Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan…

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita…

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut…

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan…

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling…

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak…

Hormati Jalur Pejalan Kaki

Trotoar, pavement, sidewalk, pathway, atau plaza  merupakan jalur khusus…

Katakan Saja Tidak!

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar…

Reformasi Sistem Pendidikan Finlandia Menjadikan Mereka yang Terbaik di Dunia

Reformasi besar-besaran dalam dunia pendidikan di Finlandia telah dimulai…

Perlu Tidak Ulang Tahun Anak Dirayakan?

Anak mulai mengerti kebiasaan perayaan ulang tahun pada usia…

«
»
TwitterFacebookGoogle+

Tinggal Serumah Sebelum Menikah Perlukah?

Baru-baru ini seorang wanita cantik berusia sangat belia menulis dalam sebuah forum website komunitas tertentu bahwa ia bermaksud untuk tinggal serumah dengan pacarnya di Australia, namun ia bingung untuk memutuskan perlukah ia mengambil keputusan tersebut. Wajahnya yang cantik terpampang dalam identitas penulis, sehingga membuat member lainnya tertarik untuk memberi pelbagai komentar didalam forum tersebut. Halaman penuh dengan komentar yang memuji, dan banyak sekali mendukung dan bahkan beberapa komentar lain juga ikut memberi komentar negatif, tak ayal lagi, topik tersebut penuh sesak dengan berbagai saran dan kritik dibandingkan topik-topik lainnya.

200x200Membaca berbagai saran dan dukungan yang diberikan oleh pelbagai pihak sangat menyesakan dada, generasi kita seakan-akan telah kehilangan prinsip dan identitasnya. Pikiran-pikiran positif menjadi tabu untuk dibicarakan, pemikiran yang berlandaskan nafsu semata menjadi suatu post trend dikalangan remaja kita saat ini. Petimbangan secara seksual lebih mendominasi dibandingkan pemikiran yang berlandaskan pada kewaspadaan.

Kebanyakan dari mereka mencoba mengangkat sebuah gaya hidup modern dengan mengesampingkan nilai-nilai yang ada pada manusia itu sendiri yang disebut-sebut sebagai manusia yang berbudaya (mempunyai akal dan budi -nilai-nilai luhur). Mereka menganggap ini adalah sebagai keputusan “gaya hidup” sebagai suatu pilihan. Benarkah?

Banyak pasangan cinta melakukan hidup serumah dengan pasangannya tanpa terikat dengan pernikahan dengan berbagai alasan;

  • Untuk penghematan uang, mereka berpikir bahwa dengan tinggal bersama maka beberapa kebutuhan individu dapat dihemat dengan tinggal secara bersama, misalnya untuk biaya menyewa tempat tinggal.
  • Karena salah satu pasangan memiliki rumah yang indah atau rumah tersebut terlalu luas untuk tinggal sendiri.
  • Mereka beranggapan bahwa dengan tinggal serumah bisa meluangkan waktu lebih banyak secara bersama
  • Ketakutan akan kehilangan pasangannya.

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan sebelum Anda memilih untuk tinggal bersama dengannya sebelum menikah;

Nilai-nilai yang terdapat pada agama.  Banyak sekali tulisan-tulisan yang dapat Anda temukan dalam berbagai media cetak yang sebenarnya membahas masalah ini, tetapi mereka tidak pernah sekalipun membahas keputusan yang Anda ambil bila tinggal serumah sebelum menikah merupakan suatu kesalahan. Media membentuk suatu image bahwa tinggal serumah merupakan suatu “pilihan” yang benar atau salah ditentukan oleh masing-masing individu. Inilah trend yang dibentuk pada generasi sekarang (baby buster, MTV generation  sebagai salah satu  lifestyle kosmopolitan. Fenomena tinggal bersama sebelum menikah ini melanda hampir seluruh dunia, menunjukkan menurunnya kepercayaan (iman) terhadap pemahaman kitab-kitab suci. Islam dan Kristen sangat melarang hubungan seks sebelum menikah.

Tinggal bersama sebelum menikah berarti pelecehan terhadap lembaga perkawinan yang lebih suci dan diakui oleh Tuhan.  Banyak pasangan memilih tinggal bersama mengatakan bahwa mereka melakukan berdasarkan cinta, mereka melakukan hubungan seks berdasarkan cinta. Mereka tidak mau disebut sebagai pasangan freesex atau pasangan kumpul kebo. Ini merupakan kerancuan berpikir, bila Anda mencintai pasangan Anda maka perlakukanlah pasangan Anda seperti Tuhan memperlakukan cinta kepadanya. Perkawinan merupakan langkah suci yang diberikan petunjuk oleh Tuhan, maka untuk dapat melakukan hubungan seks yang didasarkan cinta haruslah melalui perkawinan yang diakui oleh Tuhan melalui kitab suci-Nya.

Seks pranikah atau tinggal bersama bukanlah jaminan keutuhan dan keberlangsungan hubungan.  Barbara De Angelis, seorang pakar relationship menulis; hidup bersama secara dini merupakan suatu kesalahan besar, hidup bersama sebelum hubungan mencapai tahap komitmen, kematangan dan stabilitas emosional yang signifikan sesungguhnya bisa mempercepat kehancuran suatu hubungan. Tinggal bersama dalam satu rumah tidak berarti bahwa dengan alasan mengenal pasangan lebih mendalam dengan waktu lebih banyak. Justru dengan tinggal bersama konflik lebih banyak muncul, karakteristik sangat berpengaruh dalam kebijakan menangani konflik. Kesiapan secara emosional akan mempengaruhi hubungan itu sendiri.

Tinggal bersama sebelum menikah akan membentuk karakter pemalas secara emosional.  Jika Anda memilih hidup bersama tanpa kesiapan secara emosional dan komitmen akan justru membuat Anda terpuruk menjadi malas secara emosional. Kebanyakan pasangan yang hidup serumah tanpa terikat dengan pernikahan menganggap bahwa komitmen, pengenalan karakter pasangan, dan kematangan emosional akan terbentuk dengan sendirinya, seriring dengan waktu yang dimiliki lebih lama bersama dengan pasangannya. Ini adalah bentuk kesalahan lainnya. Ketidakmampuan untuk mengatasai konflik, kebanyakan pasangan memilih untuk menghindari konflik, mereka menganggap bahwa semakin sedikit konflik yang terbentuk maka semakin baik hubungan tersebut. Penghindaran terhadap konflik yang disebabkan oleh tidak adanya komitmen hubungan yang jelas justru membentuk konflik laten yang setiap saat dapat menjadi konflik terbuka. Hal lainnya adalah dengan waktu yang dimiliki lebih banyak, pasangan kurang dapat memberi penghargaan dan perhatian terhadap pasangannya karena seiring dengan pertemuan yang akrab.

Tinggal bersama sebelum menikah berarti menciptakan celah terhadap penghindaran komitmen.  Ini merupakan hal menarik untuk dikupas, dalam suatu acara TV terkenal; Oprah, atau sebelumnya dengan nama The Oprah Winfrey Show, dibahaskan tentang pria-pria  fobia komitmen .

Para pria ini memilih untuk tinggal bersama dengan pasangannya lebih didasarkan pada pemenuhan kebutuhan seksual, mereka menghindari perkawinan yang dianggapnya mengikat kebebasannya. Ternyata dalam pengakuan pria-pria yang fobia terhadap perkawinan ini bahwa tinggal bersama bukan berarti bahwa hanya melakukan hubungan seks dengan pasangannya, mereka beranggapan bahwa seks adalah seks dan cinta adalah cinta.

Mereka beranggapan bahwa tidur dengan wanita lain adalah sah-sah dilakukan karena mereka tidak berkomitmen untuk menikahi pasangannya yang saat itu tinggal di apartemennya. Hal menarik lainnya, Barbara menulis;  “…kebanyakan dari ibu kita berusaha meyakinkan kita (perempuan) bahwa laki-laki tidak akan menikahi wanita jika mereka jika mereka bisa berhubungan seks dengan pasangannya, karena mereka telah mendapatkan apa yang mereka inginkan.”  Walaupun tidak semua anggapan ini benar, saya tertarik ketika seorang pakar hubungan perkawinan dan keluarga menyebutkan bahwa;

“…sebenarnya pria fobia komitmen belajar dari sikap yang ditunjukkan oleh pasangannya, seandainya saja mereka tidak mudah untuk diajak tidur dalam waktu seminggu perkenalan, maka pria ini dapat belajar akan rasa penasarannya, bahwa ia tidak akan mudah mendapatkan seks dari wanita yang ingin dikencaninya, maka pria-pria ini akan lebih sabar dan belajar untuk menghargai komitment pernikahan…”

Pilihan untuk tinggal serumah sebelum menikah, lebih banyak berdampak negatif yang dapat merugikan keduabelah pihak, pria yang fobia terhadap komitmen mungkin bersembunyi dibalik tembok hidup bersama untuk bisa menikmati keintiman yang mereka ciptakan atau bahkan cara ini digunakan oleh pria untuk tidak dipaksakan oleh pasangannya untuk terikat pada komitmen final perkawinan. Selain faktor-faktor lain yang menjadi pertimbangan sebelum Anda memutuskan untuk tinggal bersama ada beberapa faktor konflik yang tak terduga yang dapat muncul setiap saat;

Finansial ; Tidak ada komitmen yang terbentuk bahwa seseorang harus menanggung biaya-biaya tertentu, seperti biaya listrik, air, asuransi, biaya sewa rumah dan lain-lain. Hal ini swaktu-waktu dapat menjadi konflik yang tak terduga.

Barang-barang pribadi . Tidak semua barang-barang Anda dapat disukai oleh pasangan Anda. Dapat saja barang-barang tersebut menjadi sumber konflik yang samasekali tidak Anda perkirakan sebelumnya.

Kehamilan . Tidak semua pasangan menyukai kemunculan “orang baru” dalam rumah mereka. Kebanyakan mereka tidak berkomitmen tidak mempunyai anak dalam hubungan mereka. Kehamilan merupakan hal yang sangat ditakuti oleh beberapa pasangan karena ini dapat menjadi aib, penambahan beban secara finansial, kesiapan mental dan fisik dalam mengurus bayi.

Penilaian negatif masyarakat . Tidak ada alasan yang seharusnya dapat dibenarkan pada pasangan yang tinggal serumah tanpa ikatan perkawinan. Dampak sosial yang lebih buruk membuat masyarakat sekeliling Anda sangat memusuhi Anda, kecuali bila Anda tinggal di lingkungan yang permisif.

Tidak ada komitmen untuk saling mengikat . Biarpun Anda menyusun komitmen-komitmen bersama, belum tentu komitmen tersebut dapat melindungi Anda dari berbagai tindakan kekerasan atau pelecehan yang mungkin saja dapat timbul. Hal terburuk yang dapat terjadi adalah sewaktu-waktu Anda dapat disuruh meninggalkan tempat tinggalnya karena diakibatkan konflik yang terjadi secara terus menerus. Komitmen yang Anda buat bukanlah komitmen yang muncul dari norma dan nilai yang muncul dari dalam masyarakat.

Penulis :ayed

Sayed Muhammad adalah lulusan psikologi Universitas Islam Indonesia, ia adalah perintis dan penulis tetap di website ini.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya

Bila Anda Mendapat Tawaran Pemotretan Sensual?

08 Sep 2013 Sayed Muhammad

Gadis-gadis Indonesia bugil mulai bermunculan di internet sekitar tahun 1997. Gambar sensual tersebut bermunculan tidak…

Teknik Relaksasi: Mengurangi Stres

04 Sep 2013 pikirdong

Relaksasi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan sendiri oleh individu untuk mengurangi stres, kekalutan…

Katakan Saja Tidak!

29 Oct 2015 Sayed Muhammad

Budaya kita yang menanamkan sikap asertif membuat kita sukar untuk mengatakan "tidak" yang memang kita…

Developmental Milestones: Usia 36 Bulan

14 Oct 2015 pikirdong

Perkembangan Mental Usia 36 Bulan PENGAMATAN PERILAKU Komunikasi Bahasa Menggunakan kalimat dengan sederhana Tingkah laku Berinteraksi dengan orang dewasa dan anak-anak Pekerjaan…

Commitment Phobia

06 Sep 2013 pikirdong

Commitment phobia merupakan bentuk suatu ketakutan (fear) untuk menjalin suatu hubungan yang lebih erat, rasa…

Salah Kaprah tentang HAM

05 Oct 2016 Bagus Riyono

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak dan menyentuh hampir semua aspek kehidupan…

Ketergantungan Komputer dan Internet: Tips dan Treatment

04 Sep 2013 pikirdong

Ketergantungan pada internet dan komputer memberikan dampak buruk dan perilaku baik secara langsung ataupun secara…

Haruskah Menyontek Jadi Budaya?

08 Sep 2013 Fira Friantini

Budaya menyontek sangat identik dengan dunia pendidikan saat ini. Terlebih ketika ujian sedang berlangsung. Tak…

Autism Disorder

05 Sep 2013 pikirdong

Autisme (autism disorder) merupakan gangguan pada sistem syaraf pusat yang berdampak pada gangguan interaksi sosial,…

Memberi Support pada Anak Gangguan Autis

04 Sep 2013 pikirdong

Saat ini diperkirakan sekitar 35 juta anak di dunia mengalami gangguan autisme, angka ini meningkat…

Edisi Ibukota : Tas Tas Integritas!!

15 Sep 2013 Candrawati Wijaya

Salam Tarzan Kota! Sudah sampai manakah Tarzan-Tarzan kota menjelajah?? Harapan saya, kita tetap akan bertemu di…

Kekerasan Terhadap Anak

08 Sep 2013 pikirdong

Kekerasan terhadap anak (child abusive) terjadi dalam pelbagai kultur, etnis atau kelompok masyarakat. Kekerasan dapat…

  • 1
  • 2
  • 3

Kategori Lainnya

Smartphone: Brain Drain, Kutu Rambut dan Mr. Nice Guy

Pada hari ini, hampir semua orang memiliki keterkaitan dengan internet sebagai salah satu kebutuhan penting manusia modern, internet telah menghubungkan…

13 Jul 2017 Artikel Psikologi Psikologi Umum Sayed Muhammad No comments

Agenda Sosial : Bantuan untuk Korban Gempa Pidie Jaya II

Alhamdulillah, setelah kita melakukan aksi kemanusiaan yang pertama, kita akan mengadakan aksi bantuan kemanusiaan yang kedua yang rencananya akan disalurkan…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Aksi Kemanusiaan untuk Gempa Aceh - Pidie Jaya

Aksi kemanusiaan ini merupakan aksi spontan, yang kami sebut sebagai solidaritas warga dunia maya dalam menggalang dana kemanusiaan untuk gempa…

19 Dec 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Idul Adha Barakah 2016

Idul Adha Barakah : Pembagian paket sembako untuk kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya pada tanggal 9-10 September 2016 Dana terkumpul sebesar Rp.…

19 Sep 2016 Agenda Sosial pikirdong No comments

Agenda Sosial Pikirdong

Agenda sosial merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap orang sekeliling kita yang kami adakan atas partisipasi teman-teman semua yang rela dan…

03 Sep 2013 Agenda Sosial pikirdong No comments

Salah Kaprah tentang HAM

Dewasa ini isu Hak Asasi Manusia (HAM) semakin marak dan menyentuh hampir semua aspek kehidupan kita. Ada hak perempuan, hak…

05 Oct 2016 Artikel Psikologi GIB Psikologi Islami Psikologi Sosial Bagus Riyono Comments (1)

«
»
supportbawah
logobawah

Terbaru

Psikologi Islami

Pikirdong is a website that contains articles psychology, sociology, and some public opinion. Pikirdong also contains several articles related to health, research, technology and science related to psychology. We are open to the public, if you want to contribute articles relating to the above. Thanks
Copyright © 2007 - 2014