DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic…

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa…

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Studi Tentang Profil Pengasuhan Orangtua Anak-anak Berprestasi di Yogyakarta

ABSTRACT

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pengasuhan orangtua dari anak-anak yang berprestasi. Hal-hal yang ingin diketahui adalah usaha-usaha yang dilakukan anak untuk mencapai prestasi, hal-hal yang dipandang orangtua untuk dimiliki anak, dan cara-cara pengasuhan yang dilakukan orangtua agar anak mencapai prestasi optimal.
Yang dijadikan informan dalam penelitian ini adalah orangtua dari anak-anak berprestasi yang sedang menempuh pendidikan dasar. Jumlah informan sebanyak 10 orang. Informan diperoleh berdasarkan purposive sampling dan snowball sampling. Informasi diperoleh dengan cara melakukan wawancara yang mendalam dengan menggunakan kuesioner.
Hasil penelitian menunjukan bahwa anak-anak yang memiliki prestasi unggul, baik akademis maupun non-akademis, melakukan hal-hal berikut ini, yaitu (a) melatih dan meningkatkan bakat-bakat yang dimiliki, (b) mengikuti berbagai macam lomba, (c) melakukan tugas-tugas dengan senang hati, (d) disiplin dalam belajar, dan (e) belajar secara berkelompok.
Hasil berikutnya adalah orangtua dari anak-anak yang berprestasi memiliki pandangan bahwa ada beberapa prinsip yang perlu dimiliki anak untuk mengantarkan anak menjadi individu yang berprestasi, yaitu (a) perilaku keagamaan dan moral etik, (b) kedisiplinan, (c) kepemimpinan, (d) prestasi dan motif berprestasi, serta (d) keprihatinan, kesabaran, dan menunda kenikmatan.
Dari penelitian lapangan juga diketahui bahwa orangtua dari anak-anak yang berprestasi merlakukan hal-hal berikut ini, yaitu (a) menemani atau mendampingi anak saat belajar, (b) memberi pengarahan, peringatan, dan melakukan kontrol atas aktivitas anak, (c) memberi dukungan kepada anak, (d) memberi penghargaan terhadap anak, (e) menjadi teladan bagi anak-anak, dan (f) memberi perlakuan yang adil terhadap anak laki-laki dan anak perempuan.

Kata Kunci: profil pengasuhan orangtua, anak-anak berprestasi

Latar Belakang

Setiap orangtua memiliki keinginan agar anak-anaknya tumbuh kembang menjadi anak-anak yang berprestasi. Orangtua ingin agar putra-putri mereka dapat meraih prestasi yang optimal, baik prestasi yang bersifat akademis (nilai rapor atau nilai akhir ujian tinggi, juara dalam lomba mata pelajaran tertentu) maupun yang non-akademis (kepemimpinan, seni, olahraga, dan sebagainya). Saat menyaksikan anak-anak lain berprestasi orangtua mengharapkan prestasi yang sejenis dapat pula diraih oleh anak-anaknya. Saat melihat anak-anak berprestasi macam penyanyi Sherina, penyanyi spesialis shalawat Sulis, atau anak tetangga yang juara melukis, atau juara yang lain, orangtua mengharapkan anak-anaknya dapat meraih prestasi itu. Sekalipun prestasi itu belum menampak betul pada saat sekarang, orangtua berharap “suatu hari nanti” mereka akan menjadi pribadi yang berprestasi dalam kehidupannya.

Agar anak berprestasi yang diharapkan itu benar-benar terwujud, maka ada upaya dari orangtua tentang bagaimana mendidik anak. Pendidikan dan pengasuhan yang benar terhadap anak akan menghasilkan efek lahirnya anak-anak berprestasi. Oleh karena itu, salah satu hal yang paling penting dilakukan orangtua adalah mengetahui prinsip-prinsip apa yang perlu dipegang teguh agar orangtua sukses dalam mendidik anak dan juga bagaimana metode-metode untuk sukses mendidik anak. Untuk itu, pemahaman profil orangtua yang sukses mendidik putra-putrinya sangat patut dilakukan dengan harapan dapat menjadi pelajaran bagi semua orangtua, termasuk orangtua yang hanya memiliki sedikit waktu mendidik putra-putrinya. Adanya gambaran tentang profil orangtua diharapkan dapat dijadikan patokan atau sekurang-kurangnya dapat dijadikan pertimbangan dalam mendidik putra-putirnya.

Sejauh ini, di Indonesia khususnya, belum banyak (sepengetahuan penulis belum pernah dilakukan secara khusus) penelitian tentang profil orangtua yang sukses dalam mendidik anak. Beberapa penelitian korelasional telah dilakukan untuk mengungkapkan pola asuh sebagai variabel bebas (Dayakisni, 1977; Krisnawaty, 1986; Winarto, 1990; Wismantono, 1995; Wulan, 2000; Setiawan, 1997; Roswita, 2000; Dalimunthe, 2000; Cahyaningrum, 2000; Hapsari, 2000; Mustaqim, 2000; Kurnia, 2000; Endahwati, 2001; Saptasari, 2001; Wibowo, 2002; Furqon, 2002; Mayaningrum, 2002). Dari penelitian-penelitian itu diketahui bahwa pola asuh demokratis/autoritatif menjadikan anak memiliki intensi prososial (1977), kompetensi sosial (Dalimunthe, 2000), prestasi belajar (Roswita, 2000; Mustaqim, 2000; Furqon, 2002), sikap asertif (2001), penyesuaian diri (Mayaningrum, 2002), ketaatan pada peraturan lalu lintas (wismantono, 1995), kepribadian wirasawasta (Winarto, 1990), yang lebih tinggi dibanding anak-anak yang memperoleh pola asuh otoriter maupun permisif dari orangtua. Di samping itu, penelitian juga menunjukkan bahwa bola asuh demokratis menjadikan anak memiliki prokrastinasi (Wulan, 2000) dan depresi (Saptasari, 2001) yang lebih rendah dibanding anak yang diasuh dengan pola asuh otoriter dan permisif.

Sebuah penelitian lain yang dilakukan oleh Bloom (Psikologika, 1999) menunjukkan bahwa bintang-bintang olahraga, seni, matematika, musik, yang sukses dididik oleh orangtuanya dengan penuh perhatian, dan untuk selanjutnya didampingi oleh pelatih-pelatih yang profesional. Sebagai contoh, bintang cilik yang sedang meroket namanya Sherina awalnya dilatih oleh orangtuanya untuk bernyanyi. Untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas cara bernyanyinya ia dididik oleh seorang profesional yang bernama Elfa Secioria (Kedaulatan Rakyat, 12 Oktober 2001).

Penelitian-penelitian di atas perlu ditindaklanjuti dengan melihat profil orangtua yang sukses dalam mendidik putra-putrinya. Profil itu diharapkan meliputi keberhasilan akademik dan non-akademik anak, hal-hal yang dipandang penting (prinsip-prinsip dan pandangan hidup) orangtua, serta cara-cara atau metode-metode yang digunakan untuk mendidik anaknya.

Kajian Pustaka

Perhatian awal dalam studi keluarga terutama dipusatkan pada hasil karya para antropolog dan sosiolog. Studi-studi ini dirancang pertama-tama untuk menemukan bagaimana pola kehidupan keluarga di berbagai budaya, peran yang dimainkan berbagai anggota keluarga, dan metode pendidikan anak yang umum digunakan dalam budaya-budaya ini (Hurlock, 1993).

Minat awal psikologi pada keluarga terutama terfokus pada pengaruh keluarga terhadap perkembangan anak. Minat ini berkembang berkat dorongan penelitian ahli-ahli psikologi yang sudah lama menekankan pentingnya pengalaman keluarga yang dini pada sikap dan perilaku anak. Diungkapkan oleh ahli-ahli psikoanalisis bahwa orangtua yang neuropatik, yang melindungi anak secara berlebihan dan “mencekiknya” dengan kasih sayang yang berlebihan, membangkitkan pada anak-anak suatu kecenderungan untuk memiliki penyakit neurotik (Hurlock, 1993). Ahli-ahli psikologi Islami menunjukkan bahwa pada awalnya manusia dilahirkan dalam keadaan memiliki potensi-potensi positif, baik secara fisik, kognitif, afektif, dan spiritual. Potensi-potensi akan berkembang apabila orangtua memberi perlakuan yang positif kepada anak, sementara bila perlakuan orangtua bersifat negatif dan bahkan destruktif, maka potensi-potensi itu bisa tidak berkembang (Nashori, 1999). Penelitian-penelitian berkembang terus, baik yang dilakukan tokoh-tokoh humanistik, behaviorisme maupun kognitif.

Hurlock (1993) mengungkapkan bahwa studi mengenai deprivasi maternal (bayi dipisahkan dari ibunya dan ditempatkan di tempat penitipan anak) mengungkapkan betapa pentingnya peranan hubungan keluarga pada awal perkembangan anak. Walaupun pengaruh buruk akibat deprivasi maternal mungkin dapat ditiadakan bila seorang pengganti ibu yang memuaskan diberikan, pemecahan ini pun seringkali tidak mungkin, terutama karena pengganti yang memuaskan tidak selalu tersedia.

Pertanyaan Penelitian
1. Prestasi apa saja yang dicapai oleh anak-anak berprestasi?
2. Hal-hal penting apa yang ditekankan orangtua untuk dimiliki anak-anak berprestasi?
3. Cara-cara pengasuhan apa yang digunakan orangtua agar putra-putri mereka mencapai prestasi?

Metode

Populasi penelitian ini adalah orangtua-orangtua yang memiliki anak yang berprestasi yang tinggal di DIY. Orangtua adalah ayah dan ibu, ibu saja, ayah saja, atau yang terlibat langsung dan intensif dalam mendidik anak. Mereka secara intensif terlibat dalam mendidik anak. Merekalah orang yang berperan atau berhasil mengantarkan anaknya mencapai prestasi-prestasi tertentu. Usia orangtua tidak dibatasi.

Anak berprestasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mereka yang berprestasi dengan berusia antara 7 – 15 tahun atau usia Pendidikan Dasar. Ukuran prestasi anak dilihat dari dua hal, yaitu akademik dan non-akademik. Keberhasilan akademik anak dapat dilihat dari nilai rapor maupun prestasi yang luar biasa dalam bidang studi atau mata pelajaran tertentu. Prestasi non-akademik dapat diketahui dari pencapaian prestasi-prestasi dalam kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler (bidang kesenian, olahraga, kepemimpinan, dsb). Dalam penelitian ini yang dimaksud anak berprestasi non-akademik adalah anak-anak yang memiliki prestasi tingkat kecamatan, kabupaten/kota, propinsi, nasional, dan regional (ASEAN).

Teknik pengumpulan subjek atau informan adalah purposive sampling dan snow ball sampling. Teknik purposive sampling dipakai dengan menggunakan kriteria sebagaimana yang telah dituliskan. Sebagai pelengkap digunakan snow ball sampling (teknik sampling bola salju), yaitu menggunakan informasi dari seorang subjek yang mengenal subjek lain yang merupakan orangtua dari anak-anak yang berprestasi. Jumlah subjek 10 orang yang tinggal di DIY. Mereka diwawancarai secara mendalam.

Dalam penelitian ini data yang berisi profil orangtua yang memiliki anak berprestasi diungkap dengan menggunakan wawancara mendalam kepada subjek, yaitu orangtua dari anak-anak yang berprestasi.

Objektivitas dan keabsahan data penelitian dilakukan dengan melihat reliabilitas dan validitas data yang diacu. Dikatakan oleh Moleong (1994), validitas ditentukan oleh kredibilitas temuan dan interpretasinya dengan mengupayakan temuan dan penafsiran yang dilakukan sesuai dengan kondisi yang senyatanya dan disetujui oleh subjek penelitian.

Untuk keperluan di atas, dalam penelitian ini dilakukan pendalaman data dengan cara mengambil data secara intens. Bila diperlukan akan dilakukan wawancara dan observasi secara berulang, terutama untuk mengungkap hal-hal yang konsisten dalam upaya memenuhi kriteria reliabilitas data.

Adapun teknik-teknik analisis data dilakukan sebagai berikut. Pertama, setelah dilakukan wawancara, dilakukan analisis domain untuk mengetahui domain yang tercakup dalam profil orangtua yang berkaitan dengan pengasuhan anak. Kedua, wawancara terstruktur dari domain tertentu. Di sini peneliti akan memfokuskan diri pada domain yang telah ditentukan berkaitan dengan profil orangtua yang memiliki anak-anak berprestasi. Ketiga, mengontraskan antar elemen dalam domain yang diperoleh dari pengamatan terseleksi dan wawancara kontras. Hal yang ketiga ini dilakukan bila terdapat pernyataan yang saling bertentangan.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Bagian ini berusaha untuk mendeskripsikan prestasi yang diperoleh anak-anak berprestasi, hal-hal yang dilakukan anak untuk memperoleh prestasi, hal-hal yang dipandang orangtua untuk dimiliki anak, dan cara-cara pengasuhan yang dilakukan orangtua agar anak menuju prestasi terbaik anak.

1. Prestasi yang dicapai anak

Tabel 1
Prestasi yang Dicapai Anak-anak Berprestasi

Anak Berprestasi Prestasi Akademik Prestasi Non Akademik
Anak Berprestasi 1 Ranking 1-10 Lukis (Nas, Reg.), Hafalan Qur’an (Kab.)
Anak Berprestasi 2 Ranking 1-3 Lukis (Reg.)
Anak Berprestasi 3 Ranking 1-3 Qiraah (kota, prop)
Anak Berprestasi 4 Ranking 1 Lomba IPA (prop)
Anak Berprestasi 5 Ranking 1-3 IPA (kab) Pidato (prop), Sastra (prop), dakwah (prop)
Anak Berprestasi 6 Ranking 1-5 Qiraah (kec), Suara (prop)
Anak Berprestasi 7 Ranking 1 Suara (prop), Qiraah (kec.)
Anak Berprestasi 8 Ranking 1-3 Qiraah (kab, prop.)
Anak Berprestasi 9 Ranking 1-3 Suara (kec. Kab), Tartil Qur’an (kec.), Marching Band (prop)
Anak Berprestasi 10 Ranking 1-10 Sastra (prop.), Pidato (prop.), Tartil Qur’an (prop)

 

Keterangan:
1. Reg. = Regional = Prestasi tingkat regional (ASEAN)
2. Nas. = Nasional = Prestasi tingkat nasional (Indonesia)
3. Prop. = Propinsi = Prestasi tingkat propinsi (DIY)
4. Kab. = Kabupaten = Prestasi tingkat kabupaten/kota
5. Kec. = Kecamatan = Prestasi tingkat kecamatan

Dari tabel 4 diketahui bahwa anak berprestasi umumnya memiliki prestasi akademik berikut ini: ranking pertama (2 orang), ranking 1-3 (5), 1-5 (1), ranking 1-10 (2). Dalam hal akademik ada pula yang sukses menjadi juara lomba IPA (termasuk matematika) tingkat propinsi. Selain itu, umumnya mereka memiliki prestasi non-akademik sebagai berikut: qiraah (4 orang), suara (3), lukis (2), pidato (2), tartil Qur’an (2), sastra (2), hafadz Qur’an (1), dakwah (1), dan marching band (1).
Tingkatan prestasi itu dimulai dari kecamatan hingga tingkat regional dengan perincian: regional (2, keduanya seni lukis), nasional (1, lukis), propinsi (9, dengan perincian pidato 2, sastra 2, suara 1, dakwah 1, qiraah 1, tartil Qur’an 1, marching band 1), kabupaten/kota (4, masing-masing 3 qiraah, 1 suara), dan kecamatan (3, dengan perincian 1 qiraah, 1 suara, 1 tartil).

2. Hal-hal yang dilakukan anak

Berdasarkan penelitian diketahui anak-anak yang memiliki prestasi unggul, baik akademis maupun non-akademis, melakukan hal-hal berikut ini:

a. Melatih dan meningkatkan bakat-bakat yang dimiliki
Prestasi yang dicapai oleh anak-anak yang berprestasi berkaitan dengan usaha yang mereka lakukan dalam meningkatkan potensi-potensi yang dimilikinya. Motivasi yang kuat yang ada dalam diri anak memacunya untuk melakukan berbagai usaha secara optimal. Motivasi ini biasa disebut sebagai kebutuhan atau motif berprestasi (need for achievement). Usaha-usaha yang keras itu pada gilirannya menghadirkan prestasi dalam diri subjek.

Untuk prestasi khusus yang dimilikinya, ia selalu meningkatkan atau melatih bakatnya sendiri. Yang penting perasaannya atau mood untuk melakukannya sedang baik. Keberhasilannya lebih ditentukan oleh kemauan atau adanya motivasi internal dalam diri anak saya (RH tentang RNA)

Latihan yang terus menerus memiliki peran menguatkan bakat-bakat yang dimiliki anak. Pengulangan atas suatu kemampuan akan menjadikan anak sampai kepada kemampuan yang lebih optimal. Pengulangan memiliki peranan dalam hal mengasah kemampuan anak. Berbagai penelitian lain (Psikologika, 1999) menunjukkan bahwa orang-orang yang menjadi megabintang adalah orang-orang yang melatih kemampuannya secara lebih dini. Sebagai contoh, bintang-bintang sepak bola dari Prancis bersekolah sepakbola sejak mereka berusia di bawah lima tahun. Pemain-pemain Brazil juga mendapat latihan yang terus menerus hingga mereka menjadi pemain-pemain yang sangat trampil. Hasilnya adalah dicapainya prestasi terbaik dalam Piala Dunia. Bintang-bintang dari Manchester United seperti David Beckham, Ryan Giggs, Paul Scholes, Gary Neville, telah dilatih ketika mereka berusia sekolah dasar.

b. Mengikuti lomba
Setelah melakukan upaya memupuk kemampuan dalam berbagai bidang prestasi, ada sebuah langkah yang dilakukan subjek untuk mengukur prestasinya, yaitu dengan mengikuti lomba. Perlombaan atau pertandingan adalah media yang digunakan anak untuk mengukur apakah prestasinya terkategori baik atau belum dan apakah memang lebih baik dari orang lain.

Berkaitan dengan prestasi non akademik, yaitu melukis, mereka selalu berlatih dan berusaha mengikuti lomba-lomba (HS tentang ND)

Seperti terungkap dari penelitian, anak-anak yang berprestasi mengikuti lomba dalam berbagai tingkatan. Tingkatan itu mulai dari tingkat sekolahan, tingkat kampung, kecamatan, kabupaten/kota, propinsi, nasional, bahkan regional. Keikutsertaan dalam lomba yang ada di tingkatan bawah akan menjadikan mereka memiliki jam terbang yang semakin tinggi. Di samping itu, keikutsertaan dalam lomba yang memiliki level yang lebih tinggi menjadikan mereka berhadapan dengan tantangan psikologis yang lebih besar. Pada gilirannya nanti, mereka lebih trampil dan lebih dari itu adalah memiliki mentalitas bertanding dan berlomba yang lebih tinggi.

c. Melakukan tugas-tugas dengan senang hati
Aktivitas memupuk dan memperkuat kemampuan membutuhkan usaha yang berkesinambungan. Agar kesinambungan itu tercapai, salah satu yang dapat menjaganya adalah bila ada perasaan senang saat mengerjakan tugas-tugas tersebut. Anak-anak berprestasi dalam penelitian ini umumnya melakukan tugas-tugas dengan perasaan senang. Berikut ini penuturan dari orangtua-orangtua mereka.

Nov lebih suka belajar sambil menonton TV atau mendengarkan musik (RH tentang RNA).

…. (anak) menikmati bakat dan minatnya dalam olah suara (SG tentang PR).

Ahli-ahli pendidikan dan psikologi menyebutkan bahwa masa anak-anak adalah masa bermain (Chalke, 2002). Dalam setiap permainan ada unsur kesenangan. Karena itu aktivitas mereka dapat berjalan lancar bila di dalam aktivitas itu ada unsur kesenangannya. Kesenangan dalam mengikuti aktivitas akan menjadikan mereka bertahan dan tetap bersemangat dalam mengikuti kegiatan tersebut. Tanpa adanya kesenangan di hati mereka, aktivitas latihan akan mereka ikuti ogah-ogahan, tidak disiplin, dan tidak konsiten.

d. Disiplin dalam belajar
Sekalipun anak-anak berprestrasi melakukan tugas dalam suasana yang senang dan santai, tapi mereka memiliki kedisiplinan dalam belajar atau dalam melatih diri. Berikut ini penuturan orangtua dari anak-anak yang berprestasi.

Kedua-duanya, alhamdulillah, rajin belajar secara tertib. Mereka disiplin dalam menggunakan waktu belajar di rumah. Bila ada PR dari sekolah, malam harinya mereka langsung mengerjakannya (HS tentang ND).

Dari ungkapan orangtua tentang aktivitas yang dilakukan oleh anak-anaknya ini dapat diketahui bahwa anak-anak serius dan memiliki kedisiplinan dalam belajar. Kedisiplinan inilah yang mengantarkan mereka untuk terus menerus menjaga perilaku melatih diri mereka. Hal ini mengantarkan mereka kepada penguasaan materi dan juga penguasaan ketrampilan secara optimal.

e. Belajar kelompok
Sebagian anak-anak berprestasi memilih belajar sendiri, sebagian yang lain melakukannya secara berkelompok. Pemilihan model belajar kelompok ini terutama dimaksudkan untuk menjaga suasana belajar. Demikian ungkapan orangtua dari anak-anak yang berprestasi.

Dengan semua ini, banyak teman-teman Nzr yang merasa cocok atau tenang jika belajar dengannya (belajar kelompok di rumah). Karena selain pandai. Nzr juga bisa menjaga suasana belajar tadi. Sejak kecil Nzr menunjukkan sikap belajar yang cerdas (IB tentang NS)

Temuan penelitian di atas menyiratkan satu hal, yaitu belajar kelompok akan menjaga suasana belajar dalam diri anak-anak. Secara praktis, belajar kelompok juga menjadikan anak-anak berprestasi memperoleh dukungan dari lingkungan. Dukungan dari lingkungan ini menguat karena mereka diuntungkan oleh kehadiran dari anak berprestasi ini.

3. Hal-hal yang Dipandang Penting Ortu untuk Dimiliki Anak-anaknya

Orangtua dari anak-anak yang berprestasi memiliki pandangan bahwa ada beberapa prinsip yang perlu dimiliki anak untuk mengantarkan anak menjadi individu yang berprestasi. Berdasarkan temuan lapangan, orangtua dari anak-anak yang berprestasi menekankan hal-hal berikut ini:

a. Perilaku Keagamaan dan Moral Etik
Orangtua yang memiliki anak berprestasi sangat menekankan pentingnya pelaksanaan praktik keagamaan dan penerapan aspek moral-etik. Hal-hal yang dipandang penting orangtua untuk dimiliki anak-anaknya adalah ibadah wajib (berupa shalat lima waktu), penghargaan terhadap orang lain (orangtua maupun orang lain pada umumnya), dan kejujuran.

Yang kami tekankan kepada anak adalah pentingnya shalat lima waktu dan menghormati orangtua (RH)

Ajaran pokok agama yang kami tekankan sejak dini adalah kejujuran, yaitu terutama jujur kepada diri sendiri. Dengan anak selalu belajar untuk mempertanggungjawabkan sikap dan perilakunya (HS)

Sebagaimana disebutkan oleh David Campbell (1997), keluarga orang-orang sukses cenderung fanatik memegang patokan hidup tertentu. Ajaran-ajaran agama yang dihayati oleh individu secara intrinsic yang memiliki kekuatan sebagai driving integrating motive dan comprehensive commitment, yang senantiasa menjadikan keluarga meletakkan segala sepak terjang kehidupannya dalam kerangka agama dan moral-etik (Allport, 1961).

b. Kedisiplinan
Umumnya mereka sangat menekankan pentingnya masalah waktu. Pemanfaatan waktu yang optimal akan mengantarkan setiap orang mencapai kesuksesan hidup. Olah karena itulah orangtua dari anak yang berprestasi umumnya menyampaikan pesan kepada anak untuk menggunakan waktu.

…Senantiasa menyadarkan anak atau memberi pengertian tentang apa yang semestinya dilakukan. Masing-masing sikap memiliki konsekuensi untung dan rugi (HS)

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keluarga di mana anak-anak sukses hidup di satu pihak memiliki patokan tata kelakuan yang jelas dan di sisi lain tertuang harapan agar anak-anak hidup dan bekerja berdasarkan keyakinan sendiri dan tidak menaati peraturan orangtua secara buta (Campbell, 1997). Tata kelakukan yang jelas itu dapat dilihat dari mana yang salah dan mana yang benar, disiplin keluarga yang konsisten dan pasti (kapan pergi dan bangun tidur, kapan bekerja, dan kapan bersantai, dst). Di sisi lain anak-anak juga diberi keleluasaan untuk berinisiatif. Kalau terdapat konflik di antara dua hal itu terdapat kemungkinan untuk membicarakannya.

c. Kepemimpinan
Orangtua anak berprestasi juga memberi dukungan dan dorongan kepada anak bila kesempatan untuk mengembangkan kepemimpinan itu dimiliki anak. Menjadi ketua kelas misalnya adalah suatu kesempatan baik untuk mengembangkan kepemimpinan anak berprestasi.

Kedua anak kami (Nin dan Nis) menjadi ketua kelas di kelas masing-masing. Sehingga di lingkungan pendidikan sekolah mereka sudah mendapatkan pengalaman latihan menjadi pemimpin (HS)

.. Lebih tertuju kepada pembentukan kepribadian yang kuat. Nzr memiliki bakat kepemimpinan berupa pendirian yang kuat dan ketegasan sikap.

Bagi orangtua kepemimpinan tampaknya menjadi salah satu hal penting yang perlu dimiliki anak. Hal yang dianggap pokok adalah bagaimana anak dapat mengatur dirinya sendiri dan memiliki mental yang kuat dalam mengelola aktivitas bersama. Hal di atas merupakan suatu hal yang banyak mendasari adanya kemampuan riil dalam bidang kepemimpinan.

d. Prestasi dan Motif Berprestasi
Orangtua anak-anak berprestasi berupaya menyampaikan pesan kepada anak agar prestasi yang terbaik itu dapat diraih. Mereka mengingatkan bahwa prestasi yang diraih adalah tanda bahwa manusia menggunakan potensi yang diberikan oleh Tuhan dan bahwa kalau potensi itu dikembangkan, maka akan banyak pihak yang meraih manfaat dari pengembangan potensi-potensi tersebut.

(Kami katakan) … bahwa manusia diberi anugerah oleh Allah SWT potensi-potensi untuk berkehidupan. (dengan potensi yang tumbuh manusia dapat melakukan apa saja dan akan bermanfaat baginya (HS).

Mengenai prestasi dan motifnya, kami memberikan dasar bahwa hidup ini harus bermanfaat (IB)

Prestasi yang dicapai individu banyak dipengaruhi motif berprestasi yang dimilikinya. Motif berprestasi dapat diartikan sebagai kebutuhan untuk melakukan aktivitas dengan kualitas yang setinggi-tingginya. Berdasarkan wawancara dapat diketahui bahwa dorongan agar anak memiliki motif berprstasi yang tinggi dilakukan secara langsung dan mempersilakan anak memiliki pengalaman mengambil resiko.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa apa yang disampaikan oleh ahli psikologi Djamaludin Ancok tidak ditemukan di lapangan. Ancok (1996) mengatakan bahwa motif berprestasi seseorang banyak berkaitan dengan cerita-cerita yang didengar anak di masa kecilnya. Cerita yang banyak membangkitkan kesungguhan dalam bekerja dapat mengantarkan individu mencapai prestasi-prestasi yang gemilang.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa yang efektif menguatkan motif berprestasi ternyata tidak hanya cerita-cerita, tapi suatu dorongan yang disampaikan dengan penuh kesungghan pun dapat membangkitkan motif berprestasi.

e. Keprihatinan, kesabaran, dan menunda kenikmatan
Hal lain yang dianggap penting oleh orangtua anak-anak berprestasi adalah kemampuan untuk menerima keadaan. Bila ada hal-hal yang kurang berkenan, orangtua anak berprestasi berupaya agar anak-anaknya dapat menerima hal tersebut. Oleh karena itu keprihatinan dan kesabaran dijadikan landasan dalam kehidupan sehari-hari.

Anak dibiasakan untuk menerima menu makanan apa adanya, dan kami tidak berkehendak untuk selalu menuruti selera makan anak (RH)

Dengan demikian, hasil penelitian searah dengan pandangan ahli psikologi Wimbarti. Diungkapkan oleh Wimbarti (1998) bahwa orangtua-orangtua di Jawa sangat menekankan pentingnya keprihatinan dan kesabaran sangat pokok dalam mendidik anak. Kesabaran berarti mampu bertahan sekalipun dalam keadaan sulit dan penuh dengan cobaan.

4. Cara-cara yang Digunakan Orangtua dalam Mendidik Anak

Orangtua dari anak-anak yang berprestasi memiliki ciri-ciri umum memiliki perhatian yang serius terhadap perkembangan dan prestasi anak. Oleh karena itu, mereka mengembangkan berbagai upaya agar anak dapat tumbuh kembang secara optimal. Berdasarkan temuan lapangan, orangtua dari anak-anak yang berprestasi merlakukan hal-hal berikut ini:

a. Menemani atau mendampingi anak belajar
Setiap orangtua selalu mengharapkan putra-putrinya memperoleh sukses dalam hidupnya. Salah satu area yang dianggap sangat penting adalah keberhasilan anak dalam bidang akademis. Sebagian dari orangtua yang memiliki putra-putri berprestasi adalah menemani anak ketika belajar.

Dalam masalah belajar, kami selalu mendampingi anak dan menjadi teman diskusi (MN).

Dalam hal ini belajar kami selalu berusaha untuk mendampingi anak, memberi arahan atau bantuan jika dia mengalami kesulitan (NH).

Perlu disampaikan bahwa aktivitas mendampingi atau menemani anak hanya terjadi pada subjek-subjek penelitian yang anaknya bersekolah di sekolah dasar. Aktivitas ini tampaknya memberikan pengaruh yang besar, terutama dikarenakan anak masih suka dengan aktivitas-aktivitas bermain. Pendampingan memberi suasana yang mendukung anak untuk benar-benar belajar.

b. Memberi pengarahan, peringatan, dan kontrol kepada anak
Hal lain yang dilakukan orangtua adalah memberi pengarahan kepada anak untuk melakukan sesuatu yang dapat mengantarkan mereka menjadi anak yang berprestasi. Hal yang dilakukan orangtua biasanya adalah mendorong anaknya untuk memilih teman bergaul yang baik, mengarahkan anak untuk mengikuti berbagai kursus, dan sebagainya. Orangtua juga memberi peringatan-peringatan kepada anak ketika anaknya mendekati perilaku-perilaku yang merugikan atau yang tidak bermanfaat. Hal lain yang sangat penting dilakukan orangtua adalah melakukan melakukan inspeksi mendadak untuk mengetahui bagaimana keadaan anak saat mengikuti aktivitas di lapangan.

Dalam acara lomba di lapangan, kami berusaha mengontrol langsung anak (juga pada saat latihan). Selain itu kami juga memonitor kemampuan anak lain dalam perlombaan untuk membandingkan kemampuan anaknya sendiri sebagai langkah perbaikan (NK)

Untuk prestasi akademik, kami dapat secara intens memantau kemampuan anak dalam menguasai materi pelajaran (NK).

Temuan ini berbeda dengan hasil temuan yang pernah disampaikan Kusdwiratri Setiono (Nashori, 1994b). Dalam penelitian Setiono (Nashori, 1994b). yang dilakukan di Kabupaten dan Kota Bandung diketahui bahwa umumnya orangtua menyerahkan pendidikan anak kepada pihak sekolah dan sangat minim memberi pengarahan kepada anak-anaknya. Dalam penelitian ini diketahui secara pasti bahwa orangtua umumnya terlibat secara mendalam, sehingga mereka mengarahkan anak untuk melakukan perilaku tertentu, memberi batas-batas larangan, dan bahkan mengecek langsung aktivitas anak saat mengikuti berbagai aktivitas di luar rumah. Bila perlu, bahkan orangtua mencari informasi tentang kompetitor dari anaknya saat anak mengikuti perlombaan. Pengarahan, peringatan, dan pengecekan yang diberikan orangtua akhirnya menjadi penguat bagi anak untuk tampil terbaik, sehingga dicapailah berbagai prestasi.

c. Memberi dukungan kepada anak
Anak seringkali berbuat atas kemauan sendiri. Setelah menyadari bahwa mereka memiliki potensi-potensi atau bakat-bakat, mereka berusaha sendiri memperkuat potensi-potensi yang dimiliki. Dalam situasi seperti ini orangtua melakukan peran memberikan dukungan psikologis dan material kepada anak-anak. Dukungan psikologis diwujudkan dalam bentuk memberi dukungan emosional saat mereka menghadapi masa-masa sulit, memberi umpan balik atas apa yang anak-anak upayakan (feedback), dan sejenisnya. Dukungan material diwujudkan dalam bentuk memenuhi fasilitas yang diperlukan untuk melakukan aktivitas-aktivitas penguatan kemampuan.

Yang terpenting, orang tua selalu memberi dorongan semangat untuk tidak mudah putus asa atau menyerah dalam berprestasi atau mengikuti suatu perlombaan (MN).

Jika ada kesempatan perlombaan, kami berupa memperoleh informasi pengumuman dari guru di sekolah maupun para tetangganya di kampung dan menawarkannya kepada anak kami (SG)

Hasil temuan di atas menunjukkan bahwa orangtua dari anak-anak yang berprestasi memberi dukungan yang besar terhadap usaha pengembangan diri anak, khususnya dalam hal pencapaian prestasi anak. Dukungan emosional saat berusaha dan saat kalah dalam bertanding akan mengembalikan kekuatan emosional anak untuk terus berusaha mencapai prestasi yang lebih tinggi. Dukungan material jelas memberikan pengaruh, karena dengan fasilitas material itulah berbagai aktivitas dapat diikuti dengan cara dan hasil yang lebih optimal.

d. Memberi penghargaan terhadap anak dan menerima keberadaan anak
Setelah anak berusaha melatih diri, mengikuti perlombaan/pertandingan, akhirnya sebagian anak-anak menunjukkan prestasi. Atas prestasi yang dicapai oleh anak, sebagian orangtua memberikan penghargaan dalam bentuk hadiah (reward). Hadiah diharapkan akan menguatkan anak untuk tetap memaksimalkan kemampuannya. Sekalipun demikian, orangtua tetap memegang prinsip tidak menuntut anak terlalu banyak tentang prestasi-prestasi tertentu. Bahkan, orangtua pun tetap dapat menerima kenyataan bahwa anak tidak berprestasi dan menghargai usaha-usaha yang dilakukan anak.

Demikian pula memberi penghargaan (hadiah) kepada anak, tanpa menuntut terlalu banyak tentang prestasi yang harus diraih (RH).

Untuk prestasi dan kemampuan belajar anak, kami memegang prinsip bahwa sejelek apapun prestasi anak orang tua mesti menghargai dan mengarahkannya (SU).

Sebagaimana pernah diungkapkan ahli psikologi Mulyadi (1997), anak-anak sungguh akan bahagia apabila orangtuanya mau menghargai mereka. Penghargaan akan menumbuhkembangkan harga diri. Anak-anak yang memiliki harga diri tinggi akan mengembangkan konsep diri yang positif. Anak-anak demikian mudah mengembangkan berbagai potensinya secara optimal. Dikatakan lebih lanjut oleh Mulyadi (1997) bahwa rasa terima kasih dan penghargaan kepada seorang anak ternyata mampu membangkitkan suatu semangat untuk berkarya dan menumbuhkembangkan potensinya secara luar biasa. Seperti diketahui dari hasil penelitian ini, orangtua ternyata memberi penghargaan terhadap prestasi anak-anaknya.

e. Memberi teladan kepada anak
Penelitain ini menunjukkan bahwa orangtua menyadari pentingnya keteladanan. Keteladanan merupakan yang disadari betul oleh orangtua dari anak-anak yang berprestasi.

Berkaitan dengan kegemaran membaca pada anak, kami sebagai orang tua sendiri telah memberi contoh untuk itu. Kebetulan saya sebagai ketua RW dan penanggung jawab program JBM sehingga selalu mengontrol dan mendorong selalu anak sendiri dan anak-anak di masyarakat untuk disiplin belajar (SU).

Tentang pentingnya keteladanan ini, para pendidik dan ahli pendidikan sangat menyadari pentingnya masalah ini. Sebagaimana diungkapkan oleh Daradjat (Nashori, 1992) bahwa perilaku yang mereka tunjukkan akan dijadikan anak sebagai rujukan. Sebuah penelitian yang disampaikan Daradjat menunjukkan bahwa perilaku anak dipengaruhi oleh penglihatan mereka sebanyak 83 persen, pendengaran sebesar 11 persen, dan penciuman-pencicipan-perabaan sebesar 6 persen (Nashori, 1992).

Dalam kehidupan sosial sering ada ungkapan bahwa bicara mudah tapi sangat sulit untuk melaksanakannya. Dalam konteks pengasuhan anak, boleh jadi orangtua telah memberi petunjuk, pengarahan, atau dukungan sedemikian rupa kepada anak. Namun, bila perilaku yang ditampakkan berbeda bahkan bertentangan dengan apa yang dikatakannya, maka itu akan menimbulkan efek berupa menurunnya kepercayaan anak kepada orangtua. Bila kepercayaan telah menurun, apalagi bila sampai di titik nol, maka ungkapan orangtua bisa sampai tidak memberi efek apapun kepada anak. Dengan demikian, sangatlah penting masalah konsistensi antara apa yang dikatakan dengan apa yang diperbuat. Bila orangtuamelakukan apa yang dikatakannya, maka mereka telah menampakkan keteladanan kepada anak-anak.

Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di lapangan dapat diketahui bahwa anak-anak yang memiliki prestasi unggul, baik akademis maupun non-akademis, melakukan hal-hal berikut ini, yaitu (a) melatih dan meningkatkan bakat-bakat yang dimiliki, (b) mengikuti berbagai macam lomba, (c) melakukan tugas-tugas dengan senang hati, (d) disiplin dalam belajar, dan (e) belajar secara berkelompok.

Hasil penelitian menunjukan profil orangtua berkaitan dengan hal-hal yang dipandang penting orangtua untuk dimiliki anak-anak. Orangtua dari anak-anak yang berprestasi memiliki pandangan bahwa ada beberapa prinsip yang perlu dimiliki anak untuk mengantarkan anak menjadi individu yang berprestasi, yaitu (a) perilaku keagamaan dan moral etik, (b) kedisiplinan, (c) kepemimpinan, (d) prestasi dan motif berprestasi, serta (d) keprihatinan, kesabaran, dan menunda kenikmatan.

Dari penelitian lapangan juga diketahui profil pengasuhan orangtua berkaitan dengan cara-cara yang digunakan orangtua dalam mengasuh anak-anaknya. Dari penelitian diketahui bahwa orangtua dari anak-anak yang berprestasi merlakukan hal-hal berikut ini, yaitu (a) menemani atau mendampingi anak saat belajar, (b) memberi pengarahan, peringatan, dan melakukan kontrol atas aktivitas anak, (c) memberi dukungan kepada anak, (d) memberi penghargaan terhadap anak, (e) menjadi teladan bagi anak-anak, dan (f) memberi perlakuan yang adil terhadap anak laki-laki dan anak perempuan.

Daftar Pustaka

Allport, G.W. 1961. The Individual and His Religion: A Psychological Interpretation. New York: The MacMillan and Co.

Ancok, D. (1996). Nuansa Psikologi Pembangunan. Yogyakarta: Yayasan Insan Kamil dan Pustaka Pelajar.

Cahyaningrum, A.M. 2000. Hubungan antara Kecenderungan Pola Asuh ke Arah permisif Orangtua Berdasarkan Persepsi Anak dengan aktualisasi diri pada Mahasiswa. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UII.

Chalke, S. 2002. Kegiatan Mengasyikkan di Luar Rumah untuk Anak-anak. Terjemahan. Bandung: Penerbit Kaifa.

Campbell, D. (1997). Mengembangkan Kreativitas. Terjemahan: A.M. Mangunhardjana. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Dayakisni, T. 1977. Perbedaan Intensi Prososial Ditinjau dari Pola Asuh Orangtua pada Siswa SMA Muhammadiyah II Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.

Dalimunthe, D. 2000. Hubungan antara Kedemokratisan Pola Asuh Orangtua dengan Kompetensi Sosial pada Remaja. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.

Endahwati, W. 2001. Sikap Asertif Ditinjau dari Pola Asuh Demokratis Orangtua dan Jenis Kelamin. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UII.

Furqon. 2002. Prestasi Belajar Ditinjau dari Kelekatan Anak-Ibu dan Pola Asuh Autoritatif. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UII.

Hardy, M. & Heyes, S. (1988). Pengantar Psikologi: Edisi Kedua. Terjemahan: Soenardji. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Hetherington, E. M. & Parke, R. D. (1986). Child Psychology: Contemporary View Point, 3rd edition. New York: Mc Graw Hill Book Company.

Hurlock, E. B. (1980). Developmental Psychology: Life Span Approach. 5th edition. New York: Mc Graw Hill Book Company.

Hurlock, E. H. (1993). Perkembangan Anak: Jilid II. Terjemahan: Meitasari Tjandrasa. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Kramer, L. & Gottman, J. M. (1992). Becoming a Sibling: With a Little Help from Friends. Journal of Developmental Psychology, 28, 685-699.

Krisnawaty, T. 1986. Studi tentang Pengaruh Asuhan Orangtua terhadap Perkembangan Penalaran Moral Remaja Awal Murid SMP II IKIP Negeri Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.

Kurnia, F. 2000. Prestasi Belajar Ditinjau dari Pola Asuh Demokratis Orangtua dan Jenis Kelamin. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UII.

Mayaningrum, Y. 2002. Hubungan antara Persepsi terhadap Pola Asuh Orangtua dengan Penyesuaian Diri Remaja. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UII.

Moleong, L. J. (1994). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Penerbit Rosdakarya Remaja.

Muhadjir, N. (2000). Metodologi Penelitian Kualitatif: Edisi Ketiga. Yogyakarta: Penerbit Rake Sarasin.

Mulyadi, S. (1997). Anakku, Sahabat dan Guruku: Catatan Kecil Keluarga Muda. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Mulyadi, S. (1999). Sosialisasi pada Anak. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Munandar, U. (1997). Mengembangkan Inisiatif dan Kreativitas Anak. Dalam Jurnal Psikologika, 2, (II), 31-42.

Mustaqim, A. Perbedaan kenakalan Remaja ditinjau dari Pola Asuh Anak. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UII.

Nashori, F. (1994). Tempat Penitipan Anak dan Tanggung Jawab Pengasuhan Orangtua. Harian Berita Yudha, 4 Oktober 1994.

Nashori, F. (1994). Membina Hubungan Baik dengan Anak. Mingguan Swadhesi, 7-13 Oktober 1994.

Nashori, F. (1999). Hubungan antara Religiusitas dan Kemandirian pada Siswa SMU. Jurnal Psikologika, 8, (IV), 26-37

Psikologika. (1999). Editorial: Psikologi Olahraga dan Mengoptimalkan Prestasi Olahragawan. Jurnal Psikologika, 8, (IV), 3-4.

Roswita, M.Y. 2000. Prestasi Belajar Anak Ditinjau dari Pengaturan Internal dan Pola Asuh Autoritatif. Tesis. Yogyakarta: Program Pasca Sarjana UGM.

Saptasari, D.R. 2001. Pola Asuh Orangtua, Konsep Diri, dan Agresi pada Remaja. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UII.

Setiawan, N. 1997. Persepsi Anak terhadap Pola Asuh Demokratis Orangtua Berdasasarkan Status Kerja Ibu. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.

Wibowo, H.S. 2002. Prestasi Belajar Ditinjau dari Pola Asuh Orangtua di SLP Muhammadiyah Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UII.

Wimbarti, S. (1998). Seminar Psikologi Kontemporer: Diktat. Yogyakarta: Program Studi Psikologi Program Pascasarjana UGM.

Wismantono. 1995. Hubungan antara Pola Asuh Demokratis dengan Ketaatan pada Peraturan Lalu Lintas. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.

Winarto. 1990. Hubungan antara Pola Asuh Demokratis dengan Kepribadian Wiraswasta pada Remaja Akhir. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.

Wulan, R. 2000. Hubungan antara Gaya Pengasuhan Anak dengan Prokrastinasi pada Anak. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.

Penulis:

fuad
Fuad Nashori  adalah salah seorang pelopor dan ahli di bidang Psikologi Islami, sehari-hari beliau menjabat sebagai Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia dan Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, (UII) Yogyakarta. Fuad Nashori adalah penulis tetap untuk rubrik Psikologi Islami di website ini

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Putus atau Mempertahankan Cintanya?

09 Sep 2013 pikirdong

Punya pacar berarti kamu harus siap-siap untuk memikirkan hal-hal kedepan menyangkut hubungan kalian berdua. Banyak…

Halusinasi

07 Sep 2013 pikirdong

Halusinasi merupakan persepsi yang abnormal pada individu dimana ia sadar dan terjaga akan tetapi tanpa…

Meredakan Amarah

10 Sep 2013 Ardiman Adami

Alkisah, dalam sebuah peperangan, Ali bin Abi Thalib berhasil mengalahkan lawannya. Ali berhasil memukul pedang…

Tanpa Pacar Bikin Bete?

09 Sep 2013 pikirdong

Banyak orang merasa tidak nyaman dengan kondisi hidup sendiri tanpa pacar disamping. Mereka menciptakan momok…

Mengkritik dengan Tepat

05 Oct 2013 Sayed Muhammad

Kritik dapat dilakukan oleh siapapun, namun tidak semua kritikan yang dilontarkan dapat diterima dengan sikap…

10 Cara Mengetahui Calon Suami Pembenci Wanita

09 Sep 2013 Sayed Muhammad

Berbagai tindakan kekerasan terhadap wanita terutama dalam rumah tangga ditemukan setelah pasangan melakukan pernikahan. Selama…

Reformasi Sistem Pendidikan Finlandia Menjadikan Mereka yang Terbaik…

16 Oct 2015 Sayed Muhammad

Reformasi besar-besaran dalam dunia pendidikan di Finlandia telah dimulai 40 tahun lalu, kini, sekolah-sekolah di…

Paraphilia

06 Sep 2013 pikirdong

Paraphilia adalah istilah klinis yang digunakan untuk menggambarkan penyimpang seksual. Paraphilia merupakan permasalahan menyangkut kontrol…

Katakan Saja Tidak!

29 Oct 2015 Sayed Muhammad

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar untuk mengatakan "tidak" yang memang kita…

Masturbasi dan Pengaruh Psikologisnya

09 Sep 2013 pikirdong

Masturbasi adalah rangsangan disengaja yang dilakukan pada organ genital untuk memperoleh kenikmatan dan kepuasan seksual…

Masalah lagi… Masalah lagi…

08 Sep 2013 pikirdong

Aduh…! Pusing banget nich. Lagi banyak masalah”, atau “Kenapa sich masalah selalu dateng hampirin aku!”,…

Lupakan Mantan Pacar!

10 Sep 2013 Sayed Muhammad

Putus cinta? Seebbeell!! Malam minggu jadi sepi, gak ada yang ngapelin lagi, gak ada yang…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders yang ke V terjadi perubahan…

30 Aug 2017 Artikel Psikologi Psikologi Klinis pikirdong No comments

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa tubuh membutuhkan dokter dan bila diperlukan juga, diambil langkah untuk rawat…

24 Aug 2017 Kolom Sayed Muhammad Sayed Muhammad No comments

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014