Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

Reformasi Sistem Pendidikan Finlandia Menjadikan Mereka yang Terbaik di Dunia

Reformasi besar-besaran dalam dunia pendidikan di Finlandia telah dimulai…

Perlu Tidak Ulang Tahun Anak Dirayakan?

Anak mulai mengerti kebiasaan perayaan ulang tahun pada usia…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Spirit Kepemimpinan Profetik

Pernah suatu malam Khalifah Umar bin Khattab berjalan menyusuri lorong-lorong kota Madinah. Bersama seorang pembantunya, Umar hendak melihat keadaan rakyatnya. Mereka mendapati seorang wanita dan anak-anaknya yang masih kecil duduk mengitari periuk besar di atas tungku api. Anak-anak itu terlihat menangis. Umar lalu mendekat dan bertanya, “Apa yang sedang terjadi?”

sponsor1“Kami sudah dua hari tidak makan. Kami kedinginan dan kelaparan,” jawab wanita itu. Ia tidak tahu kalau yang ada di hadapannya itu adalah Khalifah Umar.

“Lalu apa yang ada di dalam periuk itu?”

“Air, agar mereka diam dan tertidur.”

“Apa kau tidak memberi tahu pada Khalifah Umar?”

“Seharusnya dialah yang harus tahu keadaan kami. Dia punya kuda, juga ribuan pegawai dan tentara. Dia seharusnya tidak boleh tidur nyenyak di rumahnya, sementara ada rakyatnya seperti kami yang kedinginan dan kelaparan.”

Hati Umar sangat pedih. Umar bergegas pergi mengajak pembantunya menuju ke gudang penyimpanan gandum. Umar mengambil sekarung gandum dan hendak memanggulnya. Sang pembantu mencegah, “Jangan, Tuan, biarlah saya saja yang memanggulnya.”

Umar malah marah dan menghardik, “Apakah kamu juga akan memanggul dosaku di Hari Kiamat kelak!”

Pembantu itu diam seribu bahasa. Ia lalu membantu Umar menaikkan sekarung gandum itu ke pundaknya. Umar juga menenteng beberapa liter minyak samin. Kemudian Umar berjalan tergesa menuju rumah wanita tadi. Umar tidak peduli dengan beratnya beban dan dinginnya malam.

Sesampainya di tempat tujuan, api yang menggodok periuk itu hampir padam. Anak-anak yang tadi menangis sudah tertidur. Umar meletakkan karung berisi gandum itu di tanah. Pun minyak samin yang ditentengnya. Umar lalu memasukkan beberapa kayu bakar ke dalam tungku, dan meniupnya hingga api itu membesar kembali. Umar keluar sebentar mencari air lalu menambahkannya ke dalam periuk.

Dengan kedua tangannya, Umar mengambil gandum dan memasukkannya ke dalam periuk. Begitu mendidih, Umar mengaduknya sampai matang. Umar pun menyuruh wanita itu membangunkan anak-anaknya untuk makan. Anak-anak yang kelaparan itu bangun dan makan dengan lahapnya. Setelah itu mereka bermain-main hingga tertidur kembali dengan nyenyaknya

Apa yang ditunjukkan oleh Khalifah Umar bin Khattab dalam kisah di atas adalah bukti kecintaannya kepada rakyat yang dipimpinnya. Umar merepresentasikan penguasa yang menjunjung tinggi kesederhanaan hidup, kecepatan bertindak dan tidak pandang bulu terhadap siapa saja yang melakukan kesalahan, serta sikapnya yang terbuka. Dia telah berhasil membumikan kezuhudan ajaran yang ada dalam Alquran. Agaknya pribadi Nabi Muhammad SAW terpancar pada dirinya. Dia menjadi abdi rakyat, bukan abdi kekuasaan. Dia mengabdi kepada kepentingan rakyat, bukan kepada kepentingan pribadi. Pada pribadi Umarlah nilai-nilai Islam mencuat laksana mercusuar. Betapa masyarakat kita merindukan sosok pemimpin bangsa layaknya Umar. Adakah sosok pemimpin kita seperti itu?

Dicari: Sosok Pemimpin Sejati

Pencapaian suatu bangsa tidak akan melampaui kapasitas pemimpinnya. Oleh sebab itu, sangat penting bagi sebuah bangsa mencari sosok terbaik sebagai pemimpinnya. Pemimpin terbaik akan menjadi pembimbing langkah-langkah bangsanya. Indonesia ke depan memerlukan pemimpin yang bukan hanya cerdas dan cakap, melainkan juga juga arif-bijaksana dan sanggup mengabdikan diri sebesar-besarnya untuk kepentingan bangsa. Bukan pemimpin yang gemar bersiasat, apalagi hanya pemimpin pemburu kekuasaan dengan mengorbankan etika dan hajat hidup publik. Bangsa ini sudah terlalu lelah dengan ulah elite politik dan pemimpin yang gemar merugikan rakyat dan tidak memberikan harapan. Padahal sejatinya, pemimpin itu harus mampu menjadi teladan bagi rakyatnya.

Coba kita tengok hajatan lima tahunan negeri ini. Pemilihan presiden memang masih setahun lagi, namun bursa calon presiden makin menghangat. Partai-partai politik sudah sibuk menjaring calon-calon pemimpin baru. Akhir oktober lalu, laporan utama Tempo mengulas hasil jajak pendapat paling aktual versi berbagai lembaga survei yang masih condong pada Susilo Bambang Yudoyono dan Megawati Soekarno Putri. Mereka berada di puncak lantaran masih rendahnya popularitas para figur tandingan, seperti Sri Sultan Hamengku Buwono X, Wiranto, dan Prabowo Subianto. Dukungan terhadap Yudoyono pada September lalu bahkan dilaporkan sedikit meningkat ketimbang tiga bulan sebelumnya. Ribuan responden masih menjagokan dia, walaupun kepuasan mereka terhadap kinerjanya cenderung merosot.

Namun demikian, rasa apatisme, kekecewaan, dan ketidakpuasan terhadap para pemimpin bangsa ini sudah makin mengental di tengah-tengah masyarakat. Sikap pemerintah yang terus membebani rakyat menunjukkan bahwa pemerintahan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Pemerintah seharusnya menjadi pihak pertama yang bertanggungjawab untuk menjamin kemaslahatan dan kepentingan rakyat. Kenyataan itu diperparah oleh sikap aparatur negara yang tidak amanah, korup, dan sering melakukan penyalahgunaan wewenang. Padahal, pemerintah yang baik tidak bisa diwujudkan oleh aparatur yang kotor. Alhasil, masyarakat sudah tidak percaya lagi terhadap para pemimpinnya. Mereka menginginkan calon-calon pemimpin yang diharapkan mampu membangkitkan bangsa ini dari keterpurukan.

Islam memandang kepemimpinan sebagai amanah, ujian, dan tanggung jawab dari Tuhan. Pelaksanaannya tidak hanya dipertanggungjawabkan kepada rakyat yang dipimpinnya, melainkan juga kepada Sang Khaliq sebagai pemilik kekuasaan. Karena itu, pertanggungjawaban kepemimpinan dalam Islam tidak hanya bersifat horizontal-formal kepada sesama manusia, tetapi juga bersifat vertikal-moral kepada Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Rasul SAW bersabda, “Seorang imam (pemimpin) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya; ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dicintai dan diridhai oleh rakyatnya. Begitu juga sebaliknya, ia pun mencintai dan meridhai rakyatnya. Kedua belah pihak saling membutuhkan untuk membuat sinergi bagi peningkatan ketakwaan di sisi Allah. Kondisi ini bisa terwujud ketika tidak ada perbedaan tujuan antara pemimpin dan rakyatnya. Keduanya sama-sama berlomba dalam kebajikan, bukan dalam kemungkaran. Dalam hal ini, Nabi SAW bersabda, “Sebaik-baik pemimpin kalian ialah mereka yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian; mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Seburuk-buruk pemimpin kalian ialah mereka yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian; kalian melaknati mereka dan mereka pun melaknati kalian.” (HR. Muslim)

Meneladani Kepemimpinan Rasul

Kata orang bijak, belajarlah dari sejarah. Dalam ungkapan yang sangat indah dan memukau, Thomas Carlyle mengatakan, “The history of the world is but the biography of great man.” Sejarah tak lebih merupakan kumpulan biografi orang-orang besar. Kita bisa menemukan sosok pemimpin ideal dalam sejarah Islam di masa silam. Tentu saja perilaku pemimpin yang paling ideal dijadikan teladan adalah perilaku yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad Saw, sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Ahzab ayat 21, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Ayat ini menunjukkan bahwa Rasul SAW adalah manusia istimewa. Kepemimpinannya pun secara pasti berlangsung secara istimewa dan luar biasa. Beliau memimpin dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang. Beliau pun bisa tampil sebagai pemimpin yang gagah berani, disiplin, dan penuh tanggung jawab. Kepemimpinan model ini disebut kepemimpinan profetik, yakni kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan sebagaimana nabi dan rasul melakukannya. Karakteristik kepemimpinan ini terdiri dari empat aspek, yaitu sidiq, amanah, tabligh, dan fathonah.

Sifat sidiq berpihak pada kebenaran yang datangnya dari Allah, sehingga seluruh pikiran, perasaan, dan ucapannya selalu konsisten dengan perbuatannya. Sifat amanah berarti dapat dipercaya karena mampu memelihara kepercayaan dan melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab. Sifat tabligh berarti memiliki kemampuan dalam menyampaikan informasi apa adanya serta berani menyatakan kebenaran dan bersedia mengakui kekeliruan. Adapun sifat fathonah berarti cerdas yang dibangun dari ketakwaan kepada Tuhan, di mana aktualisasinya pada etos kerja dan kinerja pemimpin yang berkomitmen pada keunggulan..

Nah, akankah kita terjebak lagi untuk memilih pemimpin yang tidak memenuhi karakteristik kepemimpinan sebagaimana yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW? Marilah kita bersama-sama merapatkan barisan serta menyatukan pikiran dan perasaan untuk berjuang bersama mewujudkan kepemimpinan profetik yang berpegang teguh kepada Alquran dan Hadis. Mahabenar Allah dalam firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (QS. Al-Anfaal [8]: 24)

Penulis :
adamiArdiman Adami adalah lulusan  Psikologi Universitas Islam Indonesia, Mantan Ketua Umum Imamupsi Komisariat Universitas Islam Indonesia.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Bila Anda Mendapat Tawaran Pemotretan Sensual?

08 Sep 2013 Sayed Muhammad

Gadis-gadis Indonesia bugil mulai bermunculan di internet sekitar tahun 1997. Gambar sensual tersebut bermunculan tidak…

Teknik Relaksasi: Mengurangi Stres

04 Sep 2013 pikirdong

Relaksasi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan sendiri oleh individu untuk mengurangi stres, kekalutan…

Katakan Saja Tidak!

29 Oct 2015 Sayed Muhammad

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar untuk mengatakan "tidak" yang memang kita…

Developmental Milestones: Usia 36 Bulan

14 Oct 2015 pikirdong

Perkembangan Mental Usia 36 Bulan PENGAMATAN PERILAKU Komunikasi Bahasa Menggunakan kalimat dengan sederhana Tingkah laku Berinteraksi dengan orang dewasa dan anak-anak Pekerjaan…

Commitment Phobia

06 Sep 2013 pikirdong

Commitment phobia merupakan bentuk suatu ketakutan (fear) untuk menjalin suatu hubungan yang lebih erat, rasa…

Salah Kaprah tentang HAM

05 Oct 2016 Bagus Riyono

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak dan menyentuh hampir semua aspek kehidupan…

Ketergantungan Komputer dan Internet: Tips dan Treatment

04 Sep 2013 pikirdong

Ketergantungan pada internet dan komputer memberikan dampak buruk dan perilaku baik secara langsung ataupun secara…

Haruskah Menyontek Jadi Budaya?

08 Sep 2013 Fira Friantini

Budaya menyontek sangat identik dengan dunia pendidikan saat ini. Terlebih ketika ujian sedang berlangsung. Tak…

Autism Disorder

05 Sep 2013 pikirdong

Autisme (autism disorder) merupakan gangguan pada sistem syaraf pusat yang berdampak pada gangguan interaksi sosial,…

Memberi Support pada Anak Gangguan Autis

04 Sep 2013 pikirdong

Saat ini diperkirakan sekitar 35 juta anak di dunia mengalami gangguan autisme, angka ini meningkat…

Edisi Ibukota : Tas Tas Integritas!!

15 Sep 2013 Candrawati Wijaya

Salam Tarzan Kota! Sudah sampai manakah Tarzan-Tarzan kota menjelajah?? Harapan saya, kita tetap akan bertemu di…

Kekerasan Terhadap Anak

08 Sep 2013 pikirdong

Kekerasan terhadap anak (child abusive) terjadi dalam pelbagai kultur, etnis atau kelompok masyarakat. Kekerasan dapat…

  • 1
  • 2
  • 3

Kategori Lainnya

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling kita yang kami adakan atas partisipasi teman-teman semua yang rela dan…

03 Sep 2013 Agenda Sosial pikirdong No comments

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak dan menyentuh hampir semua aspek kehidupan kita. Ada hak perempuan, hak…

05 Oct 2016 Artikel Psikologi GIB Psikologi Islami Psikologi Sosial Bagus Riyono Comments (1)

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014