Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

Reformasi Sistem Pendidikan Finlandia Menjadikan Mereka yang Terbaik di Dunia

Reformasi besar-besaran dalam dunia pendidikan di Finlandia telah dimulai…

Perlu Tidak Ulang Tahun Anak Dirayakan?

Anak mulai mengerti kebiasaan perayaan ulang tahun pada usia…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Menjadi Survivor yang Baik

Survivor adalah orang yang terluput dari bencana, orang yang selamat. Dalam tulisan ini, digunakan istilah survivor untuk menekankan pada mereka yang selamat –baik diselamatkan atau menyelamatkan diri- dari bencana. Survivor memiliki pengertian yang lebih positif, karena seseorang berposisi sebagai subjek.

200x200

Survivor anak-anak, remaja, orang dewasa, dan lansia merasakan penderitaan fisik dan psikologis yang besar ketika berhadapan dengan bencana. Depresi, takut yang berlebihan, susah tidur, tidak percaya diri, bahkan post-traumatic syndrome disorder (PTSD) dapat kita jumpai pada korban bencana. Beberapa hari setelah terjadi tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam, saya mencoba mengecek kesaksian dari alumni Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII (Jufniar Jaffar, S.Psi) yang tinggal bersama survivor lain yang ada di Lhokseumawe. “Pak, umumnya survivor tsunami alami hal-hal ini: jantung berdebar-debar, mimpi dikejar air tengah malam, perasaan tenggelam, susah tidur, lemas. Pada orang dewasa, menyalahkan diri sendiri karena dia selamat tapi gak bisa nolong anak istri.”

Sekalipun demikian, banyak survivor yang merespon secara positif atas bencana yang sudah berlangsung. Mereka menunjukkan kelapangdadaan atau penerimaan secara ikhlas atas bencana yang terjadi. Seorang survivor Aceh dalam penelitian yang saya lakukan berkata: “Alloh masih memberikan kesempatan hidup kepada saya untuk perbanyak amal” (AD). Seorang survivor bencana gempa Bantul-Yogyakarta yang menjadi subjek penelitian saya berujar: ”Ya … jadinya dengan tetangga-tetangga itu kita lebih merasakan sependeritaan, sama-sama ngerasain, saling gotong royong. Jadi waktu itu kuta pernah tinggal dua hari di base camp… Sama tetangga lebih akrab. Lebih bisa merasakan kebersamaan gitu lho … Ternyata kalo tetangga itu saudara yang paling deket” (ENP).

Tulisan ini mencoba untuk menganalisis hal yang dapat mengantarkan seorang survivor menjadi good survivor.

 

Pertama: Persiapan psikologis

Indonesia adalah negara rawan bencana alam. Menurut catatan The Global Seismic Hazard Assesment Program, Indonesia merupakan wilayah yang dilintasi secara sinambung jaring kerja geothermal, sehingga tidak aneh jika Indonesia rentan terjadi letusan gunung berapi, gempa bumi, retakan lapisan tanah, dan semburan gas bumi. Indonesia juga termasuk kawasan kemungkinan gempa berskala tinggi karena dikurung oleh lempeng tektonik dengan potensi gempa besar. Selain itu, dikarenakan pemanasan bumi, es di kutub meleleh. Akibatnya, air menjadi pasang, sehingga bumi Indonesia yang sebagian besar berbatasan dengan laut rawan dengan banjir.

Prediksi di atas penting untuk menjadi pengetahuan bersama kita. Salah satu hipotesis psikologis mengungkapkan bahwa bila suatu peristiwa dapat diprediksi kehadirannya oleh manusia, maka hal itu dapat menurunkan keparahan stres yang bakal dialaminya. Manusia lebih menyukai peristiwa yang tidak menyenangkan tapi dapat diprediksi dari pada peristiwa yang tidak menyenangkan tetapi tidak dapat diprediksi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bila kehadiran gempa itu dapat diprediksi oleh penduduk Indonesia yang berada di daerah rawan gempa, tsunami, gunung berapi, banjir, maka mereka memiliki kesiapan psikologis untuk menghadapinya.

Dalam kenyataanya, gempa, tsunami, letusan gunung, bahkan banjir tidak dapat atau sulit diprediksi hari, jam, menit, dan detik kejadiannya. Namun, satu hal sudah diprediksi bahwa daerah-daerah tertentu adalah daerah yang rawan bencana. Karenanya bila masyarakat tahu bahwa mereka tinggal di tempat yang beresiko, maka pengetahuan itu akan dapat dijadikan titik tolak bagi adanya kesiapan psikologis. Karena itu, yang penting dilakukan oleh pemerintah, ahli bencana, dan siapa saja yang peduli bencana adalah memberikan pengetahuan objektif tentang daerah bencana kepada masyarakatnya, sehingga manyarakat memiliki pengetahuan dan selanjutnya persiapan psikologis.

 

Kedua: Meminimalisasi Dampak Bencana

Hipotesis psikologis mengungkapkan bahwa sesuatu dapat menimbulkan stres bergantung pada dapat atau tidaknya suatu peristiwa dikendalikan dan dapat tidaknya seseorang bertindak mengendaliakan diri untuk meminimalkan resiko dan cara membebaskan diri dari resiko dari adanya gempa. Peristiwa gempa, tsunami, gunung berapi dan banjir sendiri tidak dapat dikendalikan, namun orang dapat bertindak meminimalkan resiko dari adanya bencana.

Dampak gempa dapat diminimalisasi antara lain dengan rumah yang kokoh. Sebagian gempa tergolong ringan sampai sedang. Kalau gempa demikian terjadi, rumah-rumah yang tahan gempa akan kokoh, sementara rumah-rumah yang tidak dirancang tahan gempa akan bertumbangan. Oleh karena itu salah satu hal yang perlu digalakkan adalah pembangunan rumah yang tahan gempa. Dari Yogyakarta, Prof. Dr. Ir. Sarwidi, MSCE pernah menawarkan Barrataga (Bangunan Rakyat Tahan Gempa). Melalui lembaganya yang bernama CEVEDS-International, Prof. Sarwidi banyak melatih mandor dan teknisi bangunan bagaimana membangun rumah yang tahan gempa. Dalam pelatihan tersebut, saya sendiri hampir selalu diminta menjadi pemateri aspek psikologis dalam menghadapi gemda

Dampak letusan gunung berapi dapat diminimalisasi dengan rumah lindung darurat. Seorang ahli gempa yang lahir di Lereng Gunung Merapi, Prof. Dr. Ir. Sarwidi, MSCE pernah menawarkan rulinda (rumah lindung darurat) untuk mereka yang ingin selamat bila tiba-tiba gunung berapi meletus. Saat terjadi letusan Gunung Merapi pada 2006 kemarin, rulinda terbukti tahan terhadap lelehan Gunung Merapi.

Dampak banjir dapat diminimalisasi dengan membangun rumah yang bertingkat. Dengan rumah bertingkat, seseorang dapat segera menyelamatkan diri bila tiba-tiba air laut atau sungai yang meluap sampai menggenangi rumah mereka.

Di samping persiapan rasional dengan membangun rumah yang kokoh, upaya yang dapat dilakukan adalah upaya spiritual. Pendekatan spiritual berupa memohon kepada perlindungan Allah SWT saat tidur dapat membantu seseorang terbebas dari terkena resiko buruk gempa, tsunami, letusan gunung, banjir (meninggal mendadak).

 

Ketiga: Tahu Cara Bertindak yang Tepat

Masih berkaitan dengan kemampuan seseorang bertindak mengendaliakan diri untuk meminimalkan resiko dan membebaskan diri dari resiko dari adanya bencana, yang juga patut disosialisasikan adalah tindakan tepat pertama yang semestinya dapat dilakukan saat seseorang mengetahui adanya gempa. Di Jepang, karena yakin akan kekokohan bangunan rumah atau gedung yang mereka tinggali, maka orang-orang yang berada di perkantoran atau rumah tinggal duduk sambil memegang meja atau benda berat yang lain saat terjadi gempa. Di Indonesia, cara yang bertindak yang benar, dengan asumsi sebagian besar rumah belum tahan gempa, adalah sesegera mungkin keluar dari bangunan rumah atau gedung dan mencari tanah lapang (Sarwidi dkk, 2004). Tentu sambil mengajak anggota keluarga dan anggota masyarakat lain untuk keluar. Warga Aceh yang mengetahui tempat tinggalnya terkena gempa segera keluar dari dalam rumah atau gedung-gedung dan menunggu di jalan atau tanah lapang. Sayangnya, tsunami menggempur dan menerjang mereka mereka. Agar cara bertindak benar diketahui dan orang-orang yang berada di daerah rawan gempa terhindar dari resiko gempa, maka perlu diberi sosialisasi dan simulasi cara menghadapi gempa.

 

Keempat: Keyakinan Mampu Tanggung Beban

Keyakinan akan kesanggupan diri menanggung beban berarti yakin kesulitan yang ditanggung tak akan melebihi kesanggupan dirinya untuk menerima beban itu. Apapun ujian yang bakal atau dijalani seseorang, pasti telah tersedia kemampuan psiko-spiritual dan atau kemampuan fisik dalam diri seseorang untuk mampu menerima dan menjalankan beban itu. Orang-orang yang mengadapi bencana meyakini bahwa hatinya akan sanggup sekalipun kehilangan orang yang sangat disayangi atau kehilangan sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya. Seorang survivor mempercayai bahwa sekalipun suatu saat ditinggalkan oleh orangtua yang sangat disayanginya ia tetap yakin mampu menanggung beban ditinggalkan orang terkasih. Allah berfirman: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (QS al-Baqarah, 2:286).

Demikian. Bagaimana menurut Anda?

 

Penulis:

fuad
Fuad Nashori  adalah salah seorang pelopor dan ahli di bidang Psikologi Islami, sehari-hari beliau menjabat sebagai Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, (UII) Yogyakarta. Fuad Nashori adalah penulis tetap untuk rubrik Psikologi Islami di website ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Orientasi Nilai Budaya dan Pemaafan pada Mahasiswa

05 Sep 2015 Fuad Nashori

Abstract The aim of this research is to find out relationship between Javanese cultural value orientation…

Kenakalan Remaja

10 Sep 2013 pikirdong

Bila kita menemukan kata “kenakalan remaja” maka terlintas dalam benak kita, apakah ada yang disebut…

Developmental Milestones: Usia 9 Bulan

14 Oct 2015 pikirdong

Perkembangan Mental Usia 9 Bulan PENGAMATAN PERILAKU Komunikasi Bahasa Menggunakan bunyi tertentu untuk tanda berlainan Tingkah laku Mulai mengerti dengan merespon…

Menopause

09 Sep 2013 pikirdong

Menopause merupakan proses biologis yang alami terjadi pada wanita pada usia 40-60 tahun (pada umumnya…

Schizoid Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian skizoid (schizoid personality disorder) merupakan suatu karakter yang sifatnya menetap dalam diri individu…

Puasa Bicara

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Berbagai hadis Nabi Muhammad memberikan pelajaran pada kita tentang makna puasa. Puasa adalah media bagi…

Haruskah Menyontek Jadi Budaya?

08 Sep 2013 Fira Friantini

Budaya menyontek sangat identik dengan dunia pendidikan saat ini. Terlebih ketika ujian sedang berlangsung. Tak…

Sinopsis: Internet Addiction Disorder

04 Sep 2013 pikirdong

Revolusi komputer dan internet pada saat ini memungkinkan setiap orang untuk melakukan beberapa aktivitas di…

Agenda Sosial Pikirdong

03 Sep 2013 pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling kita yang kami adakan atas partisipasi…

Efek Perceraian pada Anak

12 Sep 2013 Sayed Muhammad

Perceraian merupakan mimpi buruk setiap pasangan menikah, namun kenyataan perceraian merupakan pilihan terbaik yang diambil…

Beberapa Jalan Menetaskan Ide-ide Kreatif Perspektif Psikologi Islami

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Tulisan ini akan menunjukkan proses-proses terjadinya kreativitas dalam perspektif Psikologi Islami. Perspektif psikologi Islami mempercayai…

Hukuman Mati untuk Koruptor

10 Sep 2011 Fuad Nashori

Di tengah maraknya kasus markus yang terjadi di negeri ini, rasanya patut bagi kita untuk…

  • 1
  • 2
  • 3

Kategori Lainnya

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling kita yang kami adakan atas partisipasi teman-teman semua yang rela dan…

03 Sep 2013 Agenda Sosial pikirdong No comments

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak dan menyentuh hampir semua aspek kehidupan kita. Ada hak perempuan, hak…

05 Oct 2016 Artikel Psikologi GIB Psikologi Islami Psikologi Sosial Bagus Riyono Comments (1)

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014