TwitterFacebookGoogle+

Spirit Kepemimpinan Profetik

Pernah suatu malam Khalifah Umar bin Khattab berjalan menyusuri lorong-lorong kota Madinah. Bersama seorang pembantunya, Umar hendak melihat keadaan rakyatnya. Mereka mendapati seorang wanita dan anak-anaknya yang masih kecil duduk mengitari periuk besar di atas tungku api. Anak-anak itu terlihat menangis. Umar lalu mendekat dan bertanya, “Apa yang sedang terjadi?”

sponsor1“Kami sudah dua hari tidak makan. Kami kedinginan dan kelaparan,” jawab wanita itu. Ia tidak tahu kalau yang ada di hadapannya itu adalah Khalifah Umar.

“Lalu apa yang ada di dalam periuk itu?”

“Air, agar mereka diam dan tertidur.”

“Apa kau tidak memberi tahu pada Khalifah Umar?”

“Seharusnya dialah yang harus tahu keadaan kami. Dia punya kuda, juga ribuan pegawai dan tentara. Dia seharusnya tidak boleh tidur nyenyak di rumahnya, sementara ada rakyatnya seperti kami yang kedinginan dan kelaparan.”

Hati Umar sangat pedih. Umar bergegas pergi mengajak pembantunya menuju ke gudang penyimpanan gandum. Umar mengambil sekarung gandum dan hendak memanggulnya. Sang pembantu mencegah, “Jangan, Tuan, biarlah saya saja yang memanggulnya.”

Umar malah marah dan menghardik, “Apakah kamu juga akan memanggul dosaku di Hari Kiamat kelak!”

Pembantu itu diam seribu bahasa. Ia lalu membantu Umar menaikkan sekarung gandum itu ke pundaknya. Umar juga menenteng beberapa liter minyak samin. Kemudian Umar berjalan tergesa menuju rumah wanita tadi. Umar tidak peduli dengan beratnya beban dan dinginnya malam.

Sesampainya di tempat tujuan, api yang menggodok periuk itu hampir padam. Anak-anak yang tadi menangis sudah tertidur. Umar meletakkan karung berisi gandum itu di tanah. Pun minyak samin yang ditentengnya. Umar lalu memasukkan beberapa kayu bakar ke dalam tungku, dan meniupnya hingga api itu membesar kembali. Umar keluar sebentar mencari air lalu menambahkannya ke dalam periuk.

Dengan kedua tangannya, Umar mengambil gandum dan memasukkannya ke dalam periuk. Begitu mendidih, Umar mengaduknya sampai matang. Umar pun menyuruh wanita itu membangunkan anak-anaknya untuk makan. Anak-anak yang kelaparan itu bangun dan makan dengan lahapnya. Setelah itu mereka bermain-main hingga tertidur kembali dengan nyenyaknya

Apa yang ditunjukkan oleh Khalifah Umar bin Khattab dalam kisah di atas adalah bukti kecintaannya kepada rakyat yang dipimpinnya. Umar merepresentasikan penguasa yang menjunjung tinggi kesederhanaan hidup, kecepatan bertindak dan tidak pandang bulu terhadap siapa saja yang melakukan kesalahan, serta sikapnya yang terbuka. Dia telah berhasil membumikan kezuhudan ajaran yang ada dalam Alquran. Agaknya pribadi Nabi Muhammad SAW terpancar pada dirinya. Dia menjadi abdi rakyat, bukan abdi kekuasaan. Dia mengabdi kepada kepentingan rakyat, bukan kepada kepentingan pribadi. Pada pribadi Umarlah nilai-nilai Islam mencuat laksana mercusuar. Betapa masyarakat kita merindukan sosok pemimpin bangsa layaknya Umar. Adakah sosok pemimpin kita seperti itu?

Dicari: Sosok Pemimpin Sejati

Pencapaian suatu bangsa tidak akan melampaui kapasitas pemimpinnya. Oleh sebab itu, sangat penting bagi sebuah bangsa mencari sosok terbaik sebagai pemimpinnya. Pemimpin terbaik akan menjadi pembimbing langkah-langkah bangsanya. Indonesia ke depan memerlukan pemimpin yang bukan hanya cerdas dan cakap, melainkan juga juga arif-bijaksana dan sanggup mengabdikan diri sebesar-besarnya untuk kepentingan bangsa. Bukan pemimpin yang gemar bersiasat, apalagi hanya pemimpin pemburu kekuasaan dengan mengorbankan etika dan hajat hidup publik. Bangsa ini sudah terlalu lelah dengan ulah elite politik dan pemimpin yang gemar merugikan rakyat dan tidak memberikan harapan. Padahal sejatinya, pemimpin itu harus mampu menjadi teladan bagi rakyatnya.

Coba kita tengok hajatan lima tahunan negeri ini. Pemilihan presiden memang masih setahun lagi, namun bursa calon presiden makin menghangat. Partai-partai politik sudah sibuk menjaring calon-calon pemimpin baru. Akhir oktober lalu, laporan utama Tempo mengulas hasil jajak pendapat paling aktual versi berbagai lembaga survei yang masih condong pada Susilo Bambang Yudoyono dan Megawati Soekarno Putri. Mereka berada di puncak lantaran masih rendahnya popularitas para figur tandingan, seperti Sri Sultan Hamengku Buwono X, Wiranto, dan Prabowo Subianto. Dukungan terhadap Yudoyono pada September lalu bahkan dilaporkan sedikit meningkat ketimbang tiga bulan sebelumnya. Ribuan responden masih menjagokan dia, walaupun kepuasan mereka terhadap kinerjanya cenderung merosot.

Namun demikian, rasa apatisme, kekecewaan, dan ketidakpuasan terhadap para pemimpin bangsa ini sudah makin mengental di tengah-tengah masyarakat. Sikap pemerintah yang terus membebani rakyat menunjukkan bahwa pemerintahan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Pemerintah seharusnya menjadi pihak pertama yang bertanggungjawab untuk menjamin kemaslahatan dan kepentingan rakyat. Kenyataan itu diperparah oleh sikap aparatur negara yang tidak amanah, korup, dan sering melakukan penyalahgunaan wewenang. Padahal, pemerintah yang baik tidak bisa diwujudkan oleh aparatur yang kotor. Alhasil, masyarakat sudah tidak percaya lagi terhadap para pemimpinnya. Mereka menginginkan calon-calon pemimpin yang diharapkan mampu membangkitkan bangsa ini dari keterpurukan.

Islam memandang kepemimpinan sebagai amanah, ujian, dan tanggung jawab dari Tuhan. Pelaksanaannya tidak hanya dipertanggungjawabkan kepada rakyat yang dipimpinnya, melainkan juga kepada Sang Khaliq sebagai pemilik kekuasaan. Karena itu, pertanggungjawaban kepemimpinan dalam Islam tidak hanya bersifat horizontal-formal kepada sesama manusia, tetapi juga bersifat vertikal-moral kepada Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Rasul SAW bersabda, “Seorang imam (pemimpin) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya; ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dicintai dan diridhai oleh rakyatnya. Begitu juga sebaliknya, ia pun mencintai dan meridhai rakyatnya. Kedua belah pihak saling membutuhkan untuk membuat sinergi bagi peningkatan ketakwaan di sisi Allah. Kondisi ini bisa terwujud ketika tidak ada perbedaan tujuan antara pemimpin dan rakyatnya. Keduanya sama-sama berlomba dalam kebajikan, bukan dalam kemungkaran. Dalam hal ini, Nabi SAW bersabda, “Sebaik-baik pemimpin kalian ialah mereka yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian; mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Seburuk-buruk pemimpin kalian ialah mereka yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian; kalian melaknati mereka dan mereka pun melaknati kalian.” (HR. Muslim)

Meneladani Kepemimpinan Rasul

Kata orang bijak, belajarlah dari sejarah. Dalam ungkapan yang sangat indah dan memukau, Thomas Carlyle mengatakan, “The history of the world is but the biography of great man.” Sejarah tak lebih merupakan kumpulan biografi orang-orang besar. Kita bisa menemukan sosok pemimpin ideal dalam sejarah Islam di masa silam. Tentu saja perilaku pemimpin yang paling ideal dijadikan teladan adalah perilaku yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad Saw, sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Ahzab ayat 21, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Ayat ini menunjukkan bahwa Rasul SAW adalah manusia istimewa. Kepemimpinannya pun secara pasti berlangsung secara istimewa dan luar biasa. Beliau memimpin dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang. Beliau pun bisa tampil sebagai pemimpin yang gagah berani, disiplin, dan penuh tanggung jawab. Kepemimpinan model ini disebut kepemimpinan profetik, yakni kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan sebagaimana nabi dan rasul melakukannya. Karakteristik kepemimpinan ini terdiri dari empat aspek, yaitu sidiq, amanah, tabligh, dan fathonah.

Sifat sidiq berpihak pada kebenaran yang datangnya dari Allah, sehingga seluruh pikiran, perasaan, dan ucapannya selalu konsisten dengan perbuatannya. Sifat amanah berarti dapat dipercaya karena mampu memelihara kepercayaan dan melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab. Sifat tabligh berarti memiliki kemampuan dalam menyampaikan informasi apa adanya serta berani menyatakan kebenaran dan bersedia mengakui kekeliruan. Adapun sifat fathonah berarti cerdas yang dibangun dari ketakwaan kepada Tuhan, di mana aktualisasinya pada etos kerja dan kinerja pemimpin yang berkomitmen pada keunggulan..

Nah, akankah kita terjebak lagi untuk memilih pemimpin yang tidak memenuhi karakteristik kepemimpinan sebagaimana yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW? Marilah kita bersama-sama merapatkan barisan serta menyatukan pikiran dan perasaan untuk berjuang bersama mewujudkan kepemimpinan profetik yang berpegang teguh kepada Alquran dan Hadis. Mahabenar Allah dalam firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (QS. Al-Anfaal [8]: 24)

Penulis :
adamiArdiman Adami adalah lulusan  Psikologi Universitas Islam Indonesia, Mantan Ketua Umum Imamupsi Komisariat Universitas Islam Indonesia.

 

 

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar

Artikel Lainnya

Teknik Relaksasi: Mengurangi Stres

04 Sep 2013 pikirdong

Relaksasi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan sendiri oleh individu untuk mengurangi stres, kekalutan…

Asperger Syndrome

05 Sep 2013 pikirdong

Gangguan Asperger atau dikenal dengan istilah Asperger syndrome (AS), juga disebut sebagai Asperger disorder merupakan…

Hospice: Tempat Perawatan Orang yang Hampir Meninggal

03 Sep 2013 Sayed Muhammad

Beberapa tahun lalu, tetangga saya mengidap kanker payudara, setelah melakukan operasi di tanah air sebelumnya,…

Orientasi Nilai Budaya dan Pemaafan pada Mahasiswa

05 Sep 2015 Fuad Nashori

Abstract The aim of this research is to find out relationship between Javanese cultural value orientation…

Mencapai Pribadi Yang Sukses

18 Oct 2013 pikirdong

Siapa kita ? Kita adalah makhluk ciptaan Allah (baca:manusia) yang terlahir ke dunia ini dalam keadaan…

Tersenyumlah!

09 Sep 2013 Sayed Muhammad

Tertawa dan belajarlah, sebab kita semua membuat kesalahan (Weston Dunlap ) Abe adalah seorang anak dalam…

Histrionic Personality Disorder

06 Sep 2013 pikirdong

Gangguan kepribadian histrionik (histrionic personality disorder) adalah gangguan kepribadian dengan karakter emosi yang meluap-luap…

Identitas Universitas Islam

09 Sep 2013 Fuad Nashori

Dalam kesempatan ini saya ingin membuka kembali wacana tentang Universitas Islam. Persoalan ini penting untuk…

Commitment Phobia

06 Sep 2013 pikirdong

Commitment phobia merupakan bentuk suatu ketakutan (fear) untuk menjalin suatu hubungan yang lebih erat, rasa…

Edisi Ibukota : Sikap "Inilah Waktunya!"

04 Sep 2013 Candrawati Wijaya

Salam Tarzan Kota!  Seberapa sering hal ini terjadi pada diri kita : Anda duduk dalam pertemuan staf…

Hukuman Mati untuk Koruptor

10 Sep 2011 Fuad Nashori

Di tengah maraknya kasus markus yang terjadi di negeri ini, rasanya patut bagi kita untuk…

Kompetensi Interpersonal Mahasiswa Ditinjau dari Jenis Kelamin

06 Sep 2013 Fuad Nashori

ABSTRACT Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kompetensi interpersonal antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan. Hipotesis…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

Muslim yang Ketakutan

Ada rasa takut, khawatir saat mau nge-share tulisan ulama yang dicap radikal. Takut dianggap pro HTI, pro FPI, ekstrim, radikal,…

30 May 2018 Khairrubi Kolom Ruby Kay No comments

Mendidik Anak dengan Sepenuh Hati

Mendidik atau mengasuh anak dengan sepenuh hati itu artinya mendidik anak dengan pendidikan Islam. Hanya dengan pendidikan Islam saja orangtua…

23 May 2018 Artikel Keluarga Psikologi Islami Irwan Nuryana Kurniawan No comments

Biar Anak Rajin Ke Masjid

Saya dan istri saya ingin semua anak rajin ke masjid. Yang kami tahu adalah nanti yang mendapat naungan dari terik…

29 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Ketika Si Anak Memilih Jalannya Sendiri

Orangtua berupaya agar anaknya memilih jalan yang terbaik yang menjamin masa depannya. Tugas orangtua yang pertama tentu adalah mengarahkan. Dulu…

28 Apr 2018 Artikel Keluarga Artikel Umum Fuad Nashori No comments

Mendidik Anak Mandiri

Salah satu tugas orangtua adalah melatih anaknya menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang mandiri adalah pribadi yang memiliki inisiatif untuk…

27 Apr 2018 Artikel Keluarga Fuad Nashori No comments

Teman Berselingkuh

Suatu hari ketika Anda sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, Anda melihat teman sekantor Anda sedang berjalan mesra dengan seseorang yang…

27 Feb 2018 Obrolan pikirdong Comments (3)

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014