DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic…

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa…

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Mungkinkah Umat Islam Menjadi yang Terbaik?

Pengantar

Ketika Samuel Huntington membuat tesis bahwa benturan peradaban (clash civilization) di masa yang akan datang melibatkan Barat versus Islam, dalam hati saya ada ‘rasa senang’ sekaligus sebuah pertanyaan. Tesis tersebut sekurang-kurangnya menunjukkan secara potensial komunitas Muslim masih diperhitungkan dalam percaturan global. Namun, dalam hati saya juga bertanya: Betulkah komunitas Muslim benar-benar mampu menjadi umat yang terbaik dan memiliki kekuatan untuk menandingi kekuatan Barat?

 

Kondisi Komunitas Muslim saat ini

200x200

Komunitas Muslim sering digambarkan sebagai komunitas besar yang “patut dianggap remeh” dan “punya masalah rendah diri”. Komunitas Muslim sering digambarkan sebagai “berada dalam barisan paling belakang di antara berbagai umat” atau “berada di anak tangga terbawah bangsa-bangsa”. Dengan komunitas yang jumlahnya melebihi satu milyar, ternyata komunitas Muslim tidak tampak kekuatannya dan bahkan sering menjadi bulan-bulanan oleh sejumlah bangsa/komunitas lain. Contoh klasik kelemahan komunitas Muslim adalah pertarungan klasik antara Palestina yang mayoritas Muslim dan Israel yang mayoritas Yahudi. Israel hanya sebuah negara kecil di antara puluhan negara Arab yang berideologi sama dengan Palestina. Sayangnya bangsa Arab, Persia dan Negroid yang mengelilingi Palestina tidak punya kekuatan untuk menandingi Israel selama berpuluh-puluh tahun. Kasus lain, yaitu Afghanistan dan Irak, semakin menegaskan kelemahan umat Islam.

Kelemahan komunitas Muslim ini boleh jadi bersumber dari psiko-sosio-kultural yang ada dalam diri komunitas Muslim. Rasa percaya diri yang rendah disinyalir sebagai salah satu hal yang menjadikan kekuatan komunitas Muslim tidak tampak. Kasus Indonesia dan Arab Saudi adalah contohnya. Indonesia adalah negara dengan komunitas muslim terbesar di dunia. Namun, arah ekonomi dan politiknya sangat kental dibayang-bayangi oleh kepentingan Amerika Serikat. Arab Saudi adalah negara dengan kekuatan ekonomi yang luar biasa, namun politik luar negerinya lebih banyak dikendalikan oleh Washington. Muncul pertanyaan: mengapa tidak berdiri tegak sebagaimana Republik Islam Iran? Ya, Iran adalah satu negara di antara puluhan negara Muslim yang tampak kepercayaan dirinya. Bila bangsa-bangsa Muslim memiliki kepercayaan diri yang kuat, maka kita akan tumbuh bersama menjadi umat terbaik.

Pada kesempatan ini mari kita renungkan kekuatan potensial komunitas muslim yang dapat mengantarnya menjadi umat terbaik?

 

Kekuatan Potensial Komunitas Muslim

Saya tentu saja memiliki keyakinan akan hadirnya dan berkembangnya kekuatan Muslim di masa-masa yang akan datang. Saya teringat dengan pernyataan Syaikh Muhammad Al-Ghazali, mantan rektor Universitas Al-Azhar, yang mengatakan bahwa pada akhir zaman nanti akan lahir peradaban keagamaan di mana Islam (dan komunitas Muslim) akan berdiri pada barisan paling depan sebagai pewaris dunia. Lebih lanjut al-Ghazali mengungkapkan bahwa sebelum dunia berakhir peradaban Islam ini kelak akan memimpin dunia. Pandangan Syaikh Muhammad al-Ghazali ini didasari oleh QS Ali Imran, 3: 55.

Bila komunitas Muslim semakin menghayati kekuatan ajaran agamanya, maka potensi kebangkitannya akan memancar. Bunga-bunga kebangkitan muslim akan mekar. Apa potensi kekuatan komunitas Muslim yang harus dibangkitkan?

Pertama: keyakinan. Setiap Muslim mempercayai bahwa penentu segala sesuatu adalah Allah ‘azza wa jalla. Kalau kita yakin bahwa langkah-langkah kita diridhai Allah, maka tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Keyakinan kepada pertolongan Allah akan memantapkan komunitas Muslim maupun individu Muslim untuk menatap masa depan dengan kepercayaan diri yang lebih tinggi. Ketika Shalahuddin al-Ayyubi memimpin umat Islam dalam perang Salib, keyakinan akan pertolongan Allah-lah yang membantu kemenangannya. Ketika Bung Tomo memimpin gerakan 10 November, pekik keyakinan Allah-lah yang menguatkan langkah-langkah pahlawan Muslim Indonesia.

Kedua: konsep ummah. Berbeda dengan ahli sosiologi yang mempercayai mempercayai ikatan darah (gemeinschaft by blood) sebagai ikatan dalam komunitas yang paling utama, Ismail Raji al-Faruqi mempercayai ideologi sebagai perekat pokok komunitas Muslim. Ideologi inilah yang menjadi penghubung antar umat Islam di berbagai belahan dunia. Komunitas Muslim memiliki kesadaran sebagai ummah. Di manapun Muslim berada, mereka adalah saudara. Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, demikian salah satu ungkapan dalam al-Qur’an. Ketika orang-orang Bosnia Herzegovina menjadi objek kekejaman orang-orang Serbia, komunitas Muslim yang berada di berbagai belahan dunia lain merasakan sakit atas penderitaan yang dialami saudaranya. Ketika muslim Afghanistan dan Irak menjadi sasaran kebrutalan tentara Amerika, muslim yang lain berempati dengan saudara-saudaranaya ini.

Ketiga: prinsip kesetaraan dan penghargaan kepada multikultur. Salah satu kekuatan komunitas Muslim adalah prinsip kesetaraan atau kesamaan yang diterapkannya dalam pergaulan sosial dengan umat-umat lain. Perlakuan yang setara dengan komunitas lain menjadikan komunitas muslim sebagai perekat. Dengan prinsip ini, komunitas Muslim tidak memiliki jarak dengan komunitas lain. Salah satu prinsip kesetaraan ini dipraktikkan komunitas muslim di India. Sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti Muslim India N. Hasnain (M.G. Husain, 2003) menunjukkan bahwa komunitas Hindu Terdaftar (Hindu yang berasal dari kalangan kasta bawah) lebih cenderung bersahabat dengan komunitas Muslim India dan memandang komunitas Muslim dengan cara pandang yang lebih baik dibanding dengan komunitas Hindu Kasta Formal (kasta tinggi dalam agama Hindu).

Mengapa demikian? Tidak lain adalah karena diaktualisasikannya prinsip kesetaraan. Saya percaya bila prinsip penghargaan terhadap sesama ini dikembangkan oleh komunitas Muslim, maka ini akan menumbuhkan respek (penghormatan) dari komunitas lain. Semua itu akan memperlancar komunitas dalam pergaulan antar individu hingga pergaulan global.

Pada giliran berikutnya, penghargaan terhadap sesama memungkinkan berkembangnya penghargaan pada keragaman kultur atau multikultur. Salah satu ciri muslim adalah toleran terhadap ajaran agama lain. Pernyataan al-Qur’an ”lakum diinukum wa liyadiin” (untukkmu agamamamu dan untukku agamaku”. Umat Islam sudah diajari dan belajar dari orang-orang penting dari masa lalu, yang intinya adalah penghargaan terhadap keragaman manusia dari berbagai hal, seperti ras, budaya, dan sebagainya.

Kalau komunitas politik Muslim Indonesia mengharapkan dapat diterima secara baik oleh komunitas non-Muslim, maka penghargaan terhadap multikultur ini adalah salah satu syarat kesuksesannya.

Keempat: Sinergi dan Kompetisi. Kekuatan potensial lain dalam diri Muslim adalah hidupnya kompetisi dan sinergi sekaligus. Dua kata kunci seperti dua kata yang berlawanan, namun ia bisa jadi dua kata yang berjalin berkelindan. Islam mengajarkan kepada setiap Muslim untuk ”fastabiqul khairat” (berlomba-lomba dalam kebaikan). Ini mengisyaratkan ajaran kompetisi diperkenankan oleh Islam. Kalau komunitas Muslim menghidupkan kompetisi, maka ini akan memacu munculnya karya-karya dan putra-putra terbaik dari kalangan Muslim. Bila prinsip ini diterapkan dalam politik misalnya, maka komunitas muslim hendaknya memilih calon yang terbaik sebagai calon wakil rakyat.

Sekalipun demikian, komunitas muslim juga hendaknya mementingkan sinergi. Ungkapam Alloh ’azza wa jalla agar kita ”bekerjasama dalam kebaikan dan taqwa” mengisyaratkan pentingnya bekerjasama satu dengan yang lain. Dulu, Amirul Mukminin Umar bin Khattab berhasil mencapai puncak kekhalifahan karena berhasil mensinergikan sahabat-sahabat terbaik seperti Ali bin Thalib, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Thalhah dan Zubair.

Sinergi yang dilakukan tidak hanya terarah kepada sesama Muslim, tapi juga dapat dijalankan dengan komunitas lain. Di masa lalu ada sebuah nama yang begitu mencintai Islam, namun kemampuannya bersinergi dengan non-Muslim sangat baik, yaitu Muhammad Natsir, mantan perdana mentri di awal-awal kemerdekaan Republik Indonesia. Di zaman moderen ini, ada seorang ilmuwan Muslim yang taat –Prof. Dr. Abdus Salam– yang pernah menerima Nobel Fisika, juga memiliki kemampuan bersinergi yang luar biasa dengan kolega-koleganya dari Eropa dan bagian dunia lain. Beliau sendiri berasal dari Republik Islam Pakistan.

 

Kelima: Pengembangan Sifat-sifat Positif

Beberapa sifat positif manusia yang dulu menjadi karakter komunitas Muslim dan sekarang tampak kurang berkembang adalah keberanian. Setiap komunitas Muslim mendapat tugas untuk menjadi umat terbaik yang melaksanakan amar maruf, nahi mungkar dan percaya kepada Alloh. Tugas-tugas di atas dapat dilaksanakan dengan baik bila komunitas muslim memiliki keberanian. Apa yang ditunjukkan oleh Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dalam menyikapi sikap arogan Amerika patut menjadi renungan dan teladan bagi kita. Ia menunjukkan secara meyakinkan karakter Muslim yang sudah ditunjukkan oleh para sahabat. Pada zaman Nabi ada sebuah contoh keberanian yang sulit dicari tandingannya sampai saat ini, yaitu ketika Ali bin Abi Thalib bersedia tidur di tempat tidur Rasulullah saat Rasulullah meninggalkan rumah untuk berhijrah ke Madinah. Menurut saya, keberanian adalah salah satu sifat positif yang saat ini tidak terasah dalam diri Muslim.

Sifat positif lainnya yang sepatutnya dikembangkan adalah mencintai sesama, memaafkan, murah hati, dan sebagainya.

Kalau sifat-sifat positif ini diimplementasikan oleh komunitas Muslim dengan sasaran Muslim maupun non-Muslim, maka umat Islam akan menjadi umat yang berkarakter kuat dan, tidak kurang dari itu, persepsi serta perlakuan dari komunitas non-Muslim terhadap komunitas Muslim akan lebih positif.

 

Penutup

Agar umat Islam lebih siap menghadapi globalisasi, maka prinsip yang semestinya dipegangteguhi adalah rahmatan lil ’alamin. Para Rasul diutus Allah kepada manusia di dunia ini adalah untuk menghadirkan rahmat (kebaikan) kepada alam semesta dan isinya ini. Mengapa kita harus siap menghadapi interaksi global, tidak lain adalah agar ajaran rahmatan lil ’alamin yang diperintahkan Allah itu dapat berlangsung secara lebih optimal.

 

Penulis:

fuad
Fuad Nashori  adalah salah seorang pelopor dan ahli di bidang Psikologi Islami, sehari-hari beliau menjabat sebagai Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, (UII) Yogyakarta. Fuad Nashori adalah penulis tetap untuk rubrik Psikologi Islami di website ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

General Anxiety Disorder (GAD)

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kecemasan umum (general anxiety disorder; GAD) merupakan bentuk gangguan kecemasan dimana individu secara terus-menerus…

Pemaafan: Penyembuhan Problem Psikologis Individu dan Bangsa

09 Sep 2013 Fuad Nashori

INTISARI Ada dua istilah yang mirip pengertiannya, yaitu pemaafan dan rekonsiliasi. Pemaaafan (forgiveness) adalah menghapus luka-luka…

Developmental Milestones: Usia 9 Bulan

14 Oct 2015 pikirdong

Perkembangan Mental Usia 9 Bulan PENGAMATAN PERILAKU Komunikasi Bahasa Menggunakan bunyi tertentu untuk tanda berlainan Tingkah laku Mulai mengerti dengan merespon…

Kompetensi Interpersonal Mahasiswa Ditinjau dari Jenis Kelamin

06 Sep 2013 Fuad Nashori

ABSTRACT Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kompetensi interpersonal antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan. Hipotesis…

Idul Adha Barakah 2016

19 Sep 2016 pikirdong

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10…

Berbagi Berbuah Nikmat

10 Sep 2013 Ardiman Adami

Pernah mendengar kisah ‘Sepotong Roti’ dari Ustadz Yusuf Mansur? Jika belum, ceritanya begini: Alkisah, ada…

Spirit Kepemimpinan Profetik

08 Sep 2013 Ardiman Adami

Pernah suatu malam Khalifah Umar bin Khattab berjalan menyusuri lorong-lorong kota Madinah. Bersama seorang pembantunya,…

Puasa Bicara

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Berbagai hadis Nabi Muhammad memberikan pelajaran pada kita tentang makna puasa. Puasa adalah media bagi…

Masturbasi dan Pengaruh Psikologisnya

09 Sep 2013 pikirdong

Masturbasi adalah rangsangan disengaja yang dilakukan pada organ genital untuk memperoleh kenikmatan dan kepuasan seksual…

Histrionic Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian histrionik (histrionic personality disorder) adalah gangguan kepribadian dengan karakter emosi yang meluap-luap…

Intermittent Explosive Disorder

04 Sep 2013 pikirdong

Intermittent explosive disorder (IED; gangguan eksplosif intermiten) merupakan gangguan dalam mengontrol impuls seperti adiktif alkohol,…

Kleptomania

06 Sep 2013 pikirdong

Kleptomania merupakan gangguan kebiasaan dan impuls (impulse control disorder) yang mengakibatkan dampak-dampak negatif bagi perkembangan…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders yang ke V terjadi perubahan…

30 Aug 2017 Artikel Psikologi Psikologi Klinis pikirdong No comments

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa tubuh membutuhkan dokter dan bila diperlukan juga, diambil langkah untuk rawat…

24 Aug 2017 Kolom Sayed Muhammad Sayed Muhammad No comments

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014