TwitterFacebookGoogle+

Social Phobia

Sosial fobia (social phobia) atau dikenal juga dengan istilah social anxiety disorder (SAD) merupakan gangguan kecemasan secara menyeluruh yang ditandai dengan beberapa simtom tertentu.

Pembagian Gangguan kecemasan:
(1) Gangguan panik tanpa agoraphobia
(2) Gangguan panik dengan agoraphobia
(3) agoraphobia tanpa riwayat gangguan panik
(4) Phobia spesifik
(5) Phobia sosial
(6) Gangguan obsesif-kompulsif
(7) Gangguan stres pasca traumatik
(8) Gangguan stres akut
(9) Gangguan kecemasan umum
(10) Gangguan kecemasan umum disebabkan kondisi medis umum
(11) Gangguan yang dihubungkan dengan penggunaan zat
(12) Gangguan kecemasan yang tidak terindentfikasi
(APA, 1994)

Simtom;

1) Fisik
– Gemetar pada tangan dan kaki, seperti tremor ketika kecemasan meningkat yang juga disertai gemetar pada saat berbicara
– Berkeringat terutama pada tangan
– Rasa cemas secara berlebihan yang ditandai dengan adanya serangan panik
– Meningkat ketegangan pada otot, ditandai mudah pegal
– Ingin buang air kecil dalam waktu singkat
– Sering sakit kepala
Insomnia
– Mudah merasa lelah
– Rasa sesak di dada
– Pusing

2) Kognitif
– Rasa takut terhadap penilaian orang lain, takut dikritik
– Selalu berpikir negatif, beranggapan bahwa orang lain menilai buruk tentang dirinya
– Kesulitan menemukan ide-ide baru dan cenderung tidak mampu berpikir secara jernih terhadap permasalahan yang dihadapinya.
– Mengisolasi diri
– Merasa dirinya lemah, bodoh dan selalu merasa khawatir
– Merasa dirinya selalu dilihat oleh orang lain
– Rasa takut untuk melihat atau bertemu orang asing
– Merasa dirinya tidak mampu berkompetisi dan berperilaku sebagaimana orang lainnya.
– Menghindari kerumunan atau kumpulan orang ramai/keramaian tertentu saja (secara diagnostik harus dipisahkan kecenderungan dari simtom agoraphobia)
– Ketakutan untuk tampil di depan orang lain atau publik

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSMIII), sosial fobia ditandai dengan ciri utama ketakutan yang sifatnya menetap, irasional, yang memaksakan individu menghindari situasi-situasi yang membuat individu tersebut merasa malu diperhatikan oleh orang lain. Pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM IV) pada gangguan ini ditekankan pada rasa ketakutan tersebut secara berlebihan dan dengan alasan tidak masuk akal.

Penderita sosial fobia menunjukkan pelbagai perilaku tertentu seperti rasa takut berbicara di depan umum, makan ditempat umum, buang air kecil di toilet umum, atau berbicara sepatah kata pada situasi sosial tertentu, takut menulis sesuatu hal yang dapat dibaca oleh publik (Artinya, mereka lebih suka menyembunyikan tulisan-tulisannya dengan menyembunyikan identitas penulis, biodata dan sebagainya). Pada situasi yang menakutkan bagi dirinya, penderita SAD sering menyalahkan dirinya sendiri, seiring meningkatnya kecemasan juga terjadinya perubahan warna kulit yang memerah, berkeringat dan gemetar.

Kemunculan SAD diduga berawal dari beberapa kondisi dari permasalahan dalam dunia kerja; dimana individu terjebak dalam pekerjaan yang berat -menyulitkan dirinya, ketergantungan atau penyalahgunaan pada obat-obatan, alkoholik dan depresi. (Barlow, DiNardo, Vermilyea dan Blanchard, 1986; Bowen, Cipywnyk, D’Arcy and Keegan, 1984)

Treatment

Penderita sosial fobia dapat kembali menjadi normal setelah menjalan terapi secara rutin yang tidak terputus. Penderita sosial fobia atau SAD harus menjalani test diagnostik terlebih dahulu untuk menentukan diagnosa awal, dengan melihat skor yang diperoleh dari Clinical Global Impression Scale (CGI), Fear of Negative Evaluation Scale, atau Social Avoidance and Distress Scale. Sementara dalam psikofarmakologi, treatment utama yang digunakan adalah Selective Serotonin-Reuptake Inhibitors (SSRIs) jenis paroxetine (paxil), benzodiazepines, fluoxetine (prozac), sertraline (zoloft), dsb dianggap treatment paling manjur yang tidak berbahaya pada pasien. Sekitar 80% pasien SAD dapat kembali normal karena menjalani terapi secara rutin tanpa jeda waktu.

Treatment di dalam terapi diberikan untuk penderita SAD yang paling sering dikenalkan adalah cognitive-behavioural therapy. Dalam terapi yang dilakukan pleh psikolog, cognitive-behavioural therapy pasien diberikan: ketrampilan bersosialisasi (social skills training) yang dapat dilakukan secara berkelompok atau group (self-help group), latihan dalam mengekspresikan rasa cemas secara tepat dan bagaimana mengontrolnya (exposure techniques), mengubah cara berpikir yang salah (cognitive restructuring techniques) dan teknik kombinasi exposure-cognitive restructuring. Disamping itu juga diperkenalkan meditasi untuk mengurangi ketegangan otot (relaksasi) dan teknik copying.

Beberapa keuntungan yang semestinya dapat diperoleh dalam terapi:
(1) Pasien dapat mengetahui bahwa dirinya bukan sendiri yang mengalami masalah tersebut dan ia mendapatkan support dari konselor atau orang-orang terdekatnya.
(2) Pasien menjadi mandiri dan tidak tergantung pada orang lain dalam menghadapi masalah termasuk konselor, terapis atau psikolog/psikiater.
(3) Pasien haruslah mempunyai komitmen untuk berubah pada dirinya sendiri dan terhadap kelompok (group) terapinya
(4) Pasien haruslah mempunyai motivasi dalam penyembuhan dengan menggunakan metode terapi
(5) Adanya beragam kondisi sosial tertentu di dalam masyarakat yang ikut membantu dalam penyembuhan yang dapat memberikan manfaat di dalam proses terapi
(6) Pasien dapat merasakan kecemasannya sendiri sebagai sesuatu hal yang normal pada situasi tertentu (pada saat tertentu orang normal juga dihadapkan pada situasi sosial yang memberikannya rasa cemas)

Psikiatris juga menggunakan obat-obatan dalam memberikan treatment (disamping secara psikologis tentunya) berupa prozac dan seroxat, dan juga trankimazin, rivotril, lexatin, tenormin, dan sebagainya yang diyakini dapat mempengaruhi kerja sistem syaraf pusat (central nervous system; CNS) secara langsung dan efektif mengurangi tingkat kecemasan pasien.

Disclaimer

Website pikirdong hanya memberikan informasi semata mengenai beberapa simtom, artikel psikologi, kesehatan, termasuk kemungkinan di dalamnya tersebut nama-nama alat test psikologi atau obat-obatan. Artikel ini tidak boleh dijadikan sebagai rujukan atau acuan untuk diagnosa ke dokter. Perbedaan diagnosa dan informasi yang Anda peroleh selama perawatan tanyakanlah pada mereka yang berkompeten dibidangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Histrionic Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian histrionik (histrionic personality disorder) adalah gangguan kepribadian dengan karakter emosi yang meluap-luap…

Peran Keluarga terhadap Keselamatan Anak Saat Terjadi Bencana

08 Sep 2013 Fuad Nashori

Anak-anak adalah bagian dari masyarakat yang paling rentan terhadap bencana (tsunami, gempa, banjir, longsor, penculikan,…

Post Partum Blues

07 Sep 2013 pikirdong

Post Partum Blues merupakan problem psikis sesudah melahirkan seperti kemunculan kecemasan, labilitas perasaan dan depresi…

Social Phobia

08 Sep 2013 pikirdong

Sosial fobia (social phobia) atau dikenal juga dengan istilah social anxiety disorder (SAD) merupakan gangguan…

Bahagiakah Orang-Orang yang Melajang?

10 Sep 2013 pikirdong

Pada saat ini banyak laki-laki dan perempuan yang memilih hidup melajang. Bagaimana pandangan agama Islam…

Defense Mechanism

06 Sep 2013 pikirdong

Ketika timbul suatu dorongan atau kebutuhan, manusia yang normal akan cenderung untuk menghilangkan atau mengurangi…

Anak dan Peterporn

14 Jun 2011 Fuad Nashori

Peterporn. Itulah istilah yang digunakan untuk menggambarkan aksi pornografi yang diduga (sangat keras) melibatkan pesohor…

Schizotypal Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian skizotipal (schizotypal personality disorder) adalah suatu kondisi gangguan serius dimana individu hampir tidak…

Melejitkan Moral-Spiritual Anak

10 Sep 2013 Fuad Nashori

Ada sejumlah langkah untuk melejitkan moral-spiritual anak, yaitu dengan meningkatkan stimulasi pendengaran, penglihatan dan perabaan…

Episode Depresi

06 Sep 2013 pikirdong

Episode depresi digolongkan pada rentang waktu kemunculan depresi yang relatif singkat, pada umumnya penderita episode…

ADHD Pada Anak-anak

05 Sep 2013 pikirdong

Tanda-tanda adanya gangguan ADHD sebenarnya sudah dapat dideteksi sejak anak masa pra sekolah. Kurangnya atensi,…

Ungkap Sayang kepada Anak

09 Sep 2013 Sayed Muhammad

Anak merupakan dambaan setiap pasangan yang telah menikah. Kebanyakan orangtua sangat menyayangi anak-anaknya. Anak tumbuh…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

Teman Berselingkuh

Suatu hari ketika Anda sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, Anda melihat teman sekantor Anda sedang berjalan mesra dengan seseorang yang…

27 Feb 2018 Obrolan pikirdong Comments (1)

DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders yang ke V terjadi perubahan…

30 Aug 2017 Artikel Psikologi Psikologi Klinis pikirdong No comments

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa tubuh membutuhkan dokter dan bila diperlukan juga, diambil langkah untuk rawat…

24 Aug 2017 Kolom Sayed Muhammad Sayed Muhammad No comments

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014