Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

Reformasi Sistem Pendidikan Finlandia Menjadikan Mereka yang Terbaik di Dunia

Reformasi besar-besaran dalam dunia pendidikan di Finlandia telah dimulai…

Perlu Tidak Ulang Tahun Anak Dirayakan?

Anak mulai mengerti kebiasaan perayaan ulang tahun pada usia…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Mengakhiri Kehampaan dengan Dzikir

Masalah kebermaknaan hidup senantiasa menjadi problem penting dalam kehidupan manusia, baik dulu, kini dan di masa depan. Seribu tahun lalu, ketika berada di puncak popularitasnya sebagai guru besar pemikiran Islam di Universitas Nizamiyah, Imam Abu Hamid Al-Ghazali bertanya: untuk apa popularitas ini? Maka, Al-Ghazali pun memilih hidup sebagai sufi, ia hidup zuhud dengan diawali pengasingan diri.

 

 Ironi

Hal-hal yang digadang-gadang orang sebagai sumber kebahagiaan dikejar dengan mengerahkan ‘segala’ sumber daya yang ada. Di mana-mana orang mengagung-agungkan harta, popularitas, kedudukan atau sebagai sesuatu yang menjanjikan kebahagiaan. Ketika semua itu diperolehnya, orang merasa apa yang dicari, yaitu kebahagiaan, kehidupan yang bermakna, tak jua ia dapatkan. Ketika berhasil meraih keberhasilan-keberhasilan material, orang bertanya: sesungguhnya untuk apa harta benda yang bertumpuk-tumpuk, yang bahkan sebagian didapatkan dari cara yang haram. Ketika menjadi populer, orang berkata dalam hati bahwa popularitas itu hampa belaka, untuk apa?

Orang-orang yang hidup di negara maju boleh jadi sejahtera secara lahir, namun kosongnya makna hidup menjadikan mereka memilih “bunuh diri”. Hal ini sebagaimana terjadi di negara-negara Skandinavia (Denmark, Norwegia, Swedia), juga di Jepang. Mereka merasakan kosongnya makna hidup sehingga menjadikan mereka tidak memiliki harga diri yang kokoh, dan karenanya itu membuat mereka tidak tahan terhadap penderitaan.

Hal ini dipertegas oleh ungkapan psikolog Erich Fromm. Fromm mengungkapkan bahwa manusia moderen menghadapi suatu ironi. Mereka berjaya dalam menggapai capaian-capaian material, namun kehidupan mereka dipenuhi keresahan jiwa. Orang-orang moderen banyak yang sangat rentan terhadap stres, depresi, merasa teralienasi (meski mereka hidup bersama orang lain), mengalami berbagai penyakit kejiwaan, hingga memutuskan untuk bunuh diri. Hal ini sejalan dengan pandangan filosuf Inggris, Bertrand Russell, yang mengatakan bahwa kemajuan-kemajuan material yang dicapai itu ternyata tidak dibarengi oleh kemajuan di bidang moral-spiritual. Russell menilai bahwa peradaban Barat moderen ditandai oleh terputusnya rantai kemajuan material dan kemajuan moral-spiritual.

Pertanyaan tentang kebermaknaan hidup ini terjadi manakala sesuatu yang dimiliki, yang biasanya dipandang positif, telah hilang. Berbagai pengalaman hidup yang tragis, yang memilukan bahkan mengiris-iris hati, kadang menjadikan seseorang berputus asa. Kenyataan hidup yang tidak searah dengan harapan hidup menjadikan mereka menderita. Hilangnya kekasih tercinta menjadikan seseorang memilih untuk tidak mau menikah, bahkan sebagian bunuh diri. Berada dalam tekanan atau teror orang lain atau dalam keadaan kehilangan sanak keluarga yang sangat dicintai, menjadikan seseorang merasa tidak berarti lagi. Ketika berada dalam teror psikologis tentara NAZI, banyak orang Yahudi yang diselimuti keputusasaan, sesuatu yang menjadikan NAZI tersenyum saat mengeksekusi mereka. Kenyataan yang harus sering kita dengar adalah kehidupan terpaksa berakhir dikarenakan apa yang dicari tak juga diperoleh dan apa yang dianggap sebagai milik kita telah tercabut dari kehidupan kita.

Orang mempercayai bahwa kebermaknaan hidup ini begitu penting. Psikolog pun menjadikan masalah ini sebagai bahan kajian mereka. Seorang psikolog humanistik bernama Viktor E. Frankl pun tertarik untuk meneorikannya. Maka, dari tangannya lahirlah teori tentang kebermaknaan hidup, yang biasa dikenal dengan teori logoterapi. Seorang psikolog kontemporer, Danah Zohar bersama suaminya Ian Marshall, pun menempatkan kebermaknaan hidup sebagai modal utama keberhasilan hidup manusia, sehingga ia meneorikannya menjadi kecerdasan spiritual.

Sebenarnya apa yang paling bermakna bagi manusia? Secara umum adalah seberapa seseorang yakin dirinya memiliki keberartian atau keberhargaan bagi Sang Pencipta dan atau terhadap sesama. Kalau Bunda Theresa ditanya tentang kebermaknaan hidup, maka beliau secara lugas akan menjawabnya demikian. Tuhan dan sesama. Bagi seorang ibu yang terkena penyakit yang mengancam jiwa seperti kanker, kebermaknaan hidupnya adalah kesadaran akan arti penting dirinya bagi anak-anak dan suaminya.

Keberhargaan bagi Tuhan dilakukan dengan meletakkan diri sebagai hamba. Dzikir merupakan sarana bagi manusia untuk memperoleh keberhargaan diri bagi Tuhan. Imam Al-Ghazali adalah contoh orang yang kuat berdzikirnya.

Dzikir dan Makna Hidup

Sudah menjadi pengetahuan bersama kita bahwa dzikir memiliki pengaruh terhadap keadaan kepribadian kita. Teori umum dalam pemikiran Islam yang dipercayai adalah dalam diri manusia terdiri Ruh Tuhan (the Spirit of God), yang berarti dalam diri manusia terdapat potensi-potensi positif berupa melekatnya sifat-sifat yang dimiliki Tuhan. Upaya-upaya mengembangkan potensi itu akan menghasilkan berkembangnya sifat-sifat positif sebagaimana digambarkan dalam asmaul husna (sifat-sifat baik Tuhan). Allah Azza wa jalla memiliki sifat rahman-rahim (pengasih-penyayang), ‘alim (cerdas), qahhar (perkasa), dsb., maka manusia pun memiliki sifat kasih-sayang, cerdas, perkasa, dsb. Bila seseorang melazimkan diri berdzikir kepada Allah, maka sifat-sifat Allah sebagaimana yang baca itu akan berimbas terhadap dirinya. Potensi-potensi yang ada dalam diri manusia itu menjadi berkembang.

Kebiasaan berdzikir akan memancarkan pengaruh terhadap berbagai dimensi kehidupan manusia. Ia dapat membersihkan yang kotor. Pun menguatkan apa yang sudah ada dalam pribadi manusia. Bacaan dzikir yang bersifat dasar mestilah menjadi ‘konsumsi’ kita bila kita menghendaki anugerah dari Allah itu berupa berkembangnya sifat-sifat atau keadaan-keadaan baik yang real-aktual. Bacaan dzikir yang dasar adalah kalimat thayyibah, ta’awwudz, basmalah, hamdalah, tasbih, takbir, hauqalah, shalawat. Bila kita menghendaki kebaikan dalam berbagai dimensi kehidupan kita, maka membiasakan diri melakukan dzikir akan menumbuhkembangkan sifat-sifat positif yang sudah ada dalam diri kita. Membaca 99 asmaul husna berarti upaya menumbuhkan semua potensi positif.

Sekalipun demikian, bila seseorang membutuhkan agar sifat-sifat tertentu dapat berkembang lebih optimal, maka ia dapat memperbanyak bacaan-bacaan tertentu dalam asmaul husna. Sebagai misal, bila seseorang merasa bahwa dalam dirinya tidak ada cinta, maka bacaan ya rahmaan dan ya rahiim dapat ia perbanyak. Bila diri ini diliputi ketakutan, maka bacaan ya qahhar (yang perkasa) patut untuk diperbanyak. Bila diri ini penuh dengan kekasaran terhadap perilaku manusia, maka bacaan ya latiif (yang lembut) perlu diintensifkan bacaannya.

Orang-orang yang mengalami persoalan makna hidup sangat direkomendasikan untuk melazimkan diri dengan berbagai macam bacaan dzikir. Persoalan-persoalan yang mengganjal kehidupan mereka dapat mereka sadari dengan berdzikir. Terutama untuk dzikir yang dilakukan secara berkelompok, maka dzikir dapat kuat pengaruhnya dalam upaya menghadirkan kesadaran diri. Dalam konteks ini, apa yang dilakukan Muhammad Arifin Ilham dengan majelis dzikirnya memberi manfaat untuk penguatan kesadaran diri. Dalam dunia sufisme, hubungan itu berlangsung antara guru dan murid (baca: guru tarekat atau mursyid dan murid). Hubungan itu agak mirip dengan hubungan antara terapis dan klien. Dalam kegiatan tarekat, pengenalan diri itu dilakukan dengan proses talqin (pengajaran), yaitu proses di mana guru (mursyid) mengajarkan bagaimana cara berdzikir yang baik kepada muridnya. Pada waktu seseorang mengikuti talqin, timbul pemahaman atau pencerahan (insight) tentang diri sendiri, dosa-dosa dan sifat-sifat jelek sehingga timbul penyesalan.

Sesudah mengikuti dzikir ternyata berbagai persoalan yang berkaitan dengan makna hidup dapat teratasi. Dalam suatu penelitian yang dilakukan Dr. Subandi, MA (UGM) terhadap pengamal dzikir Kelompok Pengajian Tawakkal –yang beraliran Qadiriyah-Naqsabandiyah— ditemukan bahwa orang-orang yang melazimkan diri melakukan dzikir memiliki berbagai pengalaman seperti penyucian diri, penemuan kebenaran, transisi, kedekatan/keakraban dengan Tuhan, hilangnya rasa keakuan, pembaharuan moralitas, perasaan diatur oleh Tuhan, mendapatkan petunjuk dari Tuhan. Orang yang banyak melanggar perintah Tuhan, setelah intens melazimkan berdzikir seseorang menjadi tersucikan lahir maupun batin. (Saya malah kena penyakit kulit. Seluruh badan saya gatal… Menurut teman saya itu mungkin merupakan pembersihan diri dari syirik-syirik kecil). Mereka juga merasakan adanya keakraban/kedekatan dengan Tuhan. (Sepertinya saya dijiewer (Allah): ‘Kamu itu mengertilah!’). Rasa sombong atau keakuan juga mencari hilang. (Saya merasa tidak punya apa-apa). Berdzikir juga menghadirkan pembaharuan moralitas. (Pikiran dan hati saya tidak ada rasa macam-macam. Tadinya mungkin suka iri, dengki. Itu hilang semua. Lapang sekali dada ini).

Bila seseorang banyak berdzikir dan banyak melakukan perintah lain dari Tuhan, maka sekalipun terdapat penderitaan, sikap atas penderitaan itu akan selalu positif. Kita cermati ungkapan dari orang-orang yang mengalami peristiwa tragis di bawah ini dan respon positif mereka. “Kalau saya tinjau lagi seluruh perjalanan hidup saya, dapat dikatakan hampir tak merasakan kebahagiaan. Rasanya sebentar sekali, yaitu hanya sekitar delapan tahun saya benar-benar merasakan kebahagiaan berumah tangga bersama almarhum suami. Setelah itu dilanjutkan dengan masa-masa kerja keras mencari nafkah dengan segala suka dukanya. Tapi puji syukur kepada Tuhan, pada akhirnya saya menyaksikan ketiga anak saya mandiri dan hidup dengan baik. Dan itulah puncak kebahagiaan saya sekarang” (Ny. Imas, Jakarta, 50 tahun, Swasta, Sunda, Islam).

Penulis:

fuad
Fuad Nashori  adalah salah seorang pelopor dan ahli di bidang Psikologi Islami, sehari-hari beliau menjabat sebagai Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, (UII) Yogyakarta. Fuad Nashori adalah penulis tetap untuk rubrik Psikologi Islami di website ini

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Bila Anda Mendapat Tawaran Pemotretan Sensual?

08 Sep 2013 Sayed Muhammad

Gadis-gadis Indonesia bugil mulai bermunculan di internet sekitar tahun 1997. Gambar sensual tersebut bermunculan tidak…

Teknik Relaksasi: Mengurangi Stres

04 Sep 2013 pikirdong

Relaksasi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan sendiri oleh individu untuk mengurangi stres, kekalutan…

Katakan Saja Tidak!

29 Oct 2015 Sayed Muhammad

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar untuk mengatakan "tidak" yang memang kita…

Developmental Milestones: Usia 36 Bulan

14 Oct 2015 pikirdong

Perkembangan Mental Usia 36 Bulan PENGAMATAN PERILAKU Komunikasi Bahasa Menggunakan kalimat dengan sederhana Tingkah laku Berinteraksi dengan orang dewasa dan anak-anak Pekerjaan…

Commitment Phobia

06 Sep 2013 pikirdong

Commitment phobia merupakan bentuk suatu ketakutan (fear) untuk menjalin suatu hubungan yang lebih erat, rasa…

Salah Kaprah tentang HAM

05 Oct 2016 Bagus Riyono

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak dan menyentuh hampir semua aspek kehidupan…

Ketergantungan Komputer dan Internet: Tips dan Treatment

04 Sep 2013 pikirdong

Ketergantungan pada internet dan komputer memberikan dampak buruk dan perilaku baik secara langsung ataupun secara…

Haruskah Menyontek Jadi Budaya?

08 Sep 2013 Fira Friantini

Budaya menyontek sangat identik dengan dunia pendidikan saat ini. Terlebih ketika ujian sedang berlangsung. Tak…

Autism Disorder

05 Sep 2013 pikirdong

Autisme (autism disorder) merupakan gangguan pada sistem syaraf pusat yang berdampak pada gangguan interaksi sosial,…

Memberi Support pada Anak Gangguan Autis

04 Sep 2013 pikirdong

Saat ini diperkirakan sekitar 35 juta anak di dunia mengalami gangguan autisme, angka ini meningkat…

Edisi Ibukota : Tas Tas Integritas!!

15 Sep 2013 Candrawati Wijaya

Salam Tarzan Kota! Sudah sampai manakah Tarzan-Tarzan kota menjelajah?? Harapan saya, kita tetap akan bertemu di…

Kekerasan Terhadap Anak

08 Sep 2013 pikirdong

Kekerasan terhadap anak (child abusive) terjadi dalam pelbagai kultur, etnis atau kelompok masyarakat. Kekerasan dapat…

  • 1
  • 2
  • 3

Kategori Lainnya

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling kita yang kami adakan atas partisipasi teman-teman semua yang rela dan…

03 Sep 2013 Agenda Sosial pikirdong No comments

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak dan menyentuh hampir semua aspek kehidupan kita. Ada hak perempuan, hak…

05 Oct 2016 Artikel Psikologi GIB Psikologi Islami Psikologi Sosial Bagus Riyono Comments (1)

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014