TwitterFacebookGoogle+

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan jutaan manusia berinteraksi dengan menggunakan icon-icon sebagai super magnetik dalam menjalin hubungan dengan individu lainnya. Simbol-simbol yang awalnya kurang menjadi perhatian, kini menjadi icon tersendiri sebagai gaya hidup yang mesti diketahui banyak orang, untuk menjadi manusia “smart” memasuki babak baru dalam pergaulan modern ini.

Pengguanaan media untuk berkomunikasi merupakan salah satu cara untuk mendapat lebelisasi mobil dan trendy, saat ini, internet telah menjadi suatu bentuk kebutuhan baru dalam bersosialisasi. Handphone adalah satu media yang menjadi pilihan populer yang mudah dibawa kemanapun, praktis, dan simple.

Seiring perkembangan jaman, handphone pun berubah fungsi, penemuan pelbagai macam fitur telah menciptakan wabah baru ketergantungan pada teknologi akut, handphone pun berubah menjadi alih fungsi dari sekedar untuk berkomunikasi semata, kini smartphone diciptakan untuk individu agar dapat bermain lebih lama dengan alat tersebut.
Namun, kecanggihan ini ternyata memberikan suatu sinyal penting bahwa penggunaan smartphone memberikan banyak dampak buruk, dengan kata lain smartphone tidak memberikan “kecerdasaan” bagi pemakainya. Brain drain adalah suatu kata yang mencuat akhir-akhir ini setelah Adrian F. Ward dari Universitas Texas di Austin mempublikasi risetnya yang menyebutkan bahwa smartphone mengurangi kemampuan kognitif bagi pemakainya.

Brain drain erat kaitannya perilaku impulsif individu yang bergantungan pada smartphone sehingga individu berperilaku tidak efektif, dibawah sadar, tidak dapat fokus, serta kegelisahan tanpa sebab spesifik bila tidak menyentuh smartphone dalam relatif singkat. Dr. Ward menyebutkan bahwa penggunaan smartphone telah membatasi kapasitas kognitif yang dapat menghambat kerja memori, mengurangi perhatian dan kecerdasan.
Penderita brain drain kesulitan dalam mengingat apa yang harus dilakukan dalam perilaku kehidupan sehari-harinya bahkan dalam hal-hal kecil sekalipun, ia sering lupa dengan apa yang semestinya hendak dilakukan, sehingga sering terlihat bingung dengan apa yang dikerjakannya. Ini adalah salah satu ciri sebagai efek dari brain drain.

Pengguna smartphone memiliki dampak brain drain yang lebih parah, pesan-pesan aktif notify dari smartphone telah menggerakan impuls dari invidu untuk melihat isi pesan tersebut sebelum otak menimbang manfaat dalam keputusan yang diambil. Akibatnya, individu menjadi tidak fokus, kehilangan konsentrasi, serta menghambat kecerdasaan dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Akhir-akhir ini banyak sekali tulisan yang kita temui mengungkapkan dampak buruk dari smartphone, baik bagi anak ataupun kepada individu secara umum. Serta, semakin banyak penelitian juga yang terus dilakukan untuk mengetahui dampak buruk dari wabah smartphone yang melanda hampir seluruh dunia. Hasil penelitian tersebut menjadi perbincangan seluruh dunia, terkenal dan menjadi rujukan dalam setiap obrolan dalam media sosial.

Bijak menggunakan smartphone;

1. Matikan smartphone saat bertemu teman, duduk bersama mereka, terlibat pembicaraan dibandingkan sibuk dengan smartphone masing-masing.
2. Matikan smartphone saat berada dalam pertemuan penting dengan seseorang, rapat, seminar, atau saat sedang berada di kantor.
3. Matikan smartphone Anda saat berada dalam kawasan tertentu yang melarang penggunaan jenis handphone, misalnya kawasan pengisian bahan bakar yang memberikan tanda larangan penggunaan alat tersebut, dalam pesawat tertentu, ruangan dalam rumah sakit, laboratorium, dan sebagainya.
4. Tidak menggunakan smartphone saat mengendarai kendaraan tanpa alat bantu.
5. Matikan smartphone saat berada dalam acara keagamaan, dalam rumah ibadah dan sebagainya.
6. Tidak memberikan smartphone kepada anak-anak, meskipun dengan dalih untuk kepentingan perkembangan.

Sebuah penelitian yang sempat dipublish oleh The Daily Telegraph (4 Juli 2017) misalnya, Smartphone telah menumbuhkan kutu kepala diantara anak-anak sekolah. Serius, saya tidak mengada-ada, penelitian ini dilakukan oleh British Association of Dermatologists menyebutkan bahwa 45% anak-anak sekolah mengalami permasalahan kutu rambut, angka ini melesat tinggi dalam 5 tahun terakhir. Penyebabnya adalah Selfie culture. Perilaku selfie bersama teman-teman ini mendorong anak-anak untuk berkumpul dalam kelompok, membiarkan serangga itu melompat di antara kepala mereka.

Lupakan tentang kutu rambut, smartphone adalah bisnis, individu disibukan dengan pelbagai fitur, cukup efektif sebagai pembunuh rasa kesepian, menjelajah dunia maya atau berinteraksi dengan media sosial. Bagi beberapa orang, smartphone sangat bermanfaat, namun memiliki smartphone bukan berarti bahwa kita dapat melupakan sebagai makhluk sosial yang perlu berinteraksi langsung dengan orang sekitar. Apalagi kecanggihan smartphone tersebut telah membuat kita tidak dapat bersikap manis di depan orang lain, menyapanya dengan sebuah senyuman dibandingkan mengetik sebuah kata “halo?” dari smartphone.

Simpan smartphone Anda untuk sementara, sapalah orang-orang disekitar, berbicaralah langsung dengan mereka dibandingkan Anda berinteraksi dengan dunia maya, ini lebih bermanfaat dan memperkaya kepribadian diri dibandingkan tenggelam dengan kehidupan dunia maya. Bila demikian, impuls yang terkontrol akan tetap menjaga diri Anda sebagai Mr. Nice Guy.

Rujukan:
Adrian F. Ward et al. Brain Drain: The Mere Presence of One’s Own Smartphone Reduces Available Cognitive Capacity, Journal of the Association for Consumer Research (2017). DOI: 10.1086/691462

Sarah Knapton, Smartphones blamed for dramatic rise in head lice as schoolchildren gather together to view screens. Link.

Penulis :ayed

Sayed Muhammad adalah lulusan psikologi Universitas Islam Indonesia, ia adalah perintis dan penulis tetap di website ini.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar

Artikel Lainnya

Ketergantungan Komputer dan Internet: Tips dan Treatment

04 Sep 2013 pikirdong

Ketergantungan pada internet dan komputer memberikan dampak buruk dan perilaku baik secara langsung ataupun secara…

The Creative Process of Indonesian Muslim Writers: An…

10 Sep 2013 Fuad Nashori

ABSTRACT   The purpose of this study is to examine the creative process of Indonesian Muslim writers.…

Asperger Syndrome

05 Sep 2013 pikirdong

Gangguan Asperger atau dikenal dengan istilah Asperger syndrome (AS), juga disebut sebagai Asperger disorder merupakan…

Penyakit Hati: Tanda, Sebab, Upaya Penyembuhan

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Dalam Islam, suci dan kotornya hati memiliki arti yang sangat penting. Hati yang suci dan…

Mengejar Kebahagiaan

09 Sep 2013 Ardiman Adami

Bilamana Anda merasa bahagia? Apakah ketika Anda meraih kesuksesan, kekayaan, atau kesenangan? Tentu saja Anda…

Post Partum Blues

07 Sep 2013 pikirdong

Post Partum Blues merupakan problem psikis sesudah melahirkan seperti kemunculan kecemasan, labilitas perasaan dan depresi…

Sadisme Seksual – Paraphilia

06 Sep 2013 pikirdong

Individu dengan gangguan ini secara konsisten memiliki gangguan fantasi seksual dengan cara menyakiti pasangannya dengan…

Katakan Saja Tidak!

29 Oct 2015 Sayed Muhammad

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar untuk mengatakan "tidak" yang memang kita…

Veyourisme – Paraphilia

06 Sep 2013 pikirdong

Voyeurisms atau veyourisme merupakan perilaku penyimpangan seksual dengan cara mengintip orang lain yang sedang mengganti…

Episode Depresi

06 Sep 2013 pikirdong

Episode depresi digolongkan pada rentang waktu kemunculan depresi yang relatif singkat, pada umumnya penderita episode…

Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT)

09 Sep 2013 Sayed Muhammad

Perkawinan bukanlah suatu pengikat yang memberikan kebebasan untuk saling menyakiti pasangan hidupnya. Dengan adanya perkawinan…

Menyikapi Budaya Beragama yang Beragam

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Agama adalah seperangkat keyakinan, aturan, praktik berperilaku yang berasal dari Tuhan. Ia dihadirkan Tuhan di…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

Muslim yang Ketakutan

Ada rasa takut, khawatir saat mau nge-share tulisan ulama yang dicap radikal. Takut dianggap pro HTI, pro FPI, ekstrim, radikal,…

30 May 2018 Khairrubi Kolom Ruby Kay No comments

Mendidik Anak dengan Sepenuh Hati

Mendidik atau mengasuh anak dengan sepenuh hati itu artinya mendidik anak dengan pendidikan Islam. Hanya dengan pendidikan Islam saja orangtua…

23 May 2018 Artikel Keluarga Psikologi Islami Irwan Nuryana Kurniawan Comments (1)

Biar Anak Rajin Ke Masjid

Saya dan istri saya ingin semua anak rajin ke masjid. Yang kami tahu adalah nanti yang mendapat naungan dari terik…

29 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Ketika Si Anak Memilih Jalannya Sendiri

Orangtua berupaya agar anaknya memilih jalan yang terbaik yang menjamin masa depannya. Tugas orangtua yang pertama tentu adalah mengarahkan. Dulu…

28 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Mendidik Anak Mandiri

Salah satu tugas orangtua adalah melatih anaknya menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang mandiri adalah pribadi yang memiliki inisiatif untuk…

27 Apr 2018 Artikel Keluarga Fuad Nashori No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014