam menerima kehadiran anak tersebut di dalam keluarga, disamping itu informasi tersebut dapat dimanfaatkan orangtua dalam merawat atau mendukung anaknya dalam melawan autis.

Dalam hal ini orangtua haruslah;
– Mengetahui masa perkembangan anak secara fisik dan mental (developmental milestones)
– Mengetahui secara persis lembaga-lembaga yang menangani anak-anak autis dan lembaga konsultasi khusus untuk anak ASDs
– Mengetahui pelbagai bentuk penyimpangan dalam perkembangan
– Mempersiapkan segala sesuatu kemungkinan dan deteksi secara dini kelainan atau gangguan pada anak
– Mengetahui apa yang menjadi kebutuhan anak

Bila orangtua menemukan beberapa gejala yang tampak pada bayinya yang mengarah pada gangguan autisme segeralah menentukan perencanaan penanganan, konsultasikan pada dokter anak hal-hal yang perlu dilakukan selanjutnya. Penanganan secara dini akan mencegah terjadinya potensi-potensi memburuknya simtom dikemudian hari.

Mempunyai anak yang didiagnosa mengalami gangguan autis akan membuat orangtua merasa frustrasi, bingung, takut, bahkan merasa iri dengan melihat perkembangan anak lain yang normal. Keluarga yang memiliki anak autis akan menghadapi pelbagai permasalahan yang jarang terjadi pada anak normal lainnya, oleh karena itu diperlukan dukungan dari setiap anggota keluarga, saudara keluarga, dan teman sekelilingnya.

Beberapa kekhawatiran orangtua;
• Khawatir anaknya tidak dihargai oleh orang lain, tidak mampu mandiri dan tergantung pada orang lain seumur hidupnya, tidak akan bahagia sepanjang hidupnya.
• Khawatir anaknya tidak mampu berlaku seperti orang normal lainnya, berkeluarga, mempunyai teman, mempunyai pekerjaan dan melakukan hal-hal yang menyenangkan baginya sendiri
• Banyak diantara orangtua lainnya yang memiliki anak autis kebingungan, dan bahkan merasa tertekan, pasrah dan kalah. Hal ini membuat orangtua autis lainnya terpengaruh dan kehilangan support antar sesama orangtua dengan anak autis

Anggota keluarga dapat mendukung mengurangi gejala autis dengan cara memberi contoh hal-hal yang dapat dilakukan oleh sang anak, bila dilakukan secara terus menerus anak akan meniru (coping).

Beberapa langkah yang dapat diambil orangtua bila anaknya didiagnosa mengalami gangguan autis;
1) Melakukan konsultasi dengan tenaga medis, tenaga profesional, ahli terapis, pekerja sosial, konselor yang menangani anak-anak autis
2) Menyusun perencanaan penanganan yang terbaik dan sesuai dengan karakteristik anak secara bersama; orangtua dan tenaga medis
3) Mencari treatmen alternatif dengan berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga profesional untuk mengurangi dampak gejala-gejala dari gangguan tersebut
4) Menyusun jadwal pelatihan dan intervensi yang telah disusun oleh tenaga profesional secara bersama-sama
5) Konsultasi secara rutin
6) Sharing bersama dengan orangtua lain yang memiliki anak dengan autis, tukar pengalaman dalam menghadapi simtom autisme.
7) Mencari informasi dan lembaga yang menangani anak-anak autis
8) Carilah dukungan dari lembaga sosial, organisasi, LSM dalam merawat dan menangani anak-anak autis

9) Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa televisi akan memberikan pengaruh memburuknya simtom dan kegagalan dalam intervensi pada anak-anak autis.

Beberapa intervensi yang dilakukan pada anak autis;
• Penggunaan analisis perilaku

– Pelatihan percobaan
– Intervensi perilaku secara dini
– Pengajaran langsung
– Pelatihan respon-respon penting
– Intervensi perilaku verbal

• Perkembangan, perbedaan individu dan dasar-dasar pendekatan relasi
• Intervensi dalam mengembangkan hubungan dengan orang lain
• Treatmen dan pendidikan untuk anak autisme dan cara berkomunikasi.

Intervensi yang dilakukan diikuti dengan pemberian beberapa terapi; Occupational therapy, Sensory integration therapy, Speech therapy, The Picture Exchange Communication System (PECS)

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar

Artikel Lainnya

Mengenal Dyslexia Pada Anak

13 Oct 2015 pikirdong

Dyslexia (disleksia) merupakan ketidakmampuan belajar (learning disability) yang dialami oleh seseorang dimana individu tidak mampu…

Edisi Ibukota : Integritas & Solusi Cara

15 Sep 2013 Candrawati Wijaya

Kita sudah mengetahui fenomena , pandangan dan pengertian dari integritas pada notes sebelumnya. Sekarang mari…

Sinopsis: Internet Addiction Disorder

04 Sep 2013 pikirdong

Revolusi komputer dan internet pada saat ini memungkinkan setiap orang untuk melakukan beberapa aktivitas di…

Obsessive Compulsive Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif (Obsessive Compulsive Personality Disorder; OCPD) adalah suatu kondisi karakter dengan gangguan kronis…

Beberapa Jalan Menetaskan Ide-ide Kreatif Perspektif Psikologi Islami

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Tulisan ini akan menunjukkan proses-proses terjadinya kreativitas dalam perspektif Psikologi Islami. Perspektif psikologi Islami mempercayai…

Research : The Creative Process of Indonesian Muslim…

07 Sep 2013 Fuad Nashori

ABSTRACT The purpose of this study is to examine the creative process of Indonesian Muslim writers.…

Dimensi Sosial Puasa

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Puasa merupakan salah satu ibadah penting umat beragama, terutama umat Islam. Dalam Islam, sebagian puasa…

Parafilia Yang Tidak Terdefinisi

06 Sep 2013 pikirdong

Ada banyak jenis paraphilia yang disebut-sebut dalam pelbagai referensi, namun APA (American Psychiatric Association)  tidak…

Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT)

09 Sep 2013 Sayed Muhammad

Perkawinan bukanlah suatu pengikat yang memberikan kebebasan untuk saling menyakiti pasangan hidupnya. Dengan adanya perkawinan…

Bila Anda Mendapat Tawaran Pemotretan Sensual?

08 Sep 2013 Sayed Muhammad

Gadis-gadis Indonesia bugil mulai bermunculan di internet sekitar tahun 1997. Gambar sensual tersebut bermunculan tidak…

Gagal Bukan Berarti Kehilangan Segalanya

09 Sep 2013 Sayed Muhammad

Meskipun gagal meraih sebuah bintang, setidaknya kita tidak menggenggam lumpur. (Leo Burnett)   Dari usia masih kecil kita selalu…

5 Fakta Fantasi Seks Pria

09 Sep 2013 pikirdong

Apa yang dipikirkan pria bila membaca kata “seks”? Apa yang dibayangkan oleh pria bila menemukan…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

Muslim yang Ketakutan

Ada rasa takut, khawatir saat mau nge-share tulisan ulama yang dicap radikal. Takut dianggap pro HTI, pro FPI, ekstrim, radikal,…

30 May 2018 Khairrubi Kolom Ruby Kay No comments

Mendidik Anak dengan Sepenuh Hati

Mendidik atau mengasuh anak dengan sepenuh hati itu artinya mendidik anak dengan pendidikan Islam. Hanya dengan pendidikan Islam saja orangtua…

23 May 2018 Artikel Keluarga Psikologi Islami Irwan Nuryana Kurniawan Comments (1)

Biar Anak Rajin Ke Masjid

Saya dan istri saya ingin semua anak rajin ke masjid. Yang kami tahu adalah nanti yang mendapat naungan dari terik…

29 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Ketika Si Anak Memilih Jalannya Sendiri

Orangtua berupaya agar anaknya memilih jalan yang terbaik yang menjamin masa depannya. Tugas orangtua yang pertama tentu adalah mengarahkan. Dulu…

28 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Mendidik Anak Mandiri

Salah satu tugas orangtua adalah melatih anaknya menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang mandiri adalah pribadi yang memiliki inisiatif untuk…

27 Apr 2018 Artikel Keluarga Fuad Nashori No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014