Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

Reformasi Sistem Pendidikan Finlandia Menjadikan Mereka yang Terbaik di Dunia

Reformasi besar-besaran dalam dunia pendidikan di Finlandia telah dimulai…

Perlu Tidak Ulang Tahun Anak Dirayakan?

Anak mulai mengerti kebiasaan perayaan ulang tahun pada usia…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Mengenal Dyslexia Pada Anak

Dyslexia (disleksia) merupakan ketidakmampuan belajar (learning disability) yang dialami oleh seseorang dimana individu tidak mampu untuk membaca, menulis, mengeja dan kadang berbicara (seperti dysphasia, echolalia).


Kebanyakan disleksia dialami oleh anak-anak, tanpa penanganan yang tepat dapat berlanjut hingga remaja atau sampai seumur hidupnya. Tingkat gangguan beragam, namun gangguan ini dapat disembuhkan dengan treatment yang tepat.

Anak dengan permasalahan disleksia biasanya memiliki IQ normal rata-rata. Beberapa penelitian menemukan adanya kelainan otak yang mengakibatkan “kesalahan” dalam menterjemahkan informasi yang diterima dari mata (visual) atau telinga (audio) sehingga anak kesulitan dalam mengembangkan penguasaan bahasa.

Disleksia bukan disebabkan langsung dari masalah penglihatan, pendengaran atau berhubungan dengan retardasi mental, kerusakan otak atau IQ yang rendah. Beberapa ahli membedakan antara permasalahan dengan kesulitan belajar. kedua ini memiliki IQ kisaran @65 dan berhubungan erat dengan anak-anak gangguan mental

Strategi

• Usahakan suasana tenang ketika anak mulai belajar membaca
• Usahakanlah mendapatkan buku bacaan yang juga mempunyai kaset (audio)
• Gunakan buku dengan tulisan yang agak besar dan spasi agak jarang
• Catat beberapa kata yang sulit anak untuk melafalkannya
• Catat tingkat kemajuan yang dicapai anak dan beri penghargaan
• Bolehkan anak menggunakan komputer dalam melatih anak mengarang
• Jangan menggunakan bahan bacaan yang mirip
• Gunakan banyak metode mengajar yang berbeda-beda
• Ajarkan anak mengenai logika yang lebih banyak dibanding hal-hal yang menyangkut memori
• Jangan terlalu banyak siswa dalam satu kelas

Habits

• Jangan biarkan anak sering menonton televisi
• Biasakan anak untuk membaca dengan menyediakan banyak buku bacaan
• Latih anak dalam bermain peran
• Belajar dengan musik
• Temukan cara belajar membaca yang berbeda dari biasanya.
• Berikan poster gambar atau tulisan dikamar atau dinding dimana anak dapat melihat setiap kali waktu.

Saat ini gangguan disleksia dapat disembuhkan, guru tidak boleh mengambil keputusan gegabah untuk memutuskan seorang anak tinggal kelas karena permasalahan disleksia. Pengetahuan guru mengenai siswa disleksis akan membantu siswa dalam meraih cita-cita yang ingin diraihnya dengan tidak dengan menghukumnya untuk tinggal kelas.

Membaca dengan lancar bagi seseorang mungkin sangat mudah setelah melalui proses belajar dari sejak kecil, namun bagi beberapa orang tertentu menemui kesulitan dalam membaca dan memahami sesuatu yang sedang dibacanya. Kedua permasalahan tersebut mudah diketemui pada anak-anak masa sekolah, tidak sedikit juga permasalahan tersebut tidak terdiagnosa selama waktu dikemudian hari.

Permasalahan dalam membaca (disebut dengan istilah dyslexia; alexia) tidak hanya dialami oleh anak-anak saja. Beberapa orang dewasa juga diketemukan permasalahan ini.

Dyslexia (disleksia) sering diketemukan pada anak sekolah dasar, permasalahan tersebut kadang berlanjut pada usia remaja bahkan pada orangtua. Permasalahan-permasalahan yang menyangkut disleksia berupa; membaca secara menyeluruh, mengeja, dan kesulitan dalam mempelajari bahasa asing.

Disleksia yang tidak terdeteksi secara dini mengakibatkan kesulitan dalam membaca yang terus berlanjut dan anak (remaja) memiliki rasa percaya diri yang rendah diantara teman-teman sebayanya. Jadi sangat perlu dilakukan deteksi disleksia secara dini dengan mempelajari simtom-simtom pada anak awal sekolah agar dapat dilakukan penanganan secara tepat.

Hambatan anak dalam mengenal huruf alphabet dan angka merupakan tanda-tanda awal adanya disleksia, biasanya disleksia diketemukan pada anak usia 7 sampai 8 tahun. Diperlukan serangkaian test agar disleksia dan beberapa gangguan permasalahan belajar lainnya dapat ditentukan secara tepat.

Anak dengan permasalahan disleksia juga menunjukkan kesulitan dalam mencontoh tulisan di papan tulis atau dalam menyalin tulisan dari dalam buku, beberapa diantaranya juga sulit dalam mengambil peran dalam olahraga atau bermain. Mereka kesulitan dalam menentukan perannya —sesuatu hal yang mesti dilakukan dalam bermain. Anak dengan disleksia juga kesulitan dalam mengikuti irama musik.

Beberapa anak dengan permasalahan disleksia ini kadang mengalami permasalahan dengan pendengarannya. Diperlukan test untuk mendiagnosa adanya gangguan pendengaran seperti Test of Auditory Perception (TAPS). Gangguan pada pendengaran akan membuat anak kesulitan dalam mengingat atau memahami apa yang didengarnya. Kadang anak juga “tertinggal” mendengar sesuatunya sehingga kedengaran baginya sangat aneh atau lucu. Akibatnya anak meniru kata-kata itu dengan lafal yang berbeda pula.

Faktor Penyebab

Disleksia erat kaitannya dengan trauma kepala atau luka yang disebabkan pada bagian area otak yang mengontrol kemampuan belajar terutama membaca atau menulis. Namun demikian, trauma kepala ini sangat jarang ditemukan sebagai penyebab utama pada anak disleksia.

Penyebab lainnya adalah kerusakan otak bagian kiri (cerebral cortex) yang mengakibatkan anak kesulitan membaca dengan lancar seperti orang dewasa. Disleksia juga dapat diturunkan melalui gen (hereditas) sebagai salah satu faktor penyebab kemunculan disleksia bawaan. Faktor hereditas ini lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki dibanding anak perempuan.

Disleksia juga ditemukan pada anak yang mengalami kelahiran primatur. Kelainan hormonal pada masa perkembangan fetal (bayi) pada masa kandungan awal (tiga bulan pertama) juga dapat mengakibatkan kemungkinan adanya gangguan disleksia dikemudian hari.

Beberapa anak disleksis ditemukan kerusakan pada bagian otak tertentu yang berhubungan dengan fungsi penglihatan dan pendengaran, gangguan ini kadang juga berkaitan dengan gangguan disgrafia (dysgraphia), yakni gangguan dalam menulis seperti kesulitan dalam menggenggam pensil atau menggambar sesuatu diatas kertas.

Simtom

Disleksia merupakan gangguan yang sulit untuk diagnosa secara kasat mata, para ahli melakukan pelbagai cara untuk mendiagnosa permasalahan ini. Mulai dilakukan test kemampuan membaca dengan tingkat level berbeda sampai pada test IQ. Test membaca diharapkan gangguan disleksia dapat terungkap dengan beberapa aspek yang diuji. Test juga dimaksudkan untuk mengukur kemampuan anak mendengar atau menangkap informasi (berupa test pendengaran), menelaah informasi (secara visual) dan dalam mengerjakan perintah-perintah (kinestetika). Kesemua aspek tersebut akan dilihat dari output sang anak dalam merespon test-test yang diberikan; pengucapan (oral), melakukan sesuatu dengan tangannya dan bagaimana fungsi sistem sensorik bekerja yang saling mempengaruhi (modalitas).

Assessment dilakukan untuk mengetahui permasalahan utama yang dialami anak, test dilakukan mencakup lima area; kognisi (inteligensi), kemampuan akademik, komunikasi, sensor motorik, dan perkembangan kesehatan. Test dilakukan dengan melibatkan beberapa tenaga ahli dibidangnya dengan melibakan orangtua.

Beberapa alat test yang sering digunakan dalam mendiagnosa disleksia, misalnya dengan menggunakan alat test khusus seperti; Beery Developmental Test of Visual-Motor Integration, Wechsler Intelligence Scale for Children-Third Edition (WISC-III), Kaufman Assessment Battery for Children (KABC), Stanford-Binet Intelligence Scale, Woodcock-Johnson Psycho-Educational Battery, Peabody Individual Achievement Tests-Revised (PIAT), Wechsler Individual Achievement Tests (WIAT) dan sebagainya.

Beberapa simtom yang menunjukkan adanya tanda-tanda disleksia secara umum;

– Membaca agak lambat dan cenderung terhenti karena kesulitan membaca atau mengeja atau melafalkan suatu kata
– Kesulitan dalam membedakan huruf-huruf tertentu
– Kesulitan dalam mendengar percakapan atau mendengar bacaan
– Masalah dalam mengeja
– Kemungkinan adanya kesulitan menulis juga
– Kesulitan dalam mengulang kata-kata baru atau sukar
– Kesulitan dalam mengarang
– Kesulitan dalam mengerti akan perintah-perintah
– Kemungkinan adanya kesulitan dalam memahami persoalan matematika
– Kesulitan dalam memahami fungsi kata bantu seperti yang, akan dan sebagainya
– Kesulitan dalam membedakan antara kiri dan kanan

Disleksia kadang tidak terdeteksi pada masa anak menjelang usia prasekolah, beberapa diantaranya mulai terindikasi adanya permasalahan disleksi ketika memasuki sekolah ketika anak mulai mempelajari cara mengeja, membaca, atau berhitung.

Meskipun tanda-tanda adanya disleksia ditemukan pada siswa, guru kelas tidak boleh melakukan diagnosa dan mengambil langkah-langkah sendiri dalam melakukan treatment, adanya gangguan disleksia hanya boleh didiagnosa (assessment) oleh tenaga psikologi atau tenaga kesehatan profesional.

Waspada disleksia pada anak kita;

1. Apakah ada diantara anggota keluarga yang memiliki kesulitan dalam belajar mengeja atau membaca semasa masa sekolah dulunya?
2. Apakah anak merasa takut atau cemas ketika akan berangkat sekolah
3. Apakah anak mengalami kesulitan dalam mengeja?
4. Apakah anak mengalami kesulitan dalam membaca atau melewati kata-kata tertentu ketika sedang membaca?
5. Apakah anak kesulitan membaca dengan suara lantang?
6. Apakah anak kesulitan dalam menyalin?
7. Apakah anak kesulitan dalam mengikuti perintah atau instruksi yang tertulis?
8. Apakah anak mengalami kesulitan dalam menghitung mundur seperti 100, 99, 98, 97 dst.
9. Apakah ada anggota keluarga yang kidal?

Bila jawaban Anda YA untuk 4 atau lebih dari beberapa pertanyaan diatas maka perlu dilakukan konsultasi secara mendalam mengenai disleksi pada psikolog atau tenaga kesehatan professional.

Dampak disleksia pada anak;

Disleksia berdampak buruk pada anak;

– Frustrasi ketika belajar membaca
– Kegagalan belajar sekolah
– Enggan atau rasa malas ke sekolah
– Depresi
– Rendah motivasi
– Rendah self-esteem
– Menarik diri dari teman sepermainan
– Kecemasan

Treatment

Penanganan anak-anak dileksis memerlukan treatment khusus, idealnya dalam sebuah sekolah memiliki tenaga psikologi atau tenaga kesehatan professional, sehingga anak-anak dileksis dapat ditangani secara khusus. Orangtua perlu dilibatkan dalam setiap penanganan yang dilakukan.

Test-test yang diberikan perlu persetujuan orangtua dengan demikian orangtua di rumah juga ikut berperan selama proses penyembuhan. Test yang diberikan pada anak kadang dapat membuat anak menjadi stress oleh karena itu diperlukan suasana yang dapat menciptakan anak merasa senang dengan test-test yang diajukan. Tenaga ahli akan memperhatikan suasana mood anak dengan evaluasi ketat agar anak tidak menjadi tertekan karena test-test yang melelahkan.

Langkah yang diambil oleh pihak sekolah adalah membuat kelas khusus untuk anak dileksis, strategi ini diluar kelas regular merupakan langkah terbaik dibandingkan mereka harus belajar normal bersama siswa yang lain. Biasanya anak-anak dileksis ditangani selama 1 tahun secara efektif.

Anak dileksis membutuhkan dukungan dari lingkungan sekitarnya, termasuk anggota keluarga. Dukungan ini sangat berarti bagi anak untuk melawan disleksia. Peran orangtua dengan menyediakan buku bacaan dirumah akan membantu anak dalam membangun rasa percaya dirinya. Dukungan (supportive) juga dapat membantu anak berhasil dalam bidang lainnya seperti olahraga, hobi, dan kesenian.

Sebelum memulai treatment diperlukan evaluasi secara mendalam untuk mengetahui permasalah spesifik pada anak. Meskipun banyak teori yang menjelaskan mengenai disleksi, namun tidak dapat digunakan satu cara saja untuk treatmen. Tenaga kesehatan dan psikolog juga harus melibatkan pihak sekolah dan orangtua selama proses penanganan. Para ahli akan menyusun rancangan treatment untuk dengan melibatkan beberapa aspek membaca dengan melibatkan pendengaran, penglihatan, berbicara dan melakukan sesuatu (multisensory). Beberapa project penanganan untuk anak-anak disleksia; Metode Slingerland, metode Orton-Gillingham, atau Project READ  [PD]

___________________

Acuan yang perlu ditinjau:

Website

http://www.dyslexia-test.com/ida.html
http://www.dyslexia-adults.com/journal.html
http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=348&page=1#1whatis

Buku

Anastasi, A. (1968). Psychological Testing. 3rd ed.. The Macmillan Company, New York.
Miles, T. R. (1983). Dyslexia: The Pattern of Difficulties . Granada Publishing Co., St Albans
Snowling, M., (1987). Dyslexia. A Cognitive Developmental Perspective, Oxford.

1 comment

  1. Susanti Reply

    Terimakasih sudah berbagi ilmu, Artikel yang bermanfaat dan menambah wawasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Bila Anda Mendapat Tawaran Pemotretan Sensual?

08 Sep 2013 Sayed Muhammad

Gadis-gadis Indonesia bugil mulai bermunculan di internet sekitar tahun 1997. Gambar sensual tersebut bermunculan tidak…

Teknik Relaksasi: Mengurangi Stres

04 Sep 2013 pikirdong

Relaksasi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan sendiri oleh individu untuk mengurangi stres, kekalutan…

Katakan Saja Tidak!

29 Oct 2015 Sayed Muhammad

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar untuk mengatakan "tidak" yang memang kita…

Developmental Milestones: Usia 36 Bulan

14 Oct 2015 pikirdong

Perkembangan Mental Usia 36 Bulan PENGAMATAN PERILAKU Komunikasi Bahasa Menggunakan kalimat dengan sederhana Tingkah laku Berinteraksi dengan orang dewasa dan anak-anak Pekerjaan…

Commitment Phobia

06 Sep 2013 pikirdong

Commitment phobia merupakan bentuk suatu ketakutan (fear) untuk menjalin suatu hubungan yang lebih erat, rasa…

Salah Kaprah tentang HAM

05 Oct 2016 Bagus Riyono

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak dan menyentuh hampir semua aspek kehidupan…

Ketergantungan Komputer dan Internet: Tips dan Treatment

04 Sep 2013 pikirdong

Ketergantungan pada internet dan komputer memberikan dampak buruk dan perilaku baik secara langsung ataupun secara…

Haruskah Menyontek Jadi Budaya?

08 Sep 2013 Fira Friantini

Budaya menyontek sangat identik dengan dunia pendidikan saat ini. Terlebih ketika ujian sedang berlangsung. Tak…

Autism Disorder

05 Sep 2013 pikirdong

Autisme (autism disorder) merupakan gangguan pada sistem syaraf pusat yang berdampak pada gangguan interaksi sosial,…

Memberi Support pada Anak Gangguan Autis

04 Sep 2013 pikirdong

Saat ini diperkirakan sekitar 35 juta anak di dunia mengalami gangguan autisme, angka ini meningkat…

Edisi Ibukota : Tas Tas Integritas!!

15 Sep 2013 Candrawati Wijaya

Salam Tarzan Kota! Sudah sampai manakah Tarzan-Tarzan kota menjelajah?? Harapan saya, kita tetap akan bertemu di…

Kekerasan Terhadap Anak

08 Sep 2013 pikirdong

Kekerasan terhadap anak (child abusive) terjadi dalam pelbagai kultur, etnis atau kelompok masyarakat. Kekerasan dapat…

  • 1
  • 2
  • 3

Kategori Lainnya

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling kita yang kami adakan atas partisipasi teman-teman semua yang rela dan…

03 Sep 2013 Agenda Sosial pikirdong No comments

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak dan menyentuh hampir semua aspek kehidupan kita. Ada hak perempuan, hak…

05 Oct 2016 Artikel Psikologi GIB Psikologi Islami Psikologi Sosial Bagus Riyono Comments (1)

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014