Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

Reformasi Sistem Pendidikan Finlandia Menjadikan Mereka yang Terbaik di Dunia

Reformasi besar-besaran dalam dunia pendidikan di Finlandia telah dimulai…

Perlu Tidak Ulang Tahun Anak Dirayakan?

Anak mulai mengerti kebiasaan perayaan ulang tahun pada usia…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Menyikapi Budaya Beragama yang Beragam

Agama adalah seperangkat keyakinan, aturan, praktik berperilaku yang berasal dari Tuhan. Ia dihadirkan Tuhan di muka bumi agar manusia memiliki jalan yang selamat dalam menjalani kehidupan di dunia menuju kehidupan yang abadi. Agama sendiri (baca: Islam) dirancang Tuhan sesuai dengan fitrah manusia (QS Al A`raf: 172). Dengan beragama secara benar, manusia akan berkembang menjadi pribadi yang paripurna.

sponsor1Seorang penganut agama yang baik adalah seseorang yang meletakkan penyerahan diri kepada Tuhan sebagai hal yang terpenting dalam kehidupannya. Mereka memiliki serangkaian keyakinan berkaitan dengan Tuhan, hal-hal gaib lainnya (malaikat, hari akhir, takdir), kitab suci, dan sebagainya. Dalam kehidupan sehari-hari mereka berperilaku terhadap sesama manusia, tumbuhan, binatang dan seluruh semesta ini sesuai ajaran agamanya. Mereka pun melakukan ibadah sebagaimana keyakinan agamanya itu. Motivasi yang terpenting yang mereka miliki adalah keinginan untuk menyesuaikan diri dengan perintah Tuhan sebagaimana yang ada dalam agama. Gordon W. Allport, seorang ahli psikologi, menyebut orang yang beragama dengan motivasi demikian dengan istilah orientasi agama yang bersifat instrinsik.

 

Budaya Beragama   

Suatu agama memiliki serangkaian cara menyembah Tuhan yang bersifat baku. Dalam perkembangan riil di masyarakat, akan muncul variasi dalam mengekspresikan kehidupan beragama. Saya menyebut ekspresi keberagamaan itu dengan istilah budaya beragama. Sebagaimana budaya pada umumnya, pengertian budaya beragama juga menyangkut seperangkat keyakinan, praktik ritual, perilaku terhadap sesama manusia dan makhluk. Yang namanya budaya, tentu ia merupakan hasil kreasi manusia. Hasil kreasi manusia itu disosialisasikan, dipraktikkan, dan akhirnya terbentuk kebiasaan bersama.

Untuk menggambarkan budaya beragama dan bedanya dengan agama akan saya sampaikan contoh tentang aktivitas pujian . Dalam ajaran agama, diperintahkan agar dikumandangkan adzan dan iqamah saat memanggil umat beragama (Islam) shalat berjamaah di masjid atau mushalla. Aktivitas adzan dan iqamah adalah aktivitas yang dicontohkan Nabi Muhammad. Karenanya, ia adalah ajaran agama (Islam).

Orang-orang Nahdhatul Ulama (NU) mengembangkan aturan baku itu dengan membuat budaya yang disebut dengan istilah pujian . Pujian bisa berisi shalawat Nabi, shalawat nariyah, lagu  ilir-ilir Sunan Kalijaga, 20 sifat wajib Alloh, dan sejenisnya yang dilagukan di antara adzan dan iqamah . Sementara orang-orang Muhammadiyah dan Persis (Persatuan Islam) tidak menyuarakan apapun di antara adzan dan iqamah . Pujian adalah contoh budaya beragama. Sementara adzan dan iqamah adalah ajaran agama.

Demi Keberagamaan yang Lebih Baik

Di kalangan Muslim di Indonesia, kelompok-kelompok keagamaan mengembangkan perilaku beragama dengan menekankan kepada hal-hal tertentu. Pembudayaan hal-hal tertentu didasari keyakinan bahwa hal tersebut dapat meningkatkan kualitas keberagamaan mereka.  Setelah shalat, ada perbedaan kebiasaan antara orang-orang NU dan Muhammadiyah. Kedua jamaah ini sama-sama menganjurkan umatnya untuk beristighfar dan berdzikir kepada Allah. Ini untuk mencontoh Nabi Muhammad yang setiap hari beristighfar 100 kali. Karenanya, beristighfar dan berdzikir adalah ajaran agama. Dalam pelaksanaannya, orang Muhammadiyah lebih suka melakukannya sendiri-sendiri. Sementara orang-orang NU lebih suka melakukannya secara bersama-sama dalam bentuk wirid bersama. Apa yang mereka lakukan didasari oleh keyakinan (budaya beragama) bahwa dengan cara itulah mereka akan meningkat kualitas keberagamaannya.

Kadang-kadang budaya itu terbentuk melalui suatu proses yang belum tentu direncanakan. Orang-orang NU yang umumnya memiliki tradisi membaca al-Qur’an dengan sangat baik. Kalau shalat, biasanya mereka dipimpin oleh imam shalat yang hampir dapat dipastikan mampu membaca al-Qur’an dengan fasikh (terbaca secara sempurna). Sayangnya kadang-kadang barisan pada makmum (yang mengikuti) tidak tertata dengan baik. Di samping itu, kebiasaan sebagian orang NU untuk mengajak atau membiarkan anak-anak balita ke masjid, menjadikan suasana shalat kadang-kadang ramai dengan suara atau perilaku berisik anak-anak. Hal ini berbeda dengan orang-orang Muhammadiyah yang memiliki jamaah orang terpelajar. Saat shalat umumnya mereka memiliki barisan ( shaff ) dalam shalat jamaah yang sangat rapi. Seorang cendekiawan Muslim Indonesia yang sudah almarhum, Nurcholish Madjid, pernah membuat joke (guyonan) mengenai masalah ini. Kalau ada jamaah shalat dengan imam yang membaca al-Qur’an dengan sangat baik namun makmum (yang mengikuti) kurang berbaris secara rapat dan rapi, berarti itu jamaah NU. Bila imamnya membaca al-Qur’an dengan bacaan yang standar namun barisannya sangat rapi, maka itu adalah jamaah shalat Muhammadiyah.

Budaya Beragama yang Kontroversial   

Sebagian besar budaya beragama yang dikembangkan oleh umat beragama (baca: Islam) mengacu kepada ajaran agama yang baku yang bersumber al-Qur’an, al-Hadits, dan penafsiran para ulama salaf (kuno) atas al-Qur’an dan al-Hadits. Dalam kehidupan beragama, umat beragama kadang berhadapan dengan situasi-situasi yang khas. Keadaan ini kadang memunculkan keharusan ijtihad (berpikir yang sungguh-sungguh untuk meningkatkan kualitas beragama) di kalangan sementara ulama. Dengan ijtihad itu mereka mengembangkan budaya beragama yang khas. Budaya beragama ini kadang “dipandang” keluar dari jalur ajaran agama. Contoh yang paling terkenal adalah Ahmadiyah. Mereka mengembangkan keyakinan yang dinilai oleh jumhur (kesepakatan) ulama menyimpang. Dalam keyakinan ulama sebagaimana ditegaskan oleh ayat suci al-Qur’an, nabi terakhir ( khatam al-anbiya’ ) adalah Muhammad SAW.

Berbeda dengan hal di atas, ulama Ahmadiyah mempercayai bahwa masih ada nabi setelah Muhammad, yaitu Ghulam Ishaq Khan. Keyakinan ini menjadikan mereka dipandang menyimpang dalam beragama. Karena dipandang sudah keluar dari jalur ajaran baku agama, maka Dien Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah) mengusulkan agar orang Ahmadiyah tidak menyebut diri beragama Islam, tapi beragama Ahmadiyah. Usulan Dien ini mengacu pada posisi yang diambil pemerintah Pakistan, tempat Ahmadiyah dilahirkan dan berkembang. Di sana, agama Ahmadiyah berdiri sendiri dan terpisah dari agama Islam.

Contoh yang lain adalah praktik beragama di Nusa Tenggara Barat. Sekelompok umat Islam di daerah tersebut menjalankan shalat wajib yang berbeda dibanding yang diajarkan Nabi Muhammad. Ajaran Nabi Muhammad berupa shalat lima waktu dalam sehari mereka ubah menjadi shalat wajib sebanyak tiga kali. Shalat dhuhur dan ashar digabung jadi satu. Maghrib dan isya’ digabung jadi satu. Shalat shubuh dilakukan sebagaimana umumnya. Tentu apa yang mereka lakukan sudah keluar dari jalur agama. Mengapa demikian?

Ternyata pemeluk agama di daerah tersebut kesulitan untuk mendapatkan air untuk berwudhu. Di satu sisi ingin melakukan apa yang diperintahkan agama (yaitu shalat lima waktu). Di sisi lain mereka mencoba mengatasi masalah kesulitan air dengan “menyederhanakan” cara beribadahnya. Namun, dalam Islam, sesungguhnya shalat lima waktu adalah mutlak, kewajiban utama seorang Muslim. Bila ingin melakukan ajaran agama, mereka harus melakukannya sesuai dengan cara darurat yang diajarkan ajaran agama, yaitu dengan tayammum . Tayammum adalah melakukan aktivitas pengganti wudhu tanpa air tapi menggunakan debu.  Kontroversi yang dilakukan saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Barat ternyata juga dilakukan di Jawa Timur. Seorang ustadz bernama Yusman Roy pernah mengajarkan shalat dengan berbahasa Indonesia. Apa yang dilakukannya dimaksudkan agar orang-orang mengerti apa yang diucapkannya dalam shalat. Kita dapat mengerti alasan dari sang ustadz..

Namun, Nabi Muhammad memerintahkan agar orang-orang Islam shalat sebagaimana shalat-nya Nabi, yaitu menggunakan bahasa Arab. Mengapa berbahasa Arab, tidak lain agar setiap Muslim belajar bahasa agamanya. Kalau tidak dapat memahami seluruh ajaran agama, sekurang-kurangnya dapat memahami arti dan makna bahasa Arab yang ada dalam rangkaian ibadah shalat. Penggunaan bahasa Arab memotivasi Muslim untuk lebih akrab dengan agamanya.

Salah satu budaya beragama yang paling menyimpang adalah praktik yang memperkenankan seseorang mengambil hak milik orang lain. Ini sebenarnya lebih tepat disebut “budaya anti agama”. Kelompok agama yang belum dapat penulis sebutkan namanya ini mempercayai prinsip “tujuan menghalalkan cara”. Dalam rangka menegakkan kebenaran yang mereka percayai dari Tuhan, mereka membutuhkan dana perjuangan. Dana itu dapat diambil dari apa yang dimiliki orang-orang lain, yang mereka ambil dengan jalan mencurinya. Dalam keseharian, mereka sering mencuri handphone , laptop , jam tangan, dan sebagainya. Ini mungkin salah satu budaya “teraneh”, dan kadang sulit bagi kita untuk mengerti: ada saja pengikutnya.

Sikap terhadap Budaya yang Kontroversial    

Menyikapi adanya “budaya beragama” pada umumnya, saran yang terbaik adalah memiliki ilmu yang lebih kaya dan lebih mendalam tentang ajaran standar agama. Saat orang-orang NU menghidupkan budaya memberi talqin kepada jenazah yang baru saja dikubur, kita dapat mempelajari ajaran agama tentang tata cara menguburkan jenazah. Dengan memahami ajaran agama yang baku, kita akan tahu mana yang memang berasal dari Tuhan dan utusannya (para nabi) dan mana yang merupakan budaya beragama. Saya rasa setiap agama menganjurkan pengikutnya untuk memiliki ilmu agama dalam tingkat yang advanced . Saya percaya dengan memiliki ilmu agama yang memadai, kita akan kaya informasi dan karenanya dapat memahami dan memaklumi (baca: menoleransi) bila ada kelompok lain yang mengembangkan budaya tertentu. Dengan memiliki pengetahuan standar dalam agama, kita tidak mudah tergiur saat digoda untuk bergabung dengan kelompok-kelompok agama yang boleh jadi merugikan kita.

Sementara itu, berkaitan dengan sikap terhadap budaya beragama “yang menyimpang”, menurut saya kita patut berhati-hati. Saya dapat memahami kekhawatiran sebagian besar ulama dan umat tentang ajaran-ajaran yang nyleneh tersebut. Mereka khawatir keyakinan dan praktik kontroversial tersebut menyebabkan umat mereka menjadi kelompok yang sesat. Dengan kesesatan itu, mereka bukannya masuk surga, tapi justru sebaliknya: menjadi penghuni neraka. Tapi apa kekhawatiran itu memang proporsional?

Kalau seseorang mengkhawatirkan keselamatan orang-orang yang disayangi, itu adalah sesuatu yang wajar. Dengan kekhawatiran itu kita berharap para umat lebih banyak belajar tentang isi ajaran agamanya dan ulama memperbesar usaha untuk meningkatkan pemahaman umat terhadap agama. Usaha semacam ini pasti positif karena dapat menjadikan seseorang lebih mengenal ajaran agamanya.

Selanjutnya, kita tidak berharap kekhawatiran semacam itu diekspresikan dalam bentuk vandalisme. Reaksi yang sangat fatalistik berupa pengrusakan rumah ibadah dan perkantoran, atau penyiksaan fisik dan psikologis atas diri meraka yang kadang kita temui tentu tidak kita kehendaki. Vandalisme tentu bukan cara yang makruf (baik). Kalau ada “budaya beragama” yang menyimpang dari agama, sikap yang terbaik adalah bersikap kritis. Dalam hal ini adalah membandingkan budaya beragama tersebut dengan ajaran agama yang standar. Bila menyimpang jauh, maka itu berarti budaya beragama yang sesat. Kepada umat pada umumnya, kita perlu memberitahukan bagian-bagian mana yang menyesatkan dan perlunya kehati-hatian diri setiap umat atas persuasi kelompok tertentu.

Bagaimana menurut Anda?

Penulis:

fuad
Fuad Nashori  adalah salah seorang pelopor dan ahli di bidang Psikologi Islami, sehari-hari beliau menjabat sebagai Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, (UII) Yogyakarta. Fuad Nashori adalah penulis tetap untuk rubrik Psikologi Islami di website ini

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Efek Perceraian pada Anak

12 Sep 2013 Sayed Muhammad

Perceraian merupakan mimpi buruk setiap pasangan menikah, namun kenyataan perceraian merupakan pilihan terbaik yang diambil…

Post Traumatic Stress Disorder

08 Sep 2013 pikirdong

Situasi stres pada umumnya menghasilkan reaksi emosional seperti; kecemasan, kemarahan, kekecewaan dan depresi. Kegembiraan juga…

Beberapa Jalan Menetaskan Ide-ide Kreatif Perspektif Psikologi Islami

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Tulisan ini akan menunjukkan proses-proses terjadinya kreativitas dalam perspektif Psikologi Islami. Perspektif psikologi Islami mempercayai…

Dependent Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian dependen (Dependent Personality Disorder; DPD) adalah suatu kondisi karakteristik dimana individu sangat tergantung…

Ungkap Sayang kepada Anak

09 Sep 2013 Sayed Muhammad

Anak merupakan dambaan setiap pasangan yang telah menikah. Kebanyakan orangtua sangat menyayangi anak-anaknya. Anak tumbuh…

Post Partum Blues

07 Sep 2013 pikirdong

Post Partum Blues merupakan problem psikis sesudah melahirkan seperti kemunculan kecemasan, labilitas perasaan dan depresi…

Menjadi Diri Anda Sendiri

16 Mar 2007 Sayed Muhammad

Tulisan artikel ini dimulai ketika secara tidak sengaja saya menemukan tulisan Guru Bahasa Inggris ketika…

Identitas Universitas Islam

09 Sep 2013 Fuad Nashori

Dalam kesempatan ini saya ingin membuka kembali wacana tentang Universitas Islam. Persoalan ini penting untuk…

Agenda Sosial Pikirdong

03 Sep 2013 pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling kita yang kami adakan atas partisipasi…

Veyourisme – Paraphilia

06 Sep 2013 pikirdong

Voyeurisms atau veyourisme merupakan perilaku penyimpangan seksual dengan cara mengintip orang lain yang sedang mengganti…

The Creative Process of Indonesian Muslim Writers: An…

10 Sep 2013 Fuad Nashori

ABSTRACT   The purpose of this study is to examine the creative process of Indonesian Muslim writers.…

Schizotypal Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian skizotipal (schizotypal personality disorder) adalah suatu kondisi gangguan serius dimana individu hampir tidak…

  • 1
  • 2
  • 3

Kategori Lainnya

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling kita yang kami adakan atas partisipasi teman-teman semua yang rela dan…

03 Sep 2013 Agenda Sosial pikirdong No comments

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak dan menyentuh hampir semua aspek kehidupan kita. Ada hak perempuan, hak…

05 Oct 2016 Artikel Psikologi GIB Psikologi Islami Psikologi Sosial Bagus Riyono Comments (1)

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014