TwitterFacebookGoogle+

Mendidik Anak Mandiri

Salah satu tugas orangtua adalah melatih anaknya menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang mandiri adalah pribadi yang memiliki inisiatif untuk melakukan sesuatu, memiliki rasa tanggung jawab terhadap apa yang dipilihnya atau yang dibebankan kepadanya, dan mampu menuntaskan tugas-tugas yang berkaitan dengan tanggung jawab itu.

Saya mau ceritakan bagaimana ayah saya mendidik saya mandiri. Ayah saya menyiapkan saya menjadi petani. Karenanya, ayah meminta dan melatih saya untuk menguasai berbagai tugas dalam pertanian. Saya diminta beliau untuk menemani beliau mengerjakan berbagai pekerjaan sawah. Ya, di sawah saya mengerjakan semua hal yang dikerjakan oleh petani yang menggarap sendiri tanahnya. Menyiapkan benih, mengatur pengairan, mencangkul, menanam benih, menyiangi rumput, menyemperot hawa, mengusir dan membunuh tikus, menjaga dari burung-burung hingga memanennya.

Saya pernah protes ke ayah saya lewat ibu saya: “Kok saya hampir tiap hari ke sawah sementara anak-anak lain yang orangtuanya punya sawah sendiri tidak disuruh ke sawah?” Setelah mendengar protes saya melalui ibu saya, ayah menjawab sendiri ke saya: “Biar kalau kamu besar nanti sudah siap jadi petani, itu kalau kamu memilih jadi petani.”

Beberapa pekerjaan yang relatif ringan seperti menjaga sawah dari gangguan burung diserahkan tanpa ditemani ayah. Tentu saya bergantian melakukannya dengan kakak-kakak perempuan saya (3 orang). Demikian juga membersihkan rumput di pematang atau di sela-sela tanaman.

Sekalipun mencangkul mudah, tapi hampir selalu dikerjakan bersama-sama. Hal ini karena mencangkul butuh tenaga yang lebih besar. Kebersamaan menghadirkan saling motivasi.

Pekerjaan-pekerjaan yang lebih berat tentu harus disupervisi oleh ayah saya, seperti menyemprot hama. Pekerjaan menyemprot harus memperhatikan banyak hal, seperti mencampur obat dan air, mengukur tingkat intensitas penyemprotan ke padi (jangan sampai terlalu sedikit, juga jangan boros), dan keharusan berkonsentrasi. Saya masih ingat saat saya menyemprot padi untuk membunuh hawa. Saat itu, ujung semprot yang seharusnya di atas padi malah sering turun sehingga mengarah ke batang padi. “Ojo nglamun terus. Pikiranmu ke padi, bukan ke yang lain. Kerjakan dengan penuh perhatian.”

Aktivitas-aktivitas di sawah saat SD-SMP itu membuat saya yakin bahwa saya bisa. Setiap anak pasti merasa senang kalau bisa ini dan bisa itu. Demikian juga saya. Di belakang hari saya membaca tulisan, bahwa anak-anak yang mandiri sejak dini akan tumbuh kembang motif berprestasinya. Kalau sudah bisa sesuatu, setiap anak ingin menguasainya dengan baik. Atau menguasai bidang lain dengan kepercayaan diri yang lebih tinggi.

Pada waktu saya kecil itu, saya merasa sudah bisa melakukan banyak hal teknis. Akan tetapi, saya tahu bahwa ilmu pertanian pasti tidak sekadar itu. Di balik hal yang teknis pasti ada ilmu. Sampai saya tidak lagi terlibat di pertanian, ayah saya belum membagi ilmunya mengapa hampir selalu hasil panen sawah ayah saya lebih berkualitas dan lebih banyak dari orang lain. Saya sering mendengar komentar orang: “Wah, parine wak Suroso pancen jos! (Wah, padinya Pak Suroso memang top!). Saya tahu dibutuhkan jam terbang dan hati yang penuh cinta agar bisa menghasilkan panen yang hebat.

Selain bersawah, saya juga beternak kambing dan kerbau. Ini adalah keinginan saya murni. “Bener awakmu kepingin duwe wedus/kebo? (Benar kamu ingin memiliki kambing/kerbau?)” Akhirnya, ayah saya membelikan saya kerbau kecil, dan lain waktu kambing kecil. Punya kambing atau kerbau pasti menyenangkan bagi anak-anak. Yang tidak selalu menyenangkan adalah harus menyediakan makanan atau harus menggembalanya sendiri. Ayah saya bilang saya harus menggembalakannya sendiri. Kalau malas menggembalakan, maka harus siap menyediakan rumput.

Saya masih ingat saat-saat di sawah mencari rumput, saat mendebarkan yaitu ketika petir bertabrakan di langit diiringi hujan yang deras. Orang-orang sebagian besar sudah pulang duluan. Dan, saya hanya di antara sedikit orang yang ada di sawah. Saya merasakan ketakutan yang luar biasa. Takut kena petir, karena cerita tentang jadi korban petir cukup sering saya dengar. Takut kalau celaka karena petir tidak ada yang segera menolong. Dalam situasi seperti ini saya mulai membiasakan berjalan cepat sambil memanggul rumput dan membiasakan diri berdoa. Dalam keadaan tak berdaya, hanya Allah yang jadi sandarannya.

Kadang melatih anak mandiri harus cukup tega. Namun, pasti ayah saya sudah mengukurnya ketika meminta saya bertanggung jawab atas suatu pekerjaan.

Saya sering melewati sungai yang sangat lebar, lebih kurang 50 meter. Setiap menyeberang sungai saya selalu berdebar dikarenakan sangat sering mendengar cerita tentang buaya di sungai, walau saya sendiri tidak pernah melihat buaya itu. Namun, cerita dari mulut ke mulut membuat saya terus terang takut. Dalam suatu seperti ini, saya harus mengatasi ketakutan saya.

Penulis:

fuadFuad Nashori  adalah salah seorang pelopor dan ahli di bidang Psikologi Islami, sehari-hari beliau menjabat sebagai Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, (UII) Yogyakarta. Fuad Nashori adalah penulis tetap untuk rubrik Psikologi Islami di website ini

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar

Artikel Lainnya

Edisi Ibu Kota : SIEQ-Asik di Dunia Kerja…

04 Sep 2013 Candrawati Wijaya

Salam Tarzan Kota! Hari ini tepat 1 minggu saya berada di Ibu kota negara tercinta dengan…

Agama Dan Lingkungan: Menjadikan Agama Sebagai Dasar Pijakan…

10 Sep 2013 Herdiyan Maulana

Dengan Nama Allah, Maha Pengasih dan Maha Penyayang” “Telah tampak kerusakan di bumi dan di laut…

Frotteurism – Paraphilia

06 Sep 2013 pikirdong

Frotteurism merupakan salah satu jenis paraphilia, istilah ini digunakan untuk menggambarkan dorongan seksual yang kuat…

Gangguan Ereksi

04 Sep 2013 pikirdong

Gangguan ereksi merupakan permasalahan yang menyangkut ketidakmampuan pria dalam melakukan intercourse. Gangguan dapat berupa gangguan…

Masokisme Seksual – Paraphilia

06 Sep 2013 pikirdong

Masokisme seksual merupakan gangguan fantasi seksual yang melibatkan dorongan-dorongan seksual dan perilaku nyata untuk dihina,…

Emosi

08 Sep 2013 pikirdong

Emosi adalah gejolak yang ada pada organisme yang disertai oleh respon terhadap suatu rangsang, di…

5 Fakta Fantasi Seks Pria

09 Sep 2013 pikirdong

Apa yang dipikirkan pria bila membaca kata “seks”? Apa yang dibayangkan oleh pria bila menemukan…

Schizotypal Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian skizotipal (schizotypal personality disorder) adalah suatu kondisi gangguan serius dimana individu hampir tidak…

Menghentikan Ketergantungan pada Alkohol

12 Sep 2013 pikirdong

Beberapa kiat yang dapat dilakukan untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada alkohol:    Hanya diri Anda…

Alkohol dan Pengaruhnya

10 Sep 2013 pikirdong

Kebanyakan orang mengkonsumsi alkohol sebagai akibat tekanan sosial disekelilingnya, misalnya pada anak laki-laki dianggap sebagai…

Tanpa Pacar Bikin Bete?

09 Sep 2013 pikirdong

Banyak orang merasa tidak nyaman dengan kondisi hidup sendiri tanpa pacar disamping. Mereka menciptakan momok…

Eksibisionisme – Paraphilia

06 Sep 2013 pikirdong

Eksibisionisme (exhibitionism atau sering disebut dengan istilah flashing) merupakan dorongan fantasi seksual secara terus-menerus…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

Muslim yang Ketakutan

Ada rasa takut, khawatir saat mau nge-share tulisan ulama yang dicap radikal. Takut dianggap pro HTI, pro FPI, ekstrim, radikal,…

30 May 2018 Khairrubi Kolom Ruby Kay No comments

Mendidik Anak dengan Sepenuh Hati

Mendidik atau mengasuh anak dengan sepenuh hati itu artinya mendidik anak dengan pendidikan Islam. Hanya dengan pendidikan Islam saja orangtua…

23 May 2018 Artikel Keluarga Psikologi Islami Irwan Nuryana Kurniawan Comments (1)

Biar Anak Rajin Ke Masjid

Saya dan istri saya ingin semua anak rajin ke masjid. Yang kami tahu adalah nanti yang mendapat naungan dari terik…

29 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Ketika Si Anak Memilih Jalannya Sendiri

Orangtua berupaya agar anaknya memilih jalan yang terbaik yang menjamin masa depannya. Tugas orangtua yang pertama tentu adalah mengarahkan. Dulu…

28 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Mendidik Anak Mandiri

Salah satu tugas orangtua adalah melatih anaknya menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang mandiri adalah pribadi yang memiliki inisiatif untuk…

27 Apr 2018 Artikel Keluarga Fuad Nashori No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014