Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

Reformasi Sistem Pendidikan Finlandia Menjadikan Mereka yang Terbaik di Dunia

Reformasi besar-besaran dalam dunia pendidikan di Finlandia telah dimulai…

Perlu Tidak Ulang Tahun Anak Dirayakan?

Anak mulai mengerti kebiasaan perayaan ulang tahun pada usia…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Puasa Bicara

Berbagai hadis Nabi Muhammad memberikan pelajaran pada kita tentang makna puasa. Puasa adalah media bagi kita untuk membiasakan diri atau melatih diri dalam mengontrol dorongan yang ada dalam diri kita.

Salah satu persoalan penting kita sebagai bangsa adalah kemampuan mengontrol bicara kita. Gagasan yang ingin dimunculkan dalam tulisan ini adalah bagaimana puasa menjadi terapi untuk mengendalikan lisan kita sehingga sebagai pribadi maupun sebagai bangsa kita tumbuh kembang menjadi lebih baik. Puasa yang saya maksud meliputi puasa wajib (puasa ramadhan) dan puasa sunnat (puasa senin-kamis, puasa dawud, dan sebagainya).

Puasa dan Kendali Diri   

sponsor1Salah satu contoh hadis Nabi yang memerintahkan kita untuk mengendalikan diri adalah sebagai berikut: ”Tidaklah berpuasa itu menahan diri dari makan dan minum, tetapi berpuasa itu adalah menahan diri dari perbuatan kosong dan perkataan keji. Maka jika kau dicaci orang atau diperbodohnya, hendaklah katakan: ’Saya berpuasa, saya berpuasa’.” (HR Ibnu Khuzaimah). Dalam hadis di atas sangat jelas digarisbawahi bahwa salah satu maksud penting aktivitas puasa kita adalah menahan diri atau mengendalikan diri dari perkataan keji.  Dalam riset ilmiah yang dilakukan oleh pengkaji psikologi Islami, diketahui puasa memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri. Hasil penelitian Akhmad Ghozali (2004) dari Universitas Islam Indonesia menunjukkan dukungannya terhadap pernyataan di atas. Ghozali menemukan intensitas berpuasa sunnah memiliki korelasi dengan kendali diri mahasiswa. Semakin intens berpuasa sunnah, semakin tinggi kendali dirinya.

Lalu, bagaimana dengan kendali diri orang yang berpuasa wajib?  Sejauh ini penulis belum menemukan riset yang berkenaan langsung dengan masalah di atas. Namun, dengan menggunakan logika sederhana kita dapat mengatakan: puasa sunnah saja dapat meningkatkan kendali diri seseorang, lebih-lebih puasa wajib di bulan ramadhan. Proses melatih diri dalam puasa sunnah berlangsung dua hari di antara tujuh hari (puasa senin-kamis) atau satu hari di antara dua hari. Dalam puasa wajib seseorang dilatih mengendalikan diri setiap hari. Intensitas melatih diri yang lebih tinggi dalam puasa wajib dapat memberikan efek yang lebih optimal dalam meningkatkan kemampuan mengendalikan diri seseorang.

Puasa Bicara   

Apa saja yang perlu kita puasakan atau kita tidak katakan selama kita menjalani ibadah puasa ramadhan? Puasa bergunjing ( ghibah ), puasa mengadu domba ( namimah ), puasa mengumbar aib diri, puasa berjanji adalah sejumlah hal yang patut kita latihkan sepanjang ramadhan ini.

Hal penting yang perlu dipegangteguhi seseorang yang hendak puasa bicara adalah kesadaran diri. Seseorang hendaknya mulai membiasakan melihat secara cermat ke dalam diri (introspeksi). Apakah selama ini kita suka berbicara sesuatu yang tidak berguna atau bahkan sesuatu yang menimbulkan efek buruk bagi diri sendiri maupun orang lain? Kesadaran diri bahwa kita adalah seseorang yang banyak bicara perlu menjadi poin awal yang penting untuk perubahan diri.

Selanjutnya, kita melakukan pemantauan diri. Fokus pemantuan diri adalah diri kita pada saat tertentu, tepatnya apa yang di sini dan saat ini ( here and now ) kita rasakan dan alami. Apakah saat ini kita merasa marah dan ingin banyak bicara, suka berbicara yang ekstrim, banyak mengumbar janji, banyak mengumbar aib diri, dan sebagainya.

Bila pemantauan diri sudah kita lakukan, yang selanjutnya kita lakukan adalah menetapkan target puasa bicara dalam hal tertentu. Bila kita melihat diri kita adalah seseorang yang suka memberikan komentar provokatif, maka kita perlu menetapkan target untuk tidak berbicara provokatif pada hari tertentu. Hari-hari berikutnya kita menetapkan hal yang sama. Kita juga dapat menetapkan target untuk tidak memberikan janji yang tak mungkin dipenuhi, tidak memberikan label yang buruk kepada orang lain, tidak memberikan perumpamaan yang menyakitkan hati, selalu bilang diri konsisten tapi tidak berperilaku konsisten, dan seterusnya.

Bila kita lakukan latihan itu selama 29-30 hari dalam bulan puasa, maka kita melakukan proses pengulangan pengendalian diri itu secara intensif. Begitu juga seseorang yang melakukan latihan itu setiap dua hari sekali (puasa dawud) atau seminggu dua kali (puasa senin-kamis), maka kita melakukan hal yang sama: melakukan proses pengulangan pengendalian diri secara intensif. Latihan yang intensif seperti ini pasti akan memberikan dampak yang riil terhadap kehidupan kita, khususnya dalam hal pengendalian diri. Kita akan menjadi orang baru dalam bicara, yaitu lebih mengendalikan pembicaraan yang keji.

Puasa Ghibah   

Ghibah (menggunjing) adalah perkataan yang berkaitan dengan perbuatan jelek atau buruk yang dilakukan orang lain. Dalam agama, ghibah terkategori sebagai perbuatan yang jahat. Hal ini sebagaimana disampaikan dalam salah satu ayat suci al-Qur’an yang menyatakan “tegakah kalian memakan daging saudara kalian sendiri?”

Dalam realitas kehidupan sehari-hari kita dapati kenyataan kuatnya kebiasaan ghibah ini. Contoh yang paling kongkrit adalah di tempat kerja para staf suka berbicara yang isinya adalah penilaian terhadap teman sekerja mereka. Bukti lain tentang kekuatan ghibah adalah bertahannya acara-acara di media massa yang isinya menggunjing kehidupan selebritis. Acara-acara televisi bertahan sedemikian lama seperti Kiss, Kasak-kusuk, dan sebagainya.

Di saat kita berpuasa, wajib maupun sunnah, kita berlatih untuk meninggalkan gunjingan terhadap orang lain. Saat melihat pembicaraan atau perilaku orang lain yang tidak menunjukkan akhlak yang baik, yang pertama-tama kita lakukan adalah apakah diri ini tidak sama saja dengan dia. Selanjutnya, yang patut kita lakukan adalah berjanji untuk tidak melakukannya. Lebih baik lagi bila kita dapat menyampaikan nasihat kepada orang tersebut agar dapat berbicara tentang sesuatu yang lebih positif.

Puasa Mengadu Domba   

Namimah adalah mengadu domba. Adu domba memang menggunakan banyak media, baik melalui audio (suara), gambar (visual), maupun gabungan keduanya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapati banyaknya pembicaraan yang mengadu domba terhadap kawan atau teman kerja yang tak disukai. Acara-acara entertainment di televisi dan tabloid banyak menyajikan komentar yang menyakitkan dari seorang artis terhadap suami, istri, orangtua atau mertuanya dan sebaliknya.

Salah satu bentuk provokasi yang kita dengar dalam beberapa waktu lalu adalah banyaknya demo yang meminta pemutusan hubungan dengan Malaysia. Yang menjadi pemikiran saya, apa mereka tidak berpikir tentang nasib ratusan ribu hingga jutaan warga negara kita yang ada di Malaysia bila hubungan diplomatik diputuskan. Bahkan sejumlah kelompok menyatakan ganyang Malaysia. Sebuah koran terang-terangan menyebut Malaysia dengan istilah neo-kolonialis.

Di saat kita melakukan puasa, baik puasa wajib maupun sunnah, kita perlu berlatih untuk menahan diri dari niatan, perilaku, dan pembicaraan yang mengarah kepada adu domba. Tidak ada satu kata pun yang patut kita ucapkan berkaitan dengan menguatnya permusuhan antar individu atau antar kelompok yang patut kita ucapkan. Yang patut kita latihkan justru adalah kemampuan menjadi mediator (penghubung) antar individu atau antar kelompok yang berseteru.

Puasa Berjanji   Salah satu kebiasaan yang sering kita temukan pada sebagian warga bangsa ini adalah kesukaannya memberikan janji. Banyak janji politik yang diberikan pemimpin negeri ini saat kampanye atau saat mendatangi sebagian anak negeri yang mengalami bencana. Namun, begitu mereka beranjak pergi dari tempatnya janji-janji itu tinggal kenangan. Saya mendengar banyak cerita tentang janji yang diberikan pemimpin negeri ini terhadap korban bencana tsunami Aceh, bencana gempa Yogya dan bencana lumpur Lapindo. Sayangnya, sebagian sangat kecil saja janji itu dapat dipenuhi.

Di saat berpuasa, wajib atau sunnah, kita berpuasa atau menahan diri untuk mudah memberikan janji. Kita memang patut berusaha untuk memberikan bantuan riil terhadap orang-orang yang membutuhkan sesuai dengan kemampuan kita. Namun, hendaknya janji-janji –apalagi yang kita yakin tak dapat dipenuhi— betul-betul dihindari.

Bagaimana menurut Anda?

Penulis:

fuad
Fuad Nashori  adalah salah seorang pelopor dan ahli di bidang Psikologi Islami, sehari-hari beliau menjabat sebagai Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, (UII) Yogyakarta. Fuad Nashori adalah penulis tetap untuk rubrik Psikologi Islami di website ini

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Efek Perceraian pada Anak

12 Sep 2013 Sayed Muhammad

Perceraian merupakan mimpi buruk setiap pasangan menikah, namun kenyataan perceraian merupakan pilihan terbaik yang diambil…

Post Traumatic Stress Disorder

08 Sep 2013 pikirdong

Situasi stres pada umumnya menghasilkan reaksi emosional seperti; kecemasan, kemarahan, kekecewaan dan depresi. Kegembiraan juga…

Beberapa Jalan Menetaskan Ide-ide Kreatif Perspektif Psikologi Islami

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Tulisan ini akan menunjukkan proses-proses terjadinya kreativitas dalam perspektif Psikologi Islami. Perspektif psikologi Islami mempercayai…

Dependent Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian dependen (Dependent Personality Disorder; DPD) adalah suatu kondisi karakteristik dimana individu sangat tergantung…

Ungkap Sayang kepada Anak

09 Sep 2013 Sayed Muhammad

Anak merupakan dambaan setiap pasangan yang telah menikah. Kebanyakan orangtua sangat menyayangi anak-anaknya. Anak tumbuh…

Post Partum Blues

07 Sep 2013 pikirdong

Post Partum Blues merupakan problem psikis sesudah melahirkan seperti kemunculan kecemasan, labilitas perasaan dan depresi…

Menjadi Diri Anda Sendiri

16 Mar 2007 Sayed Muhammad

Tulisan artikel ini dimulai ketika secara tidak sengaja saya menemukan tulisan Guru Bahasa Inggris ketika…

Identitas Universitas Islam

09 Sep 2013 Fuad Nashori

Dalam kesempatan ini saya ingin membuka kembali wacana tentang Universitas Islam. Persoalan ini penting untuk…

Agenda Sosial Pikirdong

03 Sep 2013 pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling kita yang kami adakan atas partisipasi…

Veyourisme – Paraphilia

06 Sep 2013 pikirdong

Voyeurisms atau veyourisme merupakan perilaku penyimpangan seksual dengan cara mengintip orang lain yang sedang mengganti…

The Creative Process of Indonesian Muslim Writers: An…

10 Sep 2013 Fuad Nashori

ABSTRACT   The purpose of this study is to examine the creative process of Indonesian Muslim writers.…

Schizotypal Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian skizotipal (schizotypal personality disorder) adalah suatu kondisi gangguan serius dimana individu hampir tidak…

  • 1
  • 2
  • 3

Kategori Lainnya

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling kita yang kami adakan atas partisipasi teman-teman semua yang rela dan…

03 Sep 2013 Agenda Sosial pikirdong No comments

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak dan menyentuh hampir semua aspek kehidupan kita. Ada hak perempuan, hak…

05 Oct 2016 Artikel Psikologi GIB Psikologi Islami Psikologi Sosial Bagus Riyono Comments (1)

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014