TwitterFacebookGoogle+

Menyikapi Hasil UN

200x200Hari-hari menjelang pengumuman hasil ujian nasional (UN) menjadi hari-hari yang penuh tekanan dan kecemasan bagi sebagian siswa, orang tua dan guru. Beryukurlah siswa serta guru dan orangtua siswa yang lulus. Selamat berjuang untuk siswa serta guru dan orangtua siswa yang tidak lulus.

 

 

Berdasarkan informasi yang disajikan berbagai media cetak dan elektronik, kita dapat mencatat beberapa reaksi siswa yang mengalami ketidaklulusan UN. Ada yang menjadi super sensitif (baca: sangat mudah tersinggung), menarik diri dari orang lain, hingga perilaku yang ekspresif bahkan agresif seperti kesurupan, dan meledakkan perasaan gagal dengan menyerang orang lain. Sejumlah koran juga memberitakan tentang seorang siswa yang gagal lulus yang memutuskan untuk minum racun.

Ahli psikologi sosial seperti Robert A. Baron dan Donn Byrne pernah menggolongkan empat ragam reaksi manakala seseorang menghadapi kenyataan pahit yang membuatnya merasa tidak nyaman di hadapan orang lain, yaitu proactive (aktif menyelesaikan masalah), loyalty (menunggu dengan harapan masalah dapat terselesaikan dengan sendirinya), exit (melarikan diri dari penyelesaian konflik), dan neglect (menunggu masalah menjadi memburuk dan selesai). Minum racun dan menyerang orang lain adalah contoh menunggu masalah menjadi memburuk (neglect). Kesurupan boleh jadi dapat dijadikan contoh sikap melarikan diri walaupun ini adalah bentuk pelarian diri secara tak disadari (exit). Berhayal bahwa pemerintah akan mengoreksi hasil UN dan dirinya diumumkan sebagai orang yang lulus adalah contoh menunggu masalah terselesaikan dengan sendirinya (loyalty). Tentu saja sikap yang paling diharapkan adalah proactive, yaitu menyiapkan diri untuk menyongsong ujian susulan yang beberapa minggu lagi akan segera digelar pemerintah.

Menurut saya, reaksi-reaksi sesaat seperti merasa gagal, menarik diri dari orang lain, mudah tersinggung, menyalahkan diri sendiri atau orang lain adalah reaksi yang wajar. Umumnya orang merasakan tekanan yang besar manakala mendapati dirinya mengalami kegagalan. Semakin berat kenyataan pahit yang dipersepsikan seseorang semakin besar tekanan yang dialaminya. Semakin tak disangka atau tak dinyana kepahitan yang datang semakin besar stress yang dirasakan seseorang.

Dibutuhkan waktu untuk menerima kenyataan yang pahit itu. Umumnya orang butuh masa untuk menemukan keseimbangan kembali setelah mendapati kenyataan yang tidak diharapkannya. Waktu yang dibutuhkan satu orang dan orang lain berbeda-beda. Dukungan social yang berasal dari keluarga, teman dan guru akan mempercepat penemuan keseimbangan kembali. Orangtua, guru, dan pihak-pihak yang peduli pendidikan perlu hadir dan memberikan dukungan untuk siswa. Saya sependapat dengan Mentri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh agar sekolah-sekolah mengaktifkan program konseling. Demikian juga dengan berbagai perguruan tinggi yang memiliki fakultas/jurusan/program studi psikologi dan jurusan/program studi bimbingan & konseling perlu membuka pintu kerjasama dengan sekolah-sekolah agar dapat secara bersama-sama membantu siswa yang butuh dukungan sosial.

 

Geser Ruang dan Waktu

Sekalipun kita memahami adanya beragam reaksi dari para siswa, setiap orang perlu untuk belajar merespon secara benar. Terlalu lama menarik diri atau marah-marah atau menyalahkan diri sendiri tentu tidak menguntungkan. Setiap orang mesti belajar untuk bereaksi secara benar. Kegagalan seperti ini sekaligus akan menjadi ujian kesabaran dan ketakwaan (QS al-Ankabut, 29:2). Jangan sampai sudah tidak lulus, secara moral-spiritual juga gagal, yaitu tidak sabar dan tidak bertakwa yang ditunjukkan dengan melakukan perilaku yang di luar yang diperkenankan agama, seperti minum racun atau menyakiti orang lain.

Setiap orang perlu belajar bahwa kita kadang bersikap berlebih-lebihan saat kepedihan itu datang. Kalau kemarin langit terasa sudah runtuh, sesungguhnya langit tidak runtuh. Kemarin hari cuma mendung dan kini serta esok langit akan cerah kembali. Setiap kesulitan pasti akan disusul kemudahan. Badai pasti akan berlalu. Saya rasa orang perlu mempercayai dan menghayati ungkapan-ungkapan bijak di atas kemudian meresapkannya ke dalam hatinya. Saya percaya bahwa setiap orang, termasuk penulis dan pembaca tulisan ini, berusaha untuk menemukan kehidupan yang lebih baik.

Secara umum, respon yang saya usulkan adalah mari kita bersikap proaktif. Mari melintas batas ruang dan waktu. Orang yang mengalami kesedihan akan merasakan perbedaan bila dia mampu melintas batas ruang atau tempat. Beranjaklah anda dari tempat anda terpuruk. Bergeserlah. Bergeraklah. Pergilah ke tempat yang lain. Kita akan lihat dunia yang tidak sesuram yang ada dalam diri saat terpuruk. Kita akan lihat keceriaan tetap menghiasi kehidupan ini. Apa yang kita lihat dan dengar dari orang-orang di lain tempat akan memberi insight (pencerahan) hati dan pikiran bahwa dunia tak tak sesuram yang kini menyelimuti orang yang-orang yang merasa gagal.

Selain itu, marilah kita bersikap proaktif dengan melintasi batas waktu. Orang yang sedang terpuruk hendaknya menggeser orientasi waktu. Jangan hanya memikirkan apa yang saat ini atau kini dirasakan. Ingatlah dengan cita-cita yang boleh jadi sangat diidamkan. Cita-cita atau harapan itulah yang dapat membangkitkan diri yang terpuruk. Ingatlah dengan orang-orang sukses di masa lalu di mana mereka juga mengalami keterpurukan, namun perlahan dapat bangkit kembali karena disemangati oleh cita-cita atau harapan yang kuat. Cita-cita besar yang dimiliki para Nabi dan Rasul membuat mereka tak terlalu terganggu dengan luka di tubuhnya atau tekanan yang berlebihan dari orang-orang di sekitarnya. Cita-cita besar Thomas Alva Edison akan adanya kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat manusia membuatnya segera bangkit dari keterpurukannya akibat laboratoriumnya yang meledak.

Di samping itu, kita juga patut menggeser ke masa lalu di mana di masa lalu kita juga adalah pribadi yang pernah meraih sukses. Prestasi di masa lalu patut direnungkan sebagai bukti bahwa kita adalah pribadi yang bisa melakukan sesuatu yang membanggakan. Jangan sampai konsep diri kita yang sudah positif menjadi rusak karena ketidaklulusan UN.

Saya berpikir orangtua, guru, konselor, psikolog, sesame siswa, dan siapapun yang hendak membantu siswa yang tidak lulus dapat menggunakan “konsep geser waktu dan tempat” tersebut. Dengan usaha yang sungguh-sungguh, pasti Tuhan akan membantu kita. Segala sesuatunya akan menjadi lebih baik bila kita berusaha. Dia sudah menjanjikan semua itu.

Demikian. Bagaimana menurut Anda?

Penulis:

fuad
Fuad Nashori  adalah salah seorang pelopor dan ahli di bidang Psikologi Islami, sehari-hari beliau menjabat sebagai Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, (UII) Yogyakarta. Fuad Nashori adalah penulis tetap untuk rubrik Psikologi Islami di website ini

 

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar

Artikel Lainnya

Tanpa Pacar Bikin Bete?

09 Sep 2013 pikirdong

Banyak orang merasa tidak nyaman dengan kondisi hidup sendiri tanpa pacar disamping. Mereka menciptakan momok…

Mencapai Puncak Prestasi dengan Meningkatkan Kualitas Tidur dan…

09 Sep 2013 Fuad Nashori

Dalam sejarah peradaban Islam dan peradaban Barat ada orang yang sangat brilian. Mereka adalah Ibnu…

Agama Dan Lingkungan: Menjadikan Agama Sebagai Dasar Pijakan…

10 Sep 2013 Herdiyan Maulana

Dengan Nama Allah, Maha Pengasih dan Maha Penyayang” “Telah tampak kerusakan di bumi dan di laut…

Menyikapi Hasil UN

19 Jul 2010 Fuad Nashori

Hari-hari menjelang pengumuman hasil ujian nasional (UN) menjadi hari-hari yang penuh tekanan dan kecemasan bagi…

Fetishisme Transvestik – Paraphilia

06 Sep 2013 pikirdong

Transvestitism, atau fetishisme transvestik adalah penyimpangan seksual yang dialami oleh individu heteroseksual (pada pria) untuk…

Pemicu Munculnya Stres

08 Sep 2013 pikirdong

Beberapa faktor yang dianggap sebagai pemicu timbulnya stres (stressor): A. Faktor fisik-biologis 1) Genetika Banyak ahli beranggapan bahwa…

Gangguan Kecemasan (Anxiety Disorder)

08 Sep 2013 pikirdong

Kecemasan merupakan hal yang normal terjadi pada setiap individu, reaksi umum terhadap stress kadang dengan…

Morphine

10 Sep 2013 pikirdong

Morphine (morphia), telah diteliti pertama sekali oleh F. W. A. Setürner berkisar tahun 1805-1817. Morfin…

Kenakalan Remaja

10 Sep 2013 pikirdong

Bila kita menemukan kata “kenakalan remaja” maka terlintas dalam benak kita, apakah ada yang disebut…

Post Partum Blues

07 Sep 2013 pikirdong

Post Partum Blues merupakan problem psikis sesudah melahirkan seperti kemunculan kecemasan, labilitas perasaan dan depresi…

Berbagi Berbuah Nikmat

10 Sep 2013 Ardiman Adami

Pernah mendengar kisah ‘Sepotong Roti’ dari Ustadz Yusuf Mansur? Jika belum, ceritanya begini: Alkisah, ada…

Mengkritik dengan Tepat

05 Oct 2013 Sayed Muhammad

Kritik dapat dilakukan oleh siapapun, namun tidak semua kritikan yang dilontarkan dapat diterima dengan sikap…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

Muslim yang Ketakutan

Ada rasa takut, khawatir saat mau nge-share tulisan ulama yang dicap radikal. Takut dianggap pro HTI, pro FPI, ekstrim, radikal,…

30 May 2018 Khairrubi Kolom Ruby Kay No comments

Mendidik Anak dengan Sepenuh Hati

Mendidik atau mengasuh anak dengan sepenuh hati itu artinya mendidik anak dengan pendidikan Islam. Hanya dengan pendidikan Islam saja orangtua…

23 May 2018 Artikel Keluarga Psikologi Islami Irwan Nuryana Kurniawan Comments (1)

Biar Anak Rajin Ke Masjid

Saya dan istri saya ingin semua anak rajin ke masjid. Yang kami tahu adalah nanti yang mendapat naungan dari terik…

29 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Ketika Si Anak Memilih Jalannya Sendiri

Orangtua berupaya agar anaknya memilih jalan yang terbaik yang menjamin masa depannya. Tugas orangtua yang pertama tentu adalah mengarahkan. Dulu…

28 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Mendidik Anak Mandiri

Salah satu tugas orangtua adalah melatih anaknya menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang mandiri adalah pribadi yang memiliki inisiatif untuk…

27 Apr 2018 Artikel Keluarga Fuad Nashori No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014