DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic…

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa…

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Pemaafan: Penyembuhan Problem Psikologis Individu dan Bangsa

INTISARI

Ada dua istilah yang mirip pengertiannya, yaitu pemaafan dan rekonsiliasi. Pemaaafan (forgiveness) adalah menghapus luka-luka atau bekas luka atau hutang emosi dalam hati yang dilakukan seseorang. Rekonsiliasi (reconciliation) adalah menghapus luka-luka atau bekas luka atau hutang emosi di dalam hati yang dilakukan oleh kedua belah pihak yang bertikai. Dua istilah ini boleh dibilang sama hakikatnya, yaitu sama-sama menghapus hutang emosi, berdamai dan melepaskan emosi pahit, baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Istilah yang digunakan dalam makalah ini adalah pemaafan, yang di dalamnya tercakup pengertian pemaafan dan rekonsiliasi.

Pemaafan dalam konteks hubungan interpersonal maupun konteks kebangsaan tampaknya sangat relevan dengan kehidupan bangsa kita. Konflik antar pribadi yang jumlahnya tidak terbilang menghasilkan banyak trauma. Tidak kurang dari itu berbagai peristiwa besar bangsa menorehkan luka-luka psikologis pada banyak individu. Beberapa peristiwa besar bangsa yang menghasilkan dampak dendam adalah peristiwa G30SPKI, pembunuhan misterius pada tahun 1980-an, peristiwa Tanjung Priok, kerusuhan massal pada tahun 1998, dan sebagainya.

Tujuan makalah ini adalah mengungkap sebab-sebab yang menjadikan seseorang berat memaafkan orang lain, kerugian psiko-sosio-spiritual dari tindakan tidak memaafkan orang lain, keuntungan memberikan maaf, tahap-tahap pemberian pemaafan, dan pelembagaan pemaafan dalam konteks berbangsa-bernegara.

 

Kata kunci: pemaafan, problema psikologis

Pengantar

Sebuah contoh pemaafan yang luar biasa ditunjukkan oleh Eduardo da Silva terhadap Martin Taylor. Edu, seorang pemain sepakbola Klub Sepakbola Arsenal (Inggris) dilanggar secara keras oleh pemain sepak bola yang sedang bertanding melawan Arsenal. Akibat dari permainan kasar Martin, Edu terluka parah dan, akibatnya, tidak dapat bermain sepakbola selama 9 bulan. Banyak yang protes dan mengusulkan agar Martin Taylor dilarang bermain bola sepanjang hidup. Namun, sungguh luar biasa apa yang dikatakan oleh Edu. “Saya memaafkan Martin (Taylor). Saya tahu ia tak sengaja melakukannya,” ujarnya seperti dikutip Harian The Sun setelah ia dibawa ke rumah untuk dirawat jalan selama lebih kurang 9 bulan.

Proses pemaafan Edu begitu cepat. Dalam keseharian hidup, pemaafan terkadang melalui proses yang lebih berat. Dalam sejarah Islam, ada sebuah kisah bagaimana seorang ibu memaafkan anaknya, yang terkenal bernama al-Qomah (yang menginspirasi lahirnya istilah koma). Sang ibu merasa sangat tersinggung oleh perlakuan tidak adil al-Qomah terhadap dirinya dan terhadap sang istri. Sang istri sangat dimanjakan dengan aneka warna barang dan fasilitas, sementara sang ibu diberi barang dan fasiltias yang jauh dari apa yang diberikan kepada istri. Hutang emosi dalam bentuk rasa sakit hati itu begitu kuat tertancap dalam diri sang bunda, hingga sampailah pada keadaan di mana al-Qomah berada dalam situasi sakaratul maut (sekarat). Al-Qomah sakit keras tapi tak kunjung membaik. Ia telah dituntun oleh para sabahat dan bahkan Nabi Muhammad pun terlibat, namun ia tidak juga mampu menirukan ungkapan pamungkas seorang muslim yang meningal dalam keadaan husnul khatimah, yaitu ”la ilaha illallah”. Setelah dilakukan pelacakan, diketahui bahwa penyebab kesulitan adalah tiadanya keridhaan sang bunda kepada al-Qomah. Para sahabat meminta sang bunda untuk memaafkan, tapi sang bunda yang telanjur sakit hati tak bersedia memaafkannya. Sang ibu tampaknya benar-benar patah arang. Untuk memecah ’batu’ yang ada dalam hati ibunya, Nabi Muhammad menyampaikan ide ’provokatif’ untuk membakar al-Qomah kepada sang bunda. Membayangkan sakit dan tidak terhormatnya sang anak yang meninggal dalam keadaan dibakar, akhirnya sang bunda melakukan perenungan ulang memberi maaf kepada putranya. Akhirnya, al-Qomah mampu menirukan ucapan ”la ilaha illallah” dan akhirnya ia dapat meninggal dengan tenang berkat pemaafan ibu.

Masih banyak kisah konfliktual lain, yang penyelesaiannya dilakukan dengan pemaafan. Namun, tidak sedikit orang yang tidak pernah bersedia memaafkan orang lain, dengan berbagai alasannya. Salah satunya adalah Bambang (38 tahun). Bambang adalah putra dari seorang ayah yang bernama Sukato. Sukarto hilang pada suatu malam pada awal 1980-an saat dijemput oleh tiga orang laki-laki yang memaksanya ikut mereka. Tidak ada penjelasan siapa para laki-laki itu. Orang-orang mengatakan itu adalah tentara berseragam preman (tapi tak pernah ada konfirmasi). Tapi peristiwa sejenis banyak terjadi dan korbannya khas: laki-laki yang digeletakkan begitu saja di sawah atau di pematang sungai dalam keadaan terbungkus wadah beras. Bambang bersama ibu dan saudara-saudaranya hingga sekarang sulit untuk menerima peristiwa itu dengan ikhlas. Ia tak pernah tahu apakah bapaknya yang dituduh sebagai maling itu benar-benar telah hilang atau tidak. Tapi peristiwanya sudah terjadi lebih kurang 30 tahun lalu. Dan, marah itu masih tersimpan dalam hati.

Sebab-sebab Seseorang Berat Memaafkan Orang Lain

Tidak semua orang secara ringan memberi maaf kepada orang lain sebagaimana dilakukan oleh Eduardo. Tidak jarang juga akhirnya seseorang mampu memaafkan setelah melalui serangkaian proses sebagaimana kisah al-Qomah dan ibundanya. Banyak orang yang bersikap seperti Bambang. Mereka memiliki sejumlah alasan saat tidak memberikan maaf. Pertama: Seseorang berat untuk memaafkan orang lain, karena kejadian yang dialaminya sangat traumatis. Misalnya, menjadi korban kekerasan seksual. Rasa benci, marah, dendam, merajai hati seseorang sehingga sulit baginya memaafkan si pelaku.

Kedua: Seseorang berat memaafkan orang lain karena berpikir bahwa pelaku harus menerima hukuman yang berat bahkan lebih berat dari hukum positif yang berlaku. Contoh: Timothy McVeigh yang mengebom gedung federal di Amerika Serikat yang mengakibatkan tewasnya 168 orang (2001) patut dihukum mati karena kejahatannya. Masyarakat Barat (khususnya Amerika Serikat) menghinakan Saddam Hussein dengan memberi hukuman yang tidak terhormat, karena kesalahan masa lalu Saddam.

Ketiga: Seseorang berat untuk memaafkan orang lain, karena pelaku tidak pernah meminta maaf atas kesalahannya. Salah satu contoh yang dapat diberikan adalah ketidaksediaan Mochtar Lubis untuk memaafkan Pramoedya Ananta Toer atas kesalahannya saat Orde Lama di mana Pramoedya diketahui persis oleh Mochtar sebagai tokoh Lekra yang memberangus aktivis sastra yang anti Lekra. Contoh lainnya adalah orang Korea sulit memaafkan kekejaman bangsa Jepang terhadap bangsa Korea pada Perang Dunia Kedua karena pemerintah Jepang tidak pernah secara resmi meminta maaf atas kesalahannya di masa lalu.

Keempat: Seseorang berat untuk memaafkan orang lain, karena dikiranya memaafkan itu akan membebaskan orang lain dan merugikan diri sendiri. Padahal itu sesungguhnya tidak memaafkan merugikan diri sendiri dan orang lain juga dan sebaliknya memaafkan menguntungkan diri sendiri dan orang lain juga. Berbagai bukti psikologis menunjukkan bahwa orang yang tidak memaafkan akan dirugikan, karena ia menyimpan sumber penyakit dalam hatinya. Orang yang merasa dosanya tidak termaafkan akan mengisi hari-harinya dengan penuh rasa bersalah, yang itu berperanan dalam menurunkan kualitas hidup seseorang.

Kelima: Seseorang berat untuk memaafkan orang lain, karena ia berpikir bahwa kerugian yang dialaminya tidak dapat ditebus dengan cara apapun. Misalnya: Zinedine Zidane (Perancis) tak bisa memaafkan Marco Materazzi (Italia) yang memprovokasinya dan menyebkan Zidane menandukdadanya nya hingga diganjar kartu kerah di pertandingan final. Dalam kenyataannya, gelar Piala Dunia (2006) yang lepas itu tidak mungkin didapatkan.

Ruginya Tidak Memaafkan

Ketika seseorang merasa berat untuk memberikan maaf kepada orang lain, ia memperoleh berbagai kerugian. Pertama: Hati dipenuhi emosi negatif seperti dendam, marah, dan benci kepada orang lain yang dipersepsinya merugikannya. Bahkan ada orang yang mengatakan: “Dendam ini akan saya bawa sampai mati.” Yang lain bilang: “Anak cucu saya akan mengenang rasa sakit hati ini dan akan membalasnya suatu saat nanti.”. Penyimpanan emosi negatif akan dapat merugikan seseorang, karena ia menyimpan penyakit dalam hatinya. Ia dapat mengalami berbagai penyakit fisik akibat sakit hati yang dipeliharanya. William & William (1993) mengungkapkan berbagai penelitian yang menunjukkan dendam dan kemarahan membahayakan kesehatan jantung dan sistam peredaran darah seseorang. Hal senada disampaikan oleh James Pennebaker (2003) dalam buku Ketika Diam Bukan Emas, bahwa di antara 200 responden yang diwawancarainya, 65 orang memiliki paling sedikit satu trauma masa kecil yang mereka rahasiakan. Dalam diri mereka ada marah, dendam, benci. Mereka mendapatkan diagnosis hampir semua masalah kesehatan besar dan kecil, seperti kanker, tekanan darah, tukak lambung, flu, sakit kepala, bahkan sakit telinga.

Kedua: Hati yang dipenuhi energi negatif akan mengarahkan individu untuk berkata-kata yang destruktif, baik dalam bentuk rerasan, pengungkapan kemarahan di depan publik, maupun hujatan. Biduk rumah tangga Maia-Ahmad Dhani sedang dilanda gonjang-ganjing. Maia tengah berperang kata di media gosip melawan suaminya, Ahmad Dhani, frontman grup musik Dewa 19 dan The Rock Indonesia. Maia bahkan telah melaporkan Dhani ke polisi dengan tuduhan kekerasan dalam rumah tangga. Dhani membalas dengan membuka borok istrinya yang katanya berselingkuh dengan bos sebuah TV swasta. Ia bahkan mengaku punya bukti rekaman pengakuan perselingkuhan Maia yang sempat making love dengan bos Trans TV itu.

Ketiga: Hati yang dipenuhi energi negatif akan mengarahkan individu untuk berperilaku yang destruktif bagi diri sendiri maupun orang lain. Contohnya adalah kegagalan cinta Romeo – Yuliet yang ditandai oleh tindakan bunuh diri dilatarbelakangi tidak adanya rekonsiliasi antara orangtua mereka menjadikan dua insan ini bunuh diri.

Keuntungan Memaafkan Orang Lain

Oleh sebagian orang, subjudul “keuntungan memaafkan” ini dipandangnya mudah diucapkan atau dituliskan, tapi sulit dilaksanakan. Penulis menyadari bahwa memaafkan apalagi sampai memperoleh keuntungan dari memaafkan bukanlah perkara mudah. Namun, ada baiknya kita menengok hasil penelitian yang disampaikan oleh Frederic Luskin (Martin, 2003) ini. Suatu penelitian melatih mahasiswa (Stanford University, USA) untuk memaafkan kesalahan orang lain. Hasilnya menunjukkan:
1. Jauh lebih tenang kehidupannya.
2. Tidak mudah marah, tidak mudah tersinggung, dan dapat membina hubungan lebih baik dengan sesama.
3. Semakin jarang mengalami konflik dengan orang lain.

Bila kemampuan memaafkan ini sudah tertanam kuat dalam diri seseorang, pemaafan akan berkembang menjadi karakter pribadinya. Luskin (Martin, 2003) mengungkapkan bahwa para pemaaf memiliki ciri sebagai berikut:
1. Tidak mudah tersinggung saat diperlakukan tidak menyenangkan oleh orang lain.
2. Tidak mudah menyalahkan orang lain ketika hubungannya dengan orang tersebut tidak sebagaimana yang diharapkan.
3. Hal di atas tercapai, karena individu memiliki penjelasan nalar terhadap sikap orang lain yang menyakiti mereka

Tahap-tahap Pemaafan: Kisah Pemaafan yang Luar Biasa

Ada sebuah kisah pemaafan yang luar biasa dan menjadi kisah teladan bagi umat manusia di manapun. Adalah seorang gadis Amerika yang bernama Catherine Blount (19 tahun) tewas akibat dari tikaman pisau yang dilakukan secara brutal oleh Douglas Mickey. Aba Gayle, ibunda Catherine, merasakan marah, dendam, benci yang tiada tara. Awalnya Aba Gayle tak peduli dengan Tuhan dan agama. Kegalauan (marah, dendam, benci yang tiada tara dalam) hatinya menjadikannya belajar tentang Tuhan yang maha mencintai dan maha mengampuni. Suatu saat ia mendengar suara dalam hatinya: “Kamu harus memaafkan dan memberitahunya (baca: memberitahu orang yang menyebabkan semua kisah pedih ini).”

Suara dalam hati itu menggerakkan Aba Gayle menulis surat kepada Mickey: “Saya sendiri terkejut ternyata saya bisa belajar memaafkanmu.” Douglas Mickey membalas surat dan menyatakan permintaan maaf. Akhirnya mereka bertemu di penjara tempat Douglas Mickey menjalani hukumannya. Saat bertemu dengan Mickey, Aba Gayle mengungkapkan semua kepedihan hatinya kepada Douglas Mickey. Gayle mengerti bahwa saat anak hilang nyawanya, Mickey kehilangan masa depannya.

Akhirnya, Aba Gayle benar-benar memaafkan Mickey dan bahkan ia menentang eksekusi hukuman mati, karena menurutnya hukuman mati adalah ungkapan dendam.

Dari peristiwa di atas, tersirat adanya tahapan-tahapan pemaafan dalam diri seseorang. Ahli psikologi tentang pemaafan membagi empat tahap pemaafan, yaitu:
1. Uncovering Phase: merasa sakit hati dan dendam. Bila dikaitkan dengan Aba Gayle sebagaimana dicontohkan di atas, maka tahap ini adalah saatdi mana Gayle sedang dipenuhi rasa marah, dendam dan benci kepada pelaku pembunuhan anaknya.
2. Decision Phase: Memikirkan kemungkinan untuk memaafkan. Setelah merasakan tidak enaknya diliputi rasa sakit hati, Gayle mendengar suara hatinya untuk memaafkan Mickey.
3. Work Phase: Secara rasional, orang menyadari penting untuk memaafkan. Di sini Gayle tergerak untuk menulis surat yang berisi pemaafan atas perilaku biadab Mickey. Pertemuan dengan Mickey di penjara membuatnya semakin mantap memaafkan pelaku pembunuhan anaknya.
4. Deepening Phase: Internalisasi kebermaknaan dari memaafkan. Gayle menyadari bahwa saat sang anak hilang nyawanya, pada hakikatnya Mickey kehilangan masa depannya. Bahkan ia menentang eksekusi hukuman mati, karena menurutnya hukuman mati adalah ungkapan dendam.

Institusionalisasi Pemaafan: Konteks Indonesia

Kalau pemaafan dapat menguntungkan secara personal, dapatkah pemaafan ditingkatkan levelnya menjadi hal yang menguntungkan dalam skala luas? Dapatkah pemaafan diinstitusionalisasikan?

Saya ingin mengutipkan suatu pernyataan yang disampaikan oleh Plato. Apa yang diajarkan oleh masyarakat, itulah yang dilakukan oleh individu. Kalau masyarakat mengajarkan pemaafan melalui proses yang ditradisikan atau terlembagakan, maka individu akan menghidupkan pemaafan. Pernyataan di atas diamini oleh seorang ahli antropolofi-psikologi Amerika yang bernama Ruth Benedict (Goble, 1994). Benedict mengungkapkan melalaui penelitian partisipatif bahwa masyarakat/kebudayaan yang ramah, yang saling membantu termasuk di dalamnya saling memaafkan, akan menumbuhkan individu yang menyenangkan dan penuh kasih sayang. Kesimpulan Benedict ini didasarkan pada riset mendalam yang dilakukannya terhadap berbagai suku Indian di Benua Amerika, seperti suku Zuni, Arapesh, Dakota, Eskimo

Uapaya sosialisasi dan praktif pemaafan oleh bangsa Indonesia telah ditradisikan secara nasional. Aktivitas silaturrahmi yang dilakukan keluarga-keluarga Indonesia pada saat awal syawal adalah salah satu bentuk sosialisasi pemaafan. Namun, kalau dikritisi kita akan mendapati bahwa salah satu ciri halal bi halal awal syawal adalah pemaafan antar pribadi. Seseorang atau suatu keluarga datang kepada orang lain atau keluarga lain untuk menghapus luka karena peristiwa sebelumnya yang menyulut benci, dendam dan amarah. Kita belum melembagakannya dalam bentuk pemaafan yang bersifat nasional. Pemaafan sebagi program nasional, menurut penulis, merupakan sesuatu yang penting dan mendesak. Hal ini, sebagaimana telah diungkapkan di atas, karena bangsa Indonesia masih banyak menyimpan benci, dendam, marah akibat berbagai peristiwa seperti peristiwa G30SPKI, pembunuhan misterius pada tahun 1980-an, peristiwa Tanjung Priok, kerusuhan massal pada tahun 1998, dan sebagainya.

Peristiwa pemaafan yang mungkin dilakukan di Indonesia ini perlu mempertimbangkan pada peristiwa sejenis di Afrika Selatan. Nelson Mandela, presiden pertama Afrika Selatan yang terpilih melalui pemilu demokratis tahun 1994, mengajarkan pemaafan kepada dunia. Negeri itu sebelumnya koyak-moyak oleh apartheid, dan ia sendiri mesti meringkuk di penjara selama 27 tahun akibat politik rasial itu. Melalui pemaafan itu ia bertekad untuk membangun Afrika Selatan yang baru. Ia mengawalinya dengan cara yang amat khas: ia meminta sipir penjaranya ikut naik ke panggung pada saat pelantikannya.

Selama memimpin negeri itu, ia antara lain membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (TRC), dengan ketua Uskup Agung Desmond Tutu. Mandela berusaha mengelakkan pola balas dendam yang dilihatnya di sekian banyak negara, yang terjadi sewaktu ras atau suku yang semula tertindas mengambil alih pemerintahan.

Selama dua setengah tahun berikutnya, penduduk Afrika Selatan menyimak berbagai laporan kekejaman melalui pemeriksaan TRC. Peraturannya sederhana: bila seorang polisi atau perwira kulit putih secara sukarela menemui pendakwanya, mengakui kejahatannya, dan mengakui sepenuhnya kesalahannya, ia tidak akan diadili dan dihukum untuk kejahatan tersebut. Penganut garis keras mencela pendekatan ini dan menganggapnya tidak adil karena melepaskan si penjahat begitu saja. Namun, Mandela bersikukuh bahwa negeri itu jauh lebih memerlukan kesembuhan daripada keadilan.

Sebuah kisah mengharukan dituturkan Philip Yancey dalam buku Rumours of Another World (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2003). Pada sebuah pemeriksaan, seorang polisi bernama van der Broek mengakui perilaku kejinya. Ia dan beberapa perwira lain menembak seorang anak laki-laki delapan tahun dan membakar tubuh anak itu seperti sate untuk menghilangkan bukti. Delapan tahun kemudian van de Broek kembali ke rumah yang sama dan menangkap ayah si anak. Isterinya dipaksa menyaksikan para polisi mengikat suaminya pada tumpukan kayu, mengguyurkan bensin ke tubuhnya, dan menyalakannya.

Ruang pemeriksaan menjadi hening saat seorang perempuan lansia, yang telah kehilangan anak dan kemudian suaminya, diberi kesempatan untuk memberikan tanggapan. “Apa yang Anda inginkan dari Tn. van de Broek?” tanya hakim. Ibu itu menjawab, ia ingin van der Broek pergi ke tempat mereka dulu membakar tubuh suaminya dan mengumpulkan abunya, agar ia dapat melakukan pemakaman yang layak. Dengan kepala tertunduk, polisi itu mengangguk. Kemudian ibu itu mengajukan permintaan tambahan, “Tn. van der Broek telah mengambil seluruh keluarga saya, dan saya masih memiliki banyak kisah yang ingin saya bagikan. Dua kali sebulan, saya ingin dia datang ke kampung saya dan menghabiskan waktu satu hari bersama saya, agar saya dapat menjadi ibu baginya. Dan saya ingin Tn. van der Broek tahu bahwa ia telah diampuni oleh Tuhan, dan bahwa saya juga mengampuninya. Saya ingin memeluknya, sehingga ia dapat mengetahui bahwa pengampunan saya ini sungguh-sungguh.” Secara spontan, beberapa orang di ruang itu mulai menyanyikan Amazing Grace saat perempuan lansia itu melangkah menuju tempat saksi, namun van der Broek tidak mendengarkan nyanyian itu. Ia terjatuh tak sadarkan diri.

Nelson Mandela menyadari bahwa sewaktu kejahatan terjadi, hanya satu tanggapan yang dapat mengalahkannya. Pembalasan dendam hanya akan melanggengkan kejahatan itu. Keadilan hanya akan menghukumnya. Kejahatan hanya akan dikalahkan oleh kebaikan bila pihak yang disakiti bersedia menyerapnya, memaafkannya, dan menolak untuk membiarkannya menyebar lebih jauh.

Itulah yang diajarkan Mandela kepada bangsanya, dan kepada dunia. Bagaimana dengan Indonesia? [Fuad Nashori & R. Rachmy Diana]

Daftar Pustaka

_______

Bastaman, Hanna Djumhana. 2001. Integrasi Psikologi dengan Islam: Menuju Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar & Yayasan Insan Kamil.

Enright, Robert D., and Gayle Reed. 2002. Process Model of Forgiveness. www.forgivenessinstitute.org/IFI/whatis/process_model.htm

Enright, Robert D. tt. Working to Forgive. www.forgiving.org/Working/truths.asp

Goble, Frank. 1994. Abraham Maslow: Mazhab Ketiga. Yogyakarta: Kanisius.

Martin, Anthony Dio. 2003. Emotional Quality Management: Refleksi, Revisi dan Revitalisasi Hidup Melalui Kekuatan Emosi. Jakarta: Penerbit Arga.

Nashori, H. Fuad. 2008. Memaafkan. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional tentang Kejaiban al-Qur’an, Fakultas Kedokteran Unibraw, Malang, Februari 2008.

Pennabaker, James. 2003. Ketika Diam Bukan Emas. Bandung: Penerbit Mizan.

Yancey, Philip. 2003. Rumours of Another World. Michigan: Zondervan.

Enright, Robert D., and Gayle Reed. 2002. Process Model of Forgiveness. www.forgivenessinstitute.org/IFI/whatis/process_model.htm

Enright, Robert D. tt. Working to Forgive. www.forgiving.org/Working/truths.asp

Penulis:

fuad
Fuad Nashori  adalah salah seorang pelopor dan ahli di bidang Psikologi Islami, sehari-hari beliau menjabat sebagai Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, (UII) Yogyakarta. Fuad Nashori adalah penulis tetap untuk rubrik Psikologi Islami di website ini

Penulis:
rahmiR. Rachmy Diana, Prodi Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Suka Yogyakarta

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Menyikapi Hasil UN

19 Jul 2010 Fuad Nashori

Hari-hari menjelang pengumuman hasil ujian nasional (UN) menjadi hari-hari yang penuh tekanan dan kecemasan bagi…

Developmental Milestones: Usia 3 Bulan

14 Oct 2015 pikirdong

Perkembangan Mental Usia 3 Bulan PENGAMATAN PERILAKU Komunikasi Bahasa Menangis ketika mengompol Mendekut bila merasa nyaman Tingkah laku Tersenyum bila ada orang…

Fatal-Flaws

09 Sep 2013 pikirdong

Selama masa pacaran atau pendekatan dilakukan, banyak pasangan sebenarnya telah menangkap tanda-tanda “ketidakberesan” perilaku pada…

Euthanasia

04 Sep 2015 Sayed Muhammad

Eutanasia (euthanasia) merupakan suatu cara atau tindakan mengakhiri hidup yang dilakukan pada orang sakit atau…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

26 Jul 2016 pikirdong

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus untuk pejalan kaki (pedestrian), jalur ini…

Peran Keluarga terhadap Keselamatan Anak Saat Terjadi Bencana

08 Sep 2013 Fuad Nashori

Anak-anak adalah bagian dari masyarakat yang paling rentan terhadap bencana (tsunami, gempa, banjir, longsor, penculikan,…

Edisi Ibukota : Tas Tas Integritas!!

15 Sep 2013 Candrawati Wijaya

Salam Tarzan Kota! Sudah sampai manakah Tarzan-Tarzan kota menjelajah?? Harapan saya, kita tetap akan bertemu di…

Dyslexia

03 Sep 2013 pikirdong

Membaca dengan lancar bagi seseorang mungkin sangat mudah setelah melalui proses belajar dari sejak kecil,…

Mencapai Pribadi Yang Sukses

18 Oct 2013 pikirdong

Siapa kita ? Kita adalah makhluk ciptaan Allah (baca:manusia) yang terlahir ke dunia ini dalam keadaan…

Pedofillia – Paraphilia

06 Sep 2013 pikirdong

Hal yang paling meresahkan dunia saat ini adalah meningkatnya kasus pedofillia secara merata di seluruh…

Social Phobia

08 Sep 2013 pikirdong

Sosial fobia (social phobia) atau dikenal juga dengan istilah social anxiety disorder (SAD) merupakan gangguan…

Masalah lagi… Masalah lagi…

08 Sep 2013 pikirdong

Aduh…! Pusing banget nich. Lagi banyak masalah”, atau “Kenapa sich masalah selalu dateng hampirin aku!”,…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders yang ke V terjadi perubahan…

30 Aug 2017 Artikel Psikologi Psikologi Klinis pikirdong No comments

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa tubuh membutuhkan dokter dan bila diperlukan juga, diambil langkah untuk rawat…

24 Aug 2017 Kolom Sayed Muhammad Sayed Muhammad No comments

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014