TwitterFacebookGoogle+

Proses Pembentukan Keluarga

Manusia ditakdirkan berpasang-pasangan sebagaimana segala sesuatu yang lain. Sang Pencipta pernah berfirman: Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan segala sesuatu berjodoh-jodohan (QS Yaasin, 36: 36). Hukum Allah ( sunnatullah ) yang berlaku pada manusia dan makhluk-makhluk lain menunjukkan bahwa sebagian besar manusia dan yang lain berpasang-pasangan, menjalani dan memperjuangkan hidup bersama pasangannya. Manusia berjodohan atau berpasangan membentuk keluarga melalui ikrar pernikahan. Tulisan ini secara khusus akan mengungkapkan bahwa proses pencarian pasangan yang paling sukses adalah melalui kriteria kedekatan, kemiripan, menikah dan mereka melalui proses-proses demikian.

Kedekatan

Kedekatan dengan calon pasangan terhadap salah satu faktor yang mempengaruhi pembentukan keluarga. Kalau dicermati, sebagian besar orang menikah dengan seseorang yang tempat tinggalnya tidak berjauhan dengan tempat tinggalnya. Suatu penelitian atas buku nikah 5.000 perkawinan di Philadelphia, USA, pada tahun 1930-an menunjukkan bahwa sepertiga dari pasangan itu tinggal di antara lima blok dari perumahan mereka. Di tempat lain, termasuk di Indonesia, walaupun belum ada data resmi, terdapat fakta yang lebih kurang demikian. Pasangan-pasangan yang menikah itu umumnya tinggal di tempat yang berdekatan. Penulis mendengar beberapa kisah di mana pasangan-pasangan itu bertetangga satu sama lain, bahkan ada yang rumahnya saling berhadap-hadapan dan hanya dibatasi oleh jalan yang lebarnya lima meter.

andysurya-photo2

Wedding – Photo contributed by Andy Surya © 2013

Kedekatan fisik dimungkinkan oleh banyak kesempatan. Kesempatan berjumpa antara lain dialami di tempat tinggal, di tempat kerja, di kampus, di tempat pengajian, di tempat hiburan. Mereka saling bertemu, saling mengenal dan akhirnya berakrab-akraban. Orang Jawa menyebutnya : Witing trisna jalaran saka kulino .

Penjelasan psikologis atas kedekatan fisik bisa diterangkan oleh Daryl J. Bem (Rita L. Atkinson dkk, 1993). Kebiasaan bertemu atau sering berdekatan secara fisik bisa menghadirkan rasa suka. Bila dua orang sering bertemu, maka di antara mereka akan tumbuh rasa suka. Hal ini didukung oleh suatu eksperimen ilmiah sebagaimana dilaporkan dari eksperimen itu diketahui bahwa semakin sering wajah tertentu (dalam foto) diperlihatkan semakin tinggi kemungkinan mereka akan menyukainya. Mereka mengira bahwa mereka menyukai orang tersebut.

Dengan mempercayai pandangan bahwa jodoh kita adalah orang yang kita sering berjumpa dengannya, maka kita dapat meramal siapa jodoh kita. Kita juga dapat meramal bahwa jodoh anak-anak kita adalah seseorang yang sering bertemu dengannya, disengaja atau tidak disengaja. Jodoh manusia adalah si dia yang sengaja atau tak disengaja manusia itu sering berjumpa dengannya dalam momen-momen bersama. Berkaca dari pengalaman empiris di atas, maka secara umum dapat dikatakan bahwa secara alamiah jodoh atau pasangan hidup manusia adalah seseorang yang cukup dekat atau cukup dikenal. Oleh karena itu pengenalan pasangan sebelum menikah adalah sesuatu yang semestinya terjadi.

Yang patut mendapat perhatian adalah kedekatan fisik antar calon pasangan itu semestinya dalam koridor moral-spiritual. Pertemuan dengan sang kekasih semestinya dilakukan atas dasar keinginan melakukan pertemuan yang berkualitas, yang ditandai oleh kesatuan dengan Sang Pencipta. Perjumpaan mereka adalah perjumpaan yang berada dalam naungan Allah. Maka, secara logis, semestinya mereka tetap menjaga kualitas kedekatan itu dengan melakukan pola perilaku yang digariskan Sang Pencipta. Secara simpel, Sang Pencipta mengingatkan untuk menjauhkan diri dari kedekatan yang tidak bermutu, yaitu menjauhkan diri dari setan. Allah Azza wa jalla mengingatkan bahwa apabila dua manusia berlainan jenis bertemu, maka akan hadir pihak ketiga yang bernama setan. Tantangan kita adalah bagaimana menghadirkan pihak ketiga yang bukan setan, tapi manusia. Karena itu, bertemu dengan pasangan dengan mengajak saudara atau teman adalah pilihan yang terbaik.

Kemiripan dan Komplementer

Pada umumnya orang menyukai orang lain yang memiliki kemiripan dengan dirinya. Demikian kesimpulan ahli psikologi sosial. Keluarga yang kokoh antara lain dibangun oleh adanya ciri kemiripan antara dua orang yang membentuknya. Kemiripan meliputi banyak hal, seperti fisik, pendidikan, keadaan sosial ekonomi, hobi, pandangan hidup, dan sebagainya. Kemiripan yang paling prinsip adalah kemiripan pandangan hidup.

Mengapa orang memilih orang lain yang mirip dengan dirinya? Orang menghargai pendapat dan pilihan sendiri serta senang bergaul dengan mereka yang cocok dengan pilihannya. Perasaan cocok dengan mereka yang memiliki kemiripan dapat meningkatkan keakraban dan rasa suka.

Bukti empiris menunjukkan bahwa kemiripan dijadikan dasar pernikahan oleh sebagian besar pasangan. Penelitian yang dilakukan tahun 1870 menyatakan bahwa 99 persen pasangan suami istri di Amerika terdiri atas rasa yang sama; 94 persen beragama sama. Penelitian statistik yang dilakukan Rubin menunjukkan bahwa suami istri sangat mirip satu sama lain, tidak hanya dalam ciri fisik seperti tinggi badan, warna kulit, gaya berpakaian, dan ciri psikologis seperti intelegensi dan emosi (Nashori & Diana, 1997).

Semakin banyak kemiripan semakin aman suatu pernikahan. Namun, kemiripan yang paling dinomor satukan adalah kemiripan pandangan hidup. Dalam pandangan agama, ada istilah satu kufu, satu cara berpikir. Tentang pentingnya kemiripan pandangan hidup atau cara berpikir diisyaratkan oleh Sang Pencipta Manusia: “Janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak wanita yang mukmin lebih baik dari pada wanita yang musyrik, dan janganlah kamu menikahkan orang musyrik dengan wanita mukmin sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari pada orang musyrik meskipun ia menarik hatimu” (QS al-Baqarah, 2 : 221).

Cara berpikir yang mirip atau sangat dekat memungkinkan untuk mengatasi berbagai perbedaan fisik, sosiologis, maupun psikologis.

Juga firman-Nya: “.. dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik pula…” (QS 24 ayat 26).

Sebaliknya, perbedaan pandangan hidup memiliki potensi membu-barkan keluarga yang dibentuk. Penelitian Paulus Wirutomo (dalam Partini, 2000) menunjukkan bahwa perceraian banyak terjadi karena adanya perbedaan pandangan hidup antara suami dan istri. Penulis sendiri, saat mau menikah tahun 1997, pernah berdiskusi tentang masalah ini dengan seorang psikolog yang bernama Adolf Mamboe. Masih teringat kata-kata beliau bahwa pernikahan yang paling beresiko adalah pernikahan yang banyak perbedaan, terutama perbedaan cara memandang sesuatu.

Sekalipun demikian, pasangan yang hendak membentuk keluarga dapat menggunakan prinsip saling melengkapi ( complementary ) saat memilih pasangan. Bila jadi ada berbagai perbedaan dan hanya pandangan hidup yang mirip. Maka, diupayakan agar hal-hal yang berbeda dapat merupakan hal yang saling melengkapi. Kalau saling melengkapi belum ada dalam kenyataan hidup pasangan itu, yang dapat mereka lakukan adalah mencoba mengcomplementary-kan sebanyak mungkin perbedaan di antara mereka.

Pendekatan Empiris dan Spiritual

Secara umum, ada dua pendekatan yang dilakukan dalam memilih pasangan, yaitu pendekatan spiritual dan rasional-empiris. Pendekatan spiritual dilakukan dengan menyandarkan pengambilan keputusan dengan ‘bertanya’ Pada Sang Pencipta dan berharap Dia akan menunjukkan pilihan yang tepat. Pendekatan ini diawali dari asumsi bahwa Tuhan paling mengetahui siapa yang paling cocok sebagai pasangan hidup seseorang. Sang Pencipta memberikan pengetahuan kepada si penanya melalui mimpi.

Pendekatan kedua adalah rasional-empiris. Orang yang menempuh cara ini bersikap objektif terhadap calon pilihan hidupnya. Dia akan mencari pasangan yang sesuai dengan harapannya. Adanya kesamaan pandangan hidup, visi hidup, dan latar belakang yang sama akan menjadi pertimbangan utama. Hal-hal yang lain bisa jadi menjadi pertimbangan : latar belakang sosek, pendidikan, kondisi fisik, dan seterusnya. Bila diperlukan dia dapat bersikap kritis.

Menurut penulis, cara yang terbaik adalah bertindak secara rasional-empiris dalam naungan spiritual. Artinya, memilih calon pasangan hidup tetap harus dilewati dengan pertimbangan rasional yang maksimal, mencari info yang selengkap-lengkapnya, dan tetap dalam koridor menyerahkan penilaian itu kepada Sang Pencipta.

Demikian. Bagaimana pendapat Anda?

Penulis:

fuad
Fuad Nashori  adalah salah seorang pelopor dan ahli di bidang Psikologi Islami, sehari-hari beliau menjabat sebagai Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, (UII) Yogyakarta. Fuad Nashori adalah penulis tetap untuk rubrik Psikologi Islami di website ini

 

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar

Artikel Lainnya

Teknik Relaksasi: Mengurangi Stres

04 Sep 2013 pikirdong

Relaksasi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan sendiri oleh individu untuk mengurangi stres, kekalutan…

Asperger Syndrome

05 Sep 2013 pikirdong

Gangguan Asperger atau dikenal dengan istilah Asperger syndrome (AS), juga disebut sebagai Asperger disorder merupakan…

Hospice: Tempat Perawatan Orang yang Hampir Meninggal

03 Sep 2013 Sayed Muhammad

Beberapa tahun lalu, tetangga saya mengidap kanker payudara, setelah melakukan operasi di tanah air sebelumnya,…

Orientasi Nilai Budaya dan Pemaafan pada Mahasiswa

05 Sep 2015 Fuad Nashori

Abstract The aim of this research is to find out relationship between Javanese cultural value orientation…

Mencapai Pribadi Yang Sukses

18 Oct 2013 pikirdong

Siapa kita ? Kita adalah makhluk ciptaan Allah (baca:manusia) yang terlahir ke dunia ini dalam keadaan…

Tersenyumlah!

09 Sep 2013 Sayed Muhammad

Tertawa dan belajarlah, sebab kita semua membuat kesalahan (Weston Dunlap ) Abe adalah seorang anak dalam…

Histrionic Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian histrionik (histrionic personality disorder) adalah gangguan kepribadian dengan karakter emosi yang meluap-luap…

Identitas Universitas Islam

09 Sep 2013 Fuad Nashori

Dalam kesempatan ini saya ingin membuka kembali wacana tentang Universitas Islam. Persoalan ini penting untuk…

Commitment Phobia

06 Sep 2013 pikirdong

Commitment phobia merupakan bentuk suatu ketakutan (fear) untuk menjalin suatu hubungan yang lebih erat, rasa…

Edisi Ibukota : Sikap "Inilah Waktunya!"

04 Sep 2013 Candrawati Wijaya

Salam Tarzan Kota!  Seberapa sering hal ini terjadi pada diri kita : Anda duduk dalam pertemuan staf…

Hukuman Mati untuk Koruptor

10 Sep 2011 Fuad Nashori

Di tengah maraknya kasus markus yang terjadi di negeri ini, rasanya patut bagi kita untuk…

Kompetensi Interpersonal Mahasiswa Ditinjau dari Jenis Kelamin

06 Sep 2013 Fuad Nashori

ABSTRACT Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kompetensi interpersonal antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan. Hipotesis…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

Muslim yang Ketakutan

Ada rasa takut, khawatir saat mau nge-share tulisan ulama yang dicap radikal. Takut dianggap pro HTI, pro FPI, ekstrim, radikal,…

30 May 2018 Khairrubi Kolom Ruby Kay No comments

Mendidik Anak dengan Sepenuh Hati

Mendidik atau mengasuh anak dengan sepenuh hati itu artinya mendidik anak dengan pendidikan Islam. Hanya dengan pendidikan Islam saja orangtua…

23 May 2018 Artikel Keluarga Psikologi Islami Irwan Nuryana Kurniawan No comments

Biar Anak Rajin Ke Masjid

Saya dan istri saya ingin semua anak rajin ke masjid. Yang kami tahu adalah nanti yang mendapat naungan dari terik…

29 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Ketika Si Anak Memilih Jalannya Sendiri

Orangtua berupaya agar anaknya memilih jalan yang terbaik yang menjamin masa depannya. Tugas orangtua yang pertama tentu adalah mengarahkan. Dulu…

28 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Mendidik Anak Mandiri

Salah satu tugas orangtua adalah melatih anaknya menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang mandiri adalah pribadi yang memiliki inisiatif untuk…

27 Apr 2018 Artikel Keluarga Fuad Nashori No comments

Teman Berselingkuh

Suatu hari ketika Anda sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, Anda melihat teman sekantor Anda sedang berjalan mesra dengan seseorang yang…

27 Feb 2018 Obrolan pikirdong Comments (3)

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014