TwitterFacebookGoogle+

Mengembangkan Empati pada Anak

Sekelompok anak kecil sedang meneriaki, bahkan melempar batu-batu kecil kepada orang gila yang kebetulan lewat di depan mereka bermain. Beberapa anak kecil berusia 5-12 tahun ikut mengejar orang gila tersebut sambil berteriak-teriak untuk menakuti orang gila tersebut. Laki-laki tua yang terlihat lusuh tersebut lari menjauhi kerumunan anak-anak. Ia sangat ketakutan sampai terjatuh saat melarikan diri. Anak-anak itu malah menertawakan menyaksikan orang gila tersebut terjerembab di tanah dengan tanpa rasa kasihan.

Sementara itu seorang anak bernama Dwaina Brook, seorang anak kecil yang masih bersekolah pada kelas empat SD di kota Dallas, Amerika Serikat, menyediakan 100 porsi makanan untuk tunawisma disekitar rumahnya, hasil usahanya itu menggerakan masyarakat sekitarnya untuk ikut berpartisipasi menyediakan ribuan porsi makanan untuk tunawisma. Dwaina menggambarkan makna empati, ia mampu menmpatkan dirinya dalam posisi orang lain. Lebih dari itu, ia telah melakukan sesuatu untuk meringankan penderitaan orang lain.

Dwaina telah memberikan gambaran penting mengenai empati, ia mampu menempatkan dirinya dalam posisi orang lain, ia bersikap empati dengan merasakan penderitaan tunawisma di lingkungannya yang menggerakannya untuk berbuat sesuatu meringankan penderitaan tunawisma.

Apakah empati itu?

Empati adalah merasakan sesuatu bentuk atau perasaan tertentu seperti apa yang dirasakan atau dideritakan oleh orang lain. Beda halnya dengan simpati yang hanya menimbulkan ketertarikan semata tetapi tidak adanya suatu tindakan ataupun ketertarikan secara emosional.

Mengajarkan empati pada anak akan memberikan suatu kemampuan emosi yang luar biasa, anak tidak bersikap agresif dan melibatkan dirinya dalam perbuatan prososial, seperti membantu orang lain. Anak dengan empati yang dimilikinya akan lebih disukai oleh teman-temannya dan orang dewasa. Mereka juga memiliki kemampuan besar dalam menjalinkan hubungan interaksi dengan orang lain di sekolah dan tempat kerja.

Empati sebenarnya telah ada sejak usia dini, berkisar pada usia 6 tahun yang terus berkembang dengan seiring perkembangan kognitif. Pada mulanya, bayi akan ikut menangis bila mendengar teman seusianya menangis, Martin Hoffman, seorang psikolog, menjelaskan peristiwa ini sebagai empati global, dimana anak belum dapat membedakan antara dirinya dengan orang lain.

Pada usia satu dan dua tahun, anak mulai dapat membedakan antara dirinya dengan orang lain, ia mulai dapat membedakan kesusahan yang dirasakan oleh dirinya dan bukan dari orang lain atau sebaliknya. Seiring dengan pertumbuhan kognitif, anak mulai mengenali kesedihan pada orang lain dan mampu menyesuaikan kepeduliannya dengan perilaku yang tepat. Perilaku empati anak perempuan dan laki-laki mempunyai status sosial yang sama, hanya saja bentuk empati anatara perempuan dan laki-laki berbeda. Perilaku empati pada anak perempuan terlihat pada anak yang membantu adiknya meredam kesedihan, sedangkan pada anak laki-laki seperti membantu temannya mengendarai sepeda.

Melihat perkembangan empati pada anak.

Pada anak usia 6 tahun ia mulai mengenal ekspresi emosi seseorang, apakah seseorang itu dalam keadaan sedih, bahagia, senang atau susah. Bila pancaran emosi tersebut berasal dari orang-orang sekitarnya ia akan menempatkan perilaku-perilakunya yang sesuai. Misalnya ia melihat ibunya yang senang maka ia akan senang juga dengan memberi dukungan berupa ekspresi atau tindakan yang mendukung ibunya tersebut. Sebaliknya, tanpa berbicara pun seorang anak dapat mengenal wajah ibunya dalam keadaan sedih atau susah, sehingga ia tidak ingin mengganggu ibunya dengan memberi waktu untuk ibunya untuk sendiri. Kepekaan ini akan terus berkembang terhadap dunia sekitarnya, baik dengan orang yang dikenal atau tidak. Kepekaan tersebut akan hilang secara perlahan-lahan bila keluarga tidak terus mengembangkan empatinya. Anak tersebut menjadi apatis, tidak peduli dengan kesusahan yang diderita kelaurga atau orang lain, agresif atau bahkan tidak mau peduli dan egoistik.

Pentingnya menanamkan empati sejak dini tidak hanya melatih anak mempunyai kepedulian terhadap lingkungannya, anak dapat menjadi lebih pengertian terhadap situasi tertentu. Anak akan menyesuaikan kebutuhan-kebutuhan lebih realistis atau mempertahankan kebutuhannya untuk sementara bila keinginannya tidak dapat dipenuhi oleh orangtuanya. Misalnya, anak yang menuntut pada orangtua untuk dibelikan sepeda baru, bila anak tersebut mengetahui orangtua dalam kesulitan ekonomi maka ia tidak akan menuntut untuk dibelikan sepeda baru, lain halnya pada anak-anak yang tidak terlatih, dia akan terus menuntut dengan berbagai cara agar dibelikan sepeda baru tanpa mempedulikan orangtua dalam kesusahan atau tidak.

Sebagai orangtua Anda dapat melihat perkembangan emosi terutama empati pada anak-anak yang sedang mengalami pertumbuhan;
1. Apakah ia tahu ketika Anda dalam keadaan sedih walau tanpa Anda berbicara kepadanya?
2. Apakah ia melakukan sesuatu hal ketika mengetahui Anda dalam keadaan sedih, misalnya berusaha menghibur, atau memberikan sesuatu yang dapat Anda lakukan untuk lebih rileks.
3. Ia berusaha menghibur adiknya yang sedang menangis, atau membantu dalam berbagai cara bila melihat adiknya mengalami kesulitan.
4. Merasa iba melihat kesulitan atau kesedihan orang lain.
5. Tergugah emosinya, ikut merasa sedih ketika menonton adegan-adegan film atau kenyataan menyangkut kesedihan.
6. Membantu teman atau adiknya yang sedang mengalami kesulitan mengerjakan PR.
7. Melindungi, seperti mengantar adiknya ke suatu tempat

Menumbuhkan empati pada anak.

1. Memperketat tanggung jawab dan rasa peduli
Beberapa ajaran moral yang diterima anak berupa hafalan tidak begitu berpengaruhi pada anak, mereka begitu sulit menghubungkan hafalan-hafalan tersebut dengan perilaku yang nyata. Keluarga tidak hanya harus menerapkan ajaran moral secara nyata, melainkan juga menerapkan kedisplinan yang mesti diterapkan oleh setiap anggota keluarga.

Kebanyakan orangtua merasa takut menerapkan aturan-aturan tertentu yang mesti dipenuhi atau dilakukan oleh oleh anak, hal ini disebabkan ketakutan dari orangtua dianggap konservatif, bodoh, norak dan sebagainya. Padahal, jika Anda menginginkan anak mempunyai empati, lebih penyayang dan lebih bertanggungjawab maka Anda harus membua aturan-aturan keluarga yang jelas dan konsisten dan tidak mudah memberikan keringanan kepada mereka. Anda harus menuntut tanggungjawab dari setiap tingkah lakunya yang menyalahi aturan keluarga yang telah Anda buat.

Beberapa aturan yang perlu diterapkan:
(a) Anak harus ikut bertanggung jawab terhadap keuangan keluarga, misalnya dengan menetapkan uang jajan dan tabungan secara terpisah. Melatih tanggung jawab anak terhadap uang jajannya sendiri sehingga ia tidak mencuri uang di laci bila kekuarangan uang untuk jajan.
(b) Pulang pada waktunya. Berikan batasan-batasan tertentu pada anak untuk menepati waktu pulang dari sekolah, jam bermain, jam belajar atau bahkan batas waktu pulang di malam hari. Aturlah kesepakatan tersebut beserta dengan sanksi bila nantinya anak tidak menepati janjinya.
(c) Berikan pekerjaan-pekerjaan rumahtangga untuk diselesaikan oleh anak. Misalnya pada anak berumur 5 tahun untuk meletakan sendok dan garpu di meja makan, pada anak umur 10 tahun untuk dapat merapikan dan membersihkan tempat tidur

2. Mengajari anak dengan pebuatan baik kepada orang lain.
Mengajarkan anak empati tidaklah dengan berbicara kepada anak mengenai perbuatan baik sebagai bentuk kepdulian kepada orang lain. Anda membutuhkan suatu kerja yang nyata. Andalah yang harus menunjukkan kepada anak perbuatan-perbuatan baik yang melibatkan empati.

Misalnya, Anda memberikan tempat duduk kepada ibu tua di dalam bis yang penuh sesak, biarkan anak Anda melihat perbuatan Anda yang peduli dengan orang lain, anak Anda akan memperoleh pendidikan yang paling berharga daripada Anda hanya mengobrol tindakan-tindakan tersebut di meja makan. Beberapa tindakan lain yang dapat Anda lakukan di depan anak Anda adalah, membantu orangtua menyebrangi jalan, mengunjungi sahabat Anda di rumah sakit, membantu membawa barang belanja seorang ibu yang keberatan membawanya kedalam mobil dan sebagainya.

Perbuatan baik yang Anda lakukan akan membuka pintu bagi anak Anda, apabila kebaikan sudah menjadi kebiasaan, Anda akan melihat anak Anda ketagihan dan mencari jalan lain dengan caranya sendiri untuk berbuat baik kepada orang lain. Sebuah kebiasaan adiktif yang akan membentuknya kelak.

3. Melibatkan anak dalam kegiatan sosial
Kegiatan sosial untuk membantu orang lain dan sebagainya tidak hanya membentuk empati pada anak, melainkan juga mengjarkan ketrampilan sosial seperti membentuk kerjasama, berinteraksi dengan orang lain, ketekunan, dan kesetiaan. Sebuah pelajaran penting sangat bermanfaat yang menyumbangkan bentuk ketrampilan EQ lainnya.

Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan adalah;
1. Bekerja di dapur umum
2. Bergabung dalam organisasi tertentu yang bergerak pada kemanusian atau lingkungan
3. Ikut gotong royong yang dilakukan sekitar lingkungan rumah.
4. Menghibur orang jompo di panti wreda
5. Membuat boneka atau kerajinan untuk anak-anak sakit dengan tujuan menghibur mereka.

Penulis :ayed

Sayed Muhammad adalah lulusan psikologi Universitas Islam Indonesia, ia adalah perintis dan penulis tetap di website ini.

 

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar

Artikel Lainnya

Schizoid Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian skizoid (schizoid personality disorder) merupakan suatu karakter yang sifatnya menetap dalam diri individu…

Kleptomania

06 Sep 2013 pikirdong

Kleptomania merupakan gangguan kebiasaan dan impuls (impulse control disorder) yang mengakibatkan dampak-dampak negatif bagi perkembangan…

Simtom dan Dampak dari Internet Adiktif

04 Sep 2013 pikirdong

Bagaimana yang disebut sebagai adiktif internet dan komputer? Bagaimana pula yang disebut dengan menggunakan komputer…

Kado Terindah

09 Sep 2013 pikirdong

Kado dalam bentuk apapun pasti akan mendatangkan kebahagiaan baik bagi si penerima maupun pemberinya. Kado…

Kekerasan Terhadap Anak

08 Sep 2013 Sayed Muhammad

Kekerasan terhadap anak (child abusive) terjadi dalam pelbagai kultur, etnis atau kelompok masyarakat. Kekerasan dapat…

Obsessive Compulsive Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif (Obsessive Compulsive Personality Disorder; OCPD) adalah suatu kondisi karakter dengan gangguan kronis…

Beberapa Jalan Menetaskan Ide-ide Kreatif Perspektif Psikologi Islami

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Tulisan ini akan menunjukkan proses-proses terjadinya kreativitas dalam perspektif Psikologi Islami. Perspektif psikologi Islami mempercayai…

Gangguan Makan

04 Sep 2013 pikirdong

Gangguan makan (Eating Disorder) terjadi dari beberapa perilaku makan berupa perilaku mengurangi makan hingga pada…

Memaafkan dan Meminta Maaf

13 Sep 2015 Fuad Nashori

Salah satu kekurangan manusia adalah suka berbuat salah dan dosa. Manusia membutuhkan cara untuk menutupi…

Dispareunia

14 Oct 2015 pikirdong

Pada pria, dispareunia hampir pasti disebabkan oleh penyakit atau gangguan fisik berupa peradangan atau infeksi…

General Anxiety Disorder (GAD)

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kecemasan umum (general anxiety disorder; GAD) merupakan bentuk gangguan kecemasan dimana individu secara terus-menerus…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

19 Dec 2016 pikirdong

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

Muslim yang Ketakutan

Ada rasa takut, khawatir saat mau nge-share tulisan ulama yang dicap radikal. Takut dianggap pro HTI, pro FPI, ekstrim, radikal,…

30 May 2018 Khairrubi Kolom Ruby Kay No comments

Mendidik Anak dengan Sepenuh Hati

Mendidik atau mengasuh anak dengan sepenuh hati itu artinya mendidik anak dengan pendidikan Islam. Hanya dengan pendidikan Islam saja orangtua…

23 May 2018 Artikel Keluarga Psikologi Islami Irwan Nuryana Kurniawan Comments (1)

Biar Anak Rajin Ke Masjid

Saya dan istri saya ingin semua anak rajin ke masjid. Yang kami tahu adalah nanti yang mendapat naungan dari terik…

29 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Ketika Si Anak Memilih Jalannya Sendiri

Orangtua berupaya agar anaknya memilih jalan yang terbaik yang menjamin masa depannya. Tugas orangtua yang pertama tentu adalah mengarahkan. Dulu…

28 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Mendidik Anak Mandiri

Salah satu tugas orangtua adalah melatih anaknya menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang mandiri adalah pribadi yang memiliki inisiatif untuk…

27 Apr 2018 Artikel Keluarga Fuad Nashori No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014