DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic…

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa…

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Orientasi Nilai Budaya dan Pemaafan pada Mahasiswa

Abstract

The aim of this research is to find out relationship between Javanese cultural value orientation with forgiveness of the university students. The hypothesis set forth is the positive realtionship between Javanese cultural value orientation with forgiveness of the university students. The subject of this research is 100 university students. The sample collecting method uses Javanese cultural value orientation scale and forgiveness scale. Based on on the analysis results using correlation analysis product moment receives a sore of r = 0,227; p < 0,05, which means that there is a significant positive realtionship between Javanese cultural value orientation with forgiveness university students.

Intisari

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara orientasi nilai budaya Jawa dengan pemaafan pada mahsiswa. Hipotesis penelitiannya adalah ada hubungan positif antara nilai budaya Jawa dengan pemaafan. Subjek penelitian ini adalah 100 orang mahasiswa. Alat ukur yang digunakan adalah Skala Pemaafan dan Skala Orientasi Nilai Budaya. Analisis data yang dilakukan dengan teknik analisis product moment menunjukkan angka r = 0,227; p < 0,05, yang berarti ada hubungan positif yang signifikan antara nilai budaya Jawa dengan pemaafan.

 

Kata kunci: pemaafan, orientasi nilai budaya, mahasiswa

 

Pemaafan (forgiveness) adalah upaya untuk menempatkan peristiwa pelanggaran yang dirasakan sedemikian rupa hingga respon seseorang terhadap pelaku, peristiwa, dan akibat dari peristiwa yang dialami diubah dari negatif menjadi netral atau positif (Thompson dkk, 2005). Pemaafan dipercayai sebagai salah satu nilai positif yang memiliki pengaruh yang besar terhadap kehidupan manusia. Karremans dkk (2003) menunjukkan bahwa pemaafan menjadikan seseorang berbahagia. Pemaafan membebaskan emosi negatif dalam dirinya. Hasil penelitian di atas searah dengan hasil penelitian Worthington (2005) yang menunjukkan bahwa dalam diri pemaaf, terjadi penurunan emosi kekesalan, rasa getir, benci, permusuhan, perasaan khawatir, marah dan depresi (murung).

Selain itu, dengan memaafkan individu lebih mampu mengendalikan diri dan mengoptimalkan resiliensi. Hasil penelitian Worthington (2005) membuktikan bahwa memaafkan terkait erat dengan kemampuan orang dalam mengendalikan dirinya. Hilangnya pengendalian diri mengalami penurunan ketika orang memaafkan dan hal ini menghentikan dorongan untuk membalas dendam. Pemaafan dalam hubungannya dengan peningkatan resiliensi pada subjek dewasa akhir telah diteliti oleh Broyles (2005). Meskipun menunjukkan indikasi yang lemah, hasilnya menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik antara pemaafan dan resiliensi pada subjek.

Pemaafan ini layak untuk digali lebih lanjut, karena dalam kehidupan bersama ternyata banyak kejadian yang menyebabkan individu mengalami trauma dan menyimpan sakit hati akibat pergaulannya dengan sesama. Psychology Today (Pennebaker, 2002) melaporkan bahwa dari 24 ribu orang yang disurvei, sebanyak 22% persen perempuan dan 10% lelaki pernah mengalami trauma seksual sebelum mereka berusia 17 tahun. Di antara 200 responden yang diwawancarai Pennebaker (2002), 65 orang memiliki paling sedikit satu trauma masa kecil yang mereka rahasiakan. Apakah orang-orang yang mengalami trauma ini masih terus menyimpan dendam dan sakit hati ataukah memaafkan?

Berdasarkan survei yang dilakukan Nashori, Iskandar, Setiono, dan Siswadi (2011) diketahui bahwa di kalangan mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta terdapat banyak sekali pengalaman mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Beberapa perlakuan yang tidak menyenangkan adalah difitnah, dikhianati, ditipu dan dibohongi, disakiti secara fisik, dilecehkan, sering ‘dimanfaatkan’ orang lain, diputus hubungan oleh pacar, hubungan dekat diganggu orang lain, janji yang tak ditepati, barang yang sangat diperlukan dipinjam tapi tidak dikembalikan, diperlakukan secara acuh tak acuh, dan sebagainya. Di antara 42 subjek yang pernah menerima perlakuan tidak menyenangkan yang sulit dimaafkan, terdapat 39 orang (92,8%) yang mengaku mengungkapkan pemaafan dan 3 orang (7,2%) mengaku tidak dapat memaafkan. Di antara 39 orang yang mengucapkan pemaafan, ada 29 orang (74 %) yang mengungkapkan secara mantap dan terdapat 10 orang (26%) yang mengungkapkan dengan catatan. Catatan yang dapat dikemukakan adalah memaafkan dalam hati (5 orang), mengungkapkan pemaafan melalui sikap dan perilaku (2 orang), mengungkapkan pemaafan tapi tak dihiraukan pelaku (1 orang), memaafkan tapi masih menjaga jarak (1 orang), dan memaafkan tapi masih kesal (1 orang),

Pemaafan dikembangkan oleh berbagai tradisi dimaksudkan untuk mewujudkan keharmonisan atau keselarasan. Kerukunan atau keselarasan (harmony) dipandang oleh umumnya bangsa-bangsa Asia sebagai salah satu prinsip dalam kehidupan bersama. Diungkapkan oleh Koentjaraningrat (1999) bahwa etnis Jawa dikenal sebagai etnis yang mementingkan harmoni. Dengan kuatnya nilai harmoni pada orang Jawa, maka setiap individu etnis Jawa dituntut untuk menomorduakan bahkan bila perlu melepaskan kepentingan-kepentingan pribadi demi kepentingan bersama. Diungkapkan oleh Magnis-Suseno (1999) bahwa masyarakat Jawa diharapkan oleh tradisinya mampu mengontrol diri sehingga mampu bersikap tenang dan tidak menunjukkan rasa kaget atau bingung sedemikian rupa sehingga orang lain merasa kaget atau bingung.

Orang Jawa dilatih untuk tidak mengungkapkan hal-hal yang tidak enak atau tidak menyenangkan secara tidak langsung atau secara terbuka. Pada umumnya orang Jawa dianggap sopan jika dapat menghindari keterusterangan yang serampangan. Reaksi yang muncul saat menghadapi peristiwa traumatis sejauh mungkin menunjukkan adanya tenggang rasa. Tenggang rasa akan banyak berguna menghindari konflik dan tetap menjaga agar hubungan antar pribadi atau antara pribadi dengan kelompok tetap berlangsung normal (Magnis-Suseno, 1999).

Nilai budaya yang mementingkan prinsip rukun (harmony) sebagaimana telah diungkapkan di atas bagaikan pedang bermata dua. Dengan prinsip rukun tersebut individu etnis Jawa akan berupaya agar hubungan dengan orang lain, termasuk orang yang berperilaku tidak menyenangkan atau menyakitkan terhadapnya, tetap berjalan normal. Bila orang menerima rasa sakit yang bersumber dari perlakuan tidak menyenangkan orang lain dengan sikap narima dan ikhlas, maka masalah bisa saja selesai. Sikap narima dan ikhlas akan memudahkan individu untuk memaafkan. Namun, sebagaimana diungkapkan Pennebaker (2002), tidak adanya pengungkapan diri akan memperbesar emosi negatif yang ada dalam diri seseorang. Akibat serius dari penyimpanan emosi negatif yang bertumpuk dan membesar, sebagaimana diungkapkan Nashori dan Setiono (2010) adalah munculnya perilaku agresif yang tak diduga-duga dari individu tersebut.

Pemaafan yang ditunjukkan individu dipengaruhi oleh beberapa faktor. Penelitian ini akan mengajukan hipotesis yang intinya adalah orientasi nilai budaya mempengaruhi pemaafan (McCullough, 2001). Dalam penelitian ini nilai budaya yang dijadikan dasar adalah nilai budaya Jawa. Orientasi nilai budaya Jawa dapat dibagi dalam empat dimensi, yaitu nilai diri, nilai hubungan dengan sesama, nilai hubungan dengan Tuhan dan nilai hubungan dengan alam (Suharto & Rukmana, 1991). Sekalipun demikian, penelitian ini khusus akan mencermati tiga dimensi nilai budaya Jawa, yaitu nilai diri, nilai hubungan dengan sesama, nilai hubungan dengan Tuhan (Idrus, 2004). Hipotesis yang diajukan adalah ada hubungan positif antara nilai budaya Jawa dengan pemaafan pada mahasiswa.

 

Metode Penelitian

Partisipan penelitian adalah mahasiswa etnis Jawa yang sedang menempuh pendidikan program sarjana dan pascasarjana pada program studi psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia dan Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Total jumlah partisipan adalah 100 orang dengan perincian mahasiswa pascasarjana sebanyak 30 orang dan mahasiswa program sarjana sebesar 70 orang. Mahasiswa UII berjumlah 71 orang, mahasiswa UIN 29 berjumlah orang. Mahasiswa laki-laki berjumlah 40 orang dan mahasiswa wanita berjumlah 60 orang. Usia partisipan berada dalam rentang antara 19 hingga 35 tahun.

Alat ukur yang digunakan adalah Skala Pemaafan yang diadaptasi Subandi (2010) dari Skala Thompson, dkk dengan koefisien korelasi aitem-total bergerak antara 0,306 hingga 0,482, dan reliabilitas dengan koefisien alpha Cronbach 0,803. Alat ukur kedua yang digunakan adalah Skala Orientasi Nilai Budaya Jawa yang disusun oleh Idrus (2004). Alat ukur memiliki koefisien korelasi aitem-total dengan rentang antara 0,3019 hingga 0,6684, dan reliabilitas dengan koefisien alpha Cronbach 0,9573.

Teknik analisis yang digunakan adalah analisis product moment. Analisis product moment dimaksudkan untuk mengungkap korelasi antara variabel nilai budaya terhadap pemaafan dengan variabel pemaafan.

Hasil Penelitian

Ada satu hipotesis yang diuji melalui teknik analisis yang telah disebutkan. Adapun hipotesis yang diuji adalah ada hubungan positif antara orientasi nilai budaya dengan pemaafan.

  1. Uji Normalitas

            Hasil uji normalitas data dengan menggunakan metode Kolmogorv Smirnov Z dipaparkan selengkapnya dalam tabel 1 di bawah ini:

Tabel 1. Resume Uji Normalitas

Aspek P – value Kesimpulan
Orientasi Nilai Diri 0,171 Normal
Orientasi Hubungan dengan Sesama 0,480 Normal
Orientasi Hubungan dengan Tuhan 0,476 Normal
Orientasi Nilai Budaya Jawa 0,932 Normal
Pemaafan 0,228 Normal

Dengan menggunakan cutt off 0,05, maka disimpulkan semua aspek berdistribusi normal.

  1. Uji Linieritas

Hasil uji linieritas data dipaparkan selengkapnya dalam tabel 2 di bawah ini:

Tabel 2. Resume Uji Linieritas

Aspek P – value Kesimpulan
Pemaafan * Orientasi Nilai Diri 0,056 Linier
Pemaafan * Orientasi Hubungan Sesama 0,752 Linier
Pemaafan * Orientasi Hubungan Tuhan 0,560 Linier
Pemaafan * Orientasi Nilai Budaya Jawa 0,215 Linier

Dengan menggunakan cutt off 0,05, maka disimpulkan semua aspek orientasi nilai budaya memiliki hubungan yang linier dengan aspek pemaafan.

  1. Pengujian Hipotesis

Hasil analisis korelasi product moment dan pengujian hipotesis dipaparkan dalam tabel 3 di bawah ini:

Tabel 3. Resume Korelasi Product Moment dan Pengujian Hipotesis

Aspek r p– value Kesimpulan Pengujian R Square (Besar Sumbangan)*
Pemaafan * Orientasi Nilai Diri 0,321 0,001 Hipotesis didukung 0,103

(10,3%)

Pemaafan * Orientasi Hubungan Sesama 0,025 0,807 Hipotesis ditolak 0,00063 (0,063%)
Pemaafan * Orientasi Hubungan Tuhan 0,284 0,004 Hipotesis didukung 0,0807

(8,07%)

Pemaafan * Orientasi Nilai Budaya Jawa 0,227 0,023 Hipotesis didukung 0,0515

(5,15%)

Berdasar Tabel 3 di atas dapat disimpulkan bahwa secara umum ada hubungan positif yang signifikan antara orientasi nilai budaya Jawa dengan pemaafan (r = 0,227; p < 0,05). Selain itu, secara terinci diketahui bahwa (a) ada hubungan positif yang sangat signifikan antara orientasi nilai diri dengan pemaafan (r = 0,0,321; p < 0,01), (b) ada hubungan positif yang sangat signifikan antara orientasi nilai hubungan dengan Tuhan dengan pemaafan (r = 0,284, p < 0,01), dan (c) tidak ada hubungan antara orientasi nilai hubungan dengan sesama dengan pemaafan (r = 0,025; p > 0.05). Selain itu, diperoleh hasil bahwa sumbangan relatif orientasi nilai budaya Jawa terhadap pemaafan adalah 5,15%.

 

Pembahasan

Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan positif antara orientasi nilai budaya Jawa dengan pemaafan. Hasil temuan ini sesuai dan mendukung pendapat ahli yang mempercayai bahwa nilai budaya berpengaruh terhadap pemaafan. Pandangan bahwa nilai budaya berkaitan dengan pemaafan disampaikan oleh McCullough (2001). Ia berpandangan bahwa nilai-nilai budaya dan nilai-nilai agama mempengaruhi pemaafan individu.

Koentjaraningrat (1985) menjelaskan bahwa nilai budaya merupakan tingkat yang paling tinggi dan paling abstrak dari adat istiadat. Hal ini disebabkan nilai-nilai budaya merupakan konsep-konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari masyarakat, yang dianggap bernilai, berharga, dan penting dalam hidup, sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman hidup bagi masyarakat. Oleh Koentjaraningrat (1985), nilai budaya Jawa diartikan sebagai konsep-konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pikiran, sebagian besar dari masyarakat mengenai apa yang dianggap bernilai, berharga, dan penting dalam hidup, sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman hidup bagi masyarakat Jawa.

Di antara tiga aspek orientasi nilai budaya sebagaimana yang dikemukakan oleh Suharto dan Rukmana (1991), ternyata aspek orientasi nilai hubungan dengan Tuhan dan aspek orientasi nilai diri memiliki korelasi yang signifikan dengan pemaafan, sementara orientasi nilai hubungan dengan sesama tidak memiliki korelasi yang signifikan dengan pemaafan. Temuan ini secara umum menunjukkan bahwa pemaafan yang merupakan keputusan dalam diri seseorang sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai positif yang langsung mengatur kondisi internal individu dan nilai-nilai yang mengatur hubungan diri dengan Tuhan. Sebaliknya, nilai-nilai yang mengatur bagaimana hubungan dengan sesama manusia, tidak relevan dengan pemaafan.

Orientasi nilai hubungan dengan Tuhan terdiri atas narima, pengabdian dan eling (Suharto & Rukmana, 1991; Idrus, 2004). Tentang peran nilai hubungan dengan Tuhan terhadap pemaafan, diungkapkan oleh Magnis-Suseno (1999) bahwa sikap narima dan ikhlas akan membantu individu memaafkan perlakuan tidak menyenangkan atau perlakuan tidak adil dari orang lain. Narima berarti menerima segala yang ada tanpa protes dan pemberontakan, sedangkan ikhlas berarti bersedia untuk melepaskan individualitas sendiri. Lebih lanjut Nashori dan Setiono (2010) mengungkapkan bahwa nilai penting yang ikut mempengaruhi pemaafan individu adalah eling atau mengingat Tuhan. Salah satu prinsip yang berkaitan dengan nilai ketuhanan adalah ojo lali saben ari eling mareng Pangeranira (jangan lupa setiap hari ingat kepada Tuhan). Dengan selalu ingat kepada Tuhan, individu Jawa akan mudah memperoleh insight untuk memaafkan. Hal ini karena Tuhan dipahami individu sebagai sosok yang suka memaafkan manusia dan suka terhadap manusia yang memaafkan. Hasil penelitian pendahuluan yang dilakukan Nashori, Iskandar, Setiono, dan Siswadi (2011) menunjukkan bahwa pemaafan individu dipengaruhi oleh keyakinan Allah sebagai sumber kekuatan untuk memaafkan, maksud hati untuk mengikuti sifat Tuhan yang maha pemaaf dan penghapus dosa, keyakinan kejadian yang tidak menyenangkan sebagai ujian dari Allah, memandang kejadian sebagai skenario Tuhan, dan prasangka baik terhadap Allah.

Hasil penelitian ini menunjukkan peran penting nilai hubungan dengan Tuhan terhadap pemaafan mendukung hasil penelitian sebelumnya bahwa budaya yang menekankan pentingnya beragama, yang di dalamnya pasti sangat mementingkan pemeliharaan hubungan dengan Tuhan, akan mengantarkan individu menjunjung tinggi pemaafan. Penelitian yang berjudul Explorative Study of Character Strengths on Indonesian People pernah dilakukan Nurwianti dan Oriza (2010). Salah satu character strengths adalah pemaafan. Hasil penelitian yang dilakukan pada 1.066 orang (540 laki-laki, 526 perempuan) yang berusia 18-55 pada etnis Jawa, Sunda, Betawi, Minang, Batak, dan Bugis ini menunjukkan bahwa orang Minang memiliki skor pemaafan yang lebih tinggi dibanding yang lain. Sebagaimana diketahui, salah satu motto yang diyakini masyarakat Minang adalah adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah (adat berbasis syariat dan syariat berbasis kitab suci). Dengan demikian, adat atau budaya yang menjunjung tinggi masalah ketuhanan akan mendorong pemeluknya untuk memberikan pemaafan terhadap orang lain yang berbuat salah atau dzalim kepadanya.

Selanjutnya, hasil penelitian menunjukkan peranan orientasi nilai diri terhadap pemaafan. Orientasi nilai diri, menurut Idrus (2004), terdiri atas sabar, jujur, dan pengendalian diri. Dalam Kitab Sasangka Djati yang ditulis Martawardaya (1983), sabar diartikan sebagai berhati lapang, kuat menderita segala coba, tetapi bukan orang yang putus asa, melainkan orang yang berhati sentosa, tidak sempit budinya. Jujur secara harfiah adalah mengakui, berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai kenyataan dan kebenaran. Bila berpatokan pada arti kata yang baku dan harafiah, maka jika seseorang berkata tidak sesuai dengan kebenaran dan kenyataan atau tidak mengakui suatu hal sesuai yang sebenarnya, orang tersebut sudah dapat dianggap atau dinilai tidak jujur, menipu, mungkir, berbohong, munafik atau lainnya. Sementara itu, yang dimaksud dengan pengendalian diri adalah pengendalian pikiran dan perasaan yang diekspresikan dalam wujud nata swara atau selalu berbicara dengan baik dan benar, bener tur pener (Susanto dkk, 1992).

Hasil penelitian sebelumnya memberi dukungan tentang peran pengendalian diri terhadap pemaafan. Worthington (2005) membuktikan bahwa pengendalian diri berkait erat dengan pemaafan Hilangnya pengendalian diri mengalami penurunan ketika orang memaafkan dan hal ini menghentikan dorongan untuk membalas dendam. Orang yang mengendalikan diri dapat nata swara sehingga ungkapannya diupayakan selalu baik dan benar (bener tur pener). Salah satu ungkapan yang baik adalah memberikan pemaafan kepada orang lain yang bersalah. Hasil penelitian Wallace (2008) menunjukkan bahwa orang yang menyatakan pemberian maaf biasanya menjadikan orang yang mendzalimi si pemaaf tersebut untuk tidak melakukan tindak kedzaliman serupa di masa mendatang.

Temuan penelitian berikutnya yang dapat dicatat adalah tidak adanya peran aspek orientasi nilai hubungan dengan sesama terhadap pemaafan. Hal ini berbeda dengan dugaan sebelumnya. Sebagaimana disampaikan Nashori dan Setiono (2010) bahwa etnis Jawa mengembangkan kebiasaan atau pola sikap dan perilaku yang khas dalam mengungkapkan perasaan secara umum dan secara khusus perasaan yang menyakitkan. Etnis Jawa dilatih untuk selalu menjaga keselarasan atau harmoni yang maknanya adalah individu harus sangat berhati-hati dalam mengungkapkan perasaan. Salah satu ungkapan Jawa yang memegang tinggi prinsip kerukunan atau keselarasan (harmony) adalah ungkapan mikul dhuwur mendhem jero (selalu mengingat kebaikan orang lain, melupakan kesalahan yang diperbuat mereka). Dengan mendhem jero (melupakan kesalahan yang diperbuat orang lain kepada dirinya), maka diharapkan orang dapat hidup secara harmonis dengan orang lain.

Bila hasil penelitian ini dicermati secara kritis, maka orientasi nilai hubungan dengan sesama memang sebatas mengatur bagaimana interaksi dengan orang lain berlangsung. Nilai hubungan dengan sesama tidak mementingkan gejolak perasaan yang ada dalam diri seseorang. Mereka dilatih atau dimotivasi untuk mendhem jero (melupakan kesalahan yang diperbuat orang lain kepada dirinya), namun melupakan memang berbeda dengan memaafkan. Ketika seseorang melupakan kesalahan orang, boleh jadi ia belum memaafkan. Dalam perspektif psikologi kognitif, tak semua pengalaman itu dapat dilupakan, lebih-lebih pengalaman yang luar biasa. Boleh jadi seseorang berusaha melupakan, namun ketika stimulus yang relevan dengan peristiwa yang tidak menyenangkan itu hadir atau ada di hadapannya, maka jejak ingatannya tak dapat dihalangi untuk muncul lagi. Dalam situasi semacam ini, ingatan itu akan muncul lagi dan menjadi kesadarannya. Bila orang memaafkan, maka ingatan itu tak akan mengganggu kondisi emosinya. Namun, jika seseorang tidak memaafkan, maka ingatan akan peristiwa yang tidak menyenangkan akan memancang hadirnya kembali emosi negatif yang dulu pernah ada.

Pertanyaan yang diajukan adalah bagaimana dinamika psikologis orientasi nilai budaya dapat mempengaruhi kepribadian dan pemaafan? Menurut Mc Guirie (Ancok & Suroso, 2008), proses pembentukan dan perubahan sikap dan perilaku seseorang dari tidak tahu/tidak menerima suatu pesan (boleh dibaca: informasi) ke menerima suatu pesan berlangsung melalui tiga proses dasar, yang disebut tiga tahap perubahan sikap, yaitu perhatian (attention), pemahaman (comprehension), dan penerimaan (acceptance).

Attention ‑‑‑ > Comprehension ‑‑‑ > Acceptance

Attention adalah perhatian terhadap pesan. Seseorang tidak akan berubah sikap dan perilakunya apabila tidak memperhatikan pesan yang disampaikan. Karena itu, agar pesan atau informasi dapat diterima, harus ada usaha untuk menarik orang untuk memperhatikan informasi yang disampaikan. Dengan perhatian, pesan menjadi dapat dipahami. Tanpa perhatian, pesan tidak dapat dipahami (Ancok & Suroso, 2008). Berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi individu, dalam hal ini adalah perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang lain, maka individu akan memperhatikan pesan-pesan nilai budaya dari orang-orang yang hadir kepada individu. Pesan untuk tetap bersabar, pasrah kepada Tuhan, tetap menjaga kerukunan, ikhlas menerima segala cobaan, akan diperhatikan individu.

Comprehension adalah pemahaman terhadap pesan. Seseorang yang memperhatikan pesan diharapkan mempunyai pemahaman terhadap pesan yang disampaikan. Terjadi tidaknya pemahaman terhadap pesan sangat ditentukan oleh bermacam‑macam hal, antara lain teknik penyampaian pesan dan bahasa yang dipakai dalam komunikasi. Teknik yang dialogis meningkatkan kemungkinan pemahaman atas suatu pesan. Bahasa yang komunikatif (dalam arti dapat dengan mudah dimengerti) memungkinkan adanya pemahaman terhadap isi pesan (Ancok & Suroso, 2008). Individu pada etnis Jawa akan dapat memahami secara baik nilai budaya Jawa bila teknik penyampaian dan bahasa yuang digunakan pas dengan diri individu. Penggunaan istilah-istilah kunci seperti sabar, pasrah, ikhlas, dan sebagainya akan memudahkan individu untuk memahaminya. Apabila istilah-istilah kunci itu dijelaskan secara tepat dan sesuai dengan konteks yang dihadapi individu, maka individu akan lebih mudah dalam memahami pesan.

Acceptance adalah penerimaan isi pesan. Diterima tidaknya isi pesan sebagai sikap hidup sangat ditentukan oleh pemahaman terhadap pesan dan sejauh mana pesan itu sesuai dengan kebutuhan dan nilai hidup penerima. Pesan‑pesan yang sesuai dengan kebutuhan menjadi sangat mungkin diterima. Sementara pesan yang tidak relevan dengan kebutuhan seseorang akan dicampakkan seseorang. Pesan‑pesan yang searah dengan nilai hidup akan mudah diterima, karena akan memperkuat nilai hidup itu. Sebaliknya, nilai hidup “baru” yang berseberangan jalan dengan nilai hidup yang selama ini diyakini seseorang menjadi lebih kecil kemungkinannya untuk diterima (Ancok & Suroso, 2008). Individu yang sedang menghadapi perlakuan yang tidak menyenangkan akan mudah untuk menerima nilai-nilai seperti sabar, narima, ikhlas, rukun, hormat, karena saat ini sesuai dengan nilai hidupnya sebagai individu etnis Jawa.

Proses yang paling sulit dan tak dapat dikendalikan adalah aspek penerimaan. Dalam tahap penerimaan ini, orang yang menerima pesan mempunyai kebebasan sepenuhnya untuk menerimanya atau tidak. Seseorang yang memahami isi pesan bahwa sebagai orangtua mereka harus mendidik dengan cara demokratis, belum tentu menjadikan pesan tersebut sebagai pandangan pribadi dan diterapkan. Sebab, merekalah yang memahami secara baik kondisi diri mereka dan mereka memiliki hak untuk menentukan respon terhadap, apa saja yang diterimanya.

Simpulan

Simpulan yang dapat diberikan adalah sebagai berikut: Secara umum, ada hubungan positif yang signifikan antara orientasi nilai budaya Jawa dengan pemaafan. Selain itu, secara terinci diketahui bahwa (a) ada hubungan positif yang sangat signifikan antara orientasi nilai diri dengan pemaafan, (b) ada hubungan positif yang signifikan antara orientasi nilai hubungan dengan Tuhan dengan pemaafan, dan (c) tidak ada hubungan antara orientasi nilai hubungan dengan sesama dengan pemaafan. Sumbangan relatif orientasi nilai budaya Jawa secara total terhadap pemaafan adalah 5,15%.

DAFTAR PUSTAKA

Ancok, D. & Suroso, F.N. 2008. Psikologi Islami: Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi. Yogyakarta: Puistaka Pelajar.

Broyles, L.C. 2005. Resilience: Its Relationship to Forgiveness in Older Adults. Dissertation. Knoxville: The University of Tennessee.

Firmansyah, A.F. & Prawasti, C.Y. 2008. Pemaafan Orangtua dan Atribusi Kausal terhadap Peristiwa Kehamilan Pranikah Anaknya. Jurnal Psikologi Sosial, 14 (02), 165-179.

Idrus, M. 2004. Kepercayaan Eksistensial Remaja Jawa (Studi di Desa Tlogorejo, Purwodadi, Purworejo, Jawa Tengah). Disertasi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.

Karremans, J.C, Paul, Van Lange, A.M. and Ouwerkerk. 2003. When Forgiving Enhances Psychological Well-Being: The Role of Interpersonal commitment, Journal of Personality and Social Psychology 34 (5), 1011-1026.

Kremer, J.F. & Stephens, L. 1983. Attributions and Arousals as Mediators of Mitigation’s Effect of Retaliation. Journal of Personality and Social Psychology, 45, 335-343

Koentjaraningrat. 1985. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.

Koentjaraningrat. 1999. Kebudayaan Jawa. Jakarta: PN Balai Pustaka.

Magnis-Suseno, F. 1999. Etika Jawa: Sebuah Analisa Filsafati tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: PT Gramedia.

McCullough, M.E. 2001. Forgiveness: Who Does It and How Do They Do It? Current Direction in Psychological Science. American Psychological Society, pdf.

Mertawardaya, S. 1983. Pusaka Sasangka Jati. Cetakan Kelima. Jakarta: Badan Penerbitan dan Perpustakaan Pangestu Pusat.

Nashori, H.F. & Setiono, K. 2010. Forgiveness in Javenese Ethnicity. Jurnal Psikoislamika, 11 (2), 128-147.

Nashori, H.F., Zulrizka, T.Z., Setiono, K. & Siswadi, A.G.P. 2011. Tema-tema Pemaafan Mahasiswa Yogyakarta. Laporan Penelitian. Yogyakarta: Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UII.

Nurwianti, F. & Oriza, I.D. 2010. Explorative Study of Character Strengths on Indonesian People (Java, Sunda, Minahasa, Betawi, Bugis, and Batak). Paper presented on The First International Conference of Indigenous and Cultural Psychology, Yogyakarta, July 24-27.

Pennebaker, J.W. 2002. Ketika Diam Bukan Emas. Terjemahan. Bandung: Penerbit Mizan.

Subandi, 2010. Validitas dan Reliabilitas Konstruk Pemaafan. Laporan Penelitian. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.

Suharto & Rukmana, H. 1991. Butir-butir Budaya Jawa: Anggayuh Kasampurnaning Urip Berbudi Bawa Leksana Ngudi Sjatining Becik. Jakarta: Yayasan Purna Bhakti Pertiwi.

Susanto, E., Soekardji, & Setiawan, H.I. 1992. Pengkajian Nilai-nilai Luhuir Budaya Spiritual Daerah Jawa Timur. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Thompson, L.Y., Snyder, C.R., Hoffman, L., Michael, S.T., Rasmussen, H.N., Billings, L.S., Heinze, L., Neufeld, J.E., Shorey, H.S., Roberts, J.C., & Robert, D.E. 2005. Dispositional Fogiveness of Self, Other, and Situation. Journal of Social and Personality Psychology, 73 (2), 313-359.

Wallace, H.M. 2008. Interpersonal Consequences of Forgiveness: Does Forgiveness Deter or Encourage Repeat Offenses? Journal of Experimental Social Psychology, 44 (2), 453-460.

Worthington, E.L. 2005. Forgiveness in Health Research and Medical Practice, Explore, 1 (3).

Wortman, C., Loftus, E., & Weaver, C. 1999. Psychology. 5th edition. United States of America: McGraw-Hill Companies, Inc.

Penulis:

fuad
Fuad Nashori  adalah salah seorang pelopor dan ahli di bidang Psikologi Islami, sehari-hari beliau menjabat sebagai Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, (UII) Yogyakarta. Fuad Nashori adalah penulis tetap untuk rubrik Psikologi Islami di website ini

Tb. Zulrizka Iskandar, Kusdwiratri Setiono, A. Gimmy Prathama Siswadi

Universitas Padjadjaran, Bandung


 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Deteksi Secara Dini Gangguan Autis

05 Sep 2013 pikirdong

Beberapa anak dengan gangguan autis telah menunjukkan beberapa tanda-tanda adanya gangguan tersebut sejak awal masa…

Wanita Lebih Mudah Stres?

10 Sep 2013 Sayed Muhammad

Menurut Georgia Witkin dalam bukunya The Female Stress Syndrome (1991), wanita memiliki penyebab stres yang…

Hospice: Tempat Perawatan Orang yang Hampir Meninggal

03 Sep 2013 Sayed Muhammad

Beberapa tahun lalu, tetangga saya mengidap kanker payudara, setelah melakukan operasi di tanah air sebelumnya,…

Kenakalan Remaja

10 Sep 2013 pikirdong

Bila kita menemukan kata “kenakalan remaja” maka terlintas dalam benak kita, apakah ada yang disebut…

Ketergantungan Komputer dan Internet: Tips dan Treatment

04 Sep 2013 pikirdong

Ketergantungan pada internet dan komputer memberikan dampak buruk dan perilaku baik secara langsung ataupun secara…

Tanpa Pacar Bikin Bete?

09 Sep 2013 pikirdong

Banyak orang merasa tidak nyaman dengan kondisi hidup sendiri tanpa pacar disamping. Mereka menciptakan momok…

Orientasi Nilai Budaya dan Pemaafan pada Mahasiswa

05 Sep 2015 Fuad Nashori

Abstract The aim of this research is to find out relationship between Javanese cultural value orientation…

Kleptomania

06 Sep 2013 pikirdong

Kleptomania merupakan gangguan kebiasaan dan impuls (impulse control disorder) yang mengakibatkan dampak-dampak negatif bagi perkembangan…

Berbagi Berbuah Nikmat

10 Sep 2013 Ardiman Adami

Pernah mendengar kisah ‘Sepotong Roti’ dari Ustadz Yusuf Mansur? Jika belum, ceritanya begini: Alkisah, ada…

Episode Depresi

06 Sep 2013 pikirdong

Episode depresi digolongkan pada rentang waktu kemunculan depresi yang relatif singkat, pada umumnya penderita episode…

Narcissistic Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau gangguan kepribadian narsisistik merupakan gangguan mental dimana individu merasa dirinya…

Menghentikan Ketergantungan pada Alkohol

12 Sep 2013 pikirdong

Beberapa kiat yang dapat dilakukan untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada alkohol:    Hanya diri Anda…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders yang ke V terjadi perubahan…

30 Aug 2017 Artikel Psikologi Psikologi Klinis pikirdong No comments

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa tubuh membutuhkan dokter dan bila diperlukan juga, diambil langkah untuk rawat…

24 Aug 2017 Kolom Sayed Muhammad Sayed Muhammad No comments

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014