DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic…

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa…

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Terapi Psiko-Spiritual: Mengantisipasi Stres Pasca-Gempa

Dialah Cesi Nurbandini. Umur tujuh tahun. Ibunya pengarit rumput, ayahnya kuli bangunan. Mereka tinggal di Dawuran, sebuah desa subur di Pleret, Bantul, nun di selatan Yogyakarta. Meski upah sang ayah kecil, istri dan anaknya bahagia. Cesi pun punya boneka panda besar.

sunset

Sunset – Photo contributed by Fahmi ©2013

Sabtu pagi, 27 Mei, si kecil menemani sang ibu menyapu halaman. Ayahnya masih tidur, lelah setelah sehari sebelumnya bekerja sampai sore. Tiba-tiba tanah bergoyang. Tanah di halaman rumah mereka terbelah, pohon-pohon di samping rumah jumpalitan. Secepat kilat ibunya menyambar tubuh Cesi, lalu berlari ke jalan raya. Kencang.

Sang ibu tiba-tiba berhenti. Cesi hampir terlempar. Perempuan itu histeris, berteriak sejadi-jadinya memanggil suaminya. Tak ada sahutan. Dari kejauhan terlihat rumah mereka telah roboh. Rata tanah. Debu menukik ke langit. Tapi ayah Cesi di mana? Perempuan itu takut kembali ke rumah sebab tanah terus bergerak. Sembari menggendong Cesi, dia terengah-engah ke rumah Mbah Putri yang tak berapa jauh dari rumah mereka. Ya ampun, rumah si Mbah juga sudah rata tanah.

Demikian cuplikan sketsa detik-detik kejadian gempa tiga tahun silam yang sempat dipotret dengan baik oleh seorang wartawan foto Tempo, Arie Basuki. Ketika orang-orang sibuk, juga cemas, siang-malam menunggu dan mewaspadai letusan Gunung Merapi, tiba-tiba kita dikejutkan oleh musibah yang jauh lebih dramatis: gempa bumi! Padahal, tak ada isyarat apapun dari alam ketika itu.

Guncangan hebat berkekuatan 6,2 skala Richter itu merupakan peristiwa katastropik dan traumatis terburuk yang pernah terjadi di Yogyakarta. Syukur tidak disertai tsunami. Namun, sekian ribu nyawa melayang dalam cekam. Rumah-rumah dan gedung berdebam. Desa dan kota tinggallah puing reruntuhan. Seribu satu cerita kedukaan mengalir deras dari balik tenda-tenda pengungsian. Masihkah ada cahaya bagi asa yang nyaris tenggelam?

Pasca-gempa memang terasa menyesakkan dada. Peristiwa memilukan tersebut menyisakan berbagai kondisi yang sungguh memprihatinkan. Selain menderita luka fisik, para korban yang selamat juga mengalami gangguan psikologis yang berdampak pada kondisi psikis pun spiritual mereka. Banyak analisis telah memaparkan berbagai hal tentang realitas bencana yang terjadi hingga rencana ke depan dalam membangun kembali daerah gempa dari keterpurukan. Untuk rehabilitasi tersebut tentunya tak lepas dari pemahaman yang kongkrit mengenai kondisi wilayah dan masyarakat yang meliputi kondisi pra-bencana dan pasca-bencana. Dalam hal ini, tentunya penting pula diperhatikan bagaimana kondisi psikis dan spiritual masyarakat Yogyakarta, terutama mereka yang secara langsung menjadi korban bencana.

Dalam banyak kejadian, rehabilitasi fisik relatif lebih kelihatan dan jelas pola penanganannya, walaupun juga tidak mudah karena memerlukan mobilitas dana dan prasarana yang tidak sedikit. Namun berbeda halnya dengan rehabilitasi psikis. Kondisi katastropik tersebut telah meninggalkan luka psikis yang mendalam dalam bentuk gejala-gejaka psikologis yang biasa disebut sebagai gangguan stres pasca-trauma (post-traumatic stress disorder).

Gejala-gejalanya, seperti seolah-olah mengalami lagi peristiwa traumatik tersebut (reexpriencing) yang sering menjelma dalam mimpi-mimpi buruk. Ada pula gejala penghindaran (avoidance/numbing) yang mewujud dalam bentuk perilaku ketakutan dan menghindar dari stimulus-stimulus yang mirip dengan pengalaman traumatik. Boleh jadi dengan meningkatnya intensitas emosi (arousal) yang dapat dilihat dari sering marah-marah, mudah tersinggung, gangguan tidur, rasa was-was, dan kecurigaan yang tinggi.

Tim Crisis and Recovery Center (CRC), Fakultas Psikologi UGM melaporkan bahwa 2,5 % dari populasi yang mengalami beban mental pasca gempa bumi tersebut akan mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri pada jangka menengah dan panjang. Artinya, kurang lebih 30 ribu korban selamat akan memerlukan bantuan psikologis mulai minggu ketiga sampai kurang lebih tiga bulan kemudian. Selanjutnya yang perlu diantisipasi adalah 1% dari populasi, atau kurang lebih 12 ribu orang yang mengalami masalah psikologis pada masa yang lebih lama. Kemungkinan besar mereka berasal dari rumah-rumah yang kondisinya rusak berat atau roboh.

Lebih jauh dijelaskan bahwa prevalensi permasalahan psikologis akan lebih tinggi pada kelompok rentan, yaitu korban yang mengalami luka-luka atau patah tulang. Untuk seluruh wilayah bencana, korban tersebut mencapai sekitar 37 ribu jiwa. Beban psikologis yang dirasakan akan menurunkan daya tahan tubuh yang berdampak pada proses pemulihan yang lebih lama atau bahkan memperparah kondisi penyakit. Kelompok rentan yang lain adalah mereka yang telah memiliki masalah-masalah psikologis sebelum bencana terjadi. Selain itu adalah ibu-ibu hamil dan bayi, serta anak-anak di bawah usia sekolah. Demikian halnya dengan lansia yang selalu menjadi kelompok rentan, sehingga perlu mendapat perhatian khusus.

Pemulihan Korban Pasca-Gempa

Penanganan korban stres akibat gempa di Yogyakarta memang tidak mudah. Pengalaman traumatis karena gempa telah menggoncangkan dan melemahkan pertahanan individu dalam menghadapi tantangan dan kesulitan hidup sehari-hari. Apalagi kondisi trauma, kondisi fisik dan mental, aspek kepribadian masing-masing korban tidak sama.

Masyarakat yang menjadi korban dari suatu bencana cenderung memiliki masalah penyesuaian perilaku dan emosional. Perubahan mendadak sering membawa dampak psikologis yang cukup berat. Beban yang dihadapi oleh para korban tersebut dapat mengubah pandangan mereka tentang kehidupan dan menyebabkan tekanan pada jiwa mereka. Kejadian gempa di Yogyakarta menjadi beban dan tekanan tersendiri bagi para korban. Pasalnya, musibah ini baru pertama kali dialami dan merupakan kejadian yang tidak terduga sama sekali.

Ketika melakukan pendampingan psikologis kepada beberapa korban di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta (18-20/06/2006), saya bisa melihat langsung kondisi mereka. Tidak sedikit korban yang mengalami berbagai tekanan psikologis sekaligus rasa sakit yang mendalam. Kehilangan anggota keluarga telah membuat luka psikis yang dalam. Apalagi kejadiannya begitu mendadak dan mereka menyaksikan langsung anggota keluarga yang luka maupun meninggal. Kehilangan tempat tinggal juga merupakan pukulan telak. Mereka menyaksikan rumahnya yang dibangun dengan berbagai usaha hancur berantakan. Tak pelak kondisi ini menimbulkan beban psikis yang dalam.

Munculnya gejala-gejala stres, seperti rasa takut, cemas, duka cita yang mendalam, tidak berdaya, putus asa, kehilangan kontrol, frustrasi sampai depresi semuanya bermuara pada kemampuan individu dalam memaknai suatu musibah secara lebih realistis. Gejala-gejala tersebut adalah reaksi wajar dari pengalaman yang tidak wajar. Tentunya hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Mereka memerlukan cara yang tepat untuk mengatasi masalah yang dialami.

Dalam hal ini, konsep coping merupakan hal yang penting untuk dibicarakan. Konsep coping menunjuk pada berbagai upaya, baik mental maupun perilaku, untuk menguasai, mentoleransi, mengurangi, atau meminimalisasikan suatu situasi atau kejadian yang penuh tekanan. Dengan kata lain, coping merupakan suatu proses di mana individu berusaha untuk menanggani dan menguasai situasi yang menekan akibat dari masalah yang sedang dihadapinya. Beragam cara dilakukan. Namun, semua bermuara pada perubahan kognitif maupun perilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya.

Ketika seseorang tertimpa suatu musibah, biasanya ia akan mendekat kepada Tuhan dengan meningkatkan ibadah dan perbuatan baik lainnya. Hal ini diperlihatkan oleh sebagian besar rakyat Bantul yang mengaku tawakal dengan memasrahkan segalanya kepada Tuhan. Ekspresi sikap pasrah itu gampang dijumpai di lokasi bencana, “Matur nuwun, Gusti, kawula tasih dipunparingi keselametan…” (Terima kasih, Tuhan, saya masih diberi keselamatan).

Mereka bersyukur masih diberi keselamatan. Pengalaman tersebut menjadikan mereka semakin dekat kepada Tuhan. Idealnya, mereka harus memaknai bencana sebagai sebuah musibah, bukan petaka atau azab. Bencana gempa ditafsirkan sebagai peringatan keras Tuhan kepada manusia yang telah lama berkubang dalam dosa dan dusta. Karena itu, sebagai sebuah musibah, bencana bukan akhir segala-galanya. Bencana dapat diubah menjadi sesuatu yang memiliki makna, bukan kesia-siaan apalagi keterkutukan.

Korban bencana yang tingkat spiritualitasnya tinggi akan menjadikan mereka senantiasa hidup dalam nuansa keimanan kepada Tuhan. Mereka akan memaknai aktivitasnya dalam kehidupan ini sebagai ibadah kepada Tuhan. Mereka pun akan semakin tegas dan konsisten dalam sikap dan langkah hidupnya serta semakin terikat dengan aturan Sang Pencipta dengan perasaan ridha dan tenteram. Perasaan itu akan menjadikannya kuat dalam menghadapi segala persoalan hidup. Mereka dapat mengambil hikmah atas musibah yang menimpanya, tidak putus asa, dan menjadikan hambatan-hambatan yang ditemui pasca-bencana sebagai tantangan untuk memulai kehidupan baru. Mereka menganggap bahwa bencana bukan akhir dari segala-galanya. Bencana dapat diubah menjadi suatu pengalaman positif yang memiliki makna.

Identitas spiritual dibutuhkan individu dalam mengkonstruksi makna atas pengalaman hidup. Dengan adanya kepercayaan pribadi untuk memberikan makna luar biasa kepada realitas kehidupan, agama akan mampu mengarahkan individu untuk memberikan penerimaan tulus atas musibah yang terjadi. Kondisi tersebut memungkinkan individu untuk memaknai kembali hidupnya dengan membuat perencanaan atas setiap kemungkinan yang terjadi setelah mengalami musibah untuk mencapai suatu tujuan tertentu pada masa yang akan datang.

Robert A. Emmons (2000) mengungkapkan bahwa spiritualitas bermanfaat dalam upaya untuk memecahkan berbagai permasalahan dalam kehidupan. Spiritualitas dapat memprioritas-ulangkan tujuan-tujuan (reprioritization of goals). Terlebih lagi, pribadi yang spiritual lebih mudah menyesuaikan diri pada saat menangani kejadian-kejadian traumatis. Mereka pun lebih bisa menemukan makna dalam krisis traumatis dan memperoleh panduan untuk memutuskan hal-hal tepat apa saja yang harus dilakukan.

Terapi Psiko-Spiritual

Tuhan menciptakan manusia dengan segenap keunikan. Sejak ia dilahirkan, manusia memiliki potensi yang meliputi sisi psikologis, sosial, dan spiritual. Menurut Hanna Djumhana Bastaman (1995), untuk dapat memahami manusia seutuhnya, baik dalam keadaan sehat maupun sakit, pendekatan yang digunakan mestinya tidak lagi memandang manusia sebagai makhluk bio-psiko-sosial (jasmani, psikologis, dan sosial), melainkan manusia sebagai makhluk bio-psiko-sosio-spiritual (jasmani, psikologis, sosial, dan spiritual).

Secara eksplisit, Ralph L. Piedmont (2001) memandang spiritualitas sebagai rangkaian karakteristik motivasional (motivational trait); kekuatan emosional umum yang mendorong, mengarahkan, dan memilih beragam tingkah laku individu. Sementara itu, Susan Folkman, dkk (1999) mendefinisikan spiritualitas sebagai suatu bagian dalam diri seseorang yang menghasilkan arti dan tujuan hidup, yang terungkap dalam pengalaman-pengalaman transendental individu dan hubungannya dengan ajaran-ajaran ketuhanan (universal order).

Inayat Khan dalam bukunya Dimensi Spiritual Psikologi menyebutkan bahwa kekuatan psikis yang dimiliki oleh seseorang dapat dikembangkan melalui olah spiritual yang dilakukan melalui beberapa tahapan. Pertama, berlatih melakukan konsentrasi. Dengan konsentrasi, seseorang dapat memiliki kekuatan dan inspirasi karena berada dalam kondisi terpusat serta tercerahkan. Melalui konsentrasi pula, seseorang belajar dan berlatih untuk menguasai dirinya.

Kedua, berlatih mengungkapkan hasil konsentrasi melalui pikiran. Artinya, setelah seseorang mendapatkan hasil dalam konsentrasi, maka ia harus berani mengungkapkan hasil konsentrasi tersebut dalam ungkapan-ungkapan yang sederhana melalui kekuatan pikiran. Kekuatan pikiran ini nantinya akan mempengaruhi kekuatan perasaan yang dimiliki. Ketahuilah, sesungguhnya perasaan adalah ruh pemikiran, sebagaimana ucapan adalah ruh suatu tindakan. Karena itu, konsentrasi merupakan hal penting untuk mengembangkan kekuatan psikis seseorang.

Ketiga, agar dapat mengekspresikan kekuatan psikis, seseorang harus memiliki kekuatan tubuh (kesehatan fisik). Artinya, orang yang sehat umumnya memiliki pernafasan dan sirkulasi darah yang teratur dan lancar, sehingga memberikan efek bagi kemampuan mengekspresikan dirinya.

Keempat, berlatih menjaga kestabilan dan ketenangan dalam berpikir. Artinya, seseorang yang terbiasa mengembangkan kebiasaan-kebiasaan buruk dalam berpikir, seperti khawatir, cemas, takut, atau ragu tentang sesuatu, akan mengurangi daya kekuatan dalam mengekspresikan diri. Tentang hal ini, saya teringat pada kata-kata yang diungkapkan oleh seorang pegiat pelatihan manajemen diri di sebuah seminar yang pernah saya ikuti. Kata beliau, “Pikiranmu adalah awal dari perkataanmu. Perkataanmu adalah awal dari perbuatanmu. Perbuatanmu adalah awal dari kebiasaanmu. Kebiasaanmu adalah awal dari karaktermu. Karaktermu adalah takdirmu.”

Kelima, berlatih mengumpulkan kekuatan psikis yang selanjutnya digunakan untuk bertindak. Artinya, hasrat dan daya tarik kekuatan psikis yang dimiliki seseorang harus ditunda sebelum betul-betul terkumpul dan berkembang melimpah. Saat itulah kekuatan psikis mampu dimanfaatkan untuk menolong diri sendiri maupun orang lain. Kekuatan psikis yang timbul dari energi spiritual bagaikan mata air yang tercurah, melimpah secara konstan dan stabil. Karna itu, tinggal pemanfaatannya tergantung pada kesediaan dan kemauan seseorang untuk mengumpulkan dan mengembangkannya menjadi energi yang bersifat menyembuhkan (terapeutik).

Sebuah penelitian bertajuk “Religion and Spirituality in Coping with Stress” yang dipublikasikan oleh Journal of Counseling and Values beberapa tahun lalu, menunjukkan bahwa semakin penting spiritualitas bagi seseorang, maka semakin besar kemampuannya dalam mengatasi masalah yang dihadapi. Penelitian ini menyarankan bahwa spiritualitas bisa memiliki peran yang penting dalam mengatasi stres. Spiritualitas bisa melibatkan sesuatu di luar sumber-sumber yang nyata atau mencari terapi untuk mengatasi situasi-situasi yang penuh tekanan di dalam hidup.

Dalam konteks ini, penting untuk diperhatikan bagaimana kondisi spiritualitas para korban pasca-bencana gempa bumi di Bantul. Penelitian yang saya lakukan beberapa waktu lalu menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan antara spiritualitas dengan proactive coping pada korban bencana gempa bumi di Bantul. Semakin tinggi tingkat spiritualitas, semakin baik pula proactive coping yang dilakukan oleh korban, di mana spiritualitas memiliki peranan sebesar 54,9 % terhadap proactive coping pada korban gempa di Bantul. Konsep proactive coping diarahkan oleh sikap yang proaktif. Sikap tersebut merupakan kepercayaan yang relatif terus menerus ada pada setiap individu. Di mana apabila terjadi perubahan-perubahan yang berpotensi mengganggu keseimbangan emosional individu, maka sikap tersebut mampu memperbaiki diri dan lingkungannya.

Ketika melakukan proactive coping, individu telah memiliki visi yang ingin dicapai. Adanya sikap optimis dan kepercayaan atas kemampuan sendiri (self efficacy) serta adanya dukungan sosial (social support) dari orang lain akan membuat para korban gempa tersebut semakin mampu untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Kepercayaan diri serta sikap optimis yang tinggi pada individu serta adanya dukungan sosial dari lingkungannya akan memungkinkan individu lebih efektif dalam menyelesaikan masalah.

Dari penelitian ini, saya ingin menawarkan suatu konsep terapi psiko-spiritual untuk membantu para korban gempa keluar dari tekanan psikologis yang dialami pasca-bencana. Terapi serupa pernah dilakukan oleh seorang psikolog, Sus Budiharto, bekerjasama dengan Center for Bioethics and Humanities Fakultas Kedokteran UGM terhadap beberapa mahasiswa yang berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam. Berbeda dengan terapi sebelumnya yang bersumber dari nilai-nilai keislaman (Alquran dan Sunnah Nabi), terapi yang saya kembangkan ini memungkinkan individu non-muslim untuk ikut serta.

Terapi psiko-spiritual ini terdiri dari tiga tahapan, yaitu tahapan penyadaran diri (self awareness), tahapan pengenalan jati diri dan citra diri (self identification), dan tahapan pengembangan diri (self development). Pada fase penyadaran diri, para korban akan melalui proses pensucian diri dari bekasan atau hal-hal yang menutupi keadaan jiwa melalui cara penyadaran diri, penginsyafan diri, dan pertaubatan diri. Fase ini akan menguak hakikat persoalan, peristiwa, dan kejadian yang dialami oleh para korban. Pun menjelaskan hikmah atau rahasia dari setiap peristiwa tersebut.

Selanjutnya, pada fase pengenalan diri, para korban akan dibimbing kepada pengenalan hakikat diri secara praktis dan holistik dengan menanamkan nilai-nilai ketuhanan dan moral. Melalui fase ini, individu diajak untuk menyadari potensi-potensi yang ada di dalam dirinya. Setelah diidentifikasi, pelbagai potensi itu perlu segera dimunculkan. Kemudian mengelola potensi diri yang menonjol tersebut agar terus berkembang dan dicoba untuk diaktualisasikan. Adalah sebuah riwayat yang menyebutkan, “Barangsiapa mengenal dirinya, maka dia pun akan mengenal Tuhannya.”

Terakhir, pada fase pengembangan diri, para korban akan didampingi dan difasilitasi untuk tidak hanya sehat fisikal, namun juga sehat mental dan spiritual. Kesehatan mental terwujud dalam bentuk keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi masalah yang terjadi, dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya. Adapun kesehatan spiritual mencakup penemuan makna dan tujuan dalam hidup seseorang, mengandalkan Tuhan (The Higher Power), merasakan kedamaian, dan merasakan hubungan dengan alam semesta.

Harapannya, terapi psiko-spiritual akan memberikan penerimaan yang tulus atas musibah yang menimpa para korban gempa. Selain itu, terapi ini dapat pula mengurangi kesedihan dan tekanan psikologis, serta membantu para korban dalam menemukan makna yang positif dari pengalaman dan kehidupannya. Yang lebih penting, terapi ini membantu korban dalam usaha penerimaan diri dan mengenal Tuhannya, sehingga spiritualitasnya semakin meningkat. Mahabenar Allah dalam firman-Nya: “Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath-Thalaaq [65]: 7).

Penulis :

adamiArdiman Adami adalah lulusan  Psikologi Universitas Islam Indonesia, Mantan Ketua Umum Imamupsi Komisariat Universitas Islam Indonesia.

1 comment

  1. Inas Nabilah Reply

    Artikel yang sangat menarik. Terima kasih informasi yang sudah diberikan.
    Saya juga mempunyai link berita terkini yang mungkin bermanfaat.
    Silahkan kunjungi Berita Terkini Universitas Gunadarma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Putus atau Mempertahankan Cintanya?

09 Sep 2013 pikirdong

Punya pacar berarti kamu harus siap-siap untuk memikirkan hal-hal kedepan menyangkut hubungan kalian berdua. Banyak…

Halusinasi

07 Sep 2013 pikirdong

Halusinasi merupakan persepsi yang abnormal pada individu dimana ia sadar dan terjaga akan tetapi tanpa…

Meredakan Amarah

10 Sep 2013 Ardiman Adami

Alkisah, dalam sebuah peperangan, Ali bin Abi Thalib berhasil mengalahkan lawannya. Ali berhasil memukul pedang…

Tanpa Pacar Bikin Bete?

09 Sep 2013 pikirdong

Banyak orang merasa tidak nyaman dengan kondisi hidup sendiri tanpa pacar disamping. Mereka menciptakan momok…

Mengkritik dengan Tepat

05 Oct 2013 Sayed Muhammad

Kritik dapat dilakukan oleh siapapun, namun tidak semua kritikan yang dilontarkan dapat diterima dengan sikap…

10 Cara Mengetahui Calon Suami Pembenci Wanita

09 Sep 2013 Sayed Muhammad

Berbagai tindakan kekerasan terhadap wanita terutama dalam rumah tangga ditemukan setelah pasangan melakukan pernikahan. Selama…

Reformasi Sistem Pendidikan Finlandia Menjadikan Mereka yang Terbaik…

16 Oct 2015 Sayed Muhammad

Reformasi besar-besaran dalam dunia pendidikan di Finlandia telah dimulai 40 tahun lalu, kini, sekolah-sekolah di…

Paraphilia

06 Sep 2013 pikirdong

Paraphilia adalah istilah klinis yang digunakan untuk menggambarkan penyimpang seksual. Paraphilia merupakan permasalahan menyangkut kontrol…

Katakan Saja Tidak!

29 Oct 2015 Sayed Muhammad

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar untuk mengatakan "tidak" yang memang kita…

Masturbasi dan Pengaruh Psikologisnya

09 Sep 2013 pikirdong

Masturbasi adalah rangsangan disengaja yang dilakukan pada organ genital untuk memperoleh kenikmatan dan kepuasan seksual…

Masalah lagi… Masalah lagi…

08 Sep 2013 pikirdong

Aduh…! Pusing banget nich. Lagi banyak masalah”, atau “Kenapa sich masalah selalu dateng hampirin aku!”,…

Lupakan Mantan Pacar!

10 Sep 2013 Sayed Muhammad

Putus cinta? Seebbeell!! Malam minggu jadi sepi, gak ada yang ngapelin lagi, gak ada yang…

  • 1
  • 2
  • 3

Artikel Baru

DSM V: Pedophilia dan Pedophilic Disorder serta Paraphillia yang…

Dalam buku pegangan The American Psychiatric Association (APA); Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders yang ke V terjadi perubahan…

30 Aug 2017 Artikel Psikologi Psikologi Klinis pikirdong No comments

Terapi Gratis

Ketika tubuh kita merasakan sakit, kita langsung bereaksi bahwa tubuh membutuhkan dokter dan bila diperlukan juga, diambil langkah untuk rawat…

24 Aug 2017 Kolom Sayed Muhammad Sayed Muhammad No comments

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014