TwitterFacebookGoogle+

Peran Keluarga terhadap Keselamatan Anak Saat Terjadi Bencana

Anak-anak adalah bagian dari masyarakat yang paling rentan terhadap bencana (tsunami, gempa, banjir, longsor, penculikan, dsb). Sebagian mereka tidak paham dengan berbagai bencana yang mungkin mengganggu kehidupan mereka. Sebagian yang lain, sekalipun paham, namun kemampuannya dalam menyelamatkan diri masih rendah. Salah satu contoh yang segar dalam ingatan kita adalah tiga bersaudara yang sedang berkunjung ke rumah neneknya pada idul fitri kemarin bermain-main di sungai. Ternyata sungai inilah yang menjadi ’kuburan’ bagi mereka. Entah apa yang terjadi, tiga bersaudara yang semuanya laki-laki itu tewas di sungai ini.

Dalam bencana gempa di Yogyakarta (2006) dan Sumatra Barat (2009), banyak anak yang menjadi survivor bencana. Sejumlah anak terluka parah berada di bawah reruntuhan rumahnya dan mereka meninggal di bawah reruntuhan itu. Kita bertanya: apa yang tak dilakukan keluarganya sehingga tiga bersaudara ini tewas di sungai yang tidak sedang deras itu?

Menjadikan Anak Paham dengan Ancaman Bencana

Anak-anak Indonesia perlu memperoleh support informasi bahwa mereka tinggal di negara yang rawan bencana. Indonesia berada dalam pertemuan-pertemuan lempengan bumi. Bila lempengan-lempengan itu bergeser atau bergerak, maka muncullah gempa. Gempa itu mungkin akan diikuti oleh tsunami, longsor, hingga kebakaran. Semua bencana tersebut mengancam keselamatan mereka.

Anak-anak Indonesia juga perlu juga disadarkan bahwa mereka berada di dalam lingkungan sosial yang rawan, seperti adanya human trafficking (penjualan manusia), kekerasan dalam pendidikan, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan oleh penjahat (penodong, perampok, dsb).

Bahaya-bahaya yang berasal dari alam juga perlu disampaikan kepada anak-anak, seperti binatang buas, binatang tidak buas tapi bisa menularkan penyakit (kucing, anjing, kecoak, dan sebagainya). Bahaya dari alam ghaib juga tidak kalah bahayanya, salah satu yang kongkrit adalah gangguan jin dalam bentuk kesurupan.

Bahaya-bahaya itu perlu dijelaskan kepada anak dalam konteks ada sesuatu yang dapat menghambat mereka dalam menggapai cita-cita atau masa depan yang gemilang. Dalam rangkan menggapai cita-cita ada yang menjadi pendorong/pelancar, tapi ada yang menghambat. Konteks dari penyebutan bahaya-bahaya adalah sesuatu yang dapat menggagalkan cita-cita. Setiap bahaya harus diatasi agar tidak mengganggu pencapaian cita-cita kita.

Menjadikan Anak Mampu Menghindar Bahaya

Anak-anak perlu disiapkan agar merela mampu terhindar dan keluar dari bencana. Anak-anak berusia di bawa lima tahun perlu disiapkan untuk mampu menyebut siapa bapak dan ibunya serta tempat tinggalnya, sehingga ketika terpisah dari keluarga (misalnya di super market, di lapangan saat menonton pertunjukan, di tempat wisata, dsb) ia dapat kembali ke pangkuan keluarga.

  • Anak-anak perlu mampu berenang sehingga ketika ada banjir atau terjerembab ke sungai atau pantai ia dapat meloloskan diri dari tenggelam.
  • Anak-anak perlu memiliki kemampuan teknis ketika gempa datang. Mereka harus tahu bahwa harus segera bergerak keluar dari ruangan dengan meletakkan alat-alat tertentu (seperti tas) di atas kepalanya atau ia tetap memilih dalam rumah sambil berlindung di bawah meja yang kokoh dan sebagainya.
  • Anak-anak harus bisa menolak ketika orang-orang yang mereka kenal atau tidak mereka kenal bermaksud jahat kepada mereka, menjebak mereka, dan memperjualbelikan mereka.
  • Anak-anak (terutama perempuan) perlu mengetahui tempat-tempat yang berbahaya untuk ruhani mereka, tempat yang dapat mengganggu keseimbangan jiwa mereka karena di situ tempat-tempat makhluk halus bertahta dan beraksi yang menyebabkan anak-anak kesurupan.

Ketrampilan yang utama adalah anak mampu menmbantu diri sendiri dalam menggapai keselamatan. Sejauh memungkinkan, mereka diharapkan membantu orang lain untuk selamat. Ketika mereka melihat rumah mereka yang bergoyang terkena gempa, mereka juga mampu berteriak: Ada gempa! Bapak, Ibu, Kakak, Adik segera Keluar!!!

Pertanyaan yang dapat diajukan, siapakah yang harus melakukan semua itu? Harapan terbesar adalah keluarga. Bapak dan Ibulah yang paling diharapkan mempersiapkan anak-anak dapat menyelamatkan diri dari bahaya-bahaya yang mengancam kehidupan mereka. Pihak Sekolah juga diharapkan peran sertanya. Masyarakat, melalui LSM atau komunitas-komunitas tertentu, diharapkan juga dapat membantu orangtua mempersiapkan anak menghadapi bencana.

Sebuah Lembaga yang Peduli terhadap Keselamatan Keluarga

Di tengah masyarakat sebaiknya ada sebuah lembaga yang peduli terhadap upaya penyelamatan keluarga. Lembaga ini melatih ayah dan ibu, juga bapak dan ibu guru, untuk memiliki kepedulian terhadap keselamatan anak-anak mereka. Aktivitas lembaga ini adalah melakukan riset, seminar, dan pelatihan-pelatihan yang semuanya berfokus pada upaya penyelamatan keluarga dari bencana yang mungkin datang. Dengan pekerjaan yang dilakukannya, lembaga ini akan menghasilkan pasangan suami istri sebagai pasangan yang benar-benar peduli terhadap keselamatan keluarga.

Beberapa isu yang dapat diangkat lembaga ini adalah anak adalah amanat yang harus dijaga orangtua secara optimum, menjadikan anak-anak sadar terhadap bencana yang ada di sekitar mereka, menjadikan anak mampu menolong diri sendiri dan orang lain saat dan pasca bencana, dan sebagainya.

Demikian. Bagaimana menurut Anda?

Penulis:

fuad
Fuad Nashori  adalah salah seorang pelopor dan ahli di bidang Psikologi Islami, sehari-hari beliau menjabat sebagai Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, (UII) Yogyakarta. Fuad Nashori adalah penulis tetap untuk rubrik Psikologi Islami di website ini

 

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar

Artikel Lainnya

ADHD Pada Anak-anak

05 Sep 2013 pikirdong

Tanda-tanda adanya gangguan ADHD sebenarnya sudah dapat dideteksi sejak anak masa pra sekolah. Kurangnya atensi,…

Agenda Sosial Pikirdong

03 Sep 2013 pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling kita yang kami adakan atas partisipasi…

Heroin

12 Sep 2013 pikirdong

Heroin, yang secara farmakologis mirip dengan morfin dan kekuatannya dua kali lebih kuat dibandingkan morfin…

Memberi Nama yang Baik Untuk Anak Kita

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Salah satu hak anak adalah mempunyai nama yang baik. Hak ini merupakan tanggung jawab orangtua…

Dyslexia

03 Sep 2013 pikirdong

Membaca dengan lancar bagi seseorang mungkin sangat mudah setelah melalui proses belajar dari sejak kecil,…

Narcissistic Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau gangguan kepribadian narsisistik merupakan gangguan mental dimana individu merasa dirinya…

Garis Besar Haluan Organisasi Asosiasi Psikologi Islami

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Dalam Kongres II Asosiasi Psikologi Islami yang berlangsung di Unissula pada 4-5 Agustus 2007, berhasil…

Post Traumatic Stress Disorder

08 Sep 2013 pikirdong

Situasi stres pada umumnya menghasilkan reaksi emosional seperti; kecemasan, kemarahan, kekecewaan dan depresi. Kegembiraan juga…

Haruskah Menyontek Jadi Budaya?

08 Sep 2013 Fira Friantini

Budaya menyontek sangat identik dengan dunia pendidikan saat ini. Terlebih ketika ujian sedang berlangsung. Tak…

Dunia Pendidikan : Menjalin Rasa Simpati dan Pengertian

12 Sep 2013 Sayed Muhammad

Anak-anak yang merasa, atau dibuat tidak merasa, tidak diterima dan tidak kompeten akan lambat memulihkan…

Menghindar Burnout di Tempat Kerja

08 Sep 2013 pikirdong

Istilah burnout secara psikologis pada awalnya digunakan oleh Freudenberger meminjam istilah yang pada awalnya…

Obsessive Compulsive Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif (Obsessive Compulsive Personality Disorder; OCPD) adalah suatu kondisi karakter dengan gangguan kronis…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

Muslim yang Ketakutan

Ada rasa takut, khawatir saat mau nge-share tulisan ulama yang dicap radikal. Takut dianggap pro HTI, pro FPI, ekstrim, radikal,…

30 May 2018 Khairrubi Kolom Ruby Kay No comments

Mendidik Anak dengan Sepenuh Hati

Mendidik atau mengasuh anak dengan sepenuh hati itu artinya mendidik anak dengan pendidikan Islam. Hanya dengan pendidikan Islam saja orangtua…

23 May 2018 Artikel Keluarga Psikologi Islami Irwan Nuryana Kurniawan Comments (1)

Biar Anak Rajin Ke Masjid

Saya dan istri saya ingin semua anak rajin ke masjid. Yang kami tahu adalah nanti yang mendapat naungan dari terik…

29 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Ketika Si Anak Memilih Jalannya Sendiri

Orangtua berupaya agar anaknya memilih jalan yang terbaik yang menjamin masa depannya. Tugas orangtua yang pertama tentu adalah mengarahkan. Dulu…

28 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Mendidik Anak Mandiri

Salah satu tugas orangtua adalah melatih anaknya menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang mandiri adalah pribadi yang memiliki inisiatif untuk…

27 Apr 2018 Artikel Keluarga Fuad Nashori No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014