DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic…

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa…

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Menanamkan Disiplin pada Anak

Menerapkan disiplin pada anak merupakan keinginan dari semua orangtua, namun beberapa aturan keluarga dan punishment yang diterapkan dengan tujuan membiasakan anak belajar untuk disiplin dapat membuat anak frustrasi, marah atau bahkan sampai pada tahap melawan orangtuanya. Hal ini disebabkan karena strategi yang tidak tepat dan dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan dari orangtua itu sendiri.

Menumbuhkan disiplin pada anak

Beberapa cara yang dapat ditempuh orangtua untuk menumbuhkan disiplin secara dini pada anak;

empat

Saudara – Photo and retouch by Ayed © 2011

1) Selalu ingatkan hal-hal atau aturan larangan bagi anak.
Ingatkan segala sesuatunya mana yang tidak boleh dilakukan oleh anak dengan demikian anak akan terbiasa mendengarkan larangan tersebut. Tegaskan larangan tersebut dengan intonasi agak tinggi namun dalam taraf kewajaran (bukan marah). Tujuannya adalah menekankan pada anak bahwa Anda bersunguh-sungguh dengan larangan tersebut.

Pada anak berusia 2-3 tahun tidak cukup dengan melarangnya saja karena pada usia tersebut anak belum dapat mengontrol dorongan impulsnya, oleh karenanya orangtualah harus mengambil tindakan yang tepat. Misalnya dengan menjauhkan barang pecah belah, pisau, atau benda-benda berbahaya lainnya dari jangkauan anak-anak.

2) Tentukan hukuman secara tepat pada anak.
Kekerasan dalam mendidik anak tidak menumbuhkan disiplin pada anak, justru pelbagai dampak gangguan kepribadian yang lebih buruk dikemudian hari akan muncul. Hukuman seperti mengurung anak dalam kamar mandi tidak akan menjadi efektif bila waktu hukuman terlalu lama, anak akan melupakan alasan-alasan kesalahannya. Gunakan waktu tak lebih dari 5 menit, lalu tegaskan kembali larangan tersebut agar anak tidak mengulang untuk kedua kalinya.

3) Konsisten terhadap hukuman dan aturan yang berlaku.
Aturan atau hukuman mestilah terus berlaku, jangan sesekali Anda menggantikan hukuman atau membiarkan sekali saja kesempatan hukuman atau aturan tersebut tidak berlaku bila anak melakukan kesalahan. Hal ini akan dianggap sebagai suatu bentuk kelonggaran yang dapat diulang kembali oleh sang anak. Bila aturan dan hukuman diubah karena anak semakin besar maka bicarakanlah perubahan-perubahan tersebut.

4) Jangan mengubah bentuk hukuman setiap kalinya
Jangan mengubah bentuk hukuman sebelumnya bila anak melakukan kesalahan yang sama dengan jenis hukuman berbeda seperti yang pernah dijalani anak sebelumnya. Hal ini akan membuat anak semakin bingung dan tidak akan pernah belajar dari kesalahan yang ia perbuat.

5) Anak akan belajar sepenuhnya dari perilaku orangtuanya.
Hal yang paling penting bahwa anak belajar dari sikap dan perilaku orangtuanya dalam keseharian. Orangtua merupakan model perilaku yang akan ditiru oleh anak (modelling), jadi orangtua sebijaknya dapat mengontrol perilaku-perilaku negatif yang dapat mempengaruhi cara berpikir dan perilaku secara langsung pada anak.

Bila terjadi perselisihan antara kedua orangtua usahakanlah tidak di depan anak, bila terjadinya kekerasan maka anak menangkap momen tersebut bahwa penyelesaian masalah terbaik adalah dengan kekerasan!

Menerapkan disiplin pada anak;
– Ingatkan selalu hal-hal yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan oleh sang anak.
– Beri hukuman yang tepat sesuai dengan umur dan kemampuan anak dalam menjalani dan memahami maksud dari hukuman tersebut
– Hukuman yang diberikan haruslah tetap berlaku setiap kalinya anak melakukan kesalahan
– Beri hukuman yang sama bila anak mengulang kesalahan yang sama dengan jenis hukuman sebelumnya.
– Anak akan belajar dari sikap dan perilaku orangtuanya

 

Bila Anak marah?

Ada kalanya anak merasakan frustrasi, sebaiknya anak dibiarkan untuk melepaskan kemarahannya, akan tetapi orangtua haruslah menjaga agar anak tidak mengarah pada perilaku agresif.
Beberapa cara menghadapi anak dalam keadaan marah;

1) Ketika anak mulai terlihat lelah dan bosan alihkan perhatiannya pada aktivitas baru.
2) Ketika ia mulai marah dan Anda tidak mampu untuk mendiamkannya, abaikan untuk beberapa saat, jangan memberikan reaksi atau perhatian berlebihan apalagi memberikan pujian terhadap perilaku buruk.
3) Tekankan hukuman yang bakal ia dapat bila anak tidak berhenti amarahnya
4) Jika berada di tempat umum, biarkan anak dulu tenang lebih dahulu sebelum Anda melakukan aktivitas lainnya.
5) Bila marahnya menjadi-jadi seperti menggigit, memukul atau membantingkan barang, jangan abaikan perilaku ini, bawa anak mejauh dari tempat dimana ia marah, biarkan anak tenang dalam beberapa menit, tekankan pada anak bahwa perilaku ini tidak bisa ditolerir.
6) Jangan memberikan penjelasan yang panjang lebar, anak tidak akan mengerti maksud yang Anda sampaikan, cepat berikan hukuman yang pernah Anda sepakati bersama (bila Anda pernah berbicara perihal hukuman ini). Bila selang waktu antara kesalahan dan hukuman terlalu lama anak tidak akan mengerti kesalahan yang dibuatnya.

Penulis :ayed

Sayed Muhammad adalah lulusan psikologi Universitas Islam Indonesia, ia adalah perintis dan penulis tetap di website ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Putus atau Mempertahankan Cintanya?

09 Sep 2013 pikirdong

Punya pacar berarti kamu harus siap-siap untuk memikirkan hal-hal kedepan menyangkut hubungan kalian berdua. Banyak…

Halusinasi

07 Sep 2013 pikirdong

Halusinasi merupakan persepsi yang abnormal pada individu dimana ia sadar dan terjaga akan tetapi tanpa…

Meredakan Amarah

10 Sep 2013 Ardiman Adami

Alkisah, dalam sebuah peperangan, Ali bin Abi Thalib berhasil mengalahkan lawannya. Ali berhasil memukul pedang…

Tanpa Pacar Bikin Bete?

09 Sep 2013 pikirdong

Banyak orang merasa tidak nyaman dengan kondisi hidup sendiri tanpa pacar disamping. Mereka menciptakan momok…

Mengkritik dengan Tepat

05 Oct 2013 Sayed Muhammad

Kritik dapat dilakukan oleh siapapun, namun tidak semua kritikan yang dilontarkan dapat diterima dengan sikap…

10 Cara Mengetahui Calon Suami Pembenci Wanita

09 Sep 2013 Sayed Muhammad

Berbagai tindakan kekerasan terhadap wanita terutama dalam rumah tangga ditemukan setelah pasangan melakukan pernikahan. Selama…

Reformasi Sistem Pendidikan Finlandia Menjadikan Mereka yang Terbaik…

16 Oct 2015 Sayed Muhammad

Reformasi besar-besaran dalam dunia pendidikan di Finlandia telah dimulai 40 tahun lalu, kini, sekolah-sekolah di…

Paraphilia

06 Sep 2013 pikirdong

Paraphilia adalah istilah klinis yang digunakan untuk menggambarkan penyimpang seksual. Paraphilia merupakan permasalahan menyangkut kontrol…

Katakan Saja Tidak!

29 Oct 2015 Sayed Muhammad

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar untuk mengatakan "tidak" yang memang kita…

Masturbasi dan Pengaruh Psikologisnya

09 Sep 2013 pikirdong

Masturbasi adalah rangsangan disengaja yang dilakukan pada organ genital untuk memperoleh kenikmatan dan kepuasan seksual…

Masalah lagi… Masalah lagi…

08 Sep 2013 pikirdong

Aduh…! Pusing banget nich. Lagi banyak masalah”, atau “Kenapa sich masalah selalu dateng hampirin aku!”,…

Lupakan Mantan Pacar!

10 Sep 2013 Sayed Muhammad

Putus cinta? Seebbeell!! Malam minggu jadi sepi, gak ada yang ngapelin lagi, gak ada yang…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders yang ke V terjadi perubahan…

30 Aug 2017 Artikel Psikologi Psikologi Klinis pikirdong No comments

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa tubuh membutuhkan dokter dan bila diperlukan juga, diambil langkah untuk rawat…

24 Aug 2017 Kolom Sayed Muhammad Sayed Muhammad No comments

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014