DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic…

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa…

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Refleksi Psikologi Islami

Tulisan ini bertujuan untuk mengomentari sejumlah isu yang berkembang dalam pergumulan pengembangan wacana psikologi Islami. Penulis berpandangan bahwa sekalipun terbuka terhadap urutan kerja pengembangan psikologi Islami, yang paling direkomendasikannya adalah melakukan perumusan teori dulu, merisetnya dan baru setelah itu mengaplikasikannya.

sponsor1Isu berikutnya yang ditanggapinya adalah upaya-upaya mensinkronkan antara ayat-ayat qauliyah (wahyu, al-Qur’an dan al-Hadits) dengan ayat-ayat kauniyah (pengalaman empiris). Menurutnya, pengembangan psikologi Islami hendaknya tetap memprioritaskan pengembangan ilmu yang berdasarkan ayat-ayat qauliyah, tetapi tetap memberi peluang untuk melakukan pola-pola pengembangan psikologi dengan bertitik tolak dari isu-isu yang berkembang dalam dunia psikologi.  Kata Kunci: Psikologi Islami, refleksi

Pengantar    

Penulis memperoleh berbagai pertanyaan dari banyak kalangan berkaitan dengan pengembangan psikologi Islami. Ada sekian banyak isu, mulai dari yang bersifat teoritis-paradigmatis, alasan pengembangan psikologi Islami, ciri khas psikologi Islami, teori-teori khusus psikologi Islami, aplikasi psikologi Islami hingga ke pengembangan kurikulum dan bahkan pengembangan organisasi yang berkomitmen pada psikologi Islami. Di antara berbagai isu yang sampai ke penulis, ada beberapa hal yang ingin penulis tanggapi, di antaranya urutan pengembangan psikologi Islami, perlunya mengakumulasi berbagai modal untuk mengoptimumkan pengembangan psikologi Islami, langkah-langkah akomodatif untuk pengembangan psikologi Islami. Pertimbangan penulis dalam menanggapi isu-isu tersebut adalah intensitas isu dan kemampuan penulis untuk menanggapinya.

Urutan Pengembangan Psikologi Islami    

Salah satu persoalan penting dalam setiap mazhab psikologi adalah temuan apa yang bisa disumbangkan dalam memahami dan mengembangkan diri manusia. Kemampuan memahami diri manusia secara baru dapat diperoleh melalui perumusan teori dan penelitian terhadap realitas empiris. Pengembangan diri manusia dilakukan dengan berbagai upaya aplikasi dari teori-teori yang telah dirumuskan dan diriset, yang dilakukan dengan training, konseling, terapi, dan seterusnya.

Penulis memahami sepenuhnya bahwa di tengah kehidupan yang sangat pragmatis seperti saat ini, tuntutan akan adanya aplikasi psikologi Islami sungguh sangat besar. Penulis mendengar ungkapan semacam itu, baik dari generasi tua dan terutama generasi muda. Ungkapan ini ternyata antara lain dicermati oleh Hanna Djumaha Bastaman (2005) dalam tulisan yang berjudul “Dari KALAM Sampai Ke API”. Beliau bermaksud mengangkat kembali keresahan yang terjadi pada sekelompok generasi muda peminat psikologi Islami. “Mengapa perkembangan psikologi Islami sangat lambat?” Demikian ungkapan yang disampaikan sejumlah peminat psikologi Islami dari kalangan generasi muda. Lebih lanjut mereka mempertanyakan: “mengapa lebih banyak berputar pada dataran teoritis dan kurang menggarap wilayah aplikatif?”   Betul adanya, jangan sampai teori melulu. Arahkan psikologi Islami ke aplikasi! Tuntutan semacam itu, semestinya kita dukung dan kita perjuangkan bersama-sama. Suatu kajian atau suatu mazhab memang harus menunjukkan nilai aplikasi dari wacana yang dikembangkannya. Kalau tidak, ia akan jadi wacana yang tidak membumi.

Dalam pemahaman penulis, gerakan pengembangan psikologi Islami adalah usaha bersama dari banyak orang yang memiliki komitmen untuk menghadirkan sumbangan Islam bagi kemanusiaan. Pengembangan psikologi Islami perlu melibatkan banyak orang di mana orang-orang yang berminat terhadapnya bekerja, berjalin berkelindan, dalam mengembangkan psikologi Islami sesuai dengan minat dan kemampuannya. Harus ada orang yang bekerja dalam aplikasi, tapi juga harus ada yang berupaya dalam merumuskan teori-teori, dan menelitinya.

Penulis sepenuhnya sadar bahwa sebagaimana ilmu-ilmu atau mazhab-mazhab ilmu yang lainnya, psikologi Islami harus didukung seperangkat teori yang kuat. Teori yang kuat menandakan adanya fondasi keilmuan yang kuat. Oleh karena itu, tidak bisa tidak, psikologi Islami harus menguatkan aspek teoritisnya. Penulis sendiri, dalam beberapa tahun terakhir, berupaya melakukan peran tersebut. Penulis sendiri juga berupaya melakukan riset, beberapa di antaranya adalah tentang mimpi dan kreativitas, dengan harapan teori yang dirumuskan lebih kokoh. Sementara orang lain yang lebih canggih dalam aplikasi, diharapkan memperkuat barisan pengembang psikologi Islami lewat berbagai jalan praktis seperti training, konseling, terapi, dan sejenisnya.

Urutan kerja yang penulis pernah sampaikan dalam berbagai macam kesempatan adalah merumuskan teori, menelitinya, dan setelah itu mengaplikasikannya. Bila urutan kerja ini dipakai, maka pengembang psikologi Islami terlebih dahulu merumuskan toeri, yang ciri-cirinya adalah logis dan objektif (bisa diukur). Setelah teori dirumuskan sesuai dengan ciri-ciri di atas, maka ia siap untuk diriset. Di sini peneliti membuat hipotesis. Bila hasil penelitian sesuai dengan teori yang dibangun, maka jadilah ilmu yang kokoh dan selanjutnya siap untuk diaplikasikan.

Urutan kerja di atas tidaklah bersifat mutlak. Bila ada kesesuaian antara teori dan hasil riset, maka hasil riset itu membenarkan teori atau mengukuhkan kebenaran teori, dan selanjutnya siap diaplikasikan. Namun, bila ternyata tidak ada kesinkronan di antara keduanya, yaitu hasil penelitian berbeda dengan teori/hipotesis yang dirumuskan, maka sebagaimana disarankan oleh Noeng Muhadjir (1997), yang mestinya kita lakukan adalah gerak mondar-mandir antara perumusan teori dan riset. Cek lagi teorinya, bila perlu dirumuskan ulang terhadap teori yang sudah dirumuskan, lalu digunakan untuk memahami realitas yang terjadi dalam kehidupan. Dari sini pengembang psikologi Islami melakukan penggalian data empiris hingga ditemukan ilmu yang kokoh bangunannya. Setelah teori dan hasil riset selaras, saatnya untuk mengaplikasikannya.

Seorang pengembang psikologi Islami bisa juga mengembangkan psikologi Islami dengan berangkat terlebih dahulu dari penelitian. Dalam hal ini, pengembang psikologi Islami melakukan penelitian tanpa membuat hipotesis terlebih dahulu. Ia melakukan apa yang biasa dilakukan para peneliti kualitatif. Ia hadir, bertanya dan mengamati perilaku responden, sampai ke ceruk-ceruknya, tanpa membuat perkiraan-perkiraan terlebih dahulu. Kalau pilihan ini ditempuh, penulis mengusulkan agar yang diteliti bukan hanya responden-reponden pada umumnya, tapi perlu juga untuk dicari responden khusus yang memiliki keimanan yang kuat. Pertimbangan yang utama adalah keimanan merupakan unsur yang amat penting yang mampu membedakan seseorang dari yang lain.  Tidak kurang dari itu, seorang pengembang psikologi Islami juga bisa memulai pengembangan psikologi Islami dari aplikasi. Dengan aplikasi yang sudah diterjuninya, seseorang dapat memotret dan menghayati realitas kehidupan. Dengan berbagai pengalaman mengaplikasikan suatu pandangan, maka ia akan memperoleh insight apa yang penting dan tidak penting yang berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Agar aplikasi ini terarah, ada baiknya bila seorang pengembang psikologi Islami terlebih membuka diri untuk menerima kritik teori atas rancangan-rancangan/modul-modul aplikatifnya. Hal ini ditempuh agar aplikasi memang memiliki paradigma psikologi Islami.

Dengan sikap akomodatif sebagaimana yang telah penulis sampaikan di atas, penulis tetap merekomendasikan langkah berupa pengembangan psikologi Islami dengan terlebih dahulu melakukan perumusan teori, dilanjutkan riset, dan baru aplikasi. Urutan kerja yang lain dimungkinkan, dengan tetap berpegangan pada prinsip bahwa setiap langkah didahului atau dibingkai oleh paradigma psikologi Islami, yaitu meletakkan pandangan dunia Islam tentang manusia sebagai landasannya.

Dibutuhkan Akumulasi Modal: Manusia, Waktu, Usaha   Berkaitan dengan pengembangan psikologi Islami menjadi paradigma keilmuan yang kokoh, penulis berpendapat bahwa memang dibutuhkan waktu yang cukup, usaha yang keras, dan tetap mengharap pertolongan Allah ‘Azza wa jalla supaya wacana psikologi Islami terus berkembang maju. Perlu dipahami bahwa perkembangan suatu konsep atau suatu aliran berpikir mensyaratkan adanya akumulasi hasil pemikiran, hasil penelitian, dan hasil penerapan yang dilakukan banyak orang. Aliran-aliran psikologi moderen (psikoanalisis, behaviorisme, humanistik, transpersonal) membutuhkan waktu lima puluh hingga seratus tahun untuk bisa diterima sebagai aliran utama dalam psikologi.

Secara alamiah psikologi Islami harus berada dalam jalur sunnatullah (hukum Allah), yaitu ia tumbuh dan berkembang dengan membutuhkan waktu. Psikologi Islami sendiri memiliki nama psikologi Islami “baru” sekitar sebelas tahun lalu, saat terbitnya buku Psikologi Islami: Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi (Djamaludin Ancok & Fuad Nashori, 1994) yang segera disusul oleh Simposium Nasional Psikologi Islami di Surakarta (1994) atau –sebagaimana dijelaskan oleh Bastaman (2005-a)—baru tiga belas tahun yang lalu yaitu saat diterbitkan Jurnal Pemikiran Psikologi Islami KALAM (1992),.

Sebelumnya, memang telah dilakukan upaya menghasilkan psikologi Islami, yaitu dengan dilakukannya International Symposium on Islam and Psychology di Riyadh (1978) dan terbitnya The Dilemma of Muslim Psychologist karya Malik B. Badri (1979). Itu pun isunya tidak benar-benar kuat sehingga sebagai gerakan ia belum mampu melibatkan banyak orang untuk mengkaji dan mengembangkannya lebih lanjut. Itu artinya psikologi Islami lengkap dengan namanya baru berusia sepuluh tahun lebih sedikit. Menurut kami, dibutuhkan waktu sekitar 10-20 tahun lagi agar aliran psikologi yang diproklamasikan sebagai mazhab kelima di Jombang (1997) ini benar-benar diakui oleh “masyarakat psikologi di dunia umumnya dan di Indonesia khususnya.”

Lebih dari sekadar waktu, yang lebih utama adalah usaha dengan sungguh-sungguh. Dengan usaha yang sungguh-sungguh insya Allah hasilnya akan nyata. Suatu keadaan akan berubah (tepatnya diubah oleh Tuhan) bila manusia berupaya mengubahnya. Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak akan mengubah keadaan suatu kaum kecuali bila mereka berupaya mengubah keadaan mereka. Masih menurut-Nya, setiap urusan semestinya ditangani dengan kesungguhan atau dalam bahasa sekarang secara profesional. Allah berfirman: Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (Alam Nasyroh, 94, ayat 7). Dari sini kami berpandangan bahwa menjadi tuntutan bagi kita yang selama ini memilih psikologi Islami sebagai minat kajian untuk secara bersungguh-sungguh melakukan upaya terobosan untuk mengembangkan terus wacana psikologi Islami.

Langkah yang dapat ditempuh bermacam-macam, seperti mengadakan dan mengikuti kegiatan ilmiah (seminar, simposium, lokakarya, konferensi, temu ilmiah), terlibat atau menangani lembaga yang bergerak dalam pengembangan psikologi Islami (misalnya Asosiasi Psikolog Muslim Internasional, Asosiasi Psikologi Islami Indonesia, Ikatan Mahasiswa Muslim Psikologi Indonesia), terlibat dalam penelitian psikologi Islami, ikut serta menulis pemikiran psikologi Islami dalam bentuk artikel, karya tulis ilmiah, maupun buku. Tentu juga sampai mengaplikasikan ilmu yang dimiliki dan menyebarkannya ke masyarakat. Penjelasan yang lebih komprehensif tentang apa yang perlu dilakukan untuk pengembangan psikologi Islami, dapat dibaca dalam buku Agenda Psikologi Islami (Fuad Nashori, 2002). Bila kesungguhan ini ada di hati kita, insya Allah perkembangan dan perbaikan berjalan secara lancar.

Siapa yang harus melakukannya? Terhadap pertanyaan ini, sepandapat dengan Bastaman (2005) penulis berpandangan bahwa generasi muda, dengan rentang masa depannya yang lebih panjang, diharapkan dapat berperan lebih aktif dalam pengembangan psikologi Islami, baik pada fase perumusan teori, penelitian, maupun fase penerapan. Dengan semangat yang lebih berkobar, dengan tenaga yang lebih penuh, generasi muda peminat psikologi Islami diharapkan terlibat dalam berbagai fase pengembangan psikologi Islami.

Sekalipun demikian, baik generasi muda, generasi tengah baya, maupun generasi yang lebih tua, diharapkan melakukan peran yang dapat dimainkan. Penulis percaya bahwa ilmu –dalam hal psikologi Islami, dapat mencapai bentuknya yang lebih sempurna, dengan mengakumulasi berbagai pemikiran, penelitian, dan aplikasi.

Metode-metode Pengembangan Psikologi Islami   Berkaitan dengan pengembangan teori psikologi Islami, kita berhadapan dengan tuntutan agar pengetahuan yang didasarkan pada pandangan dunia Islam (yang berasal dari kitab suci, alam semesta, maupun diri manusia) dikonstruksi sehingga dapat digolongkan sebagai ilmu yang kokoh. Contoh realitas yang patut dikonstruksi adalah orang-orang yang dekat dengan baitullah merasa tentram dan ingin lagi mengunjunginya. Bagaimana meneorikan fakta ini?

Menurut penulis, tantangan pengembangan teori ini sangat berat, karena lemahnya kreativitas di kalangan akademisi psikologi khususnya dan akademisi dunia ketiga umumnya serta belum adanya usaha untuk keluar tradisi lemah di atas. Sepemahaman kami, sangat jarang (kalau tidak boleh dikatakan tidak ada) dosen atau mahasiswa psikologi yang menunjukkan teorinya yang orisinal. Hampir semuanya mengatakan menurut ini menurut itu. Saatnya telah tiba untuk merumuskan teori psikologi Islami.

Berkaitan dengan pengembangan teori psikologi Islami ini, ada satu hal yang sebenarnya menjadi sejenis kesepemahaman antar pengkaji psikologi Islami, yaitu meletakkan kitab suci atau wahyu (al-Qur’an dan al-Hadits) sebagai sumber pengembangan ilmu. Perbedaan utama antara sains Islam atau studi Islam dengan sains sekuler adalah posisi kitab suci. Sains Islam jelas-jelas meletakkan wahyu (al-Qur’an dan al-hadits) sebagai sumber untuk perumusan ilmu. Baik Abdul Mujib (2005) maupun Hanna Djumhana Bastaman (2005-a) berpandangan sepaham bahwa ayat-ayat kauniyah, wahyu, atau al-Qur’an dan al-Hadists adalah sumber penting bagi pengembangan psikologi Islami.

Penulis sendiri –walaupun dilihat dari latar belakang keilmuan lebih dekat dengan sudut pandang Hanna Djumhana Bastaman (2005-a)– tetap meletakkan wahyu sebagai sumber utama pengembangan ilmu. Oleh karena dalam berbagai kesempatan penulis mengusulkan agar dikembangkan pola objektivikasi teori dan rekonstruksi teori dalam pengembangan psikologi Islami. Penjelasan tentang dua hal ini penulis sampaikan dalam buku Potensi-potensi Manusia (Nashori, 2005). Objektivikasi adalah usaha untuk menjadikan pandangan yang berasal dari al-Qur’an dan al-hadits sebagai pandangan bersama manusia, yang diwujudkan dalam suatu rumusan teori yang dapat diukur. Sebagai contoh adalah tafakkur, yaitu berpikir mendalam tentang segala sesuatu yang ditandai usaha untuk mengkaitkan seluruh keadaan dan kejadian dengan Sang Pencipta. Rekonstruksi teori adalah usaha untuk menata ulang berbagai pandangan yang berasal dari pemahaman terhadap wahyu dengan apa yang ditemukan dari berbagai pemikiran dan temuan ilmu pengetahuan moderen. Sebagai contoh, dalam konsep psikologi Barat, tidur yang berkualitas adalah tidur yang nyenyak dengan waktu yang cukup. Pandangan ini kalau direkonstruksi akan menghasilkan pandangan bahwa seseorang akan tidur dengan berkualitas bila ia memperoleh kesempatan untuk berada dalam naungan Tuhan, yang ditandai oleh diperolehnya mimpi-mimpi yang benar.

Dalam tulisannya yang berjudul “Pengembangan Psikologi Islami dengan Pendekatan Studi Islam”, Abdul Mujib (2005) berpandangan bahwa pola-pola yang sejauh ini direkomendasikan Hanna Djumhana Bastaman (2005-b), di antaranya similarisasi, paralelisasi, komplementasi dan komparasi, ditinggalkan. Penulis sendiri berpandangan bahwa pola-pola sebagaimana yang direkomendasikan oleh Bastaman tetap kita perlukan sebagai proses mengakrabkan para peminat psikologi Islami dengan wacana integrasi Islam dan psikologi. Dalam pandangan penulis, langkah-langkah berupa kritik teori terhadap psikologi Barat, ayatisasi (atau similarisasi), pararelisasi, komplementasi, dan komparasi berguna untuk mengantarkan kita pada terwujudnya psikologi Islami. Dengan keimanan yang dimilikinya, penulis yakin bahwa hal semacam ini akan menghadirkan adanya ilham atau insight bagi peminat psikologi Islami untuk bertanya tentang bagaimana pandangan Islam tentang manusia. Sekalipun demikian, para pengguna pola similarisasi, paralelisasi, komplementasi dan komparasi, hendaknya menyadari sejak awal bahwa pola-pola tersebut adalah pola antara, bukan pola ideal.

Apa yang Diperjuangkan Psikologi Islami?   

Salah satu isu yang sering disampaikan oleh sejumlah orang kepada penulis adalah untuk apa psikologi Islami dimunculkan? Apa psikologi yang ada selama ini tidak cukup untuk menjadikan manusia lebih mengenal dan mengembangkan dirinya?  Secara garis besar, psikologi Islami dimaksudkan untuk melakukan pemberda-yaan manusia sehingga kualitas hidup manusia meningkat. Psikologi Islami akan mengingatkan kepada kita bahwa manusia harus dipahami sebagai makhluk yang multi dimensi. Hanya dengan mengerti hal inilah dimungkinkan bagi kita untuk mengembangkan manusia. Dalam perspektif psikologi Islami, manusia bukan semata makhluk fisik, psikologis (kognitif, afektif), social, tapi juga moral-spiritual. Sejauh ini alat yang digunakan psikologi moderen untuk memahami kebenaran tentang siapa sesungguhnya manusia adalah indra, akal budi, dan belum menggunakan alat yang melekat pada manusia, yaitu qalbu dan yang lurus dengan fitrah manusia dan berada di luar diri manusia, yaitu wahyu. Resiko dari tidak digunakannya wahyu dan qalbu adalah kegagalan dalam memahami manusia.

Dalam perspektif psikologi Barat moderen pada umumnya, hal-hal yang bersifat spiritual kurang mendapat perhatian yang memadai. Padahal dalam perspektif Islam, manusia tidak terlepas dari hal-hal yang bersifat spiritual (Allah, malaikat, jin, setan/iblis). Jelas bahwa manusia diciptakan Allah sang penentu hidup manusia. Hal-hal semacam ini diabaikan sehingga ketika muncul gejala-gejala spiritual, aliran psikologi Barat gagal untuk memahaminya dan karenanya gagal dalam menanganinya. Sebagai contoh apa yang dikatakan psikologi Barat bila ada seorang pemikir besar yang sangat populer kemudian memilih jalan sufi dengan hidup di desa yang jauh dari keramaian? Fenomena ini akan sulit dijelaskan oleh psikologi Barat secara spiritualistik. Dalam pandangan mereka hal itu dilakukan karena adanya kepuasan dengan hidup secara baru. Dalam perspektif Islam, semua itu dilakukan untuk memperoleh derajat yang lebih tinggi dalam hal hubungan mereka dengan Allah ‘Azza wa jalla .

Contoh yang lain lagi adalah fenomena senyum Amrozi. Bagaimana mungkin seseorang yang menerima vonis dihukum mati bisa tersenyum. Senyum Amrozi ini sering ditafsirkan sebagai senyum orang yang sudah tidak dapat mengendalikan kesadarannya. Dalam perspektif psikologi Islami, sebagaimana diungkapkan Achmad Mubarok (2005), senyum Amrozi berdimensi spiritual, berdimensi vertikal. Ia adalah ungkapan kemenangan atas perjuangan membela kebenaran melawan terorisme kuat Amerika Selanjutnya, alat yang melekat pada diri manusia yang perlu diberdayakan adalah qalbu. Dengan qalbu yang bersih, tajam, dan bercahaya dimungkinkan bagi seseorang untuk memahami kebenaran-kebenaran atau pengetahuan yang bersifat hakiki maupun yang tak tampak oleh mata. Dengan qalbu yang tajam dimungkinkan bagi profesional psikologi untuk memahami kondisi psikologis klien atau mitranya secara efektif. Pertemuan/proses konseling dalam upaya memahami keadaan mereka tidak harus dilakukan dalam beberapa kali. Dengan menembus dada atau jantung mereka terbentang pengetahuan tentang mereka melalui satu dua kali pertemuan.

Dengan ketajaman qalbu yang tingkat tinggi berkembang kemampuan-kemam-puan yang lebih tinggi, di antaranya adalah pengetahuan parapsikologis (prekognisi, retrokognisi, clairvoyance) maupun kekuatan parapsikologis (psikokinetik, bilocation, dsb). Muhammad SAW dan Khidhir adalah contoh manusia yang sangat intuitif!  Yang menjadi persoalan adalah peradaban moderen sangat ini tidak kondusif untuk mengembangkan kemampuan qalbu itu. Lembaga-lembaga pendidikan yang ada di peradaban milenium ketiga ini selalu mengasah kemampuan akal budi dan melupakan pengasahan intuisi. Kami yakin bahwa apabila qalbu dihidup-hidupkan dalam diri manusia, maka manusia akan berkembang lebih baik dan lebih optimal. Dengan cara inilah pemberdayaan manusia dapat lebih dioptimalkan.

Persoalan yang lain berkaitan dengan tidak berkembangnya hati nurani atau qalbu manusia adalah adanya penghalang yang sengaja dilakukan manusia sehingga menjadikan hati nurani tidak atau kurang berfungsi secara optimal. Secara spiritual, hal ini dijelaskan oleh Ibnu Katsir. Ahli tafsir ini berpandangan bahwa hati nurani tidak berfungsi karena hati kita diselubungi oleh bintik-bintik atau noda-noda hitam. Noda hitam ini adalah dosa-dosa yang dilakukan manusia terhadap sesamanya maupun terhadap Allah. Bila bintik hitam ini terus bertambah, maka hati nurani semakin tidak berfungsi. Ia seperti barang bening dan bercahaya, namun karena cahayanya dihalangi oleh bintik hitam, maka ia tidak memancar keluar. Bila seseorang menginginkan cahaya itu menampak keluar, maka proses pertama adalah menghilangkan bintik hitam; dan selanjutnya mempertajam cahaya itu dengan perbuatan baik terhadap Allah dan sesama.  Alat di luar diri manusia yang lurus dengan fitrah manusia adalah wahyu Allah. Wahyu berisi potret tentang siapa manusia. Lebih dari itu, ia pun berisi petunjuk bagaimana kita memperlakukan manusia. Dengan wahyu kita juga memperoleh pengetahuan tentang rentang perkembangan hidup manusia, sifat asal manusia, kemungkinan-kemungkinan manusia (fujur dan takwa), hal-hal yang dapat menja-dikannya melenceng dari sifat aslinya, dan tentu cara-cara untuk tetap berada dalam jalur yang lurus dan benar.

Penutup    

Penjelasan-penjelasan di atas adalah beberapa pokok pikiran yang dimaksudkan untuk merespon sejumlah isu yang berkembang berkaitan dengan pengambangan wacana psikologi Islami. Sebagian isu-isu yang ditanggapi telah dibicarakan oleh Hanna Djumhana Bastaman dan Abdul Mujib yang ditulis dalam Jurnal Psikologi Islami edisi 1 (2005). Demikian.

Bagaimana menurut Anda?

 

Daftar Pustaka     

Ancok, Djamaludin & Suroso, Fuad Nashori. 1994. “Psikologi Islami: Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi”. (Pustaka Pelajar, Yogyakarta).

Bastaman, Hanna Djumhana. 2005-a. Dari KALAM Sampai Ke API. Jurnal Psikologi Islami, I, (i), hal. 5-15.

Bastaman, Hanna Djumhana. 2005-b. Integrasi Psikologi dengan Islam. Cetakan Keempat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Badri, Malik B. “Dilema Psikolog Muslim”. (Al-Kautsar, Jakarta, 1985).

Mubarok, Achmad. 2005. Pencegahan Terorisme dengan Islamic Indigenous Psychology. Jurnal Psikologi Islami, I, (i), hal. ……..

Muhadjir, Noeng. “Metodologi Riset Psikologi Islami”. Dalam Rendra Krestyawan (ed.), Metodologi Penelitian Psikologi Islami” (Pustaka Pelajar, Yogya, 2000).

Mujib, Abdul. Pengembangan Psikologi Islam Melui Pendekatan Studi Islam. Jurnal Psikologi Islami, I, (i), hal. 16-30.

Nashori, H. Fuad. “Agenda Psikologi Islami” (Pustaka Pelajar, Yogya, 2002).

Nashori, H. Fuad. “Potensi-potensi Manusia” (Pustaka Pelajar, Yogya, 2003).

Nashori, H. Fuad. “Proses Kreatif Penulis Muslim” (Laporan Penelitian, LP, UII, Yogyakarta, 2004).

Nashori, H. Fuad. “Hubungan antara Kualitas Tidur dan Kualitas Mimpi dengan Prestasi Belajar Mahasiswa” (Laporan Penelitian, LP & Ditjen Dikti Depdiknas, Yogyakarta, 2004).

Penulis:

fuad
Fuad Nashori  adalah salah seorang pelopor dan ahli di bidang Psikologi Islami, sehari-hari beliau menjabat sebagai Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, (UII) Yogyakarta. Fuad Nashori adalah penulis tetap untuk rubrik Psikologi Islami di website ini

 

1 comment

  1. mayang Reply

    Saya tertarik dengan tulisan anda , menurut saya psikologi dapat mempelajari bagaimana manusia belajar dalam pendidikan pengaturan, efektivitas intervensi pendidikan, psikologi pengajaran, dan psikologi sosial dari sekolah sebagai organisasi
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Psikologi yang bisa anda kunjungi di Psikologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Mengenal Dyslexia Pada Anak

13 Oct 2015 pikirdong

Dyslexia (disleksia) merupakan ketidakmampuan belajar (learning disability) yang dialami oleh seseorang dimana individu tidak mampu…

Paraphilia

06 Sep 2013 pikirdong

Paraphilia adalah istilah klinis yang digunakan untuk menggambarkan penyimpang seksual. Paraphilia merupakan permasalahan menyangkut kontrol…

Perlu Tidak Ulang Tahun Anak Dirayakan?

15 Oct 2015 Sayed Muhammad

Anak mulai mengerti kebiasaan perayaan ulang tahun pada usia 3 tahun, anak mulai mengerti bahwa…

Narcissistic Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau gangguan kepribadian narsisistik merupakan gangguan mental dimana individu merasa dirinya…

Kompetensi Interpersonal Mahasiswa Ditinjau dari Jenis Kelamin

06 Sep 2013 Fuad Nashori

ABSTRACT Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kompetensi interpersonal antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan. Hipotesis…

Menjadi Survivor yang Baik

09 Dec 2008 Fuad Nashori

Survivor adalah orang yang terluput dari bencana, orang yang selamat. Dalam tulisan ini, digunakan istilah…

Masalah lagi… Masalah lagi…

08 Sep 2013 pikirdong

Aduh…! Pusing banget nich. Lagi banyak masalah”, atau “Kenapa sich masalah selalu dateng hampirin aku!”,…

Defense Mechanism

06 Sep 2013 pikirdong

Ketika timbul suatu dorongan atau kebutuhan, manusia yang normal akan cenderung untuk menghilangkan atau mengurangi…

Halusinasi

07 Sep 2013 pikirdong

Halusinasi merupakan persepsi yang abnormal pada individu dimana ia sadar dan terjaga akan tetapi tanpa…

Dependent Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian dependen (Dependent Personality Disorder; DPD) adalah suatu kondisi karakteristik dimana individu sangat tergantung…

Ciri-ciri Keluarga Bahagia

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Keluarga yang diidealkan setiap manusia adalah keluarga yang memiliki ciri-ciri mental sehat demikian: sakinah (perasaan…

Simtom dan Dampak dari Internet Adiktif

04 Sep 2013 pikirdong

Bagaimana yang disebut sebagai adiktif internet dan komputer? Bagaimana pula yang disebut dengan menggunakan komputer…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders yang ke V terjadi perubahan…

30 Aug 2017 Artikel Psikologi Psikologi Klinis pikirdong No comments

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa tubuh membutuhkan dokter dan bila diperlukan juga, diambil langkah untuk rawat…

24 Aug 2017 Kolom Sayed Muhammad Sayed Muhammad No comments

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014