Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

Reformasi Sistem Pendidikan Finlandia Menjadikan Mereka yang Terbaik di Dunia

Reformasi besar-besaran dalam dunia pendidikan di Finlandia telah dimulai…

Perlu Tidak Ulang Tahun Anak Dirayakan?

Anak mulai mengerti kebiasaan perayaan ulang tahun pada usia…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Mengembangkan Empati pada Anak

Sekelompok anak kecil sedang meneriaki, bahkan melempar batu-batu kecil kepada orang gila yang kebetulan lewat di depan mereka bermain. Beberapa anak kecil berusia 5-12 tahun ikut mengejar orang gila tersebut sambil berteriak-teriak untuk menakuti orang gila tersebut. Laki-laki tua yang terlihat lusuh tersebut lari menjauhi kerumunan anak-anak. Ia sangat ketakutan sampai terjatuh saat melarikan diri. Anak-anak itu malah menertawakan menyaksikan orang gila tersebut terjerembab di tanah dengan tanpa rasa kasihan.

Sementara itu seorang anak bernama Dwaina Brook, seorang anak kecil yang masih bersekolah pada kelas empat SD di kota Dallas, Amerika Serikat, menyediakan 100 porsi makanan untuk tunawisma disekitar rumahnya, hasil usahanya itu menggerakan masyarakat sekitarnya untuk ikut berpartisipasi menyediakan ribuan porsi makanan untuk tunawisma. Dwaina menggambarkan makna empati, ia mampu menmpatkan dirinya dalam posisi orang lain. Lebih dari itu, ia telah melakukan sesuatu untuk meringankan penderitaan orang lain.

Dwaina telah memberikan gambaran penting mengenai empati, ia mampu menempatkan dirinya dalam posisi orang lain, ia bersikap empati dengan merasakan penderitaan tunawisma di lingkungannya yang menggerakannya untuk berbuat sesuatu meringankan penderitaan tunawisma.

Apakah empati itu?

Empati adalah merasakan sesuatu bentuk atau perasaan tertentu seperti apa yang dirasakan atau dideritakan oleh orang lain. Beda halnya dengan simpati yang hanya menimbulkan ketertarikan semata tetapi tidak adanya suatu tindakan ataupun ketertarikan secara emosional.

Mengajarkan empati pada anak akan memberikan suatu kemampuan emosi yang luar biasa, anak tidak bersikap agresif dan melibatkan dirinya dalam perbuatan prososial, seperti membantu orang lain. Anak dengan empati yang dimilikinya akan lebih disukai oleh teman-temannya dan orang dewasa. Mereka juga memiliki kemampuan besar dalam menjalinkan hubungan interaksi dengan orang lain di sekolah dan tempat kerja.

Empati sebenarnya telah ada sejak usia dini, berkisar pada usia 6 tahun yang terus berkembang dengan seiring perkembangan kognitif. Pada mulanya, bayi akan ikut menangis bila mendengar teman seusianya menangis, Martin Hoffman, seorang psikolog, menjelaskan peristiwa ini sebagai empati global, dimana anak belum dapat membedakan antara dirinya dengan orang lain.

Pada usia satu dan dua tahun, anak mulai dapat membedakan antara dirinya dengan orang lain, ia mulai dapat membedakan kesusahan yang dirasakan oleh dirinya dan bukan dari orang lain atau sebaliknya. Seiring dengan pertumbuhan kognitif, anak mulai mengenali kesedihan pada orang lain dan mampu menyesuaikan kepeduliannya dengan perilaku yang tepat. Perilaku empati anak perempuan dan laki-laki mempunyai status sosial yang sama, hanya saja bentuk empati anatara perempuan dan laki-laki berbeda. Perilaku empati pada anak perempuan terlihat pada anak yang membantu adiknya meredam kesedihan, sedangkan pada anak laki-laki seperti membantu temannya mengendarai sepeda.

Melihat perkembangan empati pada anak.

Pada anak usia 6 tahun ia mulai mengenal ekspresi emosi seseorang, apakah seseorang itu dalam keadaan sedih, bahagia, senang atau susah. Bila pancaran emosi tersebut berasal dari orang-orang sekitarnya ia akan menempatkan perilaku-perilakunya yang sesuai. Misalnya ia melihat ibunya yang senang maka ia akan senang juga dengan memberi dukungan berupa ekspresi atau tindakan yang mendukung ibunya tersebut. Sebaliknya, tanpa berbicara pun seorang anak dapat mengenal wajah ibunya dalam keadaan sedih atau susah, sehingga ia tidak ingin mengganggu ibunya dengan memberi waktu untuk ibunya untuk sendiri. Kepekaan ini akan terus berkembang terhadap dunia sekitarnya, baik dengan orang yang dikenal atau tidak. Kepekaan tersebut akan hilang secara perlahan-lahan bila keluarga tidak terus mengembangkan empatinya. Anak tersebut menjadi apatis, tidak peduli dengan kesusahan yang diderita kelaurga atau orang lain, agresif atau bahkan tidak mau peduli dan egoistik.

Pentingnya menanamkan empati sejak dini tidak hanya melatih anak mempunyai kepedulian terhadap lingkungannya, anak dapat menjadi lebih pengertian terhadap situasi tertentu. Anak akan menyesuaikan kebutuhan-kebutuhan lebih realistis atau mempertahankan kebutuhannya untuk sementara bila keinginannya tidak dapat dipenuhi oleh orangtuanya. Misalnya, anak yang menuntut pada orangtua untuk dibelikan sepeda baru, bila anak tersebut mengetahui orangtua dalam kesulitan ekonomi maka ia tidak akan menuntut untuk dibelikan sepeda baru, lain halnya pada anak-anak yang tidak terlatih, dia akan terus menuntut dengan berbagai cara agar dibelikan sepeda baru tanpa mempedulikan orangtua dalam kesusahan atau tidak.

Sebagai orangtua Anda dapat melihat perkembangan emosi terutama empati pada anak-anak yang sedang mengalami pertumbuhan;
1. Apakah ia tahu ketika Anda dalam keadaan sedih walau tanpa Anda berbicara kepadanya?
2. Apakah ia melakukan sesuatu hal ketika mengetahui Anda dalam keadaan sedih, misalnya berusaha menghibur, atau memberikan sesuatu yang dapat Anda lakukan untuk lebih rileks.
3. Ia berusaha menghibur adiknya yang sedang menangis, atau membantu dalam berbagai cara bila melihat adiknya mengalami kesulitan.
4. Merasa iba melihat kesulitan atau kesedihan orang lain.
5. Tergugah emosinya, ikut merasa sedih ketika menonton adegan-adegan film atau kenyataan menyangkut kesedihan.
6. Membantu teman atau adiknya yang sedang mengalami kesulitan mengerjakan PR.
7. Melindungi, seperti mengantar adiknya ke suatu tempat

Menumbuhkan empati pada anak.

1. Memperketat tanggung jawab dan rasa peduli
Beberapa ajaran moral yang diterima anak berupa hafalan tidak begitu berpengaruhi pada anak, mereka begitu sulit menghubungkan hafalan-hafalan tersebut dengan perilaku yang nyata. Keluarga tidak hanya harus menerapkan ajaran moral secara nyata, melainkan juga menerapkan kedisplinan yang mesti diterapkan oleh setiap anggota keluarga.

Kebanyakan orangtua merasa takut menerapkan aturan-aturan tertentu yang mesti dipenuhi atau dilakukan oleh oleh anak, hal ini disebabkan ketakutan dari orangtua dianggap konservatif, bodoh, norak dan sebagainya. Padahal, jika Anda menginginkan anak mempunyai empati, lebih penyayang dan lebih bertanggungjawab maka Anda harus membua aturan-aturan keluarga yang jelas dan konsisten dan tidak mudah memberikan keringanan kepada mereka. Anda harus menuntut tanggungjawab dari setiap tingkah lakunya yang menyalahi aturan keluarga yang telah Anda buat.

Beberapa aturan yang perlu diterapkan:
(a) Anak harus ikut bertanggung jawab terhadap keuangan keluarga, misalnya dengan menetapkan uang jajan dan tabungan secara terpisah. Melatih tanggung jawab anak terhadap uang jajannya sendiri sehingga ia tidak mencuri uang di laci bila kekuarangan uang untuk jajan.
(b) Pulang pada waktunya. Berikan batasan-batasan tertentu pada anak untuk menepati waktu pulang dari sekolah, jam bermain, jam belajar atau bahkan batas waktu pulang di malam hari. Aturlah kesepakatan tersebut beserta dengan sanksi bila nantinya anak tidak menepati janjinya.
(c) Berikan pekerjaan-pekerjaan rumahtangga untuk diselesaikan oleh anak. Misalnya pada anak berumur 5 tahun untuk meletakan sendok dan garpu di meja makan, pada anak umur 10 tahun untuk dapat merapikan dan membersihkan tempat tidur

2. Mengajari anak dengan pebuatan baik kepada orang lain.
Mengajarkan anak empati tidaklah dengan berbicara kepada anak mengenai perbuatan baik sebagai bentuk kepdulian kepada orang lain. Anda membutuhkan suatu kerja yang nyata. Andalah yang harus menunjukkan kepada anak perbuatan-perbuatan baik yang melibatkan empati.

Misalnya, Anda memberikan tempat duduk kepada ibu tua di dalam bis yang penuh sesak, biarkan anak Anda melihat perbuatan Anda yang peduli dengan orang lain, anak Anda akan memperoleh pendidikan yang paling berharga daripada Anda hanya mengobrol tindakan-tindakan tersebut di meja makan. Beberapa tindakan lain yang dapat Anda lakukan di depan anak Anda adalah, membantu orangtua menyebrangi jalan, mengunjungi sahabat Anda di rumah sakit, membantu membawa barang belanja seorang ibu yang keberatan membawanya kedalam mobil dan sebagainya.

Perbuatan baik yang Anda lakukan akan membuka pintu bagi anak Anda, apabila kebaikan sudah menjadi kebiasaan, Anda akan melihat anak Anda ketagihan dan mencari jalan lain dengan caranya sendiri untuk berbuat baik kepada orang lain. Sebuah kebiasaan adiktif yang akan membentuknya kelak.

3. Melibatkan anak dalam kegiatan sosial
Kegiatan sosial untuk membantu orang lain dan sebagainya tidak hanya membentuk empati pada anak, melainkan juga mengjarkan ketrampilan sosial seperti membentuk kerjasama, berinteraksi dengan orang lain, ketekunan, dan kesetiaan. Sebuah pelajaran penting sangat bermanfaat yang menyumbangkan bentuk ketrampilan EQ lainnya.

Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan adalah;
1. Bekerja di dapur umum
2. Bergabung dalam organisasi tertentu yang bergerak pada kemanusian atau lingkungan
3. Ikut gotong royong yang dilakukan sekitar lingkungan rumah.
4. Menghibur orang jompo di panti wreda
5. Membuat boneka atau kerajinan untuk anak-anak sakit dengan tujuan menghibur mereka.

Penulis :ayed

Sayed Muhammad adalah lulusan psikologi Universitas Islam Indonesia, ia adalah perintis dan penulis tetap di website ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Bila Anda Mendapat Tawaran Pemotretan Sensual?

08 Sep 2013 Sayed Muhammad

Gadis-gadis Indonesia bugil mulai bermunculan di internet sekitar tahun 1997. Gambar sensual tersebut bermunculan tidak…

Teknik Relaksasi: Mengurangi Stres

04 Sep 2013 pikirdong

Relaksasi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan sendiri oleh individu untuk mengurangi stres, kekalutan…

Katakan Saja Tidak!

29 Oct 2015 Sayed Muhammad

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar untuk mengatakan "tidak" yang memang kita…

Developmental Milestones: Usia 36 Bulan

14 Oct 2015 pikirdong

Perkembangan Mental Usia 36 Bulan PENGAMATAN PERILAKU Komunikasi Bahasa Menggunakan kalimat dengan sederhana Tingkah laku Berinteraksi dengan orang dewasa dan anak-anak Pekerjaan…

Commitment Phobia

06 Sep 2013 pikirdong

Commitment phobia merupakan bentuk suatu ketakutan (fear) untuk menjalin suatu hubungan yang lebih erat, rasa…

Salah Kaprah tentang HAM

05 Oct 2016 Bagus Riyono

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak dan menyentuh hampir semua aspek kehidupan…

Ketergantungan Komputer dan Internet: Tips dan Treatment

04 Sep 2013 pikirdong

Ketergantungan pada internet dan komputer memberikan dampak buruk dan perilaku baik secara langsung ataupun secara…

Haruskah Menyontek Jadi Budaya?

08 Sep 2013 Fira Friantini

Budaya menyontek sangat identik dengan dunia pendidikan saat ini. Terlebih ketika ujian sedang berlangsung. Tak…

Autism Disorder

05 Sep 2013 pikirdong

Autisme (autism disorder) merupakan gangguan pada sistem syaraf pusat yang berdampak pada gangguan interaksi sosial,…

Memberi Support pada Anak Gangguan Autis

04 Sep 2013 pikirdong

Saat ini diperkirakan sekitar 35 juta anak di dunia mengalami gangguan autisme, angka ini meningkat…

Edisi Ibukota : Tas Tas Integritas!!

15 Sep 2013 Candrawati Wijaya

Salam Tarzan Kota! Sudah sampai manakah Tarzan-Tarzan kota menjelajah?? Harapan saya, kita tetap akan bertemu di…

Kekerasan Terhadap Anak

08 Sep 2013 pikirdong

Kekerasan terhadap anak (child abusive) terjadi dalam pelbagai kultur, etnis atau kelompok masyarakat. Kekerasan dapat…

  • 1
  • 2
  • 3

Kategori Lainnya

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling kita yang kami adakan atas partisipasi teman-teman semua yang rela dan…

03 Sep 2013 Agenda Sosial pikirdong No comments

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak dan menyentuh hampir semua aspek kehidupan kita. Ada hak perempuan, hak…

05 Oct 2016 Artikel Psikologi GIB Psikologi Islami Psikologi Sosial Bagus Riyono Comments (1)

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014